Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Konserpatip, pundamental, atau pluralis — Pilih Mana?

Posted by agorsiloku pada Juli 21, 2008

INI HANYA SEBUAH CATATAN PERJALANAN SAJA.

Mo jadi Islam yang mana, kolot dan konservatif, pundamental dan anarkis, atau yang pluralis, atau puritan?.

Weleh… kok mumet ya?.  Konservatif, tradisional, kolot, atau fundamentalis atau plural atau liberal, atau yang menyejukan tapi konservatif, fundamental dan fanatis tapi modern atau apa?

Saya kira, pengalaman eh biografi  Mas Herianto tidak kalah menariknya dengan daya pikir Ahmad Wahib atau tokoh-tokoh puritan abangan atau santri yang dalam perjalanan hidupnya berkecimpung dalam dunia nyata dan spiritual ini.  Tulisan berikut ini, adalah sisi dari orang yang nggak punya pengalaman seperti Mas Herianto.  Mungkin juga ada manfaatnya buat orang dalam melihat orang luar….

Saya merasa semua urusan agama begitu membingungkan, sebagai seorang  yang sepanjang perjalanannya sepenuhnya abangan, saya tak kenal balaghah – nahwu atau sejenisnya, saya juga kemudian menyadari, tak kenal Islam itu apa?.  Saya hanya punya KTP Islam dan selebihnya : “I don’t know”.

Namun, dengan sisa waktu yang tersedia, dan sedikit keinginan, saya ingin tahu apa sih Islam itu.  Sungguh, pengalaman ini sangat jauh dengan para santri atau ulama yang dalam kesehariannya bergumul dengan ilmu agama dan memercikkan pada isi dunia.  Entah santri buntet atau sunnah wal jamaah atau sekedar hidup berpikir sederhana tapi mantap, atau reaktif dan bersemangat melihat isi dunia?.  Ini hanya contoh, masih ada lagi ribuan semangat mewarnai dunia dalam beragam bahasa.

Semua itu tidak mengerti, baru kemudian saya merasa begitu senangnya dengan kehadiran Islam Liberal.

Serius lho, saya mengikuti semua tulisan-tulisan yang berdatangan, mengikuti protes-protesnya dan caci maki yang keluar dari para petinggi.  Saya merasa benar-benar asyik.  Saya merasa mendapatkan dunia yang saya cari-cari dalam kegelisahan sekian lama.  Saya bosan membaca atau sedikit merasakan pertentangan-pertentangan di level akar rumput, saya bosan melihat teriakan nama Allah disebut dengan penuh semangat kemarahan sambil membuat saudara seiman (apakah saya beriman?) jadi merinding.  Saya kesal melihat terjadinya pengrusakkan, dan ujung-ujung dari semua persoalan yang dilihat sehari-hari itu, saya memandang sinis semua label-label yang dibawa orang-orang yang membawa nama agama dimana-mana untuk keperluan apa saja.

Sepertinya Islam Liberal membawa warna kesejukan untuk bangsa yang mudah tersinggung ini?.  Betul, kita kurang bersyukur.  Saya juga gemar mencaci Indonesia.

Kemudian, timbul pertanyaan.  Kok orang kaum puritan, fundamentalis, konservatif kayaknya membenci betul Islam Liberal yang membebaskan itu?.  Aneh betul.  Hati kecil saya berkata, memang begitulah kerjanya orang konservatif, kalau nggak nyalahkan orang atau golongan lain, rasanya kurang afdol atau mungkin kurang diterima tuhan.

Tuhan?.  Bisik hati ini?.

Siapakah Dia ini?, mengapa aku hidup?, mengapa aku bertanya tentang Engkau?, tentang bagaiman Engkau menciptakan, bagaimana Engkau mengatur dunia ini?.

Saya ingin membaca lebih ke dalam Peradaban Nurcholis Majid atau Ilya Ulumuddin, atau mungkin kitab yang kuning itu.  Tapi yah terlalu berat !, saya cari di toko-toko buku yang ringan-ringan saja, yang sekedar menambah pengertian.  Terutama yang berkait dengan “ketidaksukaan” satu golongan ke golongan lain.

Pengalaman ini saya tulis hampir satu setengah tahun yang lalu secara singkat saja di sini.  Pikiran tersebut sengaja saya postingkan di awal-awal saya membuat blog, biar kalau ada yang mau berkunjung ke blog ini mau menambah nasehat dan pengetahuan.  Bahkan dengan tegas dan jelas saya jelaskan.  Saya ini tidak mengerti artinya Kaffah !.  Jadi jangan tanya lain-lain, soal agama saya adalah seorang buta tuli.

Kemudian, postingan yang keluar sering datang dari persoalan-persoalan yang betul-betul abangan.  Dari komentar dan nasehat saya kemudian merasa punya pilihan pandangan yang menurut saya lebih membumi.  Untuk urusan golongan-golongan, saya netral saja deh.  Ini pilihan agar saya bisa lebih bebas mengolah akal, sehingga tidak jarang saya berpikir dengan cara yang sangat keliru.  Kalau saya tidak mengerti, saya tulis saja apa adanya.  Misalnya As Sunnah, saya nggak ngerti itu apa?.

Kadang saya merasa sangat malu kepada mereka-mereka yang beruntung hidup dalam dunia penuh pencerahan itu, mereka yang bisa mengajarkan dengan ilmunya banyak hal untuk mencerahkan dunia.  Namun, saya juga tidak bisa memungkiri, kadang mereka juga terlalu mengagungkan kelompoknya sehingga tidak sepertinya enggan melihat dari sisi-sisi lainnya.

Namun, all of all, saya akhirnya bersyukur, begitu banyak yang membantu saya untuk melihat yang lebih baik.  Jasa pertama dari JIL adalah menunjukkan bagaimana seharusnya saya mengambil jalan.

Saya anggap saya tahu saja deh, saya lebih suka memilih konservatif, fundamental, dan fanatisme sehat saja dari pada liberal atau takluk pada imam, bukan kepada Al Qur’an (dan hadits shahih yang menyertainya)

Jadilah isi blog ini macam-macam, namun dalam seluruh catatan-catatan dan olah yang dibuat, sejauh mungkin jangan sampai keluar dari sebuah komitmen yang menurut saya teramat penting dari keseluruhan peristiwa : Kaffah.

Iklan

7 Tanggapan to “Konserpatip, pundamental, atau pluralis — Pilih Mana?”

  1. Saya melihat pertentangan antara kelompok fundamentalis dan liberal (baik di dalam Islam maupun agama-agama lain) ini agak aneh. Karena apa yang dipertentangkan kadangkala tidak nyambung.

    Mengapa tidak nyambung ?? Karena semua kelompok membuat definisi masing-masing.

    Saya ambil contoh : Masalah pluralisme agama.

    Apakah sebenarnya definisi yang “benar” tentang pluralisme agama ?

    Ada yang mengartikan pluralisme agama adalah menganggap semua agama sama benarnya. Ada pula yang mengartikan pluralisme agama adalah paham yang menghargai kemajemukan, menghargai pihak lain yang berbeda.

    Biarpun kelihatannya mirip dua definisi ini jelas sangat-sangat berbeda.

    Anehnya kesalahpahaman ini jarang disadari.

    Pihak yang pro pluralisme agama misalnya ada yang asal pro saja tidak tahu pluralisme macam apa yang dia bela. Begitu juga pihak yang menentang pluralisme agama juga kadang sekedar ikut-ikutan saja karena dia tidak tahu pluralisme macam apa yang dimaksud oleh pihak lawannya.

    JAdinya kasus aneh bin ajaib sering terjadi :

    Si A tidak setuju dengan si B yang mendukung pluralisme agama.
    Si A mengartikan pluralisme agama adalah paham yang menisbikan keunikan masing-masing agama
    (menggeneralisasi semua agama).

    Sedangkan si B mengartikan pluralisme agama adalah paham yang menghargai/mengakui keanekaragaman atau mengakui perbedaan. Andai saja si A tahu pikiran si B dan juga sebaliknya belum tentu masing-masing pihak saling ngotot. Masalahnya kedua belah pihak punya gambaran yang salah terhadap pihak lain.

    Jadi sebelum membahas lebih dalam soal pluralis, pluralisme agama dsb. Kita harus punya definisi yang sama dulu apa yang dimaksud dengan pluralis itu .

    @
    Mas Lovepassword,
    Ada beberapa titik persoalan yang bisa kita lihat. Bukan soal bagaimana definisi pluralisme atau pluralistik atau plural atau kemajemukan atau terminologi apapun yang dipakai. Setiap kelompok, ilmuwan, atau sosiolog akan dapat membuat definisi-definisi sendiri. Soal diakui atau tidak adalah persoalan “generik”.
    Contoh sederhana adalah, ketika saya mau naik honda angkot jurusan Buah batu – Dago, maka apapun merek mobilnya, maka Hondalah mereknya. Pertanyaan generik lainnya seperti : “Kita mau wisata, Kodaknya dibawa nggak?”. Kodak adalah merek, seharusnya pertanyaannya adalah :.. bawa tustel nggak?”.
    Jadi pahamilah definisi yang dibawa oleh pihak-pihak yang berbeda dalam satu kondisi generik. Ketika yang muncul dalam definisi sebagian besar orang pluralisme agama adalah menyamaratakan semua agama maka itulah definisinya. Bahwa itu salah menurut orang liberal dan itu benar menurut orang MUI atau saya atau siapa saja, maka orang berpikir pada persepsi ini. Persoalan pada definisi adalah sudut pandang pada persoalan, bukan pada persoalan itu sendiri. Mengemukakan pendapat adalah bagaimana kita mempersepsikan satu bahasan atau objek menurut kita. Melaksanakan perintah atasan atau perintah Allah adalah melaksanakan perintah yang benar menurut pengertian kita terhadap perintah itu. (Soal ini saya kira banyak orang-orang Utan Kayu ahlinya).
    Karena itu, wajar Mas mempersoalkan seperti kalimat alinea sebelum terakhir :”Masalahnya kedua belah pihak punya gambaran yang salah terhadap pihak lain. ” Yang terjadi tentu saja ini adalah stigma.
    Stigma sosial yang direkam oleh orang di luar agama liberal adalah stigma yang menimbulkan persepsi negatif dalam menjalankan kebebasan dan laku keagamaan. Atau dalam bahasa lainnya, nyleneh, keluar dari jalur-jalur atau pakem persepsi yang dimiliki sebagian besar ummat.
    Boleh jadi ini salah dan sangat salah, tapi itu yang saya rasakan ketika saya mengikuti semua tingkah dan logika-logika yang disampaikan oleh agama liberal. Menjadi relatif, tidak ada lagi keberpihakan kepada Sang Pencipta yang telah memberikan petunjuk kepada jalan yang lurus menurut versi Allah. Agama Liberal menjadi paham yang mensektekan Islam pada tataran keserbabolehan dalam logika intelektual yang menurut saya yang sangat bodoh ini : lemah. Jadilah Islam Liberal sebuah sekte Orientalis.
    Jadi, ketika saya mulai terlibat sekali-kali dalam diskusi milis atau hanya sekedar pembaca saja, makin lama makin terasa bahwa ini bukan yang saya cari. Ini yang saya rasakan. Diskusi yang adapun tidak mengalir dalam tatanan saling menghormati, tapi cenderung saling membenarkan. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk resign saja, karena merasa diskusi liberal tidak lagi menarik, membuang energi dan malah bisa menimbulkan rasa keterasingan terhadap agama. Konservatif dan Fundamental adalah pilihan yang terbaik, tapi tentu saja tidak harus jadi teroris atau mengancam orang-orang yang tidak memiliki hubungan atau orang-orang yang tidak berkesesuaian.
    Namun, seperti pada postingan, saya justru belajar banyak dari milis dan website liberal tentang dunia Islam sampai kemudian saya melakukan pilihan.

    Nah kondisi-kondisi itu yang gagal ditemukan dalam mendefinisikan wacana, dalam diskusi yang dibuat dan kekokohan terhadap keyakinan-keyakinan parsial.

    Persoalan bukan pada bagaimana kita menyepakati definisi bersama dalam sebuah wacana, tapi ketika pondasinya berbeda, maka perbedaan itu ada. Bukan untuk saling membenarkan, bukan juga untuk dipersatukan, apalagi dipersalahkan.

    Ini tidak aneh, tidak juga tidak disadari. Tapi dari situ, boleh jadi ada lapisan peluang yang dicoba gali terus menerus.
    Berurusan dengan manusia, lebih ribet karena itu tadi… 😀

    Suka

  2. Herianto said

    Mmm,
    agak lama saya tadi merenungi (membaca ulang) tulisan mas agor kali ini. 🙂
    Masalah faham liberal,
    Menurut saya yang tersisa dari mereka adalah “kemauan” intelektual-nya, itu saja. Tetapi “yang itu saja” ini telah menjadi salah satu faktor utama yang menciptakan kemunduran di tubuh ummat.
    Semestinya para aktivis non liberal pun tidak tabu untuk mengembangkan/menggunakan keluasan intelektual (kemampuan pikir) ini.
    Di sisi lain sebagian besar kita miris menyaksikan sepak terjang mereka, mirip lah seperti memerahnya wajah ini menyaksikan teman2 fpi beraksi dalam “kekerasan” amar ma’ruf nahi munkar – nya.

    Misalnya tentang tindakan aneh bin kesimpulan nyleneh dari faham liberal yg sampai tega2 nya seorang dosen menginjak lembar al qur’an di depan para mahasiswanya, adalagi kader senior akademik-nya yang meng-analogi-kan kata Allah dengan kata anjing, dsbnya, yg bagi saya itu kelewatan, terlepas dari kontroversial dalih logik yang mereka paparkan. Tapi itu contoh tindakan yg sangat tidak realistis, seperti halnya tontonan keras yang ditampilkan teman2 fpi yang sering kita kritik (ingatkan), sama tidak realistisnya, itu menurut saya.

    Masalah keliberalan mas agor menurut saya tidak gitu-gitu banget, bahkan dari apa yg saya ikuti melalui berbagai postingannya, justru kok kayaknya gak liberal2 gitu ya ? 🙂
    Mungkin kekaguman pada pencerahan (keterbukaan) berpikir yang mereka (teman2 liberal) tampilkan, seperti halnya saya yg juga banyak belajar (membaca) tulisan2 di website mereka.
    Saya sendiri termasuk yg tidak “menghindar” dari kehadiran faham liberal ini. Beberapa kali sempat mengajar di Univesitas Paramadina (eks. alm Nurkholis) tempat gembongnya (pakar) faham liberal ini, rasanya biasa saja. Baiknya mereka terbuka dengan siapa saja, walau ternyata tidak semua oknum di sana menerima keterbukaan itu.

    Sepeerti yang ditulis oleh mas lovepassword di atas, antar kita sering salah duga (salah prasangka) dan menggunakan definisi (standar pengertian) yang berbeda, padahal diskusi2 panjang yang berlarut-larut telah terjadi, sehingga bisa jadi tanpa rangkuman (kesepakatan) apa-apa. Dialog yang monolog kata pak kopral Gede. 😆
    Alhamdulillah, kemauan kita hadir di dunia blog ini dapat menjadi pencerahan sekaligus babak lain (baru) dari bentuk dialog2 itu.
    Semoga aja ya… 🙂
    Itu dulu ah…

    @
    Mas Herianto, yap…
    Khusus untuk Nurcholis Majid – alm, ketika saya membaca buah pikir “Peradaban” beliau, kok saya tidak menangkap ya adanya nuansa liberal sekuat yang muncul yang dibawa anak muda superior itu. Malah menurut saya kekuatan tauhid yang begitu kokoh dijelaskan, namun juga dalam kesantunan luar biasa. Kadang, saya berpikir, alm lah yang dimanfaatkan oleh “mereka” tidak pada porsinya.
    Hanya memang, buku Nurcholis itu, menurut saya bahasanya nggak enak, njlimet (atau emang sih saya saja yang telmi… 😦 )
    Betul Mas Herianto, ketika diskusi intelektual dikeluarkan, tapi perilaku tidak mengimbanginya, maka definisi yang keluar bukanlah definisi intelektual, tapi definisi yang kemudian nyleneh di lapangan, seperti salah satu kasus absur yang dicontohkan oleh Mas (tapi saya tidak tahu itu paham liberal atau bukan !), saya pikir itu oknum dosen yang tidak mengerti sopan santun dan sangat merendahkan etika dan budaya timur dan sekaligus melecehkan agama saja. Apakah itu karena paham liberal?. Saya juga nggak paham kok, tapi di bagian keserbabolehan yang lain, maka seperti yang komentar Mas dan pada postingan, sebagai alat control dan self control, setiap sisi ada nilai positif dan negatifnya.
    Ketika saya begitu aktif mengikuti perjalanan Islib, justru saya belajar banyak, seperti seorang anak yang terantuk-antuk jatuh sebelum bisa berjalan…. namun, pada setiap kerikil dan antukan itu, Allah mengajarkan hikmah tentang agamaNya.

    Suka

  3. Dalam kasus pluralisme agama, dsb – saya rasa agak sulit dicari apa makna generiknya. Setidaknya saya nemu dua pendapat dalam mengartikan apa itu pluralisme. Pihak pertama mengartikan pluralisme adalah paham yang menghargai kemajemukan/keanekaragaman. Pihak yang lain lagi mengartikan pluralisme adalah paham yang mencampur adukkan semua agama sehingga menghilangkan identitas agama.

    Banyak pihak yang pro dengan pluralisme karena mereka mengartikan pluralisme seperti definisi pertama. Sedangkan pihak yang menentang pluralisme banyak yang mendefinisikan pluralisme seperti definisi kedua. Saya rasa sebelum dialog sebelum berdebat panjang lebar mengenai suatu masalah, masing-masing pihak perlu tahu dulu bahasa masing-masing.

    Bahwa orang-orang liberal yang pro pluralisme ada juga yang mengartikan pluralisme sebagai semua agama sama saja . Atau ada orang fundamentalis yang tetap menentang pluralisme meskipun sudah dijelaskan bahwa pluralisme yang dimaksud oleh lawan bicaranya adalah menghormati perbedaan. Semua itu memang ada. Tapi banyak juga kesalahpahaman parah, bahkan gebuk-gebukan yang asalnya bukan karena perbedaan pemikiran, tetapi karena masing-masing pihak tidak paham maksud pihak lain.

    Kalau kita gebuk-gebukan /berdebat keras terhadap sesuatu yang substansial berbeda. Itu OK.
    Tetapi kalau kita sudah terlanjut berdebat berhari-hari ternyata masalahnya karena beda pengertian. Saya rasa itu konyol.

    Gambaran gampangnya mungkin seperti ini :

    Saya bilang Ani itu cantik.
    Mas Agor bilang Ani itu jelek.

    Saya dan anda lalu berdebat.
    Kalau kita ternyata membicarakan Ani yang sama – That’s Ok lah
    Tetapi ternyata yang kita bicarakan adalah dua Ani yang berbeda.

    Yang saya maksud adalah sebelum perdebatan mengarah/memutuskan apakah Ani itu kita anggap jelek atau bagus. Bukankah sudah sepantasnya bila saya tahu dulu Ani yang mana yang anda maksud. Demikian juga anda juga tahu dulu Ani yang saya maksud Ani yang mana. Dengan demikian terlepas dari masing-masing pihak setuju atau tidak setuju. Kita bicara dengan titik tangkap yang sama.

    Kalau saya bicara Ani adiknya si Rudi, sedangkan Anda ternyata bicara Ani emaknya Si Budi misalnya. Dan kita berdebat soal Ani cantik atau tidak. Menurut anda – perdebatan macam apakah yang kita lakukan ????

    Dalam kasus pluralisme agama, saya mengamati ada banyak sekali perdebatan aneh semacam itu.

    @
    Lebih aneh lagi, perdebatan ini memperkuat debat masing-masing. Yang satu marah-marah, yang lain dapat sumbangan. Yang satu mencari sumbangan, yang lain berbagi sumbangan.
    Apa dua-duanya sedang mengumpulkan sumbangan.

    Eh soal Ani, agor akan bilang siapapun, Ani’s are beautifull artinya pull beauty-nya. Tapi soal cinta, hanya satu dari any “Ani”.

    Suka

  4. […] Konserpatip, pundamental, atau pluralis — Pilih Mana? […]

    Suka

  5. aburahat said

    @Agor
    Klu saya baca posting mas diatas dan klu tdk salah menurut tafsir saya bahwa mas seblmnya ragu2 paham yg mana lbh sret dihati mas dari sekian banyak pemahaman (konservatif, fundementalis. ortodox dll) mas memilih Alqur’an dan Hadis Rasul yg shahih tdk liberal dan tdk perlu Imam. Menurut mas dlm hal ini lbh flexible. Mas, klu hanya Alqur’an dan Hadis yg shahih menurut saya blm cukup. Seperti mas katakan bahwa kita ini awam (jgn bodoh mas terlalu extreem). Dan memang benar. Apalagi Alqur’an yg begitu luas maknanya dan hadits yg telah banyak infiltrasi. Maka kita perlu seorang yg dapat memberikan kita petunjuk kejalan KEBENARAN. Dan Allah tahu itu. Oleh karena itu Allah menambah disamping namaNya dan Rasul untuk ketaatan ialah Ulil Amri (QS 4:59). Dgn adanya mereka maka semua masalah dunia dan akhirat teratasi. Dan semua tergantung kita mau atau tdk. Wasalam

    @
    Betul Mas Abu, dalam hal ini. Saya lebih meyakini bahwa pemimpin itu Satria Lalaning Jagat, yang mendapatkan “restu” dari Sang Pencipta. Taat pada Allah, Rasul, dan Ulil Amri di antara kita. Suatu pemahaman yang jelas bahwa dari masa ke masa, kepemimpinan “ulil amri” dari setiap jamannya. Itu begitu jelas juga sebagai salah satu do’a Bapak Tauhid agama samawi — agama-agama Ibrahim.
    Jadi saya tidak merasa punya masalah dengan kepemimpin Ulil Amri di belahan dunia manapun. Saya tidak pernah harus menghindari membaca buku-buku manapun termasuk juga yang saling menyesatkan. Saya hepi-hepi saja membacanya.

    Namun, pada masalah pemahaman AQ, saya percaya bahwa itu akan masuk ke dalam dada manusia sebagai hidayah Allah. Bahkan Rasulpun, tidak bisa memaksa siapapun juga untuk dapat memahami wahyu, kecuali dengan izinNya. Ada penyebab lantaran, adalah ulil amri di antara kita. Buat saya, Mas Haniifa, Abu Rahat, Abu Daniel, Armand, atau siapa saja yang membantu mencerahkan logika berpikir saya, adalah “ulil amri” dari dunia maya saya. 😀
    Kalau saya tidak sependapat dengan ulil amri, atau bahkan dengan pemahaman hadis, saya berusaha pada satu rujukan saja : “akal saya dalam memahami Al Qur’an“. Jadi dalam hal ini akal lebih dahulu, baru kemudian Al Qur’an. Mengapa?. Karena saya tidak akan juga mengerti Al Qur’an, kalau saya tidak diberikan akal atau Allah mengambil kemampuan akal saya. (otak dan hati).

    Dalam pilhan postingan simple itu, kalau saya lebih suka memilih konservatif dan fundamentalis memang, tapi secara penuh juga bersikap moderat. Apa yang fundamental, tidak boleh ditawar-tawar dengan segepok uang atau pencirian lainnya. Apa yang harus konservatif dan ditaati, tidak juga diaduk-aduk untuk memenuhi hasrat nafsu.

    Suka

  6. truthseeker said

    @Agor

    Saya bosan membaca

    Tapi tdk untuk buku “peradaban” Nurcholis Madjid.. :mrgreen:
    Intermezzo..
    Mas Agor, saya sependapat dengan Lovepassword tentang kerancuan dalam pengertian tentang liberal & pluralis (dan ini penting).
    Tidak bisa mas analogikan dengan “angkot” & “kodak”. Pada kasus yg mas Agor contohkan adalah hal berseberangan dengan yang diangkat oleh Lovepassword (LP). Pada contoh LP kata pluralis &liberal digunakan oleh banyak orang dengan pengertian yang berbeda sehingga potensi mengakibatkan salah paham (permusuhan), sedang pada contoh mas Agor, kata “angkot” & “kodak” digunakan dengan salah tapi semua orang mempunyai persepsi yang sama sehingga tidak mengakibatkan salah paham (perselisihan).
    Jadi contoh yang paling hangat adalah analisa dari mas Heryanto (saya setuju dengan beliau) bahwa tulisan2 mas Agor sama sekali tidak mencerminkan seorang yang (islam)liberalis sebagaimana yang diusung oleh yang mengklaim diri mereka islam liberal. Tapi saya setuju jika mas Agor masuk kelompok yang pluralis, walaupun saya tidak tahu apakah pluralis yang menerima semua agama benar atau pluralis yang mampu menerima perbedaan/keragaman.
    Keduanya liberalis/pluralis dan fundamentalis terjebak dalam polarisasi dan fanatisme. Shg liberalis yang mestinya bebas dari fanatisme pun ternyata terjebak dalam salah menyalahkan dan melakukan klaim pembenaran.
    Alhamdulillah ternyata Allah selalu menyediakan pilihan “tengah2″ … 🙂 . Rasulullah bersabda: ” Umatku adalah yang ditengah2″.

    Wassalam

    @
    Mas Truth… membaca catatan ini. Sangat berharga buat saya. Tidak penting kita mengklaim apa, kesimpulan atau justifikasi dari pihak “ummat di tengah” adalah sistem nilai tersendiri.
    Apapun pandangannya, minumnya tetap… 😀
    Saya mendukung yang Mas sampaikan, pada terjebak saling menyalahkan dan klaim kebenaran. Memang ini sering terjadi, termasuk juga diri agor, makanya alhamdulillah kalau banyak di sini memberikan sudut pandang baru… 😀
    (namanya juga belajar, kalau dihakimi malah bukan belajar.)

    Suka

  7. Hi Hi Hi. Kok jadi pembicaraannya nyasar sampe sumbangan ya ???

    Yang satu senang karena dapet doku dari Asia Foundation ? Yang lain juga senang karena buku-bukunya laris manis. Atau emangnya ada sumbangan dari lain lagi ? Hi Hi Hi…-

    Terlepas dari setuju atau tidak setuju, semoga semua pihak masih punya idealisme. Bukan semata-mata motivasinya duit. Apa dua-duanya sedang mengumpulkan sumbangan ? Ya nggak tahulah saya. Saya cuma nunut hi hi hi sajalah.

    Soal Ani is beautifull ? Yah anggap saja kita sepakat. Ani emang pull beauty-nya.

    Soal fundamentalis, saya sepakat dengan anda. Ada hal-hal yang memang fundamental. Jadi tidak asal kompromi saja, atau asal tampil beda saja.

    Ada hal yang secara fundamental tidak bisa dikompromikan. Tetapi secara prinsip perjuangan ke arah itu tentu dilakukan dengan cara-cara moderat. Oke deh.

    Saya juga sependapat kalau orang-orang liberal itu agak membosankan.

    Dalam arti : pintar menciptakan istilah yang secara substansial sebenarnya nggak ada apa-apanya. tetapi jadi heboh gara-gara pemilihan istilah yang memang dirancang untuk membuat kontroversi.
    Tetapi dalam dialog intern – termasuk dialog antar agama, mereka cenderung mengiyakan apa saja. Saya benar lo juga benar, pokoknya semua benar. Hapi-hapi aja men. Hi Hi Hi.

    Persis dialog guru Tk sama anak-anak TK. Hi Hi Hi.

    Kalau nggak setuju, sebenarnya nggak papa kan? Menghormati memang nggak selalu berarti setuju.

    Oke, SALAM Semuanya.

    @Mas Pasword Loving sudah merangkum semuanya.. 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: