Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dia Memasukkan Malam kepada Siang …

Posted by agorsiloku pada April 9, 2007

Al Qur’an menjelaskan pergerakan benda langit untuk urusan siang dan malam seperti ini :

QS 35. Faathir 13. Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.

QS 31. Luqman 29. Tidakkah kamu memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia tundukkan matahari dan bulan masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang ditentukan, dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

QS 25. Al Furqaan 62. Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.

Lho kok ditulisnya memasukkan, berganti-ganti?. Oke, kita lihat logika sederhana ini :

Kita memasukkan boneka ke dalam sebuah peti (kotak). Meskipun hasilnya sama (boneka kemudian berada di dalam peti), tapi kita bisa katakan dengan dua cara :

  1. Boneka kita masukkan ke dalam peti. Boneka bergerak relatif ke dalam peti yang tentu saja lebih besar dari boneka sehingga boneka itu kemudian masuk ke dalam peti.
  2. Boneka itu yang diam, kemudian peti kita gerakan sehingga boneka itu masuk ke dalam peti.

Hasil kedua cara itu sama, boneka masuk ke dalam peti juga kan.

Lalu apa hubungannya dengan memasukkan siang ke dalam malam. Memang cahaya matahari terhadap bumi : byar… lalu bumi itu yang digerakkan menjadi siang, begitu juga malam, bumi itu digerakkan sehingga malam tiba. Jadi memang benar, boneka itu yang bergerak… eh bumi itu yang bergerak relatif terhadap peti… eh.. terhadap matahari. Jadi kata memasukkan dan berganti-ganti adalah tepat untuk setiap titik-titik pada permukaan bumi relatif terhadap cahaya matahari.

Tentu saja para ilmuwan mengajarkan kepada kita sebagai rotasi bumi. Perputaran untuk kejadian memasukkan siang dan malam itu ditentukan. Coba saja lihat catatan lama dari Mas Dani yang layak untuk kita pelajari (kalau suka). Namun, seperti contoh boneka tadi, kata memasukkan di sini, bonekalah yang masuk ke dalam peti. Begitu juga dengan bumi, bumilah yang bergerak (rotasi) terhadap cahaya matahari. Posisi “malam” dimasukkan ke dalam “siang” dan “siang” kepada “malam”. Siang dan malam ada di bumi, jadi bumilah yang digerakkan melalui rotasinya.

Oke deh,

Rasanya sih, mulai mengerti mengapa kata memasukkan itu dipakai. Tapi, kenapa ya Al Qur’an nggak pakai istilah rotasi pada sumbunya saja?.

“Walah… yang namanya bergerak itu kan bisa macam-macam, bisa bergerak loncat-loncat, muter-muter, bisa macam-macam deh.” Namun, dengan berkembangnya ilmu dan pengetahuan manusia, yah… sebagai pelajaran, akan terpahami juga kan.

Tapi, bagaimana dong dengan ayat ini :

QS 39. Az Zumar 5. Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

Apa memasukkan sama dengan menutupkan?

Ya lihat saja dong bagaimana pergerakan itu menutupi (kata ahli bahasa sumber katanya kawwara) cahaya matahari sehingga kita tertutup dari cahaya matahari. Perhatikan pergerakan dari bola bumi itu dan posisi kita di bumi terhadap gerakan dari cahaya matahari yang tiba ke permukaan bumi itu. Pada konteks menutupi, jelas bahwa ada objek yang ditutupi (objeknya adalah malam).

Yah.. jelas dibutuhkan kearifan dan kehati-hatian untuk memahami “apa adanya”. Namun, juga pemahaman dari sebagai orang berakal.

Apakah tulisan ini berkaitan dengan tema sebelumnya, yaitu mengenai bumi yang mengelilingi matahari ?. Ya, memang tujuannya ke sana.

Dasar saja Si Agor, seenaknya saja menafsirkan dengan logika begitu.?

“Loh… Meskipun itu cuma soal memasukkan boneka ke dalam peti, tapi nggak bisa juga karena kita mengerti persoalan gerak relatif, maka dua-duanya benar dong”

Coba, misalnya saya tempeleng kepala sampeyan. Terus meski sama-sama kena kepala : Apakah tangan yang bergerak atau kepala yang bergerak?

Yo musti tangan dong yang bergerak ? Ya tho… ya tho ya… ” (gaya semarangan).

“Berarti kamu sudah coba-coba nafsirkan ayat ya?”.

Nggaklah, ini mencoba memahami.

“Tapi pemahaman kamu bid’ah. Dan semua bid’ah adalah sesat”

wah… !???###?

“Lalu, biar bid’ah aku pingin tahu, bagaimana pengertianmu tentang matahari terbit dari Timur?”

Wah… bener juga, kasih waktu gw mikir dulu… mo cari Ilham dulu. Kemarin si Ilham baru bilang segitu, ntar gw tanya dulu ya….”

Subhanallah. Maha benar Allah dengan segala firmanNya.

Iklan

13 Tanggapan to “Dia Memasukkan Malam kepada Siang …”

  1. kangguru said

    Dan Dia lah yang Maha Mengetahui
    Pergerakan memang relatif tapi kita tetap perlu kerangka acuan. itu kata teori fisika.

    @
    Kalau digambar, mengikuti instruksi dari ayat atau seperti permisalan sederhana tentang boneka tadi, tampak bahwa informasi ayat itu menjelaskan matahari dan bumi dalam satu irisan bidang atau satu kerangka acuan. Pengamat tampak jelas dari ayat itu, tidak berada di bumi ataupun di matahari. Salam.

    Suka

  2. deking said

    Lagi2 contoh (analogi) yang bagus Pak…
    Sama seperti mengaduk minuman di gelas…terserah mau gelasnya yg diputar2 atau sendoknya yg diputar2 ya Pak…
    Halah…komentar gak mutu 😀
    *jadi malu*

    @
    ha..ha…ha… contoh itu malah lebih tepat dari contoh yang saya buat… soalnya ada gerakan berputarnya…. tapi saya tidak sampai ke sana malah idenya…. hanya ini yang penting…kalau sendoknya diputar-putar… isinya musti yang segar-segar… bagi dong…. 🙂

    Suka

  3. ech said

    Bumi berputar sebenarnya dapat dibuktikan dengan percobaan ilmiah. bisa dengan “pendulum foucault”, bisa juga dengan benda bernama giroskop. Perputaran bumi juga menimbulkan efek yang dikenal dengan “Gaya Coriolis”. Saya pernah membuat postingan tentang hal ini, silahkan baca jika berkenaan
    http://ech.blogspot.com/2006/12/efek-coriolis-bukti-bumi-berputar.html

    @
    Alhamdulillah, kemarin saya sudah berkunjung ke blog Mas Ech. Bagus, beberapa postingnya menarik dan mencerahkan. Meskipun saya menarik kesimpulan yang berbeda untuk kasus bumi mengelilingi matahari, tidak dua-duanya benar (meski saya setuju juga sih : bisa dibenar-benarkan) tergantung lokasi pengamatnya. Namun, untuk berkait dengan ayat, maka kerangka acuannya ya ke ayat yang dikutip. Kalau bumi tidak berputar (pada porosnya)… ng… kali sudah lama disedot matahari (?)….atau elektron segera bergerak elips menubruk proton/neutron kalau saja Dirac tidak merumuskannya 🙂

    Suka

  4. Odoy said

    “Coba, misalnya saya tempeleng kepala sampeyan. Terus meski sama-sama kena kepala : Apakah tangan yang bergerak atau kepala yang bergerak?“

    Jadi inget Srimulat, pernah si pemain srimulat (lupa lagi siapa), Dia ngipas2 karena kegerahan, setelah tangan dia pegel krn ngipas2, terus dia mengamalkan teori relatifitas; kipasnya diem di depan muka dia & dia ganti geleng2 kepala.
    *ikutan komen ga mutu juga* 😀

    @
    ha…ha… ha… 😀 😀 🙂

    Suka

  5. aricloud said

    Kenapa Al Qur’an terkadang menggunakan kalimat yang tidak tegas, khususnya yang menyangkut ilmu pengetahuan?.
    Saya sependapat dengan Dr. Maurice Bucaille yang mengatakan :

    “Unlike the Bible, Al Qur’an does not have a specific sequence for the creation of the heavens and earth, and argues that this leaves the entire process of creation open to interpretation according to the current scientific theories.”

    Hal ini barangkali mengandung hikmah beberapa hal :
    1. Pada dasarnya Al Quran bukan kitab sains, namun kitab yang jauh lebih agung, sehingga penggunaan bahasa dalam AL Quran pastilah mengikuti keagungan Al Quran itu sendiri. sebagai contoh, untuk menjaga wibawanya, seorang Presiden tidak mungkin mengatakan dengan bahasa yang sama dengan seorang Kapolri.
    Misalnya pada sebuah kecelakaan pesawat : Presiden akan mengatakan : Kecelakaan itu akibat kelalaian manusia, oleh karena itu perlu perbaikan SDM dan infrastruktur.
    Namun seorang Kapolri akan mengatakan : Kecelakaan itu diakibatkan terlewatkannya proses akhir pengecekan kondisi Ban. Ini tentu melanggar peraturan penerbangan, oleh karena itu kami akan menindak tegas aparat maupun pihak yang melanggar. saat ini kami sudah memiliki beberapa tersangka…bla..bla..bla..

    2. Salah satu keagungan Al Quran adalah ia dapat diterima pada seluruh zaman. ini mungkin disebabkan karena banyak ayat yang mengungkapkan fakta ilmiah tidak dijelaskan secara eksplisit, sehingga mampu diterima oleh logika manusia di setiap zamannya. misalnya pada ayat QS 35. Faathir 13 yang disebut oleh moderator, yang tersebut secara eksplisit adalah “menundukkan matahari dan bulan” yang berarti menggerakkan matahari dan bulan. Nah pada zaman Al Qur’an diturunkan, barangkali logika manusia saat itu hanya sampai pada kenyataan bahwa matahari dan bulan bergerak.
    Jka Al Quran menyebutkan dengan tegas bahwa bumilah yang bergerak mengelilingi matahari, maka mungkin terkesan adanya pengingkaran terhadap logika sains pada waktu itu yang masih percaya bahwa bumi itu statis (kecuali mungkin orang berilmu dizaman itu)

    3. Dengan menggunakan perumpamaan, otomatis keajaiban Al Quran ini hanya dapat ditemukan oleh orang-orang “berilmu dan berakal” yang memahami perumpamaan dalam Al Quran dan juga memahami kejadian Alam Semesta.

    Wallahu ‘Alam bish showab

    @
    Mungkin benar begitu. Yang disampaikan oleh logika Bucaille. Kita memang sebagai manusia tidak akan mampu membuka seluruh ta’wil dari Al Qur’an.
    Blog agor dibuat mulanya untuk menyimpan artikel, namun Alhamdulillah banyak yang membantu ikut mencerahkan. Termasuk Mas. Dalam menuliskan pandangan, saya berusaha untuk memahami ayat-ayat Allah dari Al Qur’an yang begitu berlapis-lapis kesetimbangan dan hijabnya. Saya sadar, sampai kapanpun tak akan dapat menguaknya — apalagi hanya sekedar mempelajari pengertian di sisa waktu kerja–. Merujuk pada keseimbangan jumlah ayat, kelipatan 19, keseimbangan jumlah kata, jumlah huruf, dan lain sebagainya, dan seterusnya maka mempelajari yang bisa dipahami sudah merupakan anugerah tak terperikan. Meskipun logika Bucaille yang bukunya sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan merupakan buku yang bagus serta mencerahkan dan sependapat bahwa Al Qur’an bukan kitab sains, namun begitu jelas dinyatakan oleh Allah bahwa “dijelaskan terperinci”, “dipahami oleh orang yang berakal”, dan “menjadi tanggung jawab kamilah pengertiannya”. Jadi, saya tetap ingin terbuka terhadap pemahaman dan tidak mengunci pada satu pengertian baik dari masa lalu, maupun kekinian.

    Dalam usaha saya memahami ayat, saya mencoba memahami apa adanya. Jadi kalau ayat mengatakan menundukkan, maka saya memahaminya tunduk pada perintah. Di ayat lain dijelaskan pula : … datanglah… dengan suka atau terpaksa (QS 41. Fushshilat 11). Menundukkan ya menundukkan, tidak menginformasikan bahwa keduanya bergerak. Jadi, saya tidak mau memahami ayat itu sebagai perintah bergerak Kalau ada kata : datanglah… ya itu berarti bergerak… dan seterusnya. Tentu saja, karena saya juga bukan ahli tafsir, maka tidak menafsirkan. Saya hanya mencoba memahaminya.

    11. Huud 1. Alif laam raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu,
    QS 6. Al An’aam 114. Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Quran) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Quran itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu.

    QS 10. Yunus 37. Tidaklah mungkin Al Quran ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al Quran itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam.
    QS 3. Ali ‘Imran 7. Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat[183], itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat[184]. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.

    Kalau Allah menyatakan secara terperinci, ya saya pahami terperinci. Seberapa terinci?. Seberapa paham saya bisa memahami perincian yang Maha Kuasa…. rasanya sih tidak akan setitik buih di alam semesta ini. Subhanallah. Maha benar Allah dengan segala firmanNya.

    Teriring salam untuk Mas Aricloud yang telah sudi berkunjung dan memberikan pencerahannya. Kita saling berbagi ya Mas. Saya masih banyak butuh pencerahan. Kalau sedikit berbeda, bukan untuk menang-menangan, tapi untuk berbagi ketidaktahuan.

    Suka

  6. aricloud said

    Manusia terkadang lupa kalau dirinya terlalu jauh berdebat/berdiskusi, sehingga terkadang jatuh pada jurang Riya dan Takabur, termasuk saya sendiri.
    Mudah-mudahan diskusi yang kita semua bangun betul-betul bermaksud untuk mencerahkan keimanan kita, bukan untuk membagus-baguskan kata-kata.
    mohon maaf jika ada kekhilafan

    @
    Sama Mas, saya juga minta maaf terutama dalam keniscayaan membangun kata. Sengaja dan tak sengaja terselip keinginan untuk menjadi lebih pintar. Namun, betul tujuan kita untuk mencerahkan keimanan kita. Jangan ragu mengoreksi kesalahan yang terjadi. Saya kadang ragu juga, setelah ditulis sekian lama, pandangan bisa berubah. Maklumlah dalam proses memahami. Sengaja tema blog saya buat sains in religion (bukan sebaliknya) karena saya ingin lebih memahami petunjukNya.

    Suka

  7. ech said

    Kalau bumi tidak berputar (pada porosnya)… ng… kali sudah lama disedot matahari

    Kalau bumi tidak berotasi implikasinya mungkin tidak ada mahluk yang sanggup hidup di bumi karena yang terjadi adalah matahari terbit dari sebelah barat dengan satu hari (siang) lamanya sama dengan setengah tahun (siang dan malamnya tepat satu tahun). Digilirnya siang dan malam dalam masa 24 jam adalah rahmat Allah kepada kita (bayangin kalau lebih lama atau lebih cepat dari itu).

    btw thx atas kunjungannya ke-blog saya.

    @
    Ya benar sekali, bahkan pergeseran sedikit saja, seperti kata blognya Simply Vie, juga site Harun Yahya, akan mengakibatkan bumi tidak seperti yang kita tinggali. Allah memang tidak menggunakan statistik, tapi teori kepastian. Betul-betul kadar yang tak terbayangkan sebelumnya. Kalau begitu, tentu bukan kebetulan tata surya terbentuk. Tapi menurut satu sistem yang betul-betul dikehendaki yang Mahakuasa. Apakah tatasurya menjadi satu-satunya yang memiliki komposisi seperti ini?.
    Blog Mas saya tautkan ya tanpa ijin. Soale, seperti biasa, saya jadikan tag-tag itu perpustakaan hidup…. salam.

    Suka

  8. […] Dia Memasukkan Malam kepada Siang … […]

    Suka

  9. Maksud Allah menceritakan langit dan bumi adalah tertuju kepada risalah terjadinya tahapan semua agama-agama sejak Adam 10.000 tahun yang lalu sampai akhir zaman globalisasi agama dinamakan hari berkumpul. Tahapan agama-agama itu dibinasakan menjadi pecah belah agama sampai sekarang sesuai Al Mu’minuun (23) ayat 71. Itu sebabnya dikatakan setan membawa dari terang kepada gelap dan Allah membawa dari gelap kepada terang ilmu pengetahuan agama sesuai Al Baqarah (2) ayat 257. dari gelap kepada terang ilmu agama oleh Allah disebut Kiamat sesuai Al Qiyamah (75) ayat 6-15.
    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

    Suka

  10. […] oleh agorsiloku di/pada Juni 15th, 2007 Mas aricloud sependapat dengan Bucaille bahwa Al Qur’an terkadang menggunakan kalimat yang tidak tegas, […]

    Suka

  11. […] menentang teori kalau bumi mengelilingi matahari. Yang ada hanya verb “beredar”, “memasukkan”, dan “terbit/terbenam” kan? Lalu apakah yang salah si pembuat fatwa? Nanti dulu, kita […]

    Suka

  12. Anonim said

    Memasuk kan malam kedalam siang dan siang kedalam malam.
    Sebenarnya simpel dan sederhana bagi2 orang2 yg mau berfikir pasti allah beri petunjuk atas agama yg diridhoinya ini.

    1. Yg membedakan malam dan siang itu apa? Kan ” cahaya yg terang dilangit bumi (siang)” dan kegelapan dilangit (malam) ” bukan matahari yg ditulis dimasuk dan dikeluarkan.

    Makanya di ayat itu ditulis siang dimasukkan ke malam dan sebaliknya.

    2. Kenapa kalimatnya “dimasuk kan” malam dan siang itu ?
    Coba kita lihat saat siang mulai berganti malam, perlahan2 langit yg terang itu mulai gelap. Seolah2 ada pergerakan siang itu “dimasuk kan” ke malam. Dan coba lihat waktu malam berganti pagi, seolah2 malam itu tengelam/lenyap/hilang perlahan2.

    Contohnya:
    Sebuah lilin kita nyalakan diruang gelap, coba tutup lilin itu dengan ember yg gelap pelahan2, perhatikan RUANGAN nya itu seolah2 ruangan itu ditelan oleh kegelapan atau masuknya gelap. Selanjutnya buka lagi ember yg menutupi lilin itu perlahan2, seolah2 disana yang gelap tadi masuk pula yg terang menelan yg gelap.

    Suka

  13. djoko suryo pratomo said

    salam,
    maaf ilmu dan hikmah anda semua masih terlalu dangkal untuk memahami ayat ini, silahkan belajar dahulu kepada ahlinya, dan jangan suka berkomentar sembarangan.
    salam.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: