Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Ditemukan, Lapangan Migas Raksasa di Aceh

Posted by agorsiloku pada Februari 15, 2008

Assalamualaikum Wr. wb.

Kekayaan alam kita sangat membutuhkan profesionalisme dari bangsa ini, dan itu tugas kita, salah satunya adalah membina anak-anak kita.
kekayaan alam yang sangat luar biasa inilah yang bikin orang asing sejak jaman dulu kala jadi gatel pingin mengaduk-aduk Indonesia dengan segala cara, dan mencoba memusnahkan bangsa ini, sehingga negara ini dikuasai mereka.
Coba simak berita terbaru hari ini.

Elza | el_zach9@yahoo.com

@

Berita yang dikutip dari sumber ini “menggembirakan”.  Apakah ada keseriusan dari berita ini atau hanyalah “hoax” yang asal usul dan penelitian seksama belum ada!. Yang dapat saya tangkap, eksplorasi yang sudah dilakukan masih sangat dini, awal, dan”sebenarnya”belum apa-apa untuk ditarik kesimpulan seperti ini.  Namun sebuah indikasi ada.  Mudah-mudahan tentunya, berita ini ada kelanjutannya dan bukan seperti “satria piningit” atau “ratu adil”. Maksudnya hadir sebagai “pelipur lara” bangsa yang terhimpit oleh berbagai komplikasi.  Seperti juga dunia geologi, jelas memiliki kerumitan tersendiri, lebih dari pada yang bisa kita perkirakan… 😀

Namun, toh tidak ada salahnya ikutan menyimak berita di bawah ini. 

JawaPos 12 Feb 2008.

Ditemukan, Lapangan Migas Raksasa di Aceh

BPPT: Lebih Besar dari Milik Arab Saudi
JAKARTA – Bencana dahsyat tsunami di Aceh 26 Desember 2004 memunculkan berkah tak terduga empat tahun kemudian. Berawal dari studi pascagempa tsunami di perairan barat Sumatera, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) kemarin (11/2) mempublikasikan temuan blok dengan potensi kandungan migas raksasa.

Direktur Pusat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam BPPT Yusuf Surahman mengatakan, Survei BPPT bersama Bundesanspalp fur Geowissnschaften und Rohftoffe (BGR Jerman) itu menemukan kawasan perairan yang di dalam buminya diperkirakan terkandung migas 107,5 hingga 320,79 miliar barel. Lapangan migas tersebut terletak di daerah cekungan busur muka atau fore arc basin perairan timur laut Pulau Simeuleu, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). “Kandungan migas itu luar biasa besar,” ujar Yusuf di Kantor BPPT Jakarta kemarin (11/2).

Sebagai perbandingan untuk menunjukkan besarnya kandungan migas di Aceh tersebut, Yusuf menyebutkan, saat ini cadangan terbukti di Arab Saudi mencapai 264,21 miliar barel atau hanya 80 persen dari kandungan migas di Aceh. Sementara itu, cadangan Lapangan Banyu Urip di Cepu diperkirakan hanya 450 juta barel. Lapangan migas dapat dikategorikan raksasa atau giant field jika cadangan terhitungnya lebih dari 500 juta barel.

Menurut Yusuf, angka potensi tersebut didapat dari hitungan porositas 30 persen. Artinya, diasumsikan hanya 30 persen dari volume cekungan batuan itu yang mengandung migas. Meski demikian, lanjut dia, belum tentu seluruh cekungan tersebut diisi hidrokarbon yang merupakan unsur pembentuk minyak. “Karena itu, penemuan ini perlu kajian lebih lanjut,” katanya.

Dia menyatakan, meski belum diketahui secara pasti, salah satu indikasi awal keberadaan migas di cekungan tersebut dapat dilihat dari adanya carbonate build ups sebagai reservoir atau penampung minyak serta bright spot yang merupakan indikasi adanya gas.

Sejauh ini, lanjut Yusuf, Tim BPPT optimistis perairan timur laut Pulau Simeuleu mengandung migas skala raksasa. Sebab, beberapa daerah yang memiliki karakteristik sama sudah terbukti mengandung migas. Di antaranya, di wilayah Myanmar, Andaman, serta California, AS.

Meski demikian, BPPT akan tetap membuat perhitungan realistis. Menurut Yusuf, jika porositas diperkecil menjadi 15 persen, artinya diasumsikan hanya 15 persen dari volume cekungan yang mengandung migas, angka minimal cadangannya masih 53,7 miliar barel. “Tetap saja angka itu masih sangat besar,” terangnya.

Penemuan BPPT tersebut mendapat tanggapan positif dari ahli geologi perminyakan Andang Bachtiar yang kemarin juga hadir di Kantor BPPT. Chairman PT Exploration Think Tank Indonesia (ETTI) itu mengatakan, wilayah perairan Indonesia memang memiliki banyak cekungan atau basin yang berpotensi mengandung migas. “Banyak di antaranya yang belum teridentifikasi,” ujarnya.

Hingga saat ini, kata dia, sudah ada 66 cekungan plus 6 cekungan fore arc basin yang teridentifikasi berisi minyak. Pada 2003, lanjut dia, Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) berhasil mengidentifikasi hipotesis cadangan gas sebesar 26,7 triliun kaki kubik (TCF) yang tersebar di beberapa wilayah. “Kebanyakan memang berada di sebelah barat Sumatera,” terangnya.

Terkait dengan penemuan BPPT itu, Andang menyatakan masih perlu kajian lebih lanjut untuk bisa mendekati hitungan berapa besar cadangan terbuktinya. Menurut dia, lokasi studi seismik 2D yang dilakukan BPPT dengan interval jarak 60 km masih terlalu longgar. “Harus lebih rapat lagi, paling tidak intervalnya 20 km,” katanya.

Karena itu, lanjut dia, BPPT harus segera berkoordinasi dengan pemerintah untuk segera menindaklanjuti temuan tersebut. Sebab, untuk mengkaji lebih teliti, dibutuhkan dana cukup besar.

Dia menyebut, untuk proses studi seismik 2D yang lebih rapat, dibutuhkan dana sekitar USD 7 juta. Kemudian, untuk mengetahui angka cadangan migas, perlu dilakukan minimal 14 pengeboran sumur di 14 titik cekungan. Biaya pengeboran satu sumur, lanjut alumnus Colorado School of Mines, AS, itu, sekitar USD 30 juta. Dengan demikian, minimal dibutuhkan dana USD 427 juta. “Itu baru untuk studi eksplorasi. Untuk pengembangan lapangan, jumlahnya jauh lebih besar,” jelasnya.

Andang menambahkan, yang saat ini harus segera dilakukan BPPT dan pemerintah adalah koordinasi. Menurut dia, meskipun lapangan migas tersebut paling cepat baru dapat dikembangkan dalam waktu tujuh tahun ke depan, pemerintah harus bergerak cepat. “Jangan sampai potensi ini salah urus,” tegasnya.

Dia mengatakan, karakter lapangan yang berada di laut dalam (kedalaman lebih dari 200 meter) jelas membutuhkan dana besar dan teknologi tinggi yang belum tentu dimiliki Pertamina selaku perusahaan nasional. Meski demikian, lanjut dia, jangan sampai tersebarnya informasi potensi tersebut justru dimanfaatkan pihak-pihak yang punya modal besar dan teknologi, yakni perusahaan asing. “Intinya, pemerintah harus berusaha agar potensi ini bisa dimanfaatkan secara maksimal untuk kepentingan bangsa,” jelasnya.

Terkait dengan hal itu, Kepala BPPT Said Jenie menyatakan sudah melaporkan penemuan tersebut ke Departemen ESDM. Selain itu, pihaknya sudah memberikan tembusan yang ditindaklanjuti Pertamina dengan mengirimkan letter of intent kerja sama untuk menindaklanjuti temuan tersebut. “Kami harap semua pihak terkait bisa cepat merespons temuan ini. Sehingga bisa segera ditindaklanjuti,” ujarnya.

BPPT juga telah menyiapkan satu kapal riset yang dilengkapi alat khusus seismik untuk meneliti lebih lanjut dan telah meminta kepada pemerintah untuk mengamankan daerah perairan barat Aceh tersebut. (owi/kim)

Wassalamualaikum Wr wb.

Iklan

6 Tanggapan to “Ditemukan, Lapangan Migas Raksasa di Aceh”

  1. haniifa said

    Berita yang cukup menggembirakan.
    Tapi saya jadi ingat di tahun 87, saat nyambi explorasi migas di Propinsi Riau. Setelah pengeboran 3 sumur ternyata nggak ada tuh minyaknya, dari rencana 10 sumur akhirnya dihentikan.
    Nah…dari pengalaman itu menurut saya daripada buang-buang duit jutaan dolar utang lagi, mending dipakai biaya pendidikan murah…sembako murah dll … ldd

    @
    😀 mungkin seeh minyaknya ada, tapi apa potensial untuk dieksplor !, masih penuh tanda tanya… 😀

    Suka

  2. haniifa said

    ha.ha.ha..
    Betul mas… tapi apa potensial untuk dieksplor ! …??
    di th 2002, Alhamdulillah nyambi lagi di prop yang sama, sbg kolek data peng”empes” tor asing, Kab Siak.
    Di atas heli…tampak banyak “rig” berasal dari negeri Askarsyaiton Watoniah….??.
    Padahal 20 tahun silam kebanyakan dari negerinya mas Dr. Maurice Bucaille…??
    Ditilik lagi secara geografis letaknya berdekatan dengan sumber yang melimpah ruah yaitu kab. Dumai yang notabene dikuasai negerinya “syaiton besar”…?? kata mas Khomeni lho

    Masih penuh tanda tanya …??.
    Dari dulu prop Aceh merupakan ladang migas yang melimpah ruah…?? 😀

    @
    Harapan… kalau saja tidak diserahkan bulat-bulat untuk “mereka” itu, dan kita hanya dibagi ceritanya saja.
    Rasanya pemimpin seperti Venezuela yang berani tidak nyembah-nyembah itu negara dibutuhkan benar untuk negeri ini….

    Suka

  3. Abudaniel said

    Assalmu’alaikum
    Mas Haniifa & Mas Agor,
    Nggak beda dengan yang terjadi di Natuna ( Blok Alpha-D ). Lepas dari Exxon Mobil diserahkan ke Pertamina, berhubung kurang duit (?), dicarilah tukang “talang”. Maka berebutlah para investor asing yang menawarkan diri untuk menjadi mitra kerja Pertamina.
    Apa kita yakin, para investor itu bukan kroninya Exxon?.
    Jadi selama kita masih begini-begini saja, apa boleh buat isi perut bumi kita akan dikunyah-kunyah asing. Kita cuma kebagian kotorannya saja.
    Wassalam,

    @
    Membela rakyat bangsa asing dan tidak mau percaya bangsa sendiri adalah khas pemimpin bangsa ini… 😦 😦 😦

    Suka

  4. haniifa said

    Jalannya takdir jua kita terlahir dibumi nusantara 😀

    @
    di bumi manapun… terlahir adalah takdir menurut kehendakNya… 😀

    Suka

  5. amburadul said

    Assalamualaikum……
    Orang Indonesia yang bekerja di exxon, total, bp, dan perusahaan asing lainnyalah bernasib mujur,bisa menikmati hasil bumi negerinya karena mendapat gaji gemuk, tunjangan aman, masa depan cerrah…. mereka (orang ind yg bekerja di per asing) tahu potensi minyak bumi kita… tapi mereka terlanjur aman atau cari aman, daripada repot2 mendingan diam aja…. Indonesia memang kekurangan mujahidin yg mau membela bangsanya sendiri…
    Yaah Nassib jadi urang endonesia…!

    @
    Wass.ww.
    Rahmat dari Allah untuk bumi Indonesia dijual habis-habisan. Lalu kita tetap dalam kemiskinan dan ketertinggalan… duh….
    Wass.

    Suka

  6. kangarul said

    “Berbagai bangsa akan mengerubuti kalian sebagaimana orang-orang rakus mengerubuti makanan.” Seseorang bertanya, “Apakah karena jumlah kami sedikit pada saat itu?” Rasulullah Saw menjawab, “Kalian pada saat itu bahkan berjumlah banyak. Namun, kalian seperti buih di lautan.” (HR Abu Dawud & Ahmad)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: