Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Mencari Obat Untuk Diabetes Melitus Tipe 2

Posted by agorsiloku pada Juli 5, 2018

Awal Penyakit

“Duh rasanya badan limbung, mata tak lagi awas, rasa haus mendera, buang air kecil terasa sering, badan terasa lelah dan capai”.  Berikutnya gejala kulit telapak kaki pecah-pecah, jerawat berminyak bertambah banyak.  Wajah tampaknya tidak sehat.

Semua itu terjadi pelan, beberapa bulan.  Tak disadari, saya sebenarnya menderita penyakit diabetes melitus type 2.  Saya pikir cuma masalah pencernaan atau mungkin kecapean bekerja, atau hal-hal lainnya.  Minum obat juga sembarangan saja atau minum suplemen untuk mengatasi berbagai masalah ini sampai ada saudara yang mempertanyakan :”Mungkin kena diabet?, coba saya cek gula darahnya. Saya ada alatnya.”

Hasil test gula darah ternyata 533.  Angka yang sangat tinggi.  Normalnya hasil test gula darah di kisaran 130.  Jika sampai 200 termasuk terkena diabet.  Begitulah, saya juga tidak begitu mengerti angka-angka ini, apa maksudnya.  Yang dipahami, angka ini tinggi.  Selebihnya, saya harus mencari sendiri di internet apa itu diabetus melitus ini dan obat apa saja untuk mengendalikannya.

Mendatangi dokter untuk konsultasi adalah pilihan terakhir.   Terlalu mahal biayanya.

Saudara yang mengecek hasil gula darah ini langsung memberikan saya obat bernama metformin.  Minum saja sehari dua kali dan atur pola makan.  Metformin relatif murah harganya, masih terjangkau.

Saya juga harus belajar apa itu gula darah 2 jam pp (dua jam setelah makan), gula darah puasa.  Untuk kemudahan saya membeli alat tensi darah (karena juga menderita darah tinggi) dan alat untuk mengecek gula darah.

Dua minggu turun dari gula darah dari 533 ke 200

Dengan disiplin asupan makanan yang ketat dan minum metformin saya berhasil menurunkan gula darah dari 533 ke 200 dalam dua minggu.  Obat generik metformin ini cukup manjur menurunkan gula darah.  Saya mengecek selesai makan, 2 jam pp, dan gula darah setelah 8 jam nyaris setiap hari.  Tujuannya untuk mengetahui perkembangan antara asupan dan akibatnya sampai paham betul apa yang terjadi dengan organ tubuh penghasil insulin ini.  Beberapa masalah dari pengalaman orang lain atau uraian dari berbagai site mengenai penyakit ini dicoba pahami.

Pada gula darah 200 penyakit buang air kecil sudah relatif normal.  Namun, hasil pengecekan rutin, ternyata untuk turun ke angka 130 ternyata tidak mudah tanpa pengendalian asupan makanan yang disiplin dan hati-hati. Kadang naik ke 250 sampai 280 atau turun sampai 110.  Tapi itu hanya bisa dicapai kalau benar-benar menjaga asupan makanan.

Tensi darah juga diukur seksama, awalnya ada di kisaran 180/120.  Angka ini termasuk tinggi.  Untuk itu saya minum amplodipine.  Ini juga anjuran pegawai apotik yang saya tanya.  Obat ini mampu menurunkan ke 130/100 atau kurang.  Saya juga harus berhati-hati karena dua jenis penyakit datang bersamaan, darah tinggi dan diabetes melitus.

Dari berbagai site yang saya kunjungi, saya menarik kesimpulan dua hal :

  • Tingginya gula darah karena tubuh tidak mampu mensekresi insulin yang dihasilkan oleh pankreas dibandingkan dengan asupan makanan dan minuman.  Kalau jumlah insulin yang  mengubah asupan makanan menjadi gula memadai maka tentu gula darah tidak akan tinggi.
  • Kedua, organ tubuh saya melemah sehingga tidak cukup menghasilkan insulin.  Obat yang diminum membantu mensekresi insulin (metformin) tapi tentu tidak memperbaiki kemampuan organ tubuh yang terlanjur “rusak”

Saya bukanlah dokter, dan hanya sekedar membaca, tentu analisisnya tidak cukup akurat.  Namun, pemahaman inilah yang dipakai sebagai acuan.  Jadi, saya harus makan secara apik dan berupaya untk memperbaiki “organ” tubuh yang terlanjur “rusak”.

Karena pertimbangan biaya, saya rasanya ogah untuk datang ke lab untuk konsultasi lanjut.  Ketika disarankan cek HbAg1 untuk mengetahui kondisi 3 bulan terakhir, saya juga tak mau lakukan.  Udah cukup kok dengan paham bahwa gula darah saya tinggi dan itu yang harus dikendalikan.

Minyak Zaitun, Cuka apel, Susu Kefir, Madu sebagai Obat Diabetes Melitus.

Berbagai informasi minum herbal ini  itu, yang bersifat tradisional saya coba.  Begitu juga minyak zaitun, cuka apel, susu kefir, madu diminum secara bergantian sambil terus diperiksa setiap hari berapa gula darah.

Tentu saja asupan makanan juga dijaga.  Begitu juga obat.  Selama dua minggu berikutnya, saya berhasil menurunkan gula darah ke tingkat antara 120-180.  Cukup baik, tapi tetap bantuan obat generik metformin dipakai setiap hari.  Jika tidak minum obat farmasi, gula darah langsung loncat di atas 200, meski tidak mencapai angka 300.  Kata teman, kalau  gula darah di atas 260 sudah bersifat dekstruktif untuk merusak komponen tubuh yang lain, entah darah tinggi, liver atau macam-macam penyakit.  Oleh karena itu, diabetes melitus disebut sebagai ibunya penyakit (mother of diseases), karena banyak penyakit lain muncul bersamaan dengan diabet.

Cerita tentang sakit diabetes.

Sudah cukup tertanam kuat di masyarakat kita bahwa diabetes melitus adalah penyakit tidak tersembuhkan, tapi bisa dikendalikan.  Dan tidak ada pengendalian yang lebih baik dari berolah raga rutin, minum  obat farmasi dan menjaga asupan makanan.

Berita-berita lain yang juga kurang jelas juntrungannya serta beragam iklan untuk obat diabet, sembuh dari diabet juga kerap muncul dalam ragam iklan dan artikel.  Entah itu obat tradisional, maupun obat farmasi.

Saya kerap berkonsultasi dengan seorang teman yang telah menderita diabetes melitus tipe 2 yang sudah kenyang hidup dalam kerajaan diabet selama 23 tahun.  Yang telah mengambil kesimpulan, tidak bisa lagi diobati.  Beliau minum untuk dua hal utama, darah tinggi dan diabetes.  Minum sekitar 8 jenis obat farmasi dan obat herbal pendamping termasuk  21 unit insulin setiap hari.  Kira-kira berbiaya Rp 2 juta per bulan untuk biaya pengendalian.

“Apakah jumlah obat yang diminum terus bertambah?”

“Ya, setelah sekian waktu, dokter mengajurkan menambah obat yang diminum”

Sungguh berita yang tidak nyaman untuk didengar.  Saya sulit membayangkan harus hidup bersama diabetes dan mengendalikan kenyamanan hidup untuk hidup bersama diabetes.  Juga memperkuat kesimpulan saya bahwa obat-obat dokter itu meskipun saya akui memberikan efek yang baik pada pengendalian, namun tidak memberikan efek penyembuhan, yakni lepas dari penyakit.

Jadi saya makin rajin googling setiap hari untuk mencari produk alternatif.  Tak ingin minum metformin atau amplodipine setiap hari.

Meskipun saya juga minum minyak zaitun, cuka apel, susu kefir, namun rasanya waktu berjalan cukup lambat untuk menyembuhkan penyakit diabet dan darah tinggi.  Mungkin perlu kesabaran ekstra tinggi.

Banyak pula saran mengunyak daun insulin, herbal obat diabet yang banyak ditawarkan.  Salah satunya, saya beli dengan harga cukup mahal.  Hasilnya, jika diminum memang menurunkan gula darah.  Memberikan efek nyata, tapi harganya juga lumayan mahal.

Kawan konsultasi saya yang menderita 23 tahun diabetes melitus memberikan komentar :”Saya bahkan sudah pernah membeli paket herbal seharga 10 juta rp dan menjanjikan bisa sembuh”.  Memang saat minum obat herbal tersebut, gula darah sangat terkendali, namun setelah berhenti minum obat, ya kembali lagi penyakit datang.

(bersambung)

Satu Tanggapan to “Mencari Obat Untuk Diabetes Melitus Tipe 2”

  1. […] Mencari Obat Untuk Diabetes Melitus Tipe 2 […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: