Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Apakah Teori Evolusi Didasari Alasan Penolakan Adanya Tuhan?

Posted by agorsiloku pada April 7, 2007

Dalam otobiografinya, Charles Darwin menyatakan :

Argumen disain yang selama ini sangat meyakinkan, ternyata telah gagal. Kini hukum seleksi ilmiah telah ditemukan. Sekarang kita tidak dapat lagi mengatakan bahwa engsel kerang yang indah, misalnya, harus merupakan hasil perbuatan suatu Wujud yang cerdas (Tuhan), sebagaimana engsel pintu harus merupakan hasil perbuatan manusia.

(Band., Nora Barlow (ed.), The Autobiography of Charles Darwin (London:Colin, 1958), h. 87. Dikutip dari, Mulyadhi Kartanegara, Mengislamkan Nalar, Erlangga, 2007, h. 12)

Dengan pemikiran ilmiahnya, Darwin telah mengganti peran Tuhan sebagai pencipta dan pemelihara alam dengan teori seleksi alamnya. Darwin menganut kepercayaan yang sama seperti halnya Laplace yang telah menggantikan peran Tuhan sebagai pengatur alam dengan hukum “”Deterministik mekanik” dalam teori astronominya. (“Mengislamkan Nalar”, Mulyadi K, Erlangga 2007 , h. 12)

Jadi, justru karena penelitiannya tentang tengkorak dan tulang belakang hewan yang ada kemiripan atau dimirip-miripkan, dari fosil-fosil itu, maka Darwin mulai mengingkari keberadaan Allah. Sebelumnya, dia adalah seorang Kristen yang shaleh.

Al Qur’an berbicara :

QS 24. An Nuur 45. Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

QS 16. An Nahl 8. dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya.

QS 54. Al Qamar 49. Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.

QS 46. Al Ahqaaf 3. Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka.

QS 42. Asy Syuura 29. Di antara (ayat-ayat) tanda-tanda-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata Yang Dia sebarkan pada keduanya. Dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya.

QS 36. Yaasiin 71. Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakan binatang ternak untuk mereka yaitu sebahagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami sendiri, lalu mereka menguasainya?

Filsafat positivisme atau gampangnya segala sesuatu yang terukur oleh indra (panca indera) menjadi masalah ketika “bertemu” dengan pendekatan keimanan untuk percaya bahwa “yang gaib” itulah yang mengurusi “yang tidak gaib”. Ruh yang mengisi jiwa manusia. Kacamata ilmu dalam Islam tentu saja meliputi indra, akal, dan intuisi; termasuk juga wahyu Ilahiyah. Jadi, dalam islam tentu ranah-ranah metafisis harus menjadi pertimbangan dalam mengembangkan tradisi keilmuannya. (lalu, kalau begitu mengapa terbelakang ya…?, mengapa beberapa abad setelah cahaya ilmu Islam memudar dan semakin materialistik.)
Natural selection, ujung-ujungnya kemudian menolak “kehadiran Tuhan” dalam proses penciptaan. Memang berbeda dengan Newton, :

Kita mengenal-Nya hanya melalui perancangan-Nya yang paling bijak dan luar biasa atas segala sesuatu… [Kita] memuji dan mengagungkan-Nya sebagai hamba-Nya…” (Sir Isaac Newton, Mathematical Principles of Natural Philosophy, Great Books of the Western World 34, William Benton, Chicago, 1952:273-74).

Lalu, kemudian kita bertanya :”dari santapan-santapan yang ada”, mana yang kita akan yakini?.

Subhanallah.

Iklan

28 Tanggapan to “Apakah Teori Evolusi Didasari Alasan Penolakan Adanya Tuhan?”

  1. de King said

    Sience without religion is blind … (bagaimanapun juga agama memiliki fungsi kontrol)
    Religion without science is lame… (kita dibekali akal sehingga kita harus mengkaji apa yang diberikan Alloh melalui agama…jangan asal terima kayak robot saja)
    Sepertinya komentar saya OOT 😀
    *garuk2 kepala*

    @
    Tidak, komentar Einstein itu malah sudah masuk dalam jadwal postingan 🙂 , tapi baru beberapa hari lagi dimunculkan. Menariknya apa yang terjadi pada proses berpikir Darwin, kesungguhannya melakukan penelitian dan membuat klasifikasi “kemiripan” makin menjauhkan dirinya dari agama (sebelumnya, dalam biografinya beliau sebelumnya “katanya” seorang Kristen yang shaleh. Berbeda dengan Sir Issac Newton, justru melihat keagungan Allah dari setiap karyaNya.

    Suka

  2. Esensi “Ulama penerus Nabi” itu juga menurut saya tidak hanya Al ALimu dalam Ilmu Agama, tapi juga Ilmu-ilmu Lain. Semua yang kita pelajari dengan landasan keinginan untuk mengenal Allah melalui ciptaannya…

    @
    Betul saya kira Mas. Lahannya Al Qur’an, Sunnah, alam semesta (sains), diri manusia, dan sejarah. Al Ghazali menempatkan agama sebagai harus, yang lain mungkin, sehingga ada juga analisis karena pengaruh pilihan ini menjadikan salah satu sebab ummat Islam meninggalkan pengetahuan yang lain selain agama (baca : akhirnya ketinggalan kereta kemajuan kebudayaan).

    Semua yang kita pelajari dengan landasan keinginan untuk mengenal Allah melalui ciptaannya… –> saya kira ini adalah pernyataan paling tepat, utama, dan menyentuh esensinya.
    Salam.

    Suka

  3. Saya tanpa baca isi nih hanya melihat judul, lalu komentar hehehehe. Itulah keliaran pikiran manusia namun tetep membawa pengaruh untuk manusia yang mengamini keliaran pikir itu sendiri.

    Maaf pak agor beberapa hari gak bisa kunjung ke blog sampean, ada sesuatu yg menghalanginya hehehe. BTW tulisan sampean tetap bagus saja.

    @
    Itulah kelebihan Pak Helge, melakukan scan informasi. Baca judul, tarik baca baris pertama scan di tengah paragraph jika tidak ada kesamaan, lihat ujungnya (akhir paragraf), lalu loncat lagi ke ujung artikel. Sudah dapat semua ya Pak. Manusia, emang pada dasarnya membaca konteks, bukan literal. Sebenarnya itu nggak liar, tapi emang ada ilmunya (dipelajari). Sayang saya tidak menguasainya.

    Terimakasih dikunjungi, Kunjungan Pak Helge membuat saya hidup lebih urip lagi… Salam….

    Suka

  4. andreas sun said

    masalah evolusi ini pernah saya tanyakan pada guru biologi sma saya yang muslim. beberapa poin yang saya ingat:
    1.Tuhan menciptakan alam ini ada prosesnya. Yang paling mudah diamati, kita kan nggak lahir langsung segede ini, tapi ada prosesnya sejak masih dalam rahim, sampai keluar, kemudian tumbuh sampai besar.
    2.Jika evolusi itu tidak ada, bagaimana menjelaskan pertanyaan berikut: semua manusia yang ada di dunia sekarang berasal dari satu manusia yang sama yaitu nabi Adam. Lalu bagaimana manusia sekarang bisa berbeda-beda rasnya? Hal itu kan berarti sejak manusia pertama, bangsa (atau spesies??) manusia mengalami perubahan secara perlahan-lahan (disebut juga evolusi.

    Mohon tanggapannya pak.

    @
    ok ya, sebisa saya :
    Pertama, pastilah kita sama-sama tidak menyaksikan proses penciptaan. Jadi semua jawaban adalah spekulasi (baca bukan bukti), tapi hasil interpretasi.

    Proses evolusi pertama dari kecil dari dewasa adalah proses pematangan “sesuatu” yang kita sebut mahluk hidup.
    Proses evolusi dari hipotesis darwin adalah klasifikasi kesamaan karakter mulai dari bentuk fisis sampai dengan kesamaan dna mahluk hidup yang memiliki kemiripan sehingga terjadi kesimpulan bahwa mahluk hidup satu bentuk berubah secara evolusi menjadi mahluk hidup yang lain, seperti leher jerapah yang memanjang karena beradaptasi (survival of the fittest) karena lingkungan yang berubah. Pendekatan ini yang ditolak oleh (lebih banyak) agamawan.

    Proses yang disebut evolusi pertama kali, dalam ayat Al Qur’an dipahami sebagai penyempurnaan ciptaan seperti dijelaskan :

    yang menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya), (87. Al A´laa 2)
    dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk,(87. Al A´laa 3)
    Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, (QS 82. Al Infithaar 7)
    Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian (QS 71. Nuh 14).

    ayat-ayat di atas yang agor kutip memberikan informasi sebagai penyempurnaan dari suatu proses penciptaan. Banyak juga penjelasan pula yang menyelesaikan “evolusi penciptaan” itu dengan dikembalikan seperti sebelumnya (menjadi tua, tak berdaya , lupa) dan akhirnya kembali padaNya.

    Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui. (QS 30. Ar Ruum 22)

    Evolusi versi Darwin.
    Evolusi model yang disimpulkan oleh Darwin menjadi berbeda karena di sini tidak ada proses penciptaan, tapi proses yang berkelanjutan (berubahnya dari satu mahluk hidup ke mahluk hidup yang lain). Termasuk juga manusia diinterpretasikan begitu dan selalu dicari penghubungnya (missing link).
    Apakah agama membenarkan adanya perubahan penciptaan ini?, artinya perubahan dari katakanlah secara ekstrim dari kadal menjadi buaya?. atau kalau manusia, misalnya berubah secara genetis dari manusia yang jumlahnya berubah (berbeda antara manusia berkulit hitam dengan eropa yang bule). Perubahan ras manusia, hanya bagian dari kombinasi genetik dari jenis manusia, tapi bukan berubah “rumus genetik”-nya. Perubahan yang diakibatkan oleh hal lain, selalu menjadi faktor perusak (mutasi gen- kanker).
    Setidaknya saya belum berhasil menemukan ada ayat Al Qur’an yang menjelaskan adanya perubahan dari satu mahluk ke mahluk yang lain, tapi lebih ke arah pemahaman setiap mahluk adalah unik dan pada ukuran-ukurannya. Beberapa ayat berikut menyatakan hal ini :

    Katakanlah: “Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang dapat memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali?” katakanlah: “Allah-lah yang memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali; maka bagaimanakah kamu dipalingkan (kepada menyembah yang selain Allah)?” (QS 10. Yunus 34)
    Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.(QS 2. Al Baqarah 164)
    Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS 24. An Nuur 45)
    dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya. (QS 16. An Nahl 8)
    Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. (QS 54. Al Qamar 49)
    Di antara (ayat-ayat) tanda-tanda-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata Yang Dia sebarkan pada keduanya. Dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya. (QS 42. Asy Syuura 29)
    Hanya kepadaNyalah kamu semuanya akan kembali; sebagai janji yang benar daripada Allah, sesungguhnya Allah menciptakan makhluk pada permulaannya kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali (sesudah berbangkit), agar Dia memberi pembalasan kepada orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan amal saleh dengan adil. Dan untuk orang-orang kafir disediakan minuman air yang panas dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka (QS 10. Yunus 4)
    Sesungguhnya Dia-lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali). (QS 85. Al Buruuj 13)

    Soal kemiripan genetis?.
    Terjadi kemiripan genetis dari satu mahluk hidup ke satu mahluk hidup yang lain (kemiripan jumlah, karakteristik, dll). Kemiripan ini sama sekali tidak menjelaskan hubungan “mengapa ada kemiripan”. Jadi kalau saya bertanya kepada Mas, apakah ada kemiripan antara atom bernomor 56 dan atom bernomor 55 (?), kan mirip tuh, hanya satu nomor saja bedanya. Begitu diurut, sehingga Helium itu menurukan terus menerus sampai unsur golongan terakhir karena memang perbedaannya kecil ?.

    Walah… kemiripan itu menurut statistik. Proses penciptaan Allah tidak menggunakan ilmu statistik, tapi definitif. Segala sesuatu ada ukurannya. (Qadla dan Qadar).

    Jadi kembali ke awal, yang agor pahami bahwa perubahan ras karena perkawinan silang memang by disain oleh Allah SWT dengan segala kombinasi dari ukuran-ukuran genetika yang telah ditetapkanNya, tapi tidak berubah menjadi mahluk lain. Itu bukan evolusi (tapi perubahan sesuai dengan proses penyempurnaan). Evolusi dalam pengertian teori darwin dan turutannya kemudian yang dikembangkan tidak mempercayai adanya proses penciptaan. (Allah tidak turut campur dalam penciptaan kemudian). Ini yang umumnya ditolak oleh para agamawan. Ilmu pengetahuan sendiri dan seluruh bukti-bukti yang ada, masih “sekedar” hipotesis dan bukan bukti untuk menggugurkan pandangan ilmu (yang memang setengah jadi).
    Karena itu pula, sering kita temui fosil jutaan tahun lalu, juga mahluk hidup jutaan tahun lalu pun ada yang masih hidup. Itu sebenarnya memberikan penjelasan bahwa spesies itu unik dan terukur. Tidak berubah-ubah sakarepnya menjadi mahluk hidup lain. Sedangkan perbedaan akibat perkawinan silang genetis hanya berlaku pada kondisi yang juga ditetapkan.

    Begitu pemahaman saya. Jadi antara 1) dan 2) yang disebutkan oleh Mas itu, berada pada konteks yang berbeda. Tingkatan kejadian bukan evolusi.
    Kira-kira begitu yang saya pahami dari Al Qur’an. Jadi, atas dasar ini, saya sih bukan seorang evolusionis…. Wallahu ‘alam.

    Suka

  5. andreas sun said

    saya ambil contoh dari surah yang dikutip diatas:

    Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.(QS 2. Al Baqarah 164)

    Ilmu pengetahuan sekarang menerangkan bahwa hujan itu adalah berasal dari penguapan air di permukaan bumi yang akhirnya jatuh karena telah mengembun dan kembali ke bentuk cair lagi. Konsep fisika yang sederhana. Dengan konsep “sederhana” itu apakah berarti kita bisa mengatakan bahwa bukan Tuhan yang menurunkan hujan itu dari langit?

    Kembali ke evolusi, seandainya proses evolusi itu benar terjadi dalam asal-usul manusia (dan seluruh makhluk) apakah itu berarti kita bisa pula mengatakan bahwa bukan Tuhan pencipta manusia (dan seluruh makhluk)? Saya pikir evolusi itu adalah cara yang elegan dalam penciptaan. Dan teori itu sama sekali berbeda dengan mengatakan bahwa sang pencipta itu tidak ada.

    Dalam teori atom (yang adalah selalu berkembang) dulunya diperkirakan bahwa atom suatu unsur itu spesifik, dan tidak bisa berubah lagi menjadi atom unsur lain. Tapi ternyata ditemukan adanya reaksi nuklir (inti atom) yaitu bahwa atom unsur bisa berubah menjadi unsur lain. prosesnya adalah dengan penggabungan atau pemisahan “sesuatu” dalam inti atom itu, sehingga atom unsurnya menjadi berubah.

    Kita kembali ke teori evolusi (yang juga selalu berkembang). analog dengan atom unsur, semua makhluk hidup mempunyai “sesuatu unsur penyusun” yang sama, yaitu DNA. CMIIW DNA ini diterjemahkan secara sama persis di semua makhluk hidup. Kalau DNA penghasil racun dari suatu bakteri disisipkan pada tumbuhan, maka tumbuhan itu juga akan mensintesis protein racun yang sama dengan bakteri tersebut.

    Jadi kalau dibilang bahwa setiap makhluk sama sekali tidak ada kesamaan kurang tepat juga. Kemiripan itu ada. Sifat-sifat yang tampak pada makhluk hidup (apakah dia termasuk makhluk ini atau makhluk lain), adalah sesuai dengan apa yang ada dalam DNA (dalam batas-batas tertentu). Analog sekali dengan sifat fisis atom unsur yang sesuai dengan (berapa proton?) dalam inti atomnya.

    Kalau saya pikir: kun fayakun tidak harus berarti bahwa tidak ada proses didalamnya. Hanya karena proses evolusi itu tidak disebutkan dalam Quran, tidak berarti bahwa itu tidak ada…. Wallahu ‘alam

    @
    Jadi kalau dibilang bahwa setiap makhluk sama sekali tidak ada kesamaan kurang tepat juga –> tidak tepat malah, karena setiap mahluk hidup ada kesamaan. Namun kesamaan, tidak juga berarti bahwa harus dari evolusi menurut logika Darwin.

    kun fayakun tidak harus berarti bahwa tidak ada proses didalamnya.–> tentu saja ada proses (baik yang kita pahami maupun yang tidak kita pahami). Mungkin dalam seper milyar milyar detik, mungkin juga milyaran tahun cahaya prosesnya….

    Toh seperti yang diungkap pertama kali dalam tulisan pendek di atas, dua hal yang sama bisa dilihat oleh Darwin dan Issac Newton dengan cara berbeda.

    Inti perbedaan itu dari “pengakuan” kita pada keberadaan Allah atau menafikkannya.

    Kemudian yang juga sederhana, kalau mahluk hidup bersel satu jadi mahluk hidup tingkat lebih tinggi, maka proses penciptaan juga terus berlangsung, karena akan muncul bakteri-bakteri baru, virus-virus baru dari mutasi ketiadaan menjadi “keadaan”. Jadi, logika penciptaan menjadi sesuatu akan tetap berlaku juga.

    Namun, tentu juga, buat agamawan, tidak sulit untuk mempercayai bahwa dari ketiadaan kemudian diciptakan mahluk. Sedang buat ilmuwan, sulit menjelaskan adanya proses penciptaan. Karena proses penciptaan hanya ada dari pengertian, “tidak mungkin” sesuatu menjadi ada tanpa ada yang menciptakannya. Mobil Jepang hanya ada karena ada orang yang membuat mobil.

    Namun, ini problema filsafat positivisme. Semua harus bisa dijelaskan dengan bukti empiris atau teorema, dan ini belum bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan. Kecuali melalui prasangkaan, buktinya sendiri kan tidak pernah terbukti.

    Al Qur’an, yang saya pahami mengabarkan pada tingkatan proses, seperti yang ditulis oleh artikel di atas maupun komentar saya sebelumnya.
    Jadi memang, pada perenungan “di kulit” ini, evolusi menjadi mahluk baru dari satu mahluk lain tidak dijelaskan oleh Al Qur’an (atau bisa jadi karena saya juga belum mampu memahaminya). Sama juga dengan kalau mammouth itu diciptakan langsung jadi mammouth, maka pada suatu ketika, tidak ada yang namanya mammouth atau dinosaurus, tapi tiba-tiba dia “turun” dari langit seperti “bidadari” dan bleg… langsung ada dan makan rumput di muka bumi.

    Hanya, perkawinan silang dan bukti-bukti fosil hidup sampai saat ini, yang justru saya pahami, tidaklah melahirkan mahluk yang baru. Namun, setiap mahluk berada pada ukurannya sejak jutaan tahun yang lalu. Seperti Coleacanth itu. Tidak mengalami perubahan, sedang bukti-bukti evolusi, lebih sumir dibanding bukti-bukti kestabilan genetika.

    Jadi, menurut saya, sama seperti akhir yang disampaikan Mas Andreas Sun : Wallahu’alam. Kita baru bisa memahami sebagian kecil proses tingkatan kehidupan, bukan proses penciptaan.

    Suka

  6. andreas sun said

    bisakah ditunjukkan ayat Quran yang secara terang menyatakan bahwa penciptaan manusia itu dari ketiadaan . maksud saya, bahwa sang pencipta itu pasti mampu melakukannya. Tapi apakah Dia menjadikan manusia itu dengan cara seperti itu?? kalo ada, berarti setiap pertanyaan yang mempertanyakan kemungkinan adanya evolusi sia-sia, karena sudah pasti salah besar.

    saya mulai dari satu poin dulu aja yah, supaya diskusinya semakin mengerucut dan tidak meluas kemana-mana 🙂

    @
    Mas Andreas Sun, kayaknya saya keliru bilang dari ketiadaan menjadi keadaan. Karena Allah jelas bilang dari tanah/tembikar/lumpur. Gitu lho, kemudian dikembangbiakan (dari saripati), dari dst . Artinya penciptaan datang dari bahan yang dapat kita sebut bukan mahluk hidup menjadi mahluk hidup. Seperti juga jin dari api, dan malaikat dari cahaya. Kata ketiadaan hanya benar untuk keseluruhan saja (dari tiada menjadi ada, dengan basis bahwa ciptaan tidaklah kekal). Jadi kata yang tadi itu dari tiada menjadi ada dalam konteks ini menjadi keliru. Maaf ya, karena ketiadaan selalu artinya nihil.

    Penciptaan nabi Isa juga disebutkan seperti nabi Adam (QS 3. Ali ‘Imran 59). Btw, nabi Isa kan masuk dalam perut perawan Maria.

    Saya sendiri, kalau karena rujukannya hanya ke Al Qur’an, dan Al Qur’an tidak menjelaskan tentang berubahnya mahluk hidup, tapi lebih mengarah pada penciptaan, lebih mengarah pada penarikan kesimpulan bahwa evolusi dari mahluk hidup ke mahluk hidup lain adalah tidak ada. Setiap mahluk adalah ummat-ummat sendiri (sy musti cari ayatnya apa, lupa). Salam 🙂

    Suka

  7. andreas sun said

    Subhanallah saya senang dengan keramahan Pak Agor ini. Dan saya sangat menikmati diskusi kita 🙂

    Sepertinya kita makin mendekati titik temu nih Pak. Jadi makhluk hidup itu dari “bahan” yang sudah ada di alam ya Pak? Hanya saja kalo menurut teori bapak, “bahan” itu adalah benda mati. Sedangkan menurut teori evolusi modern, “bahan” itu bisa benda mati, bisa pula makhluk hidup. Tapi mungkin saya perlu juga konfirmasi dengan orang yang mendalami biologi nih Pak. Maklum latar belakang saya elektro, jadi pengetahuan biologi saya dapat dari sma saja. Tapi rasanya saya cukup memahami filosofi teori-teori tersebut 🙂

    Baik pak, kalo begitu silakan Bapak teruskan dengan ayat Quran pendukungnya pak. Yang mengatakan dengan terang bahwa makhluk hidup itu berasal dari benda mati, tanpa ada perantara mahkluk hidup lain dalam proses penciptaannya, Pak. Kalo ada ayat yang terang begitu, maka berarti sudah ndak bener kalo saya mencoba “membantah” 🙂

    Oya, saya lupa menyisipkan pada komentar saya sebelumnya. Ini tentang silogisme bapak :

    Bukti Coleacanth itu, Pak, berarti bahwa “ADA makhluk hidup yang TIDAK berevolusi”. Dari bukti ini yang bisa ditarik kesimpulan adalah “TIDAK SEMUA makhluk hidup berevolusi”. Bukan seperti kesimpulan Bapak sebelumnya bahwa “SEMUA makhluk hidup TIDAK berevolusi”. Silogisme-nya saya pikir seperti itu Pak. Salam 🙂

    @

    Ini baru saya dapatkan juga, bagaimana kita memahami ayat ini ? (dengan garis tebal yang difokuskan)

    QS 24. An Nuur 45. Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu

    QS 15. Al Hijr 26. Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.

    QS 77. Al Mursalaat 20. Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina. –> dalam konteks pentahapan menjadi manusia.

    Dalam satu peristiwa, ditunjukkan oleh Nabi Isa, bagaimana burung hidup diciptakan dengan seizinNya :

    QS 3. Ali ‘Imran 49. Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka): “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman.

    Dari tiga ayat di atas terutama Al Hijr 26 dan Ali ‘Imran sebagai contoh, pesan Allah sepertinya tidak mengarah adanya mahluk hidup baru dari mahluk hidup lama.

    Coleacanth jelas memberikan berita nyata bahwa mahluk hidup jenis ini tidak berevolusi.
    Bagaimana dengan yang lain, samakah?.
    Bisa nggak kita menyimpulkan bahwa : Itu artinya tidak semua mahluk hidup berevolusi. Begitu silogismenya.
    Komen saya terhadap ini,
    Iya betul, pernyataan juga bisa dikatakan begini : Sudah ada bukti bahwa mahluk hidup yang hidup jutaan tahun lalu tidak seperti Coleacanth tidak berevolusi, sedangkan sampai saat ini tidak ada bukti atau percobaan bahwa mahluk hidup bisa berpindah menjadi mahluk hidup lain. Karena tidak ada antara misal antara satu mahluk hidup ke mahluk hidup lain, logisnya harus ada loncatan evolusi, maksudnya … kadal meloncat jadi buaya, atau kijang meloncat menjadi jerapah, karena bukti fosil juga tidak ada yang bertahap bagaimana berubahnya mamouth menjadi gajah. Untuk manusia, dikenal sebagai “missing link”.

    Cuma Mas, pernyataan saya mengenai kadal jadi buaya ini kan lebih sebagai hipotesis (atau dalam bahasa lain : prasangkaan).
    Sedang petunjuk dari Illahi, tampaknya makin mengerucut ke arah penciptaan tunggal. Apalagi pada setiap manusia, yang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

    Kira-kira begitu. Jangan ragu ya, kalau keliru koreksi saja. Ini kira-kira pendapat tambahan saya mengenai, mengapa saya lebih mempercayai tidak ada itu evolusi darwin.
    Jangan lupa pula, bagi yang tdk percaya agama, khususnya Islam, pandangan ini akan dianggap sebagai ilusi juga.

    Senang berdiskusi dg. Mas.
    Wass, agor.

    Suka

  8. andreas sun said

    wah maaf Pak, ada kesalahan format. XHTML-nya mbok ya tolong dikasih keterangan dan contoh penggunaan pak. Saya nggak terbiasa. jadi malu :”>

    harusnya seperti ini Pak:

    Oya, saya lupa menyisipkan pada komentar saya sebelumnya. Ini tentang silogisme bapak :

    Hanya, perkawinan silang dan bukti-bukti fosil hidup sampai saat ini, yang justru saya pahami, tidaklah melahirkan mahluk yang baru. Namun, setiap mahluk berada pada ukurannya sejak jutaan tahun yang lalu. Seperti Coleacanth itu. Tidak mengalami perubahan, sedang bukti-bukti evolusi, lebih sumir dibanding bukti-bukti kestabilan genetika.

    Bukti Coleacanth itu, Pak, berarti bahwa “ADA makhluk hidup yang TIDAK berevolusi”. Dari bukti ini yang bisa ditarik kesimpulan adalah “TIDAK SEMUA makhluk hidup berevolusi”. Bukan seperti kesimpulan Bapak sebelumnya bahwa “SEMUA makhluk hidup TIDAK berevolusi”. Silogisme-nya saya pikir seperti itu Pak. Salam

    @
    Wah saya juga bingung, ngatur format htmlnya, apalagi yang ada pakai x jadi xhtml…

    Dalam hal yang kita bahas evolusi : berubahnya mahluk hidup ke mahluk hidup lain (sebagai kesimpulan dari survival of the fittest).
    Pernyataan 1:
    – Mahluk hidup tidak berevolusi ada buktinya.

    Pernyataan 2:
    – Mahluk hidup lain “tidak diketahui” apakah berevolusi atau tidak.

    Dari dua pertanyaan 1 dan 2 di atas, maka kesimpulan totalnya
    Ada mahluk hidup yang tidak mengalami evolusi dan sebagian lain belum/tidak diketahui apakah berevolusi atau tidak. Betul, secara logis, kita tidak bisa mengatakan semua mahluk hidup tidak mengalami evolusi.

    Namun, pada acuan kita ke ayat Allah, tinggal kita meyakini pesan Illahi dari rangkaiannya bekerja dimana.

    Salam, agor

    Suka

  9. andreas sun said

    QS 24. An Nuur 45. Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu

    QS 15. Al Hijr 26. Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.

    Kedua ayat diatas menceritakan bahwa makhluk hidup berasal dari benda mati. Sekali lagi saya sepakat dengan hal itu (ini adalah teori abiogenesis modern, bahwa makhluk hidup berasal dari benda mati). Dan sekaligus kedua ayat tersebut tidak menyatakan bahwa “tidak ada tahapan-tahapan proses atau evolusi dalam penciptaan itu”.

    sedangkan ayat ini:

    QS 3. Ali ‘Imran 49. Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka): “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman.

    menunjukkan mujizat (tanda kerasulan) nabi Isa. Apakah itu berarti semua penciptaan melalui cara yang sama? TIDAK. Nabi Isa sendiri lahir tanpa ayah sebagai mujizat beliau. Tapi tidak berarti semua orang lahir tanpa ayah.

    Bapak, sebenarnya kalau kita menggunakan ayat-ayat seperti ini saya takut nanti jadi seperti ini. Bukan berarti saya tidak konsisten loh. Maaf harusnya dari awal saya tidak memintanya. Mohon dimaklumi ya Pak 🙂

    Pak Agor, saya pikir teori itu bukan masalah percaya atau nggak percaya. Karena teori bukan agama. Boleh-boleh saja Bapak punya teori penciptaan khusus, bahwa semua makhluk hidup berasal dari benda mati bleg langsung. Hanya nanti mungkin akan susah menceritakan algoritmanya. Misal untuk dari pembentukan protein, lalu menjadi satu sel, kemudian menjadi multisel dst,dst… kemudian untuk gajah misalnya pembentukan protein lagi, lalu menjadi satu sel, kemudian dst,dst… dan setiap makhluk prosesnya independen. Mungkin kalau Bapak sudah menemukannya bisa menjelaskan ini di postingan yang baru? Kalo saya boleh usul judulnya “Teori penciptaan khusus, algoritma penciptaan makhluk hidup secara khusus”.

    Maaf tidak semua tanggapan Bapak diatas saya lanjuti. Hal ini supaya diskusi tidak melebar saja Pak.

    Senang berdiskusi dg. Mas.
    Wass, agor.

    Ini bukan berarti diskusi ditutup kan Pak? Soalnya kan belum disimpulkan 🙂

    Wassalam, Andre

    @
    Wah, asyik Mas Andre ini… Jeli dalam berpandangan.

    Penciptaan Nabi Isa “seperti Nabi Adam”

    QS 3. Ali ‘Imran 59. Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia.

    Dan diuraikan bahwa Nabi Isa “masuk” dalam perut Mariam (hamil), bisa bicara sejak dalam buaian. Jadi, jelas Nabi Isa juga berproses menjadi dewasa (mengikuti perubahan proses menjadi besar). Tidak bleg jadi seperti film “terminator 3” 🙂 Jadi jelas, Allah menjelaskan penciptaan itu mengikuti sebuah proses, bagian dari proses bagaimana terjadinya tidak kita ketahui (tidak dijelaskan).

    Mengapa saya menggunakan ayat : karena konteks blog ini dimulai dari sebagai usaha untuk memahami ayat Allah dalam bidang apa saja yang relevan dengan tema blog ini. Jadi ini bukan teori Agor lho, tapi bagaimana agor mencoba memahami ayat Allah dan pemahaman tentang semesta (dalam hal ini evolusi) dengan rujukan utama Al Qur’an dan didampingi dinamika ilmu pengetahuan yang terus berkembang.

    Memang, algoritma penciptaan tidak akan masuk ranah ilmu pengetahuan. Mengapa?. Agak rumit menyederhanakannya, tapi kita tahu kan, alam semesta diciptakan. Singularitas pertama dari penciptaan (anggap saja big bang benar) harus dimulai dari suatu kondisi tanpa hukum fisika kemudian bang… memuai menjadi munculnya hukum-hukum fisika (sunatullah). Kalau singularitas kejadian pertama tidak ada, maka alam semesta juga tidak akan ada dan mengembang seperti yang kita tinggali ini.

    Tapi fisikawan bisa bertanya juga, Ada berapa singularitas kejadian dari satu titik tak hingga sehingga tercipta satu singularitas yang menjadi satu alam semesta seperti sekarang ini. Jawabnya :Tidak Tahu. Titik awal penciptaan adalah juga terciptanya hukum-hukum alam ini. Jadi kalau ada banyak kemungkinan terjadinya alam semesta, “mungkin juga” tercipta banyak “alam semesta” dengan aturan hukum-hukumnya sendiri. Dengan kata lain, :”emangnya Allah hanya menciptakan satu-satunya alam semesta yang kita huni?. Mana mungkin kita tahu, dan juga tidak ada penjelasan dari Allah?”

    Ketika Nabi Isa membuat burung dari tanah, lalu ditiupkan menjadi burung, maka tentu saja ini contoh algoritma dari hukum Allah.
    Seperti juga Surga, Neraka itu juga menjadi hukum-hukum Allah yang bukan hukum alam semesta ini (yang dipahami fisikawan). Hukum-hukum yang bekerja di luar hukum-hukum semesta ini, dikenali sebagai “Mujizat”, yaitu manusia yang pengetahuannya sedikit, bila bersentuhan dengan mujizat, maka tidak ada ingatan apapun yang bisa dipahami. Mengapa?. Ya karena pemahaman manusia akan dibatasi oleh hukum-hukum inderawinya. Hukum-hukum dimana kebebasan manusia diberikan pada alamnya. Karena itu, dalam ayat hanya dijelaskan :”Untuk Allah ini mudah”.

    Mas Andreas,
    Tentu saja kita berbagi ya, saya tidak/belum berani menarik kesimpulan karena ini juga adalah perjalanan berpikir (juga berakal). Apa yang dipahami saat ini, boleh jadi berubah, meskipun bench marknya tetap (Al Qur’an) dan ilmu pengetahuan yang dapat kita pahami. Kesimpulan sebenarnya tidak terlalu penting kan, lebih penting lagi bagaimana kita menggunakan akal sebebas dan seluas mungkin tanpa kita kehilangan keyakinan kita. Pakailah akal kita, agar semakin bertambah takwa kita. (QS 14. Ibrahim 52 dan QS 2. Al Baqarah 197 dan beberapa ayat lainnya).

    Saya juga ingin merangkum lagi postingan pandangan Mas Andre dan jawaban saya serta rekan lainnya dalam satu posting baru. Tampaknya ini memiliki nilai sebagai dialektika berpikir bebas (tapi tidak kebablasan) dalam menggunakan akal kita.

    Jadi, teori penciptaan khusus atau bukan, saya berusaha memahami ayat dalam pemahaman tentang penciptaan. Jadi bisa juga saya keliru memahaminya, karena itu diskusi ini menjadi bernas. 🙂

    Mengenai bumi mengelilingi matahari, saya memang membahas berkali-kali di blog ini (dan masih ada postingan lagi yang belum di”publish”).

    Wass, agor

    Suka

  10. andreas sun said

    Maksud saya disimpulkan itu biar nggak kita ngomong ngalor ngidul tapi ndak jelas juntrungannya Pak. Jadi titik temunya (baru?) satu yaitu Allah menciptakan makhluk hidup itu dari benda mati ya Pak? Terus mengenai prosesnya itu Wallahu’alam. Dan belum ada didiskusikan ayat Quran yang secara terang menjelaskan proses itu ya Pak?

    Saya tertarik dengan cerita Bapak karena artikel Bapak yang mengatakan bahwa akal itu di dada. Itu mirip sekali dengan cerita guru biologi saya Pak :).

    Kita orang-orang yang mencari kebenaran, semoga Allah merahmati kita dan memudahkan jalan kita. Amiin

    Wassalam, andre

    @
    Iya, boleh juga disimpulkan… dari cara menyampaikan pandangan, terasa Mas Andre “fairplay”.

    adi titik temunya (baru?) satu yaitu Allah menciptakan makhluk hidup itu dari benda mati ya Pak? –> iya, sambil sebenarnya kita juga tidak bisa mendefinisikan yang disebut hidup dan mati dengan baik. Karena setiap unsur dari alam ini kan bergerak, atom juga bergerak, virus komputer juga berkembang biak dan bisa memperbanyak diri, virus bersel satu juga bisa tidak membutuhkan oksigen (bernafas). Sungguh, kemudian yang disebut benda mati juga kita tidak bisa definisikan;

    QS 33. Al Ahzab 72. Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,

    Allah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung. Mereka juga bertasbih (QS 21. Al Anbiyaa’ 79).
    Bukankah dari ayat ini saja, kita tahu sebenarnya begitu terbatas kemampuan kita mendefinisikan “sesuatu”. Jadi, apalagi proses awalnya?, bagaimana “fusi” atau “fisi” dijalankan ketika unsur-unsur itu membentuk atau menggabungkan dirinya. Energi yang diperlukan harus sangat besarkan (dan bekerja pada kondisi yang sangat kecil, pada tetapan fisika partikel, zarah).

    mengatakan bahwa akal itu di dada –> ini bukan dari agor, ayatnya ada :

    QS 22. Al Hajj 46. maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.

    Btw, guru biologi Mas ceritanya bagaimana?
    semoga Allah merahmati kita dan memudahkan jalan kita — Amin, amin, amin.

    Suka

  11. andreas sun said

    @
    Iya, boleh juga disimpulkan… dari cara menyampaikan pandangan, terasa Mas Andre “fairplay”.

    kalau fairplay saya tau Pak artinya. Tapi kalau “fairplay” apa ya?? *berpikir keras*

    iya, sambil sebenarnya kita juga tidak bisa mendefinisikan yang disebut hidup dan mati dengan baik. Karena setiap unsur dari alam ini kan bergerak, atom juga bergerak, virus komputer juga berkembang biak dan bisa memperbanyak diri, virus bersel satu juga bisa tidak membutuhkan oksigen (bernafas). Sungguh, kemudian yang disebut benda mati juga kita tidak bisa definisikan;

    Wah Pak jangan diputer-puter dong. Nanti gantian saya puter lagi ke atas loh :

    QS 24. An Nuur 45. Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu

    Lha itu Allah menciptakan makhluk hidup (hewan) dari makhluk hidup (air). hehehe… *tersenyum puas*

    Kalau yang dibilang guru Biologi saya begini Pak.
    Manusia itu berpikir berdasarkan tiga hal :
    1. Dengan perasaan. Perasaan adalah respon dari sistem panca indera. Hasilnya ada dalam domain suka-ndak suka. Artinya orang yang mikir dengan perasaan selalu berdasarkan suka/ndak suka dirinya terhadap objek.
    2. Dengan pikiran. Pikiran adalah respon dari sistem otak (ya yang ada di dalam kepala itu). Hasilnya ada dalam domain untung-rugi. Artinya orang yang mikir dengan pikiran selalu berdasarkan apa untung/rugi objek terhadap dirinya.
    3. Dengan akal. Akal adalah respon dari sistem hati (yang ada di dada, tapi bukan liver). Hasilnya ada dalam domain benar-salah. Artinya orang yang mikir dengan akal selalu berdasarkan apakah objek itu benar/salah.

    Kurang lebih seperti itu Pak.
    Wassalam, andre

    @
    he…he…he… fairplay… pakai miring atau apostrop yo wis sama wae..
    Soal mahluk hidup dan mati,…he..he..he… kan yang bilang mahluk hidup itu kita. Al Qur’an mah tidak bilang mahluk hidup. ayat ini : …. mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, (QS 33. Al Ahzab 72)… bagaimana kita memaknainya. Jadi, rasanya saya perlu mendalami lebih baik… kelihatannya ini seperti bicara di level sufi, eh… di fisika kuantum, di-komunikasi- subatomik…. 🙂

    Yap, guru biologi itu merespon dari logika fisis semuanya.

    Salam

    Suka

  12. andreas sun said

    Ooohhh.. begitu Pak 🙂

    Baik karena sudah ada kesimpulan, komentar saya cukup dulu pak. Laen waktu semoga kita bisa berdiskusi di topik lain lagi ya Pak. Saya tunggu rangkuman yang mau dibuat tadi 🙂 (atau saya harusnya bikin blog juga ya?? hihihi…)

    Oya saran saya jangan terlalu mengamini Harun Yahya Pak. Karena bapak itu suka mengolok-olok ilmuwan dengan menjuluki mereka evolusionis (suatu istilah yang baru saya denger dari karya-karya Harun Yahya). Padahal kan boleh jadi ilmuwan-ilmuwan yang diolok-olok itu justru adalah orang-orang yang berdzikir dengan “Mahasuci Allah yang mencipta dengan evolusi”

    Cukup sekian,
    Wassalamu’alaykum wr. wb.
    andre.

    @
    Wass, Mas Andre… saya justru belum baca lengkap dari Harun Yahya, meski saya suka juga bacanya.
    bagus juga Mas Andre bikin saja blog… kan itu untuk pelepas lelah… 😀

    Suka

  13. aricloud said

    Subhanallah, sebuah diskusi yang amat mengedepankan rasa saling menghormati yang tinggi.
    semoga Allah merahmati antum berdua Mas Andre dan Mas Agor.
    Saya sampai tidak tahu harus memulai darimana untuk nimbrung.
    Diskusi yang menarik…
    Ada satu hal yang sebenarnya ingin saya sampaikan namun saya merasa belum cukup kuat basisnya.
    Mas agor, pernah gak membaca atau mendengar bahwa di bumi ini dulu pernah mengalami kepunahan makhluk hidup. terutama di era Dinosaurus. Beberapa ilmuwan meyakini bahwa saat itu terjadi benturan meteor raksasa ke bumi yang menimbulkan tsunami, gempa maha dahsyat, perubahan iklim serta hujan pasir dan debu yang tidak mungkin mampu dilalui makhluk hidup.

    Saya bertanya karena sepertinya saya pernah membaca hal ini entah dimana, mungkin mas agor pernah tahu berikut fakta-faktanya?

    Nah, jika yang saya kemukakan diatas benar-benar pernah terjadi. maka otomatis teori evolusi menjadi Batal bukan? karena itu membuktikan adanya pemutusan generasi makhluk hidup dimana makhluk hidup di suatu zaman tidak ada sangkut pautnya dengan makhluk hidup di zaman berikutnya? jika Mas Andre membaca ini mohon tanggapannya juga
    Syukron
    wassalam

    @
    Pernah saya membaca tentang kepunahan Dinosaurus yang “katanya” oleh meteor besar, namun saya kira memang benar dinosaurus musnah atau gagal bersaing dalam kehidupannya. Kehidupan di suatu massa dimana mahluk raksasa beragam jenisnya hidup. Namun saya tidak tahu apakah ini sebuah spekulasi pengetahuan (mengada-ada) atau memang demikian. Di lain waktu saya akan cari referensinya.
    Semoga Allah merahmati Mas Aricloud dengan segala sikap dan pandangannya yang terpuji.
    Salam, agor.

    Suka

  14. […] oleh agorsiloku di/pada Juni 8th, 2007 Mas Andreas sun berkata […]

    Suka

  15. MaIDeN said

    … bukannya para ilmuwan nggak yang menganut teori evolusi darwin lagi ?
    … teori usang yang sudah nggak pernah dipakai lagi 😛 dijaman web. 20 ini 😀

    @
    Pada pembahasan sains yang serius, kalau nggak salah teori evolusi darwin lebih dikenal sebagai hipotesis evolusi…..

    Suka

  16. Yani said

    Teori evolusi adalah dasar dari aliran materialisme di Barat yang tumbuh subur sejak Renaissance. Dalam sejarah peradaban, kita tahu bahwa Eropa mengalami abad kegelapan akibat dominasi gereja yang bersekongkol dengan kaum bangsawan selama abad pertengahan. Gereja demikian dahsyatnya memanipulasi ajaran Tuhan menjadi alat kekuasaan. Efeknya adalah ketika terjadi ‘pencerahan’ setelah era Renaissance yang berujung pada revolusi Industri, bangsa Barat menjadi alergi dengan semua yang berbau gereja. Selanjutnya secara salah kaprah hal ini berlanjut dengan rasa alergi terhadap semua yang berbau agama atau Tuhan. Ketika ‘teori’ evolusi diperkenalkan Darwin, dunia Barat menyambutnya dengan luar biasa. Karena dengan teori itu Tuhan bisa dihilangkan dari persamaan yang mengatur semesta alam. Tumbuhlah para pendukung Darwin, yang pada gilirannya justru jauh lebih ekstrem dibanding Darwin sendiri. Dalam ilmu sosial, Darwinism menjelma menjadi ajaran Marxism dengan dogmanya: religion is opium. Demikian pula misalnya Nietsze yg mengatakan God is dead.
    Teori evolusi dalam perjalanannya kemudian terbukti sangat banyak kelemahannya (sebagaimana sebenarnya diakui sendiri oleh Darwin pada bukunya The Origin of Species). Dalam bahasa yang populer, Harun Yahya menuliskan secara komprehensif bagaimana teori evolusi ini dalam abad modern menjadi absurd. Namun demikian di kalangan ilmuwan Barat, ilmuwan yang berani mengkritisi teori evolusi masih minoritas. Hal ini lebih karena masalah image. Ilmuwan yang tidak percaya pada evolusi disebut secara derogatory sebagai “creationist” dan karyanya akan dianggap less scientific. Memang sayang, de facto, pendukung evolusi masih menguasai scientific mainstream di Barat.

    @
    Trims… memang sepertinya begitu… keinginan untuk mentidakan maha pencipta adalah bagian dari usaha mempertahankan hal tersebut. Teori evolusi menjadi salah satu alatnya (meski ini pun kerap ingin diingkari pula)… begitu kalau tak salah saya memahaminya.

    Suka

  17. priyono said

    Alam semesta diciptakan tuhan. Pada titik ini semua agama sepakat, tetapi jika ditanya tuhan yg mana, mereka semua mengaku tuhannya lah yg paling benar. Tapi memang demikianlah adanya, mana ada agama yg mau mengalah, pastilah semua mengaku benar.
    Berapa persen kebenaran yg akan kita dapat, ternyata hanya 1 per jumlah agama yg ada didunia kali 100 %. Kalau agama cuma ada 1 maka sudah pasti 100 % agama tersebut benar. Kalau ada agama 100 maka kebenaran itu hanya 1 %. Kecil banget ya??
    Hasilnya sama aja dengan orang atheis. Kenapa kita tidak diberi tahu oleh tuhan agama yg benar itu mana??

    @
    Komentar Mas Priyono cukup menarik dan begitu simpelnya. Insya Allah di kejap lain, ingin mengelaborasi lagi pertanyaan ini. Apa betul begitu? 😀

    Untuk pertanyaan terakhir :Kenapa kita tidak diberi tahu oleh tuhan agama yg benar itu mana??
    Kalau boleh dijelaskan : Yang benar seperti apa yang kita inginkan?.

    Suka

  18. […] umum tentang “asal mula manusia”. Apakah teori evolusi itu milik orang nonagama atau tidak percaya adanya Tuhan atau malah sebaliknya, karena pemahaman teori evolusi, justru semakin dekat kepada Allah. […]

    Suka

  19. […] Terakhir Seberapa Dekat Kita … di Apakah Teori Evolusi Didasari … trijokobs di Seberapa Iba Kita Kepada Keped… gt di Lembar Tamu Seberapa Dekat Kita … di […]

    Suka

  20. […] Tuhan?  Bisa saja, misalnya tentang engsel yang indah dari Oom Charles.  Sains, didalamnya melahirkan kebenaran-kebenaran dan uji-uji hipotesis dari masa ke masa dengan […]

    Suka

  21. […] bahwa mahluk hidup itu ada dan disimpulkan karena persaingan melakukan penyesuaian dengan alam, maka itu berarti bukan pekerjaan Tuhan.  Penemuan-demi penemuan melahirkan asumsi-asumsi baru yang kemudian dikenali dengan rumus-rumus […]

    Suka

  22. […] Argumen disain canggih karya Sang Pencipta, melalui perbandingan bentuk-bentuk kehidupan yang menunjukkan tingkatan-tingkatan kehidupan telah digeser oleh premis seleksi alamiah.  Dengan kata lain, seleksi alam di awal hipotesis Darwin, telah menggantikan peranan Sang Pencipta. […]

    Suka

  23. […] Argumen disain canggih karya Sang Pencipta, melalui perbandingan bentuk-bentuk kehidupan yang menunjukkan tingkatan-tingkatan kehidupan telah digeser oleh premis seleksi alamiah.  Dengan kata lain, seleksi alam di awal hipotesis Darwin, telah menggantikan peranan Sang Pencipta. […]

    Suka

  24. Anonim said

    Q jg ingn nanya,sebenernya jaman purba apa ada sich?dan bukankah jika cerita tentang manusia jaman nabi bertubuh tinggi2 sampai hampir setinggi pohon kelapa?tapi kok ndak diketemukan fosilnya.
    Q juga belum ngerti tahun sebelum masehi itu thun brapa sich.?

    @
    Wah agor juga tidak tahu sama sekali. Memang di AQ ada petunjuk bahwa manusia jaman dulu besar-besar ukurannya setinggi pohon kelapa?. 😀

    Mungkin tidak akan ditemui fosilnya, karena rasanya sih terlalu muskil ada orang dahulu setinggi pohon kelapa (kecuali kelapa hibrida yang umurnya beberapa bulan/tahun…) 😀

    Kalau tak salah dengan, ada fosil dari peristiwa great pompei atau kaum tsamud yang diterpa azab Allah.

    Tahun Masehi itu tahun yang dihitung dari kelahiran Yesus (Nabi Isa), Sedangkan ummat Islam menghitung dari tahun Hijriah Nabi. Kira-kira berselisih 500 tahun …
    Tahun yang kita pakai secara internasional mengikuti pergerakan matahari adalah tahun Masehi.
    Tahun sebelum Masehi adalah tahun yang dicatat sebelum perhitungan Masehi dilakukan. Ini lebih sulit ditetapkan, karena ukuran tahunnya bisa tidak sama. Tergantung kebudayaan dan musim. Ada yang menyebut tahun itu sama dengan bilangan musim, atau sama dengan pengulangan musim.

    Suka

    • pompom said

      kalau aku sih percaya kalau jaman purba itu ada, dan masalah tahun sebelum masehi, jangan terlalau dipikir akuratnya, itu tahun sebelum nabi Isa lahir. tentang akuratnya? mungkin 5% sudah bagus. Tapi itukan cuman hitungan untuk memudahkan saja? so? gak ush dipikirin, ikutin aja orang yang ahli dalam hal itu, lalu kita? ngikut aja deh.

      Suka

  25. pompom said

    Begini mas, saya termasuk orang yang percaya dengan teori darwin, karena saya yakin Allah menciptakan sesuatu dengan proses. jadi harapan saya sebelum mengklaim teori darwin itu salah, mungkin ada baiknya kita kaji lebih dalam dengan orang yang bebar bebar bisa mentafsirkan Al Qur’an. ingat ketika Galileo mengatakan bahwa bumi ini bulat, dia dihujat oleh gereja dan tokoh tokoh agama. Dan apakah dalam Al Qur’an ada yang menyatakan bahwa bumi itu bulat? disinilah saya rasa kita sebagai orang islam harus benar benar menggunakan akal dan ilmu kita. Saya yakin bahwa Al Qur’an adalah gudang semua ilmu, tetapi apakah anda yakin anda bisa mengungkap semua ilmu dari Al Qur’an? saya yakin tak ada seorangpun yang bisa, karena Al Qur’an itu adalah ilmu dari Allah, sehingga tidak seorangpun yang bisa mengungkap semua ilmu yang ada dalam Al Qur’an. Saya adalah seorang muslim, tetapi saya juga tidak mengharamkan sesuatu yang berbau barat. Allah Akbar, Allah maha besar

    Suka

  26. […] yang maha menciptakan.  Dalam teori evolusi sebelum mengalami evolusi, dalam otobiografinya, Darwin mengatakan : Argumen disain yang selama ini sangat meyakinkan, ternyata telah gagal. Kini hukum seleksi ilmiah […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: