Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Sedikit Keberanian Kita Untuk Mengakui Kelemahan Diri

Posted by agorsiloku pada Januari 6, 2009

Jujur saja (padahal nggak mau jujur 😦  ), agak (kalau tidak dibilang) sangat sulit untuk menyampaikan secara terbuka sebuah komunikasi antara seorang penulis dengan pembacanya.  Apalagi jika isinya kurang menyenangkan yang berselisih pendapat.  Apalagi dalam kebiasaan tradisi upaya membela diri dan menunjukkan diri kitalah yang benar lebih mudah dikemukakan dari pada menunjukkan kita salah.  Kepandaian kita adalah ngeles atau kita mudah marah jika sedikit saja orang menyenggol kendaraan kita atau tidak menyapa.  Bahkan hanya urusan sederhana saja dua kampung bisa saling bakar…  Apalagi jika bangsa kita yang disinggung seperti dikisahkan oleh penghinaan kepada Indon oleh MalayApalagi jika presiden kita dilempar sepatu, wah pastilah geger.  Untung itu presiden Amerika.  Bahkan kitapun diberikan kesempatan untuk bermain-main melempar Presiden Indonesia Bush yang menjadi salah satu game temporer yang top sedunia.. 😀  . Kliklah di sini.    Bagaimana penghinaan ini bisa diterima anak bangsa dengan lapang dada…!?, jika kita presiden kita diacak-acak begitu…..

Apakah bangsa ini selalu bangga karena kaum wanitanya banyak dikirim ke luar negeri (TKW)  atau sampai jalur TKW disediakan oleh Pemerintah.  Sekaligus memberikan kesempatan kepada mafia Bandara untuk melakukan hal-hal yang kerap diprotes.  Mengapa kaum wanita kita yang kita sayangi tidak bekerja di rumah atau di dalam negerilah tapi malah terpaksa bekerja ke luar negeri.  Mengapa bukan mengurus anak-anak bangsa untuk menjadi manusia-manusia Indonesia seutuhnya….

Jarang kita menyampaikan kelemahan kita.  Kita sering mencari cara untuk menyampaikan kebanggaan kita.  Padahal, tidak ada yang bisa juga saya banggakan.

Saya bersembunyi dibalik sebuah nama yang diharapkan tidak ada yang perlu mengenalnya.  Karena terlalu asing, karena tidak ada gunanya.  Asing, bahkan terhadap diri sendiri……

Iklan

12 Tanggapan to “Sedikit Keberanian Kita Untuk Mengakui Kelemahan Diri”

  1. Kasusku kemarin ternyata Mas Agor masukkan ke dalam kalimat pertama artikel ini. Syukurlah kalau keberanianku kenekatanku dalam mengungkap pengalaman pahitku itu ada gunanya. Apalagi ini bisa jadi pelipur lara pula. Alhamdulillaah… Terima kasih, Mas Agor, atas pengertian dan nasihat Mas.

    @
    Saya banyak belajar dari keberanian dan keterbukaan Mas Shodiq… Sungguh…

    Suka

  2. lovepassword said

    Indonesia kutahu kau biasa saja
    Indonesia kutahu kau tak sempurna
    Tapi bunda ijinkanlah aku bangga
    Karena memang itulah cinta….

    O la la la la…

    Tapi memang tetap saja instropeksi itu perlu. Meskipun standard yang dipake bisa saja lain-lain. Termasuk game Mister Bush yang malah sengaja kupasang di blogku itu. Salah atau benar Itu murni disadari . Bagiku sih kegunaan game2 semacam itu jauh lebih baik dari sisi jeleknya. Hi Hi Hi…

    SALAM Bos Agor.
    GBU

    @
    Yap… kita berbangga dan sedih dengan Indonesiaku…
    Tiba-tiba aku terpana… kaget… setelah kali ke sekian… saya berhasil melempar kepala itu sampai 28 kali… he…he..he….
    Bayangkan kalau di Indonesia…. apa yang terjadi jika ada yang membuat game melempar kepala ….

    Suka

  3. lovepassword said

    Instropeksi ayo instropeksi….!

    @
    😀

    Suka

  4. zal said

    ::mas agor, bukankah sudah diprediksi Malaikat, “mengapa Engkau ciptakan orang-orang yang akan…”…namun “AKU lebih tahu dari yang tidak kamu ketahui..”, meskipun keraguan malaikat tersebut terbukti, namun dari perselisihan yang disebabkan rasa kuat dan mashur itu akan memberi warna baru bagi kedua yg berselisih sadar atau tidak…bukankah abrasi menyebabkan meluasnya lautan…..???
    kalau kata iwan fals, “ambil indahnya…”

    @
    Betul Mas Zal, sekaligus menjelaskan kemampuan berpikir Malaikat yang dari sumber-sumber informasi yang telah dimilikinya, maka malaikat dianugerahi Allah Swt kemampuan untuk menarik kesimpulan…..

    Suka

  5. Rindu said

    Kalau saya perlu banyak sekali keberanian untuk mengakui kelemahan saya … 🙂

    @
    Bahkan agor merasa tidak punya cukup keberanian mengakui kelemahan diri di depan publik seperti ini. Namun, kita juga tahu bahwa setiap manusia memiliki empati. Empati dari kejujuran jauh lebih bermakna dari pada kejujuran yang dipura-purakan….

    Suka

  6. marinki said

    Betul mas Agor, tradisi suka menyembunyikan kelemahan diri itu sudah sangat merasuk pada jiwa seseorang yang terbelenggu oleh perasaan memiliki kekurangan. Sikap seperti itu akan menyebabkan pertentangan komunal, karena ada penahanan yang membawa kepada perilaku yang menyimpang….

    Aduh… saya juga kadang-kadang suka masih “ngeles”, sadar sih tapi rasa ingin “ngebales” aja…. moga–moga lama-lama sadaaarrr….

    @
    jadi makin malu deh ke diri sendiri…

    Suka

  7. sitijenang said

    semua yg ada pada diri kita kan katanya anugerah. mestinya memang tidak perlu merasa kuat, pintar, bangga, atau apapun istilahnya.

    @
    Betul.. kelemahan itu sama manusiawinya dengan kelebihan… dan kelebihan itu juga hanyalah sebagian kecil dari sebagian besar kelemahan…..

    Suka

  8. Emmun said

    semua yg d berikan kepada kita jg yg terbae buat kita loochh…
    Amien

    @
    😀

    Suka

  9. Herianto said

    Ikutan nih mas agor :
    Di lokasi bekerja membuka kelemahan diri menjadi semacam melakukan blunder. Begitulah manusia2 “kita” yang akan dengan sigap memanfaatkan kelemahan seseorang untuk menaikkan jati dirinya atau sebenarnya demi mempercepat posisi-posisi (jabatan/kekuasaan) yang ingin diraihnya dengan cara menghambat setiap kemungkinan penghalang yang dia kira2 (seperti menyerang kelemahan kita temannya).

    Sebaik-baik tempat mengungkap kelemahan2 diri kita adalah orang tua kita, guru-guru kita dan orang2 yang “luar biasa” kita mempercayainya.

    Dengan tidak kita ungkapkan secara gamblang saja selama ini kelemahan2 kita dengan mudah dikorek2 teman di sebelah.

    Mengetahui kelemahan diri sendiri adalah salah satu titik dari evaluasi, tetapi maksudnya tentu bukan menggembar-gemborinya.

    Bahkan ada nilai2 yang sangat menghargai kemampuan kita dalam menjaga (merahasiakan) kelemahan2 diri (kekhilafan) di masa lalu.

    Wallahu a’lam. 🙂

    @
    Kelemahan diungkapkan kepada orang tua kita, guru kita… tentu dengan harapan diarahkan untuk diperbaiki. Keberanian mengungkapkan kelemahan saja sudah merupakan nilai tambah sendiri. Kadang dan kerap kelemahan, dalam arti kesadaran, seperti yang ditunjukkan saudara kita Mas Mushodiq adalah juga bagian dari keluasan pandangan.
    Sisi kelemahan, kerap juga bisa menjadi kelebihan jika kita bisa memanfaatkan kelemahan kita atau kita mampu memanfaatkan untuk kepentingan pekerjaan yang sesuai. Ilmu manajemen mengajarkan kepada kita, kelemahan adalah ketidak sesuaian antara pekerjaan dan kemampuan yang harus dilakoni.
    Ambilah contoh sederhana : Seorang yang bergerak lambat dan berhati-hati sangat cocok jika menjalani pekerjaan sebagai pemancing ikan. Tapi seorang yang meledak-ledak dan selalu antusias akan membuat semua ikannya kabur. Tapi jika dia ditempatkan di front end atau orator. Kelebihan atau kekurangan di satu tempat, bisa menjadi kekurangan atau kelebihan di tempat lain.
    Posisi matching ini yang kerap tidak atau kurang diperhatikan, baik oleh atasan, maupun rekan sejawat, bahkan orang-orang terdekat kita sekalipun.
    😀

    Suka

  10. marinki said

    Perempuan banyak tergiur oleh materi, makanya sifat itu didukung oleh Pemerintah untuk jadi TKW dan mengimingi gaji besar, pernah hidup di luar negeri, konsumtif, hedonis, yang parah justru sebenarnya pemerintah sendiri yang ikut andil menjerumuskan kaum perempuannya untuk tidak punya harga diri.
    Bagaimana masa depan negara kalau tiang negaranya saja sudah rapuh?

    @
    dan laki-laki banyak berusaha untuk memenuhi kebutuhan Perempuan… yang diempukan…
    😀

    Suka

  11. syarifah said

    apa sih yang membuat diri kita kurang dapat menemukan sisi kelemahan diri sendiri???

    @
    Sering kita memiliki kelemahan yang sebenarnya adalah bagian dari mengasah kemampuan yang lain atau kita meributkan kelemahan dan melupakan anugerah yang lain….. 😀

    Suka

  12. yanti said

    trkdng yg lebih mengetahui kelemhan diri sendiri adlh orng lain n qt sulit untuk mengakui kelemhan diri coz mungkin qt trlalu egois n ingin tmpil sempurna……

    mengakui kelemhan dri berarti intropeksi trhdp dri sendiri untuk menuju kehidupan yg lebih baik….

    mari qt slalu intropeksi diri mungkin ad kesalahn n khilaf yg disengaja ato tidak….!!!!!

    semangat…45…. trims….

    @
    Memang betul, kita kerap — disadari atau tidak — merasa lebih dari yang lain. Memanfaatkan kekurangan menjadi kelebihan juga kerap tergantung bagaimana kita mengevaluasi kelebihan dan kekurangan kita. Kerap pula, kelemahan kita menjadi terasa lemah padahal jika kita memanfaatkan kekurangan kita di tempat yang benar dan tepat, maka kekurangan itu menjadi kelebihan. Atau ketika secara umum kita memahami kelemahan kita, maka artinya juga kita memiliki pemahaman untuk mengubah semua “kelemahan” menjadi kekuatan.
    😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: