Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Pengalaman Hidup Bersama Diabetus Melitus Type 2 (bag -1).

Posted by agorsiloku pada Juli 23, 2018

Hampir semua rekomendasi obat-obatan tradisional menggunakan rempah-rempah dan buah-buahan.  Manfaat yang tidak kalah penting juga adalah memberikan manfaat atas lezatnya masakan. Hidup kita emang tidak pernah jauh dari kebutuhan ini.  Hidup kita juga, berbanding usia mengalami berbagai masalah.  Pilihan makanan tidak sehat dan sehat, kegemukan, penyakit mulai dari bisul, jantung, hati, batu ginjal, penyakit hati, dan lain-lain yang begitu beragam, di tengah kehidupan modern, semakin menjadikan hidup sehat menjadi bagian penting untuk memaknai kehidupan.

Dokter atau Tradisional Saja.

Ketika, entah karena alasan apapun, ketika kita sakit atau menjadi sakit.  Maka analisis dokter dan obat dokter atau obat generik adalah pilihan pertama untuk — paling tidak — mengobati rasa sakit.  Rasa sakit itu sendiri, entah itu pusing atau jantung deg-degan atau sindrom lainnya adalah penanda awal – ada “sesuatu” yang tidak beres dalam diri kita.

“Gue kok pusing terus, badan rasanya lemes.  Kenapa ya?”

Ada banyak kemungkinan jawaban.  Yang paling afdol adalah :”Periksakan ke dokter?”.  Sampaikan keluhannya.  Nanti, dokter memberikan resep yang dianggapnya cocok untuk pasiennya atau sampai pada analisis laboratorium atau tindakan yang dianggap perlu, misal operasi ringan sampai berat.

Karena itu, datang ke rumah sakit, dokter jaga, atau dokter buka praktek adalah pilihan yang memang sudah seharusnya.

Sebagian lain, ada yang merasakan kesembuhan.  Sebagian lain, mencari opini dokter yang lainnya untuk memastikan penyakitnya.  Kalau sembuh, maka wajiblah kita bersyukur setelah sejumlah uang keluar untuk mengobati penyakit.  Kalau sakit berlama-lama, bahkan menahun.  Kita juga mulai memikirkan alternatif yang lain.  Mungkin akupuntur, terapi tradisional, atau obat-obatan tradisional lain yang mungkin dapat membantu mengatasi penyakit.

Jadi, datang ke terapis tradisional atau pilihan lainnya bukan atau bukan hanya ke dokter terjadi karena dokter dan obatnya tidak cukup memenuhi kebutuhan pasien saat berobat.  Bisa juga, pasien merasa obat yang diberikan semakin banyak dan semakin bervariasi, tapi kesembuhan makin jauh dari harapan.

Pengalaman Praktis Terkena Diabetes Melitus Type 2.

Pengalaman individual, teman, saudara terhadap ragam penyakit dan pengalaman ke dokter adalah lumrah dalam keseharian kehidupan.

Satu saat, saya merasa lunglai dan ngantuk setiap hari.  Solusi awal adalah minum madu, minuman kesehatan, makan lebih banyak dan lain-lain.  Kalau pusing, ya minum bodrex. Saya tidak menyadari dengan benar apa yang sebenarnya terjadi.  Datang ke dokter umum, diberikan obat untuk saluran kandung kemih, dan beberapa obat lainnya dan dirujuk untuk cek ke laboratorium, kadar gula darah, kadar kolesterol. Kemudian, berkunjung ke saudara yang kebetulan punya alat untuk mengukur gula darah.  Hasilnya 533. Angka ini jelas sangat tinggi.  Jauh dari kondisi normal.

Kebetulan, saya punya paman yang punya penyakit diabetus melitus type 2 dan darah tinggi.  Deritanya sudah 23 tahun.  Minum bermacam-macam obat dengan tambahan pula rempah tradisional, antara lain : kayu manis.  Obat yang dipakainya ada sekitar 8 macam termasuk 21 unit insulin sintetis yang dimasukkan ke dalam tubuhnya setiap hari.

Terbayanglah, hidupku ke depan harus penuh kontrol nutrisi dan obat. Darah tinggi sering tidak jelas penyebabnya apa dan diabetes melitus adalah penyakit yang tidak bisa disembuhkan, tapi bisa dikontrol.  Semakin tahun, bisa dibayangkan kehidupan tidak lagi seindah sebelumnya yang tidak mengontrol makan.  Kesukaan makanan enak dan dikonsumsi kerap berlebihan “mungkin” menjadi penyebabnya,  Hobi minuman botolan harus dihindari.

Amplodipine dan Metformin.

Untuk memastikan, saya membeli alat ukur tensi darah dan alat ukur gula darah yang bisa diperoleh melalui penjualan on line. Dengan begitu, saya bisa mengontrol kondisi umum tubuh, apa pengaruh kedua obat ini terhadap penyakit yang saya derita.  Amplodipine obat untuk darah tinggi dan metformin untuk penyakit gula.

Ditambah dengan diet ketat dan berhati-hati hasil yang diperoleh, darah tinggi dan kontrol gula saya berhasil ditekan pada kondisi normal.  Normal dalam arti, tetap mengkonsums obat.  Sehari saja melepaskan dari obat, maka gula darah langsung meningkat.  Ini terjadi dalam beberapa hari pertama.

Kemudian, saya mulai mengkomsumsi Susu Kefir yang dipercaya banyak orang untuk mengatasi sakit ini (dan sejumlah manfaat lainnya).  Saya nikmati kefir dengan sedikit gula diabet (diabetasol) tanpa melepaskan dari amplodipine, metformin, dan diet ketat. Jenis makanan yang dipilih juga hati-hati.  Pernah makan bubur ayam, setelah dua jam makan, ternyata gula darah saya 280. Jadi, saya harus memilih makanan berdasarkan pemahaman indeks glikemik.

Dua minggu kemudian, amplodipine mulai ditinggalkan, karena tekanan darah mulai terkontrol (120-130/80-95).  Kalau Metformin, masih terus diminum secara rutin.  Tensi darah relatif normal, tapi gula darah ada kisaran 130-230.  Demikian juga kefir, tetap menjadi santapan rutin, di samping makanan pendamping, nasi merah, susu murni atau susu kaleng cap beruang.

Pergi ke luar kota dalam beberapa minggu, jauh dari rumah menjadi tidak mudah.  Saya tidak menyiapkan dengan baik susu kefir.  Pilihan lain dipakai, antara lain, minyak zaitun (virgin olive oil), madu, dan cuka apel.
Hasilnya : sangat membantu.  Gula darah saya terkontrol, dan makin lama gula darah makin mendekati normal.  Kira-kira ini terjadi selama sebulan.  Obat metformin (500 mg) tidak dikonsumsi rutin lagi, Sehari cukup satu kali saja, itu juga kalau hasil test gula darah berada pada kisaran 170-200.  Saya tidak tahu, apakah saya bisa melepaskan sama sekali dari Metformin atau tidak?.  Mungkin butuh waktu beberapa bulan lagi.
Namun, pilihan makanan saya tidak lagi yang terlalu ketat.  Saya mulai berani menikmati hidangan masakan yang sebelumnya kerap dinikmati.  Entah itu gulai kari, sate, opor, atau apa saja.  Hanya jumlah asupannya, memang tidak bebas.  Tetap berhati-hati. Sedang untuk minuman botolan sepeti sprite, coca cola ataupun teh dalam kemasan tetap dihindari.

Gula darah berdasarkan usia.

Banyak artikel kita bisa temui di jaman ini.  Um gugel memberikan fasilitas untuk mendapatkan informasi ini.

Kadar gula darah seseorang tidak hanya ditentukan dari makanan yang dikonsumsi namun juga umur. Jika pengecekan dilakukan 2 jam setelah makan oleh orang berusia di bawah 50 tahun, 140 mg/dL (7.8 mmol/L) adalah batas normal. Untuk yang berusia 50-60 tahun, batas normal kurang dari 150 mg/dL atau sekitar 8.3 mmol/L dan jika berusia 60 tahun ke atas, batas normal kadar gula di dalam darah adalah sekitar 160 mg/dL atau sekitar 8.9 mmol/L.

Dengan pemahaman ini, saya tidak perlu risau jika gula darah saya berada pada kisaran 130 – 160.  Dengan kata lain, saya tidak usah minum obat metformin agar tekanan darah  gula darah  saya berada di angka 100-120.  Tapi, angka moderat ini sudah memadai untuk mengatakan gula darah saya mulai normal.  Pada posisi ini, pengukuran tetap dilakukan secara rutin. Nyaris setiap hari.  Badan sudah terasa semakin sehat dan berbagai hal yang membuat badan lunglai juga sudah tidak dirasakan.

Meski sudah berada pada batas normal, setelah kurang lebih 1,5 bulan saya merasa makan tidak terkontrol juga cepat menaikkan gula darah. Jadi, sewaktu-waktu masih minum metformin, walaupun penggunaannya mulai tidak rutin.  Seminggu hanya dua atau tiga hari, dan itupun hanya satu butir.

(bersambung ke bag. 2).

 

Satu Tanggapan to “Pengalaman Hidup Bersama Diabetus Melitus Type 2 (bag -1).”

  1. […] Pengalaman Hidup Bersama Diabetus Melitus Type 2 (bag -1). […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: