Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Haram Hukumnya Bagi Kepala Sekolah dan Guru Mencari Keuntungan dari Murid

Posted by agorsiloku pada Juli 14, 2008

Menarik, paling tidak ada dua esensi yang saya lihat dari “ucapan” Yang Mulia Bambang Sudibyo, mengenai keharaman Buku dijual oleh Kepala Sekolah atau Guru. (Sumber : http://jawapos.com/radar/index.php?act=detail&rid=9270  – kutipan lengkap di bagian bawah postingan)

Pertama :

Harga buku mahal dikarenakan adanya bisnis yang dilakukan oleh penerbit yang kongkalikong dengan sekolah sehingga dan sedemikian rupa bisa memberatkan para murid, sedangkan kepala sekolah dan guru justru mendapatkan keuntungan.

Kedua :

Depdiknas memiliki hajat untuk membeli hak cipta buku dari penerbit dan mempersilahkan masyarakat atau pengusaha (seperti yang dilakukan oleh Jawa Pos) untuk menjual buku — tapi tentu saja tidak boleh mengikutsertakan sekolah dan guru (yang cari untung) agar tidak memberatkan murid dan tidak melakukan tindakan haram !.

Ketiga :

Mungkin masih ditunggu fatwa dari majelis ulama atau tokoh ulama mengenai tingkat keharaman satu produk atau jasa dimana pelaku-pelakunya mendapatkan keuntungan.  😀

Sebenarnya… sekali lagi sebenarnya, apa yang sesungguhnya terjadi dalam urusan kongkalikong atau kepala sekolah mendapatkan keuntungan atau guru atau koperasi mendapatkan keuntungan dari sejumlah modul peluang yang memungkinkan guru, kepala sekolah mendapatkan KEUNTUNGAN? sehingga keuntungan tersebut menjadi HARAM hukumnya :

Dari emblim untuk siswa, dari penjualan pisang goreng di koperasi, dari uang bangunan dan uang pendaftaran penerimaan siswa baru, dari alat peraga, dari kaos olah raga, dari seragam batik, dari acara tour sekolah, dari reuni, dari kewajiban beli seragam, kewajiban beli sepatu, sampai kewajiban beli kaos kaki, topi, dasi, buku tulis, uang latihan komputer, uang laboratorium, uang privat guru di sekolah atau ke rumah?, lalu mengapa BUKU yang kemudian diharamkan?

Kalau esensi persoalannya pada “keuntungan kepala sekolah dan guru”.  Berdosakan mereka mendapatkan “keuntungan tambahan” dari posisinya sebagai Oemar Bakri?. Dulu saya juga guru yang diktator (jual diktat beli motor, apakah kegiatan ini adalah haram?.  Saya merasa ini menjadi bagian dari pengkebirian hak cipta intelektual) dan kesempatan seluas-luasnya pada esensi yang paling dikehendaki manusia untuk mengubah masa depannya : ilmu pengetahuan.    (tapi kan mengubah masa depan tidak harus melalui buku lho  : maksudnya tidak usah belajar juga  kalau memang hoki dan ada koneksi, tentu lebih beruntung… 😀  )

Meskipun saya tahu bahwa buku itu adalah benda terjahat dalam lingkungan pendidikan, tapi rasanya saya tidak harus membenci begitu rupa sehingga harus mengajarkan bahwa menerbitkan buku, menjual, dan mendapatkan keuntungan dari kegiatan ini diharamkan (harus dijauhi).  Mengapa kita tidak bisa melihat bahwa hak untuk memilih, hak untuk belajar, kewajiban belajar, adalah investasi untuk kebangkitan bangsa ini.  Mimpi punya laptop setiap siswa SD dan memakai Operating System dari Microsoft barangkali mimpinya pemimpin bangsa ini.  Namun, dengan batasan : ilmu pengetahuan tidak boleh diperjualbelikan.

Sekolah adalah kombinasi dari lembaga sosial, lembaga bisnis dan bagian dari proses investasi bangsa ini.  Rasanya, kebijakan yang dibuat oleh Mendiknas saat ini lebih bersifat kebijakan untuk mempertahankan posisi saja. Di sisi lain, yang juga penting bagi penerbit, sudah sewajarnya pula sinyalemen buku sebagai ajang keuntungan guru dan murid berada pada garis-garis kewajaran. Sentilan ini boleh jadi perlu, juga terhadap produk-produk eksploitasi kepada orang tua murid.

Namun, dengan adanya JawaPos yang begitu rajinnya menyampaikan berita-berita ini sekaligus menjual buku-buku murah ke sekolah-sekolah dan saya percaya akan juga diikuti penerbit-penerbit lainnya untuk menjual ebook yang dicetak, maka kembali lagi persoalan pada titik yang sama.  Selalu ada udang dibalik batunya.  Ntah prakteknya di lapangan.

Bagaimanapun, ucapan selamat untuk Jawa Pos Group yang menjual buku-buku yang hak ciptanya dibeli pemerintah adalah terobosan baru untuk menekan harga buku.  Generik produk, mudah-mudahan segera disusul oleh penerbit-penerbit lainnya yang menjajakan produk yang sama.

—–

Depdiknas Beli Hak Cipta Judul Buku Untuk Buku Murah

LAMONGAN – Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas), Bambang Sudibyo melarang keras sekolah terlibat penjualan buku kepada muridnya. Pernyataan tersebut diungkapkannya saat melakukan kunjungan ke Lamongan kemarin. ”Para guru atau kepala sekolah ‘haram’ hukumnya melakukan bisnis jual buku kepada muridnya,” tandasnya.

Bambang mengungkapkan, penjualan buku tersebut bisa memberatkan para murid. Sedangkan guru atau kepala sekolah (kasek) justru mendapat keuntungan. ”Semakin mahal harga buku yang dijual, guru atau kasek semakin mendapat fee besar,” ungkapnya.

Untuk mengatasi masalah itu, ungkap dia, saat ini Depdiknas sedang berusaha membuat buku murah bagi murid sekolah dengan cara membeli hak cipta buku paket pelajaran. ”Saat ini depdiknas telah membeli hak cipta 47 judul buku SD hingga SMA dan akan membeli lagi hak cipta 200 judul buku lagi,” ungkapnya.

Menteri dari PAN tersebut menjelaskan, buku murah tersebut bisa diperoleh dari jaringan pendidikan nasional (jardiknas) depdiknas. Buku tersebut telah ditentukan harga eceran tertinggi (HET) yang nilainya hanya sepertiga dari harga buku tersebut di pasaran. ”Buku tersebut juga harus dipakai minimal selama 5 tahun agar bisa dipakai adik-asiknya sehingga biaya sekolah menjadi murah,” ungkapnya.

Bambang dalam kesempatan itu juga mengungkapkan, para guru di Indonesia yang berijasah S-1 telah naik dari 30 persen menjadi 41 persen setelah adanya program sertifikasi. ”Dengan peningkatan kualitas guru akan disertai dengan peningkatan kesejahteraan guru merupakan salah satu program utama untuk peningkatan pendidikan di Indonesia,” terangnya.

Bambang juga menambahkan, sekolah berbasis informasi dan komunikasi menjadi misi utama ke depan. Saat ini 40 persen SMK, 30 persen SMP dan 10 persen SD di seluruh Indonesia telah mempunyai laboratorium komputer. ”Ke depan diharapkan setiap siswa bisa mempunyai laptop sehingga bisa mengakses iptek dengan mudah,” terangnya.

Sedangkan Kepala Dinas P dan K Jawa Timur, Rasiyo menambahkan, tahun ini jumlah bantuan khusus siswa miskin (BKSM) sebesar Rp 260 miliar untuk 333.000 siswa SMA/SMK/MA. ”BKSM sama dengan BOS tetapi untuk siswa SMA/SMK/MA terkait program wajib belajar (wajar) 12 tahun,” ungkapnya.

Acara tersebut juga dihadiri Bupati Lamongan, Masfuk, anggota muspida, Sekkab Fadeli, Kepala Dinas Pendiikan Lamongan, Mustofa Nur para guru, kasek serta para siswa dan wali murid penerima BKSM.

Iklan

3 Tanggapan to “Haram Hukumnya Bagi Kepala Sekolah dan Guru Mencari Keuntungan dari Murid”

  1. Hi Hi Hi, Mas, masak anda nggak tahu : Salah satu penyebab buku mahal, salah satu penyebab buku diharuskan ganti saban tahun, salah satunya adalah karena adanya kongkalikong antara guru, kepala sekolah dan penerbit buku. Jadi buku yang semestinya belum perlu ganti, dipaksakan untik diganti saban tahun. Halamannya tinggal dibolak-balik saja oleh penulisnya agar terkesan lain dengan buku tahun lalu. Dengan cara ini secara langsung atau tidak langsung murid dipaksa membeli buku baru.

    Kalau ada guru membuat diktat sendiri malah bagus, kreatif itu. Asalkan motivasinya bukan semata-mata cari duit. Murid dipaksa beli diktat baru saban tahun, nggak boleh minjem sama kakak kelas, dengan alasan yang dicari-cari. Hanya satu perubahan kecil saja, satu diktat dibolak-balik – niatnya agar murid terpaksa beli buku baru.

    Saya rasa yang nggak bener yang seperti itu.
    SALAM YA ?

    Suka

  2. Dela_luthu said

    Aduh kesentil nih jadi guru….

    Kalau disekolah tempat saya mengajar pembelian buku dikoordinir oleh pihak sekolah. Berapa keuntungan persisnya guru-guru tidak pernah tahu. Saya sih seneng aja pas dipanggil untuk ambil uang buku (itu juga dibagikan di ahir tahun ajaran). Dikatakan bahwa dari 22 kelas dengan 44 murid dimasing-masing kelas saya mendapatkan 700rb, padahal harga buku 30rb. Berarti asumsi saya, dari penjualan buku saya hanya mendapatkan 750 rupiah tiap bukunya. saya tidak mengerti apakah sekolah tidak mengambil untung besar atau pada hakikatnya saya sebagai seorang guru telah “dimanfaatkan” untuk menambah keuntungan sekolah, karena kebijakan sekolah yang mengatakan buku wajib diambil.

    Ironi memang ketika sekolah telah menjadi lembaga berorientasi keuntungan.

    @
    Berorientasi keuntungan adalah sangat wajar. Tanpa keuntungan maka daya sebuah lembaga tidak akan memiliki kekuatan untuk maju. Pemilik lembaga adalah peserta didik, guru, kepala sekolah, masyarakat, dan semua unsur yang bersinergi. Peserta didik mendapatkan keuntungan (bertambah ilmu, melakukan investasi buat masa depan berikutnya). Misi pendidikan akan hancur jika keuntungan diukur dari rupiah saja. Alangkah baiknya jika kita melihat keseluruhannya, tidak dipotong-potong prosesnya seperti yang terjadi saat ini.
    😀

    Suka

  3. Hi Hi hi, sori bu guru Dela. Saya nggak nyindir siapa-siapa. Bisa-bisa aku dilempar sandal duluan sama guru TK-ku.

    Saya cuma pengin saja lihat guru yang idealis, meskipun nasibnya kok yo memang rekoso ya Mbak Dela. Saya sadar kok kalo posisi guru nggak bisa dikatakan enak. Soalnya kadangkala guru ditekan oleh sekolah. Termasuk soal pembelian buku, meluluskan siswa dll.

    Yang saya ledek itu : Yang ngakunya ditekan-tekan tetapi sebenarnya menikmati tekanan tersebut.

    Dalam bahasa Rusianya : kolang-kaling. Eh kongkalikong ding.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: