Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Ini Petunjuk dan Sekaligus Penyesatan !

Posted by agorsiloku pada September 9, 2007

Spirit untuk memahami petunjuk dan penyesatan, tampaknya sangat tergantung dari keinginan untuk menerima dan menolak petunjuk itu. Dari sudut pandang mana saja yang akan diambil, jika diniati sebagai petunjuk dan karenanya kita menjadi takut dan berserah diri.      Soal seberapa dalam kemampuan untuk berserah diri, tentu terpulang pada masing-masing saja.
Namun, petunjuk adalah petunjuk, sesat adalah sesat. Namun pada keduanya adalah sama. Petunjuk juga adalah bagian dari “penyesatan” ketika kita menanggapi setiap petunjuk bukan sebagai petunjuk. Allah memberikan petunjuk bagi manusia menjalani kehidupan ini. Dan dengan itu pula, Allah menyesatkan manusia ketika kebebasan yang diberikannya menjadi sarana untuk mengelak dari petunjuknya. Tentu saja alasannya bisa beragam, sudah kunolah, tidak up todate, banyak kesalahan, meniru-niru, dan berbagai alasan yang dibuat untuk menolak petunjuk sehingga petunjuk baginya pada akhirnya menjadikan penerima petunjuk menjadi tersesat.
“Lho kan petunjuknya sama”.
“Ya iyalah.. kan penerimaan setiap orang beda”.
“Petunjuk dari Allah diterima sebagai hal yang menyebabkan meningkatnya kualitas kesesatan !”.

QS 2. Al Baqarah 26. Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?.” Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik,

Lalu bagimana dengan Al Qur’an, petunjuk atau penyesat?
Astagfirullah, kita lihat ayat berikut ini :

QS 27. An Naml 92. Dan supaya aku membacakan Al Quran (kepada manusia). Maka barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya ia hanyalah mendapat petunjuk untuk (kebaikan) dirinya, dan barangsiapa yang sesat maka katakanlah: “Sesungguhnya aku (ini) tidak lain hanyalah salah seorang pemberi peringatan.”

Petunjuk bagi orang beriman dan menjadi sesat karena pilihannya juga. Allah tidak memberikan petunjuk bagi orang yang fasik. Begitu yang disampaikan Allah. Karena itu, Al Qur’an menjadi petunjuk untuk orang-orang beriman, bukan untuk orang yang fasik.
Dengan kata lain, daya/keinginan untuk menerima petunjuk menjadi bagian penting dari proses ini. Sedangkan dengannya pula manusia disesatkan. Mengapa?

Iklan

7 Tanggapan to “Ini Petunjuk dan Sekaligus Penyesatan !”

  1. Berarti, ada kebebasan memilih begitu pak? Kebebasan yang disertai dengan petunjuk, agar tidak memilih yang salah? Begitu?

    Tapi berarti, semua pilihan memang disediakan?

    @
    Dan pilihan yang kita pilih adalah rahmatNya (juga karena murkaNya)

    Suka

  2. alex said

    kebebasan memilih itu, kalo saya pribadi, percaya ADA. Hanya saja kebebasan itu juga terkadang terbatasi/dibatasi. Baik oleh kondisi, dan konsekuensi nantinya.
    Misal begini: kita mau ke Menado *jangan tanya kenapa mesti Menado :mrgreen: * dan dalam mencapai tujuan, ada becak, ada mobil, ada kereta api, ada pesawat. Kita bebas memilih yang manapun, dengan konsekuensi masing-masing. Naik becak, lambat… naik kereta api bisa jadi rel putus… naik pesawat bisa jatuh…

    Pilihan itu disediakan. Dan untuk hal inilah makanya ada dosa dan pahala, ada hak dan kewajiban.

    *just my opinion* 😉

    @
    Mas Alex, betul begitu ya.. 😀 kebebasan pilihan adalah hak yang diberikan kepada manusia dan hanya dibatasi oleh aturan-aturan dimana kita ditempatkan… yah.. seperti masuk ke lapangan bola… di situ boleh apa saja selama ada di lapangan bola. Lapangan bola itu bernama hukum alam….

    Suka

  3. sikabayan said

    eheheh.. memang semua nyah teh bisa menjadi jelas maupun samar atuh… tergantung keridhoan sipencari petunjuknyah… 🙂
    euh.. hanya menjadi jelas teh kalau tidak ada keterpaksaan gituh… :mrgreen:

    @
    :mrgreen:

    Suka

  4. Ini ibarat saringan atau filter.

    Salah satu tujuan diciptakannya manusia adalah agar Alloh dapat mengetahui dengan fakta mana orang-orang yang beriman dan mana yang kafir.

    Jadi Alloh menciptakan saringan/filter yang dapat menghasilkan pemisahan kedua golongan itu.

    @
    Sebuah saringan bagi manusia yang dengan itu mendapatkan petunjuk dan menjadi kafir. Namun, tentunya tidak karena itu maka Allah dapat mengetahui dengan fakta mana orang-orang beriman dan kafir. Allah maha mengetahui dan berkuasa atas segala sesuatu, jadi kita tidak bisa menghujjahkan sebuah kondisi “agar Allah” mengetahui. Saya kira, Maksud Mas Dedi juga tidak begitu kan… 🙂

    Suka

  5. Assalamu’alaikum

    @Mas Agor

    Yang saya maksudkan dengan “agar Alloh mengetahui” adalah sesuai dengan yang tersurat dalam beberapa ayat dalam Alqur’an. Contohnya, surat Al Imran:166, Al Kahfi:7, dan banyak lagi. Proses dalam kehidupan dunia ini (termasuk ayat Alqur’an di atas) persis sama dengan yang tercatat dalam “lauful mahfuz”. Bisa jadi “agar Alloh mengetahui” di sini terjadi ketika Alloh sedang membuat kitab “lauful mahfuz”. Yang saya ibaratkan sebagai kitab simulasi.

    Mengetahui bisa banyak tingkatannya. Misalnya, adanya garam dapat diketahui dari bentuk kristalnya, juga dari analisa kimia, dan juga dari rasanya.

    Alloh telah mengetahui dari catatan dan analisa “Lauful mahfuz” siapa saja yang beriman, bahkan sampai sekecil zarah di langit dan di bumi semuanya sudah tercatat.

    Namun, pengetahuan sebelum diciptakannya “lauful mahfuz”, sesudah diciptakan “lauful mahfuz”, dan setelah mewujudkannya “lauful mahfuz” adalah berbeda tingkatannya. Dalam hal ini tingkat kebutuhannya juga berbeda. Mengetahui dengan fakta adalah lebih benar dan adil sebelum manusia dimasukkan ke dalam neraka, tidak sekedar mengetahui dari catatan dan hasil analisa atau simulasi. Manusia harus merasakan kehidupannya di dunia, harus merasakan nikmat dan susahnya di dunia, harus melaksanakan ujian dengan fakta di dunia sebelum kemudian diadili atas segala perbuatannya dan kemudian dipisahkan masuk surga atau neraka.

    Namun, Alloh jugalah yang lebih mengetahui.

    Assalamu’alaikum, wr. wb.

    @
    Wass.wr wb.
    Mas Dedi benar, saya keliru juga memahami ketika ada kata :”agar Allah dapat mengetahui….”. Kata agar dalam bahasa Indonesia, tiba-tiba saya pahami sebagai satu model yang dengan kata “agar” itu maka Allah menjadi mengetahui. Saya kurang bersetuju dengan kata “agar” itu karena membuat batasan tentang kemahaan dari Maha Mengetahui.
    Berikut yang disampaikan Mas Dedi, QS 3:166. Dan apa yang menimpa kamu pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah, dan agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman. Kata ini juga dapat menghasilkan pengertian yang sama — satu model — sehingga Allah mengetahui siapa orang-orang beriman. Coba kita lihat penerjemahan yang lain :
    Submission :
    QS 3:166. Apa yang menimpa kamu pada hari dimana kedua pasukan yang bertempur adalah dengan kehendak Allah, dan juga untuk memastikan siapakah orang orang yang percaya.

    Agak terasa kata sambung “dan juga untuk” atau “agar” bisa memiliki pengertian lain dari pembacanya. Menerjemahkan “waliya ‘aalama almuminiin” menjadi sulit dicari ketepatannya dalam bahasa kita. (Adakah rekan pembaca yang bisa membantu ?)

    Transliteration

    Wama asabakum yawma iltaqa aljam aani fabi-ithni Allahi waliya ‘aalama almu/mineena

    Literal
    And what struck/hit you (on the) day the two groups/gatherings met , so (it is) with God’s permission, and to know the believers.
    Yusuf Ali
    What ye suffered on the day the two armies Met, was with the leave of Allah, in order that He might test the believers,-
    Picktha
    That which befell you, on the day when the two armies met, was by permission of Allah; that He might know the true believers;
    Arberry
    And what visited you, the day the two hosts encountered, was by God’s leave, and that He might know the believers;
    Shakir
    And what befell you on the day when the two armies met (at Ohud) was with Allah’s knowledge, and that He might know the believers.
    Sarwar
    What befell you, when the two armies confronted each other, was by the permission of God so that He would know who were the true believers
    Khalifa
    What afflicted you the day the two armies clashed was in accordance with GOD’s will, and to distinguish the believers.
    Hilali/Khan
    And what you suffered (of the disaster) on the day (of the battle of Uhud when) the two armies met, was by the leave of Allah, in order that He might test the believers.
    H/K/Saheeh
    And what struck you on the day the two armies met was by permission of Allah that He might make evident the [true] believers.
    Malik
    What ye suffered on the day the two armies met, was with the leave of Allah, in order that He might test the believers,
    QXP
    If you suffered when the two armies clashed, it happened according to Allah’s Laws. He made it a test for the believers to know their strength and weakness.
    Maulana Ali
    And that which befell you on the day when the two armies met was by Allah’s permission, that He might know the believers,
    Free Minds
    And what you suffered on the day the two hosts met was by God’s leave, and to let the believers know.
    Qaribullah
    What hit you the day the two armies met was by the permission of Allah, so that He might know the believers
    George Sale
    And what happened unto you, on the day whereon the two armies met, was certainly by the permission of God; and that he might know the faithful,
    JM Rodwell
    And that which befel you on the day when the armies met, was certainly by the will of God, and that he might know the faithful,
    Asad
    and all that befell you on the day when the two hosts met in battle happened by God’s leave, so that He might mark out the [true] believers.

    Namun, bagaimanapun juga saya percaya, pemahaman akan tiba juga ke dalam dada kita. Allah menjanjikan hal ini. Wass

    Suka

  6. Assalamu’alaikum

    @Mas Agor

    Dua ayat dibawah ini barangkali bisa melengkapi maksud ayat tersebut di atas.

    “Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.” [Muhammad: 31]

    “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” [al-Mulk:2]

    Kata terjemahan “agar” juga berada dalam ayat berikut ini:

    Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (Al-Baqarah: 183)

    “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” (Al-Baqarah: 21)

    Disini ada beberapa pengertian yang saya tangkap dari kata “agar”:
    – agar = sehingga menyebabkan
    – agar = dengan bekal
    – agar = diharapkan (bertakwa sehingga dapat mengerjakan puasa/sholat)

    Assalamualaikum, wr. wb.

    @
    Trims Mas, memang terasa ya, ketika kata agar dinisbahkan kepada Allah, rasanya ada ganjelan pengertian. 😦

    Suka

  7. @Tambahan

    Alloh mempunyai banyak sifat/nama yang saling mempengaruhi. Alloh Maha Pengampun tetapi karena mempunyai sifat-sifat yang lain, tidak semua manusia diampuni dosanya. Alloh Maha Kuasa tetapi karena mempunyai sifat-sifat yang lain Alam Semesta diciptakan dalam enam masa. Alloh Maha Mengetahui bahwa azab neraka sangat pedih tetapi karena mempunyai sifat-sifat yang lain Alloh tidak mengalami rasa sakit yang diketahui/dirasakan manusia yang diazab di neraka. Dengan kata lain Alloh mengetahui pedihnya azab neraka tidak dengan fakta karena Alloh tidak mengalami penderitaan itu. Secara logika, pengetahuan dengan fakta tidak mungkin ada tanpa fakta.

    @
    Mas, penjelasan ini menarik. Saya tidak pernah memikirkan hal seperti yang Mas tulis ini. Saya rasanya dapat mengerti, tapi rasanya juga baru belajar mengerti logika ini. Trims uraian ini. 😀 menarik.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: