Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Susu e …

Posted by agorsiloku pada November 12, 2006

Waktu itu, kurang lebih seminggu sudah kami ber”mutasi” kerja ke Semarang. Bersama keluarga memanfaatkan libur ke wilayah sekitar Kota Semarang. Kami bermobil ke wilayah sejuk. Melalui jalan desa melewati Kab. Ambarawa – Jawa Tengah, tapi bukan jalan propinsinya. Mencoba jalan baru, wilayah baru, biarpun sering tersesat tapi sudah menjadi kesukaanku. Di tengah jalan, seperti banyak daerah di Indonesia ada portal sumbangan. Pelan-pelan mobil kuhentikan, lalu kubuka kaca jendela dan dengan sok “dermawan” kusodorkan uang sepuluh ribu rupiah.

Mata perempuan yang belum terlalu tua, itu berbinar melihat uang yang kusodorkan.

Susu e ...?”, katanya sambil sedikit membungkukkan badannya ke arah kaca mobil yang kupakai.

Aku menatap lebih serius dan sedikit nanar. Mata laki-laki secara otomatis melihat bagian tengah dari wanita itu, kemudian mata itu akan berlanjut menyusuri kembali ke atas. Tidak ada apapun yang menarik atau dibawa oleh petugas portal jalan desa itu. Terbersit dalam pikiran, apa sih maunya wanita ini?. Kok menawarkan “susu”. Aku tidak lihat apapun yang dibawanya, atau kali nyuruh neteki (?). Lagian, apa yang mau dijualnya di tengah terik panas matahari dan sesekali saja ada mobil yang lewat.

“Nggak… nggak…”, Seruku sambil menekan injakan gas. Tancap gas, terus berlalu. Di daerah baru, tak dikenal lebih baik menghindari adanya kemungkinan-kemungkinan yang bisa tidak terduga.

Do not talk to stranger“, begitu orang tua sering menasehati anaknya. Ini berlaku juga untukku yang tetap masih merasa kecil saja.

Isteriku yang duduk di samping sedikit tersentak. “Ada apa?”

“Entahlah… itu orang omong apa. Kok pakai nawarin susu segalanya?. Emangnya kita ini bayi apa!?.”, sergahku sambil tidak mengurangi kecepatan.

Belakangan, baru aku tahu “susu e” itu menanyakan :” Apakah uang yang diberikan sebesar itu mo ada kembaliannya nggak?”. Kira-kira begitulah si penjaga portal itu bertanya. Bukan menawarkan air susu atau tempatnya.

“Dasar bajingan. Otak buaya!”, makiku dalam hati.

Iklan

Satu Tanggapan to “Susu e …”

  1. sikabayan said

    euheuheuh… otak buaya kan kalau ngelihatnyah dua kali kang… :mrgreen: lagi pula kan ada jenjang perbedaan bahasa atuh…
    kang agor ajah begituh.. apalagih kabayan atuh.. eheheh.. tapinyah mah kalau kabayan pikir2 mah.. kenapah tarikan mata pertama teh tidak kena hukuman teh.. sebabnyah teh kemungkinan besarnyah disebabkan naluri bayi masih terbawa terus sampai tua juga atuh…
    katanyah di dada sama pantatnyah wanita teh ada yang manggil2.. naluri bayi yang melihat pantat mirip dada pasti ajah ngelirik..
    tapinyah kalau kita teh buang pandang.. atau pandang terus.. kesadaran akan segera mengambil alih naluri.. kesadaran orang yang sudah akil balik akan segera memberikan masukan fungsi sebenarnyah dari apa yang dilihat dalam versi dewasa yang lebih kearah sexual gituh…
    jadinyah.. pandangan kedua setelah berfikir atau mungkin pandangan kedua berupa kesadaran fikiran dari naluri bayi.. itu baru yang dikenakan hukum teh… mungkin.. euheuheu.. 🙂

    @
    He…he…he… iya Kang…. Pikiran orang dewasa itu ya… sama-sama tahulah… Persoalannya kadang kita berhasil kendalikan dan kadang gagal… mata dan pikiran dibisiki… dan kita ikuti… kita menyesal, lalu berulang…. ya…mengendalikan itu lawan terbesarnya 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: