Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Firasat, Sebuah Opini

Posted by agorsiloku pada November 12, 2006

Pengantar :

Tulisan ini merupakan perluasan dari artikel : Alam Semesta sebagai Hologram (http://www.tf.itb.ac.id /~eryan/FreeArticles/AlamSemestaHologram.html) dengan sedikit menghubungkan dengan firasat (satu pendekatan yang ilmu pengetahuan belum merambah dengan cukup meyakinkan. Didapat dari blog “http://blog.doeljoni.sysadmin.or.id/2005/10/17/ firasat-sebuah-opini/”, tapi ketika dicek nggak berhasil. Jadi, saya copy pastekan saja dari temboloknya si gugel. Yang menarik dari pembahasan ini adalah kesadaran realitas semu, adanya hubungan subatomik antara bagian satu dengan lainnya yang tidak terpisahkan. Seolah satu untuk segalanya, dan segalanya adalah satu. Mirip juga seperti pemikiran wahdatul wujud, Ibnu Arabi yang banyak dipertentangkan itu. Seperti ada dikedalaman sufi. Jalin menjalin. Ada unsur religiositas di dalamnya. Jadi, selalu ada hubungan yang belum terdeteksi. Mungkin juga suatu saat kita bisa memikirkan (atau mempertanyakan) partikel apa yang membawa do’a pada Pemilik segalanya……

Subjektifitas Firasat

Memaknai sebuah firasat terkadang jauh lebih sulit ketimbang memahaminya setelah sebuah/atau serangkaian peristiwa terjadi. Seringkali kita secara aneh mengalami perasaan/kondisi yang membuat kita melakukan atau membatalkan serangkaian kegiatan baik yang telah maupun belum sama sekali direncanakan.

Ya, firasat bukanlah sebuah obyektifitas. Firasat adalah sebuah subyektifitas yang akan sangat sulit dipahami oleh logika yang dibangun oleh positivisme.

Sains didominasi oleh aliran positivisme, sebuah aliran yang sangat menuhankan metode ilmiah dengan menempatkan asumsi-asumsi. Menurut aliran ini, sains mempunyai reputasi tinggi untuk menentukan kebenaran, sains merupakan ‘dewa’ dalam beragam tindakan (sosial, ekonomi, politik, dan lain-lain). Menurut sains, kebenaran adalah sesuatu yang empiris, logis, konsisten, dan dapat diverifikasi. Sains menempatkan kebenaran pada sesuatu yang bisa terjangkau oleh indra. Dalam sains semuanya harus bisa diukur.

Firasat, dalam paham ini tidak akan mendapat posisi, sebagaimana agama yang keberadaannya akan tertolak mentah-mentah. (Firasat atau memahami suatu kejadian melalui model-model yang sederhana)

Mengapa sains dibatasi hanya di wilayah yang rasional, sementara manusia memiliki hanyak hal yang secara rasional belum dapat dijelaskan? Lalu apakah itu kemudian dianggap tidak ada? Sains menepis pandangan-pandangan yang dianggap kebetulan, padahal seperti di dunia ini tidak ada yang sifatnya kebetulan. Dapatkan sains mengukur cinta? Dapatkah sains menjelaskan firasat ?

Manusia yang mempunyai the soul (jiwa) berkata jujur: “Hidupku hampa walau kubergelimang harta dan kebahagiaan, aku kehilangan makna, apa fungsi aku hidup?”. Sains hanya bisa menutup mulut, penjelasannya hanya ada di agama. Sains tertunduk malu, dan agama pun mengajak untuk bersanding bukan bertanding.

Holographic Universe

Universitas Paris, 1982, Aspect bersama timnya menemukan bahwa dalam lingkungan tertentu partikel-partikel subatomik, seperti elektron, mampu berkomunikasi satu sama lain dengan seketika tanpa tergantung pada jarak yang memisahkan mereka. Hal ini melanggar prinsip Einstein yang telah lama dipegang, yakni bahwa tidak ada komunikasi yang mampu berjalan lebih cepat daripada kecepatan cahaya. Berjalan melebihi kecepatan cahaya berarti menembus dinding waktu.

David Bohm, pakar fisika teoretik dari Universitas London, yakin bahwa temuan Aspect menyiratkan bahwa realitas obyektif itu tidak ada; bahwa sekalipun tampaknya pejal [solid], alam semesta ini pada dasarnya merupakan khayalan, suatu hologram raksasa yang terperinci secara sempurna.

Sebuah hologram adalah suatu potret tiga dimensional yang dibuat dengan sinar laser. Untuk membuat hologram, obyek yang akan difoto mula-mula disinari dengan suatu sinar laser. Lalu sinar laser kedua yang dipantulkan dari sinar pertama ditujukan pula kepada obyek tersebut, dan pola interferensi yang terjadi (bidang tempat kedua sinar laser itu bercampur) direkam dalam sebuah pelat foto. Ketika pelat itu dicuci, gambar terlihat sebagai pusaran-pusaran garis-garis terang dan gelap.

Nah, saat foto itu disoroti oleh sebuah sinar laser lagi, muncullah gambar tiga dimensional dari obyek semula di situ. Sifat tiga dimensi dari gambar seperti itu bukan satu-satunya sifat yang menarik dari hologram. Jika hologram sebuah bunga mawar dibelah dua dan disoroti oleh sebuah sinar laser, masing-masing belahan itu ternyata masih mengandung gambar mawar itu secara lengkap (tetapi lebih kecil). Bahkan, jika belahan itu dibelah lagi, masing-masing potongan foto itu ternyata selalu mengandung gambar semula yang lengkap sekalipun lebih kecil. Berbeda dengan foto yang biasa.

Sebuah hologram mengajarkan bahwa beberapa hal dari alam semesta ini mungkin tidak akan terungkap dengan pendekatan lama, mengurainya satu persatu. Jika kita mencoba menguraikan sesuatu yang tersusun secara holografik, kita tidak akan mendapatkan bagian-bagian yang membentuknya, melainkan kita akan mendapatkan keutuhan yang lebih kecil.

Bayangkan sebuah akuarium yang mengandung seekor ikan. Bayangkan juga bahwa Anda tidak dapat melihat akuarium itu secara langsung, dan bahwa pengetahuan Anda tentang akuarium itu beserta apa yang terkandung di dalamnya datang dari dua kamera televisi: yang sebuah ditujukan ke sisi depan akuarium, dan yang lain ditujukan ke sisi lainnya. Ketika Anda menatap kedua layar televisi, Anda mungkin menganggap bahwa ikan yang ada pada masing-masing layar itu adalah dua ikan yang berbeda. Bagaimana pun juga, karena kedua kamera diarahkan dengan sudut yang berbeda, masing-masing gambar ikan itu sedikit berbeda satu sama lain. Tetapi sementara Anda terus memandang kedua ikan itu, akhirnya Anda akan menyadari bahwa ada hubungan tertentu di antara kedua ikan itu.

Hubungan yang tampaknya “lebih cepat dari cahaya” di antara partikel-partikel subatomik sesungguhnya mengatakan kepada kita bahwa ada suatu tingkat realitas yang lebih dalam, yang selama ini tidak kita kenal, suatu dimensi yang lebih rumit di luar dimensi kita, dimensi yang beranalogi dengan akuarium itu. Tambahnya, kita memandang obyek-obyek seperti partikel-partikel subatomik sebagai terpisah satu sama lain oleh karena kita hanya memandang satu bagian dari realitas sesungguhnya.

Pada tingkatan yang lebih dalam, realitas merupakan semacam superhologram yang di situ masa lampau, masa kini, dan masa depan semua ada (berlangsung) secara serentak. Ini mengisyaratkan bawah dengan peralatan yang tepat mungkin di masa depan orang bisa menjangkau ke tingkatan realitas superholografik itu dan mengambil adegan-adegan dari masa lampau yang terlupakan.

Otak Kita Juga Holographic

Dengan bekerja secara independen di bidang penelitian otak, pakar neurofisiologi Karl Pribram dari Universitas stanford, juga menerima sifat holografik dari realitas. Pribram tertarik kepada model holografik oleh teka-teki bagaimana dan di mana ingatan tersimpan di dalam otak. Selama puluhan tahun berbagai penelitian menunjukkan bahwa ingatan tersebar di seluruh bagian otak, bukan tersimpan dalam suatu lokasi tertentu. Masalahnya, saat itu tidak seorang pun dapat menjelaskan mekanisme penyimpanan ingatan yang bersifat “semua di dalam setiap bagian” yang aneh ini.

1960, Pribram membaca konsep holografi dan menyadari bahwa ia telah menemukan penjelasannya. Pribram yakin bahwa ingatan terekam bukan di dalam neuron-neuron (sel-sel otak), melainkan di dalam pola-pola impuls saraf yang merambah seluruh otak, seperti pola-pola interferensi sinar laser yang merambah seluruh wilayah pelat film yang mengandung suatu gambar holografik. Dengan kata lain, Pribram yakin bahwa otak itu sendiri merupakan sebuah hologram.

Teori Pribram juga menjelaskan bagaimana otak manusia dapat menyimpan begitu banyak ingatan dalam ruang yang begitu kecil. Pernah diperkirakan bahwa otak manusia mempunyai kapasitas mengingat sekitar 10 milyar bit informasi selama masa hidup manusia rata-rata (atau kira-kira sebanyak informasi yang terkandung dalam lima set Encyclopedia Britannica). Kemampuan mengagumkan dari manusia untuk mengambil informasi yang diperlukan dari gudang ingatan yang amat besar itu dapat lebih dipahami jika otak berfungsi menurut prinsip-prinsip holografik.

Sejumlah bukti yang mengesankan mengisyaratkan bahwa otak menggunakan prinsip-prinsip holografik untuk menjalankan fungsinya. Tetapi aspek yang paling membingungkan dari model otak holografik Pribram adalah apa yang terjadi apabila model itu dipadukan dengan teori Bohm. Oleh karena, bila kekonkritan alam semesta ini hanyalah realitas sekunder dan bahwa apa yang ada “di luar sana” sesungguhnya hanyalah kekaburan frekuensi holografik, dan jika otak juga sebuah hologram dan hanya memilih beberapa saja dari frekuensi-frekuensi yang kabur dan secara matematis mengubahnya menjadi persepsi sensorik, apa jadinya dengan realitas yang obyektif?

Secara sederhana, realias obyektif itu tidak ada lagi. Seperti telah lama dinyatakan oleh agama-agama dari Timur, dunia materi ini adalah Maya, suatu ilusi, dan sekalipun kita mungkin berpikir bahwa kita ini makhluk fisikal yang bergerak di dalam dunia fisikal, ini juga suatu ilusi.

Kita ini sebenarnya adalah “pesawat penerima” yang mengambang melalui suatu lautan frekuensi, dan apa yang kita ambil dari lautan ini dan terjemahkan menjadi realitas fisikal hanyalah satu channel saja dari sekian banyak yang diambil dari superhologram itu.

Paradigma Holographic

Gambaran realitas yang baru dan mengejutkan ini, yakni sintesis antara pandangan Bohm dan Pribram, dinamakan paradigma holografik. Banyak Ilmuhwan percaya bahwa paradigma itu merupakan model realitas yang paling akurat yang pernah dicapai sains. Lebih dari itu, sementara kalangan percaya bahwa itu dapat memecahkan beberapa misteri yang selama ini belum dapat dijelaskan oleh sains, dan bahkan dapat menegakkan hal-hal paranormal sebagai bagian dari alam. Banyak peneliti, termasuk Bohm dan Pribram, mencatat bahwa banyak fenomena para-psikologis menjadi lebih dapat dipahami dalam kerangka paradigma holografik.

Dalam suatu alam semesta yang di situ otak individu sesungguhnya adalah bagian yang tak terbagi dari hologram yang lebih besar dan segala sesuatu saling berhubungan secara tak terbatas, maka telepati mungkin tidak lebih dari sekadar mengakses tingkat holografik itu. Jelas itu jauh lebih mudah dapat memahami bagaimana informasi dapat berpindah dari batin individu A kepada batin individu B yang berjauhan, dan memahami sejumlah teka-teki yang belum terpecahkan dalam psikologi. Paradigma holografik menawarkan model untuk memahami banyak fenomena membingungkan yang dialami orang dalam keadaan “kesadaran yang berubah” [altered states of consciousness].

1950-an, seorang pasien mental, wanita yang tiba-tiba merasa yakin bahwa dia mempunyai identitas seekor reptil betina prasejarah. Selama halusinasinya, dia tidak hanya menguraikan secara amat mendetail tentang bagaimana rasanya terperangkap dalam wujud seperti itu, melainkan juga mengatakan bahwa bagian anatomi binatang jantan adalah sepetak sisik berwarna pada sisi kepalanya.

Yang mengejutkan, sekalipun wanita itu sebelumnya tidak mempunyai pengetahuan tentang hal-hal itu, seorang ahli zoologi belakangan menguatkan pendapatnya.

Regresi ke dalam dunia binatang bukanlah satu-satunya fenomena psikologis yang menjadi teka-teki yang ditemukan. Orang-orang yang tidak terdidik tiba-tiba memberikan gambaran yang terperinci tentang praktek penguburan Zoroaster dan adegan-adegan dari mitologi Hindu. Jenis pengalaman yang lain adalah orang-orang yang emberikan uraian yang meyakinkan tentang perjalanan di luar tubuh, atau melihat sekilas masa depan yang akan terjadi, atau regresi ke dalam inkarnasi dalam salah satu kehidupan lampau.

Psikologi Transpersonal

Bentangan fenomena yang sama muncul dalam sesi-sesi terapi yang tidak menggunakan obat-obatan [psikotropika]. Oleh karena unsur yang sama dalam pengalaman-pengalaman seperti itu tampaknya adalah diatasinya kesadaran individu yang biasanya dibatasi oleh ego dan/atau dibatasi oleh ruang dan waktu, fenomena itu disebut sebagai “pengalaman transpersonal”, dan pada akhir tahun 1960-an dirintis cabang psikologi yang disebut “psikologi transpersonal” yang sepenuhnya mengkaji pengalaman- pengalaman seperti itu.

Selama bertahun-tahun Perhimpunan Psikologi Transpersonal [Association of Transpersonal Psychology] tidak dapat memberikan suatu mekanisme yang dapat menjelaskan berbagai fenomena psikologis aneh yang mereka aksikan. Tetapi semua itu berubah dengan lahirnya paradigma holografik.

Sebagaimana dicatat baru-baru ini, jika batin memang bagian dari suatu kontinuum, suatu labirin yang berhubungan bukan hanya dengan setiap batin lain yang ada dan yang pernah ada, melainkan berhubungan pula dengan setiap atom, organisme, dan wilayah di dalam ruang dan waktu yang luas itu sendiri, maka fakta bahwa batin kadang-kadang bisa menjelajah ke dalam labirin itu dan mengalami hal-hal transpersonal tidak lagi tampak begitu aneh.

Mungkin kita sepakat tentang apa yang “ada” atau “tidak ada” oleh karena apa yang disebut “realitas konsensus” itu dirumuskan dan disahkan di tingkat bawah sadar manusia, yang di situ semua batin saling berhubungan tanpa terbatas.

Di dalam alam semesta yang holografik, tidak ada batas bagaimana kita dapat mengubah bahan-bahan realitas.

Yang kita lihat sebagai ‘realitas’ hanyalah sebuah kanvas yang menunggu kita gambari dengan gambar apa pun yang kita inginkan. Sesungguhnya, bahkan paham-paham kita yang paling mendasar tentang realitas patut dipertanyakan, oleh karena di dalam alam semesta holografik, sebagaimana ditunjukkan oleh ribram, bahkan perisitiwa yang terjadi secara acak [random] harus dilihat sebagai berdasarkan prinsip holografik dan oleh karena itu bersifat determined. ‘Sinkronisitas’ atau peristiwa-peristiwa kebetulan yang bermanfaat, tiba-tiba masuk akal, dan segala sesuatu dalam realitas harus dilihat sebagai metafora, oleh karena bahkan peristiwa yang paling kacau mengungkapkan suatu simetri tertentu yang mendasarinya.

Kearifan Timur

Jauh-jauh hari kearifan dari timur telah mengajarkan apa itu realitas sejati (superhologram) dibalik realitas obyektif yang tertangkap oleh indrawi manusia. Bahkan bukan saja memberitahukan tentang adanya realitas sejati tersebut, namun juga mengajarkan teknik-teknik dan upaya pencapaiannya. Dalam konteks bahasanya dikenal beragam istilah seperti firasat, was-was, ilham, sir, angan-angan dan ragam-macam lainnya. Dan juga mengajarkan juga cara membedakannya, mana yang datang dari kenaifan jiwa, mana yang datang dari sesuatu di luar jiwa, dan mana yang dateng dari kearifan tertinggi di luar jiwa kita. Hal-hal yang mana dulunya ditolak oleh psikologi maupun sains materi.

Mereka telah mengenal beragam teknis ‘mengendalikan diri’ sebagai upaya untuk mengalahkan ego dalam mencapai hakikat sejati dibalik realitas obyektif yang bisa ditangkap oleh indera. Pengendalian diri, lelaku dan tirakat dalam menghancurkan ego untuk mencapai kesejatian. Ego yang selalu menuntut untuk puaskan dan dirajakan, bagi mereka adalah musuh yang harus dikendalikan. Dalam ajaran ini, hati itu adalah medan pertempuran. Pertempuran antara ego dan kesejatian hakiki.

Dalam suatu kajian mengenai meditasi transendental memperlihatkan, dua kelompok meditator yang berada di tempat yang berlainan dapat berinteraksi satu sama lain dalam meditasi. Dalam pandangan interconnectedness (kesalingterkaitan), menjadi jelas bahwa kesadaran tak hanya dibangkitkan dari otak, meskipun otak secara intim sangat berhubungan dengan ekspresi kesadaran. Austin (Prof James Austin MD, Neurolog dan Profesor Emeritus dari Pusat Pelayanan Kesehatan Universitas Colorado) menegaskan, pengalaman mistik memperlihatkan bahwa kesadaran merupakan properti semesta.

Data terakhir juga memperlihatkan bahwa doa dapat menjadi sarana penyembuhan dari jauh. Doa yang khusyuk dengan hati bersih akan membukakan hati untuk menerima kekuatan Ilahi bagi kedamaian yang menyembuhkan, menguatkan, dan menemukan jalan.

Demikian kiranya pendekatan kearifan dari timur.

Penutup

Dari sini, mulai dapat dilihat titik pendekatan sains dalam menjelaskan apa itu firasat. Firasat mungkin dapat dipahami sebagai moment dimana bagian jiwa manusia menggunakan otak holografisnya untuk mengakses memori universal yang terekam dibalik superhologram (Holographic Universe). Bagaimana membedakan antara akses yang tepat dan tidak, kearifan dari timur telah memberikan bermacam-macam metode yang berbeda-beda, bergantung madzab dan ajarannya.

Pendekatan ini pula yang menjadi titik temu antara agama dengan sains (dan psikologis sebagai bahasan sains). Di sinilah suatu titik yang membawa perubahan pada perkembangan sains selanjutnya yang juga berpengaruh pada perkembangan psikologi dimana psikologi mulai melirik agama untuk studi-studinya dan rahasia-rahasia mistis agama mulai dapat dipahami.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: