Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Pengalaman Hidup Bersama Diabetes Type 2 (bag.-2)

Posted by agorsiloku pada Juli 23, 2018

Sambungan dari ini.

Keinginan untuk sembuh dari diabet rasanya cukup kuat.  Ingat-ingat saya mulai menderita lelah, ngantuk, lemas, sekitar bulan Pebruari 2018 dan pemeriksaan pertama gula darah pada akhir April 2018.  Selama periode 3 bulan ini, sama sekali tidak punya pikiran bahwa saya terkena diabetes. ” Tidak ada turunan kok”.

Pola makan yang tidak sehat, tidak terkontrol boleh jadi jadi penyebabnya.

Beberapa hal yang dirasakan dalam periode menjelang diukur gula darah tanpa disadari dengan baik :

  • Mudah lelah dan ngantuk.  Setiap kesempatan, saya gunakan waktu untuk beristirahat. Tidur.
  • Kulit kaki menebal dan pecah-pecah.  Saya tidak menduga ini ada hubungannya dengan diabet, saya pikir karena air sumur saya banyak endapannya.  Meskipun terlihat bersih, memang suka ada endapan lumpur halus.
  • Jerawat berminyak banyak keluar.  Mungkin kebanyakan makan berlemak.
  • Sering buang air kecil, bisa 10 kali sehari dan sulit untuk ditahan.  Mungkin saya kena penyakit prostat atau apa gitu.  Tapi tidak diperdulikan.  Memang repot juga, apalagi ketika sedang berkendara.  Minimum dua jam sekali harus ke kamar kecil.  Tetap saja saya tidak menduga ada penyakit berarti.  Kegiatan sehari-hari yang saat itu cukup sibuk tidak sempat memikirkan ada sesuatu yang salah, yang sebenarnya berbahaya.  Ada kesadaran untuk minum suplemen dan madu agar saya bisa lebih sehat dan bergairah.  Minum madu, minuman, dan lain-lain.  Tidak memiliki pengaruh apa-apa.
  • Kalau membaca, terutama baca huruf kecil rasanya semakin samar/buram.  Huruf pada hp sy perbesar agar masih bisa dibaca.  Saat menyupir, rasanya gamang.  Jelas mulai dirasakan serius, ada yang tidak beres.  Namun, karena seumur hidup belum pernah sakit berat, saya tidak menyadari bahwa saya sudah akut terkena diabetes melitus tipe 2.
  • Kuku tangan rasanya rapuh, beberapa patah.  Ingat juga, beberapa bulan yang lalu beberapa gigi saya juga rontok.  Padahal, sebelumnya, kuku rasanya tebal dan kokoh. Kok sekarang rapuh !.

Sampai akhirnya diperiksa gula darah : 533.

Dari sinilah saya kemudian sadar, harus ada tindakan nyata untuk memperbaikinya.

Antara Pankreas dan Gula Darah.

Sambil mengobati, seperti saya jelaskan pada postingan pertama.  Usaha untuk memahami penyakit ini juga penting.  Mulailah saya membaca beragam artikel tentang diabetes dan akibat-akibatnya.  Pemahaman ini perlu, karena menurut sebagian orang, diabetes dapat dikontrol, tapi tidak bisa sembuh.

Nyelekit juga mendengar atau membacanya.

Saya bukan dokter atau ahli gizi, tapi sebagai penderita tentu saja merasa perlu memahami apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh saya.  Ini menyangkut hal yang penting : hidup sehat lebih enak dari pada hidup sakit. 🙂

Dari pemahaman yang boleh jadi keliru, ada dua hal yang penting :

  • Tubuh mengeluarkan insulin yang masuk ke dalam darah yang dihasilkan dari Pankreas.  Kalau pankreas sakit, maka jumlah insulin yang dikeluarkan boleh jadi kurang. Pankreas yang menghasilkan insulin ini disebut sel beta.
  • Gula darah menjadi tinggi alias susah diatur ini yang disebut diabetes.  Obat yang diminum (metformin) untuk menurunkan gula darah tubuh.  Dengan begitu, gula darah menjadi normal dan tidak menimbulkan efek buruk ke organ lainnya.

Tentu ada penjelasan lebih ilmiah, tapi bukan untuk ini tulisan ini dibuat.  Pemahaman bahwa penyakit ini datang karena dua hal di atas, hanya untuk mewakili pemahaman bahwa ada dua masalah yang perlu diperhatikan, yaitu pabrik penghasil insulin dan pengontrolan hasil produksi yang beroperasi di dalam darah.  Jadi, obat untuk diabetes itu adalah obat untuk mengontrol hasil produksi pabrik bernama pankreas, sedang persoalan untuk memperbaiki sel beta pankreas tidak ada (?).

Oh begitu.  Jadi, karena tidak ada obat untuk sel beta pankreas, maka penyakit ini tidak bisa disembuhkan.  Ibarat mesin cetak, yang diperbaiki hasil cetakannya.  Sedang mesin cetaknya tidak bisa diperbaiki.

Tentu saja ada beberapa obat untuk memperbaiki sel beta dan penelitian jua terus dilakukan untuk penyakit ini.  Vildagliptin salah satunya.  Siapa yang tahu bahwa obat untuk perbaikan sel beta pankreas ini penting?.  Kalau gula darah terkontrol, merasa lebih sehat maka perlukah obat untuk memperbaiki sel beta pankreas.  Jadi, yang paham ini tentulah pakarnya.  Namun, yang saya pahami.  Jika betul ada obat tersebut manjur, maka pernyataan bahwa diabet adalah penyakit yang tidak bisa disembuhkan menjadi tidak benar.

Saya juga percaya bahwa setiap sel tubuh melakukan regenerasi, kecuali sudah total rusak.  Maka saya juga lebih meyakini bahwa sel beta pankreas itu bisa beregenerasi sehingga sel tersebut bisa menghasilkan insulin dan mengatur pengeluarannya di dalam darah sebaik mungkin.  Sama percayanya bahwa setiap organ tubuh juga akan menurun fungsinya sejalan dengan bertambahnya usia.  Hormon tubuh kita, entah apa namanya akan berkurang jumlahnya, kita semakin tua, kulit mengeriput sampai akhirnya jam sel menyatakan : “It is time to go”.  Ada memang yang sakit karena faktor genetik yang tidak bisa disembuhkan.  Konon, kata beberapa artikel, penderita jenis ini bisa mencapai jumlah 10% dari penderita, sisanya sebanyak 90% adalah diabetes tipe 2 yang lebih bersumber dari ketidakseimbangan nutrisi dan akhirnya sakitnya merambah kemana-mana.

Dengan kata lain, kalau tubuh kita sehat, gula darah terkontrol, kebutuhan nutrisi tercukupi, maka peluang untuk sembuh total bisa ya?

Apakah sel beta pankreas sudah baik atau belum juga kita nggak tahu, yang kita tahu adalah gula darah terkontrol.  Kalau gula darah terkontrol karena diet ketat tanpa obat. Bisa diartikan sel beta juga sudah bekerja baik.  Kalau kurang terkontrol, lalu kita makan cukup gizi dan kalori, kemudian gula darah terkontrol tanpa minum obat, maka artinya diabet saya terkontrol.  Kalau terkontrol terus tanpa obat, maka artinya saya sembuh dari diabet.

Kira-kira begitulah pemahaman sederhananya.

Selama ini, saya sudah minum susu kefir, minyak zaitun, cuka apel. Sudah berhenti minum obat darah tinggi dan makin berkurang minum metformin sebagai obat pengontrol gula darah.  Saya makin yakin, bahwa penyakit saya sedang menurun dan menuju kesembuhan.

Meskipun begitu, saya tetap harus berhati-hati.  Jangan over acting sehingga kebiasaan konsumsi gula berlebihan terjadi lagi.  Makan bisa menikmati sebagai mana sebelum terkena diabetes, tapi kalau gaya hidup tidak berubah, ya peluang datang lagi.

Metformin sebagai obat pengontrol diabet hanya diminum kalau hasil cek gula darah ada pada kisaran 180-200,  Lonjakan nyaris tidak terjadi.  Namun, karena angka ini sudah tergolong prediabet, maka harus ada upaya tambahan agar gula darah sesuai dengan batas usia, yaitu kisaran 130-160.

(bersambung ke bag 3)

 

Satu Tanggapan to “Pengalaman Hidup Bersama Diabetes Type 2 (bag.-2)”

  1. […] Pengalaman Hidup Bersama Diabetes Type 2 (bag.-2) […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: