Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Mencoba memahami Pasrah…..

Posted by agorsiloku pada Juni 23, 2006

What is fate?, by the irony? Pasrah, takdir, nasib?.

Di tengah jalan, seseorang berdiri, tak perduli kendaraan yang akan menabraknya. Dia sudah pasrah. Pengertian ini merujuk pada satu pemahaman bahwa yang bersangkutan tidak lagi memiliki ”kemauan” untuk menolak ”bencana” yang akan diterimanya (ditabrak mobil).

Di tengah jalan, seseorang terjatuh. Dia sudah tidak memiliki lagi ”kekuatan” fisik apapun sehingga tak dapat memindahkan tubuhnya dari jalanan. Dia sudah pasrah menerima keadaannya. Kalau memang takdirnya sudah mati, maka maut akan menjemputnya saat itu (tertabrak mobil). Pengertian ini merujuk pada ”ketidakmampuan” dari bencana yang akan diterimanya. Ia ”pasrah” saja.

Saya memilih kata ”ditabrak” untuk contoh pertama, dan ”tertabrak” karena pada kasus ke dua, ia ”sebenar’nya ingin menghindari, namun ketidakmampuannyalah yang menyebabkan ia menjadi ”pasrah” saja.

Kata pasrah ini mengarahkan pada pengertian “ketiadaan perlawanan”.

Kami ”pasrahkan” segalanya kepada Tuhan. Pasrah di sini penyerahan keputusan, ada unsur kerelaan, penerimaan, ikhlas. Dalam bahasa manusia, kalau dikatakan :”saya pasrahkan segalanya kepada Anda,” memberikan pengertian untuk “terserah Anda saja, saya tidak mau bertanggung jawab lagi, atau mengambil manfaat atau menerima kerugian apapun”.

Apakah pasrah juga berarti berserah diri?, berarti iklhas?, berarti takdir/nasib.

Rasa-rasanya ada yang kurang tepat setiap kali pembahasan pasrah dipahami dalam relung bahasa kita, Indonesia…..

Iklan

10 Tanggapan to “Mencoba memahami Pasrah…..”

  1. mazheri said

    Kalo boleh urun rembug nih, Pak Agor

    Ada suatu saat di mana, kekuatan manusia tak bisa berbuat banyak.
    Misalnya, ketika kapal yang ditumpangi manusia tenggelam di tengah lautan luas, karena diterjang ombak yang dahsyat. Ketika itu tak ada lagi yang bisa diperbuat manusia untuk menyelamatkan diri, kecuali pasrah kepada yang Maha Kuat. Mungkin itulah makna pasrah yang lebih tepat, yakni menyerahkan segalanya karena kesadaran akan kelemahan sebagai manusia. Sehebat-hebatnya manusia, akan sampai pada titik di mana ketika dihimpit kesulitan tak ada lagi yang bisa dilakukan, kecuali “pasrah” dalam arti “tugas sebagai khalifah” di dunia, yakni menjalankan proses kehidupan sudah selesai dilakukan, akan tetapi “Yang Maha Menentukan” punya rencana lain. Itulah mungkin bentuk “kepasrahan” yang akan melahirkan “Cinta-Nya”. Wallahualam bishawab.

    Suka

  2. agorsiloku said

    Ya mas heri, begitu kita memahami pasrah, kemudian sadar, begitu tak mudah ia dekat dengan kita.

    Suka

  3. El Zach said

    Assalamualaikum wr. Wb.

    kita dan alam semsta ini hanya ciptaan Allah, maka hanya hukum Allah yang berlaku di alam semesta ini, hanya Allah yang lebih tahu apa yang terbaik buat kita,
    jika kita menentang hukum Allah ini maka pasti celakalah kita, itulah sebabnya pasrah kepada Allah adalah sikap yang paling bijaksana.
    sebagai contoh: hukum Allah menetapkan api itu panas dan akan hangus benda yg menyentuhnya, Allah juga telah memberi kita syaraf utk merasakan peringatan panas itu, jika kita mencoba menantang hukum itu dan coba2 menyentuh ai dengan jari kita tanpa pelindung apapun maka insya Allah tangan kita hangus, tetapi jika kita pasrah (mengikuti dan memahami sepenuhnya) terhadap hukum dan peringatan Allah itu, maka kita pasti akan berhati2 dan kalaupun ingin memanfaatkan api itu, maka akan mengikuti hukum Allah yg lain yaitu menggunakan berbagai pelindung yg telah disediakn Allah di alam semsta ini.

    Maka, saat Allah memberi peringatan kpd kita tentang Neraka, apakah kita akan menantang hukum Allah itu, atau kah kita akan berserah diri (pasrah) terhadap hukum Allah sehingga kita bertakwa kepadaNya, semua terserah kepada kita.

    berserah dirilah kepada Allah dan segala ketentuan/hukum-Nya, jangan coba-coba menantangnya, sungguh tdk akan tunduk kepada Allah kecuali org2 yang berilmu dan yg kemudian beramal dgn ikhlash, dan bukankah kita telah diberi akal dan peringatan ?

    Suka

  4. sikabayan said

    euh.. mungkin.. pasrah teh adanyah diujung penghabisan kemampuan manusiawi.. yah sisanyah terserah sajah..
    Siti Hajar.. tidak pasrah menunggu mati kehausan disisi ka’bah.. kalau mengikuti akal sehat yang mengetahui sumber air terdekat puluhan bahkan ratusan km pastinyah akan diam menunggu siapa tahu ada yang datang atau mati.. tanpa usaha sedikitpun…
    tetapi Siti Hajar memilih untuk terus berusaha.. walaupun secara akal tidak masuk atuh.. mau pergi ke arah mata air yang jauh.. bagaimana atuh Nabi Ismail AS. yang masih bayi teh.. ditinggal bahaya.. dibawa juga bahaya.. akhirnyah.. berjalan… berlari2.. bolak balik.. dalam kepasrahan.. keterbatasan seorang wanita sekaligus seorang ibu..
    kepasrahan dalam usaha tersebut lah yang akhirnyah harus diperingati semua ummat islam sebagai sa’i…

    @
    Pasrah… juga berjuang terus seperti Siti Hajar itu… dengan penuh kecemasan dan berkah yang ditunjukan…
    Betul juga, nambah pengetahuan nih… 😀

    Suka

  5. wai said

    wah2 mengenai pasrah tuh emang paling sulit untuk melawan ego kita
    yang pasti kita hidup dengan usaha yang keras

    @
    ya betul… 😦

    Suka

  6. Agung said

    pasrah berarti kita tidak menjadi “Sutradara” akan proses menuju hasil, juga menyerahkan seutuhnya hasil yang akan terjadi nantinya…biarkan “tangan2” Tuhan yg bekerja..

    Suka

  7. Agung said

    pasrah berarti kita tidak menjadi “Sutradara” akan proses menuju hasil, juga menyerahkan seutuhnya hasil yang akan terjadi nantinya…biarkan “tangan2” Tuhan yg bekerja..dan “Yakin” hasil akhirnya adalah yang terbaik bagi kita..
    semoga bermanfaat 🙂

    Suka

    • Irawan Danuningrat said

      Setuju banget Mas Agung,
      terlepas semudah atau sesusah apa mengaplikasikannya, itulah makna pasrah. Pasrah ialah, kita terus berikhtiar mewujudkan keinginan kita dengan keyakinan bahwa Allah swt kelak pasti menganugrahkan reward sesuatu yg diridlai-Nya buat kita. Apa wujud reward tsb? bisa jadi sesuatu yg sesuai dengan prediksi/harapan kita atau mungkin saja sesuatu yg justru tak pernah kita duga sebelumnya. Kita boleh saja menjadi script writer yg baik, tapi result, sudah pasti tetap ada ditangan sutradara.

      Salam

      Suka

  8. Pasrah…
    Mungkin karna kita tidak bisa berbuat apa2 lagi, karena keterbatasan kemampuan yang kita miliki.
    kita hanya bisa menunggu apa yang akan terjadi dan terjadilah.

    Suka

  9. pasrah dgn keadaan yg ada di dpn mata tetapi dgn usaha dn kmampuan yg ada berusha utk merubh keadaan dgn pasrah yg ledabidh baikdan setelah itu serahkan semua kepada Allah swt

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: