Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Pengemis Buta :’…Jangan dekati ….. Dia itu orang gila’

Posted by agorsiloku pada Mei 22, 2006

Tulisan ini dimuat di Republika hari Jumat 10 Februari 2006 halaman 7

Di sudut pasar kota Madinah, ada seorang pengemis buta Yahudi. Setiap hari pengemis itu selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, “Wahai tuan/nyonya jangan dekati Muhammad. Dia itu orang gila. Dia itu pembohong. Dia itu tukang sihir. Dia pemecah belah keluarga. Apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya.” Sambil menengadahkan tangan, pengemis itu selalu meneriakkan kata-kata kasar setiap hari.
Namun, setiap pagi hampir selalu ada seorang pria yang datang padanya dengan membawakannya makanan. Tanpa berucap sepatah katapun, pria misterius itu kerap menyuapkan makanan yang dibawa sembari mengelur rambut pengemis itu. Suatu ketika, pria yang biasanya datang memberinya makanan tak lahi singgah. Pengemis buta gundah, ia makin dirundung rindu dan bertanya-tanya dalam hati apa yang terjadi dengan pria yang kerap mencurahkan perhatian padanya.
Hingga suatu pagi ada seorang pria yang mendatanginya untuk memberikan makanan padanya. Namun ketika pria itu mulai menyuapi, si pengemis buta Yahudi marah sambil menghardik, “Siapakah kamu? Engkau bukan orang yang biasa menyuapi makanan untukku.” “Aku adalah orang yang biasa,” jawab pria itu.
“Tidak mungkin. Engkau pembohong. Orang yang biasa menghampiriku, selalu membelai rambutku sebelum menyuapiku. Kemudian menghaluskan makanan sehingga tidak sulit mulut ini mengunyah. Dia menyuapiku dengan penuh kasih sayang dan kesabaran.” jawab sang pengemis.
Mendengar jawaban itu, pria tadi terhenyak. Mendadak hatinya luruh tidak dapat menahan air matanya. Ia tersedu sambil berkata kepada pengemis buta Yahudi itu, “Aku memang bukan orang yang biasa datang kepadamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya. Namaku Abu Bakar. Orang mulia yang biasa memberimu makan itu telah meninggal dunia. Dia adalah Muhammad. Muhammad kekasih Allah.”
Bak disambar petir, telinga tertampar, batin pengemis tercabik kelu. Pengemis buta Yahudi terperangah seal. Tubuhnya bergetar. Air matanya tumpah, nadanya serak terisak
Dengan terbata iapun berucap, ’benarkah orang yang sering mendatangiku itu Muhammad? Orang yang setiap hari aku fitnah?. Orang yang setiap hari aku caci?, dan orang yang setiap hari aku hina?“ tanya pengemis lunglai. „Anda benar, jawab Abu Bakar sambil terus terisak. Kerinduan Abu Bakar kepada Muhammad pun membuncah hebat. Sang menantu telah menggurat kenangan yang tak lekang di ingatan.
Sang pengemis buta Yahudi segera memegang tangan Abu Bakar. „Wahai Abu Bakar tuntun aku masuk Islam. Aku ingin bertemu dengan Muhammad. Tuntun aku wahai sahabat Muhammad.“ Dan sejak saat itu pengemis buta Yahudi itu memeluk Islam.
Kini, pengemis Yahudi meninggalkan pesan kepada kita.
Setidaknya ada dua golongan orang yang membenci nabi kita Muhammad saw.
Pertama, orang sombong. Mereka mengerti bahwa ajaran yang dibawa Muhammad saw benar. Namun mereka khawatir bila mengikuti jejak Muhammad kedudukan dan status sosialnya terancam. Yang termasuk golongan ini antara lain Abu Jahal. Walau tidak mengikuti ajaran Muhammad saw, Abu Jahal secara sembunyi kerap mendengarkan sang Nabi ketika membaca Al Qur’an.
Kedua, orang yang belum tahu kemuliaan Muhammad saw. Pengemis buta Yahudi, orang yang merendahkan, melecehkan dan juga para pelaku keji yang menjelek-jelekkan Nabi Muhammad SAW termasuk dalam kelompok ini.
Maka Jadilah seperti Abu Bakar. Dia penegak kebenaran. Dia penentang kebatilan. Diapun memerangi orang yang tak membayar zakat. Sebagai sahabat dan mertua, Abu Bakar tahu persis kemuliaan Muhammad saw. Abu Bakar kerap meneskan air mata bila teringat Muhammad saw. Abu Bakarpun selalu rindu bertemu dengan sang Nabi.
Ya Nabi…aku rindu berjumpa denganmu…aku rindu kepribadianmu melekat dalam diriku…akupun ingin tak ada lagi orang yang menghinamu. Aku rindu padamu ya Rosulullah…
Mudah-mudahan membawa pencerahan baru bagi yang membacanya.

Iklan

5 Tanggapan to “Pengemis Buta :’…Jangan dekati ….. Dia itu orang gila’”

  1. […] dan mengemis.  Kalau begitu, saya juga termasuk “pengemis”.  Bagaimanakah seharusnya memperhatikan pengemis, apalagi jika ia pengemis buta? .  Apakah keberadaan pengemis itu merupakan ujian bagi kita?.  Bahkan sebuah kesempatan untuk […]

    Suka

  2. annas said

    subhanallah! ALLAHUAKBAR!

    @
    Tentang sebuah kearifan yang nyaris tak terbayangkan…..

    Suka

  3. […] Ditulis oleh agorsiloku di/pada Februari 23, 2008 Seorang pengemis buta mengingatkan dengan nada kasar setiap hari :“Wahai tuan/nyonya jangan dekati Muhammad. Dia itu orang gila. Dia itu pembohong. Dia itu tukang s…. […]

    Suka

  4. […] juga yang kerap menganggu pikiran, tentang betapa halus budi pekerti Rasul.  Seorang buta bisa merasakan sentuhan kasih sayang dari seseorang yang setiap kali dicacinya. Karena sentuhan tangan Abu Bakar berbeda dengan sentuhan Nabi saat si Buta yang doyan memaki itu […]

    Suka

  5. Aku belum pernah menjumpai hadits yang memuat cerita tersebut. Apakah sumbernya dapat dipercaya?

    @
    Duh…
    Ketika saya kopi pais kisah ini, sama sekali tidak berpikir sumbernya. Dari cerita hadis mana, logikanya kalau ada tentulah Abu Bakar yang bercerita dalam kisah ini.
    Cerita ini yang saya ambil dari Republika ini sangat mengesankan kisahnya, dan wajar serta menunjukkan keagungan dari sebuah sikap hidup yang layak diteladani.
    Namun, catatan Mas Shodiq benar juga. Kisah ini, seharusnya jelas sumbernya dan jangan sekali-kali kita menceritakan kembali kisah ini atas nama Rasulullah seandainya tidak jelas asal usul ceritanya. Beliau sangat melarang mengaku-aku cerita atau hal-hal lain atas nama beliau. Allah SWT juga melarang mendustakan atas nama Rasul. Apapun tentunya risalah yang diceritakan.
    Mungkin ada rekan lain yang mengetahui lebih terinci?. Kalau ini tidak ada penjelasan sambil agor juga mo cari sumbernya, maka akan diberikan catatan penjelas karena sebaran cerita ini juga sudah banyak dan sudah lama ada, tidak hanya dalam bahasa Indonesia saja. Dengan begitu, bisa jelas posisinya.
    Kebetulan pula, dalam cerita ini, tidak dijelaskan sama sekali oleh Republika, bahwa ini bersumber dari hadis.
    Salam, agor

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: