Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Ketika Tuhan Menjadi Tidak Ada Oleh Prasangkaan?

Posted by agorsiloku pada Juli 22, 2008

Salah satu yang menarik dari banyak kasus prasangkaan adalah penemuan (baik ilmiah atau bukan).  Ketika para pencari ilmu menemukan bahwa mahluk hidup itu ada dan disimpulkan karena persaingan melakukan penyesuaian dengan alam, maka itu berarti bukan pekerjaan Tuhan.  Penemuan-demi penemuan melahirkan asumsi-asumsi baru yang kemudian dikenali dengan rumus-rumus sains.  Kesimpulan-kesimpulan yang muncul memang tidak bebas nilai, sains bekerja atas pendekatan positivistik. Positivisme logis yang cenderung skeptis terhadap nilai-nilai agama.  Tuhan ditiadakan (dan tidak boleh menjadi ada), justru ketika manusia mengenali sebagian sumber-sumber kejadian, sebab akibat.  Untuk sampai pada titik segala sumber, maka metodologi sains yang dihormati dan dipuja-puji harus disingkirkan.  Rasanya di sini menjadi tidak nyaman (benarkah ?).  Apakah proses pencarian akan berhenti karena manusia menemukan Tuhannya?.

Perangkap prasangkaan menjadi bagian yang kadang tidak terpisahkan.  Kalau memang begini, kalau memang begitu, maka bukan peranan Tuhan dong.  Dengan kata lain, sebab akibat yang kemudian dipahami atau rumus-rumus membuktikan sesuatu atau ketika ilmu pengetahuan justru tidak bisa membuktikan sesuatu, maka petunjuk yang tertulis dari kitab suci menjadi sumir.  😦

Bagaimana ya sains menjelaskan tentang pemuda yang tidur 300 tahun lebih 9 tahun itu. (Al Kahfi)?.  Oh itu relativitas?. Itu soal dilasi waktu?, perpanjangan waktu?. Mungkin juga teori fisika, mungkin juga ada kulkas magnetik yang membuat tidur nyenyak ke 7 pemuda itu dan tidak dipengaruhi oleh perubahan-perubahan yang terjadi di sekitarnya !.  (Lagi-lagi prasangkaan).

Kadang, kita juga berpikir, alam semesta sudah begitu luasnya.   Kok masih juga berpikir manusia hanya satu-satunya.  Kalau begitu, Allah benar-benar tidak efisien ?.

Sains juga tidak pernah mau nengok jin dan sejenisnya yang tidak bisa terukur (lebih enak : belum bisa diukur) oleh ilmu pengetahuan.  Padahal, mahluk-mahluk tidak kasat mata ini menjadi bagian dari spiritual perjalanan manusia beragama.  Dimana-mana diperebutkan bahkan masuk juga dalam ranah teknologi tinggi, ikut berperan dalam dunia entertainmen manusia atau mencari hoki manusia 😀 .  Tanya saja sama Ki Joko Bodo atau Mama Laurent, tentu kedua beliau itu lebih tahu 😦

Bahkan, prasangkaan juga berasal dari pengetahuan kita tentang sistematika. “Kok Al Qur’an Tidak Sistematis sih?”  Pertanyaan yang aneh ini bisa muncul, seperti kita mengajarkan tentang sistematika, dan bukan kita yang harus belajar, bagaimana Allah menyusun sistematika yang hanya seper seper sekian saja yang kita mengerti.  Bagaimana Al Qur’an disajikan, dari ulama dahulu sampai kini, menyadari, betapa keseimbangan dan sajian Al Qur’an tak terbayangkan dalam tatanan bahasa manusia yang dikenali selama ini.  Kita mengenali definisi bukan hanya dari padanan atau lawan kata, tapi dari jumlah dan komposisinya, bahkan peletakan kata, keberulangan dan pernyataan pada setiap bagian katanya adalah kesempurnaan bahasa yang tiada duanya.  Lalu sebagian masih berani dengan gagahnya mengatakan soal metodologi dan cara penyajian, sudah lebih pandai dari penciptaNya?.

Jadi ingat kembali, prasangkaan justru menjauhkan dari kebenaran yang kita cari. QS 10. Yunus 36. Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.

Lalu mengapa pula kita kerap lebih mempercayai prasangkaan dari pada yang sudah jelas dijelaskan dalam tuntunan kehidupan?.  Apakah karena kita lebih cerdas dari generasi-generasi terdahulu?, ataukah kita merasa lebih cerdas?.

Apakah ilmu dan pengetahuan yang telah diraih sebagian dari manusia generasi kemudian dibanding generasi lawas maka kita menjadi lebih cerdas?.

Saya kira dalam hal agama, karena kita hidup semakin dalam ke dalam kemewahan materialistik, sedang pada saat yang sama kita kehilangan banyak dimensi-dimensi spiritual, maka IQ semakin tinggi, SQ boleh jadi semakin terpuruk !.

Di sinilah, kita merasakan betapa berhati-hatinya oelama-oelama tempo dulu.  Mereka berhati-hati benar memilih dan memilah, mana yang ucapan Nabi, mana yang israilyat, siapa yang menyampaikan.  Dari mana asal usul dan mana yang asal usil dari waktu ke waktu.  Bagaimana keutuhan Al Qur’an dijaga, bagaimana setiap huruf dikombinasikan, sehingga manusia kini (karena pemeliharaanNya tentu) maka dapat membedah hal-hal matematis dari kalam Ilahi.  Rasa-rasanya, dalam pengumpulan-pengumpulan keaslian sumber, orang-orang muslim lawas sudah jauh lebih berhati-hati dibanding ummat atau kaum lainnya.  Keterpeliharaan ini pula, saya kira yang menyebabkan kekokohan selama 14 abad tercatat dengan relatif utuh dan insya Allah sampai sangsakala akhir ditiup.  Kita bisa membaca dan mengolah karya yang tiada duanya dalam masa perjalanan ummat manusia.

Teriring salam untuk Mas Yureka.

Iklan

198 Tanggapan to “Ketika Tuhan Menjadi Tidak Ada Oleh Prasangkaan?”

  1. yureka said

    Surat 4 :81
    “Mereka mengatakan “taat”, maka ketika mereka menghindar dari kamu, sebagian dari mereka menyampaikan yang tidak kamu katakan. Allah menulis apa yang mereka sampaikan itu. Maka berpalinglah dari mereka, dan bertawakkalah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai wakil”.

    Betapa “monolog” diatas (suatu BISIKAN NYATA dari Sang Penguasa kepada hambanya) tidak merisaukan kita. Bayangkan sebuah majlis taklim yang langsung dipimpin Muhammad Nabi terakhir di BUMI ini, diikuti oleh sekian banyak sahabat2 beliau. Manakala di depan beliau, mereka mengatakan TAAT. Namun setelah mereka lepas dari hadapan Nabi, di antara mereka ada (satu, dua, atau lebih) yang menyampaikan (ajaran2) yang Nabi tidak menyampaikan.

    Bibit adanya penyelewengan ajaran bahkan sudah dimulai sejak Nabi masih hidup. Nabi tidak akan pernah tahu bahwa di antara sahabat2 nya ada yang melakukan hal seperti itu bila Allah tidak memberitahukan langsung kepada nabi.

    @
    Fokus postingan saya, sebenarnya lebih kepada fokus kemampuan ummat dalam mencegah infiltrasi yang menyebabkan terjadinya distorsi nilai.
    Karena itu, anjuran (atau lebih pantas) berpegang pada kitabullah menjadi faktor penting dalam sistem nilai.
    Kerisauan saya adalah kebutuhan untuk mencegah infiltrasi yang terjadi. Soal mereka menyimpang dan mengapa menyimpang adalah singkatnya : urusan mereka sendirilah… 😀

    Suka

  2. haniifa said

    @Mr or Ms HAK.hek.hok
    Bagai mana dengan orang yang bisa merasani persaaan (duhh saya mah nggak brani ahhh)
    Mas-nya nyang sampeyan benarken pendapat nyahhh… ::Pentung ini:: 😀

    Suka

  3. haniifa said

    @Pakde Yu
    Bibit adanya penyelewengan atawa komen ber-bobot ?!

    Weleh… weleh… weleh,….
    coba baca rekan-rekan, tulisan sang bijak ini ?!!
    ——————————————————————————-
    Oom Dana berkicau mengingau
    Perasaan Tuhan belon tentu begitu.
    ——————————————————————————-
    Perasaan…
    Perasaan…
    Perasaan…

    Persaaan dengkul-mu kui

    Baca dunk… [QS 112], seperti apa kata mba-nya.

    Allah itu tidak menyerupai apapun…. termasuk nyang ada di benak kotormu… dan di rasa-rasani oleh prasangka sampeyan

    Salam dari wirosableng.

    Suka

  4. haniifa said

    Teriring salam untuk Pakde Yureka dan Pakde Dana 😀

    Suka

  5. madopolo said

    Assalamualaikum
    Saya setuju dg anda Yureka. Kesalahan yg kita alami sekarang akibat kesalahan yg dibuat pasca Rasul. Malahan sblm pemakaman Rasul. Mereka telah menentang perintah Allah yg disampaikan melalui Rasul.
    Wasalam

    @
    Sebuah resultante dari sejarah, memungkin kejadian menjadi “permusuhan” sampai 14 abad kemudian. Apakah kita akan merujuk ke sana. Mungkin kemampuan kita untuk melihat AQ sebagai kalam Allah terkalahkan oleh sejarah pasca Rasul? dan menjadikan sebagai sebab awal yang “membuat” kita menjadi “begini”.
    Satu hal yang patut direnungkan, mengapa kita harus memelihara persengketaan 14 abad silam?. Benarkah?. Apakah kita sedang memperturutkan hawa nafsu?.
    Wah sulit ya. Namun, tidak ada salahnya; agor kira hal seperti ini kita renungkan kembali.

    Bukankah tidak ada keuntungan (ataukah ada) berwacana dari sisi ini. Sungguh, sulit diyakini kita berusaha dan berdoa mengharap ridhaNya, sambil kita mengungkit-ungkit catatan sejarah kebencian atau ketidaksukaan untuk kita wariskan kembali ke generasi mendatang.

    What next?.

    Suka

  6. haniifa said

    @Pakde Yu
    he.he.he… ada konco baru neehh… buat tung-mentung !! 😀

    Saya suka juga dengan ayat yang dikutip haniifa. oleh sebab itu mari kita pentung SEMUA kelompok yang menistakan muhammad selaku nabi terakhir, juga kita ganyang SEMUA kelompok yang menganggap ada Tuhan selain Allah kita.
    Allahu Akbar!!!!!!

    Tapi ahlinya giji… eh sale… jijik, blon jawab tuhhh —::sing jijik::

    Suka

  7. haniifa said

    Ahli giji berkicau 😀
    Mereka telah menentang perintah Allah yg disampaikan melalui Rasul.

    Kalau menentang mah…. jenasah Rasulullah Nabi Muhammad s.a.w tidak dikuburken… itu baru nentang 😛

    Suka

  8. haniifa said

    Hei… kurang giji !! 😀
    Kesalahan yg kita alami sekarang akibat kesalahan yg dibuat pasca Rasul. Malahan sblm pemakaman Rasul. Mereka telah menentang perintah Allah yg disampaikan melalui Rasul.

    Pertentangan yang muncul adalah karena tidak belum dicontohkan bagaimana tatacara pelaksanaan pemakaman seorang Rasul (baca: Rasulullah Nabi Muhammad s.a.w) baik tersirat didalam Al Qur’an dan dari beberapa sahabat mendengar cerita yang simpang siur mengenai hal tersebut. Oleh karena itu akhirnya disepakati pemakaman seperti para suhada dan dikuburkan di tempat meninggalnya (baca: Kota Madinah), namun ada beberapa pembesar Quraisy menginginkan jenasah Rasulullah dibawa ke kota kelahirannya (baca: Mekah)….

    catetan :
    Medinah dan Mekah masih didalam wilayah Kerajaan Saudi Arabia 😀

    Wassalam, Haniifa.

    Suka

  9. Assalamu alaikum wr wb
    Diatas kebenaran ada kebenaran
    Sehebat apapun kita tetap aja nggak ada cerita ngaku benar,atau untuk tak membaca alfatihah(Ihdinas shiroothol mustaqiim),kalau udah benar buat apa lagi mintak petunjuk.
    Begitu juga halnya ilmu pengetahuan yang masih dalam bentuk Penelitian,yang 10-100 tahun lagi bisa saja berubah.
    Kita ambil kasus iblis yang udah benar beprinsip dulunya bahwa dia takkan sujud pada selain ALLAH,jangankan Iblis kita saja takkan mau sujud pada yang selain ALLAH.akan tetapi ketika ada perintah ALLAH untuk sujud pada Adam,bagaimanapun juga yang namanya perintah ALLAH lebih benar daripada prinsip,
    Iblis hanya 1x melakukan kesalahan tapi malah dilaknat,Sedangkan manusia entah ribuan dalam sehari malah lebih tetap aja ada ampunan kecuali hal tertentu.
    Jadi:
    Tidak Sujud Pada Selain ALLAH = Benar
    Perintah ALLAH Untuk sujud ke ADAM = Benar

    Ayo…Kalau ada perintah ALLAH kepada Anda semuanya untuk masuk neraka ,,,MAU TIDAK?(Nabi Muhammad SAW udah pernah loch)
    Atau Kalau disuruh ALLAH untuk membunuh anak kecil,MAU KAH MELAKUKANNYA?(Nabi Khidir Udah pernah tuch).

    Sekian aja ..moga bermanfaat
    Wassalam..

    @
    Wass.wr.wb.
    Yah… kepada kesalahan atau menolak perintahNya, kita bertobat… salah lagi, bertobat lagi. Iblis dalam AQ jelas, bukan memilih ini, tapi memilih bersikap fatalis dan minta penangguhan sekaligus menantang untuk menjerumuskan manusia sepanjang dunia ada (sampai kiamat), menjadikan Iblis adalah musuh nyata manusia sepanjang masa.
    selebihnya wallahu alam.
    Mengenai ujian yang diberikan Allah, memang benar.. saya merasa malu dengan catatan ini. Betapa saya sangat jauh dari kemampuan itu…
    Wass, agor

    Suka

  10. yureka said

    Lalu bagaimana menurut mas agor membuat sebuah transformasi nilai (bukan transformasi tekstual) sehingga sebuah nilai akan selalu fleksibel. atau tidak perlu ada fleksibilitas nilai sehingga jaman justru harus menyesuaikan dengan nilai2 dari yang tekstual. Bukankah justru kebutuhan untuk mencegah infiltrasi atas nilai2 yang sudah mapan diawali dengan selalu menggali nilai2 yg sudah ada untuk selalu dicocokan dengan tekstualitas.

    Saya sepakat dengan mas agor bahwa yang sudah tekstual yang kita terima Insya Allah murni terjaga. Begitu pula yang menurunkannya telah menjaminnya. Permasalahannya adalah nilai2 itu sendiri mulai berkembang (sudah benarkah saat lahirnya) dan sampai dengan saat ini bagaimana.???

    Kita memang tidak akan menyoroti satu persatu, selain tidak mampu juga akan menghabiskan energi khan ?

    Saya ambil contoh : malaikat yang ada di sebelah kanan kiri kita yang selalu mencatat amal baik buruk kita dengan buku setiap saatnya. Ini sebuah pengajaran dengan nilai yang sangat sederhana. Bolehkah kita sedikit bebas dengan nilai yang baru, atau kebutuhan akan infiltrasi yg kita kedepankan ??

    surat furqon ayat 73 :
    “dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat- ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang- orang yang tuli dan buta”.

    jangankan untuk sebuah riwayat…
    untuk sebuah ayatpun (dari nilai2 yang dijelaskan) Allah melarang kita percaya begitu saja.

    @
    Transformasi nilai, bukan tekstual. Dengan kata lain, apakah ini berarti bahwa nilai pada masa Nabi terus mengalami penurunan nilai (ahlak) dibanding dengan masa akhir jaman?. Karena agama adalah tuntunan ahlak, jadi nilai ini “semestinya” menjadi tolok ukurnya.

    Apakah yang disebut sebagai nilai itu adalah syariat-syariat yang pada kondisi kekinian tidak dipahami atau “tidak ada” ada juklaknya (tidak ada contoh sahih) untuk pemahaman. Misalnya masalah valas, jual beli saham, alkohol dan memabukkan, atau tekstual dan kontekstual sekaligus.
    Bahasa selalu menjelaskan literal dalam konteks. Karena tanpa konteks yang ada adalah gundukan huruf, kata, kalimat tanpa makna.

    Yang kedua, bagaimana sikap atau cara pandang kita terhadap kalam Ilahi?. Seberapa mampu, manusia kini (dan dahulu) memahami AQ sebagai karya ilahiyah yang diambil dari Lauh Mahfudz ini?.

    Beranikah (cukup beranikah kita memberikan penilaian bahwa tekstual dan kontekstual AQ) tidak memadai terhadap perubahan jaman?. Apakah kita cukup punya pengetahuan untuk mendiktekan pengetahuan kita terhadap kitab yang Allah turunkan? ataukah kita sesungguhnya terlalu picik untuk dapat memahami AQ? Adakah kita cukup mengerti isi AQ, karena kita pintar bahasa Arab, luas pengetahuan dunia?. Sedangkan Allah mengingatkan kita : QS 6: 59. Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”
    Adakah manusia kini sudah berhasil memecahkan stilistika Al Qur’an dalam keseluruhan pemahaman?. Belum lagi dari sudut-sudut ilmu pengetahuan (sains) yang sedikit demi sedikit tercerahkan (terbongkar pemahamannya). Namun, jelas kita ketahui, pengetahuan yang sudah sampai tahap inipun, bench mark AQ tampaknya masih jauh di depan kita.

    Jadi, sebenarnya, seberapa jauh kalam 14 abad yang silam itu melihat dunia saat ini sampai akhirnya. Jujur saja, saya malah merasa kita masih jauh dari kemampuan membaca dan memahami AQ. Ambil contoh misalnya tentang jasad Fir’aun, tentang pemuda gua yang ditidurkan 300 tahun ditambah 9 tahun, tentang marjan di laut, tentang kemampuan menembus bumi, tentang melintasi langit, tentang posisi kejadian isra dan miraj, dan masih banyak lagi. Semuda tanda-tanda itu jelas menunjukkan bahwa yang disebut berkembang dalam masyarakat kita saat ini masih jauh di belakang pengetahuan yang tersaji.

    Bahkan, ketika rashid Khalifa mulai memunculkan “keajaiban matematika”, para ulama masa lalu, dengan kemampuan sastra yang tinggi dan memahami jauh di atas pengetahuan kita mengenai keagungan sastra dan definisinya berada pada keagungan tutur yang tiada bandingannya dalam khasanah pengetahuan bahasa manusia.

    Kemudian, dengan pemahaman di atas, pertanyaan : “Permasalahannya adalah nilai2 itu sendiri mulai berkembang (sudah benarkah saat lahirnya) dan sampai dengan saat ini bagaimana.???”

    Maka, kemudian mari kita renungi kembali, benarkah kita berada pada kemampuan ini untuk memberikan penilaian?.

    Mungkin, kita masih mewacanakan penanda-penanda lain yang dikabarkan oleh Nabi dalam beberapa hadis di akhir jaman.

    Kira-kira, pemahaman agor yang minimal terhadap AQ dan perkembangan jaman adalah begini. Singkatnya, AQ adalah tuntunan spiritual yang tidak akan lapuk dalam perkembangan budaya manusia.
    Soal mau mengikuti atau tidak, itu persoalan yang berbeda. Karena jelas, tidak ada paksaan untuk memaksakan kehendak dari manusia ke manusia lainnya.

    Wallahu alam

    Suka

  11. haniifa said

    jangankan untuk sebuah riwayat…
    untuk sebuah ayatpun (dari nilai2 yang dijelaskan) Allah melarang kita percaya begitu saja

    Ya… hajar, pentung, debat, diskusi, sanggah… and sok on, DUNK…tulisan ini—–::Tung:: 😀

    Suka

  12. haniifa said

    Bukankah justru kebutuhan untuk mencegah infiltrasi atas nilai2 yang sudah mapan diawali dengan selalu menggali nilai2 yg sudah ada untuk selalu dicocokan dengan tekstualitas.

    Sikaaatttt…pentungggg, hajarrrrr… buktikan sampai sang penulis terbukti “infiltran” –::(pi:=22/7)::

    (syarat jangan pakai bahasa planet 😀 )

    Suka

  13. truthseeker said

    @Agor

    Fokus postingan saya, sebenarnya lebih kepada fokus kemampuan ummat dalam mencegah infiltrasi yang menyebabkan terjadinya distorsi nilai.

    Kalau mas Agor menanyakan ttg kemampuan umat dlm mencegah infiltrasi mk itu adalah sesuatu yg impossible dg mempertimbangkan sifat/karakter & kemampuan manusia dlm infiltrasi (baca: memanipulasi).
    Tapi apakah agama (Islam) bs tahan thd infiltrasi? Tentu bisa, krn Allah SWT telah membuat benteng/strategi pertahanan yg kokoh utk itu. Tapi masalahnya adalah ternyata bhw umat tdk patuh/taat pd strategi tsb… 😦

    Kerisauan saya adalah kebutuhan untuk mencegah infiltrasi yang terjadi. Soal mereka menyimpang dan mengapa menyimpang adalah singkatnya : urusan mereka sendirilah… 😀

    Terus terang saya agak bingung dg kalimat ini, tolong mas Agor lebih jelaskan lg. Krn bagi saya pd saat kita bicara bgm cara mencegah sesuatu agar tdk menyimpang, mk terlebih dahulu kt hrs kenali sesuatu tsb, dan kita hrs menerima bhw sdh terjadi penyimpangan atau tdk, kmd kt cari tahu kenapa bisa terjadi penyimpangan. Tapi mas Agor tahu tidak bhw yg tersulit adalah menentukan mana yg murni dan mana yg menyimpang..hehehe.. :mrgreen:

    @
    Ada-ada saja mas ini, tapi diskusi ini asyik dalam wacana. Kita tentu bersepakat, kalau kita punya masalah pada bidang-bidang agama, kembalikan saja ke Al Qur’an. Kita cari jawabnya di sana, kemudian dari sumber-sumber pendukung. Hadis, lalu para pemuka agama.
    Tapi ummat kan nggak tahan?, kemampuan kita dalam memperkuat bukankah pada kepasrahan dan usaha, mewakilkan urusan kita pada Allah semata. Ini idealnya tentu, bagaimana dengan dunia kita yang tidak ideal. Adakah Allah memaklumi?, pada banyak ayat Allah menjelaskan posisi dan kelemahan manusia terhadap segala tipu daya dan kehati-hatian terhadap tipu daya, secara prinsip begitu banyak dijelaskan. Ini yang baru saya pahami.
    Infiltrasi yang menyimpangkan dari pemahaman, saya kira dalam begitu banyak tersebar baik secara halus atau secara kasar, baik perlahan maupun keras. Yang halus, begitu sulit kita cari jawabannya, kecuali kita mengembalikan kepada kitabullah. Ini yang saya mengerti. Namun, rasanya sih, begitu jelas AQ menegasi ciri orang beriman, bertakwa, mukmin, muchsin, maksum, muslim. Bukankah kita mencari ke arah itu, dan Allah menjamin pemahaman itu sampai ke dada manusia. Saya sih percaya itu.

    Soal ummat yang tidak patuh, dengan tegas pula Allah menjelaskan akan menggantinya dengan kaum yang mencintaiNya dan ridha kepadaNya. Dalam tanggung jawab sebagai ketua di keluarga, tentu kita berusaha mencegah infiltrasi dalam ragam bentuk dengan cara-cara keikhlasan yang diajarkan melalui sejarah masa lalu yang juga dijelaskan AQ.

    Kalau mereka (kaum yang memusuhi Allah dan Rasulnya) melakukan infiltrasi dan kita mampu dengan pertolonganNya mampu menjalani kehidupan mendekati petunjukNya (biar cuma sedikit), saya percaya Allah akan menolong kita, menyediakan pedang kata dan pedang ilmu dan harta untuk tetap dapat meraih ridhaNya.

    Kalau yang memusuhi itu, dari dalam dan luar, ya.. urusan merekalah… urusan mereka dengan penciptaNya. Bukankah sudah jelas mana yang hak dan yang batil, tentulah karena kita dibekali hati untuk memberikan penilaian dan mengambil keputusan logis.

    Keputusan-keputusan Allah dalam hubungan antar manusia begitu simpel kok. Kita berzakat, membayar fidyah, menghormati orang tua, jangan memakan harta yang kita tidak boleh memakannya, jangan memakan makanan yang diharamkan. Pertanyaan kemudian, apakah ummat sebagai kelompok masyarakat mampu melakukannya. Bersihkan harta yang kita dapatkan dari karuniaNya.

    Jadi, kalau mereka menyimpang (dan semoga saya dikarunia kekuatan untuk memperkuat iman dan keikhlasan), maka kita tidak punya tugas apa-apa selain menyeru (kepada RasulNya, Allah berpesan demikian, jelas ini mewakili pesan yang sama kepada ummat Muhammad). Menyeru bukan hanya bersuara keras tentunya, karena contoh juga tidak hanya dengan “suara”.

    Saya kira, khusus di bumi Indonesia ini, sudah puluhan ribu sekolah dasar sampai perguruan tinggi dibangun oleh mereka yang konsen pada pengembangan sumber daya manusia berahlak. Ada belasan ribu sekolah didirikan oleh Muhammadiyah, Nahdatul Ulama, Salafiah, ribuan pondok pasantren, MI, MTS, MA, Universitas yang semuanya adalah daya-daya dari usaha memperkuat basis ummat. Mencegah infiltrasi berkelanjutan….

    Tidak cukup. Ya !. Jangan pernah bilang cukup, agar kita selalu punya semangat syiar. Mempelajari sebab akibatnya, tentu sangat perlu, namanya juga strategi pencegahan. Namun, susahkan kalau kita berbicara di ranah ini, tapi membayar zakat saja enggan, berdagang pat patgulipat, dan perut kita dimasuki setiap kali oleh harta yang tidak halal….

    Suka

  14. Kalau MU vs k. Chief scorenya berapa ya?

    @
    alhamdulillah… lucu sekali avatarnya, anak mas ya !. MU itu siapa, Chief itu siapa? apa itu mencester united versus Chief?. Pertanyaan ini tidak ada hubungannya dengan tema, dan kebetulan saya juga bukan penggemar bola yang aktif, jadi tidak tahu, itu pertandingan atau chief mancester…
    (nggak nyambung ya 😦 ). Tapi terimakasih sudi mampir….

    Suka

  15. haniifa said

    Menyeru bukan hanya bersuara keras tentunya, karena contoh juga tidak hanya dengan “suara”.

    Jadi bagusnya gimana yach ?!

    Subhanallah…
    Kadang-kadang agak aneh jua, saat adzan berkumandan di Masjid RW, begitu keras… tapi nyang shalat (duhhh biasanya tidak lebih dan kurang hanya 1 shaf sahaja)
    Acapkali juga, besyukur dengan toa yang keras… ketika kita tertidur lelap diwaktu subuh.
    Tapi nggak anehkan, bila firman Allah subhanahu wa ta’ala :
    [QS 62:9] Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.
    Puji syukur… Alhamdulillah
    Di Negeri tercinta ini, mayoritas masih banyak yang memenuhi panggilan tersebut di hari Jum’at. Amin

    Wassalam, Haniifa.

    Suka

  16. […] Komentar Terakhir haniifa di Toleransi Pada Kemegahan … Askar di Agar Awet Penganan Digoreng De… haniifa di Agar Awet Penganan Digoreng De… haniifa di Ketika Tuhan Menjadi Tidak Ada… amanjaelani di Ketika Tuhan Menjadi Tidak Ada… haniifa di Risau ataukah Mengambil Alih P… haniifa di Risau ataukah Mengambil Alih P… truthseeker di Risau ataukah Mengambil Alih P… dana di Risau ataukah Mengambil Alih P… truthseeker di Ketika Tuhan Menjadi Tidak Ada… haniifa di Ketika Tuhan Menjadi Tidak Ada… haniifa di Ketika Tuhan Menjadi Tidak Ada… haniifa di Risau ataukah Mengambil Alih P… Faubell di Risau ataukah Mengambil Alih P… yureka di Ketika Tuhan Menjadi Tidak Ada… […]

    Suka

  17. madopolo said

    @Agor
    Mas Agor dlm jawaban anda utk sdr truthseeker kelihatan terlalu pasrah. Menyerah pd keadaan. Mengapa kita tdk mencari kebenaran dan memperjuangkan walaupun hanya melalui bolg ini? Apakah kita yakin bahwa apa yg disodorkan pendahulu2 kita itu BENAR? Ingat firman Allah: Apakah engkau tetap mengikuti kepercayaan yg dianut oleh orang tuamu sblmnya walaupun itu salah? Pd hal kita mengetahui (walaupun ada yg ber-pura2 tdk mengetahui) bahwa telah ada perintah Allah dan Rasul utk taat pd Ulil Amri minkum. Dan Hadis Rasul: SIAPA YG MENINGGAL DAN TDK MENGENAL IMAM PD JAMANNYA MAKA IA MATI SEBAGAI ORANG JAHILIYAH PD JAMAN JAHILIYAH. Saya tdk mau mati seperti ini. Dan saya yakin teman2 jg tdk mau. Maka marilah kita sama2 mencari KEBENARAN tsb. Hadis Rasul : UMATKU AKAN TERPECAH DLM 73 FIRGA HANYA SATU YG BENAR DAN SELAMAT. Marilah kita cari yg SATU ini. Wasalam

    @
    berusaha dalam logika ke pasrahan iya, tapi bukan berarti menyerah. saya kira pasrah dan menyerah adalah berbeda.
    Mengenai 73 golongan… wah saya pernah membacanya, tapi nggak ngerti golongan yang dimaksud?. Kok banyak bener ya?, apakah itu berhubungan dengan partai politik, apa golongan dari setiap seratus tahun, apa golongan seluruh dunia, apa golongan dari satu negara, apa golongan dari satu lingkungan, atau golongan ap gitu. Saya benar-benar tidak mengerti.

    Suka

  18. salam kenal
    bahasanya dalam benget

    @
    salam kembali Mas Satya.
    Lebih tepat, bahasannya banyak kelelep… 😀

    Suka

  19. haniifa said

    Duhh… saya lupa haditsnya 😦
    Kira-kira…
    “Jika kamu shalat berjamaah… maka kamu tidak boleh mendahului IMAM”

    Jadi betul juga yach…disebut “tidak mengenal IMAM”, sementara imam belum sujud, trus kita sujud mendahului imam !!

    @
    ha..ha..ha… bis kota saja tidak boleh saling mendahului, masa ma’mun mendahului imam….

    Suka

  20. […] tersucikan dari kepinteran yang […]

    Suka

  21. madopolo said

    @All
    Mas Agor kira2 berapa mazhab yg sekarang ini mas tahu dan berapa banyak aliran dgn paham2nya yg mas tau. Islam sekarang sdh boleh dikatakan terpecah belah. Apakah semua benar ataukah cuma satu aja yg benar?
    Pasrah menurut saya adalah membiarkan apa yg sdh terjadi tdk ditanggulangi. Jd berarti menyerah terhadap keadaan tsb. Wasalam

    Suka

  22. truthseeker said

    @Agor

    kalau kita punya masalah pada bidang-bidang agama, kembalikan saja ke Al Qur’an. Kita cari jawabnya di sana

    Mas, sebetulnya saya dah lama gregetan kl dengar ada yg bilang kembalikan saja ke AQ (apalg bilangnya dg santai… 🙂 ). Seolah2 semuanya jadi selesai (apalg sy blm pernah tuh dengar dalilnya kembalikan ke AQ, yg saya tahu sih kembalikan ke Allah, Rasul & ulil amri). Mas, AQ turun tdk sendirian, AQ diturunkan dg perantara dan disampaikan ke umat pun melalui perantara. Suatu pengajaran dan hikmah yg besar dr Allah yg kebanyakan kt lupakan bhw Allah “mewajibkan” utk berperantara begitu dg fitrah & hukum alam semuanya membutuhkan perantara. Mau sembuh berdoa trus ke dokter or minum obat (rasul jg mencontohkan yg sama), meminta hanya kpd Allah setelah berdo’a kt diwajibkan bekerja utk mendapat rezeki dr Allah. Semuanya mas, semuanya dg perantara. Jadi jk kt kembalikan kpd Allah (AQ) kt jg butuh perantara, yaitu Rasul or/and ulil amri.
    Mari kita buktikan: bukankah semua umat islam (ulama) jk ada masalah mrk kan merujuk kpd AQ?, tp apa hasilnya? hasilnya muncul mazhab2, muncul golongan, muncul aliran, muncul ribuan pendapat atas 1 masalah yg sama dg rujukan yg sama… 😦 Kenapa ini terjadi?. Kebanyakan org menjawab krn kt menafsirkan dg menggunakan nafsu/ego, seolah2 jawaban ini sdh menyelesaikan masalah. Tidak..masih jauh dr menjawab, krn muncul pertanyaan menafsirkan yg tanpa nafsu/ego itu yg bgm dan siapa yg bisa melakukannya?. Krn kenyataannya masing2 golongan/aliran menuduh lawannya telah salah menafsirkan krn mrk menafsirkan dg nafsu/ego…hehehe… bukankah kt terjebak dlm lingkaran tanpa ujung?.. 😦
    Semoga bisa jd renungan bersama dan dpt ditemukan jalan keluarnya, krn sbg agama yg sempurna saya yakin Allah SWT telah mempersiapkan/menyempurnakan Islam dan menjaganya (islam).

    Wassalam

    @
    Mas Truth, sama persis yang Mas sampaikan itu adalah kebanyakan yang berada dalam alur berpikir saya juga. Sejak dari muda, saya enggan ke mesjid itu karena katanya di situ mazhabnya beda. Lalu sejumlah “ulil amri” penggolongan menyebabkan dalam perjalanan saya malah semakin menjauhkan saya kepada keyakinan agama. Saya kemudian berjalan tanpa arah. Banyak bergelut dalam pikiran ini hal-hal baik dan buruk, moral, akhlak, sosial dan lain sebagainya. Maklumlah, ini kehidupan sekuler dan abanganlah yang saya tempuh selama ini. Berbelas tahun begitu, saya juga membaca apa saja yang saya ingin saya baca, saya baca injil, baca filsafat, baca weda atau apa saja. Juga dengan segala kejengkelan dan pertanyaan yang tak habis-habisnya. Saya merasa, semua jawaban pergelutan pemikiran justru semuanya. Sekali lagi semuanya Mas, saya temui dari Al Qur’an. Rasanya setelah 1 kali dibaca kemudian ke seratus kalinya satu atau beberapa ayat dibaca, saya menemui hal-hal yang sebelumnya tidak ada. Saya menemui pandangan-pandangan baru atau yang telah lama hilang. Merasa setiap saat saya merasa tidak perlu banyak mendengar pandangan-pandangan yang mas sebutkan tanpa ujung itu. Saya nikmati saja yang bisa saya baca, lalu beberapa yang saya sempat dan mampu saya keluarkan dalam bentuk postingan pendek-pendek.

    Saya berpendapat, alangkah indahnya QS 24:35 … Allah (pemberi) cahaya kepada langit dan bumi…. Cahaya di atas cahaya, Mengetahui segala sesuatu. Mari kita lihat cahaya yang kita kenali, cahaya lampu deh. Apakah cahaya lampu untuk sampai membutuhkan perantara?, berapakah jarak kita terhadap cahaya yang membuat kita bisa membaca dan menerima terang cahaya?. Siapakah yang menjamin terangnya cahaya yang kita pakai untuk membaca, untuk melihat. Tentu ada manusia yang membukakan pintu untuk membuat kita bisa membaca (kalau lampunya berada di ruangan lain), tentu dia “berpindah” dan menjelaskan “mengapa berpindah” kalaulah dia menghalangi cahaya yang akan kita terima. Namun, wujud cahaya itu menerangi tanpa pilih bulu. Soal orang menghadap ke arah cahaya itu atau membelakangi, itu adalah urusan dari orang itu. Sederhananya, kalau kita membelakangi cahaya lampu, tentulah kita tidak bisa melihat lebih baik dibanding yang menghadapi cahaya lampu itu.

    Lalu apakah kita risau dengan mazhab-mazhab itu, ataukah karena kepentingan golongan, politik, dan ekonomi. Mana yang lebih besar, motif kekuasaan atau motif mencari keridlaan Allah. Tanpa banyak ilmu pun, nurani menunjukkannya.

    Ini hanya cara pandang saya.
    Sedangkan urusan sakit ke dokter, mereka bukan perantara, mereka menjadi tools, menjadi lantaran. Seperti mobil, tujuan kita mencapai perpindahan dari A ke B dengan mobil. Mobil bukan perantara, tapi mobil adalah sarananya. Guru ngaji, buku, atau ulama adalah lantarannya, tapi bukan wakil Allah. Bukan perantara. Saya berhubungan dengan guru ngaji, ulama, rekan, mereka adalah guru-guru saya yang membantu mencerahkan. Lampunya tetap sama. Guru-guru saya juga sama seperti saya dan lainnya, mencari cahaya terang itu, meski saya jauh paling belakang. Persis seperti laron dan lampu templok ….

    Salam.

    Suka

  23. truthseeker said

    @Agor

    Tapi ummat kan nggak tahan?, kemampuan kita dalam memperkuat bukankah pada kepasrahan dan usaha, mewakilkan urusan kita pada Allah semata.

    Koreksi kecil saja mas. Saya pikir mas Agor lebih baik mengganti kata pasrah dg berserah (diri)…. :mrgreen:

    Soal ummat yang tidak patuh, dengan tegas pula Allah menjelaskan akan menggantinya dengan kaum yang mencintaiNya dan ridha kepadaNya. Dalam tanggung jawab sebagai ketua di keluarga, tentu kita berusaha mencegah infiltrasi dalam ragam bentuk dengan cara-cara keikhlasan yang diajarkan melalui sejarah masa lalu yang juga dijelaskan AQ.

    Saya setuju mas itu ayat yg sangat tegas dr Allah. bahkan semua kejahatan dan keburukan yg dilakukan manusia akan mendapat ganjaran oleh Allah, apakah kmd berarti manusia tdk punya peran dlm meluruskan? (sy tdk menuntut peran dlm menghukum lhoo..hehehe). Tidak bs penerapannya spt itu mas Agor, krn mas sendiri yg menanyakan bgm utk mencegah infiltrasi, tp knp mas sendiri yg menyatakan bhw seolah2 kt gak usah ngapa2in krn nanti Allah akan bertindak.

    Kalau mereka (kaum yang memusuhi Allah dan Rasulnya) melakukan infiltrasi dan kita mampu dengan pertolonganNya mampu menjalani kehidupan mendekati petunjukNya (biar cuma sedikit), saya percaya Allah akan menolong kita, menyediakan pedang kata dan pedang ilmu dan harta untuk tetap dapat meraih ridhaNya.

    Mas Agor menurut mas infiltrasi yg kt bicarakan itu drmn sih?. Seolah2 mas dg mudah mengidentifikasi mrk? Bagi sy tdk mas, mmg ada yg dg mudah kt identifikasi krn mrk berbeda dg kita, tp bkn itu koq yg telah menjdi masalah, krn yg menginfiltrate kt dr golongan kt sendiri, krn mrk “ulama2” kt sendiri shg infiltasinya menjadi begitu alamiah dan tak terbendung.

    Keputusan-keputusan Allah dalam hubungan antar manusia begitu simpel kok. Kita berzakat, membayar fidyah, menghormati orang tua, jangan memakan harta yang kita tidak boleh memakannya, jangan memakan makanan yang diharamkan. Pertanyaan kemudian, apakah ummat sebagai kelompok masyarakat mampu melakukannya. Bersihkan harta yang kita dapatkan dari karuniaNya.

    Ini bagi saya adalah salah satu pemikiran hasil infiltrasi yg mas Agor semdiri tdk menyadari bhw pemikiran ini has been “infiltrated”… :mrgreen:
    Mas Agor, exactly yg mas Agor sampaikan yg menjadi kegundahan saya, kt menganggap “that’s Islam”. Tdk mas, itu adalah islam yg diajarkan oleh guru2 kita. Banyak sekali perintah2 yg tdk kalah pentingnya yg tdk diajarkan (kecuali kt cari sendiri) bhkn sdh ketemu pun belum tentu kt laksanakan. Hasil infiltasi menyebabkan perintah2 tsb “disembunyikan” dan menjadi “minor” bhkn sampai tahap diabaikan.

    (Bersambung)… 😛
    Wassalam

    Suka

  24. madopolo said

    @Agor
    Saya sependapat dgn truthseeker. Tp ini bukan berarti menyerang mas Agor. Saya jauh dari sifat ini. Saya/kita menghendaki agar kita sama berjuang saling membantu mencapai tyujuan yakni mencari KEBENARAN yg membawa kita kejalan Yg Allah Ridhai. Mas Agor pernah saya baca diblog ini tulisan sdr Aburahat dimana ia membawakan firman Allah dlm surat Al Anaam klu tdk salah berbunyi:” Aku akan menurunkan bala dari atas kepalamu, dari bawah kakimu dan diantara umatmu” Sesdh Rasul memohon kpd Allah maka hanya 2 yg dikabulkan yaitu bala dari atas kepala dan dari bawah kaki( itupun pakai syarat) Tapi diantara umatmu tdk. Tp Rasul tetap memohon dan akhirnya Allah memberikan jln keluar dimana dgn berat dan mengambil segala risiko bersabda beliau di KHAIDIR GHUM. Tapi toh tetap ditolak, walaupun dihadapan Rasul mereka menerima. Nah krn Way Out yg Allah berikan ditolak maka terjadi perpecahan dalam Umat Rasul yg kita hadapi sekarang ini.Klu kita menghendaki KEBENARAN ini kembali maka kita hrs berjuang menghadapinya. Wasalam

    Suka

  25. agorsiloku said

    Saya Setuju Mas Truth koreksinya, apalagi memang “rasa” dari pasrah dan berserah diri tidak berada pada retorika yang sama.
    Betul juga sebagian adalah infiltrasi, tentu mereka (ulama dan ilmuwan) ada yang mencuplik dari kitabNya ada yang dari pikirannya dan ada dari bisikan lainnya.
    Ulama juga kan manusia, bisa keliru jadi ya sebagian saja yang mereka juga bisa ingat. Bukankah kita bukan hafidz… 😀
    Juga ketika kita menerima infiltrasi dari luar, tidak semua juga kita bisa mencerap semuanya juga. Jadi sah-sah saja perbedaan itu. Mungkin bukan maksud menyembunyikan (kemudian penting : bagaimana kita tahu perbedaan antara disembunyikan atau tidak?). Cari sendiri, dan kita kan tahu, Allah memberikan hidayah kepada kita untuk mengerti. Masuk ke dalam dada manusia.
    Saya malah berpikir, Allah sedang mengajarkan saya melalui Mas (melalui perantaraan – bukan perwakilan).
    Saya setuju ada minor dalam perintah dan berbagai lainnya. Itu juga yang mendorong hampir dalam semua logika, saya berusaha untuk mengenali pesan Al Qur’an. Mencari pembanding hanya sekedar untuk memperkuat pemahaman pada AQ.
    Salam, agor

    Suka

  26. truthseeker said

    @Agor
    Jadi, kalau mereka menyimpang (dan semoga saya dikarunia kekuatan untuk memperkuat iman dan keikhlasan), maka kita tidak punya tugas apa-apa selain menyeru (kepada RasulNya, Allah berpesan demikian, jelas ini mewakili pesan yang sama kepada ummat Muhammad). Menyeru bukan hanya bersuara keras tentunya, karena contoh juga tidak hanya dengan “suara”.
    Menarik mas Agor, seiring dg pertanyaan saya di postingan yg lain: “Apakah Allah sdh mendelegasikan kpd kita pentungan2 dan vonis2 (posisi hakim)?”. Sedangkan Rasulullah saja disebut sebagai “Pemberi Peringatan” & “Pembawa Berita Gembira”.

    Kembali pd topic “infiltrasi”. Saya masih besikukuh bhw Allah & Rasul-Nya sdh (pasti) memepersiapkan cara agar kita selamat, tp pd saat yg bersamaan Allah jg menyerahkan kpd manusia utk memilih selamat ataukah celaka.
    QS:56:79 Tidak menyentuhnya (memahaminya) kecuali orang-orang yang disucikan.
    Bukankah ini adalah salah satu perintah yg jelas bagi kt bhw utk mendapatkan pengertian yg seutuhnya dr AQ: tdk akan menyentuhnya (memahaminya dg dalam) kecuali orang2 yg disucikan.
    Bukankah “infiltrasi” yg menyebabkan tafsirnya disempitkan menjadi : “perintah berwudhu sebelum menyentuh AQ” ?
    Bukankah itu bagian dr:
    QS:15:9 Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya
    Apakah pernah terbetik pertanyaan di diri kita: “Bgm cara Allah menjaga AQ?”. Saya meyakini bhw sbgm Allah menjaga langit dan bumi dg hukum2-Nya (perantara) mk Allah (terlebih di ayat ini Alla menggunakan “Kami”) mk penjagaan AQ pun Allah menggunakan perantara2 (hasil rancangan Allah) yg salah satunya adalah adanya orang2 yg disucikan yg menjaga text maupun makna AQ.
    Kalau tdk diakhiri akan panjang sekali.. 😛

    Wassalam

    @
    Ass. Mas Truth, sebelumnya, terimakasih lho atas komentarnya yang membuat saya bisa jadi belajar.
    Mengenai orang -orang yang disucikan baru bisa memahami isi AQ (tentu sampai ke lapisan terdalam ya). Saya percaya, mas Truth tentunya sudah mengupas habis Al-Mutathahhiriin.
    Tentu kita juga meyakini ayat yang menjelaskan : Soal pengertian AQ, tanggung jawab Kami memasukkannya ke dalam dada, sesungguhnya nyata dalam dada orang berilmu. Juga pengertian hikmah, dan sejenisnya sehingga jika kita melihat ayat-ayat yang berhubungan dengan pemahaman orang berilmu, takwa, hikmah, disucikan, ciri-ciri utusan Allah yang menyeru, keteladanan, maka akan tampak bahwa berwudlu itu akan menjadi bagian tekstual dari sebuah konsep orang-orang yang disucikan dan sekaligus tentu orang-orang yang berusaha untuk menyucikan jiwa dan raganya.

    Saya seorang geodet yang mengerti betul arti geopotensial dan telah belajar bahwa tinggi suatu benda juga dipengaruhi oleh gaya gravitasi. Nah terus mas bilang saya ini tidak benar atau tidak logis, masa tinggi suatu benda dipengaruhi oleh gravitasi. Saya tentu tidak akan menyalahkan Mas, juga tidak akan bilang mas bodoh. Sebaliknya juga, jika dibilang saya bodoh, juga saya tidak akan jelaskan (karena percuma) Mas kan bukan geodet. Kalau Mas ahli fisika, atau astronomi, bolehlah kita mendiskusikannya.

    Kembali ke infiltrasi mengenai penyempitan makna. Kita bisa jelaskan itu bukan penyempitan makna, tapi sebagian dari makna. Justru kemudian tugas orang-orang seperti Mas, menambah wawasan pengertian akan hal ini. Kalau kita malah menyampaikan dengan nada menghina atau berprasangka sebagai usaha untuk membonsai Islam dari Orientalis dan lain sebagainya, atau bilang : Salah sendiri, situ sih nggak ngerti bahasa Arab, nggak ngerti sastra Arab, retorika dan style Arab maka apakah kemudian syiar yang ingin disampaikan bisa ditangkap pembacanya/pendengarnya?. Paling nanti sampeyan dibilang :”Dasar kolot !, fundamentalis, dan baiat buta !” Yang ada saling memaki. Rugilah, ingin dapat pahala, malah dapat berhala.

    Terus kalau saya cuma seorang petani bodoh, nggak sekolah dari kecil, apakah petani jenis ini adalah orang yang tidak akan pernah mengerti isi AQ? Mungkin dia tidak mengerti isinya seperti orang jagoan pasantren atau ilmuwan, tapi hikmah AQ dan ketakwaannya, jangan-jangan sayalah yang malah sebaliknya. Who knows. Boleh jadi, si petani geblek dan bodoh itu jauh lebih mampu mengimplementasikan pengertian-pengertian AQ untuk menjalani kehidupannya. Dia mengerti melalui kalbunya yang diterimanya sepenuh hati jalan kebaikan dan dia dapat hindarkan jalan kefasikan. Allah memeliharanya.

    Kira-kira itu cara pandang saya perihal hambaNya yang disucikan (duh, alangkah bahagianya jika saya bisa ke arah sana — mari kita saling mendoakan ya… ).

    Mengenai cara Allah memelihara AQ, ini juga asyik direnungi, karena itu catatan dan uraian mengenai matematika AQ, keistimewaan stilistika AQ, pemaknaan, bilangan 19, keseimbangan, bilangan prima, ganjil, genap, dlsb yang dihubung-hubungkan dalam AQ menurut saya adalah khasanah istimewa yang mungkin baru permukaannya saja telah disentuh di beberapa bagian. Di dalamnya lagi, sebuah logikal dimana Allah menyampaikan pesan-pesan tersurat dan tersiratNya. Yang seperti Allah sampaikan, yang dengan Al Qur’an. Meskipun saya banyak juga mengalami kebingungan membaca uraian pakar-pakar. Namun tetap saja saya simpan. Mungkin suatu kali saya bisa lebih mengerti.

    Suka

  27. haniifa said

    Rasulullah…. “memancung kepala” kafirin

    Suka

  28. yureka said

    Mas agorsiloku.

    Pentingnya kita memaknai universalitas hukum Allah, yang tdk bisa dibatasi oleh frame periode dari satu nabi ke nabi yang lain. Rasanya tidak perlu saya kutip ayat2 yang menerangkan sesungguhnya Muhammad hanyalah rasul diantara rasul2 lain, dan bahkan Ibrahim-lah satu satunya Nabi yang disebut Allah sebagai uswatun hasanah, sebagai Imam manusia, dan Muhammad diperintah untuk selalu mengikuti ajaran Ibrahim. Kalau sudah demikian dari mana anda akan mengambil tolok ukur ??
    Alquran adalah pemikiran, itu sangat jelas, dan Allah sudah menjamin kita akan dengan mudah memahami bila sungguh2 mau belajar. Jelas kalau kita kejar dari sisi matan, bagaimana kita menerangkan jual beli saham, valas, berapa ribu species hewan secara riil (mana yg haram/tidak haram), mana yg akan lebih diampuni antara orang Islam berjenggot dengan hoby bertakbir sambil bawa2 api unggun untuk dilempar ke property orang lain atau orang yg jelas kafir tapi karena ketekunannya dia menemukan listrik (atau apa saja yg bermanfaat) yg sampai sekarang dinikmati oleh semua manusia, juga bagaimana mas agor menerangkan jadwal sholat dan puasa di daerah kutub yg nota bene 6 bulan siang 6 bulan malam ???dan ini itu ????
    Memang semua harus dikembalikan pada Quran. Suatu hal yg sangat sepele yg sudah kadang dibicarakan sekalipun (matematis) masih menjadi pro kontra (bagaimana anda tenang dgn nilai2 selama ini) orang sekaliber mr. quraishihab cukup mengatakan “ ah..itu hanya subyektifitas beliau saja …. (mengomentari temuan jumlah ayat dari mr. fahmi basya di metro tv beberapa tahun lalu) kalau memang kita cukup tenang dgn semua nilai2 itu, maka mari kita masuk gua bersama-sama.
    Bagaimana mas agor mendefinisikan AQ diambil dari Lauh Mahfuz ??, tentu dalam frame yang bisa dipahami secara haq/logis. Adakah manusia sekarang sudah bisa memecahkan stilistika quran ?? Jangan..jangan kita pecahkan !! karena jelas jelas tidak akan sejalan dengan nilai2 para salafusaleh.. (nggak nyambung mas..??)
    Nilai apakah yang sudah berkembang ??? justru pertanyaan saya : Apakah selama ini tidak ada perkembangan nilai ??? Apakah tatacara hidup QURANI hanya bisa dilakukan oleh orang Islam, Apakah orang barat (baca:kafir) tidak bisa qurani ?? walau tentu bukan dalam konteks kaffah. Kita mendengar bagaiman di sono pengangguran dijatah negara, lalu lintas yg tertib, dst.
    Benarkah nilai2 itu bahkan sejak dilahirkannya…bahkan dalam komen saya sebelumnya yg sudah saya kuti surat 4 ayat 81, belum mas agor relasikan dengan pernyataan saya diatas. Kembali pada Quran ??ah…bukan gitu maksudnya… lalu bagaimana ..???
    Kemudian kalau ada pertanyaan : benarkah kita berada pada posisi untu layak memberi penilaian ? justru pertanyaan saya untuk apa forum2 sekarang banyak dibuat ?? bagaimana kita bisa menolak kenyataan bahwa peradaban kita (saya sedang tidak bicara moral) sekarang tidak lebih maju ?? bahkan bila bicara tentang moral sekalipun…. Saya tidak tahu persis, tapi para sejarawan menulis dalam pelbagai versi, namun tetap mengerucut pada banyaknya pertentangan, perselisihan, intrik2 politik yang berakhir pada pembunuhan (bukan mati dalam perang) para kholifah. Berapa jarak rentetan peristiwa2 itu dengan masa menunggalnya Nabi ?? Terus terang saya tidak mau naïf dengan membayangkan situasi yg madani kala Nabi masih hidup, semua serba ideal, ada ini ada itu, pokoknya segalanya quran banget. Memberikan penilaian bukan berarti kesombongan bukan ??? Diberi penilaian juga tidak berarti lebih rendah juga !! Ini hanya masalah bahasa (jempol buat mas agor yg suka merendah, padahal ilmunya segudang).
    Tentang penanda2 lain di akhir jaman menurut mas agor sih…khan sudah ada mirza (he..he..he..). Lho..katanya Nabi terakhir ? kok masih akan ada Nabi Isa lagi ??
    Sedangkan Wallahu alam…Hanya Allah yang tahu…. Kita TIDAK MUNGKIN TAHU. Titik. Wah tentang ayat ini wallahu alam bisowab, hanya Allah yang tahu…pak…pak.. quran sebagai petunjuk manusia depinisine apa ya..

    @
    Mas Yureka, banyak bener neh komentarnya. Nggak sanggup deh saya memberikan komentar balik. Namun, kalau boleh ingin memaksakan jawaban, dalam 3 postingan terakhir – sebelum cinta fitri — 😀 , saya merenungi di postingan itu, dan terakhir relatifitas akhlak. Hanya awal saja. Kan kita saling belajar.

    Khusus untuk urusan fiqih : “Bagaimana mas agor menerangkan jadwal sholat dan puasa di daerah kutub yg nota bene 6 bulan siang 6 bulan malam ???dan ini itu ????” –> jelas, agor tidak tahu. Mas harus tanya sama ahlinya, kalau itu tidak kita temukan juga karena berbagai sebab. Yo wis, sholat saja, kemanapun arahnya. Allah tidak di Barat, tidak di Timur kok. Allah maha mendengar. Agama itu mudah dan kita diberikan kemudahan, mengapa kita persulit.. 😀 Kalau salah, yo gimana lagi, kita cari di AQ, — Allah menjelaskanya juga begitu –. Ataukah saya harus sholat dengan cara 7 mazhab?. Duh repotnya. Satu saja sudah susah diikuti, apalagi kalau 7 atau 8 ditambah lagi yang mengaduk-ngaduk agama sakarepnya untuk bikin golongan – golongan baru. 😦

    Sholat juga, boleh diringkes, boleh dicampur, dan lain sebagainya. Berhubungan dengan Allah lebih mudah. Linknya langsung ke “server” Allah. Manusia repot, banyak password dan login. Belum lagi registrasi sana sini. 😀
    Yang terakhir, :”…pak…pak.. quran sebagai petunjuk manusia depinisine apa ya..” –> Mas ini lucu deh, pura-pura nggak tahu. Kan sama-sama kita baca setiap sholat. Allah sampaikan begitu, masa kita membantahNya. 🙂

    Suka

  29. haniifa said

    @Truthseeker
    Menarik mas Agor, seiring dg pertanyaan saya di postingan yg lain: “Apakah Allah sdh mendelegasikan kpd kita pentungan2 dan vonis2 (posisi hakim)?”. Sedangkan Rasulullah saja disebut sebagai “Pemberi Peringatan” & “Pembawa Berita Gembira”.

    Rasulullah…. “memancung kepala” kafirin
    SEBAB…
    [QS 8:17] Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
    OLEH KARENA…
    1. Bukti sejarah sampai sekarang ada “Pedang Rasulullah”
    2. Bukti sejarah ada kuburan “Hamzah”
    3. Baik sejarahwan Muslim atau Orientalist
    …Percaya ada peperangan BADAR.
    …Percaya jika terjadi peperangan maka ada yang putus kepala.

    Pakde @Yureka he.he.he. jawabanya sama 😀

    Wassalam, Haniifa.

    Suka

  30. haniifa said

    Pakde @Yureka… buat dunk sejarah era baru bahwa “Pedang Rasulullah” dipergunakan untuk ngarit rumput… eh sale… “BEWOK” semacam gulam ahmad 😀

    Suka

  31. haniifa said

    @truthseeker
    Jadi, kalau mereka menyimpang (dan semoga saya dikarunia kekuatan untuk memperkuat iman dan keikhlasan), maka kita tidak punya tugas apa-apa selain menyeru (kepada RasulNya, Allah berpesan demikian, jelas ini mewakili pesan yang sama kepada ummat Muhammad). Menyeru bukan hanya bersuara keras tentunya, karena contoh juga tidak hanya dengan “suara”.

    Buat para tukang parkir….
    Stoppp… stopp…. sampe kelindes ban….sampai gepeng !!
    stop atuh pak 😛
    SEBAB CONTOHNYA:
    Menyeru bukan hanya bersuara keras tentunya, karena contoh juga tidak hanya dengan “suara”

    Setelah gepeng baru tukang parkir sadar ?!
    SEBAB CONTOHNYA:
    Sedangkan Wallahu alam…Hanya Allah yang tahu…. Kita TIDAK MUNGKIN TAHU. Titik. Wah tentang ayat ini wallahu alam bisowab, hanya Allah yang tahu…pak…pak.. quran sebagai petunjuk manusia depinisine apa ya..

    Al Qur’an diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala lewat Rasulullah Nabi Muhammad s.a.w….. sebagai SOP dan standar hidup manusia… yack cari tahu dunk 😀

    Wassalam, Haniifa.

    Suka

  32. truthseeker said

    Rasulullah…. “memancung kepala” kafirin

    Karena apa tuh? krn mereka kafir atau krn mereka memerangi Rasulullah?. Kalau krn mrk kafir knp tdk semua yg kafir dipancung? kalau krn mrk memerangi Rasulullah maka tdk hrs kafir, yg tdk kafir pun akan dipancung sbg pertahanan diri.
    Rasulullah masuk madinah tdk lantas memancung para kaum Yahudi & atheis disana. Rasulullah hidup berdampingan dg damai, bhkn ktk mrk mengejek Rasulullah pun tdk ada pemancungan. Pemancungan terjadi pd saat perang, perang terjadi krn Yahudi yg sdh dibaik2in ternyata berkhianat dan memusuhi/memerangi Rasulullah. Jadi sy sihh melihatnya bukan dikarenakan mrk kafir, tp krn tindakan mrk yg memerangi Rasulullah.

    Wassalam

    @
    😀 Jadi ingat ketika Umar bin Khatab (kalau nggak salah), dia akan memancung kepala musuhnya, tapi terus musuh itu meludahi. Malah tak jadi Umar memancung. Mungkins sebabnya alasan yang menjadi pokok persoalan. Diludahi membuat beliau marah sehingga ada keraguan di hatinya, karena perang di jalan Allah dan diperangi atau karena marah….

    Suka

  33. haniifa said

    @All
    Neehhh tukang parkir yang cerdas dan selamat, bro…
    (sebelum terlindas ban mobil)

    Stop “onyon” 😀 !!
    (baca: sambil teriak dan menggebrak body mobil)

    Wassalam, Haniifa.

    Suka

  34. truthseeker said

    @Haniifa
    Kalau mas Haniifa mau pentungin semua orang yg mas anggap salah (berbeda) dg mas Haniifa yaa silakan saja sihh.. 🙂
    Tapi kalau mas Haniifa melanjutkan diskusi tentu sy tertarik atas dasar apa mas Haniifa punya hak untung mentungin mereka2 yg berbeda dg mas Haniifa.
    No offence..pisss..pisss.. :mrgreen:

    Wassalam

    Suka

  35. haniifa said

    hi.hi.hi. ngetiknya dua jari jadi salahh trusss 😀
    @Truthseeker
    Terima kasih mas, tapi saya bukan “tukang parkir mobil”… hanya sekedar tukang baca-tulis…
    (tentu yang saya bisa baca-tulis secara ‘ainul yaqin dan haqqul yaqin komputer sendiri… dan rasanya tiap orang berbeda khan 😀 )

    push…pushh..pushh

    Wassalam, Haniifa.

    Suka

  36. haniifa said

    Apa “HAK” saudara @haniifa menulis dan menjawab postingan sendiri…. Heh… 😀

    Mentung-mentung… eh sale…
    Mentang-mentang maling ketang dibalik kutang

    ^%^!$@#@)!?# 8)

    Suka

  37. truthseeker said

    @Haniifa

    Wahhh..mas Haniifa sy bukan nanya kerjaannya mas, sy lagi mempertanyakan statement mas Haniifa..salah yaaa.. maaf dehhh..saya kira mas Haniifa mau berdiskusi… 😛

    Wassalam..

    Suka

  38. haniifa said

    @Truthseeker
    Wahhh… mas Truthseeker saya menerangkan HAK saya terhadap komputer pribadi saya (cicilan belon lunas lagih… 😀 )

    Saya teringat firman Allah subhanahu wa ta’ala:
    [QS 2:139] Katakanlah: “Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati,

    Bagi saya komputer saya, bagi mas… komputer mas Truthseeker
    Bagi saya diskusi saya, bagi mas… diskusi mas Truthseeker
    Bagi saya komentar saya, bagi mas… komentar mas Truthseeker
    Bagi saya argumen saya, bagi mas… argumen mas Truthseeker

    Rasanya adil yach…

    Wassalam, Haniifa.

    Suka

  39. haniifa said

    Hi.hi.hi. 😀
    Bagi saya postingan saya,bagi mas konyol komentar mas konyol…

    Suka

  40. haniifa said

    Bagi saya IMAM saya, bagi saudara imam saudara…

    Suka

  41. yureka said

    “Yo wis, sholat saja, kemanapun arahnya. Allah tidak di Barat, tidak di Timur kok. Allah maha mendengar. Agama itu mudah dan kita diberikan kemudahan, mengapa kita persulit.. ”

    mas agorsiloku
    saya sudah sering mendengar jawaban seperti ini mas…mudah2 mas agor sebagai seorang profesional di bidangnya (geodet atau apa mas) tidak menerapkan jawaban seperti ini bila menemukan masalah dalam profesi yg harus segera diambil keputusan atas masalah yg sedang dihadapi. “ah …ini khan berkaitan dengan geodesi,…jangan dipersulit lah… kita hidup khan cuma sekali . ENAKNYA begini saja…selesai.

    substansinya bukan pada jawaban dari komen2 saya itu mas, tapi saya hanya menanggapi posting anda tentang sebuah nilai2 yg mungkin selama ini kita pegang, sedangkan membedah kembali menjadikan opini sebagai infiltrasi, merelativisir dlsb. walaupun bukan pada proporsi analogi yg pas banget, kemapanan teori geosentris yg bergedebum oleh copernicus dkk mestinya memberikan contoh sederhana.

    teka-teki (baca:wallahualam)

    @
    Mas Yureka, seperti coba agor sebutkan di komentar, itu urusan fiqih, maka saya tidak mau sanggup memberikan jawaban karena sangat tidak menguasai persoalannya. Kalau menggunakan hukum-hukum dan dalil-dalil, jelas lebih baik kita belajar saja ke ahlinya. Jawaban bisa sangat kompleks, bisa juga sederhana.
    Bagaimana kalau sholat di Kutub?. Siang dan malam berbeda?. Bagaimana kalau lagi naik pesawat luar angkasaa, bagaimana kalau sholat di bulan?, kemana arah kiblatnya?, bagaimana kalau sudah masuk waktu sholat, kita terjebak kemacetan?, Maka semua jawaban yang dibentuk dengan ijtihad, menurut saya sah-sah saja untuk dilaksanakan. Sepanjang tidak mengada-ngadakan dusta kepada Allah karena tujuan politis, popularitas, atau kekayaan. Hati manusia !, who knows.

    Berbeda dengan jawaban keilmuan.
    Harus begini, dan kalau melaksanakan tidak mengikuti prosedur. Ada sistematika proses yang harus diikuti. Namun, ketika tidak ditemukan jawaban standar, maka ujung persoalan akan sama, berada pada logika pilihan terbaik yang bisa dipikirkan. Kalau belum ada, sama juga, tanyakan pada ahli di bidangnya.

    Aturan agama, prinsipnya, semua boleh kecuali yang dilarang. SOPnya adalah teks suci, hadist, dan terutama logika hati dan moral yang telah tercerap ke dalam dada kita.

    Aturan manusia, semua harus diikuti, kecuali yang dibolehkan. SOPnya adalah prosedur standar/juklak, langkah kerja, perencanaan, mengorganisasikan, tindakan (aksi), evaluasi, dan kemudian melaporkan. Keluar dari proses itu, bisa dipecat atau tidak naik gaji, atau terkena sanksi.

    Jadi kedua SOP (Standar Operasional dan Prosedurnya berbeda).

    Dalam kegiatan manusia juknis (petunjuk teknis) banyak dibuat supaya persis/akurat dalam pelaksanaannya. Dalam agama juknis sebagian ada pada hadis dan ahli fiqih. Mereka berkumpul untuk membuat kesepatakan atau konklusi yang dihadapi ummatnya.

    Boleh jadi, mengapa agama mampu hidup berabad-abad dalam SOP-nya karena memang topik pada agama berbeda dengan profesionalisme akhlak.

    Ada beberapa persoalan lain, ketika orang melakukan tafsiran dan penilaian terhadap teks suci. Mencerahkan sekaligus merelatifisir, mencerahkan sebagian dan menggelapkan sebagian yang lain sehingga yang muncul adalah caci maki. Agak panjang kalau kita lari ke sana. Itupun, kalau yang dimaksud adalah pola pikir di seputar itu, saya kadang merasa manusia sudah menjadi lebih pintar dari penciptaNya…. 😦

    Suka

  42. madopolo said

    @All
    TIDAK ADA PAKSAAN DALAM AGAMA. Begitu pula dlm diskusi TDK ADA PAKSAAN UTK MENERIMA PENDAPAT ORANG LAIN. Klu saya tdk salah kita disini dlm berdiskusi utk mencari KEBENARAN. Dan bukan berdebat. Klu udah ad WOnya buat apa mempertahankan fanatisme/Ego. Setiap pencari KEBENARAN hrs JUJUR.

    @
    Betul Mas Madopolo, berdiskusi itu kadang kita sebut juga membadaikan otak berpikir kita (brainstorming), mengaduk-aduk dan melihat dari berbagai sisi. Sisi yang kita lihat adalah sisi kebenaran yang boleh jadi dan sangat boleh jadi dilihat orang lain dari sisi berbeda-beda.
    Dapatkah kita melihat dari berbagai sisi.
    Seperti cahaya yang menyinari (menampakkan apa yang terkena sinarnya), kadang kala pikiran-pikiran kita justru menghalangi sinar itu. Kadang cara pandang dan kesimpulan kita menghalangi apa yang seharusnya bisa tampak.
    Mengapa terhalangi, karena ada ego yang sangat sulit agor tundukkan. Karena ego mempersoalkan cara pandang yang berbeda.
    Namun, sebagaimana cahaya, ia menyinari dengan luminasi yang sama, yang membedakan, kemampuan filteringnya…. 😀

    Suka

  43. haniifa said

    @All I am
    Who do you think you see
    When you look at me
    Is it somebody strong
    Somebody you could admire

    Jadi melankolis nehhh… sayahhh 😦

    Teori Geosentris setara dengan Teori Heliosentris

    Wassalam, Haniifa.

    Suka

  44. yureka said

    mas agor benar bahwa kadang2 manusia merasa lebih pintar dari penciptanya. Kadang manusia berpikir bahwa manusia mempunyai pola pola yang dibuat menjadi sebuah system dengan pasword, login belum lagi harus registrasi dst. betul betul rumit. Justru saya berpikir untuk mendapat sebuah produk yang handal kwalitas bukankah selalu melewati qc yang njlimet ??? kalau cuma mau jadi barang yan biasa2 saja bahkan tdk diperlukan qc.
    betul juga… agama tdk dipersulit….Allah sangat lemah dalam membuat system. atau jangan2 systemnya kayak (atau super) komputer (yg hukumnya cuma ada 0 dan 1 ???). yang ada hanya hitam dan putih saja !!! tdk ada abu2 !!

    terima kasih mas agor, dan memang saya tdk berniat membahas fiqih disini. fiqih itu apa tho ??

    Suka

  45. haniifa said

    Saudara Yureka
    Buktikan kepada saya statmen saudara yang SUPER KONYOL

    betul juga… agama tdk dipersulit….Allah sangat lemah dalam membuat system.

    Suka

  46. haniifa said

    Saudara Yureka
    Saya tidak perduli faham, mazhab, agama, kepercayaan… terserah anda…. tapi tulisan saudara sangat vulgar sekali.
    Jika saudara tidak suka saya… silahkan gunakan dengan kata-kata yang menurut saudara paling kasar dan tujukan kepada saya… jangan-jangan sekali-kali kepada Allah subhanahu wa ta’ala

    Suka atau tidak suka saudara kalimat konyolmu itu, saya perbaiki !!!

    BENAR-BENAR betul juga… agama tdk dipersulit….Allah sangat lemah Yang Maha Kuat dalam membuat system. atau jangan2 systemnya kayak (atau super) komputer (yg hukumnya cuma ada 0 dan 1 ???). yang ada hanya hitam dan putih saja !!! tdk ada abu2 !!

    HANIIFA

    Suka

  47. truthseeker said

    @Agor

    😀 Jadi ingat ketika Umar bin Khatab (kalau nggak salah), dia akan memancung kepala musuhnya, tapi terus musuh itu meludahi. Malah tak jadi Umar memancung. Mungkins sebabnya alasan yang menjadi pokok persoalan. Diludahi membuat beliau marah sehingga ada keraguan di hatinya, karena perang di jalan Allah dan diperangi atau karena marah….

    Koreksi mas Agor, riwayat itu untuk Imam Ali. Beliau membatalkan utk membunuh musuhnya dikarenakan muncul keraguan apakah Beliau melakukannya krn beliau menjalankan perintah Allah ataukah krn marah diludahi.
    Btw, mas Agor telah membawa contoh yg sagat brilian. Bagaimana pencontohan dr penafsiran ayat2 AQ tdklah sesempit yg skr kt sering temukan.
    Terima kasih telah mengingatkan saya atas riwayat ini.

    Wassalam

    @
    Terimakasih… untuk koreksinya… kalau begitu biar saja ya saya tetap tulis Umar bin Khatab, biar nggak ketuker lagi.
    kalau nggak salah —> ternyata salah…:D

    Suka

  48. madopolo said

    @Agor
    Benar mas KEBENARAN itu seperti CAHAYA/NUR. Dan kita blm melihat benar2 CAHAYA itu. Nur tsb sebut msh tertutup (dlm Surah An Nur). Kita baru melihat dari celah2 sehingga mash ragu atas Nur tsb. Krn keraguan tsb kita belakangi atau kita tinggalkan dan masuk dlm kegelapan. Kita lebih senang mencari dlm kegelapan berdasarkan Ego kita dpd ada sepercik cahaya tp diragukan. Wasalam

    @
    😀
    inilah pokok persoalan keragu-raguan.
    cahaya terlalu jauh, menjadi gelap, terlalu terang, juga menjadi gelap.
    aneh ya kemampuan kita menerima pengetahuan itu….
    namun, saya percaya, jalan cahaya itu selalu bisa dilihat pada kondisi manapun….
    😀

    Suka

  49. truthseeker said

    @Agor

    Saya sangat setuju dg komentar mas atas komentar saya no. 22. Saya bkn menepis ttg hidayah, petunjuk dll (saya sangat meyakininya). Tapi saya hanya ingin menyampaikan logika bhw ternyata setiap orang bisa “mengaku mendapat hidayah” tanpa ada bukti. Dalam tataran pribadi kita dg Allah SWT absolutely no problem. Tapi kt kan tdk berbicara di tataran tsb, kt berbicara ktk kebenaran tsb disampaikan kpd org lain. Nahh pd saat itu pengakuan kt bhw kt dapatkan dr hidayah tdklah cukup.

    Guru ngaji, buku, atau ulama adalah lantarannya, tapi bukan wakil Allah. Bukan perantara.

    Mas Agor, mgkn kt berbeda dlm mengartikan kata “perantara” tsb. Mas Agor sdh masuk ke dlm pengertian “perantara” yg bersifat khusus, sdg saya pengertian “perantara” secara umum. Sebagaimana saya menganggap saya lahir melalui perantara, saya belajar melalui perantara, saya menyeberangi laut dg perantara (perahu). Sptnya mas mengartikan perantara sbgmn yg dipakai dlm tasawuf.
    Dg menggunakan perantara secara umum mk sy ingin menjelaskan bhw saya belajar mengerti cara kerja Allah. Shg ktk Allah mengatakan menciptakan manusia mk yg kt dapati adalah manusia dilahirkan melalui hubungan suami-istri. Apa hikmahnya? saya merasa bhw dg begitu manusia yg beriman akan terpisah dr yg tdk beriman. Bagi yg beriman akan tetap meyakini bhw terlahirnya kt adalah karena Allah, sdg bagi yg tdk beriman mk mrk menyatakan semua ini adalah kebetulan dan hanya mengikuti hukum alam.

    @
    Mas Truth, ini lucu ya… saya sedikit memandang Mas Truth mengambil contoh perantara dengan pendekatan khusus, sedang saya dengan pendekatan umum. Namun, ternyata masing-masing (Mas Truth dan saya) saling bekesebalikan. Saya dipandang khusus. Tapi tak apa-apa. Pendekatan yang Mas lakukan, apalagi dengan penjelasan, memahami cara kerja Allah (artinya mengurai ilmu pengetahuan). Jadi tidak ada perbedaan, kalaupun ada perbedaan, mari kita pahami ada jarak antara kita dan cahaya itu…. saya masih menempuh perjalanan jauh dan terbata-bata, yang lain terbang secepat angin, bahkan kilat….

    Wassalam

    Suka

  50. yureka said

    saudara haniifa.
    saya tidak akan menjelaskan komen saya no. 44. saya sarankan anda membaca semua urut2an komen saya secara cermat. saya cuma bisa katakan : ” anda punya masalah dengan cara menyerap “

    Suka

  51. haniifa said

    Mau tanya ahhh…
    😀 Jadi ingat ketika Umar bin Khatab (kalau nggak salah), dia akan memancung kepala musuhnya, tapi terus musuh itu meludahi. Malah tak jadi Umar memancung. Mungkins sebabnya alasan yang menjadi pokok persoalan. Diludahi membuat beliau marah sehingga ada keraguan di hatinya, karena perang di jalan Allah dan diperangi atau karena marah….

    Gimana kalau saat itu Umar bin Khatab yang diludahi persis kena matanya…. sehingga beliau kelilipan dan menyerahkan eksekusi pada yang lain ?!
    (Namanya juga sejarah… mungkin saja dilanjutkan oleh Khalifah Ali bin Abi Talib)

    Wassalam, Haniifa.

    @
    Ha…ha…ha… kalau dia yang kelilipan… boleh kan skenarionya menjadi… :
    Umar bin khatab kelilipan… terus, musuhnya yang gantian mancung… 😀
    Maka matilah singa Islam yang perkasa itu.
    (Jangan lupa koreksi dalam kisah ini, adalah Imam Ali), bukan Umar bin Khatab….

    Suka

  52. haniifa said

    saudara yureka
    Saudara yang selalu buruk sangka pada saya bukan ?!

    Suka

  53. yureka said

    @truthseeker.
    bagaimana pendapat anda tentang Allah/Hukum Allah dan Hukum Alam ? dimana posisi manusia ?

    Suka

  54. yureka said

    bukan.

    Suka

  55. haniifa said

    hua.ha.ha. 😀
    Mulai Looping… Until pusing —::Tik-tok-tik-tok::

    Suka

  56. agorsiloku said

    Mas Truth betul, pada komentar 49 mengenai konsepsi lantaran dan pemahaman kita tentang cara kerja Allah.

    saya cenderung memang lebih menyukai cara berpikir cahaya itu karena rasanya seperti bisa melihat fungsi-fungsi universilitasnya dan tidak terjerumus dalam leveling yang kadang bertolak belakang dengan hati….
    Khusus atau umum, dua-duanya ok, esensinya sama…

    Suka

  57. madopolo said

    Menurut riwayat bukan Umar b Khattab yg mengalami kejadian tdk menjadi membunuh tapi Ali b Abi Thalib. Ada “INFILTRASI”
    @Mas Agor saya ingin bertanya mas, menurut mas mana sebenarnya Kebenaran itu? CAHAYA atau Sinarnya atau akibat dari sinar itu?
    Saya bertanya ini utk mendpt suatu pengertian atas statetment mas:”Seperti cahaya yang menyinari (menampakkan apa yang terkena sinarnya), kadang kala pikiran-pikiran kita justru menghalangi sinar itu. Kadang cara pandang dan kesimpulan kita menghalangi apa yang seharusnya bisa tampak.
    Mengapa terhalangi, karena ada ego yang sangat sulit agor tundukkan. Karena ego mempersoalkan cara pandang yang berbeda.
    Namun, sebagaimana cahaya, ia menyinari dengan luminasi yang sama, yang membedakan, kemampuan filteringnya”…. Wasalam

    @ Mas Madopolo
    Duh… Mas… agor juga jadi bingung nih… Kalau tak keliru (koreksi ya), Allah itu adalah pemberi cahaya. Sebagai sumber yang menyinari/menerangi. Cahaya Allah berlapis-lapis. Kalau begitu menyinari adalah salah satu yang menyifati cahaya. Cahaya itu sendiri apa?. Kalau cahaya sebagai gelombang, cahaya sebagai foton, cahaya tampak, cahaya… apa gitu….
    Makasih koreksinya ya….

    Suka

  58. haniifa said

    @Oom Agor
    Ha…ha…ha… kalau dia yang kelilipan… boleh kan skenarionya menjadi… :
    Umar bin khatab kelilipan… terus, musuhnya yang gantian mancung…
    Maka matilah singa Islam yang perkasa itu.
    (Jangan lupa koreksi dalam kisah ini, adalah Imam Ali), bukan Umar bin Khatab…

    Hua.ha.ha. 😀
    (sayah as siburuk sangak tea pelupa 😦 )
    Dimana mana juga yang mau di eksekusi :
    1. Hi.hi.hi.. mau dihukum tapi di kasih senjata 8)
    2. Hi.hi.hi.. mau dihukum tapi bebas berkeliaran 8)
    3. Hi.hi.hi.. mau dihukum tapi nggak ada penonton 8)

    Wassalam, Haniifa.

    @
    Lho ?, mas haniifa… mengingatkan saya sama tante Arthalita Suryani…
    Gurunya kejaksaan Indonesia…. atau konglomerat hitam putih, dari pada dihukum, mendingan diterma Presiden deh di Istana Negara.
    Bagaimana berputih sangka, kalau faktanya begitu ya….

    Suka

  59. haniifa said

    He.he.he… eh belon… hi.hi.hi. —::Tiktoktik:: 😀

    Suka

  60. haniifa said

    Hua.ha.ha. 😀
    Masak sayah berkumis dan berjenggot… kayak tante-tante
    (hi.hi.hi. ngguyu dulu yach )

    Suka

  61. madopolo said

    Mau dihukum tapi tdk bersalah
    Mau dihukum tapi disanjung
    Mau dihukum tapi nda ada penuntut
    Yaah BEBAS sebebasnya heheheh

    Suka

  62. haniifa said

    @Mas Agor berkata:
    Jadi ingat ketika Umar bin Khatab (kalau nggak salah), dia akan memancung kepala musuhnya, tapi terus musuh itu meludahi. Malah tak jadi Umar memancung. Mungkins sebabnya alasan yang menjadi pokok persoalan. Diludahi membuat beliau marah sehingga ada keraguan di hatinya, karena perang di jalan Allah dan diperangi atau karena marah….

    @Mas Haniifa berkata:
    (Namanya juga sejarah… mungkin saja dilanjutkan oleh Khalifah Ali bin Abi Talib)

    @Mas Madopolo berkata:
    Mau dihukum tapi tdk bersalah
    Mau dihukum tapi disanjung
    Mau dihukum tapi nda ada penuntut
    Yaah BEBAS sebebasnya heheheh

    Yang jelas masih relatif khan ?!

    Wassalam, Haniifa.

    Suka

  63. truthseeker said

    @Yureka

    Maaf mas Yureka sy cb meraba maksud mas.
    Pertama2 sy ingin menjelaskan konsep sy bhw Hukum Alam itupun merupakan Hukum Allah. Allah menciptakan alam semesta mmg diperuntukkan utk manusia, Maha Agung dan Maha Rahmat Allah menciptakan alam semesta yg bisa dimengerti oleh (akal) manusia (Ya Allah aku panjat puji & yukur yg setinggi2nya ke Hadirat-Mu atas Rahmat-Mu memberikan akal yg sempurna yg Engkau selaraskan dg alam semesta ini).
    Kita membahasakannya sbg hukum alam krn hukum tsb mengatur alam ini. Hukum diciptakan utk mengatur, mengatur dilakukan utk menghasilkan keteraturan, keteraturan selaras dg fitrah & akal. Secara fitrah manusia menyenangi/memuliakan keteraturan. Kita senang rumah yg teratur, kita kagum alam semesta ini begitu teratur, kt bedakan org2 yg bs berfikir dg teratur (mengikuti hukum2 berfikir).
    Posisi manusia dimana?
    Allah Maha Pencipta maka Allah mencipta.
    Allah Maha Sempurna maka penciptaan Allah adalah sempurna.
    Allah Maha Pengampun maka Allah menciptakan makhluk (manusia) yg bs berbuat dosa/salah (shg malaikat aja tdk cukup).
    Allah Maha Mendidik maka Allah ciptakan “kesulitan”.
    Allah Maha Pemurah & Maha Kaya sehingga Allah ciptakan alam yg kaya.
    Allah Maha Perkasa maka Allah ciptakan manusia yg merasa kuat pdhal sangat lemah.
    Allah Maha Mulia maka Allah ciptakan makhluk yg menyenangi kemualiaan.
    Allah Maha Suci maka Allah ciptakan manusia dg fitrah kepd kesucian.
    Allah Maha Rahmat & Kasih Sayang maka Allah ciptakan nikmat, rezeki, kesehatan dan kemudahan. Subhanallah betapa mudahnya kita bernafas.
    Allah Maha Adil maka Allah ciptakan semuanya berpasang2an.

    Dimana posisi manusia? Penyaksian? Menjalankan? Menemukan? Mencari? Menyempurnakan diri?
    Knp tdk cukup Malaikat yg menyaksikan? Knp tdk cukup jin yg menyaksikan?
    Malaikat tdk mampu merasakan kemaha pengampunan Allah.
    Jin tdk mampu menyaksikan kemaha kaya Allah.

    Dimana posisi manusia? Manusia menyaksikan, mencari menemukan, experiencing hukum gravitasi.
    Dimana posisi manusia? Manusia menjadi saksi paling sempurna dr Allah Yang Maha Sempurna.
    Subhanallah walhamdulillah walaa ilaaha illallah wallaahu akbar walaa haula walaa quwwata illaa billaah al-‘ali al-‘Azhim.

    Wassalam

    Suka

  64. yureka said

    terima kasih mas truthseeker.

    komen anda no:49
    “Bagi yg beriman akan tetap meyakini bhw terlahirnya kt adalah karena Allah, sdg bagi yg tdk beriman mk mrk menyatakan semua ini adalah kebetulan dan hanya mengikuti hukum alam”.

    komen no:63
    “Maaf mas Yureka sy cb meraba maksud mas.
    Pertama2 sy ingin menjelaskan konsep sy bhw Hukum Alam itupun merupakan Hukum Allah”.

    antara 2 komen diatas terlihat mas truthseeker tidak konsisten, dan saya memilih mendukung komen no:63.

    gravitasi, kekekalan energi,fisika newton, fisika kuantum dgn sub2 atomiknya, astronomi, dlsb. bagaimana mas truthseeker menjelaskan bila direlasikan dengan Hukum sebab akibat.

    Suka

  65. truthseeker said

    @Yureka

    Maaf kl saya gak nyambung. Terima aksih sdh mengingatkan. 🙂
    Mas Yureka (bukan Eureka yaa?.. 🙂 ) Sebagaimana saya jelaskan bhw hukum alam adalah juga Hukum Allah bagi kita yg beriman, tp bagi mrk yg mengingkari existensi Tuhan hukum alam tdk masuk sbg Hukum Allah. Dan sy sdh cb jelaskan bhw hukum alam adalah hanya masalah pembahasaan pd hukum2 yg mengatur alam semesta, bagi kita yg beriman mengimani bhw hukum/pengturan alam itu oleh Allah, bagi yg ingkar itu ada dg sendirinya (koq bisa yaa..?)

    Bagaimana semua hukum itu dikaitkan dg hukum sebab akibat? Wahhh susah amat mas nanyanya.. 🙂 apalg sy bukan seorg ahli fisika.
    Cuma jd gatal utk jawab (mohon rekan2 koreksi jk salah).
    Saya sendiri sebetulnya blm pernah mendengar yg mas sebutkan itu dikaitkan dg hukum sebab akibat, krn bagi saya eduanya adalah 2 hal yg berbeda. Secara fitrah manusia menuntut adanya hukum sebab akibat, tdk adanya kontradiksi (shg Allah menantang manusia utk menguji AQ dr tdk adanya kontradiksi, dan tdk dr apakah sesuai dg science atau tdk. Allah jg mempertanyakan manusia yg tdk mengikuti hukum sebab akibat). Krn AQ (islam) tdk bertentangan dg akal (hukum2 yg menjadi fitrah manusia) mk AQ berlaku dlm segala jaman.
    Kaitan yg bs saya ajukan hanyalah bhw semua hukum2 td misal gravitasi adalah merupakan sebuah akibat dan jg menjadi suatu sebab antara. Gravitasi muncul akibat adanya massa yg besar (yg mn dlm partikel2nya terjadi tarik menarik), gravitasi menjadi akibat dr adanya massa, dan gravitasi menjadi sebab jatuhnya semua benda (Dua buah benda/masa/partikel saling mempengaruhi yang dipengaruhi oleh masa dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antara kedua benda itu, gaya-gaya gravitasi yang saling mempengaruhi dan percepatan sehingga benda kecil tertarik oleh yang lebih besar atau beredar pada garis edarnya – seperti tata surya, agor.).
    Jadi keseluruhan alam semesta ini tdk akan terlepas dr hukum sebab-akibat, dan sbg Maha Penyebab adalah Allah.

    *betapa memalukannya manusia yg berbangga dg kelebihan2nya pdhal mrk hanyalah akibat*

    Wassalam

    Suka

  66. yureka said

    Surat 2 ayat 124

    dan ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya aku menjadikanmu IMAM bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”.

    Suka

  67. truthseeker said

    @Yureka
    Comment 66 mksdnya apa nihh..? 🙂
    Saya komentarin yaa, saya anggap aja berhubungan dg diskusi kt sebelumnya… :mrgreen:
    1. Secara fitrah manusia membutuhkan keteraturan, keteraturan membutuhkan hukum dan pemimpin shg tdk sedikit kita menemukan ayat2 yg berbicara ttg kepemimpinan. Jadi kesimpulannya hukum alam menuntut manusia utk mencari/membutuhkan pemimpin.
    Sebagai kesimpulan jg adalah pd saat kt tdk mempunyai pemimpin mk yg terjadi adalah ketidakteraturan, kebingungan dan kedzaliman.

    2. Kepemimpinan ada kriterianya bergantung siapa/apa yg dipimpin dan hukum apa yg diusung.

    3. Dan sesuai dg hukum sebab-akibat, kita tdk boleh heran/sedih jika ada suatu institusi kacau balau ktk tdk ada pemimpin atau salah memilih pemimpin.

    4. Dilain pihak (ktk fitrah menuntut adanya keteraturan dan kepemimpinan) ternyata nafsu/ego manusia menuntut kebebasan, tdk mau diatur, dan kesombongan+kedengkian shg enggan ada org lain lebih dr mrk. Dari sebab2 ini muncul akibat yaitu terjadi tarik menarik antara ingin teratur dan keinginan tdk diatur => stress..!!!

    Wassalam.

    @
    Kadang, tidak mudah kita melihat keteraturan dalam sistem. Kerap juga rumusannya menjadi rumit, tergantung dari skala mana kita melihat atau mengamatinya. Menjelaskan secara matematis biasanya lebih mudah (karena dirumuskan). Sederhananya kita melihat deret :
    1 , 2 , 3, 4, 5, 6 -… – n dimana n adalah bilangan. Kita sebut teratur karena berselisih 1
    kalau
    1, 2, 3, 4, 100, 5, 6, 7, 8, 200 ….. n, m kita juga melihat adanya keteraturan juga
    tapi
    jika bilangannya hanya sampai digit ke 9, kita menyebutnya sebagian teratur, padahal sebenarnya teratur sepenuhnya.

    hanya sekedar catatan saja 😀

    Suka

  68. haniifa said

    Assalamu’alaikum,
    @All
    Saya teringat pertanyaan menarik soal shalat wajib 5 waktu, tidak disebutkan dalam Al Qur’an:
    Duhhh… mudah-mudahan Allah mengampuni saya yang lalai dalam menjawab, Amin.

    Mohon maaf bagi penanya saya hanya bisa menyajikan sbb:

    [QS 11:114] Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.

    [QS 2:238] Peliharalah segala shalat (mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk.

    [QS 17:78] Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).

    [QS 50:40] Dan bertasbihlah kamu kepada-Nya di malam hari dan setiap selesai shalat.

    [QS 62:9] Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

    Wassalam, Haniifa.

    @
    Interpretasi shalat 5 waktu dari ayat ini, sebenarnya begitu mudah lho. Kita ikuti saja contoh Nabi. Kegiatan ritual ibadah ini adalah kegiatan yang sejak diperintahkan tidak ada jeda seharipun. Tidak seharipun ada jeda. Dari saat ke saat, dari generasi ke generasi, di seluruh bagian kehidupan ummat Muhammad dilaksanakan. Interpretasi yang dipahami adalah seperti yang dilakukan oleh Nabi, yang dilihat oleh yang memiliki daya ingat tajam, yang lemah, yang anak-anak, yang muda, yang tua. Yo, nekad lah kalau menganggap Nabi salah mengerti petunjuk AQ (yang diterima kalbunya) 😀

    Kalau ada dan ada memang yang menginterpretasikan (menafsirkan) hanya 3 waktu, jelas contoh Nabi tidak begitu. Lha kalau Nabi keliru menginterpretasikan dan para pengikutnya yang mengikuti sejak ratusan tahun yang lalu, sedang tidak ada satu haripun yang terputus… piye toh… 😀 atau kalau bukan nabi, ya pengikutnya yang keliru?. Padahal contoh kegiatan dilakukan tanpa ada seharipun jeda, bahkan pada masa peperangan sekalipun

    Ini berbeda dengan periwayatan kisah atau petunjuk lain yang disebutkan dalam ragam hadis, ada jeda waktu, ada jeda pencatatan.

    Suka

  69. haniifa said

    Assalamu’alaikum,
    @All
    Saya teringat lagi selain soal shalat wajib 5 juga menanyakta tatacara berhaji, tidak disebutkan dalam Al Qur’an:
    Duhhh… mudah-mudahan Allah mengampuni saya yang lalai dalam menjawab, Amin.

    Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surah Al Baqarah 125
    ——————————–
    Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang iktikaf, yang rukuk dan yang sujud”. [QS 2:125]

    Duhh.. ternyata selain Nabi Ibrahim a.s dan Nabi Ismail a.s ada juga yang diperintahkan SHALAT (padahal Nabi Muhammad s.a.w belum lahir)
    [QS 3:39] Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang shaleh.”

    Wassalam, Haniifa.

    Suka

  70. haniifa said

    Assalamu’alaikum,
    @All
    Wahhh… ternyata Nabi Musa a.s juga diperintahkan SHALAT

    [QS 10:87] Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya: “Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu tempat shalat dan dirikanlah olehmu shalat serta gembirakanlah orang-orang yang beriman”.

    Wahh… satu lagi ?!

    [QS 24:56] Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada rasul, supaya kamu diberi rahmat.

    Kalau tidak salah…. TAATLAH KEPADA RASUL
    1. Nabi Ibrahim a.s := Rasulullah.
    2. Nabi Daud a.s := Rasulullah.
    3. Nabi Musa a.s := Rasulullah.
    4. Nabi Isa a.s := Rasulullah.
    5. Nabi Muhammad s.a.w := Rasulullah

    Kalau begitu BENAR-BENAR BETUL perintah SHALAT sejak jaman Nabi Ibrahim a.s yang kita kenal saat ini, memang ada didalam AL QUR’AN.

    Wassalam, Haniifa.

    Suka

  71. Anonim said

    @Mas Agor
    Alhamdulillah…
    Saya baru ingat yang menanyakan adalah @Mas Madopolo yang menanyakan soal shalat dan berhaji tidak ada dalam Al Qur’an… selanjutnya sayah bukan ahlinya jadi jawaban saya sekedarnya saja. Mohon maaf mas Agor

    Wassalam, Haniifa.

    @
    Alhamdulillah, saya juga bukan ahlinya.
    Namun, dalam urusan ibadah formal, jelas kita memiliki Nabi yang menjadi teladan yang begitu sinambung dari waktu ke waktu, dari jam ke jam, dari hari ke hari, dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun yang dijalankan bersama ummatnya. Dengan demikian konsep ibadah formal itu begitu kokoh terpelihara karena saksi dan pelaksana, yang menuliskan petunjuknya dari masa ke masa juga melakukan ibadah formal ini.
    Petunjuk AQ untuk taat pada Rasul untuk kasus ibadah formal itu adalah simpul yang periwayatan dan pelaksanaannya sangat kokoh.

    Ini yang membedakan dari penjelasan yang hanya diucapkan atau didengar, sehingga kualitas dan penipuan atas nabi mudah berlangsung, tapi tidak dengan urusan ini.

    Setuju kan mas, pada logika ini…. 😀

    Jawaban Mas menurut saya ekselen saya hanya menambahkan karena merasa untuk urusan ini, hadits yang diriwayatkan dan keberlangsungan peristiwa tidak bisa diabaikan atau digugurkan begitu saja.

    Soal caranya… he…he..he… agor juga masih belajar….

    Suka

  72. truthseeker said

    Fitrah pula bhw alam semesta mengenal derajat. Begitu pula dg keteraturan, kemampuan manusia dlm mengenali keteraturanpun memiliki derajatnya sendiri. Sangat logic, sangat acceptable (oleh akal) ada org lain lebih tinggi derajatnya dr diriku.
    Mudah ataupun susah utk mengenali keteraturan tetap saja dikatakan keteraturan. Dan bukankah begitu banyak manusia genius mengahbiskan waktunya utk mengenali keteraturan2 tsb, semakin sulit ditemukan semakin menarik (bukankah Allah yg menciptakan ketertarikan tsb?).

    Wassalam

    @
    betul Mas, sesuatu tampak sebagai kekacauan, ketika diamati, sebenarnya ada pada satu skala keteraturan jua. Analisis kita menyebut sebagai kekacauan, tapi ketika ditelaah, yang sedang terjadi adalah sebuah siklus dari keteraturan yang mengagumkan.
    Bahkan dalam banyak kasus, justru tiada ada yang namanya pemimpin, tapi gaya terdekatlah yang mempengaruhi satu terhadap lainnya. Namun, tentu saja kita tidak menafiikan pada proses sosial mahluk hidup yang diamati, kepemimpinan itu ada dan menunjukkan ketaatannya.
    😀

    Suka

  73. truthseeker said

    @Agor

    Kalau ada dan ada memang yang menginterpretasikan (menafsirkan) hanya 3 waktu, jelas contoh Nabi tidak begitu.

    Sebetulnya tdk ada yg berbeda diantara keduanya. Kesalahannya hanya pd salah paham bahasa. Lagi2 problem bahasa.. 🙂
    Mereka yg menyatakan 3 waktu mendasarkan pd ayat AQ. Sedangkan yg menyatakan 5 waktu salah paham dlm penggunaan bahasa. Rasul shalat wajib 5 kali 3 waktu. Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya.

    Waktu 1 (terbit fajar) : Subuh
    Waktu 2 (tergelincir matahari): Dzhuhur & Ashar
    Waktu 3 (gelap malam) : Maghrib & Isya

    Apakah Rasul shalat wajib 5 kali? iyyaa, apakah shalat yg 5 kali itu dilakukan di 3 waktu (sesuai AQ) ?? iyyaa..juga.

    Wassalam

    @
    😀
    makin jelas…
    alhamdulillah….

    Suka

  74. madopolo said

    @Yureka
    Semua yg berada dikeliling kita sampai pd penciptaan manusia berhubungan dg SEBAB dan AKIBAT. Apa sebab manusia diciptakan? Dan apa akibat dari Penciptaan Manusia.
    Mengapa Nabi Ibrahim sesudah dicoba baru Allah hendak memberi pangkat IMAM. Apakah kedudukan IMAM lbh tinggi dari Nabi. Klu melihat ayat tsb YA.
    @All
    Waktu bukan menentukan jumlah waktu shalat. Waktu hanya membatasi jumlah shalat kita. Rasul Shalat sampai dengkul beliau bengkak. Dan Allah tdk membutuhkan shalat kita. Kita yg setiap detik membutuhkan Allah melalui shalat. Wasalam

    Suka

  75. haniifa said

    @Madopolo
    Kita yg setiap detik membutuhkan Allah melalui shalat

    Berarti saudara waktu ngetik koment 74 tidak membutuhkan Allah ?!

    Suka

  76. madopolo said

    @Haniifa
    Apa sih SHALAT itu menurut anda? Apakah badan kita naik turun aja?
    Shalat yg kita laksanakan dg arti bahasa Indonesia sembahyang adalah salah satu cara mensyukuri nikmat Allah dgn lbh khusu. Sedangkan saya mengetik ini termasuk bagian dari shalat yakni mencari ilmu utk mendekatkan diri pd Allah. Wasalam

    Suka

  77. haniifa said

    Hei… @Madopolo si dengkul bekak
    Rasul Shalat sampai dengkul beliau bengkak khusyu.

    Coba simak komentar @Mas Truthseeker… No:73
    ———————————————
    Waktu 1 (terbit fajar) : Subuh
    Waktu 2 (tergelincir matahari): Dzhuhur & Ashar
    Waktu 3 (gelap malam) : Maghrib & Isya

    Apakah Rasul shalat wajib 5 kali? iyyaa, apakah shalat yg 5 kali itu dilakukan di 3 waktu (sesuai AQ) ?? iyyaa..juga.
    ———————————————–

    Firman Allah subhanahu wa ta’ala
    [QS 74:30]
    Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga).

    Sembilan belas := 19
    Subhanallah…..
    “Bismillaahir rahmaanir rahiim“ := berbasis 19 huruf hijahiyah

    Silahken baca sama sampean di sinih —::dengkul::
    [QS Index 0] := 1… 1… 2 ======= 1+1+2 := 4
    [QS Index 1] := 1… 2… 3 ======= 1+2+3 := 6
    [QS Index 2] := 2… 3… 4 ======= 2+3+4 := 9

    Sehingga:
    4 + 6 + 9 := 19 (Sembilan belas)… Clear 😀

    Firman Allah subhanahu wa ta’ala
    [QS 4:101] Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu menqashar shalat(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.

    Perhatikan posisi angka empat (4)
    1+1+2
    1+2+3
    2+3+4
    *) Yang tunggal hanya angka 4, yang lain jamak
    ==) Diagonal kanan atas-kiri bawah := 2-2-2

    Cari hadits yang saudara fahami, mengenai shalat yang di qashar
    Adapun shalat yang dapat diqashar adalah shalat dzhuhur, ashar dan isya, dimana raka’at yang aslinya berjumlah 4 dikurangi/diringkas menjadi 2 raka’at saja.

    Alasan abstraksi matematis shalat yang di qashar *) “empat rakaat” :

    Qashar Dzhuhur := 4 – 2 := 2
    Qashar Ashar.. := 4 – 2 := 2
    Qashar Isya… := 4 – 2 := 2

    Sehingga….
    Qashar( Dzhuhur – Ashar – Isya ) := 2 – 2 – 2
    ==) Diagonal kanan atas-kiri bawah…. Clear 😀

    Kesimpulan:
    Apakah Rasul shalat wajib 5 kali? iyyaa, apakah shalat yg 5 kali itu dilakukan di 3 waktu (sesuai AQ) ?? iyyaa..juga.

    Komentar @Mas Truthseeker… Insya Allah terbukti secara matematis… Clear 😀

    Wassalam, Haniifa.

    Suka

  78. haniifa said

    Hei… @Madopolo si dengkul bengkak

    Coba perhatiken padaku operasi matematis anak teka ini:

    a. 4 – 2 := 2 atawa 4 / 2 := 2 …. Clear 😀
    b. 2 + 2 := 4 atawa 2 * 2 := 4 …. Clear 😀
    (baca: hanya belaku untuk 4 dan 2)

    Jadi pahalanya :
    4 rakaat shalat wajib sebanding dengan Qashar 2 rakaat shalat wajib.

    Wassalam, Haniifa.

    Suka

  79. haniifa said

    Sekarang kita buktikan secara bahasa “komentar si dengkul bengkak”

    Komentar no:76
    Apa sih SHALAT itu menurut anda? Apakah badan kita naik turun aja? …bla..bla..bla
    Sedangkan saya mengetik ini termasuk bagian dari shalat

    Komentar no:74
    Rasul Shalat sampai dengkul beliau bengkak

    Rasul kepasar bagian dari shalat := dengkul bengkak
    Rasul bersenda gurau dengan istri-istrinya bagian dari shalat := dengkul bengkak
    Rasul kepasar bagian dari shalat := dengkul bengkak
    Rasul berperang bagian dari shalat := dengkul bengkak
    Rasul merenung bagian dari shalat := dengkul bengkak

    Tapi abrakada… braheho si @Madopolo
    Ngetik bagian dari shalat := dengkul tidak bengkak tapi bengkok 😀
    Cengengesan bagian dari shalat := dengkul tidak bengkak tapi bengkok dan bengkak

    Wushhhh…. lebih hebat dari pendekar wiro bengkak 😀

    Suka

  80. haniifa said

    @Madopolo

    [QS 2:238] Peliharalah segala shalat (mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk.

    Shalat wusthaa ialah shalat yang di tengah-tengah dan yang paling utama.
    Ada yang berpendapat :
    1. shalat wusthaa ialah shalat Ashar.
    2. shalat wusthaa ialah shalat Subuh.

    Sampean “masih teka” bicara soal shalat… coba tunjukan kepada saya baik secara teori “Truth Claims” atau “False Claims”

    Menurut pemahaman @Haniifa.
    1. Shalat Wusthaa adalah Shalat Ashar…. BENAR
    2. Shalat Wusthaa adalah Shalat Subuh…. BENAR

    Bagaimana ?!

    Wassalam, Haniifa.

    Suka

  81. yureka said

    @ madopolo.
    sedikit bergeser dari tema dikit.
    saya punya cerita. sekitar 2-3 tahun lalu kami pernah dikunjungi 4 tokoh yg begitu piawai dalam quran, ke-4nya masing2 punya keahlian khusus baik bahasa,mukjam,sejarah dll. kesemuanya mengerucut pada pemahaman sholat, haji dan semua bentuk pengertian yg sama sekali berbeda dgn kami. Saya sholat 5 waktu seperti apa adanya saudara yg lain, tapi para tamu kami memahami PERSIS seperti yang mas madopolo pahami. 2 hari kami berdiskusi, kami berikan mereka akomodasi yg sangat standart. Mereka menamakan diri kelompok Harapan Jaya, dgn pemimpin mr Alexander Matius Suganda. Harus saya akui mereka menguasai benar angka2 ayat, bahasa dst. walhasil mereka pulang dgn tangan hampa. dan sejak awalpun kami tidak beranggapan itu sebuah rencana Infiltrasi. bicara infiltrasi jadi inget jaman pak Harto, bawahan2nya suka bilang “ditunggangi”.

    @
    Mas Yureka, kalau berkenan lho, bisa dijelaskan apa yang dimaksud dengan “pulang dengan tangan hampa”, apa yang dipahami berbeda?. Namun, kalau dianggap sensitif, tentu saja saya dapat diuraikan melalui email saja ke agorsiloku7@gmail.com
    Terimakasih ya atas ke sudian Mas Yu.
    Apakah diskusinya di Solo?

    Suka

  82. yureka said

    mas madopolo
    pengambilan ayat2 untuk menjelaskan sholat dari @haniifa sudah baik untuk menjelaskan anda.

    sedikit saya tambahkan :
    – sholat sebagai wahyu praktek : 33:43, 2:128
    – sholat 5 waktu : 24:58, 11:114, 17:78, 84:16, 73:1-4, 74:34-35, 4:101-103, 34:46, 2:203, 4:102-103
    – Nabi Hud sholat : 11:50
    – Nabi Sholeh sholat : 11:61
    – Nabi Isa sholat : 19:31
    – Nabi Ibrahim sholat : 14:40
    – Nabi Ismail Sholat : 19:55
    – Nabi Idris Sholat : 19:56-57
    – Nabi Musa Sholat : 10:87
    – Nabi Ishaq sholat : 21:72-73
    – Nabi Nuh sholat : 71:3
    – Nabi Adam sholat : 3:59
    – Maryam sholat : 3:43
    – Nabi Yakub sholat : 21:72-73

    surat 3 ayat 19
    “Sesungguhnya AGAMA DISISI ALLAH ADALAH ISLAM. tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab[189] kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya”.

    agama disisi Allah Islam dgn segenap System yg sempurna sejak dulunya, dan tidak ada perubahan sedikitpun. tidak ada yg disempurnakan di masa Nabi tertentu atau siapapun kecuali Islam sudah sempurna sejak mulai Allah mendirikan semesta.Universal.

    Sehingga benar bila semua Nabi sejak Adam sudah diperintah untuk menjalankan sholat 5 waktu,zakat,puasa dst, persis sama dgn yg sekarang.

    Untuk direnungkan :
    bagaimana esensi NILAI dari cerita isromi’roj sebagai peristiwa turunnya wahyu sholat ?

    @
    Mohon koreksi :
    Agama Islam di sempurnakan pada masa kenabian Muhammad.
    Setiap ummat, diberikan cara ibadah yang berbeda. Maksudnya kaum Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, sampai Nabi Isa berbeda dengan Nabi Muhammad. By the time, ada perubahan dalam keselarasan dengan akal manusia.
    agor

    Suka

  83. yureka said

    @agorsiloku.
    jelas pada akhirnya kami berbeda. itu tidak masalah. saudara2 dari harapan jaya tidak bisa meyakinkan kami bahwa pola pemahaman yang selama ini mereka pegang benar. Bahkan sebaliknya (menurut kami) saya bersama saudara2 di sini bisa mengkonter balik semua pemahaman itu.

    @
    Memang tantangannya, apakah kita bersama-sama dalam cara pandang yang berbeda bisa melihat cahaya kebenaran yang sama. Perbedaan kadang begitu menyolok dan mendalamnya, sehingga satu dengan yang lain saling menutupi, bahkan ujung-ujungnya saling memusuhi. Kita mengetahui benar bahwa sejarah gelap Islam, dalam perjalanannya boleh dikata (menurut agor) berpolemik pada hal-hal esensial mengenai kepemimpinan dan prosesi akal (dalam memahami urusan agama). Sebagian pemahaman begitu membenci pada akal, sebagian lain menutup pintu akal, dan sebagian lain terpesona oleh kepimimpinan sebagai hujjah utama.
    Namun, persoalan bagi berpikir adalah bukan mengkounter balik semua pemahaman itu, namun dengan santun, apakah kita punya kemampuan untuk melihat sumber dari segala sumber itu dengan pada saat yang sama mengatasi gejolk nafsu dengan berpegang kuat pada AQ?.

    Suka

  84. haniifa said

    @Yureka
    Untuk direnungkan :
    bagaimana esensi NILAI dari cerita isromi’roj sebagai peristiwa turunnya wahyu sholat ?

    “Esensinya bukan tawar-menawar jumlah rakaat Shalat

    Wassalam, Haniifa.

    Suka

  85. yureka said

    Bukan tawar menawar JUMLAH rekaat sholat ????
    Jadi tetep menerima perintah sholat di momen itu ????
    bisa dijelasne lebih rinci !!

    Suka

  86. haniifa said

    Jadi tetep menerima perintah sholat di momen itu ???? 😀

    MANA YANG LEBIH DULU WAHYU TURUN:
    ini tulisan saudara sendiri :
    – sholat sebagai wahyu praktek : 33:43, 2:128
    – sholat 5 waktu : 24:58, 11:114, 17:78, 84:16, 73:1-4, 74:34-35, 4:101-103, 34:46, 2:203, 4:102-103
    – Nabi Hud sholat : 11:50
    – Nabi Sholeh sholat : 11:61
    – Nabi Isa sholat : 19:31
    – Nabi Ibrahim sholat : 14:40
    – Nabi Ismail Sholat : 19:55
    – Nabi Idris Sholat : 19:56-57
    – Nabi Musa Sholat : 10:87
    – Nabi Ishaq sholat : 21:72-73
    – Nabi Nuh sholat : 71:3
    – Nabi Adam sholat : 3:59
    – Maryam sholat : 3:43
    – Nabi Yakub sholat : 21:72-73

    BERDANDING DENGAN SOAL….
    bagaimana esensi NILAI dari cerita isromi’roj sebagai peristiwa turunnya wahyu sholat ?

    Bagaimana ?!

    Bisa dijelasken berdasarken… ken 😀

    Suka

  87. yureka said

    jelas berbeda :

    dari yureka : selama ini orang menganggap esensi isromi’roj sebagai peristiwa muhammad menerima wahyu sholat, benarkah begitu ??

    dari haniifa : selama ini esensinya bukan tawar menawar jumlah rekaat sholat. Jadi tetep ada peristiwa pemberian wahyu sholat.

    khan begitu, jelas beda dong !!!

    Suka

  88. haniifa said

    @Mas Ngenyel

    Lha iya… bukan esensi berarti bukan ensensi 😀

    Nehhh…
    1. Yahudi := Sabtu
    2. Nashrani := Minggu
    ——————— –
    Isra Mi’raj := faktor koreksi takwil manusia -2

    Shalat Wusthaa := pertengahan dalam tanda kutip.
    Jemaat Nashrani := Minggu …. -1
    so
    Jemaat ?!= Sabtu

    Jemaat Yahudi := Sabtu… -1
    Jemaat ?! = Jum’at… (-1) + (-1) := -2… Clear 😀

    Jemaat persis sekali dengan Jum’at := Artinya berjamaah Shalt dihari Jum’at
    Waktu Shalat Jum’at := Waktu Dzhuhur
    Jumlah Rakaat Shalat Dzhuhur := 4
    Jumlah Rakaat Shalat Jum’at := 4 – 2 := 2 …. Clear 😀

    So….
    1. Shalat wusthaa := Shalat yang di Qashar Dzhuhur, Ashar dan Isya ( 2 rakaat )
    2. Shalat wusthaa := Shalat Subuh (2 rakaat).
    3. Shalat wusthaa := Shalat Jum’atan (2 rakaat).

    Shalat Subuh := Titik tengah dari malam ke siang … Clear 😀
    Shalat Jum’at := Titik tengan dari per 7 hari satu minggu… Clear 😀
    Shalat Ashar := Titik tengah dari 4 rakat Dzhuhur ke 4 rakaat Isya… Clear 😀

    Wassalam, Haniifa.

    Suka

  89. haniifa said

    Heh… @mas Ngenyel

    Takwil := -2 —::Click::

    Suka

  90. yureka said

    cuma kaya’ gitu thok ??

    Suka

  91. haniifa said

    PR yach ?! (baca: khusus anak teka @Mas Ngenyel 😀 )

    Kanapa dalama Al Qur’an ada surah Al Jum’uah (arti harafiah jum’at) ?! Salah satu kunci jawaban

    Tentu Allah subhanahu wa ta’ala begitu menggaris bawahi dalam tanda kutip, Bukan ?!

    Wassalam, Haniifa.

    Suka

  92. haniifa said

    Heh… anak teke… eh sale … teka ngenyel 😀

    cuma kaya’ gitu thok ??

    Saya haniifa seorang yang tidak bisa itung-itungan, maklum nggak makan sekolah… (hi.hi.hi. makanannya roti sumbu := ubi 😀 ) dan hidup dikampung kumuh pinggir hutan dan gelap gulita…. wahhh pokoke susaahhhh dech…. Nggak ada kaleder

    Tapi setiap selesai shalat Jum’atan jadi bisa itung hari… Oyon.
    (walaupun sayah “budukan” dan “ngga bisa baca tulis” sepinter sampean)

    Hayooo… kerjakan PR 😀

    Suka

  93. haniifa said

    Kloning… eh sale … kloneng kloneng .. bell berbunyi !!!

    Udah-udah kumpulken…. dan lupaken soal NO:86, nggak bisa jawab khan ?! 😀

    (hi.hi.hi… mantan guru honorer sekola desa ditunggu mantan ratu kecanti-an, super bahenol… )

    Suka

  94. madopolo said

    @Haniifa
    Saya tak pernah mengatakan sembahyang itu berapa waktu. Coba anda buka Kamus ALMUNAWIR dan cari apa arti kata SHALAT dlm tulisan bahasa Arab. Dlm Isra’ Mi’raj tdk ada tawar penawar dlm Shalat. Sidengkul BENGKAK itu hanya dialami Rasul baca Hadis Buchari. Jd klu anda katakan SIDENGKUL BENGKAK maka kata2 itu anda tujukan utk Rasul yg Suci dan Agung. Hamba Allah yg menyebabkan kita memeluk ISLAM. Wasalam

    Suka

  95. haniifa said

    @Madopolo
    Esensi dari Hadis Buchari mengenai yang mas sebut adalah “Walaupun dalam keadaan bengkak dengkulnya Rasulullah tetap menjalankan ibadah shalat seperti orang normal, dan dalam keadaan khusyuk shalat sehingga beliau lupa keadaan kondisi kakinya”
    Disisi lain mungkin jika beliau dalam keadaan sakit agak parah sehingga tidak bisa berdiri maka shalatnya sambil tiduran !!”

    Mohon maaf @Mas Madopolo, hanya itu yang saya fahami.

    Wassalam, Haniifa.

    @
    esensi dari kisah yang menyangkut kekhusyuan Nabi dalam beribadah, permohonan ampunan selaku hamba dan pemimpin, kekhawatiran kepada ummatnya dalam berbagai periwayatan, saya kira menunjukkan betap Rasul yang sudah dijamin oleh Allah saja, menyediakan waktu begitu banyak waktu untuk beribadah kepada Allah.
    Sedangkan, agor yang jelas tidak ada jaminan… malah santai-santai saja, seolah sudah ada yang menjamin masuk surga. Padahal, kalau karena amal ibadah yang dilakukan tidaklah ada tempat untuk menerima surga. Kalau bukan karena ampunan (dan Allah menjelaskan ciri-ciri agar peluang ini diberikan) maka kelamlah masa depan agor.
    Semoga Allah ampuni dosa yang selalu saja tumbuh saling silang.

    Mari kita melihat esensinya, jangan terpaku tekstualnya, kalau berkenan 😀

    Suka

  96. madopolo said

    @Haniif
    Sama2 saya jg mita maaf klu sampai ada kata2 yg salah. Saya tdk bermaksud apa kecuali kita sama2 menemukan kebenaran. Wasalam

    Suka

  97. aricloud said

    Assallammu’alaikum

    Ketika sempat berdiskusi singkat di blognya daengfatah, saya menangkap bahwa titik utama perbedaan orang beriman dengan atheis adalah bahwa mereka tidak percaya sama sekali dengan hal ghaib. Menurut mereka, Hal Ghaib adalah semua hal yang belum dapat dibuktikan oleh Ilmu Pengetahuan. Sehingga dalam definisi tersebut tidak ada Logika Tuhan, yang ada adalah Logika Ilmu Pengetahuan.
    Jadi seluruh kejadian ghaib, misalnya tentang makhluk halus (jin) hanyalah karena Iptek belum mampu menjangkaunya, namun jika suatu saat IPtek dapat memecahkannya maka niscaya tidak ada lagi hal Ghaib di dunia ini. so…benarlah firman Allah bahwa dengan “Perumpamaan-Nya” manusia dapat mendapat hidayah ataupun malah tambah ingkar. Manusia mengkaji seekor lalat, ada yang dengan lalat itu mereka beriman, namun ada juga yang karena lalat mereka malah tambah ingkar…

    Namun terlepas dari itu semua, tentu saja orang beriman lebih punya potensi lebih beruntung dibanding orang Atheis.
    Mengapa? Karena :
    1. Jika orang Atheis benar (Tidak ada Tuhan), maka orang Atheis dan Orang beriman kedua-duanya tidak rugi.
    2. Jika orang beriman benar (Tuhan Ada), maka orang beriman insya Allah beruntung, namun sebaliknya Atheis pasti Masuk Neraka.

    Dalam bisnis saja, jika ada 2 hal dimana Hal pertama tidak rugi dan tidak untung, namun Hal kedua tidak rugi namun ada peluang untuk untung, maka tentu saja kita lebih memilih Hal Kedua yang punya potensi untung.

    Jadi daripada jadi Atheis yang pasti tidak untung malah ada potensi rugi, mending beriman yang pasti tidak rugi namun punya potensi untung….sambil berdo’a semoga Allah membuka pintu=pintu hidayah-Nya

    @
    apalah dikata, sebuah pandangan yang datang dari prasangkaan baik….
    (mengapa pula harus membangun prasangkaan buruk?, siapa yang mengajarkan kita untuk berprasangka buruk ?) 😀

    Suka

  98. madzz said

    blog nya bagus sekali

    Suka

  99. yureka said

    @AGORSILOKU

    Kita (kami) memahami quran sebagai kehendak Allah yang tentu di dalamnya memuat pengajaran2 ttg system berpikir yang luar biasa yang mempunyai fleksibilitas unlimit. Keberadaan pemimpin merupakan keniscayaan yang berfungsi sebagai organizing, juga perlunya akal agar tidak terjerat pada pola 2 yg tdk qurani (pada pemimpin sekalipun).

    Harus ada kesadaran yang super serius antara samiknawatokna dengan taqlid buta. mengkonter balik jelas sangat penting untuk menunjukkan pola pandang yang berbeda. udara yang sejuk dari timur jauh lembah Lawu terlalu sejuk untuk membuat suasana bisa tegang, sedangkan kesantunan adalah tema lain yg menyertai selama diskusi. Orang “dewasa” pasti paham, gejolak nafsu tdk mungkin tampil manakala quran 100% ditampilkan. Semua berjalan dengan baik, serius, dan tenang. Dengan situasi dan bobot yang tidak berbeda saat beberapa tahun sebelumnya kami menerima kunjungan mr. Milioner phenomena.

    @
    Mas Yureka betul, mengkounter itu penting, namun di sini kerap keterjebakan kita dalam diskusi. Kadang ada ketuker, mengkounter untuk tujuan saling menjelaskan dan saling memahami. Namun, yang terjadi adalah adu ilmu dan mengfait acompli satu sama lain. Hasilnya, alih-alih bersaudara, malah bermusuhan… 😦

    Suka

  100. yureka said

    Mohon koreksi :
    Agama Islam di sempurnakan pada masa kenabian Muhammad.
    Setiap ummat, diberikan cara ibadah yang berbeda. Maksudnya kaum Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, sampai Nabi Isa berbeda dengan Nabi Muhammad. By the time, ada perubahan dalam keselarasan dengan akal manusia.
    agor

    @agorsiloku

    – Apakah maksud mas agor Islam belum sempurna sebelum era Muhammad ??
    – Apakah maksud mas agor saat Allah berkata “Agama pada sisiku adalah Islam” itu hanya dikatakan Allah saat era Muhammad ??
    – Apakah maksud mas agor Allah telah mengambil resiko dengan tatanan/hukum yang tidak sempurna dalam mengatur semesta ini sampai dengan abad 6 masehi ??
    – Apakah Islamnya Adam dan Islamnya Nuh dan Islamnya Ibrahim dan Islamnya Musa dan lain2 dan Islamnya Muhammad berbeda ??
    – Apakah maksud mas agor sholat, zakat, puasa,haji dll antar nabi berbeda ??

    Kalau memang demikian menurut pandangan mas agor, mohon ditunjukkan dengan dalil quran yang jelas. Saya yakinkan bahwa saya akan pasrah dengan semua ketentuanNYA.

    @
    Mas Yureka, yth.. maaf saya nggak bisa jawab segera karena lagi sibuk nih, tapi ingat saya ini dulu ya
    QS 22:67. Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari’at tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus.

    Allah menegasi tiap ummat, kaum memiliki prosesi yang berbeda-beda dan penyeruan Rasul kepada kaumnya sendiri, hanya AQ yang berposisi keseluruhan ummat manusia.
    Hari yang disucikan oleh tiap agama juga berbeda. Sabat Sabtu, jadi jelas relasi ibadahnya memiliki perbedaan.
    Lainnya, saya kira Mas Yu sudah lebih dari mengerti 😀

    Suka

  101. haniifa said

    Mari kita berkenan… 😀

    Esensinya( Esensinya( Esensinya( Esensinya( Esensi(Al Qur’an)).).).) ?!

    Suka

  102. haniifa said

    E-S-E-N-S-I

    – Nabi Hud sholat – (A) : 11:50
    – Nabi Sholeh sholat – (B) : 11:61
    – Nabi Isa sholat – (C) : 19:31
    – Nabi Ibrahim sholat – (D) : 14:40
    – Nabi Ismail Sholat – (E) : 19:55
    – Nabi Idris Sholat – (F): 19:56-57
    – Nabi Musa Sholat – (G) : 10:87
    – Nabi Ishaq sholat – (H) : 21:72-73
    – Nabi Nuh sholat – (I) : 71:3
    – Nabi Adam sholat – (J) : 3:59
    – Maryam sholat – (K) : 3:43
    – Nabi Yakub sholat – (L) : 21:72-73
    Subhanallah… Nabi Muhammad s.a.w Shalat-nya, Mana ?

    Jumlah hari cuma ada 7, macam shalat 12+ …
    Ahhh bingung sayah “*#$^*& ?!

    Who’s “mr. Milioner phenomena.” ?!

    Mari kita berkenan … 😀

    @
    Dosen UIN, Fahmi Bahsya yang memperkenalkan million phenomena….

    Suka

  103. madopolo said

    @All
    Kita meyakini Alqur’an yg disampaikan kepada kita umat Islam telah sempurna dan tdk perlu diragukan kebenarannya dan tidak ada satupun Ilmu atau akal manusia yg bisa membantah bahwa apa yg Allah katakan dlm Alqur’an itu SALAH. Contoh: Klu Allah katakan sesuatu itu Gaib maka sampai KIAMAT tetap Gaib. Dan sampai kapanpun tdk dpt dibuktikan. Klu Allah katakan NYATA maka itu pasti NYATA hanya kita blm mampu membuktikan.
    Saya tertarik akan kata2 mas Agor tentang perbedaan cara kerja mereka yg dulu dan kita sekarang. Seharusnya kita sekarang lbh pintar dari mereka yg dulu dlm soal beribadah kepada Allah. Krn banyak data2 yg telah disodorkan (walaupun msh banyak kita teliti kebenarannya). Hanya kemalasan kita maka kita tak mau meneliti. Kedua kita terlalu FANATIK dan TAKLIK. Ketiga kita takut pd KEBENARAN. Dan kelima sering mengikuti pikiran kita yg dipengaruhi oleh NAFSU/EGO. Saya sebenarnya senang dlm blog ini agar KEBENARAN bisa terungkap. Tapi apakah bisa? Wasalam

    @
    Wah… tapi saya senang dengan pernyataan ini. Blog ini memang dibuat dari ketidaktahuan dan keinginan tahuan. Memang pemilik blog punya atensi terhadap — khususnya sains — dan masalah yang berkenaan dengan agama.
    Dalam keseluruhan postingan yang ada di blog ini, ada yang terus terang saja, ingin agor hindari karena berbagai pertimbangan :
    Pertama, mengolok-ngolok keyakinan golongan lain yang berbeda secara agama. Termasuk yang tidak percaya agama. Kadang saya masuk ke site yang hobinya penuh caci maki, bukannya kenyamanan yang dirasakan, tapi hanya mengotori pikiran (yang sudah kotor ini 😀 )
    Kedua, membahas terlampau dalam penggolongan-penggolongan dalam agama dan melakukan pengelompokkan sebagai kebenaran hanya datang dari golongannya. Sejarah sudah cukup banyak menjelaskan kejadian yang menimbulkan permusuhan. Blog ini tidak berharap menjadi bagian yang memberikan kontribusi terhadap hal ini. Namun, pemahaman yang baik dan diharapkan santun diharapkan menjadi bagian dari usaha syiar, betapapun minimum dan tidak berartinya.
    Ketiga, keprihatinan karena cukup banyak pemahaman yang begitu biasa kita jelaskan, tapi keluar dari definisi AQ, misalnya kata Ghaib yang menjadi bagian dari pemahaman masyarakat secara umum atau sinetron ghaib.
    Keempat, mengedepankan akal dalam konteks sesuai petunjuk bagi orang-orang berakal.
    Kelima, tentu kontribusi dari berbagai pihak tanpa menghakimi sangat diharapkan. Mengapa tidak menghakimi, karena ya… bukan hakim, kita hanya mengajak berpikir, dan kalau keliru pikir ada yang berkenan meluruskan.
    Keenam, memang lebih fokus pada memahami AQ…
    Jadi, tentu saja kontribusi Mas dan tentu yang lain-lain selalu diharapkan.

    Suka

  104. haniifa said

    Wahhh… keren 😀
    Memang kalau sudah berjumpa dengan “Mr. Milioner”

    Apalah artinya @Mr Satu rupiah ini…

    Suka

  105. haniifa said

    Mohon koreksi :
    Agama Islam di sempurnakan pada masa kenabian Muhammad.
    Setiap ummat, diberikan cara ibadah yang berbeda. Maksudnya kaum Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, sampai Nabi Isa berbeda dengan Nabi Muhammad. By the time, ada perubahan dalam keselarasan dengan akal manusia.
    agor

    Kalau tidak salah, yach benar… 😀

    ** Nabi Adam a.s **
    ** Nabi Nuh a.s ***
    ———————–
    A. Nabi Ibrahim a.s… “sezaman dengan” B. Nabi Luth a.s
    …Nabi Daud a.s__________________________..Nabi ?!
    …Nabi Musa a.s__________________________..Nabi ?!
    …Nabi Isa a.s___________________________
    …Nabi Muhammad s.a.w ___________________…

    Group **:= Tidak jelas (baca: manuscript-nyah)
    Group A := Insya Allah, menurut Al Qur’an syari’atnya sama.
    Group B := Tidak jelas (baca: manuscript-nyah)

    Wassalam, Haniifa.

    @
    Dalam pemahaman saya, syariat adalah metode, tata cara dalam menjalankan agama. Esensinya sebagai agama tauhid adalah Islam dan itu diinformasikan oleh Allah sejak Nabi Adam sampai akhir masa.
    Karena itu meskipun esensi tauhidnya sama, Allah menetapkan syariat yang berbeda-beda pada setiap ummat/kaum seperti komentar kepada Mas Yureka yang dinyatakan oleh QS 22:67.
    Hukum Zabur, Taurat, Injil, dan Al Qur’an jelas memiliki syariat yang berbeda namun pada esensi tauhidnya sama.
    Pada beberapa komentar sebelumnya diuraikan juga, bahwa … disempurnakan dalam masa kenabian Muhammad. Asumsi ini dibangun karena dua hal : ayat yang menjelaskan telah dicukupkan dan disempurnakan agama dan kedua AQ sebagai rahmat untuk rahmat bagi semesta. Tidak dibatasi hanya untuk satu kaum saja. Saya kira kita semua memahami dengan baik hal ini.

    Suka

  106. haniifa said

    Atau maksudnya “By the time” adalah cukup..

    Nabi Nuh a.s <- Nabi Ibrahim a.s <- Nabi Isa a.s -< Nabi Muhammad s.a.w

    @
    😀
    pertanyaan seperti ini kurang lebih juga bisa berarti,
    Apakah AQ sudah dianggap Allah cukup sebagai petunjuk sampai masa akhir?.
    Mengapa Allah menuruntkan 4 kitab suci ke dunia (Zabur, Taurat, Injil, Al Qur’an).
    Mengapa ada Allah mengabarkan telah Kusempurnakan…

    Saya punya anggapan bahwa tahapan turunnya petunjuk sampai pada tingkatan lebih muncul karena adanya keselarasan dengan akal manusia. Karena itu, saya gunakan kata by the time (salah ya). Tapi maksudnya gitu, salah ya…

    Suka

  107. Dono. said

    Ass.wr.wb,pak Agor.

    Akhirnya tanpa kita sadari benarlah sabda rasulallah:
    seorang hamba melahirkan tuannya.
    Bahwa seorang hamba lebih hebat dari pada yg maha pencipta sehingga tidak memerlukan Tuhannya lagi untuk mengatur segala urusan didunia dengan kata lain melupai Dia.

    Wassalam.Dono.

    @
    Wass.wr.wb.
    Inilah kehebatan penemuan? Tidak sedikit manusia karena penemuan dan pengertiannya bertambah maka pemahaman materialistiknya semakin kuat dan semakin yakin bahwa tidak ada campur tangan Tuhan di dalamnya. Semua itu adalah pekerjaan alam saja.
    Sebaliknya, seorang beriman bertutur pada konsep berbeda… Sungguh tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia dan ampunilah kami dari siksa api neraka.
    Jadi, cara pandangnya berbeda, cara menyikapinya juga berbeda.
    Wass, agor

    Suka

  108. haniifa said

    Jadi teringat firman Allah subhanahu wa ta’ala :
    ________________________________________________
    [QS 5:100] Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.”

    [QS 2:216] Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

    Wassalam, Haniifa.

    @
    🙂 saya memahami ini dalam konteks untuk orang beriman ketika mendapatkah ujian dari Allah SWT.

    Suka

  109. yureka said

    @agorsiloku n all

    tentang arena diskusi ini saya hanya berharap jangan sampai menjadi seperti cerita tentang Bapak, Anak, dan seekor unta.

    Saya juga mendukung mas agor agar kita lebih mengkedepankan belajar quran dengan sungguh2, menarik esensi, kita lebur dalam diri utk dilaksanakan dlm bentuk apa saja. Terima kasih mas agor sudah mencerahkan saya dengan menukil surat 22 ayat 77 NYA, tapi sekali lagi ayat tersebut bukan tidak pernah saya renungi, tapi memang dalam ayat tersebut benar benar TIDAK ADA KATA SYARIAT (arab:syaroa), justru yg ada adalah kata MANASIK/tempat peribadatan. Waduh…..esensi. bagaimana saya dapat meraih kalau tekstual bisa kebalik-balik.

    @
    Terimakasih Mas Yureka, trims, saya juga harus belajar lagi (dan memang ya.. sampai kita masuk ke liang lahat). Saya kira, dunia yang dipenuhi akal dan ketelitian seperti Mas dan juga kehatian-hatian tinggi adalah kekayaan Islam yang membahagiakan ummat.

    Saya senang dengan catatan ini, di sisi lain, saya juga memahami nasikuuhu/manasik diartikan tata cara ibadah. Memang kata ini paling populer dari tatacara berhaji, karena ada hadis yang menyatakan ambilah cara manasik haji dariku (hadisnya seperti apa lupa…).

    Rasanya, logika ini lebih mudah dipahami, dari pada kita memahami bahwa setiap ummat dari dulu sampai sekarang punya ritual yang sama dalam konteks Islam.

    insya Allah, tidak usah kita menjadi Bapak atau unta, atau anak itu… (di kisah lain untanya jadi kambing. Buat saya lebih logis kambing deh, soalnya unta terlalu berat… :D)

    Suka

  110. yureka said

    mas agor justru saya yang harus selalu berterima kasih pada mas agor. saya juga minta maaf bila saya berkesan memaksakan kehendak, insya allah saya adalah pribadi yang mudah cair.

    sedikit untuk saya tambahkan : terutama yang berkaitan dengan “syariat”

    surat 42 ayat 13

    ” Dia telah MENSYARIATKAN bagimu agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa Yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepadaNya orang yang kembali”.

    surat 5 ayat 3
    “…….pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu….”

    surat 6 ayat 154
    “Kemudian Kami berikan pada Musa Kitab yang sudah sempurna atas yang lebih baik dan penjelasan atas tiap sesuatu serta petunjuk dan rahmat semoga mereka beriman kepada pertemuan dengan Tuhannya”.

    lulusan tahun 2000 perguruan silat anu
    guru silat berkata : hari ini telah kusempurnakan semua jurusmu
    sang murid/agorsiloku menjawab : terima kasih guru

    lulusan tahun 2004 perguruan silat anu
    guru silat berkata : hari ini telah kusempurnakan semua jurusmu
    sang murid/haniifa menjawab : terima kasih guru

    lulusan tahun 2004 perguruan silat anu
    guru silat berkata : hari ini telah kusempurnakan semua jurusmu
    sang murid/yureka menjawab : terima kasih guru

    @
    🙂 contoh yang menarik.
    Ada sedikit perbedaan, QS 6:154 kitab yang menyempurnakan rahmat Allah. Jadi posisi lulusan tahun 2000 telah sempurna. Sempurna untuk kaumnya Musa. That’s it., Sempurna juga untuk kaumnya Nabi-nabi berikutnya. Pengkhususan diberikan kepada AQ yang tidak lagi memberikan pemisahan/pengelompokkan kepada ummat-ummat, tapi untuk seluruh ummat : QS 52. Dan Al Quran itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat. Kemudian AQ menjadi penutup dan Nabinya juga menjadi penutup sehingga menjadi logis kalau Allah tidak lagi menurunkan Nabi dan Kitab petunjuk baru untuk ummat di abad ke 15, 16 bahkan sampai berakhirnya dunia.
    Pada pemahaman ini, logika saya memahaminya bahwa syariat Islam memiliki kemampuan untuk memberikan petunjuk bagi seluruh manusia sampai hancurnya kembali dunia.
    Mungkin kita bisa membahas posisi Zabur, Taurat, Injil, dan AQ atau lembaran lainnya jika masih ada yang dijelaskan AQ. Agor kira, Mas Yureka juga melihat seperti yang agor lihat.

    Ayat QS 42:13 juga begitu jelas menjelaskan bahwa apa yang diwahyukan kepada Nabi sebelumnya, menjadi bagian dari yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad. Juga apa yang menjadi isinya serta pesan untuk tidak berpecah belah …. Rasanya buat agor jernih-jernih saja…..

    Kalau merujuk hadis penjelasan ulangnya lebih banyak dan, sebagaian yang kita tahu apa yang ditulis pada kitab-kitab sebelumnya, juga semakin jelas dan murni ketika dijelaskan oleh AQ. Banyak perdebatan/diskusi mengenai pesan untuk satu kaumkah atau seluruh ummat. Namun, setahu agor, pengakuan AQ sebagai petunjuk bagi seluruh ummat manusia (yang beriman) diterima oleh semua pihak.
    Namun, tetap terimakasih guru, dan sesungguhnya Sang Guru Penciptalah yang mengetahui kebenaran setiap maksud dari hati kita.

    Suka

  111. madopolo said

    @All
    Maaf mas Agor and All. Ini mungkin suatu kejelekan saya yg tak bisa saya hindari yaitu apabila melihat/mendengar/ menghadapi sesuatu yg tdk benar atau bertentangan dgn Firman Allah atau Hadis Rasul lalu penyakit menentang utk didiskusikan mencari kebenaran kumat, dan menginginkan sampai tuntas agar saya mempunyai pegangan atau keyakinan. Mungkin ini yg dimaksudkan memaksakan pendapat sendiri. Dan mungkin juga bukan disini tempatnya.Padahal saya merasa apabila itu suatu kebenaran saya pasti menerima. Jd apabila teman2 merasa saya memaksakan pendapat saya maka saya minta maaf. Krn kita tdk bisa melihat kesalahan kita. Orang lain yg dpt melihat kesalahan kita.
    Saya membaca kata SEMPURNA. Apakah teman2 maksudkan SEMPURNA dlm QS 5:3 atau sempurna yg disamakan oleh Yureka seperti pd Guru Silat.?
    Ingat walaupun Allah mencamtukan kata Sempurna pd QS 5:3 hrs kita pahami yg mana Allah katakan sempurna apakah SARIATNYA atau misi Rasul. Karena setelah kata SEMPURNA ada kelanjutannya, yakni ada kata NIKMATKU dan RIDHAKU. Wasalam

    @
    Mas Madopolo, alhamdulillah. Justru sikap seperti itulah yang agor sangat harapkan. Jangan biarkan, blog ini menjadi sesat atau tersesat justru karena orang-orang yang mampu melihat lebih komprehensif terhadap masalah tidak berkontribusi.
    QS tentang hidangan ini saya kira memang sempurna dan missi Rasul sudah dinilai selesai oleh Allah SWT sampai ke akhir zaman. Itu pemahaman agor.

    Suka

  112. haniifa said

    hi.hi.hi…
    Si “Buruk Sangka” masih pakai celana KODOK := Who’s @Haniifa —::Clik::

    Memang ini berita ngarang …gituh 😀
    ————————————-
    Explorasi Migas di “Ponak”… blank.
    Explorasi Migas di “Mahang”… blank.
    (tahu artinya, mahang ?!)
    Explorasi Migas di “Sie Siak”… blank.

    Cerita detail nyah… (neehhh sedikit.. )
    di “Mahang”… ono wong di pangan bujurnya separo waktu pembukaan lahan untuk he.he.he. 😀
    atawa…. mau cerita “Si Mahang”… yang saya kuliti ?!

    Suka

  113. haniifa said

    @Pakde Yureka
    lulusan tahun 2004 perguruan silat anu
    guru silat berkata : hari ini telah kusempurnakan semua jurusmu
    sang murid/haniifa menjawab : terima kasih guru

    Apa kamu pikir saya anak ingusan heh…..

    Panggil GURUMU…. sayah tunggu…

    Suka

  114. madopolo said

    @Agor
    Klu mas bilang sempurna Sariyat yg dibawah Rasul Benar. Tapi MISI RASUL GAGAL mas. Wasalam

    @
    hmmm.. boleh boleh jelaskan MISI RASUL GAGAL?.
    Karena saya sih punya alasan untuk menyampaikan (meyakini) MISI RASUL 100% berhasil.
    😀

    Suka

  115. haniifa said

    Klu mas bilang sempurna Sariyat yg dibawah Rasul Benar. Tapi MISI RASUL GAGAL mas.

    Suka

  116. haniifa said

    @Pakde Yureka
    lulusan tahun 2004 perguruan silat anu
    guru silat berkata : hari ini telah kusempurnakan semua jurusmu
    sang murid/haniifa menjawab : terima kasih guru

    haniifa Berkata:
    Maret 7, 2008 pada 12:40 am

    Berita yang cukup menggembirakan.
    Tapi saya jadi ingat di tahun 87, saat nyambi explorasi migas di Propinsi Riau. Setelah pengeboran 3 sumur ternyata nggak ada tuh minyaknya, dari rencana 10 sumur akhirnya dihentikan.

    Panggil GURUMU DAN KONCO-KONCO nya sekalina…. sayah tunggu…

    Suka

  117. Dono. said

    Ass.wr.wb,pak madopolo.
    Seperti firman Allah S.W.T di surat Al-anbiya,ayat 107.
    “Dan tiadalah Kami mengutus kamu,melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam”.
    Rahmat ini telah kita saksikan dan kita terima sebagai saksi umat Muhammad S.A.W.

    Jadi menurut saya bahwa misi rasul telah berhasil.

    Wassalam,Dono.

    Suka

  118. yureka said

    memang ada perbedaan antara anak ingusan dan orang tua dgn ingus, persamaannya adalah tidak bisa membuang ingus. sedangkan problem “gagal menyerap” merupakan sudut pandang lain.

    apa maksud misi rasul gagal mas madopolo ?

    Suka

  119. haniifa said

    @Mbah Yud… eh… Pakde Yu eureka

    Nehhh… ingetin sama dengkul-mu.
    Isi hatimu padaku nyuuukkk 😛
    ————————————–
    lovepassword Berkata:
    Juli 17, 2008 pada 5:52 pm

    Anda itu memang baik hati sekali Pak Guru, walaupun kadang-kadang ???? Kadang-kdang opo ya ?? Entar tak pikirke sing paling nylekit. Hi Hi Hi. –

    Sepanjang saya hidup jadi manusia , saya malah baru mendengar ada orang yang sempat memikirkan janda=janda korban Petrus. Siapa orangnya ?? Ya anda itu. Pak Guruku emang top deh. Ngak malu-maluin muridnya . he he he….

    SALAM PAK Guru.
    ———————————————-

    Tangganga @Mas Lovepassword sama sampean….
    ———————————————-
    yureka Berkata:
    Juli 18, 2008 pada 8:25 am

    wah …tambah asyik…
    dari maling HAK, trus ngaku jadi guru, sekarang jadi kordinator para janda ??
    kalau sang murid sih,… kloropil
    ———————————————–

    ::: sayah dalam hatiku sanubari mu :::
    Hua.ha.ha. Isi hatimu penuh iri dengki @Mas.. eh.. @Pakde USidji

    Selanjutnya… kamu gemeteran… waktu gue mau SCAN tanda bukti “SK pengangkatan Guru Honorer”….

    Apa kata dengkul…. yang kompong
    ———————————-
    Ohh… maaf…maaf… apun…. eh sale.. maaf “puan..puan” alias @Pakde Yureke Kayak perempuan tapi Umbelnya meler teruusssssss hi.hi.hi. 😀

    Kesimpulan :
    apa maksud misi rasul gagal mas madopolo ?
    Kamu belum sempurna jadi manusia… tapi masih setengah…
    (wahhh nggak tega mau bilang…. setengah kutilan 😀 )

    ha.ha.ha.

    Suka

  120. truthseeker said

    Rasulullah diutus:
    1. membawa berita gmbira.
    2. memberi peringatan.
    3. memberi penjelasan.
    4. menjadi contoh.
    5. menjadi rahmat bagi alam semesta.
    6. menyampaikan wahyu.
    7. silakan ditambahkan..

    Tidak ada kewajiban Rasulullah merubah manusia.

    Wassalam

    @
    Betul Mas, tapi tidak ada salahnya kita dengar dulu apa yang dipikirkan Mas Madopolo, biarpun mungkin aneh terdengarnya.
    Kadang, usaha terberat yang saya rasakan dalam sebuah diskusi adalah memahami pemikiran rekan diskusi. Kita langsung menghukum, memberikan konklusi terhadap pikiran orang lain, dari pada mengembangkan kemampuan mendengarkan… Paling tidak, ini yang buat agor : the big problem….

    Suka

  121. haniifa said

    Nehhh… buka mata-mu dan mata hatimu
    yureka Berkata:
    Juli 21, 2008 pada 10:47 am

    @haniifa..
    saya minta maaf kepada mas haniifa. anda tidak perlu menscan sk guru mas haniifa. demi Allah juga saya percaya. pernyataan saya kalau anda ngaku jadi guru saya cabut. sekali lagi saya minta maaf. tentang pola pandang kita mengenai pentungan, kita tetap berbeda.

    Nehhh… komentar aslimu, semoga kutil didalam hatimu ilang 😛

    Dasar anak Ingusan… 😀

    Suka

  122. haniifa said

    Hei… manusia KUTIL
    Ingus @Yureka ngupil 😀
    memang ada perbedaan antara anak ingusan dan orang tua dgn ingus, persamaannya adalah tidak bisa membuang ingus. sedangkan problem “gagal menyerap” merupakan sudut pandang lain

    Nehh… mbah kasih nyaho…
    Nggak usah… dihutan belantara Sumatra, yang deket aja misalnya Gunung di P. Jawa, kalau sampean kesasar… cari aliran air, trus ikuti dan Insya Allah kamu nemu perkampungan. Jangan melihat perspektif gunung… nanti ter muter kamu, sampai habis bahan bakarmu.
    (saran ini berlaku jika kamu… aqli baligh yach, trus naek gunung)

    Nahh… serap pengalaman @mbah ini, OK

    Dasar anak Ingusan,… bisanya teroris… eh.. teori tock !! 😀

    Suka

  123. madopolo said

    @Yureka
    Alqur’an sebagai petunjuk/sariat umat Islam telah sempurna disampaikan Rasul. Tapi apakah hanya utk itu Rasul diutus? Rasul adalah Rakhmat lil Alamin. Beliau tdk menghendaki umatnya masuk neraka. Beliau tdk menghendaki umatnya terpecah belah. Beliau tdk menghendaki umatnya saling membunuh. Beliau menghendaki umatnya menyebarkan kasih sayang. Beliau menghendaki semua umat Islam bersaudara. Dan masih banyak lagi misi beliau yg umat pasca beliau khianati. Apakah Yureka tdk tau keadaan umat Islam pasca beliau hingga kini. Mereka nafsi2 yg penting menjalankan yg diperintah Allah. Tapi inti dari misi Rasul hancur yakni rahman antara umat Islam. Satu sama lain mengkafirkan sesama muslim, meghalalkan darah muslim yg lain. Apakah berhasil misi Rasul?

    Suka

  124. madopolo said

    @Agor
    Apa yg mas kehendaki saya rasa sama dg saya tujukan utk Yureka. Kira2 klu mas katakan misi Rasul berhasil 100%. Kira2 diskusi kita bakal ramai dan menarik. Silahkan mas Agor. Mudah2an nash2 yg disampaikan menambah ilmu kita. Kita semua sedang belajar kan mas. Insya Allah mudah2an kita mendpt petunjuk dan hidayah dari Allah sehingga apa yg kita sampaikan nanti di Ridha oleh Allah dan Rasulnya. Amin. Wasalam

    @
    Saya pindahkan diskusi :”berhasilkah misi Rasul pada postingan”. Mungkin ada rekan lain yang meramaikan… 😀

    Suka

  125. haniifa said

    Mana si tukang Ngupil neeeh, lama banget… 😀
    sedangkan problem “gagal menyerap” merupakan sudut pandang lain

    Nehhh mbah tambahin sarapan-nya .eh.. serap pengalaman, mbah-mu
    ——————-
    Kalau tersesat dihutan dalam keadaan malam,… yang sampean lihat hanya “kegelapan” jadi buka mata-mu, tengok keatas dan perhatikan pola bintang-bintang dilangit, trus kamu jalan mengikuti pola bintang… biar nggak ter muter. Nahh.. kalau ada kabut, sampean berhenti sejenak, jangan lupa berdo’a sama Allah subhanahu wa ta’ala. OK
    (hi.hi.hi. mbah-mu ini pernah ngikuti persaaan… pokoke asal jalan turun,lha pagi-paginya ada di tengah lembah. Yang ini jangan kamu turut yach. 😀 )

    Dahh… blajar nyang tekun.

    Suka

  126. Dono. said

    Ass.wr.wb,pak Madopolo.
    Saya ada sedikit pertanyaan untuk bapak mengenai surat Al-Maidah, ayat 69.
    Yg berbunyi sbb.”Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang yahudi,shabiin dan orang-orang nasrani, siapa saja di antara mereka yg benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal soleh, maka tidak ada kekhwatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati”.

    Coba bapak merenungkan ayat ini dan menarik kesimpulannya, InsyaAllah bapak akan mendapat jawabannya yg tepat atas pertanyaan bapak diatas.

    Wassalam,Dono.

    Suka

  127. madopolo said

    @Dono
    Klu menurut saya Emanuel Kant, Einstein dan para pencari Tuhan yg lain tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Mereka beriman dan percaya bahwa ada yg Maha pencipta dan mereka percaya ada hari Akhir/pembalasan. Saya lupa kata2 Einstein tolong dikoreksi. Klu tidak salah Einstein berkata:”Ilmu tanpa Iman pincang dan Iman tanpa ilmu buta. Memang bagi mereka misi Rasul boleh dikatakan berhasil. Saya katakan berhasil tapi tdk sepenuh berhasil krn mereka tekun dgn ilmunya tdk mau ambil pusing dg umat sekitarnya. Wasalam

    Suka

  128. Dono. said

    Ass.wr.wb,
    Jikalau mereka yg tercantum di atas beriman? mengapa mereka tidak menerima Alquran sebagai petunjuk dan Muhammad sebagai rasul?
    Maaf pak Madopolo, mereka semua yg tercantum di atas tidak beriman.

    Wassalam,Dono.

    Suka

  129. madopolo said

    @Dono
    Umat Islam yg mengenal Alqur’an dan Nabi Muhammad. Yg lain disebut Ahlu Kitab.
    Yg dikatakan ber Iman menurut mas Dono itu bgm. Jgn pergunakan beriman versi Islam, tp versi Allah. Kita bahas dulu mengenai makna Iman, baru bs kita tentukan mereka ber Iman tdk. Wasalam

    Suka

  130. haniifa said

    Ngaco… yang ditanya Al Qur’an, menjawab pakai pilok sopi, jadi ngawur kabeh…
    Saya lupa kata2 Einstein tolong dikoreksi. Klu tidak salah Einstein berkata:”Ilmu tanpa Iman pincang dan Iman tanpa ilmu buta.

    Neehh.. sayah jawab bener-bener malah kabur, dasar “rekan”… 😀

    Suka

  131. madopolo said

    @Haniifa
    Tolong mas tanya mas Dono tujuan menyuruh saya renungkan ayat tsb utk apa. Krn saya mengartikan ada maksud tertentu dari mas Dono maka saya jelaskan utk mas Dono. Tapi klu mas ingin mengetahui lihat nanti hasil diskusinya. Wasalam

    Suka

  132. haniifa said

    Saya lupa kata2 Einstein tolong dikoreksi
    Saya lupa kata2 Einstein tolong dikoreksi
    Saya lupa kata2 Einstein tolong dikoreksi
    Saya lupa kata2 Einstein tolong dikoreksi
    Saya lupa kata2 Einstein tolong dikoreksi
    Saya lupa kata2 Einstein tolong dikoreksi

    Suka

  133. madopolo said

    @Haniifa
    Anda orang pintar dan saya tdk mampu menjangkau kata2 anda. Terima kasih. Wasalam

    Suka

  134. haniifa said

    @Madopolo
    Begitu juga anda orang pintar dan saya yakin banyak pembaca juga orang pintar, jadi sama-sama pintar.
    Terima kasih kembali.

    Wassalam, Haniifa.

    Suka

  135. Dono. said

    Ass.wr.wb,pak Madopolo.
    Ayat yg saya gunakan di atas tersebut untuk menumpas pertanyaan bapak pada:”Tapi inti dari misi Rasul hancur yakni rahman antara umat Islam. Satu sama lain mengkafirkan sesama muslim, meghalalkan darah muslim yg lain. Apakah berhasil misi Rasul?”

    Yang saya ingin katakan disini adalah: orang-orang yg tercantum pada ayat tersebut diatas.
    Mereka tidak usah khwatir dan bersedih hati jika mereka semuanya beriman tetapi kenyataannya TIDAK.mengapa?karena orang-orang mukmin belum tentu beriman,sehingga mereka merusakkan satu sama yg lain padahal mereka beragama islam.
    Jadi tidak semua orang-orang yg beragama islam diterima di sisi Allah S.W.T.

    InsyaAllah bapak madopolo mengerti.

    Wassalam,Dono.

    Suka

  136. haniifa said

    Yap… jangan khawatir,
    Yang tahu beriman atau tidaknya kepada “Allah subhanahu wa ta’ala” tentu hanya Allah Yang Maha Tahu.
    Manusia hanyalah sebagai hamba yang lemah belaka. Titik.

    “Ingat peristiwa akan disembelihnya Nabi Ismail a.s”
    Sebagai contoh Nabi Ibrahim a.s saja diuji ke imanan-nya oleh Allah subhanahu wa ta’ala, Bukan ?!

    Suka

  137. […] menarik kesimpulan seperti ini : @Agor Klu mas bilang sempurna Sariyat yg dibawah Rasul Benar. Tapi MISI RASUL GAGAL mas. […]

    Suka

  138. madopolo said

    @Dono & Haniifa
    Anda2 benar. Hanya Allah yg tahu siapa yg benar2 ber Iman. Utk ini saya akan menginformasikan apa yaitu IMAN versi Allah: Menurut Imam Ali: Iman adalah berma’rifat dgn hati, diikrarkan dgn lidah dan diamalkan dgn perbuatan. Saya yakin anda mengerti benar dgn tiga syarat tsb. Oleh karena itu bagi yg beriman masih ada perintah dan larangan. Dan apabila tdk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan maka ia blm beriman. Ia baru Islam. Oleh krnnya saya menanyakan mas Dono Iman versi apa yg dimaksudkan dlm Surah Al Maidah ayat 69. Jd masalah Emanuel Kant dll. Mereka mengatakan bahwa ada pencipta yg tdk berawal dan mereka meyakini ada hari pembalasan kemudian ilmu mereka diamalkan. Maka mereka tsb termasuk ayat di atas. Soal mereka masuk surga atau tdk itu Haknya Allah. Wasalam

    @
    Salah satu dari sekian ciri orang beriman yang disampaikan AQ: QS 49. Al Hujuraat 15. Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.

    Suka

  139. madopolo said

    Mereka tidak ragu=ma’rifat
    Percaya = hrs dilafatkan=Ikrar
    Berjuang dgn harta dan jiwa=pengamalan
    Wasalam

    Suka

  140. madopolo said

    @Agor
    Mas Agor katakan SUMBER CAHAYA itu dari Allah kom.no 57
    Cahaya itu sampai kita tentu melalui perantara. Seperti sinar matahari sampai ke bumi melalui perantara atmosfer. Klu tdk akan merupaka garis lurus (begitu menurut sains). Cahaya itu akan mengalami perobahan tergantung tebal tipis komposisinya. Oleh karena itu utk mengetahui sifat cahaya itu kita harus tahu bgmn sifat atmosfer (perantara)
    CAHAYA disini adalah KEBENARAN
    KEBENARAN bersumber dari Allah dan sampai kekita melalui perantara yakni Rasul dan kita tahu dan yakin SIFAT Rasul. Klu Atmosfer bersifat permanen tapi Rasul tdk beliau akan kembali kehadirat Allah SWT.
    Agar CAHAYA/Kebenaran itu tetap langgeng maka diperlukan seseorang yg Rasul dan Allah yakin sebagai peganti perantara sampai kiamat. maka Rasul menuujuk seseorang berdasarkan perintah Allah. Dan pengganti ini sdh Rasul tunjuk. Tapi sayang pasca Rasul ditolak.
    Itulah yg saya katakan: Mereka tdk menghendaki perantara ini. Jd
    CAHAYA tsb bergerak secara garis lurus kesustu tempat (golongan). Sedangkan tempat yg lain tetap dlm kegelapan. Dan yg menolak tadi senang mencari-cari dlm kegelapan. Saya bukan mempersoalkan masa lalu tapi berbicara soal kebenaran. Apabila kita mengetahui ada kebenaran tapi tdk mengeluarkan maka kita termasuk golongan MUNAFIK. Yg HAK itu sakit. Tapi jgn dijadikan yg BATHIL itu HAK. Allah berfirman, Jangan menghalalkan yg Aku haramkan dan jgn mengharamkan yg Aku halalkan. Wasalam

    @
    Mas Madopolo betul. Itulah anggapan yang muncul pasca Rasul. Jujur Mas, saya tidak mengerti masalah ini dan dalam hal ini memilih pragmatis. Saya melihat ini menjadi sejarah kelam yang kemudian menimbulkan penggolongan dalam agama. Khususnya, mengawali antara siapa pengganti pemerintahanan sekaligus pembimbing ummat. Abu Bakar ataukah Ali dan bla…bla…bla…
    Karena unsur dimensi politik dan kekuasaannya begitu kental, Jadi ketika membaca sejarah masa lalu itu, saya hanya bisa bilang :”ramai betul ya!”. 😀 Dan terus terang, saya tidak mau diskusi di wilayah ini (mohon maaf).
    Kembali ke masalah cahaya.
    Term ini berarti petunjuk dan Al Qur’an itu dijadikan sebagai cahaya.
    Perumpaan kepada cahaya untuk AQ menurut saya sangat indah dan agung. Dalam AQ dijelaskan sebagai cahaya yang terang benderang. Cahaya itu digelapkan melalui dusta, dan Allah memperkuat cahaya itu. Jika kita perhatikan sifat cahaya, maka kita jumpai (amati) hal-hal yang menarik. Cahaya menerangi, cahaya itu tidak menggunakan perantara dari sumbernya. Mas Madopolo:, “tolong ambilkan cahaya lilin”. Maka Mas Madopolo tidak akan mengambil cahaya dari lilin itu, tetapi ambil lilinnya dan dengan lilin itu menerangi objek. Kalau kata lilin itu kita ganti dengan kata “Al Qur’an”, maka dan kata cahaya itu diganti dengan “petunjuk”, maka jelas Mas Madopolo pembawa petunjuk itu. Bukan penjelas, bukan pula pengatur terhadap petunjuk itu. Seberapa terang cahaya AQ memasuki dada manusia, itu adalah hidayah. Hidayah masuk juga dengan syarat yang ditetapkan AQ.

    Sifat cahaya juga bergerak lurus ke segala arah, tidak ada pengecualian. Tidak ada perbedaan, apakah cahaya lilin membedakan yang akan disinarinya?. Tentu tidak, dia homogen ke segala arah. Soal diterima, dipantulkan, diserap, tergantung dari bahan penerimanya.
    Cahaya itu telah dibawa dan ditunjukkan oleh Rasul kepada ummat manusia, selanjutnya manusia-manusia itulah yang akan membawa sumber cahaya itu sampai akhir jaman.

    Alangkah indahnya cahaya itu, semoga kita dikarunia pemahaman yang baik dari petunjukNya. Amin.

    Suka

  141. yureka said

    @madopolo,

    tentang cahaya yang sudah dikit dikupas mas agor itu di surat 24:35, kalau mas madopolo berkenan secara menyeluruh dalam ayat itu silahkan diuraikan. komen anda no 140 banyak membuat saya tdk mengerti

    misal ini :
    “Agar CAHAYA/Kebenaran itu tetap langgeng maka diperlukan seseorang yg Rasul dan Allah yakin sebagai peganti perantara sampai kiamat. maka Rasul menunujuk seseorang berdasarkan perintah Allah. Dan pengganti ini sdh Rasul tunjuk. Tapi sayang pasca Rasul ditolak”

    mohon dijelaskan daripada saya gagal ginjal.
    trimakasih. wasalam.

    Suka

  142. yureka said

    @ mas agor,
    sedikit saya menambahkan dalam rekomen no 138 kalimat terakhirnya “mereka itulah orang yang BENAR/shidiq”. dan ternyata (dlm pemahaman saya) shidiq/benar yg diterangkan lebih lanjut dalam surat 2:177

    “bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. MEREKA ITULAH ORANG YANG BENAR dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa. depag ri.

    ternyata orang benar menurut ayat itu banyak sekali.

    @
    Hmmm saya kira begitu juga Mas Yureka…. AQ begitu jelas dan sederhana menjelaskan, yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, menepati janji, sabar, memberikan harta kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, memerdekakan dan bla…bla…bla…
    Jadi, nggak terlalu ribet-ribet amat untuk berinvestasi atau menjadikan perniagaan dengan Allah menjadi suatu keberuntungan.
    Jadi pertanyaannya kemudian… eh… sudah zakat belum ya, kalau janji dikadalin nggak ya,… 😦

    Suka

  143. madopolo said

    @Agor
    Mas saya mengakui penjelasan mas sebagai suatu kebenaran yg cemerlang. Izinkan saya bertanya mas
    Klu saya sebagai perantara membawa lilin sesuai permintaan orang tsb mungkin sampai ketempat yg dituju, karena panca indera saya masih sempurna (sehat). Tapi kalau diminta bantuan pd orang buta bgm mas?
    @Yureka
    Supaya jgn gagal ginjal banyak minum air yg murni bersih sebaiknya dari sumbernya langsung, klu melalui perantara (melalui leding atau lainnya) bisa membahayakan. Jadi hati klu pakai perantara. Intermezo mas. Kita kembali inti pembicaraan.
    Mas Yureka minta penjelasan lbh terperinci mengenai cahaya. OK
    Dalam Alqur’an Allah berfirman yg maksudnya. Rasul diutus membawa CAHAYA utk mengeluarkan Umat ini dari kegelapan. Bayangkan pembawa KEBENARAN betapa tinggi kemulian yg Allah berikan pd Rasul Dengan demikian Rasul satu2nya Makhluk Allah yg sangat tinggi derajatnya setelah Allah. Karena TUGAS yg akan diembankan adalah tugas dari mulai tercipta Alam ini sampai berakhir (kiamat) walaupun setelah Kiamat tanggung jawab Rasul blm berakhir. Berdasarkan tanggung jawab ini maka Rasul tdk mau GAGAL dalam menerima tugas ini. Jadi sejak Rasul ditugaskan menyampaikan Wahyu Allah. Yakni pd umur 40 th, Rasul sdh mulai mempersiapkan penggantinya. Rasul memilih Ali b Abi Thalib sebagai pengganti beliau. Tapi ingat ini bukan pilihan Rasul tapi atas perintah Allah (Wahyu turun kepada Rasul dgn banyak tujuan ) antara lain yg kita kethui:L
    1.Wahyu merupakan sariat Umat = Alqur’an
    2.Wahyu utk Rasul tapi bs disampaikan kpd Umat = Hadis
    Qudsi
    3.Wahyu utk tindakan Rasul setiap hari (behaviour) = Sunah
    4.Wahyu utk menjelaskan /menerangkan pd Umat = Hadis
    5.Dll
    Dlm hal ini Allah memainkan Skenario yaitu dgn mempersiapkan Imam Ali dlm segala hal sehingga orang yg setelah Rasul adalah Imam Ali dari segala hal Imam Ali melebih para sahabat lain. Banyak hadis2 shahih menunjukan keutamaan Imam Ali, antara lain Rasul bersabda, Aku kota Ilmu dan Ali pintunya. Engkau Ali kedudukan disiku seperti Nabi Harun dan Nabi Musa hanya tdk ada Nabi setelah aku. Semua Allah telah persiapkan dan utk kelanjutan lepemimpinan sampai hari akhir, Allah juga telah mempersiapkan orangnya. Sehingga turun ayat 33 dari Surah Al Azhab. Agar mereka yg meneruskan harus benar2 bersih dr segala perbuatan dosa (maksum) Bagaimana mungkin orang bisa berbuat dosa diserahkan untuk memimpin para mukmin. Kemudian Allah tentukan lagi utk memperkuat soal kepemimpinan dg Firman Allah: Hai orang2 beriman taat pada Allah, dan taat pada Rasul dan Ulil Amri minkum. Tapi pasca Rasul yg menjadi perantara2 kebenaran ditolak dan mulai dari Imam Ali sampai ke Imam Hasan Al Asykari semua mati diracun atau dibunuh. Jadi mereka menolak kebenaran mas Yureka. Mudah2an bisa jelas utk mas. Wasalam

    @
    Mas Madopolo, salam. Menurut saya, pertanyaan Mas ini iseng saja. Nggak serius ya, karena Mas sudah menjawab sendiri. Namun, saya jadi teringat tentang cerita Nabi yang selalu dimaki oleh seorang buta yang saya kutipkan dari Republika. Andaikan Nabi tidak bersikap seperti itu, akankah si buta memeluk Islam?. Betapa sulit kita tiru, biar seperseribunya sekalipun. Yang buta, seperti ditegasi AQ, bukan matanya, tapi hatinya yang buta…..

    Suka

  144. haniifa said

    Sunah Rasul := Tingkat laku peribadan, Ucapan Peribadatan
    Hadits := Penjabaran dari sunah rasul
    Contoh:
    Kiblat-> Dari jaman Nabi Ibrahim a.s Shalat s/d Nabi Isa a.s menghadap ke Masjidil Aqsa (Yerusalem, Palestina).
    Seperti kita ketahu Rasulullah-pun mengikuti sunah Rasul sebelumnya yaitu dalam hal Kiblat Shalat.
    Kemudian turun wahyu Allah yang merintahkan kepada Nabi Muhammad s.a.w ke Masjidil Haram (Mekkah, Saudi Arabia)

    Proses pemindahan tersebut di dalam Al Qur’an ada, dan diterangkan oleh Nabi Muhammad s.a.w kepada para pengikutnya saat itu, mengenai pemindahan Kiblat (riwayat ucapan nabi ini disebut Hadits)

    Wassalam, Haniifa.

    Suka

  145. madopolo said

    @Agor
    Demikian mas Agor. Itulah intinya mas. Klu sibuta itu tdk buta dan tau betul pribadi Rasul maka ia tdk mungkin memaki. Tapi dia buta mata dan mungkin buta informasi. Tetapi setelah Rasul menunjukan kepribadian dan akhlak, terbuka mata hatinya walaupun matanya tetap buta. Jadi saya mengharap mas Agor ber-sama teman2 yg lain membuka mati hati mereka2 yg blm mau menerima kebenaran. Insya Allah, Allah selalu membimbing kita kejalan KEBENARAN sesuai kehedak Allah dan Rasul. Sehingga kegagalan yg terjadi dapat ditegakan kembali. Amin.
    Sekaligus pada kesempatan ini saya sebagai musafir lalu yg mampir mencari seteguk air yg telah terpenuhi mohon pamit selanjtnya akan mengikuti kemana langkah kaki membawa. Terima kasih kawan2 atas segala hidangan yg diberikan. Apabila ada hal2 yg menjadi ganjalan dihati teman2 akibat kata2 saya. Saya mohon maaf. Dan apabila msh ada yg anda2 ingin sampaikan, saya akan terima dg senang hati, saya tunggu. Klu tdk ada saya mohon pamit. Wasalam

    @
    Saya tidak tahu, saya sendiri tidak berpikir membuka hati, saya justru lagi nyari-nyari, lagi belajar…
    Mohon maaf pula jika dari agor ada salah kata, dan selamat jalan. Tapi masih tetap di Banjarmasin kan?… 😀

    Suka

  146. haniifa said

    Si Buta dari gua HANTU 😀

    Suka

  147. yureka said

    @mas madopolo boleh pamit tapi jangan lupa dimanapun mas melangkah pasti ketemu warnet

    Suka

  148. haniifa said

    Ok kita ketemua di warung kopi… 😀
    http://secondprince.wordpress.com/2008/07/28/rasulullah-saw-tidak-mau-bersaksi-untuk-abu-bakar-ra/#comment-3185

    @
    Ha..ha…ha… Mas Haniifa… tulisan Mas SP itu lumayan deh, menambah amunisi perbekalan untuk mengerti adakah kejadian di masa lalu.
    Tapi, agor tidak mau ikut-ikutan memikirkan urusan dari kejadian 1400 tahunan yang lalu dan merekonstruksi pikiran untuk menangkap apa kejadian sesungguhnya. Sedangkan merekonstruksi kejadian meeting kemarin sore saja sudah banyak yang lupa. Notulis juga mencatat apa yang dia inginkan catat, bukannya mencatat apa yang diinginkan moderator atau panelisnya. (problem memahami dan menarik inti-inti persoalan).
    Jadi, yah… aku nggak berani deh ngopi di sana. Cius deh… 😀

    Suka

  149. haniifa said

    Atau kita ketemuan di “warung mabok”… 😛
    http://gentole.wordpress.com/2008/07/28/islam-itu-katolik-protestan-dan-tidak-muhammad-sentris/#comment-587

    @
    Ini juga… Mas Gentole ini, meskipun isinya menurut saya buagus banget, tapi beliau menyebut Islam itu Katolik, Islam itu Protestan… Jadi agak susah buat agor. Pertama, agor harus mempelajari lagi Katolik dan Protestan. Jelas itu butuh waktu. Kedua, rasanya nggak enak mengaduk-aduk dua jenis makanan yang berbeda. Masing-masing enak buat peminat kulinernya, tapi tidak jika diaduk.
    Pengalaman makan selama ini, saya suka menyatukan sayur asem sama tempe, jus wortel sama jeruk, tapi tidak untuk Katolik ke Islam atau sebaliknya…. Agor harap sih rukun-rukun saja deh… 😀

    Suka

  150. madopolo said

    @Agor
    Kok tau saya di Banjarmasin. Ah bukan masalah. Terimah kasih selamat berjuang mas. Cuma saya ingin tambahkan krn membaca komentar mas di no 148. Yg saya mau mas renungkan adalah: Perbuatan mas lalu mengakibat keadaan sekarang (butterfly effect). Klu benar kejadian mas lalu dan diamkan, tdk apa2. Tapi kejadian masa lalu yg mengakibatkan kerugian kita sekarang ini, sungguh disesalkan utk didiamkan. Wasalam

    @
    Itulah butterfly effect. Mas Madopolo, misalnya kita pernah saling gebuk-gebukan karena sebab kedua-duanya benar. Terus, apakah cucu Mas dan cucu saya kelak harus gebuk-gebukan. Saling melaknat?. Apakah cucu Mas dan cucu saya tahu persis kejadian waktu kita gebuk-gebukan. Kalau saya pulang bertemu isteri, lalu ditanya :”Mau minum apa?”, Lalu saya jawab “Nggak haus !”, maka pertanyaaan jawaban ini akan dilanjutkan dengan pertanyaan :”ada yang dirisaukan di kantor ya Mas?, ada apa !?”.

    Jelas ini nggak nyambung. Orang nggak haus, tapi kok dijawab ada masalah apa?. Namun, intinya, bahasa dan yang dilihat dalam satu peristiwa, tidak pernah bisa menggambarkan kejadian yang sesungguhnya yang dialamati oleh dua hati yang saling menyayangi.

    Juga ketika saling membenci !.

    Tapi, bagaimana kalau Cucu Mas Madopolo dan Cucu saya bersepakat begini : Mari kita minum kopi bersama dan menatap masa depan yang lebih baik dalam segala harapan untuk meraih ridhaNya?. Mari kita berjuang bahu membahu balas membalas. Supaya kebenaran akan muncul bahwa sesungguhnya Mas Madopolo agor-lah yang salah….

    Nah sekarang saya bertanya sama Mas :
    Sekiranya kita bisa rukun dan menutup buku dengan ikhlas. Mana yang akan berkenan bagi Mas untuk anak cucu Mas dan saya?.

    Kira-kira kalau logika ini yang dipakai, meskipun kecil sekali hanya setitik debu, saya ingin ikut berkontribusi menyumbangkan pikiran ini. Jangan Amerika saja yang menyumbangkan pemikiran sehingga seperti kata Wahbah: “Semenjak Amerika ingin menguasai minyak di Irak, maka mulailah ummat yang bodoh shaleh ini terpecah-pecah”. Masa lalu yang kelam yang sudah terkubur dengan baik, dimunculkan kembali demi rasa haus bangsa lain.

    Suka

  151. madopolo said

    @Agor
    Mas bagi saya bukan menciptakan permusuhan. Bagi saya Anda dgn amal anda2 dan saya dgn amal saya. Silahkan masing dgn anutannya. Tapi saya berbicara mengenai kebenaran mas. Kebenaran itu bagi saya harus dicari walaupun itu sakit. Contoh, menurut keyakinan mas si A benar menurut Si A sesat. Apakah dgn keyakinan demikian lalu kita gontok2kan, kan tidak. Bagi mereka yg fanatik atau tdk mempergunakan akal jernih yah YA tp bagi yg sdg belajar cari ilmu akan berdiskusi mas. Yg pasti menurut saya apabila kita benar2 mencari kebenaran otomatis kesalahan akan terlihat. Dan apabila kesalahan itu telah nyata dan masih dipertahankan. maka LAKUM A’MALAKUM WAANA A’MALANA LAA HUJATAN BAINANA WA BAINAKUM. Maaf wasalam

    @
    Yap betul Mas, maaf saya kok berprasangka jelek begitu ya. Padahal maksud Mas begitu baik. Saya percaya bukan menciptakan permusuhan kok, saya hanya melihat pembahasan ini malah makin ribet untuk orang seperti saya. Tentu saja saya setuju ayat As Syura 15 yang mas kutip itu … 😀

    Suka

  152. haniifa said

    Subhanallah….
    nggih… nggih… @Mas A.. eh.. eyang kakung

    Malu dunk sayah… Si Buta dari gua HANTU 😀

    Suka

  153. armand said

    @haniifa
    Si BUTA dari Gua Hantu?? heheheh…
    Udah matanya buta, belajar ilmunya dari hantu (jin) lagi!

    @agor
    lilin = alquran
    cahaya = petunjuk
    Untuk memperoleh cahaya lilin perlu bantuan (perantara) udara, serta ketersediaan indera mata dan otak yang sempurna.
    Untuk memperoleh petunjuk alquran perlu bantuan (perantara) ‘makhluk pembawa petunjuk’, serta ketersediaan hati yang bersih dan akal yang sehat.

    udara = makhluk pembawa petunjuk

    damai…damai

    @
    😀 cahaya tidak membutuhka udara untuk berlalu lho….

    Suka

  154. haniifa said

    @Armand
    Buruknya saya kalau ditanya.. yack jawab sebisanya dunk…
    Beberapa waktu yang lalu di TV ada orang di tembak oleh polisi… ternyata kebal.
    jadi…
    Udah matanya buta, belajar ilmunya dari hantu (jin) lagi!
    (hi.hi.hi. tanya ajah sama mas kameramen biar ‘ainul dan haqul yakin britanya )

    damai…ramai…sampai 😀

    Suka

  155. truthseeker said

    @Agor

    Tapi, agor tidak mau ikut-ikutan memikirkan urusan dari kejadian 1400 tahunan yang lalu dan merekonstruksi pikiran untuk menangkap apa kejadian

    Semua Hadits adalah urusan 1400 tahun lalu mas Agor.
    Bicara AQ mas Agor tdk hanya ketemu urusan 1400 thn lalu mas, bhkn yg 2000-5000 thn bhkn lebih yg lalu. Spt misalnya mas Agor begitu “bersemangat” berdiskusi ttg Fir’aun, Nabi Adam, mereka2 sdh lompat jauh mas, jauh dr sekedar 1400 thn lalu. 1400 thn lalu jejak2nya masih relatif lebih mudah kt temui, cb bandingkan bicara Nabi Adam. Belum lagi kalau kt lihat postingan ttg awal penciptaan alam semesta, 1400 thn gak ada apa2nya..hehe 🙂
    Sorry cuma ingin mengingatkan bhw kadang apa yg kt pikir logic adalah hasil dr ego kita (kt memilah2 apa yg ingin kita bahas, dan diri kt meminta excuse logis utk pemilahan tsb).
    Saya jd ingin tahu penjelasan utk kontradiksi ini.. :mrgreen:

    Wassalam

    @
    Ye… Mas Truth, kan komentar itu soal kesaksian yang ditulis oleh Mas Second Price dan ajakan Mas Haniifa. Katanya soal kesaksian soal apa gitu, soal Abu Bakar… Mas lihat juga kan komentar-komentar yang sudah ada !. Saya nggak mau menyinggung soal kekhalifahan, penerus Nabi, soal politik. Soalnya “rieut” (pening). Agor udah berprasangka buruk dari awal, khawatir yang akhirnya saling menghina, saling membenarkan, sulang saling. Tapi, kalau berdiskusi soal Fir’aun, Firdaus, kan tidak harus “perang” hadis. Lagian juga nggak bakalan nyakitin saudara-saudara seiman (semoga) – meski kadang dimaki-maki juga, apalagi kalau sudah soal hoax… 😀
    Wass, agor

    Suka

  156. haniifa said

    Yang logic dan tidak kontradiksi, sebentar lagi kita wajib memenuhi undangan Allah subhanahu wa ta’ala…, tidak 1400 taon lalu, atawa 5000 taoun kemudian.

    JUM’ATAN… Yuuk.. 😀

    IMAM nya ?! IMAM JUM’AT dunk.

    Suka

  157. truthseeker said

    @Haniifa
    Siapa nama imamnya mas Haniifa?.
    Rumahnya dimana?

    Wassalam

    Suka

  158. haniifa said

    @Truthseeker
    Siapa nama imamnya mas Haniifa?. Drs. Zainal Muharam

    Rumahnya dimana?.. 😀 (bahkan telp ada, tapi mohon maaf saya harus minta ijin beliau… )

    Pengganti pertanyaan yang tidak saya jawab yach…
    1. Dibahas Isra Miraj… Khubah pertama.
    2. Dibahas ada juga fatwa tentang “Riba” berkorelasi diktum 1.
    3. Diakhiri Do’a yang biasa dibawakan oleh Nabi Ibrahim a.s
    4. Usia IMAM saya cukup belia sekitar 30-an.
    5. Tinggi kurus dan wajah bersih belum beruban (saya bewok, pendekar := pendek dan kekar, ubanen… yang ini jangan bilang-bilang yach 😀 )
    6. Surat pendek pertama… kira-kira 2 ayat ditengah Al Qur’an (duh… dari pada salah nama surahnya, sori yach !!)
    7. Surah pendek kedua, Al Qur’an surah An Nashr [QS 110].

    Wassalam, Haniifa.

    nb: Saya sambil mendengar lagi “Corason Espinado”.. Santana… he.he. bonus 😀

    Suka

  159. haniifa said

    *** RALAT BAHAYA ***
    nb: Saya sambil mendengar lagu “Corazon Espinado”.. Santana… he.he. bonus

    Waktu dan tempat saat ngetik dan ngetok… komentar diatas…
    bonus ralat:= sekarang lagu “Walking Away” .. Craig David 😀

    Suka

  160. haniifa said

    Bonus buat Eyang Kangkung Oom Agorsiloku:

    belagu lu := DON’T SPEAK… NO DOUBT

    @
    Mas Haniifa, mohon maaf, biar saya hapus kembali komentar saya.
    Wass, agor.

    Suka

  161. haniifa said

    @Truthseeker
    Insya Allah, anda pernah menguliti domba (hewan kurban)

    Pernah nggak anda menguliti SI BELANG (di P. Sumatra) ?!

    Percayakan mas, kalau saya bilang “memisahkan kulit dengan daging si belang tidak dapat menggunakan tangan, seperti memisahkan kulit domba dengan dagingnya ?!)

    Karena anda memberi dua pertanyaan, maka saya lanjutkan pertanyaaan berikut:

    Menurut @Truthseeker Apakah saya sombong saat mengulitinya ?!

    Wassalam, Haniifa.

    Suka

  162. madopolo said

    @Agor
    Terima kasih atas saling pengertian kita. Mudah2n kita bisa mencapai apa yg kita idam2kan. Wasalam

    @
    Salam kembali, sejuk kata dari Mas Madopolo. 😀

    Suka

  163. haniifa said

    Eyang mohon maaf bisa hapus komentar si Madopolo no:162 dan komentar si Haniifa yang ini berikut No:163
    Trim’s atas pengertiannya,

    Wassalam, Haniifa.

    Suka

  164. haniifa said

    hemmm.. hemmm… seepp dech.
    Game of Love… Michelle Branch —::Hasan:: 😀

    Suka

  165. truthseeker said

    @Haniifa

    Terima kasih

    Menurut @Truthseeker Apakah saya sombong saat mengulitinya ?!

    Mohon mas Haniifa jelaskan maksud pertanyaannya utk menghindarkan salah paham.

    Wassalam

    Suka

  166. Abudaniel said

    Assalamu’alaikum,
    @Mas Agor ( Lihat postingan no. 32 ).

    Bukan Umar bin Khatab tetapi Ali bin Abi Thalib.

    Wassalam,

    @
    Ya, betul Mas Abu, sudah dikoreksi juga oleh rekan yang lain. Tapi sengaja agor biarkan saja salah di situ, biar kalau ada yang mau mengikuti pembahasan dalam komentar, terlihat jelas kesalahannya. Terimakasih atas catatannya, Mas Truth juga sudah mengingatkan. 🙂
    Hanya tidak diedit, karena kalau diedit, berarti postingan komentar juga harus ikut dihapus (padahal relevan isinya)

    Suka

  167. haniifa said

    Ok ?! @Mas Turut Ceker lupakan saja dari pada salah paham.
    Pertanyaan super konyol saudara sudah saya jawab.
    Demi Allah sejujurnya saya jawab.

    Apa “eksesnya” heh… ?! Si Eyang cengengesaan bukan…
    (suka yach… muka saya dan eyang := coreng moreng)
    ————————————————————–
    Ajakan saya := Mari kita prioritaskan dengan meningkatkan IMAN hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala… saja. titik.

    Pertanyaan saudara := Kita gak boleh beriman kpd Nabi, Kitab2 SuciNya? hari akhir, Takdir dll?…
    ————————————————————-
    Esensinya pertanyaan saya adalah menjawab Si Turut Ceker dipostingan ini.
    (Baca dunk arti prioritas… itu 😀 )

    Bagaimana persaan @Mas Truthseeker jika menjadi saya, pada saat berjalan diatas kayu merasa diawasi oleh sepasang mata Harimau yanng luka tembak selama 3 malam berturu-turut dan sang Harimau mengincar manusia yang mendzaliminya ?!

    Yang saya lakukan :
    a. Prioritas pertama, berdo’a kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
    b. Untuk jaga-jaga maka setiap berangkat ke-“rig”, selalu menyelipkan obeng panjang.

    Atau dengan kata lain…
    Pertanyaannya adalah:= Salahkah saya lebih memprioritaskan berdo’a Allah subhanahu wa ta’ala ?!

    Wassalam, Haniifa.

    Suka

  168. haniifa said

    Salam jumpa di didunia maya ini @Mas Aburahat dan @Mas Abudaniel
    Terima kasih atas sarannya… , dan saya yakin mas mempercayai jawaban saya pada si Turut Ceker
    (Sejak kapan dia jadi IMAM saya dalam artian boss atau IMAM saya dalam artian imam shalat, atau IMAM dalam keluarga besar saya, atau IMAM-IMAM yang lain)

    @Truthseeker
    Siapa nama imamnya mas Haniifa?. Drs. Zainal Muharam

    Rumahnya dimana?.. (bahkan telp ada, tapi mohon maaf saya harus minta ijin beliau… )

    Pengganti pertanyaan yang tidak saya jawab yach…
    1. Dibahas Isra Miraj… Khubah pertama.
    2. Dibahas ada juga fatwa tentang “Riba” berkorelasi diktum 1.
    3. Diakhiri Do’a yang biasa dibawakan oleh Nabi Ibrahim a.s
    4. Usia IMAM saya cukup belia sekitar 30-an.
    5. Tinggi kurus dan wajah bersih belum beruban (saya bewok, pendekar := pendek dan kekar, ubanen… yang ini jangan bilang-bilang yach )
    6. Surat pendek pertama… kira-kira 2 ayat ditengah Al Qur’an (duh… dari pada salah nama surahnya, sori yach !!)
    7. Surah pendek kedua, Al Qur’an surah An Nashr [QS 110].

    Wassalam, Haniifa.

    @Truthseeker
    Saya perjelas agar saudara tidak salah faham, OK 😀
    Bagaimana perasaan @Mas Truthseeker mengalami peristiwa seperti yang saya alami, pada saat berjalan diatas kayu merasa diawasi oleh sepasang mata Harimau yanng luka tembak selama 3 malam berturu-turut dan sang Harimau mengincar manusia yang mendzaliminya ?!
    (diatas kayu := Hutan rawa gambut mempunyai ketinggian air antara 0,5 s/d 1 meter selain hutan belantara juga banyak ditumbuhi pohon Palm warna merah, Nama daerah PONAK-RIAU)

    Yang saya lakukan :
    a. Prioritas pertama, berdo’a kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
    b. Untuk jaga-jaga maka setiap berangkat ke-”rig”, selalu menyelipkan obeng panjang.
    (Kami di pengeboran bekerja 12 jam sehari, dan saat itu saya pada giliran mulai jam 6 sore s/d jam 6 pagi)

    Wassalam, Haniifa.

    Suka

  169. Abudaniel said

    Assalamu’alaikum,
    @Mas Yureka @ koment no. 100.
    Sekadar ikut nimbrung.
    Kalau kita baca sepintas AQ 5:3, maka seolah-olah Islam “baru” disempurnakan oleh Allah pada akhir era Muhammad. Apa iya?.
    Kalau menurut saya, ini hanya menurut pemahaman saya, seluruh ajaran Islam baik aturan dan syariat sudah sempurna dari pertama sejak awal Allah berencana menciptakan manusia sebagai “khalifatullah” dimuka bumi. Sudah dibukukan kedalam buku besar yang kita kenal sebagai Lauhul Mahfuz.
    Implementasinya saja secara bertahap sesuai dengan kebutuhan.
    Dizaman Nabi Adam ‘Alaihisalam, syariatnya berbeda dengan zamannya Nabi Idris. Begitu juga dizamannya Nabi Idris berbeda dengan nabi-nabi dan rasul setelahnya. Setiap Nabi dan Rasul mempunyai syariat sendiri sesuai kebutuhannya dan karakter umat tersebut. Tapi yang jelas essensi dari semua ajaran dan syariat yang diturunkan kepada para Nabi dan Rasul dari Adam sampai Muhammad adalah sama. Bertauhid kepada Allah dan beramal shaleh.
    Cara bertauhid dan beramal shaleh, diatur dan diturunkan oleh Allah sesuai kebutuhan masing-masing umat pada masing-masing zamannya. Baik dari segi ibadah maupun muamalahnya. Untuk panduan tertulis maka diturunkanlah oleh Allah kitab-kitab, shuhuf-shuhuf kepada masing-masing Nabi dan Rasul sebagai kita ketahui. Ada shuhuf kepada Nabi Seth (Syit), Idris, Nuh, Ibrahim sampai kepada Nabi Muhammad. Termasuk kepada nabi-nabi dan rasul yang tidak diterangkan oleh Allah kepada kita.
    Pada masa Nabi Muhammadlah seluruh aturan dan syariat agama Islam selesai dan sempurna diturunkan, karena Beliau adalah Rasul untuk seluruh umat manusia bahkan jin, bukan lagi Nabi/Rasul untuk golongan dan bangsa dan suku. Semua syariat dari Adam sampai Muhammad dirangkum dan disimpulkan didalam satu buku/kitab yang kita kenal sebagai Al-Quran. Baik ibadah maupun muamalahnya. Untuk juklak dan juknisnya maka haditslah sebagai sebagai penjelasannya.

    Wassalam,

    @ Wass.ww.
    Kurang lebih saya juga memahaminya begitu, dan “rasa”nya saya juga memahaminya begitu. Baik penjelasan mengenai diambil dari khasanah Lauh Mahfuz maupun pengakhiran tahapan… : Pada hari ini/Pada masa ini yang menunjukkan saat (waktu kejadian) finalnya tahapan proses. … telah disempurnakan, telah Kucukupkan….
    Wass.agor

    Suka

  170. Abudaniel said

    Assalamu’alikum,
    @ Mas Haniifa (refer to comment no. 168 ).

    Saya nggak ikut-ikutan masaalah imam-imaman.
    Bagi saya cukup : Siapa Rabbmu : Allah
    Siapa Nabi/Rasulmu : Muhammad SAW
    Siapa Imammu : Al-Quraan
    Apa agamamu : Islam.
    Saya percaya kepada Allah, baik NamaNya maupun SifatNya.
    Saya percaya kepada Nabiyullah wa Rasulihi Muhammad Shallallahu’alaihi wassalam, dengan semua ajaran yang disampaikannya.
    Saya percaya kepada Al-Quraan sebagai Imam saya yang memimpin dan menuntun kepada jalan kehidupan yang lurus didunia maupun akhirat.
    Saya percaya kepada Islam dan menganutnya sebagai suatu agama yang benar-benar diturunkan Allah kepada umat manusia melalui Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wassalam dan telah disempurnakanNya sebagai panduan mengharungi hidup didunia.
    Saya juga menghormati dan mencintai semua shahabat Rasulullah yang telah sama-sama berjuang untuk tegaknya Islam sebagai agama yang hanif dan paripurna sebagaimana diajarkan Rasulullah, tanpa membeda-bedakan mereka, baik yang riwayatnya dikenali maupun tidak diterdapat dalam kebanyakan buku-buku shirah.
    Tidak ada Imam A dan Imam B. Para shahabat adalah semuanya Imam sepeninggal Nabi. Baik buat mereka sendiri dan keluarganya maupun bagi umat yang dibawah pimpinannya, seperti Khalifah Arrasyidin.
    Berdosa kita mencela dan mencaci shahabat yang satu demi membela shahabat yang lain, sebagaimana dilakukan oleh kebanyakan golongan Syi’ah. Apatah lagi mencela dan mencaci para shahabat yang berjuang dalam perang Badar, seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair Bin Awwam, Ammar bin Yasir dsb.
    Wassalam,

    @
    Ass.wr.wb
    Saya sependapat deh. Mari kita tidak usah mencela, termasuk mencela yang mencela. Kejadian masa lalu adalah dan bagaimanapun sejarah kelam — yang suka atau tidak suka — menjadi fakta bahwa itu jua menimbulkan perselisihan (baik pandangan maupun sikap).
    Yang kadang agor pribadi (sekali lagi : agor pribadi), enggan ikut campur dengan alasan yang sederhana saja : Sudah banyak yang bisa dibenci dalam kehidupan ini dan betapa susahnya untuk tidak membenci. Jadi, enggan deh menambah-nambah lagi. Yang di dalam dada saja sudah susah dikeluarkan 😦
    Tapi ini bukan soal benci, tapi soal kebenaran !. Wah !. No Comment deh !

    Wass, agor.

    Suka

  171. truthseeker said

    @Abudaniel
    Maaf ikut nimbrung mas AD

    Saya nggak ikut-ikutan masaalah imam-imaman.

    Sebetulnya kt disini kan tdk sedang bicarakan apa yg diinginkan masing2 kita kan?, sy pikir kt sedang mencoba mencari kebenaran (jika tdk mohon koreksi). Tentunya dlm mencari kebenaran ada konsekuensi2 (sebetulnya dlm semua hal ada konsekuensi…sihh..).

    Bagi saya cukup : Siapa Rabbmu : Allah
    Siapa Nabi/Rasulmu : Muhammad SAW
    Siapa Imammu : Al-Quraan
    Apa agamamu : Islam.

    Lagi2, kt tdk sedang bicara keinginan masing, krn kl kt bicara keinginan masing2 nanti jd forum curhat.. :mrgreen:
    Yg terpenting adalah apa yg kt tetapkan itu dg dalil (naqli ataupun aqli) spy tdk bersifat subjektif dan memaksa.
    Krn ada jg yg bilang AQ cukup dll yg cukup.
    Jadi tlg yg cukup bagi mas AD dijelaskan dalil2nya. terima kasih sebelumnya.

    Ada satu hal lg yg sy ingingkan klarifikasi, apakah menurut mas AD Al-Qur’an tdk menyentuh masalah imam/pemimpin, maula dll?. Krn sy tdk melihat alasan utk menolak membahas itu kecuali subjektivitas kt yg alergi dg masalah itu. krn yg mengusung mslh imam beranggapan itu jg masalah islam (AQ) shg relevan.
    Saya jg tdk merasa forum ini sanggup mengakomodir diskusi ttg Imam/kepemimpinan shg sy tdk menyentuh utk mengomentari detailnya, tp insyaallah sy tdk alergi/phobi.. :mrgreen

    Saya setuju mas caci maki (kpd siapapun) adalah bukan akhlak yg diajarkan Rasulullah.

    Wassalam

    Suka

  172. Haniifa said

    Saya setuju mas caci maki (kpd siapapun) adalah bukan akhlak yg diajarkan… 😀

    BACA YANG JELAS MAKNA YANG TERSIRAT:
    @Haniifa
    Siapa nama imamnya mas Haniifa?.
    Rumahnya dimana?

    ————————————-
    1. Penghinaan maragukan ajakan shalat Jum’at.
    2. Penghinaan pelecehan himbauan saya.
    3. Siapa saudara pakai tes-tes, ibadah saya ?!

    Kampret lu := TURUT CEKER

    Suka

  173. truthseeker said

    @Haniifa
    Maaf kalau terjadi lg salah sangka. Siapa sy berani2 mengurusi ibadahnya mas Haniifa.
    Maaf jg sy terlambat menanggapi, krn sy selalu lebih berhati2 setiap kirim komentar ke mas Haniifa dan berulang (hati2) baca pertanyaan mas Haniifa…maaf..maaf.
    Pertanyaan sy sebetulnya bermaksud apakah mas Haniifa spt saya yg tdk tahu siapa yg khotbah siapa yg menjadi imam masjid. ternyata mas Haniifa jauh lbh baik dr saya, mas Haniifa mengetahui dg begitu detail.

    Wassalam

    Suka

  174. yureka said

    @ mas abudaniel,

    agama di sisi Allah Islam sesuai surat 3:19 tentu yg dimaksud Allah sejak diberdirikan semesta ini. bahkan Allah katakan semua Nabi adalah muslimun. ayat2nya juga sangat tegas dan jelas. sedang pendapat bahwa agama Nabi2 sebelum muhammad adalah agama tauhid dengan syariat yg berbeda terus terang saya begitu bodoh shg belum menemukan ayat2nya, justru Muhammad diperintah untuk mengikuti ajaran/millah ibrahim. Pernahkah kita menggali apasaja millah Ibrahim itu ?? coba anda buka 3:95, 6/161, 16:123, 22:78.

    Justru yang berpendapat bahwa syariat berbeda beda sekali lagi saya belum menemukan ayatnya :

    semua Nabi disempurnakan keislamanya tanpa Allah memperbedakan, seperti saya memberi contoh pada komen saya no. 110 ttg perguruan silat dan murid dari setiap generasinya. tapi sayang, karena salah serap justru blog yg bagus ini jadi berisi sumpah serapah, untunglah mas agor paham benar maksud contoh yang saya berikan.

    Bisakah mas abudaniel menjelaskan apa maksud : KAMA SHOLAITA ALA IBRAHIM ??

    @
    Betul Mas, saya juga berpendapat sama. Kalau pun ada perbedaan syariat, seperti komen saya ke Mas sebelumnya, karena QS 22:67. Betul syariat itu Risalah Allah yang dibawa utusanNya. Risalah pokoknya tentu juga tauhid, cara tauhid sebagai aturan/hukum/cara atau sejenisnya deh, adalah berbeda, rasanya jelas juga. Peristiwa antara satu rasul ke rasul lainnya, segi akidah sama, tapi segi fikih… he..he..he… rasanya (sepertinya) dan contohnya sih berbeda. Saya yakin persis, Mas Yureka juga melihat hal yang sama… 😀

    Suka

  175. haniifa said

    Allah subhanahu wa ta’ala, berfirman :
    [QS 2:139]Katakanlah: “Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati,

    Amalan Yureka buat Yureka.
    Amalan Haniifa buat Haniifa.

    Suka

  176. haniifa said

    @Mas Truthseeker
    Kesalahan pengertian antara kita… no problemo,… Clear.
    (lupakan saja)

    Jelasnya saya jadi nggak enak hati.
    ———————————–
    Mas Haniifa, mohon maaf, biar saya hapus kembali komentar saya

    Wassalam, Haniifa.

    Suka

  177. Dono. said

    Ass.wr.wb,
    Sudahlah bapak-bapak yg penuh dengan ilmu dan keimanan.
    Berilah makan anak yatim.
    Saya lihat ilmu kalian soal agama begitu kuat.
    Alhamdulillah!

    Salam hormat/wassalam,Dono.

    @
    Wass.ww.
    Subhanallah, salah satu yang diingatkan Allah tentang para pendusta agama adalah QS Al Ma’un. Menghardik anak yatim, tidak memberi makan orang miskin.
    Wass.

    Suka

  178. zal said

    ::assalamu’alaikum Mas Agor,

    Apakah proses pencarian akan berhenti karena manusia menemukan Tuhannya?., Ali RA, berpendapat “Awaluddin Ma’rifatullah”, bahkan dalam shalat ini pula titip awal yg disebutkan mulai takbir, sampai inni wajjahtuwajhia…menunjukkan bahwa orang shalat mungkin lebih baik jika mengenal Tuhannya lebih dahulu, sebab meskipun kemana wajah menghadap disana wajah Tuhan, namun mengenalnya akan memudahkan untuk menghadap,

    Lalu mengapa pula kita kerap lebih mempercayai prasangkaan dari pada yang sudah jelas dijelaskan dalam tuntunan kehidupan?.
    Bukaknkah persepsi, siapapun yg menggalinya, masih membangun persepsi pada tuntunan tersebut, namun Allah yang amat dekat itu berkata “AKUlah pemimpin yg baik…” dan Dia berjanji akan mengilhamkan pada jiwa itu…, namun sia yang melihat pada saat Allah mengilhamkan…, lalu akan dikatakan..akh itu persepsi kamu saja…, padahal hal yang sama-sama dikenal akan di amini..mis, penggemear Beatless akan saling mengenal lagu Beatless, meski disajikan dalam bentuk live concert…

    Di sinilah, kita merasakan betapa berhati-hatinya oelama-oelama tempo dulu, ya..kalau ini saya percaya sebab Nabiullah SAW pernah berkata bahwa orang yang paling dicintai Allah, adalah orang yg jaraknya jauh dari waktu itu…, saya percaya, sebab Allah semakin menyempurnakan kualitas HambaNYA…

    @
    Ya.. pada beberapa sisi begitu tampak ke hati-hatian oelama tempo dulu, beberapa lagi juga sebaliknya, terutama ketika dianut dan melahirkan pengelompokkan.
    Saya juga percaya, kualitas ilmu orang kemudian sangat boleh jadi lebih baik. Namun, kualitas akhlak, boleh jadi memang semakin ke bawah….

    Suka

  179. haniifa said

    Penggemar Fir’aun akan saling mengenal nada dasar Fir’aun, meski disajikan dalam bentuk dagelan Fir’aun 😛

    Suka

  180. yureka said

    mas agor :
    tapi segi fikih… he..he..he… rasanya (sepertinya) dan contohnya sih berbeda. Saya yakin persis, Mas Yureka juga melihat hal yang sama…:D

    Mohon dijelaskan maksudnya apa ??, sudah tentu dengan dasar2 pegangan utama kita mas !! sementara jangan pake yang “katanya”. Contoh syareat yang mana ? mohon juga mas agor bantu mas abudaniel menjelaskan ttg “kama sholaita ibrohim” (bukan kama sholaita ala ibrohim as, juga bukan allahuma shali ala muhammad saw)

    @
    Mas Yureka, ngajak kita mendiskusikan perbedaan syahadat Nabi Ibrahim dan kemudian mendiskusikan mengapa ada allahuma shali ala muhammad?. Kalau ya sampai ke situ, agor nyerah deh. Sempat membaca masalah ini, tapi agor tidak lanjutkan karena rasanya ini masalah yang buat agor terlalu rumit… 😦

    Suka

  181. yureka said

    mas agor :
    boleh jadi kualitas akhlak makin ke bawah ?? jangan katakan bahwa sepeninggal muhammad, orang2 disekitarnya tidak saling bertikai lho !! atau mas agor punya panduan sejarah lain ??

    “Allah akan menolong rasul2 dan orang2 beriman DI DUNIA dan pada hari diberdirikannya saksi”

    semakin jauh dari muhammad makin ke bawah moralnya ??

    padahal petunjuknya jelas (baca:quran)
    padahal kita diberi hati nurani dgn kapasitas sama
    padahal SEBAB pasrah thd hukum Allah AKIBAT nya jadi beriman

    Suka

  182. haniifa said

    hei.. imam Yureka nulis yang bener Onta Lu….
    semakin jauh dari muhammad makin ke bawah moralnya ??

    semakin jauh dari Nabi Muhammad s.a.w makin ke bawah moralnya ??

    Suka

  183. abusangan said

    mari kita perhatikan : sebagai umat Muhammad, sholat kita : “seperti sholatnya Ibrohim”

    nggak bisa saya bayangkan, setelah ditemukan air, trus vegetasi, trus manusia, bagaimana nanti ideologi2 dan agama di bumi

    Suka

  184. haniifa said

    Walahh.. si IBRO deui datang 😀

    Suka

  185. truthseeker said

    @Agor & Zal
    Maha Adil Allah dengan tidak membatasi umat-Nya dr zaman utk menjadi yang terbaik.

    Wassalam

    @
    Tentu, Mahaadil, Allah tidak membatasi ummatNya dari Zaman ini untuk menjadi yang terbaik dibandingkan zaman Rasul terakhir. Apakah ini berarti bahwa ummat saat ini bisa lebih baik dari ummat di bawah pimpinan Rasul. Saya kira nggak ya… saya kira, begitu juga pemikiran Mas Truth. Atau bagaimana ya… kok saya susah memahami bahwa ummat kini lebih baik dari generasi sebelumnya secara umum. Ataukah karena pikiran ini sudah terpatri, karena hadis mengajarkan begini?.
    Wass, agor

    Suka

  186. yureka said

    mas agor
    “kok saya susah memahami bahwa ummat kini lebih baik dari generasi sebelumnya secara umum. Ataukah karena pikiran ini sudah terpatri, karena hadis mengajarkan begini?”.

    cobalah anda keluar dari hadis itu (saya juga sdh membacanya), untuk selanjutnya kembali pada furqon. Program yang dibuat Allah adalah “Quran bila ditaati akan menjadikan manusia lebih baik ” dan tentu Allah tidak membuat program ” setelah tahun 634 M (meninggalnya muhammad) manusia akan semakin rusak ”

    coba mas agor rasakan, mana yang pantas jadi bom waktu :
    – kematian Muhammad atau
    – menjauh dari quran

    @
    Kionghi…
    Betul Mas, saya coba telaah lagi.
    (boleh jadi ya, karena beberapa model berpikir, saya cenderung tidak mempostingkan analisis-analisis yang terkait hadis, sehingga ramboz.wordpress.com bilang pelit….)
    Menjauh dari Qur’an…—> ini kan banyak strateginya 😦 di jaman baheula sampai sekarang, usaha-usaha ini terus dilakukan tanpa henti.

    Suka

  187. aburahat said

    @yureka
    Heran ya. Nda usah heran. Kita tdk mungkin mengerti Alqu’ran tanpa Hadits Rasul. Mengapa sekarang se-akan2 mas Yureka katakan kita lbh pintar dari mereka yg dulu? Klu saja tdk ada penyelewengan dan penghianatan mereka yg dulu maka mereka tetap lebih pintar dari kita. Mas akan bertanya penyelewengan dan penghianatan yg mana.
    Coba mas pikir dgn jernih:
    1. Khalifah Abubakar hidup bersama Rasul berapa lama
    2. Khalifah Umar brp lama
    3. Khalifah Usman brp lama
    4. Khalifah Al brp lama dan sahabat yg lain
    5. Syaidah Fatimah berapa lama
    Berapa banyak Hadis shahih mereka yg mas baca?
    Masing2 paling banyak 80 bh hadits Sayidah Fatimah malahan 2 aja. Kemana pergi hadits2 yg kain. Agar mas tahu apabila hadits2 itu ada komplet sekarang maka tdk perlu ada penafsir dan pertentangan.
    Mereka rata2 dgn Nabi selama 20 thn. Apakah sebulan sekali atau berapa bln sekali mereka ketemu Rasul. Kan tdk berunyi bln. Hampir setiap hari mereka ketemu beliau. Kemudian setiap ayat yg turun mereka bertanya maksud dari ayat tsb. Klu saja apa yg mereka terima dari Rasul sampai pd kita maka saya rasa tdk ada perselisihan umat sekarang. Saya tdk bs hitung berapa banyak hadits yg tercecer. Apakah betul tercecer. Tolomg jgn berprasangka buruk tapi kita coba menggali sejarah utk mendapat kebenaran. Damai damai . Wasalam

    Suka

  188. truthseeker said

    @Agor
    Saya tidak bermaksud mengatakan bhw umat sekarang lebih baik atau umat yg akan datang lebih baik (keduanya telah dipuji oleh Rasulullah dg sangat proporsional).
    Sebetulnya tidak ada kepentingan kita utk menilainya dan juga tidak pernah ada alat ukur untuk itu, kecuali prasangka semata.
    Yang saya maksudkan adalah Allah tidak pernah membatasi seseorang untuk menjadi terbaik (mustahil bagi Allah). Allah mebuka kesempatan bagi semua manusia untuk menjadi terbaik, apakah kemudian orang2 pd jaman Rasulullah yang terbaik itu adalah pencapaian mereka bukan dikarenakan Allah “menetapkan” seperti itu.
    Mulia umat jaman Rasulullah adalah karena langsung menghadapi problem2 awal perkembangan islam, dan juga krn mrk langsung dididik oleh Rasulullah. Tapi rasulullah juga mengatakan bhw mulianya umat setelah beliau adalah dikarenakan mereka beriman kpd Rasulullah tanpa mereka pernah melihat beliau.

    Wassalam

    @
    Terimakasih atas catatannya, begitu jernih. 🙂

    Suka

  189. ramboz said

    😥 😥

    (boleh jadi ya, karena beberapa model berpikir, saya cenderung tidak mempostingkan analisis-analisis yang terkait hadis, sehingga ramboz.wordpress.com bilang pelit….)
    Menjauh dari Qur’an…—> ini kan banyak strateginya 😦 di jaman baheula sampai sekarang, usaha-usaha ini terus dilakukan tanpa henti.

    menjauh dari Qur’an 😥
    menjauh,,

    padahal melengkapi sama aja sama mendekat,
    mendekati Al Qur’an dengan Al Hadist,
    mendekati Al Qur’an dengan asbabunnuzul,
    mendekati Al Qur’an dengan mengenal penyampai.SAW,
    mendekati Al Qur’an dengan lebih mengenal keluarga.RA dan para kerabat.RA,

    @
    Menjauh dari Qur’an…—> ini kan banyak strateginya 😦 di jaman baheula sampai sekarang, usaha-usaha ini terus dilakukan tanpa henti.
    Sekedar contoh saja.
    Misalkan, pengertian ghaib, di AQ begitu jelas, tapi banyak buku dan penjelasan yang mengelompokkan pengetahuan ghaib pada pendekatan klenik. Mengapa?. Apa kira-kira sebabnya, apa pengaruhnya pada pemahaman ummat terhadap pergeseran arti yang terjadi.
    Pada jaman baheula (dan mungkin sampai kini), khutbah Jum’at harus total berbahasa Arab, sehingga jama’ah yang tidak mengerti bahasa Arab (berapa persen sih yang mengerti), harus terkantuk-kantuk tanpa mengerti. Ini sejak jaman penjajahan, malah kalau menggunakan khutbah berbahasa Indonesia atau jawa, bid’ah. Apa akibatnya terhadap pemahaman AQ.
    Saya punya teman yang begitu rajin mengkhatamkan AQ, meski tidak mengerti bahasa Arab, tapi hampir tidak pernah mau membaca terjemahan untuk mengerti. Cukup jelas dia yakinkan, tidak usah mengerti. Membaca saja sudah pahala. That’s it. Betul mengaji, tidak mengkaji.
    Wah bisa panjang rentetan sejenis ini. Tidak jarang pula pembahasan menggunakan hadis tapi meninggalkan sama sekali AQ atau hanya disinggung sedikit saja atau yang dijelaskan menurut A, B, C, D. Bukan A kepada AQ, B kepada AQ, C kepada AQ –> apa dampaknya terhadap cahaya Al Qur’an.
    Tentu tidak semuanya, di sini keterampilan memilah dan memilih diperlukan.
    Niat mendekat melalui sumber lain tentu tidak keliru, tapi tidak keliru pula bahwa AQ adalah petunjuk yang di dalamnya jelas untuk dibaca ummat Islam, petunjuk untuk orang beriman. Jadi, langsung pada pokoknya, jelas adalah anjuran AQ.
    Karakteristik Islam begitu jelas pula, memohon pertolongan, berdo’a kepada Allah, tidak menggunakan perantara. Untuk berislam, mengucapkan kalimat tauhid. Kontak langsung dengan Allah SWT.

    Kalau ingin mendekat kepada AQ, maka tentu ya datang ke AQ. Cahaya petunjuk. Esensi ini tidak boleh kita lupakan. Jadi, buat agor, jika dan hanya jika sangat perlu untuk memahami, maka sumber lain dipergunakan, khususnya hadis yang juga menjadi sumber hukum kedua yang tidak boleh ada pertentangan sama sekali dengan sumber hukum pertama. Jika bertentangan, ya tinggalkan.
    Wss, agor.

    Suka

  190. Abudaniel said

    Assalamu’alaikum,
    @ Mas Yureka ( refer to comment no. 186 ).
    Hadits tersebut shahih.
    Kalau menurut saya, ini menurut saya dan sepemahaman saya, “lebih baik” dalam hadits tersebut adalah dalam hal pemahaman keagamaanya. Dalam hal pengamalan agama. Karena lebih dekat kepada sumber rujukan, apalagi sezaman dengan sumber rujukan ( dalam hal ini Rasulullah), biasanya lebih murni cara peribadatannya. Karena kalau terjadi ketidak pahaman tentang suatu masaalah agama dan yang berhubungan dengan agama, apakah dari segi peribadatan maupun muamalah, Rasulullah masih hidup, para shahabat masih hidup, murid-muridnya shahabat (para tabi’in) masih hidup, muridnya tabi’in (tabi’ut tabi’in) masih hidup dan seterusnya. Jadi sumber rujukan masih dekat. Makin jauh dari sumber, biasanya, makin terjadi penyalah tafsiran, baik AQ maupun hadits dan makin banyak hadits-hadits palsu bermunculan baik dalam hal ibadah maupun lainnya.
    Maka, umat yang awal, dalam kaitan dengan ini, merupakan umat yang terbaik. Dalam artian baik dari segi pemahaman mereka dalam mengaplikasikan ajaran agama pada semua sendi kehidupan mereka.
    Umat sekarang, kita bisa melihat, mendengar dan merasakan sendiri. Kecuali dalam ilmu pengetahuan duniawi, kita jauh lebih maju dari umat terdahulu. Apakah kita lebih baik dari mereka……?. Dan juga dalam suatu riwayat Rasul pernah menyampaikan bahwa akan terjadi, suatu saat sebelum kiamat, umat manusia akan menjadi hilang kafir semuanya. Hilang agamanya. Bukankah saat itu bisa disebut saat yang the worst of the worst?.
    Wallahua’lam bishshowab,
    Wassalam,

    Suka

  191. yureka said

    membaca komen mas abudaniel, berarti anda sepakat bahwa bom waktu atas moral adalah kematian Muhammad (start 634 m) sampai pada titik tertentu nanti bom meledak mengeluarkan pita warna merah bertuliskan “the worst of the worst?”.

    kesimpulan lain : wahai umat manusia jaman sekarang dan seterusnya !!! bagaimanapun kalian mendekati quran (karena bukan bom-nya) kalian tidak akan bisa lebih baik dari orang dulu, malah2 kalian akan makin salah tafsir, relatif…bla..bla..bla

    @
    Kalaupun logikanya begitu, gpp juga kan… Tapi kan boleh juga kita memahami hal ini dalam konteks bahwa memang sebagian besar manusia akan semakin melupakan ajaran Allah untuk menggapai jalan lurus.
    Saya berharap semoga Allah memberikan kekuatan saya mati dengan keimanan dan diampuni segala kesalahan yang telah diperbuat.
    Ada dua point yang menarik buat saya : AQ sebagai kajian akal dan AQ sebagai petunjuk.

    Suka

  192. Abudaniel said

    Assalamu’alaikum,
    Mas Yureka,
    Mungkin juga, kalau anda berpendapat begitu. Tetapi sebaliknya, bukankah Allah berjajnji, sesuai dengan hadits-hadits Rasulullah, bahwa akan dikirim Imam Mahdi sebagai “penjinak bom waktu” tersebut. Sehingga, sekali lagi menurut hadits, pada zaman pemerintahan beliau (Imam Mahdi didampingi oleh Nabi Isa AS), seluruh manusia beriman semua dan keadaan kehidupan akan demikian berkahnya, kekayaan melimpah sehingga tidak ada lagi manusia yang memerlukan sedekah dan zakat.
    Kedamaian menyeluruh. Tidak ada kejahatan. Tidak ada tindakan anarkis.
    Setelah beliau wafat, sekali lagi menurut hadits, maka berangsur-angsur AQ akan ditarik (bukan tuisannya yang hilang tapi pemahamannya), manusia kehilangan pegangan. Nama Allah sudah mulai jarang disebut dan akhirnya hilang sama sekali dari ucapan dan lisan manusia. Saat itulah akan terjadi kiamat dengan didahului dengan tanda-tanda yang lain.
    Wallhua’lam.
    Wassalam,

    @
    Ass. Mas Abu dan Mas Yureka, dan rekan lainnya.
    Masalah “penjinak bom waktu” memang ada kerumitan di sini. Masih banyak buat saya, tanda tanya di sini, khususnya mengenai Imam Mahdi dan Isa a.s.
    Wallahu ‘alam.

    Suka

  193. yureka said

    wah Nabi Isa muncul lagi ??
    Nabi Muhammad sebagai khataman Nabi batal. ayat di mansukh/”dicuci” dengan hadits ??
    kalau memang begitu gpp khan ??
    kemudian alquran akan dihilangkan pemahamannya dikit-dikit…
    yang ini…global brenwosh..Allah memang aneh

    @
    Akan ada banyak perdebatan dan diskusi maupun pembelaan benar atau tidaknya mengenai Nabi Isa yang diangkat ke langit dan akan turun kembali di akhir masa, akan ada diskusi tak habis-habisnya mengenai Khataman Nabiyyin. Ada banyak pengakuan juga untuk menjadi Nabi-nabi baru sejak dulu sampai sekarang.

    Masa depan, intinya adalah perkara ghaib. Sebuah perkara yang kita tidak mengetahui persisnya kecuali yang telah diberitakan oleh Rasul yang dikehendakiNya dan berita-berita kejadian masa depan yang dijelaskan oleh Allah melalui RasulNya, khususnya yang tertulis pada AQ.

    Beberapa “ulama” kontemporer memang mempertanyakan kembali mengenai turunnya Nabi Isa dan Imam Mahdi. Tapi, agor sendiri belum mendalami dengan baik hal ini. Yang jelas, menjadi ciri khas manusia untuk selalu bertanya dan membutuhkan penjelasan logis. Apalagi mengenai masa-masa akhir zaman yang memang menarik untuk diulas.
    Lebih jauh lagi, pertanyaan ini juga mengarah pada penyikapan deterministik alam semesta dan manusia dalam keseluruhan waktu ataukah sebagian waktu. Namun, Allah juga jelas menjelaskan ada janji waktu terhadap masa depan (misal janji memenuhi mimpi Nabi masuk ke kota dalam keadaan aman). Jadi ada fungsi deterministik masa depan dan selebihnya adalah ghaib.

    Komentar Mas Yureka : “Allah memang aneh” yang dapat agor tampak adalah ajakan untuk kita melihat kembali (memikirkan kembali) konstelasi informasi dari hadis dan AQ yang terpahami menjelang kiamat. Dan bisa juga, memang Mas Yureka sedang mencerna persoalan ini dalam kelogisan berpikir.
    Bisa juga, yah… banyak kemungkinan lainnya. Namun, saya menangkap kebutuhan Mas Yureka melihat sinkronisasinya. 😀

    Suka

  194. dania said

    yureka………… anda mahu betul2 tahu mengenai islam atau ingin mendedahkan pendapat anda yang tidak benar terhadap islam?
    soalan anda seperti mahu mengejek islam dan abudaniel cuba menjawab dengan sebaik mungkin. saya malaysian muslimah dan tidak suka dengan cara anda bersoal jawab dengan pandangan sinis terhadap islam. kalu anda mahu betul2 mengetahui ajaran islam yang sebenarnya, belajarlah dengan cara yang betul, kalu tidak, jangan bersoal jawap dengan cara yang tidak sopan seperti ini. anda cuba menunjukkan anda memperkecilkan agama kami tapi iti identiti agama anda yang suka memperkecilkan agama orang lain. anda beragama apa? adakah agama anda sesempurna agama kami (melingkupi semua hal)? atau anda free thinker? tiada pegangan hidup barangkali?

    @
    Ass.ww.
    Mba Dania, gpp.. blog ini forum terbuka. Agor bersetuju bahwa dalam bersoal jawab kita harus sebisa mungkin santun. Saya sendiri tidak pernah khawatir siapapun mengecilkan agama Islam. Allah memelihara agama ini. Kesempurnaan Islam, insya Allah tampak dari kebesaran pengikutnya. Kita akan bertemu dengan yang meragukan pegangan dan sedang mencari pegangan yang sesungguhnya, yang sedang mencari, dan juga yang sedang memperolok-olokan agama. Semuanya ada. Mas Yureka, yang agor kenali adalah seorang yang berpikir tapi bukan merendahkan agamanya sendiri ataupun agama orang lain.
    Ws. agor.

    Suka

  195. yureka said

    gini cik dania….
    katanya Islam itu dinnul qoyim, agama yang kokoh (konon kokoh sekali !!) gitu….tapi :
    Allah orang Islam bilang agama disisiku Islam, trus ada yang bilang agama tempo dulu itu tauhid. mana kokohnya ?
    trus sholatnya Muhammad dan Ibrahim berbeza, dimana kokohnya ?
    trus Allah bilang Muhammad nabi terakhir… jadinya lain lagi ?

    maap kalu lengwij saya kurang serius, saya memang “free thinker”

    Suka

  196. yureka said

    pernahkah mas abu,mas agor mengalami dejavu ? suatu ketika kita berada dalam situasi yang “pernah” kita alami dengan kondisi yang seratus prosen sama !! Ingatkah bagaimana billgates meyiapkan segala program yang untuk semua user bisa diaplikasi sehingga akan ada output yang luar biasa.

    bagaimana dengan nostradamus yang “mampu” melihat masa depan (katanya)atau ronggo warsito atau browijoyo atau muhammad ??. Bagaimana bila ada pemahaman bahwa semua unsur di alam semesta ini ternyata mengeluarkan kuanta-kuanta yang dengan pengolahan spiritual tertentu baik berbasis islam atau non mampu merangkai kuanta-kuanta tersebut dalam bentuk kilasan2 peristiwa. Bagaimana sebuah kesadaran mampu menembus dimensi yang selama ini kita kenal, paling tidak yang dikenalkan newton.

    Kesadaran, dejavu, kuanta, mimpi, memang sangat rumit.
    informasi tentang nuh ghoib ! bahkan Allah katakan kebudayaan kita tidak ada sepersepuluh dari kebudayaan orang jaman dulu.
    Bagaimana bila misteri kota di kedalaman atlantis menunjukkan adanya puing2 nanotech ?? bagaimana kita bisa merangkai misslink ttg piramida mesir yg sampai sekarang bahkan arsitek ultra modern hanya geleng kepala ??

    jawabnya ada dalam dada. yang di dalamnya ada ayat-ayat yang sejak dari sononya sudah satu paket “include” dalam penciptaan manusia. sungguh adil Dia.

    Petunjuk pemakaian :
    pakai yang di dalam dada, jangan pakai (yang di dalam) kepala

    @
    Kalau agor patok dulu, yang namanya ghaib adalah urusan Allah, tidak diberitakan kecuali kepada Rasul yang dikehendaki. Masa depan termasuk perkara ghaib. Yang diperkirakan dan ditafsirkan manusia dalam ranah masa depan adalah yang terprediksikan oleh akal berpikir manusia. Pada alam materialistik ini bisa diperhitungkan/diperkirakan atau bersentuhan dengan sisi manusia. Boleh jadi itu ber-dejavu.

    Rasul Muhammad memberitakan apa yang diterimanya dari Allah, sebagai informasi masa depan, “melihat ketika diperjalankan dalam suatu malam” dan yang hadir dari mimpinya. Ini bisa dilihat dari dua ranah peristiwa. Masa depan yang betul-betul masa sesudah berakhirnya kehidupan dunia dan masa depan yang dijanjikan (antara lain melalui mimpi beliau) dan yang ditampakkan hal-hal sejenis yang manusia biasa tidak mampu mengetahuinya. Sebagian hadis menjelaskan hal ini.

    Kilasan masa depan sebagai pertanda atau penandaan yang disampaikan atau diterima oleh orang-orang tertentu dari sumber-sumber yang juga tidak diketahui. Dahulu, sebelum turunnya QS 72:9 maka dapat dipahami bahwa rahasia-rahasia langit disampaikan oleh “mereka” itu. Artinya kita memahami ada kondisi-kondisi berita bisa diterima, dan sekarang tidak ada lagi. Kalaupun ada, he…he…he.. boleh jadi sisa-sisa berita masa lalu… 😀

    pertanyaan kemudian, apakah kuanta-kuanta yang tertangkap sebagai kilasan-kilasan peristiwa itu adalah sesuatu yang ghaib atau bukan, yang dapat ditangkap oleh intuisi atau kemampuan orang ber-jedavu ataukah persepsi masa lalu ke masa kini dan ke masa depan?.

    Kemampuan orang berbeda-beda. Kuanta-kuanta “peristiwa” saat ini bisa ditangkap sebagai kejadian masa depan yang tertangkap dalam kondisi tertentu atau kejadian kini untuk memunculkan peristiwa di masa depan hanya mungkin dalam kuantum seolah-olah “meminjam energi masa depan”. Dengan begitu masa depan terdefinisi ketika seluruh resultante energi yang saling memperkuat membentuk aktivitasnya.
    Namun, keterbatasan untuk melihat (ketidakpastian heisenberg atau kucing Shrodinger) menunjukkan pula informasi bahwa di situ ada dan perlu campur tangan kejadian yang masih cukup sulit untuk dijelaskan ilmu pengetahuan.
    Dari sini juga kita bisa mempertimbangkan kewajaran bahwa manusia tidak bisa memperkirakan “kepastian masa depan” dan menjadi hak perogatif Allah. Kalau yang terjadi menjadi kepastian, maka fungsi do’a dan campur tangan setiap saat dari Allah juga menjadi tidak mungkin untuk dijelaskan dalam logika kuantum.
    Ini tentu saja berbasis logika ujung ilmu pengetahuan yang agor juga lebih banyak tidak mengertinya. Bukan soal spiritual yang dipahami oleh agama Islam, Kristen, Budha atau aliran/agama lainnya. Spiritual adalah warna kehidupan juga.
    😀

    Suka

  197. yureka said

    mas agor…
    patok mas agor ttg ghaib bisa diterima : yg ghaib berita masa lalu dan yg akan datang, ruh, Allah itu sendiri. hanya itu yg saya tangkap di Quran. selebihnya malekat bukan merupakan hal ghoib juga ada ayatnya, jin hanya abstrak (ingat cerita sulaiman yg begitu detil dgn tongkat dan anai2nya)

    kecuali kepada rasul yg dikehendaki juga jelas !! jelas bahwa Allah tdk mengatakan kepada siapa, pokoknya rasul, dan seperti yg diketahui rasul sangat banyak (nabi cuma insya Allah 25)bahkan Allah juga mengutus rasul dari kalangan jin. Jadi kita tdk perlu mengira-ira rasul yg dikehendaki itu si fulan atau….

    sedangkan dalam sebuah pembahasan (kami) saya memahami peristiwa perjalanan pada suatu malam itu merupakan sesuatu yang biasa saja. secara logis Allah memberikan tautan2 istimewa sehingga manusia sangat mampu mencerna.bagi muhammad itu merupakan “super closing” atas semua keraguan yg secara manusiawi tetap selalu hinggap dalam diri manusia yg rasul sekalipun. sampai disitu sangat mungkin terlalu panjang, karena mau tidak mau dalam aliran berpikir secara wajar pembahasan makhluk cerdas di luar bumi harus disrempet. Ini jelas tidak sama dengan tarzan yang dibawa ke new york, karena penyiapan2 kebesaran sudah dimutlakkan. subhanallah. masjidil aqsho, masjid yang jauh…..jauuuuuh sekali. dan itu riil.

    juga akan sangat panjang mas tentang 72:9. hanya salah satu kuncinya “tolong diperhatikan bunyi asli ayatnya” cause mas depag sometimes terlalu ngoyo saat mengartikan.

    kejadian masa depan hak prerogatif Allah…?? Tanya mas agor… siapa yang pegang kendali hidup matinya amrozi ??

    @
    Biarpun ngoyo, tapi masih relevan, apalagi penjelasan di ayat berikutnya mengklirkan juga… 😀

    kejadian masa depan hak prerogatif Allah…?? Tanya mas agor… siapa yang pegang kendali hidup matinya amrozi ??

    Satu hal yang menarik buat saya perihal kucing schrodinger adalah bahwa kucing itu hidup dan mati ada pada saat pengamatan. Jadi apakah kucing itu mati atau hidup, tidak tahu !. Kejadian menjadi ada/tidak ada pada saat pengamatan dilakukan.

    Apakah satu atom akan meluruh saat ini atau seratus juta tahun lagi, ilmu pengetahuan tidak bisa memastikan dengan tepat. Yang bisa dipastikan adalah atom “itu” akan meluruh.
    Sejumlah foton/partikel “charm” atau “galak” atau apa deh atau yang muncul dari ketiadaan tidak bisa diprediksikan munculnya dan “begitu” saja atau lenyap begitu saja juga tanda tanya. Mengapa dan siapa yang menyediakan energi bagi “kemunculan pertama”-nya !?.

    “Nabi Isa” adalah contoh manusia yang dirajam dan dan tubuhnya ditusuki oleh kaum yang membencinya, dan Allah mengatakan, Isa tidak dibunuh?.
    Nabi Ismail disembelih oleh orang tuanya, Nabi Ibrahim, dan yang “disembelih” adalah bukan Nabi.

    Maksud agor memberikan catatan ini, adalah betapa manusia itu tidak mengetahui persis apa yang “sesungguhnya terjadi di depan kita” karena itu ayat 72:10 menjadi relevan untuk menyimpulkan hak perogatif itu. Buat manusia, segalanya akan tampak deterministik, tapi tidak bagi Allah. Karena Allah memegang kunci ghaib.

    Juga tentunya kita tidak boleh melupakan bahwa QS 8:17 ; bahkan dalam persoalan membunuh, maka Allahlah yang membunuh, bukan kamu yang melempar, tapi Allahlah yang melempar. Tentu kita memahami ini dalam kerangka hukum-hukum Allah yang mau atau tidak akan dijalani oleh manusia.
    Manusia bisa mengingkari hukumnya (dengan pikirannya), tapi tidak bisa keluar dari hukumNya juga. Bahkan untuk bisa berpikir sekalipun, toh tetap harus menggunakan hukum Allah juga.

    Jadi, siapa pegang kendali Amrozi?…. 😀

    Suka

  198. yureka said

    bila bu sumiarsih atau pak sugeng atau bang dukun usep dan bahkan si martil yang kemarin di “grasi”, bisakah 8:17 direlasikan ??

    Harus ada ayat lain supaya semua definisi itu harmonis mas.
    8:17 ?? sangat tidak sinkron !!

    @
    Mas Yureka, semisal saya memberikan uang 100 ribu dan boleh dipakai apa saja sesuka-sukanya dan dengan uang itu Mas Yureka juga bisa membeli apa saja. Namun, saya sebagai penguasa dan menempatkan Mas Yureka di satu lapangan tertutup dan terbatas, lalu saya hanya mengijinkan satu pedagang bubur saja yang ada di sana. Lalu apakah mas bisa membeli apa saja?.
    Kalau 100 ribu itu saya ganti dengan potensi Mas Yureka, lalu apa saja adalah pikiran Mas, dan lapangan itu itu adalah dunia, dan pedagang bubur itu adalah tempat transaksi pilihan maka dapat saya katakan bahwa pilihan Mas adalah pilihan terukur dan terdefinisi pasti.

    Esensinya tentu Mas Yureka dapat melihat sinkronisasinya. Sebuah prosedur “halus” ditetapkan Allah ketika kehendakNya dijalankan. Konsepsi ini menjelaskan bahwa Allah mahahalus ketika berkehendak.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: