Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Meliputi dan Kebersatuan Wujud

Posted by agorsiloku pada Januari 13, 2009

Ada komentar menarik dari catatan seorang rekan yang saya postingkan kembali.  Bukan untuk memperluas perdebatan, namun tentu untuk kita dapat lebih memahami petunjukNya.  Komentarnya menarik dan uraiannya lugas.

Kesalahan lain Harun Yahya yang pernah saya temukan mengenai Wihdatul Wujud. Tulisan tersebut dikeritik oleh saudara kita yang juga pasti seorang muslim golongan atas namanya Abu Hudzaifah al-Atsari. Abu Hudzaifah mengeritik Harun Yahya tentang pandangannya tentang Tuhan, dimana Harun Yahya yakin bahwa tuhan itu ada dimana-mana dan meliputi segala manusia sedangkan Abu Hudzaifah menyalahkannya dan mengatakan bahwa tuhan itu berpisah dari makhluknya. Abu Hudzaifah pun membawa nama Ahlus Sunnah, bahwa Ahlussunnah meyakini bahwa Allah SWT beristi’wa di atas arsy-Nya di atas langit, Dzat-Nya terpisah dari makhluk-Nya dan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.
Menurut saya, keritik Abu Hudzaifah itu tidak kuat karena dalam tulisannya itu dia tidak memiliki landasan yang kuat, sedangkan Harun Yahya berlandas pada firman Allah surah Al-Baqarah: 186, Al-Isra’: 60) dan Al-Waqi’ah:83-85), ayat tersebut berbunyi yang artinya:

  • ”Jika hamba-hamba-Ku bertanya tentang-Ku, sesungguhnya Aku dekat.” (Al-Baqoroh : 186).
  • ”Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: “Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia.” (Al-Israa’ : 60)
  • ”Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat, dan Kami lebih
    dekat kepadanya dari pada kamu. Tetapi kamu tidak melihat.” (Al-Waaqi’ah : 83-85)
  • Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: kemudian Dia bersemayam diatas arsy. Dia mengetahui apa yang keluar dari padanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan dia bersama kamu dimana saja kamu berada. dan Allah maha melihat apa yang kamu kerjakan. ” (Q.S. Al-Hadid: 4)

Satu lagi dari saya(pengirim komentar)
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengatahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya (Q.S. Aq-Qaaf: 16)

Demikianlah alasan Harun Yahya yang bersumber dari Al-Qur’an itu sendiri. Sungguh Abu Hudzaifah menyalahkan orang tapi dia tidak melihat kesalahan dirinya. Semoga keritiknya itu tidak berdasarkan pada nafsunya. Saya tidak mendukung keritik Abu Hudfzaifah karena dia punya keyakinan bahwa tuhan itu ada di Arzy sedangkan Arzy menurut dia itu ada dilangit. Memang banyak ayat Al-Qur’an menyatakan bahwa tuhan itu besemayam di Arzy, tapi tak ada ayat dan hadist yang menyebutkan bahwa Arzy itu ada di langit dan tak ada ayat dan hadist yang menyebutkan bahwa Allah berpisah dengan makhluknya. Al-Qur’an hanya menjelaskan bahwa Allah itu dekat, lebih dekat dari urat leher manusia itu sendiri. Bisa saja Arzy-Nya Allah itu ada di sekitar kita dan bisa saja Arzy-Nya itu meliputi manusia itu sendiri sehingga sesuailah ayat di atas bahwa Allah sungguh sangat dekat dan meliputi segala manusia dan bahkan Allah lebih dekat dari pribadi kita sendiri.

Abu Hudzaifah memahami Arzy atau kursinya Allah itu seperti kursi-kursi yang sering kita lihat, dimana kursi Allah itu dia pahami adalah sebuah tempat. Sedangkan tuhan itu tidak bertempat. Kapan tuhan bertempat berarti dia bukan tuhan yang sebenarnya alias tuhan bohong-bohongan, karena yang bertempat itu pasti sesuatu yang terbatas dan bisa terbayangkan. Sedangkan tuhan itu tak terbatas dan otomatis tak bisa terbayangkan. Kalaupun ada yang mengatakan bahwa tuhan itu berwujud juga merupakan pernyataan yang salah. Segala sesuatu yang berwujud itu sudah pasti sesuatu yang terbatas. Adapun di Akhirat kelak dimana ada sebahagian manusia dipilih khusus oleh Allah untuk saling bertatap muka merupakan sesuatu yang tidak boleh dibesar-besarkan dan tidak boleh dibayangkan. Karena bertatap muka menurut Allah yang tercantum dalam A-Qur’an itu sudah pasti berbeda menurut gambaran kita. Kalaupun seorang Nabi pernah bertemu langsung dengan Allah juga merupakan sesuatu yang tak perlu dibayangkan dan dibesar-besarkan. Yang pasti Nabi tersebut tidak melihat Allah, yang ia lihat hanyalah sifat wujud Allah bukan ke-Dia-an Allah.SWT.

@
Sangat tidak mudah memahami, khususnya bagi agor mendalami konsepsi Wahdatul Wujud yang dicetuskan oleh Ibn Arabi dalam segala cara pandangnya. Manusia tidak ditakdirkan untuk memahami Dzat maha pencipta selama kehidupannya di dalam kefanaan.
Pemahaman Allah adalah dekat, bahkan lebih dekat dari urat leher kita. Bersatunya yang dicipta kepada Yang mencipta mudah dipahami dan disalahpahami.
Boleh jadi yang setuju atau menolak, karena berdasarkan basis ayat yang sama sebenarnya perbedaan itu tidak ada (atau hanya diada-adakan) karena pemahaman dan kemampuan untuk menguraikan dalam kata/kalimat tidaklah terlalu mudah untuk dijelaskan.

Yang menyatakan Allah bersatu dengan mahluknya (entah pada kondisi apapun) adalah pernyataan yang juga ada landasan : Segala sesuatu kembali kepada Allah, Sang Pencipta. Ayat Allah Swt yang menjelaskan hal ini jelas menunjukkan bahwa Allah berdiri sendiri, Allah itu ahad dan kita tidak pernah akan punya wawasan yang cukup untuk memahami ahad juga. Karena manusia dan segala yang diciptakan Allah memiliki saling ketergantungan bersistem dalam segala aspeknya. Dan segala sistem yang saling berkait dan kebergantungan itu membutuhkan Allah untuk memelihara dan mengontrolnya.

Ayat Kursi begitu menjelaskan mengenai kekuasaan Allah yang meliputi segala sesuatu di langit dan bumi. Kekuasaan ini tentunya jangan dibandingkan dengan kekuasaan versi manusia yang hanya dapat memerintah pada punakawan atau sebagian sangat kecil dari perilaku. Namun kekuasaan Allah meliputi segala sesuatu dalam segala control gerak dan segala sifat fisis sampai apa yang dibisikkan oleh hati manusia.

Meliputi dan bersatu adalah hal yang berbeda. Karena jelas Allah Azza wa Jalla itu Esa, maka segala yang membentuk pemahaman bersatu pada yang diciptakan, dalam logika haruslah ditolak. Mengapa?. Karena ini Satu atau kesatuan adalah “sesuatu” yang tidak bisa digambarkan dalam otak berpikir manusia. Segala apa yang diciptakan adalah kebergantungan. Jika bersatu dalam pemahaman hakikat akal sekalipun maka tidak ada yang bisa dijelaskan lagi. Manusia yang bersatu dengan Allah tidak bisa dipahami dalam kriteria manusia menjadi bagian dari Allah, karena itu mengartikan Allah tidak esa. Manusia akan kembali dan dikembalikan kepada Allah menjelaskan bahwa Allah menerima kembali ciptaanNya dalam satu arena (akhirat).

Mengenai Arasy, Arsy.
Pembahasan mengenai Arsy Allah, jelas tidak banyak dipahami oleh kita. Namun, yang sudah disampaikan oleh Allah SWT melalui Al Qur’anlah yang dapat kita ketahui/pahami.
Yang dijelaskan adalah : Allah pemilik Arsy. Allah bersemayam di atas Arsy. Malaikat menjunjung/memikul Arsy dan bertasbih memuji Allah dan memohon ampunan untuk manusia. Malaikat berkeliling di seputar Arsy dan memuji (Al Zumar 75). Arsy yang besar. Bersemayam di atas Arsy dan mengatur segala urusan (AQ 10:3)

Kita tidak tahu besar Arsy. Bisa jadi alam semesta itu terlalu kecil dibanding Arsy.

Berangkat dari catatan ini, maka ijinkan saya memberikan catatan dari apa yang mas sampaikan :

… Memang banyak ayat Al-Qur’an menyatakan bahwa tuhan itu besemayam di Arzy, tapi tak ada ayat dan hadist yang menyebutkan bahwa Arzy itu ada di langit dan tak ada ayat dan hadist yang menyebutkan bahwa Allah berpisah dengan makhluknya…

Di sini ada hal yang menurut saya krusial untuk dipahami. Ayat yang menjelaskan arsy ada di langit (alam semesta) justru membatasi pemahaman arsy. Langit itu ciptaan, arsy juga ciptaan. Arsy besar, kita tidak tahu ukurannya. Kalau alam semesta itu besarnya sudah sangat luar biasa dan tak terukur, maka apalagi arsy. Jadi memahami arsy di atas langit adalah proses berpikir yang menyempitkan arti arsy. Sedangkan Nabi pun, sewaktu Isra Miraj, dijelaskan : diperlihatkan sebagian kekuasaan kami… perhatikan kata “sebagian”.

Allah berpisah dengan mahluknya –> banyak sekali ayat yang menjelaskan. Secara wujud fisik, jelas manusia terpisah dengan Allah. Secara kontrol, jelas kekuasaan Allah meliputi segala sesuatu. Kalau dipahami menyatu dalam artian fisikal (dalam akal berpikir manusia), jelas ini melanggar pengertian keesaan Allah (Al Ikhlas).

Bersatu dalam pengertian dekat, tentu itu adalah harapan dan impian kita. Namun, kebersatuan itu tidak bisa diartikan sebagai kebersatuan fisis atau logika sejenisnya dalam membangun wujud. Namun, keikhlasan dan ridha Allah kepada kitalah yang dijadikan pemahaman bahwa kebersatuan itu terjadi.

Iklan

32 Tanggapan to “Meliputi dan Kebersatuan Wujud”

  1. haniifa said

    Subhanallah…
    Rupanya saya sepemahaman dengan @mas… 😉
    Allah subhanahu wa’ala benar-benar terpisah dengan mahluknya secara fisik, namun makhluknya mempunyai derivasi sifat Allah. Misalnya ayat tentang Isrinya “Al Aziz” atau salah satu sifat Nabi Muhammad s.a.w adalah derivasi dari “Ar Rahiim” (QS 9:128).

    @Mas Abrah
    Bisa saja Arzy-Nya Allah itu ada di sekitar kita dan bisa saja Arzy-Nya itu meliputi manusia itu sendiri sehingga sesuailah ayat di atas bahwa Allah sungguh sangat dekat dan meliputi segala manusia dan bahkan Allah lebih dekat dari pribadi kita sendiri.

    Ada disekitar kita := dimensi jarak, ruang dan waktu… artinya @Mas Abrah masih terjebakan, Gimana benar atau salah , pendapat saya ?!

    Mungkin yang oleh Abu Hudzaifah adalah, sbb:
    Bersemayam diatas Arsy := kata sifat meliputi kebesaran Arsy, dan kebesaran Arsy itu sendiri tidak pernah terbayangkan.

    Tempatnya Kapten “di atas” Kopral := Posisi lokasi Kapten berdiri lebih tinggi dari posisi Kopral. (jarak/ ketinggian)

    Tempatnya Kapten “diatas” kopral := Porsi tanggung jawab/ Kekuasaan Kapten melebihi Kopral… 😀

    Wassalam, Haniifa.

    @
    Pembahasan di wilayah ini adalah pembahasan berabad-abad. Melahirkan banyak perdebatan dan diskusi panjang. Catatan Mas Haniifa menunjukkan hal ini. Walaupun ditulis sangat ringkas….
    Terimakasih Mas.

    Suka

  2. Ngabehi said

    Jarene simbah simbah biyen, Gusti Allah iku cedhak tanpa senggolan adoh tanpo wangenan tan kena kinaya ngapa, perangkat lahir tak bisa menjangkaunya kecuali dengan hati yang jernih dan suci.

    Suka

  3. Ngabehi said

    jadi untuk bisa memahami Gusti Allah harus dilandasi dengan laku (tarekat), tidak hanya sekedar membaca buku hadist atau kitab suci kemudian diterima dengan saklek, eee ini juga katanya lho…

    @
    Laku adalah hal yang harus diakui tidak mudah. Memahami Gusti Allah, tentu saja harus dilandasi laku. Laku yang tentunya sesuai petunjukNya.

    Pokok kebajikan yang disampaikan dari sebaran ayatNya antara lain :QS2: 177. Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

    Jadi memang tidak sekedar membaca buku. Tidak juga semata menjalani laku, tapi melupakan pesanNya.

    Ini yang harus agor akui, sangat minimum kemampuan untuk melaksanakan. Kadang hati menjadi malu dan terasa betapa murkaNya kepada orang yang bisa mengatakan, namun sedikit melakukan…… Subhanallah, astagfirullah….

    Suka

  4. halwa said

    kalau surat ini gimana yah mas ” Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengatahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya (Q.S. Aq-Qaaf: 16).

    gimana tafsirnya ya menurut mas agor ??

    @
    Agor bukan mufassir… jadi tidak menafsirkan apa yang dibaca, dan hanya dipahami seperti apa adanya saja. Sesuai dengan daya nalar. Jadi, kalaulah mas membaca ayat ini. Pengertian Mas tentunya sama juga dengan agor.
    Kalau anak saya cemberut saja, atau teman hidup bersama bertahun-tahun tiba-tiba menundukkan kepalanya atau mengalihkan pandangan karena sesuatu hal. Tiba-tiba saja ada satu bisikan pemahaman akan ada sesuatu yang entah mengecewakan atau membahagiakan hatinya. Itu manusia, yang dikarunia dengan segala keterbatasan potensinya. Apalagi Maha Pencipta, tentu tidak dapat lagi diperbandingkan. Ayat ini menjelaskan betapa dekatNya Allah dan menguasai pada yang diciptakanNya.

    Suka

  5. haniifa said

    “tafsir” tinggal difahami bukan ditafsirkeun lagi dunk… 😀

    Suka

  6. zal said

    ::mas agor, jika tak dimulai dengan “percaya”, bagaimana membuat mas agor bisa menerimanya, dan lagi, jika rezeki sudah ditolak, pemberinya akan mengantongi kembali yang akan diberi….

    @
    Salam, 😀
    Biasanya seorang anak begitu percaya, kemudian menguji atau tetap percaya… lalu menolak, lalu bimbang, lalu percaya… ada yang bertanya, ada yang memikirkan, dan ada yang tanpa reserve apapun….

    Suka

  7. halwa said

    oh jadi semua ayat di AQ itu harus di pahami yah mas.tar pemahamannya beda-beda ya mas. apa ga perlu liat tafsir ulamanya mas, kan katanya harus ada gurunya…biar ga tersesat gitu katanya…ngerikan mas klo tersesat.

    salam damai.

    Suka

  8. haniifa said

    @Halwa
    Al ‘Alaq (Segumpal darah) surah ke 96
    “Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah (‘alaqin) [QS 96:2]

    Silahkan @Halwa baca di forum/ artikel tentang ‘alaq dari Dr. Maurice Bucaille, yang beliau fahami ‘alaq := ‘clot’.

    Bagaimana kalau saya memahami ‘alaq := “Segumpal darah”, karena disurah itu hanya ada 2 := Nama surah + ayat ke 2.

    Mana yang lebih fatal ?1 Jika dokter tidak memahami penggolongan darah sebagai Rh+ dan Rh-

    Selanjutnya bagimana kita menjelaskan konsep “Rhesus” atau “clot” pada dukun beranak di kampung-kampung ?!
    (mereka tahunya jika menstruasi dan atau orang keguguran mengeluarkan “segumpal darah”)

    Satu kata saja, menurut @Halwa sebaiknya ‘alaq di tafsirkan bagaimana ?!

    Wassalam, Haniifa.

    Suka

  9. ayruel chana said

    Assalamu alaikum wr wb

    Kalau sudah mengetahui makna ..surat al ikhlas..
    maka seluruh pertanyaan akan terjawab…
    Walau tak dapat lidah berkata2…
    Walau Tinta tak kuasa mencoreng kertas…

    Hanya ada ….AHAD….
    tak ada lainnya
    bukan dua,apalagi tiga dst
    Dengan kata lain …SelainNYA adalah FANA
    ATAU LA ILAHA ILLA ALLAH

    Wassalam….
    (mat ketemu lagi hanifa dllnya)

    Salam jumpa lagi semua saudara seiman
    Lama tak jumpa rindu bergelora
    Mari kita semua sama2 tingkatkan Iman
    Jangan terbawa godaan dunia yang fana

    Suka

  10. Pemikiran Wihdatul Wujud adalah berangkat dari ajaran tasawuf yang menyesatkan. Banyak para pengikut ajaran ini seperti Tarekat Naqsabandiah yang mursid (Gurunya) telah lepas dari hakekat ajaran Islam lagi. Sampai-sampai berkeyakinan apabila telah sampai pada Khasaf (level pengajian) tertentu (tinggi) tidak perlu melakukan sholat lagi. Ini kan sesat namanya. Alasan tidak perlu melakukan sholat lagi karena sholat didiriakan karena untuk mengingati Allah. Kalau sang Mursid telah menyatu dengan Allah maka tidak perlu sholat lagi! Oh Walaaah!

    @
    Kadang sebilah pedang dipakai untuk memotong rumput, memotong kambing… juga untuk hiasan…
    yang keliru bukan pedangnya tapi kerap cara memahami dan memakainya….

    Suka

    • Thariqat nya ga salah, tapi kadang para murid salah memahami dan mengambil kesimpulan sendiri.

      Apakah Bektashian? Hacı Bayram Veli, Yunus Emre (gurunya adalah Taptuk), maulana (gurunya adalah Syams). Guru dari semua ini adalah Yesevi. Guru dari Yesevi adalah Khidir. Orang yang mengembangkan klan dan ras. Terdapat empat sekolah pemikiran di dalam geografi besar Islam:
      a) Pada jauh barat, Muhyiddin’i Arabi dan Ibni Haldun
      b) Di pusat, shofi Abu Muslim
      c) Shofisme India (untuk membuat orang India muslim Nirvana = fana fillah, ‘aynul yaqin, ‘ilmul yaqin, haqqul yaqin berasal dari India) Ini adalah konsesi yang diberikan. Mereka kemudian menjadi masalah bagi kita sebagai Petunjuk Islam shofisme.
      Tetapi di sebelah utara, keberpisahan Buhara silkroad jew, Buhari,
      d) Ada sekolah pemikiran Yesevi. Muridnya tidak seperti yang mereka ceritakan kepada kita.

      Hacı Bektash Veli tidak pernah minum minuman alkohol, dan dia tidak bermazhab Alevi-Sunni. Hacı Bayram Veli: ‘Tidak ada mazhab, yang ada ahiism = persaudaraan’. Maulana tidak pernah menari, ia tidak pernah melaksanakan perayaan langit. Tetapi Syamsi Tabrizi dari sekolah pemikiran Yesevi. Taptuk dan siswanya Yunus tidak memiliki mazhab. Itulah mengapa Edebali menyebut mereka ‘Harici’, tak bermazhab. Dia menghina maulana ‘Zenne / Köçek = homoseksuil’. Ketika dia menaklukkan Artisan negara Ahiism dari Hacı Bayram Veli, ia melaksanakan penyiksaan luar biasa. Para ‘Ahi’s dibunuh disana tanpa ditangkap. Mengapa Edebali demikian? Apakah ada orang yang tahu tentang ini? Apakah saya menunjukkan Anda referensi ketika saya beritahu Anda bahwa tidak ada nama dari keluarga Muhammad dalam Dinasti Usmani? Referensi adalah sejarah yang Anda baca. Dan saya hanya menunjukkan Anda sesuatu yang tidak anda lihat.

      @All saya mengupas sejarah Abu Shofian, mohon komentarnya
      http://qarrobindjuti.blogspot.com/2009/07/abu-shofian-dan-muhammad.html

      #Qarrobin

      Suka

  11. Dono. said

    Ass.wr.wb,sdr semua,
    Saya teringat akan firman Allah yg telah di tuliskan oleh pak Halwa yaitu surah (Q.S. Aq-Qaaf: 16).yg berbunyi : Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengatahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.
    Pada surat ini ada perkataan KAMI.
    Pertanyaan saya siapakah gerangan KAMI itu iya.

    Wassalam.

    @
    Wass.wr.wb
    Sepengetahuan agor, kata “Kami” dipakai dalam Al Qur’an untuk menjelaskan bahwa dalam ayat yang menjelaskan tersebut, terdapat unsur ketiga yang menjadi pembantu tuhan dalam menjalankan konsepsi ayat ini. Pembantu tersebut adalah/tentunya utusan dan ciptaan Allah swt. Misalnya, mengenai mencabut Nyawa, jelas bukan Allah yang melakukan, namun Malaikat yang ditugasi.
    Pada konsepsi seperti inilah kata kami dipakai.
    Itu yang agor pahami,
    Dengan begitu, kita bisa menjelaskan bahwa kata kami itu adalah konsepsi bahwa ada yang ditugasi untuk mengetahui dan mencatatkan atau mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya…..
    Wallahu ‘alam.
    agor

    Suka

  12. lovepassword said

    Saya search dengan Mister Google mengenai topik ini :

    ://ustaz.blogspot.com/2006/02/mengenali-dan-memahami-di-manakah.html
    ://sawali.info/2008/09/26/di-manakah-allah/
    ://ainuamri.wordpress.com/2007/11/03/dimanakah-allah/

    Ada beberapa tanggapan mengenai topik ini :

    1. Allah tinggal di langit karena Arsy itu dilangit. Kalo masalah ini debatable ya?
    2. Allah meliputi apa saja . Ada tarekat sufi yang ngomong gicu. Ini juga malah lumayan dekat dengan panteisme kalo aku nggak salah ingat.
    3. Allah lebih dekat dari urat leher kita
    4. Allah tidak bisa didekati dengan pemahaman manusia. Usaha menanyakan dimanakah Allah dianggap mereduksi kebesaranNYa, karena ada perbedaan antara Allah dengan manusia.

    Tetapi kalo masalah ada derivative sifat Allah pada makhluknya, saya rasa memang seperti itu. Saya lebih suka berpikir manusia itu pada dasarnya baik daripada sebaliknya.

    @
    Catatan yang menarik. memang selalu ada perdebatan.
    Namun jelas dalam AQ bahwa Allah memiliki arsy yang mulia dan berada di sana.
    Yang sebenarnya tidak ada penjelasan…(tolong koreksi) menghubungkan arsy dengan langit dan arsy ada di langit…. (langit alam semesta ciptaan Allah). Rasanya atau mungkin sebenarnya ini juga seharusnya tidak diperdebatkan lagi… kalau itu masih dalam kerangka langit alam semesta. Tentulah pada saat kiamat, langit menjadi lemah dan blas kiamat. Tidaklah logis bahwa arsy ada atau menjadi bagian dari sistem langit semesta yang kita kenali….
    Wass, agor

    Suka

  13. haniifa said

    KAMI, Kami atau kami := Plural form atau kata jamak.
    A. Matahari + Udara + Kulit := menciptakan cita-rasa/sifat hangat pada manusia. (Objeknya lebih dari satu, jamak)
    B. Minyak Kayu putih + Kulit := menciptakan cita-rasa/sifat hangat pada kulit. (Objeknya lebih dari satu, jamak)

    @Mas Dono.
    Jika jarak A didekatkan, mungkin SAYA jadi Sate… 😛
    Jika jarak B dijauhkan, mungkin SAYA jadi Masuk Angin…. 😀

    SAYA punya Oom dan @Mas Dono bisa tanya gih… soal KAMIkaze.

    Wassalam, Haniifa.

    @
    Kami dalam ragam unsur… terdapat beberapa cara berpikir untuk hal ini… cukup menarik juga… ketika kita melihat unsur matahari+udara+kulit dilihat dari sudut jamak.
    agor sendiri baru sekali ini melihat model ini 😀

    Suka

  14. Assalamu alaikum wr wb

    Ma’af nich pak agor ..koreksi dikit nich
    tulisan pak agor :
    sedangkan tuhan itu tak terbatas dan otomatis tak bisa terbayangkan. Kalaupun ada yang mengatakan bahwa tuhan itu berwujud juga merupakan pernyataan yang salah. Segala sesuatu yang berwujud itu sudah pasti sesuatu yang terbatas

    maaf nich pak agor…bukan kah WUJUD adalah sifat 20
    yang pertama…lagi

    Maksud WUJUD disini bukan sesuatu yang diliat mata pak Agor.karena sesuatu yang bisa diliat komponen makhuk(diciptakan) ..berarti punya kelemahan…
    yang bisa meliat NYA tentu hanya component yang DIA(KHOLIK)punya.
    RUHANI = RUH KU

    sedangkan makna WUJUD yang benar adalah
    WUJUD = ADA.
    Kalau nggak ada mengapa harus diyakini???
    dan segala sesuatu yang diciptakan…berarti sebelumnya tidak ada.
    dan akan punah alias fana.

    HANYA JANJI ALLAH SAJA YANG KITA PEGANG YANG MANA DIA AKAN MENGEKALKAN ALIAS MENGABADIKAN SEBAGIAN MAKHLUKNYA TERMASUK MANUSIA.

    DAN INGAT!!!ALLAH YAF’ALU MA YASA”

    WASAALAM semoga bermanfaat

    @
    Ass.wr.wb.
    Terimakasih untuk catatannya mengenai wujud yang berarti “Ada”. Memang pada tulisan komentar yang saya kopi pais (sedangkan komentar saya ditulis miring setelah — seperti biasa dimulai dari @ — di bagian akhir) tidak memberikan catatan mengenai pengertian wujud = ada namun lebih terfokus pada kesatuan informasinya.
    Catatan ini Mas Ayruel menjadi penting dan menegasi sebuah konsepsi keber-ADA-an dan pengakuan dari yang diciptakan.
    Salam selalu untuk Mas Ayruel.
    Wassalam…, agor.

    Suka

  15. Assalamu alaikum wr wb

    Umpama Air….
    Walau ada di lautan,di sungai,di danau,di gunung,di kolam,di bak mandi,di teko,di gelas,di perut dll
    yang namanya air tetap aja air ,walau bercampur gula dan garam,walau teh dan kopi dilarutkan,dll
    Tetap aja air adalah air
    Air …..dari kesemuanya cuma satu .yaitu air ….dan ia bernama air,,,..seandainya kita menamakannya water atau almaun,dll
    tetap aja tuch air””
    dan hanya satu yaitu air….

    INI HANYA PERUMPAMAAN UNTUK PENDEKATAN PEMAHAMAN….
    YANG NAMANYA UMPAMA TAK SEPERTI ASLINYA>>>
    PERUMPAMAAN JELAS TAK SAMA DENGAN ASLINYA>>>

    Wassalam dan
    semoga bisa mengambil manfaat dari perumpamaan saya yang bodoh ini…

    @
    😀
    Karena keterbatasan dan memang potensi manusia juga dibatasi maka perumpamaan menjadi pendekatan… dan seperti kata Mas Ayruel, bisa tak sama dengan aslinya… bahkan… sangat berbeda atau tidak tahu dengan aslinya….
    😀
    penjelasan yang menarik… 😀

    Suka

  16. Assalamu alaikum wr wb

    Wach rupanya..copy paste…
    ma’af atas ketergesaan saya memutuskan pada diri pak agor…
    Memang agak rada aneh terasa dgn tulisan itu..kagak mungkin pak agor berpendapat begitu…
    sekali lagi maa’af nich pak agor ..
    comment saya diatas dijadiin bantahan aja untuk tulisan:

    “Kalaupun ada yang mengatakan bahwa tuhan itu berwujud juga merupakan pernyataan yang salah. Segala sesuatu yang berwujud itu sudah pasti sesuatu yang terbatas”

    atau ini kesalahan pemahaman bahasa saja kayaknya,karena bahasa indonesia sudah membiasakan wujud itu bentuk ,atau model sesuatu.

    Sekian dan wassalam

    @
    Ass.wr.wb.
    Semuanya,… menjadi salah satu dari sekian sarana untuk memahami kehidupan ini… 😀
    Wass.

    Suka

  17. Salam kenal….
    Siapakah yang sesungguhnya bisa memahami dan menjelaskan Allah dengan tepat….sementara kata-kata “pahami” dan “jelaskan” sama sekali tak tepat jika dihubungkan dengan Allah sebagai Zat Yang Ghaib, Yang Maha Tersembunyi. Yang paling mungkin…kita memahami dan menjelaskan-Nya, sebagaimana kita memahami dan menjelaskan wujud kita sendiri…Dan itulah tanda kelemahan kita, keterbatasan kita, yang seyogyanya mencegah kita menghakimi “tafsir” orang lain tentang Allah.
    NB: Monggo mampir ke blog saya….Trims

    @
    Salam kenal kembali Mas Setyo…
    Pertanyaan yang sulit… kalau untuk manusia seperti kita. Siapakah yang sesungguhnya bisa memahami dan menjelaskan Allah dengan tepat….?. Tentulah utusanNya…. Kita hanya mengenal melalui nama-nama yang menyifatiNya….
    senang agor bisa berkunjung ke blog mas setyo.
    Terimakasih juga Mas mau berkunjung ke blog agor.

    Suka

  18. Assalamu Alaikum Wr Wb

    Huwaz zohiru wa Huwal batinu
    Mau yang mana nich…
    Pak Agor Tolong kasih dalil akan ALLAH itu Ghoib?
    Wassalam

    @
    Wass.ww.
    Wah… agor juga bingung 😦
    Yang agor tahu, Allah mengingatkan bahwa Tidak ada yang mengetahui perkara ghaib di langit dan di bumi, kecuali Allah (QS 27:65).
    Allah Swt dalam menjelaskan sifatNya antara antara lain Al Baathin. Ini dipahami sebagai Yang Maha Ghaib, Yang Maha Tersembunyi. Absolut. Mutlak.
    Lalu, saya juga tidak mengerti, dalil apa yang Mas Ayruel maksudkan?….
    Wassalam, agor.

    Suka

  19. Entah nyambung entah nggak, Mas. Tapi… saya lebih suka memahami konsep wahdatul wujud itu dalam hal sifat, bukan zat. Dengan lirik seperti ini/a>. Mengingatkan macam konsep tarekat suluk saat di pesantren dulu 😕

    @
    Keduanya, baik dalam sifat dan zat kemahaan adalah hal yang tidak kita mengerti. Namun, zat atau dzat apapun dicerna selalu melalui sifat-sifatnya, karakteristiknya… dan semuanya selalu ada pada pemahaman “bukan itu”.

    Suka

  20. Adooh! Tag-nya rusak. Maaf 😥

    Suka

  21. Assalamu alaikum…
    Pak Agor..

    GHOIB itu kan sesuatu yang tidak nyata,bagaimana mungkin mengatakan ALLAH itu tidak nyata keberADAannya.
    ghoib = hilang = tidak hadir

    Sedangkan ALBATINU…lebih mendalam alias mendetail….segala sesuatunya sampai ke detail2nya….jelas ALLAH semata yang MAHA MENGETAHUI.

    WASSALAM and to be bermanfaat dech

    @
    Wass.ww.
    Ghaib yang agor pahami, mengikuti AQ adalah yang hanya Allah yang mengetahui dan tidak seorangpun juga di langit dan bumi mengetahuinya, kecuali Rasul yang diridhai. Seperti yang dituliskan di Ghaib itu apa sih.
    Agor tentunya tidak mau keluar dari definisi ini, dengan kata lain; seperti petunjukNya, tidak nyata, hilang, tidak hadir, tidak tampak, dan lain sebagainya bukanlah perkara ghaib.
    Dalam pemahaman sains, dan berkenaan dengan petunjukNya, maka ghaib itu tidak terdefinisi dalam sains. Segala ukuran dan komitmen hukum-hukumnya tidak ada dalam khasanah ilmu pengetahuan/sains yang ditemukan manusia.
    Agor kira, kalau kita membahas definisi ghaib dalam pengertian manusia (menurut asal kata, dlsb) maka ghaib direduksi pada pengertian manusia dan bukan pada konteks al Qur’an. Dalam hal ini, meskipun agor kerap membaca pengertian-pengertian ghaib menurut berbagai versi, sebaiknya lho, kita ikuti saja yang telah ditegasi Al Qur’an. Ini menurut agor tidak akan menimbulkan friksi pandangan, juga tegas dalam definisi.
    Kalau didefinisikan sebagai tidak hadir… wah… agor sendiri merasa itu keluar dari term keberimanan.
    Kembali ke topik,
    karena jelas definisi ghaib menurut AQ, maka tentu tidak sama dengan tidak tampak, tidak hadir. Karena term ini tidak sama, maka tentu kita tidak akan juga kan mendefinisikan posisi ini kepada Sang Maha Pencipta….

    Wass, agor

    Suka

  22. Assalamu alaikum

    Buya Alex…(pakai gala..minang mach)
    Satu yang nggak saya suka dari siti jenar…
    Dia nyampai orang laen nyasar…
    kalo mau nyampe yang laen bawa donk..

    bagaimana mungkin sang ahad itu ,2,3,4 dst
    bagaimana mungkin ,2,3,4 dst menjadi ahad
    Yang ada kan cuma AHAD
    yang laen kan fana…maka fanakan….

    pantun(bikinan saya hanya umpama yang tak mungkin sama)

    banyak ragam olahan air
    ada teh ada pula kopi
    walau tetap itu air
    larut maka lupa diri

    Sekian wa la alla bermanfa’at dech
    wassalam

    Suka

  23. Assalamu alaikum wr wb
    pak agor

    Memang perkara ghoib itu hanya ALLAH yang maha mengetahui dan kita imani.masalahnya APAKAH ALLAH ITU GHOIB???
    seperti tulisan saudara setyochannel

    Siapakah yang sesungguhnya bisa memahami dan menjelaskan Allah dengan tepat….sementara kata-kata “pahami” dan “jelaskan” sama sekali tak tepat jika dihubungkan dengan Allah sebagai Zat Yang Ghaib,

    Ini nich yang jadi PR….
    Wassalam

    @
    Ass.wr.wb.
    Agak lama juga saya merenungi pertanyaan yang bukan pertanyaan ini. Apakah Allah itu ghoib?. Sedangkan ghaib sendiri adalah yang tidak kita ketahui, yang Allah Swt tidak mengabarkan kepada siapapun di langit dan bumi, kecuali Rasul yang dikehendakiNya. Kalau dari ayat yang menjelaskan hal ghaib ini, jelas kita tidak akan pernah bisa mendefinisikan dan menjelaskan apapun dari yang disebut ghaib dalam term pemahaman Al Qur’an. Jadi menurut agor, yang paling tepat jawabannya adalah Allah pemilik dan penguasa yang Ghaib.
    Dalam kelemahan berbahasa, kita tidak bisa memilih jawaban ghaib karena tidak tampak oleh mata atau tidak ghaib karena Allah adalah dekat. Pertanyaan ini, menurut sebaiknya tidak ditujukan kepada subjek Maha Pencipta karena kita tidak bisa mendefinisikannya kecuali dari apa-apa yang disampaikan olehNya.
    Seperti mobil dan pemilik mobil, maka ghaib dan pemilik yang ghaib adalah hal yang sangat berbeda…..
    Mohon maaf ya Mas Ayruel, jawaban saya lebih ‘ngeles’ lagi. Karena memang agor tidak berani mengambil spekulasi logika apapun dalam konteks seperti ini. Mohon maaf pisan.
    Wass, agor

    Suka

  24. haniifa said

    Betul @mas Ayruel.
    Kita hanya bisa memahami dan menjelaskan bahwa Allah itu Satu (Ahad) sebagai bilangan atau perhitungan matematis.
    Namun untuk pemahaman yang diluar itu… tidak akan dan tidak pernah manusia bisa memahaminya.
    Contoh:
    Ke-Ghaib-an Golongan Jin saja manusia masih simpang siur definisinay, belum lagi ke Ghaib-an Malaikat

    Apalagi memahami Allah yang Maha Ghaib, yang tidak ada celah sedikitpun dari terminologi ruang dan waktu.

    Wassalam, Haniifa.

    @
    Allah itu ahad, dan kita juga tidak bisa mendefinisikan Satu itu apa?. Sebuah komitmen dari pengetahuan manusia ketika memahami Allah itu esa dan tiada sesuatu apapun yang menyerupaiNya, maka mengandung konsekuensi apa saja yang kita pikirkan tentang penyifatan Allah Swt, maka ia “bukan itu”.

    Jadi, memang tidak ada celah sedikitpun dari terminologi ruang dan waktu, bahwa kita mampu … bahkan untuk berpikir ke sana. Jadi, kita mendefinisikan dari ciptaanNya saja deh… padahal antara mobil dan pembuatnya… adalah dua hal yang sangat-sangat berbeda….
    Wass, agor

    Suka

  25. Luxmile said

    Kalo miturut ane, “ahad” itu lebih tepat dimaknai sebagai “tunggal”, karena banyak-tak-hingga pun bisa didefinisikan sebagai tunggal/manunggal… kecuali kalau banyak-berhingga, sama sekali tidak tepat disebut “tunggal”…

    Ini parallel dg pemahaman wihdatul-wujud, yg menganggap “pencipta” meliputi “ciptaan”, melihat bahwa ada cacat logika jika memahami “pencipta” itu terpisah terhadap “ciptaan”, karena ciptaan tidak mungkin mandiri terhadap penciptanya.

    Ghoib, bisa dimaknai sebagai “Abstrak”, Dia Maha Abstrak, hanya bisa dipahami melalui pemahaman abstraktif…

    @
    kalau di maha abstrak, maka pemahaman abstraktif adalah juga bukan itu… Karena yang tepat untuk ahad adalah ahad. 😀

    Suka

  26. haniifa said

    @Mas Luxmile
    Tungal := 1 hanya satu-satunya; agen (wakil) -, agen (wakil) yang satu-satunya; anak -, anak yang hanya seorang saja (tidak bersaudara): besi -, besai yang tidak ada bandingannya,
    2 ba. mufrat (bukan jamak); mis kata benda -; 3 seutuhnya; bulat-bulat; mis dng hati – hati, dengan bulat-bulat hati. 4 dalam kata majemuk yang menjadi satu; mis. dwitunggal dua yang jadi satu
    Setunggal := se…. ; sama…; mis ~ derajat, sama derajatnya, ~ darah sanak, seasal keturunan.
    Manunggalkan := menyatukan, memusatkan menjadi satu, ~ mis pikiran: membulatkan pikiran.
    Ketunggalan := 1 keesaan; satu-satunya; 2 kebulatan (pikiran).

    Kamus Umum Bahasa Indonesia

    —- susunan ——
    W.J.S Poerwadarminta


    Diolah kembali oleh :
    Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa
    Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.




    PN Balai Pustaka
    Jakarta 1982

    Apa kamu nggak pernah nonton gituh… 😀

    Didalam pembelajaran Bahasa Indonesia yang terkenal dengan Ejaan Yang Disempurnakan (baca:EYD) dipopulerkan oleh Prof. Dr. Jusuf Syarif Badudu lewat acara Televisi Republik Indonesia (baca:TVRI) sekitar tahun 80′an.

    @Pae-pae

    tunggal/MANUNGGAL… darimana asal katanya ?!
    (kalau tinggal meninggal, ya kamu duluan aja… 😀 )

    Saya pribadi memahami bahwa Allah itu Satu aslinya “Qulhuwa Allahu Ahad” sebagai bilangan atau perhitungan matematis

    Wassalam, Haniifa.

    @
    Sebagai satu dan salah satu yang mewakili 1 adalah 1 😀

    Suka

  27. Luxmile said

    Heiiiiy, mas haniifa perfeksionis bangets gitu loh…
    tiap bahasa kan kembang-able (baca: bisa berkembang/dikembangkan) bro, tergantung konteks…
    liat tuh berapa bahasa prokem sekarang subur bermunculan tuh…

    Aye hanya review ke surat al-ikhlas, ayat terakhir menggaris-bawahi (itu spesifikasi apa negasi yeh?) ayat pertama…

    oke deh, klo gitu gimana kalo pakei bahasa sun-sekerta aja, “ESA”.

    Suka

  28. haniifa said

    Ah… kamu khok plin-plan, bro… 😛

    Suka

  29. Assalamu alaikum wr wb…
    HHHHhhhh masalah bahasa itu memang gampang menjadi lemah,,,karena alat atau sarana,,,salah satu kemampuan manusia adalah bahasa,dan bahasa manusia teramat banyaknya…maka masing2 bahasa mempunyai kelemahan pemahaman bagi individu yang sesuai pula dengan kemampuan atau perbedaan paham akan yang lainnya…(panjang amat ya..gini aja dech..susah untu saling memahami).

    Yang penting kan makna dan tujuan itu sama…walau terkadang satu kata mempunyai sejuta pemahaman,kalau makna dan tujuan sama…mau apa lagi…
    O..ya …sang ibu berbicara pada anaknya…walau masih kecil atau jauh berada disampingya,tetap mengerti apa tujuan sang anak…
    INI DIA BAHASA MANTAP : BAHASA QOLBU(HATI)

    hhhh…haniifa ditungguin wedul tuch jawabannya,,katanya mau izin ngelink blognya haniifa

    @
    😀

    Suka

  30. […] Saya sempat melontarkan Al ‘Alaq (Segumpal darah) surah ke 96 pada postingan Pak Guru…. Al ‘Alaq (Segumpal darah) surah ke 96 “Dia telah menciptakan manusia dari segumpal […]

    Suka

  31. naves said

    ma’af semuah yang di bhas itu apa ?
    ga kan ada abisnya trimakasi….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: