Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Teori Evolusi — Kegalauan Ilmu thd agama 4-Komentar

Posted by agorsiloku pada Oktober 6, 2006

Bagian 1 dan 2, memang saya letakan pada kelompok sains, sedang bagian ketiga di Inreligion. Pertimbangan saya hanya karena pembahasan lebih ke arah ke keimanan. Bagian ke empat adalah komentar yang disampaikan oleh Rekan ElZach yang menurut pertimbangan kami, dapat disampaikan dalam satu bagian tersendiri, menjadi bagian dari rangkaian pandangan terhadap pengajaran evolusi dan tentang teori evolusi.

Terimakasih rekan atas kesediaannya membangun pencerahan.

7 Komentar »

1. Assalamualaikum Wr Wb.

Sebagai orang beriman, tentu kita sangat yakin akan keMahaKuasaan Allah SWT,
Dialah Allah yang menciptakan segala sesuatu di alam semesta dan kehidupan ini,
jika dia berkehendak, maka Dia akan dengan mudah menciptakan segala sesuatu dengan tiba-tiba, tapi menciptakan sesuatu dengan proses juga hal yang sangat mudah bagi-Nya.

Tetapi kita sungguh sangat bersyukur, ketika Dia mengajarkan kepada kita tentang suatu proses, bahwa sifat manusia yg terburu-buru itu tidak lah baik, karena akan menjerumuskan dia kepada kesalahan-kesalahan yang fatal misal ingin kaya tiba-tiba tanpa bekerja, ingin cepat dikabulkan begitu selesai berdoa, ingin cepat sembuh begitu diobati saat sakit, ingin cepat membunuh disaat marah, ingin cepat memutuskan sesutau padahal tanpa pemikiran panjang terlebih dulu.
Allah mengajarkan kita, bahwa alam semesta pun diciptakan melalui proses (6 periode) dan keberadaan “proses” itulah hal yang benar dan wajar, belajar juga melalui proses, pemahaman melalui proses, mengunyah makanan melalui proses, hidayah melalui proses, perjuangan menegakkan kebenaran melalui proses, menuju surga melalui proses.

saat khamar diharamkan juga melalui proses, saat awalnya dilarang saat menjelang sholat, sehingga kemudian manusia tersadar bahwa dgn minum khamar dia bisa melakukan pembunuhan tanpa sadar atau membaca bacaan ibadah dengan sangat keliru. Jika tiba-tiba khamar dilarang maka dikhawatirkan manusia tdk akan mengerti dengan mendalam mengapa khamar dilarang.

dengan “pelajaran proses” itulah kita diajarkan tentang segala sesuatu, justru kalo kita menghadapi penciptaan yang mendadak, tak ada pelajaran dan ilmu pengetahuan apapun yang dapat kita mengerti, kita hanya akan menjadi mahluk yg tdk berpikir krn tdk diberi kesempatan berpikir. Pada akhirnya setelah kita terbiasa belajar dan belajar, kita akan semakin memahami betapa Allah Maha Besar, Maha Bijaksana, dan maha Kuasa atas segala. sesuatu. Comment by El Zach — September 29, 2006 @ 2:55 am

2. Ass Wr Wb. Rekan ElZach. Terimakasih atas pencerahannya. Dalam proses itu, banyak hal yang mungkin tak akan terjangkau oleh manusia apalagi “mungkin” ketika sedang bersentuhan dengan perbatasan antara wujud dan yang tak wujud. Kita memang, dan terlebih saya inginlebih memahami seperti yang rekan sampaikan pada baris terakhir komentar. wass, agor .Comment by agorsiloku — September 30, 2006

3. Assalamualaikum Wr. Wb.

Kita manusia hanya mampu belajar apa yang nampak oleh indera kita yg sangat terbatas ini, sungguhpun hal yg tak terlihat indera kita jauh dan sangat jauh lebih besar dari yg tercapai oleh indera kita,

Banyak sekali hal gaib yang tdk bisa kita lihat langsung dengan indera kita. Janganlah karena kita tidak bisa melihat gelombang radio, maka dengan sombong kita mengatakan bahwa gelombang radio itu bohong besar.

Kita jelas tak bisa melihat gelombang radio, tapi krn kita diajarkan untuk mempelajari proses, akhirnya sekarang kita mampu mengolah gelombang radio meski butuh waktu beribu tahun. Demikianlah kita tdk hanya diberi 5 indera, tapi juga akal yang sehat.

Dalam teori evolusi, manusia termasuk mamalia ordo primata, jadi kita dianggap sekerabatan dengan mahluk modern evolusi seperti sapi atau lebih dekat dengan kera.

Demikianlah kita mempelajari segala apa yang dapat terlihat/terdeteksi oleh indera kita. tetapi kemudian yg jadi pertanyaan besar,

1. dari step/link mana manusia berasal?
2. mengapa hanya manusia saja yg berakal budi budaya tinggi di muka Bumi?
3. mengapa dari genus-spesies-ordo mahluk lain tdk ada yg berakal, padahal jika evolusi itu berjalan semestinya maka pasti ada mahluk lain selain manusia dari dunia binatang yg berakal budaya dan berbicara seperti manusia.
(di dalam Al Qur’an telah disebutkan, karena manusialah yang dijadikan kalifah di bumi).

Bagaimana jika harimau, gajah, hiu dan binatang buas lain berakal cerdas seperti manusia? jika itu terjadi maka manusia tak akan pernah bisa jadi kalifah di Bumi. Padahal kemungkinan seperti itu pasti terjadi jika evolusi benar-benar terjadi pada semua mahluk hidup termasuk manusia.

4. mengapa semua manusia di dunia memiliki jenis darah yang dapat saling dipertukarkan, dan tidak dapat ditukar dengan hewan? seolah kita ini merupakan satu keturunan dari satu ibu bapak, andaikata manusia berasal dari berbagai primata, maka jenis manusia akan banyak sekali dan darah masing -masing suku-bangsa tdk dapat saling dipertukarkan, bahkan mungkin bentuknya pun beraneka ragam, misal berekor, bertanduk, berbulu, berhidung panjang sprt ajah,dsb..dsb.
(Al Qur’an telah mengajarkan, kita berasal dari sepasang manusia, yaitu Adam dan Hawa)

Sebagai org beriman, kita meyakini KeMahaKuasaan Allah, dengan demikian, entah manusia itu diciptakan dari keturunan primata ataupun dicipta langsung, adalah sangat mudah bagi Allah, sama sekali tdk mengusik keMahaKuasaan Allah sebagai Tuhan.

Istilah keren-nya sebuah software tidak harus berasal dari copy atau pengembangan software yang sudah tercipta, asalkan programernya masih bisa membuat software maka sang programer bisa membuat software yg mirip dgn software lama tapi modifikasi sana-sini. Nah bukankah genetic kita ini juga merupakan semacam sebuah program?. adalah mudah bagi programer membuat software yg baru sebagaimana dia membuat software yg lama.

Di dalam al Qur’an kita manusia ini telah ditinggikan derajatnya sebagai kalifah dimuka bumi, meski tubuh kita sama dengan binatang, tetapi kemudian kebanyakan manusia jatuh ke derajat yang sangat hina melebihi hewan ternak karena kafir kepada Allah. Tidak ada seekor hewanpun (selain manusia) yang kafir kepada Tuhannya.

Tak ada yang bisa menjawab semua keanehan itu selain Al Qur’an dan iman,krn itu kita sangat bersyukur Allah mengenalkan kepada kita pengetahuan dan kebenaran yg tak terjangkau oleh indera kita sebagai contoh, anak kita bertanya, “ayah, benarkah Tuhan itu ada? dan apa buktinya Allah itu Esa? mampukah anda menjawab, padahal semua jawaban itu ada di dalam Al Qur’an, step by step dengan jelas sekali, saya insya Allah bisa tulis itu jika ada yg inginkan.

Dan pengetahuan mendalam tentang Islam itu sangatlah penting demi keselamatan diri kita dan keluarga serta anak turun kita di dunia hingga akhirat.

Wassalamualaikum Wr Wb

Comment by El Zach — October 2, 2006 @ 6:32 am

4. Assalamualaikum Wr Wb.

Atas komentar saya diatas, jika ada benarnya, Kebenaran itu datangnya dari Allah, jika ada kesalahan, itu adalah kesalahan saya pribadi sebagai hamba Allah yang lemah.
mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Wassalamualaikum wr wb.

Comment by El Zach — October 2, 2006

5. Assalamualaikum Wr Wb.

Atas komentar saya tersebut diatas, jika ada benarnya, Kebenaran itu datangnya dari Allah, jika ada kesalahan, itu adalah kesalahan saya pribadi sebagai hamba Allah yang lemah.
mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Wassalamualaikum wr wb.

Comment by El Zach — October 2, 2006 @ 7:52 am

6. Rekan El Zach ysh, terimakasih atas ulasannya. Ulasan rekan bernas dan jelas. Teori evolusi yang kemudian menyimpulkan bahwa “mahluk hidup tingkat rendah” menjadi “mahluk hidup tingkat tinggi” menempatkan manusia sebagai turunan hewan. Hanya keimanan yang menolak itu, ilmu dan pengetahuan memiliki kewarasan menolak. Tapi itu tidak mau dilakukan banyak ilmuwan karena harus menempatkan Sang Maha Pencipta dalam dialektika ilmu. Oleh karena itu, selalu menjadi pertanyaan dari sebagian pendidik, terutama di negeri yang memperhatikan iman (baik di Barat maupun di Timur), apakah teori evolusi harus disampaikan di kelas. Saya sendiri berpendapat, sebaiknya tetap disampaikan, tapi sanggahannya juga disampaikan sehingga siswa dapat lebih mengelaborasi kemampuan berpikir rasional dan akal budinya. Salam agor.
Tambahan :
“….mampukah anda menjawab, padahal semua jawaban itu ada di dalam Al Qur’an, step by step dengan jelas sekali, saya insya Allah bisa tulis itu jika ada yg inginkan….El Zach “–> Tentu, senang sekali jika saya bisa mendapatkannya. Wass, agor .Comment by agorsiloku — October 3, 2006 @ 7:57 am

7. Assalamualaikum wr. wb.

Hal yang paling penting yang harus disampaikan oleh kita kepada anak didik adalah konsep mendasar bahwa ilmu pengetahuan manusia sifatnya nisbi/ relative karena indera kita ini sangat terbatas, manusia bukanlah Tuhan yang Maha Kuasa, ilmu pengetahuan manusia berjalan seiring dengan proses belajar manusia, sehingga “pengetahuan alam” manusia selalu berubah sepanjang jaman.
Apa yg diyakini benar menurut manusia sekarang, mungkin akan dinilai terlalu naif atau ’salah’ sama sekali oleh manusia yang akan datang. Contoh misalnya dahulu ada umat manusia percaya bahwa bumi itu datar/bukan bulat dan tentu hal itu salah dimata manusia jaman sekarang. Perlu pula dijelaskan, banyak hal kebenaran yang baru terungkap sedikit demi sedikit setelah manusia memilki teknology tinggi, seperti misalnya : lebah, air laut yg terpisah, cahaya bulan, peredaran benda-benda angkasa, sifat2 air, siklus energy, gelombang radio, atom, dsb yg semuanya ada didalam Al Qur’an. Karenanya sungguh tidak pantas jika manusia menyombongkan diri bahwa dirinya telah benar segalanya sehingga menentang kebenaran agama Islam. Dengan peletakan konsep dasar yang sedemikian itu, ilmu apapun yang kita berikan, termasuk pelajaran evolusi tidak akan mempengaruhi keimanan anak didik kita.
Saya sendiri sempat belajar mendalami evolusi ini dan juga ajaran2 keyakinan lain, yg kemudian justru menambah keyakinan saya terhadap kebenaran Islam ini.

Sifat manusia yg haus ilmu pengetahuan seringkali menyangkal apa yg secara tidak nyata terlihat oleh inderanya, dan baru percaya setelah mempelajari secara mendalam sehingga bukti fisik dapt dilihat, misalnya gelombang radio yg tidak terlihat oleh manusia, itu wajar saja. Saya sendiri sering mengalami hal Gaib sejak kecil, yang sulit diterima logika biasa, tetapi tentu hal itu walaupun nyata terjadi akan sulit dipercaya orang lain karena memang org lain tidak mengalaminya, tapi dengan keyakinan bahwa Allah Maha Kuasa, maka hal-hal semacam itu tidak lagi menjadi suatu yg luar biasa yang bisa merusak keimanan.

Coba bayangkan, jangankan bingung dengan manusia ini termasuk binatang atau tidak, andaikata anda bertemu mahluk hidup yang sama sekali tidak logis dipandang dari sudut ilmu biology manusia tetapi nyata ada, tentu kita akan terperanjat, dan kemudian mungkin buru-buru mengkoreksi kembali teory evolusi atau ilmu biology yang ada secara membingungkan.
Manusia tidak akan sanggup secara mental untuk menerima beban apa yang diluar kemampuannya, untuk itulah dengan kasih sayang Alah kita dapat mempelajari segala sesuatu proses yang terjadi secara wajar, dan kita dapat hidup secara wajar sesuai hitungan-hitungan matematis normal, misal: jika makan akan kenyang, jika bekerja akan dapat upah, jika menyimpan uang di saku maka uang tersebut akan tetap disaku dsb dsb.

Wassalamualaikum Wr Wb. ElZach

Iklan

5 Tanggapan to “Teori Evolusi — Kegalauan Ilmu thd agama 4-Komentar”

  1. ardhi said

    Yang saya tangkap (khususnya yg dimisalkan dengan sotfware) bisa juga dikatakan sbb : Kalo Allah bisa menciptakan sesuatu yang belum pernah ada (dicipta , tanpa evolusi), tentu akan lebih mudah bagiNya untuk mengubah sesuatu yang telah ada menjadi bentuk yang lain dari yang semula (terjadi evolusi). Manusia hasil ciptaan, dan evolusi bisa terjadi pada makhluk hidup yang lain selain manusia. Benar gak?

    Selalu ada kekecualian kan di dunia ini? contohnya dulu di pelajaran biologi : ciri2 unggas itu memiliki kloaka (bukan anus), tapi ternyata sekarang di australia ada hewan mamalia, tapi memiliki kloaka (bukan anus). Kalo ga salah hewan itu namanya Platipus.

    Suka

  2. agorsiloku said

    Mas Ardhi menulis :Kalo Allah bisa menciptakan sesuatu yang belum pernah ada (dicipta , tanpa evolusi), tentu akan lebih mudah bagiNya untuk mengubah sesuatu yang telah ada menjadi bentuk yang lain dari yang semula (terjadi evolusi).–> Wah, mohon maaf. Saya kurang paham maksud Mas. Bagi Allah, jika berkehendak (dan Allah maha berkehendak)tentu tidak dalam pemahaman ini (akan lebih mudah/lebih sulit). Dengan begitu, pemahaman “tentu akan lebih mudah bagiNya”… akan menjadi tidak tepat.
    ——
    Manusia hasil ciptaan?, ya. Ada keberagaman penelitian untuk hal ini yang kemudian merujuk bahwa di manapun manusia, memiliki asal yang sama. Ini yang tidak “disukai” ilmu karena keberadaanNya, seolah menjadikan ilmu tidak lagi “bebas nilai”.
    ——
    evolusi bisa terjadi pada makhluk hidup yang lain selain manusia?
    Evolusi dalam konteks ini dipahami sebagai perubahan dari satu mahluk hidup, menjadi mahluk hidup lain. Jadi bukan perubahan (dari kecil menjadi dewasa) atau perubahan dari ulat ke kupu-kupu. Tidak pernah ada pembuktian (kecuali hipotesis – seperti darwin dan neodarwinisme) bahwa perubahan itu terjadi. Kasarnya, manusia ya manusia, monyet ya monyet, virus ya virus. Semua diciptakan oleh Allah dengan kriteria dan ukurannya masing-masing sehingga tidak ada induk (asal muasal) segala hewan atau sejenisnya (seperti pandangan penganut hipotesis evolusi). Bagaimana awalnya?. Ini yang pengetahuan juga, sebenarnya tidak pernah mengetahui. Juga kitab suci tidak menjelaskan….. Jadi, pada tingkat ini, hanya mengimani. Sedangkan pendekatan ilmu, sudah berkali-kali pula, sesungguhnya tersungkur dari harapan bahwa manusia itu asalnya dari monyet.

    —–
    Selalu ada pengecualian di dunia ini?.
    Kita memahaminya sebagai pengecualian, bagi pemilik penciptaan, tentu tidak demikian. Manusia tidak lebih, baru sekedar memahami sebagian kecil dari ilmuNya. Misal, tentang anomali, tentang ikan gua yang buta, tentang siklus matahari, tentang awan gempa, butterfly effect, anti partikel, anti hidrogen, atau khasanah lainnya. Salam hangat, agor

    Suka

  3. RiYo said

    Sebetulnya ini website tujuannya apa? untuk mencari sinergi antara sains dengan religi atau menabrak gerbong sains dan Religi..? biarkan sains dan religi berjalan pada relnya masing-masing, sains berangkat dari ‘stasiun menyangsikan/meragukan’, religi berangkat dari ‘stasiun’ keimanan, belief dan kepercayaan, sains obyektif, religi subyektif, sains harus empirik, religi selebihnya pengalaman metafisik..so tak ada masalah sama teori evolusi..

    Suka

  4. agorsiloku said

    Mas Riyo ysh, tujuan pribadi tentu ada. Selebihnya, senang mengumpulkan saja untuk dibaca kembali. Ada juga kegembiraan tersendiri kalau kumpulan itu dibaca yang lain, bisa berbagi. Tentang, mengapa memilih tema Sains-inreligion. Tidak tahu juga, kadang kita melakukan sesuatu tanpa tujuan yang jelas juga. Kenapa disatukan. Mungkin sok saja, bersuara kampungan saja. Tidak lebih. Mungkin juga karena waktu sekolah dulu ada board di kelas yang berbunyi seperti Einstein katakan itu, ilmu dan agama saling melengkapi atau dilengkapi agama(maksudnya beliau sendiri yang sesungguhnya tidak saya pahami juga. salam.

    Suka

  5. and i don’t know, how to make it better. Andreina Cecilio.

    @
    Ask your heart. Sure !

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: