Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Mbah Surip Menggendong Selama 26 Tahun

Posted by agorsiloku pada Juli 8, 2009

Empat lima tahun yang lalu, mantan kekasih cerita ada lagu lucu dinyanyikan waktu acara ulang tahun Sang  Burung Merak yang sudah kian beranjak uzur, di rumahnya.  Yang diingatnya adalah kata “ay lap yu pull” dan tak gendong kemana-mana.  Syair lengkapnya :

Tak gendong kemana-mana 3x
Mantep dong enak dong
Daripada naik pesawat kedinginan
Mendingan tak gendong ayooooooo
Tak gendong kemana -mana3x
Mantep dong enak dong
dari pada naik taksi kesasar
mendingan tak gendong
wear aryou doing
oke iam hoking

Karena memang saya nggak bergaul di dunia seni atawa musik, maka nama Mbah Surip, walau pernah mendengar, tidaklah terlalu lama tersimpan dalam ingatan.  Jadi, ketika lagu ini mulai merambah popularitas dan Mbah Surip pun naik daun, itu juga tidak begitu penting pula.  Lagu ini tidak memiliki makna apa-apa selain bahwa isteriku cerita betapa lucunya lagu itu dan pas ketika dinyanyikan waktu acara Mas Willy itu.

Yang kemudian mengesankan adalah dan ternyata, lagu itu konon menurut sumber yang dikutip, diciptakan Tahun 1983 lampau.  Teramat sangat lama untuk mencapai tangga popularitas, terlalu jauh untuk dapat disimpan dalam almari harapan, terentang lebar antara keniscayaan dan sebuah mimpi untuk mengumandangkan sebuah karya untuk dinanti dan dimenangkan.  Duapuluh tahun berlalu begitu saja, seperti kemarin, seperti, seperti sesaat saja atau setengah hari saja.  Namun, tentulah ada hari-hari dengan segala senyum dan kesabaran, menjelaskan kepada publik tentang perjuangan, tentang bangun tidurnya Mbah Surip, tentu pula tentang ‘tak gendong’-nya yang didengar publik tipis di acara malam dari penyair dan budayawan kondang itu.

Ketabahan, kesabaran, itu berbuah juga (pada akhirnya) dari sebuah karya yang teronggok dan terdiam lesu begitu lama di tangga menuju popularitas.  Mungkin jalan itu terlalu panjang, mungkin juga hadir terlalu pagi, namun segalanya ada makna, dan apa yang menjadi kisah untuk sebuah keberhasilan, kita tak bisa instan, tak segera, ada perjalanan waktu.  Dan, kita memang tak pernah tahu juga, apa sesungguhnya yang sedang dipersiapkan Sang Pencipta untuk kita, untuk keluarga kita, dan untuk semuanya.  Pada setiap titik pertemuan itu, begitu lembut dan halusnya alunan resultante peristiwa yang membentuk sesuatu.  Juga ketika semua kejutan terjadi begitu cepat tak terkira, maka resultante peristiwa itu mengubah arahnya menuju sesuatu yang pada akhirnya kita harus sadari : Kita akan kembali padanya, dalam segala asa.   Selebihnya, sukses memang tidak jatuh dari langit tapi kita menangkapnya di setiap perjalanan, seperti kita harus belajar dari salah satu contoh lagu yang aneh ini 😀 .

Iklan

15 Tanggapan to “Mbah Surip Menggendong Selama 26 Tahun”

  1. haniifa said

    Subhanallah…
    Begitulah titian kehidupan ini, memang harus dijalani dengan penuh kesabaran yach… @mas,
    (padahal sayah tidak sabaran…. 😀 )

    Suka

    • agorsiloku said

      Subhanallah, Mas Haniifa, saya juga seorang yang grasa grusu, nggak sabaran, pingin cepat beres, dan kurang perhitungan. Karena itu, saya begitu mengagumi orang-orang yang memiliki kesabaran….. 🙂

      Suka

  2. guskar said

    Tambahan info :
    Lewat nada sela, lagu Tak Gendong milik Surip Arianto tiba-tiba meledak. Padahal, lagu yang diciptakan di akhir tahun 1980 itu pernah ditolak hampir seluruh produser kaset di Indonesia. Lagu itu pun sempat hanya jadi lagu andalan Mbah Surip saat ngamen ke mana-mana.
    Kini, gara-gara lagu itu beken, hidup Mbah Surip berubah. Dengan bersepeda motor, pria yang punya tawa khas ini laris memenuhi panggilan menyanyi di berbagai tempat dan stasiun teve.
    Sekadar info, nada sela Tak Gendong sudah diunduh lebih dari 1 juta kopi. Jika per nada sela bernilai Rp 9 ribu, Mbah Surip bakal mengantongi 60 persen keuntungan alias Rp 4,5 miliar

    Suka

  3. rubondr said

    Rizki dari Allah itu datang tiba-tiba tanpa dapat diduga oleh siapun.

    Selamat dan sukses @mbah…

    Suka

  4. refa said

    Bagus blognya… ijin ngelink ya bozz..

    Suka

  5. ekojuli said

    Mbah Surip yang Fenomenalllllllllll

    Tau Ga… Dari “Tak Gendhong” Mbah Surip Dapat Royalty 4,5 M…????

    buka sini (ada videonya lohhh)

    http://ekojuli.wordpress.com/2009/07/14/wuih-dari-tak-gendhong-mbah-surip-dapat-royalty-45-m/

    haaa haaaaaaaaaa haaaaaaaaaa

    i loph yu fullllllllllllllll

    Suka

  6. edi said

    Haaaaaaaaaaaa…..Hhhaaaaaaaaaaaa…Haaaaaaaaaaaa….!!!!!

    Suka

  7. qarrobin said

    @Mas Agor, saya kasih Award Bertuah dari mbah Surip nih
    di ambil ya di qarrobin.wordpress.com

    lagi ada pembagian nasi tumpeng tuh

    I love you full

    Suka

  8. lovepassword said

    Sekarang Mbah Suripnya meninggal, Rendranya juga meninggal.

    Suka

    • haniifa said

      Innalillahi wa innailaihi raji’uun.
      Mudah-mudahan diterima iman Islamnya berikut amal salehnya serta dilapangkan dan diterangkan alam kuburnya bagi mereka berdua, Amin.

      Suka

  9. risda said

    ay lap yu pull……………………dech mbah surip,
    hidup emang harus disyukuri,
    salam kenal mas.maaf ya ikut komentar

    Suka

  10. arief juniawan,drh said

    seniman yg merakyat mesti dikenang kaum jelata…misal gombloh,mbah suurip,bing slamet,paimo,asmuni.tapi yg gak merakyat jg gak papa namanya jg seniman, seniman itu ibarat orang ya gak mau diatur…bebas terbang,spt lagunya the beatles…Free as a bird.

    Suka

  11. N.m yusuf said

    Yusuf berkata.19 AGUSTUS 2009 JAM 05.45pm

    Suka

  12. N.m yusuf said

    N0 5 Yusuf berkata.19 AGUSTUS 2009 JAM 05.45pm

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: