Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Seberapa Dekat Kita Dengan Simpanse?

Posted by agorsiloku pada Februari 22, 2008

Tentu saja dekat !. Apalagi kalau kita mau berkunjung ke kerabat dekat ini. Jelasnya ke bonbin !. Lalu bagaimana dengan kedekatan genetis?. Apakah satu mahluk hidup akan memunculkan mahluk hidup lainnya? Misalnya cacing menjadi manusia ? 😀 . Bicara soal kedekatan, katanya 70% dari struktur genetis manusia juga sama dengan cacing, kecoak, atau ayam !. Dengan simpanse lebih dekat lagi, hampir 98%. Namun, setelah pemetaan genetis lebih lengkap, diketahui pula bahwa perbedaan sebenarnya bisa jauh lebih banyak lagi. Paling tidak, yang dibilang 1-2% itu ternyata hampir 17,4% !.

Pemetaan genom manusia, tentu bukan untuk memastikan ketiadaaan penciptaan atau hanya kebetulan semata atau seberapa dekat kekerabatan genetis mahluk hidup, tapi untuk tujuan yang lebih “mulia”. Mendeteksi sumber penyakit, pengaruh genetis terhadap lingkungan hidup dan pengaruh mutasi genetis (yang selama ini lebih diketahui sebagai penyebab penyimpangan kesehatan).

Saya sih bukan ahli biologi atau pakar kedokteran atau sejenisnya, hanya asyik saja membaca pengetahuan-pengetahuan umum tentang “asal mula manusia”. Apakah teori evolusi itu milik orang nonagama atau tidak percaya adanya Tuhan atau malah sebaliknya, karena pemahaman teori evolusi, justru semakin dekat kepada Allah. !

Dari beberapa tulisan terdahulu, dan yang saya kopi pais di bawah ini, ada beberapa pertanyaan yang sebagian juga saya tidak bisa menjawab dengan baik, yaitu :

  • Telah dipahami kini, berdasarkan peta genetis bahwa hanya satu Ibu dan Bapak yang melahirkan manusia sebagai induk segala manusia. “Konon” ini dimulai dari benua Afrika. Penemuan ini setidaknya membenarkan bahwa Allah menciptakan induk manusia. Atau jika tidak maka ada Alien dari luar angkasa yang menciptakan manusia 😀 atau karena kebetulan saja tanah lempung atau dari mahluk hidup lain tiba-tiba (secara kebetulan — ini yang sangat ditentang oleh Harun Yahya) menjadi mahluk bernama homo sapiens.
  • Keragaman manusia (kriting, tinggi, kurus, gemuk, pirang, kulit hitam atau putih, dan lain-lain) kok begitu banyak !. Mengapa terjadi !?. Apakah ini karena mutasi genetis (menyesuaikan diri terhadap lingkungan sehingga berubah) ataukah memang memiliki sifat bawaan untuk semua komposisi ini. Hanya kemunculannya dipengaruhi oleh begitu banyak pengaruh bawaan.
  • Bukti bahwa mahluk purba tidak mengalami perubahan genetis dan ada yang tetap hidup seperti awal “diciptakan”, Coleacanth, misalnya. Tidaklah membuat para pencinta evolusi mundur. Dan masih sangat banyak mahluk purba dari jutaan tahun silam, hepi-hepi saja sampai saat ini tanpa mengalami perubahan. Misalnya, ya kecoak, kumbang, buaya, tikus, dan lain-lainnya. Namun, sebagian lagi musnah. Apakah kemudian menjadi mahluk hidup lain (loncatan genetis), itu yang tidak terjawab secara keilmuan oleh pencinta kreasinisme ataupun evolusi.
  • Mengapa ada varian dari virus (retrovirus) yang dulu inangnya hewan, tapi bisa pindah ke manusia !?. Bukankah itu bukti adanya mutasi genetis !?. Wah, saya juga tidak tahu, tapi bisa saja sih potensi untuk menjadi dominan dari satu kombinasi genetis muncul karena suatu sebab yang memang potensi itu ada sedari dulunya. Saya berpikir begitu, karena lebih percaya ayat yang memastikan bahwa segala sesuatu itu ada ukuran-ukurannya. Ada kadarnya.
  • Saya lebih percaya pada pakar yang menyatakan : Setiap gen kita itu membawa resep bagaimana menghasilkan semua protein yang dibutuhkan tubuh. Protein-protein inilah yang menentukan bentuk fisik kita, cara tubuh memetabolisme makanan atau memerangi infeksi benda asing, dan terkadang menentukan bagaimana kita bertingkah laku. Lha kalau fungsi gen seperti ini, reaksi mutasi genetis tentunya berada pada pandangan yang meragukan. Resep itu justru ukuran-ukuran atau kadar yang Allah tetapkan bagi kehidupan. Saya lebih meyakini ini, bahkan rambut yang memutihpun adalah sebuah proses yang dikendalikan oleh karakteristik genetik. Bukan hanya sifat, tapi juga waktu dan tempatnya.

Rasanya sih, mempertahankan teori evolusi sudah makin sulit dengan makin melebarnya pengetahuan manusia terhadap “buku kehidupan” yang bernama genom ini. Jadi, meskipun saya dungu juga 😀 tapi, memang lebih enak jadi dunguwan dari pada memastikan atau meyakini kebenaran teori evolusi yang berfokus pada perubahan bentuk mahluk hidup ke tatanan lebih “modern” sebagai kebenaran…. Apalagi diyakini ini sebagai fakta ilmiah.

Berikut ini ada artikel panjang-panjang (lewat saja kalau males bacanya) :

  1. Genom Manusia Sudah Lengkap Dipetakan
  2. Menyusuri Asal Mula Manusia Indonesia
  3. Adam & Hawa, Mitologi atau Ilmiah?
  4. GENOM MITOKONDRIA
  5. Rahasia dalam Sepotong Genom
  6. ASAL USUL SPESIES YANG SEBENARNYA

(sengaja dikopi pais, karena kalau hanya link, kadang sudah terlanjur terhapus).

Jadi, kemudian adakah yang ingin bangga karena kita diciptakan Allah dari monyet atau unsur lainnya… atau dari titisan Nabi Adam !? (bercanda, jangan masuk ke hati). Terserah deh pilih yang mana…. 😀

Genom Manusia Sudah Lengkap Dipetakan

HANYA dalam tempo tiga belas tahun-lebih cepat dua tahun dari target tahun 2005-para ilmuwan dunia yang bergabung dalam The Human Genom Project pekan lalu mengumumkan keberhasilan mereka memetakan genom manusia. Karena genom adalah suatu cetak biru informasi genetik yang menentukan sifat setiap makhluk hidup, maka pemetaan ini bakal menjadi kunci pembuka babak baru dalam memahami penyakit dan bagaimana mengobatinya.Informasi genetik setiap makhluk hidup disandi dalam bentuk pita molekul asam deoksiribonukleat yang dikenal sebagai DNA. Dengan pengumuman di atas, berarti proyek genom manusia telah berhasil memetakan tiga miliar nukleotida yang menyusun 100.000 gen dalam tubuh manusia.Dengan demikian, setiap individu memiliki kurang lebih 100.000 gen untuk diturunkan. Varian-varian dari gen inilah yang kemudian menentukan tinggi badan, warna mata, sidik jari, golongan darah, maupun kerentanan terhadap penyakit.Lembaga pertama-The Human Genom Project-membangun peta susunannya dari DNA yang diambil dari 24 individu anonim dari berbagai grup ras dan etnisitas. Dari situlah dipahami adanya perbedaan rata-rata tiga juta antara satu orang dan orang lainnya.

Tidaklah mengherankan bila James Watson, yang memenangkan hadiah Nobel karena menemukan struktur heliks ganda DNA bersama Francis Crick , menyebutkan, pemahaman terhadap “buku instruksi kehidupan manusia” ini akan merevolusi kehidupan masyarakat sebagaimana mesin cetak Gutenberg.

SETELAH penemuan mesin cetak, terjadilah semacam ledakan informasi yang membuat masyarakat makin mudah mendapatkan informasi. Maka dengan adanya peta genom, manusia akan mengerti dirinya dengan lebih baik. Dengan demikian, ia akan memiliki ide lebih baik pula mengenai sifat dan keadaan alamiah manusia.

Proyek riset genom memang masih akan berlanjut dengan upaya mencari mutasi gen-gen penyebab kanker yang mematikan maupun gen yang terlibat dalam pemunculan diabetes, leukimia, bahkan juga eksim yang suka muncul pada usia kanak-kanak.

Seperti yang diberitakan Reuters, para peneliti di Amerika Serikat, Perancis, Jerman, Jepang, dan Cina mengungkapkan, mereka sebenarnya juga berminat menguak misteri protein yang menyusun jaringan dan mengatur fungsi metabolisme tubuh. Namun, kode genetiknya ternyata lebih kompleks dari yang dibayangkan.

Memang harus diakui, masih perlu jalan panjang untuk mengaplikasikan hasil pemetaan genom manusia ini. Namun, pekerjaan memetakan genom manusia tentulah pantas dipandang sebagai ikhtiar ilmiah yang mengagumkan. (nes)

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0304/24/inspirasi/275401.htm

Menyusuri Asal Mula Manusia Indonesia

ADA revolusi yang lebih hebat dari kemajuan teknologi informasi. Revolusi yang bisa mengalahkan segala teori tentang peradaban manusia di masa lalu. Sekaligus revolusi besar di bidang kesehatan dan kedokteran yang memungkinkan sebuah penyakit bisa ditanggulangi sebelum sempat mewabah. Itulah revolusi genom.

Awal tahun 2001, mantan presiden Amerika Serikat Bill Clinton dan Perdana Menteri Inggris Tony Blair mengumumkan selesainya konsep pertama dari peta urutan nukleotida genom manusia. Pengumuman ini menandai selesainya tahap pertama dari Human Genome Project atau Proyek Genome Manusia yang bertujuan menguraikan urutan nukleotida genom manusia yang merupakan cetak biru penentu sifat kita sebagai manusia.

Dengan keberhasilan tahap pertama ini maka pintu selanjutnya telah terbuka bagi kita untuk melangkah ke tahap berikut. Pengetahuan baru tentang proses kehidupan di tingkat paling fundamental membuka cakrawala baru dalam bioteknologi serta dampaknya terhadap bioindustri dan bioekonomi.

”Di masa depan kelak jika seseorang menderita sakit maka tak perlu lagi diadakan pemeriksaan secara keseluruhan, cukup dilihat dari data gen-nya saja dan akan bisa ditentukan cara pengobatan apa yang paling cocok baginya,” demikian Prof.dr.Sangkot Marzuki,PhD dalam orasi ilmiah memperingati Ulang Tahun Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ke-34 di Jakarta Rabu (22/8).
”Memang sangat disayang-kan bahwa pada saat dunia pengetahuan sedang heboh dengan revolusi genom, justru bertepatan dengan saat terjadinya krisis politik dan ekonomi di Indonesia. Inilah sebuah kendala yang menyebabkan Indonesia sedikit tertinggal di bidang genom dibanding dengan negara Asia lain seperti Jepang dan Cina. Tapi itu bukan berarti bahwa Indonesia sama sekali tidak mengikuti perkembangan revolusi ini,” ujar peraih gelar PhD di Monash University, Australia, ini.

Kenyataan itu dibuktikan Sangkot dengan uraiannya mengenai penelitian keanekaragaman genom manusia Indonesia yang berhasil memberi gambaran tentang kekerabatan berbagai populasi etnik di kepulauan Nusantara. Dalam menyelusuri sejarah manusia Indonesia dan masa depan, pria kelahiran Medan ini telah bekerja sama dengan kelompok peneliti di Lembaga Eijkman.

Bermula di Afrika

Adalah Alan Wilson yang mempelopori pemanfaatan variasi DNA mitokondria dalam penelitian sejarah asal-usul manusia di Amerika Serikat pada tahun 1980-an. Dengan membandingkan DNA mitokondria dari sekitar 150 individu yang berasal dari benua Afrika, Asia, Eropa dan Australia, kelompok peneliti ini berkesimpulan bahwa hanya ada satu pohon filogenetik DNA mitokondria, yaitu Afrika. Hasil ini menunjukan bahwa manusia modern (Homo sapien sapiens) berasal dari Afrika sekitar 150.000-200.000 tahun lampau. Migrasi manusia modern yang keluar dari Afrika diperkirakan terjadi sekitar 100.000 tahun lalu.

Sangkot juga mengemukakan implikasi penting dari hasil penelitian di atas adalah teori yang mengatakan bahwa manusia modern berkembang di beberapa penjuru dunia secara terpisah (multi origin) menjadi lemah. Manusia purba yang fosilnya ditemukan di berbagai situs di Jawa (Homo erectus) dan di Cina (Peking Man) tidak memberi kontribusi terhadap perkembangan manusia modern di Asia Timur.

Homo sapiens pertama kali menjejakkan kaki di kepulauan Nusantara sekitar 60.000 tahun lampau. Manusia purba Homo erectus yang hidup di Jawa sejuta tahun lalu merupakan missing link dalam evolusi.

Tak ada kaitan antara mereka dengan manusia Jawa Modern yang hidup saat ini. Saat Homo sapiens mendarat di kepulauan Nusantara, pulau Sumatra, Jawa dan Kalimantan masih tergabung dengan daratan Asia sebagai sub-benua Sundaland. Sedangkan pulau Papua saat itu masih menjadi satu dengan benua Australia sebagai Sahulland.

Jika kita lihat penduduk kepulauan Nusantara saat ini, paling tidak ada 50 populasi etnik yang mendiaminya, dengan karakteristik budaya dan bahasa tersendiri. Sebagian besar dari populasi ini, dengan ciri fisik Mongoloid, mempunyai bahasa yang tergolong dalam satu keluarga atau filum bahasa, yaitu bahasa-bahasa Autronesia yang menunjukan mereka berasal dari satu nenek moyang. Sedangkan di Indonesia bagian timur dan Irian terdapat satu populasi dengan bahasa-bahasa yang tergolong dalam berbagai bahasa Papua.

Lalu darimanakah asal populasi Autronesia ini? Berdasar bukti arkeologi menunjukan bahwa budaya neolitik dimulai sekitar 5000 tahun lalu di kepulauan Nusantara. Bersamaan dengan budaya baru ini bukti antropologi menunjukan munculnya juga manusia dengan ciri fisik Mongoloid. Populasi Mongoloid ini menyebar ke segala penjuru kawasan Nusantara sekitar 5000 sampai 3000 tahun lalu dengan membawa bahasa Austronesia dan teknologi pertanian.

Populasi Indonesia

Bersama dengan Ilmuwan dari Lembaga Eijkman dan Bioteknologi Universitas Gajah Mada, Sangkot yang menyelesaikan Fakultas Kedokteran di Universitas Indonesia tahun 1968 ini telah memeriksa lebih dari 800 DNA mitokondria dari 26 populasi etnik. Hasilnya sangat menarik.

Pohon filogenetik yang dibangun berdasar keanekaragaman DmtDNA dari berbagai populasi Indonesia tersebut menunjukkan dengan jelas adanya struktur pengelompokan populasi. Pertama, populasi berbahasa papua dari Alor dan Papua Barat membentuk satu kelompok. Sedangkan populasi berbahasa Austronesia membentuk kelompok lain. Pada kelompok Austronesia ini terlihat adanya pengelompokan tambahan, Indonesia barat seperti populasi Batak, Jawa, Minang dan Melayu membentuk satu kelompok. Sedangkan populasi Indonesia timur seperti Sasak, Makasar, Bugis, Waingapu dan Sumbawa membentuk kelompok lain lagi. Uniknya ternyata populasi Nias membentuk cabang sendiri pada pohon filogenetik ini.

Sampai saat ini Prof.Sangkot masih terus melanjutkan mencari bukti yang lebih kuat mengenai asal-usul nenek moyang populasi Austronesia. Hipotesa alternatif yang menjadi fokus penelitian adalah bahwa nenek moyang Austronesia berasal dari daratan Sundaland yang tenggelam pada akhir zaman es. Ini masih menjadi sebuah missing link yang menjadi misteri. Kendala besar dalam pembuktian hipoteses Sundaland sebagai tanah asal Austronesia adalah kenyataan bahwa sebagian besar bukti arkeologi telah hilang bersama dengan daratan Sundaland itu.

Bersama Pusat Arkeologi nasional, ilmuwan Lembaga Eijkman yang dimotori oleh Sangkot telah berhasil meneliti kerangka berumur 2000-30000 tahun. Penelitian DNA purba dari situs Plawangan di Jawa Tengah dan Gilimanuk Bali menunjukan bahwa manusia Indonesia yang hidup di kedua situs tersebut telah berkerabat secara genetik sejak 2000-3000 tahun lalu. Pada kenyataannnya hingga sekarang populasi manusia Bali dan Jawa masih memiliki kekerabatan genetik yang erat hingga sekarang.

Penanggulangan Penyakit

Sangkot yang menyelesaikan program pasca sarjananya di Bumiphol, Thailand tahun 1971 juga telah bekerjasama dengan kelompok peneliti thalassemia di Lembaga Eijkman untuk mempelajari penanggulangan penyakit bawaan ini dengan memanfaatkan DNA mitokondria. Penyakit bawaan darah merah ini mempunyai frekwensi pembawa sifat yang tinggi, yaitu lima hingga 15 persen dari populasi di Indonesia. Mutasi yang mendasari penyakit ini ternyata sangat beragam, dan tiap populasi menunjukkan spektrum yang khas. Pemahaman kita tentang pengelompokan populasi Indonesia berdasarkan analisa DNA mitokondria telah membantu ilmuwan kita untuk menganalisa spektrum mutasi thalassemia di atas.

Temuan lain yang diungkap Sangkot adalah lebih dari 30 persen manusia Indonesia membawa mutasi gen yang menyandi cyp2c19, suatu sistem enzim yang penting untuk metabolisme berbagai obat termasuk antimalaria proguanil. Individu yang membawa mutasi di kedua gen cyp2c19 akan menjadi sangat lambat dalam mencerna obat-obat jenis itu dengan potensi terjadinya overdosis. Hal ini menjadi sebuah kemajuan di bidang kedokteran, dimana kelak dokter akan tahu sejak awal jenis obat apa saja yang cocok bagi pasiennya tanpa perlu diujicobakan lebih dulu.

Prof, Dr,Sangkot Marzuki kini masih aktif di Lembaga Biologi Molekul Eijkman, Jakarta dan terpilih sebagai doktor tinggi di laboratorium Monash Universtity, Australia. Pria berusia 44 tahun ini berkemauan keras untuk terus melanjutkan penelitian tentang DNA mitokondria pada populasi manusia Indonesia. Menurutnya, hanya dengan meningkatkan kemampuan penelitian genom di Indonesia maka kita dapat bekerja sama dengan peneliti dunia. (mer)

——-

Adam & Hawa, Mitologi atau Ilmiah?

Sebelum masuk ke soal Adam dan Hawa, kita bicarakan dulu manusia dalam perspektif biologi. Manusia dalam bahasa latin dimasukkan genus homo. Homo sapiens, homo
yang bijaksana. Manusia memiliki 23 pasang kromosom. Pada satu pasang kromosomnya terdapat perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki memiliki pasangan X
dan Y, sementara perempuan X dan X. ‘Kerabat’ terdekat manusia, simpanse, untuk diketahui, memiliki 24 pasang kromosom.

Kromosom yang berpasang-pasangan ini merupakan hasil rekombinasi perkawinan ibu dan bapak. Satu dari bapak dan satu dari ibu. Rekombinasi ini berbeda hasilnya
antara satu anak dengan anak yang lain meski satu ibu dan satu bapak. Bahkan pada kembar identik sekalipun pasti tetap ada sedikit perbedaan. (Jadi ingat fisika,
tak ada materi yang benar-benar serupa bentuk dan komposisinya).

Setiap kromosom memiliki seuntai deoxyribonucleic acid (DNA) tunggal. DNA inilah yang membawa sifat manusia. Kita mewarisi dari orang tua. Orang tua dari nenek moyang. Manusia pertama mewarisi dari nenek moyang yang bukan manusia. Burung mewarisi DNA dari dinosaurus. DNA adalah titik penjuru, titik kait antar semua makhluk hidup di dunia.

Perkembangan teori evolusi mutakhir kemudian meletakkan titik kajian pada DNA ini. (Sementara Charles Darwin masih mengandalkan morfologi atau ciri-ciri fisik.) Pada DNA inilah terlihat bahwa teori evolusi jadi tak terbantahkan, menjadi pengait antar semua makhluk hidup di dunia (bahkan tumbuh-tumbuhan). DNA ini menegaskan bahwa manusia adalah hewan! Makanya kemudian, saat ini sedang berlangsung proyek pemetaan genom atau DNA makhluk hidup termasuk manusia. (Perkembangan pengetahuan akan DNA ini nantinya bisa membuat manusia bisa merekayasa ‘manusia unggul’, misalnya memiliki ketahanan tubuh yang luar biasa, manusia disisipi DNA hewan lain dll).

Sebelum dikenal pendekatan DNA, sebagian ahli berpendapat, manusia yang sekarang tersebar di semua benua adalah hasil evolusi yang terpisah-pisah. Teori ini disebut multiregionalisme. Teori atau lebih tepat hipotesis ini berangkat dari penemuan berbagai
fosil-fosil yang berbeda-beda morfologinya di berbagai benua. Sehingga, mereka kemudian berhipotesis, berbagai ras yang ada sekarang merupakan hasil evolusi
berbagai homo tersebut. Mereka berevolusi sendiri-sendiri, sampai semuanya menuju satu spesies yang sama: homo sapiens.

Pada tahun 1987, hipotesis multiregionalisme itu patah. Sekelompok ahli biologi dari Universitas California, Berkeley, menemukan bahwa semua manusia berasal dari satu keturunan yang sama. Selain itu, mereka juga menemukan, manusia merupakan hasil evolusi lebih kompleks dari makhluk bersel satu yang hidup jutaan tahun lalu.

Penelitian mereka bukan pada DNA kita, namun tak jauh-jauh dari situ. Mereka meneliti mitokondria, yaitu objek kecil dalam sel yang berfungsi mengurai senyawa-senyawa yang kompleks menjadi molekul sederhana yang sangat energik. Mitokondria adalah
semacam batere yang digunakan sel untuk menciptakan banyak reaksi kimia. Mitokondria yang ada di sel manusia dipastikan berasal dari bakteri-bakteri yang
mulai hidup dalam organisme lain bersel satu lebih dari satu miliar tahun lalu. Mitokondria hidup menumpang di sel hewan dan tumbuhan, dengan imbal balik mitokondria mendapat tempat nyaman untuk hidup. Mitokondria memiliki DNA sendiri. Dalam tubuh manusia
terdapat triliunan mitokondria. Namun urutan DNA mitokondria dalam setiap manusia memiliki sedikit perbedaan.

Menariknya adalah, mitokondria diwariskan dari ibu. Mitokondria yang ada dalam sperma ayah hanya sedikit, sehingga luruh ketika pembuahan terjadi. Sehingga mitokondria setiap manusia jelas diwarisi dari ibu. Dan dengan demikian, dapat dipastikan, semua manusia
memiliki satu ibu yang sama. Inilah yang oleh Steve Olson dalam bukunya Mapping Human History disebut sebagai “Hawa Mitokondria” atau ibu pertama yang mewariskan mitokondria! Namun penyebutan ini, menurut Olson, harus hati-hati karena terkesan hanya Hawa sendiri yang manusia. “Pada kenyataannya, banyak manusia lain hidup sezaman dengan Hawa. Semua manusia menerima DNA mitokondria dari satu perempuan (mungkinbukan manusia) yang berlainan. Namun, sejak saat (Hawa ada) itu, hanya DNA mitokondria Hawa yang mampu bertahan, sedangkan semua DNA mitokondria lainnya
musnah.

Sebelum sampai ke “Hawa Mitokondria”, terdapat dua perempuan yang memiliki kombinasi DNA mitokondria sendiri. Di sinilah awal variasi susunan DNA mitokondria setiap manusia. Namun, tentu saja kedua perempuan itu bersaudara karena keturunannya bisa saling kawin, berkombinasi. Pelacakan DNA ini juga bisa dilakukan pada DNA manusia. Seperti diketahui, setiap laki-laki memiliki kromosom Y. Tentu setiap laki-laki mewarisi kromosom Y dari ayahnya. Begitu seterusnya, sampai pada ayah dari
segala ayah: Adam kromosom Y. Namun keberadaan kromosom Y ini independen dari DNA mitokondria, sehingga agak sulit menyimpulkan, apakah Adam kromosom Y dan Hawa mitokondria berada pada zaman yang sama. Pada tahun 1997, Carsten Wiuf dan Jotun Hein menganalisis, Adam kromosom Y dan Hawa mitokondria berada di dalam populasi 86 ribu orang ketika mereka saling kawin dan menghasilkan keturunan homo sapiens sampai sekarang. Kapan itu waktunya? Para ahli menduga antara 150 ribu sampai 200 ribu tahun yang lalu.
Dimana tempatnya? Afrika.

Afrika menjadi ‘taman eden’ penyebaran manusia berdasarkan temuan fosil-fosil manusia yang sangat tua ditemukan di benua hitam itu. Pada saat Hawa mitokondria dan Adam kromosom Y itu hidup, terdapat populasi 20 ribu orang yang kemudian mulai berpencar
ke seluruh penjuru dunia. Titik pencar pertama tentu saja adalah wilayah pertemuan benua Afrika dan Asia, Mesir dan Israel sekarang.

Lalu pertanyaan yang muncul adalah, jika mitokondria dan DNA diwariskan dari Adam dan Hawa itu, mengapa kemudian muncul keanekaragaman luar biasa DNA umat
manusia saat ini? Jawabannya adalah mutasi. Mutasi itu ada yang relevan mengubah sifat, namun ada juga yang tidak. (Untuk dicatat, tidak semua gen dalam DNA memiliki fungsi). Mutasi itu bisa bertahan dan kemudian diturunkan. Mutasi juga bisa membawa ke
kepunahan, karena keturunan tak bisa bertahan bahkan sejak dari kehamilan. Kemudian ada juga mutasi yang menguntungkan, seperti penyesuaian warna kulit bagi homo sapiens yang memasuki wilayah Eropa dan Pasifik. Inilah keajaiban evolusi, the fittest will survive.

(Catatan : masalah mutasi ini menurut saya meragukan, kemunculan sifat genetik berbeda-beda. Jelas dipahami pula bahwa yang berambut hitam bukan tidak memiliki sifat genetik rambut merah. Hanya kemunculan dominan dan resesif yang berberda. Jadi, pernyataan akibat mutasi ini menurut saya musti dielaborasi lanjut, agor).

Kemudian, kembali difokuskan pada mitologi Adam & Hawa dalam agama Semitik, apakah Adam kromosom Y dan Hawamitokondria itu kah yang dimaksud firman Tuhan? Secara
ilmiah, merekalah bapak dan ibu umat manusia yang berkembang sekarang ini.

Jika bicara Al Quran (karena penulis adalah muslim), saya pikir, sesuai dengan penemuan sains mutakhir ini. Ketika malaikat disuruh bersujud ke Adam, malaikat sendiri keberatan karena menurutnya Adam adalah sama dengan makhluk melata yang suka membuat keonaran. Artinya, malaikat (yang dikabarkan kedalaman pengetahuannya tidak seluas manusia) melihat Adam mirip dengan makhluk yang telah ada sebelumnya. Tentu
saja yang dimaksud adalah pra-homo sapiens!

Persoalannya adalah, tak ada ayat-ayat Quran yang menyatakan Adam adalah hasil evolusi dari makhluk-makhluk sebelum Adam itu. Sehingga, kekosongan inilah yang menjadi justifikasi kaum creationist untuk mengatakan Quran menolak teori evolusi. Kemudian, ditambah surat Al Alaq, mereka menyatakan manusia diciptakan dari segumpal tanah. Manusia (alias Adam) diciptakan dalam sekejab! Jadi dan Jadilah. Lalu
semakin kuatlah keimanan kaum creationist.

(Dan ini menurut saya sangat memalukan, mengingatkan saya pada nasib Copernicus yang dihujat gereja karena mengatakan bumi itu bulat. Memalukan karena sudah
jelas banyak hal dalam Quran terbukti sesuai dengan sains. Sekarang tinggal soal teori evolusi. Menurut saya, segumpal tanah itu perlu diinterpretasikan sebagai materi awal pembentuk kehidupan, yakni protein. Termasuk ke dalamnya itu adalah mitokondria
sebagai batere reaksi sel-sel tunggal berkembang ke makhluk yang lebih kompleks lagi sampai ke manusia.)

Namun ada satu pendapat menarik mengenai Adam itu, yakni bahwa Tuhan campur tangan dalam proses menjadi ‘Adam’. Ada sebuah aliran di penganut Islam, bahwa
Adam adalah hasil mutasi dari makhluk pra-homo sapiens. Mutasinya direkayasa sehingga menjadi lebih baik oleh Tuhan. Teori ini mirip dengan yang dipercayai oleh kaum Raelian yang pro-kloning. Bedanya, kaum Raelian yang umumnya berkembang di
Amerika Serikat, menyatakan, yang melakukan campur tangan itu adalah UFO, bukan Tuhan.

Terlepas dari itu, saya berpendapat, dua kepercayaan terakhir ini tetap mengandalkan diri pada hipotesis evolusi. Sesuatu yang ada saat ini berasal dari sesuatu yang ada sebelumnya.

Nah, sekarang pendapat saya pribadi adalah, saya percaya ada Adam dan Hawa. Mereka itulah Adam kromosom Y dan Hawa mitokondria. Adam dan Hawa ini adalah hasil
evolusi dari makhluk yang sudah ada sebelumnya. Apakah proses menjadi Adam dan Hawa itu diintervensi ‘makhluk yang lebih pintar’? Jawabannya ada pada Anda sendiri.
Apakah Andi percaya? Itu urusan pribadi-pribadi. Secara ilmiah, tak pernah ada bukti intervensi itu.

——-

GENOM MITOKONDRIA

MITOCHONDRIAL GENOME
I Nengah Wandia

Laboratorium Anatomi Veteriner, Bagian Anatomi Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana, Jalan Sudirman, Denpasar 80232

ABSTRAK
Genom mitokondria (mtDNA) adalah molekul DNA unting rangkap berbentuk sirkuler dengan ditemukan tiga belas gen penyandi protein, dua gen rRNA, dan dua puluh dua gen tRNA. MtDNA memiliki laju mutasi yang tinggi, diturunkan hanya oleh induk betina ke anak, dan tidak mengalami rekombinasi. MtDNA telah banyak digunakan sebagai penanda molekul untuk studi genetika populasi, penelusuran asal-usul, dan pelacakan beberapa penyakit degeneratif, penuaan, serta kanker.

Kata kunci: Mitokondria, mtDNA

ABSTRACT
Mitochondrial genome (mtDNA) is a circular double stranded DNA molecule which is composed of thirteen protein coding genes, two rRNA genes, and twenty two tRNA genes. It has a high mutation rate, strictly maternally inherited, and showed no recombination during its replication. MtDNA has been widely used as molecular marker in population genetics, genealogical assessment, and tracking some degenerative diseases, aging, and cancer.

Key words: Mitochondria, mtDNA

PENDAHULUAN
Berkembangnya Biologi molekul dan teknik DNA rekombinan menjadikan DNA inti dan mitokondria semakin banyak dapat diungkapkan. Sejalan dengan itu, penggunaan kajian genetika molekul telah mulai banyak dilakukan dalam dunia Genetika Populasi.
Genom mitokondria akhir-akhir ini sering dijadikan alat dalam genetika populasi seperti penelusuran perjalanan kolonisasi populasi, pemisahan biogeografi populasi, hubungan filogeni, dan penelusuran asal-usul hewan (Hayashi et al., 1995; Harihara et al., 1996; Ming, 1999; Perwitasari-Parajallah, 1999). Selain itu, beberapa penyaki degeratif, penuaan, dan kanker sering diimplikasikan dari kerusakan (defek) mitokondria (Wallace, 1999). Cukup strategisnya eksistensi genom mitokondria menyebabkan biologi mitokondria perlu dipahami secara lebih mendalam. Dalam tulisan berikut akan dipaparkan lebih banyak mengenai struktur genom mitokondria.

Asal Mitokondria
Mitokondria adalah salah satu organel sel. Mitokondria muncul lebih dari satu juta tahun yang lalu pada mana sebuah bakteri, berkerabat dekat dengan a proteobakteri, masuk ke dalam sebuah sel eukariot. Endosimbiosis ini menguntungkan kedua belah pihak baik bakteri maupun sel eukariot. Simbiosis ini terus berlanjut dan sekarang ini mitokondria merupakan sesuatu yang sangat esensial bagi sel eukariot (Page & Holmes, 1998).

Struktur Mitokondria
Mitokondria merupakan struktur terbesar dalam sitoplasma sel. Jumlah mitokondria dalam satu sel bervariasi dari ratusan sampai ribuan tergantung kebutuhan sel terhadap energi. Ukuran dan bentuk mitokondria berbeda-beda, beberapa diantaranya hanya berdiameter beberapa ratus milimikron dengan bentuk globular, sedangkan yang lain, diameternya mencapai 1-7 mikron dengan bentuk filamen. Mitokondria tersusun atas dua membran yaitu membran luar dan dalam yang masing-masing merupakan lapisan molekul lipoproten. Membran dalam membentuk lekukan atau krista yang menjorok ke dalam matriks. Komponen rantai pernafasan yang berhubungan dengan fosforilasi oksidatif terdapat dalam membran dalam mitokondria. Enzim-enzim yang terlibat pada siklus asam sitrat terletak dalam matriks (Guyton, 1996).

Fungsi Mitokondria
Mitokondria sering disebut sebagai pembangkit energi dalam sel. Enzim oksidatif pada membran dalam dan enzim siklus asam sitrat dalam matriks mitokondria bersama-sama akan mengoksidasi residu asetil sehingga terbentuk karbondioksida dan air. Energi yang terlepas dari oksidasi ini akan digunakan untuk mensintesis bahan berenergi sangat tinggi yakni adenosin trifosfat (ATP). ATP ini, selanjutnya, dikeluarkan dari mitokondria ke sitosol untuk digunakan oleh sel sebagai sumber energi untuk berbagai aktivitasnya (Guyton,1996; Murray et al., 1997; Wallace, 1999).

Genom Mitokondria
Tidak semua unting asam deoksiribonukleat (DNA) berada dalam inti sel. DNA juga ditemukan di dalam suatu organel sel, mitokondia. DNA mitokondria (mtDNA) yang terletak dalam matriks organel ini dinyatakan sebagai genom mitokondria. MtDNA dalam organisme uniseluler bervariasi dalam ukuran, bentuk, dan susunan gennya. Sedangkan, mtDNA pada organisme lebih tinggi, strukturnya sangat uniform. Genom mitokondria tidak memiliki intron atau spacer antar gen dan bahkan ada gen yang saling tumpang tindih (Verma, 1990).
MtDNA terdapat dalam jumlah yang melimpah dalam sel. Studi beberapa ahli menunjukkan bahwa jumlah mtDNA kopi pada vertebrata adalah 103-104 molekul/sel somatik. Oosit besar memiliki ratusan sampai ribuan mtDNA kopi (Clayton, 1991; Hillis et al., 1996).

Peta Genom Mitokondria Mammalia
Pada hewan multiseluler, genom mitokondria adalah molekul DNA unting rangkap (double-stranded DNA molecule) berbentuk sirkuler dengan panjang basa 15,7-19,5 kb (Mignotte et al., 1990; Hoelzel & Dover, 1991). Pada sebagian besar mammalia, mtDNA memiliki panjang basa sekitar 16 kb (Verma, 1990; Page dan Holmes, 1998). Pengamatan selama ini terhadap jumlah gen pada mitokondria Metazoa seperti pada vertebrata dan Drosophila spp. tampaknya tidak bervariasi. Hal serupa juga ditemukan pada labi-labi (Farajallah et al., 1999). Genom mitokondria tersusun dari dua unting DNA yaitu unting luar disebut sebagai heavy (H) strand dan unting dalam disebut light (L) strand. Karakter yang mencolok dari organisasi gen genom mitokondria (Gambar 1) adalah kepadatan gen yang tinggi dengan pengecualian pada daerah dimana awal replikasi dari unting berat (H strand) mtDNA terjadi (daerah D-loop). Gen yang ditemukan pada mitokondria yaitu 13 gen penyandi protein (3 subunit sitokrom oksidase (CO I-III), 7 subunit NADH-dehidrogenase (ND 1-6 dan ND 4L), 2 subunit ATPase (6 dan 6L), dan sitokrom b (Cyt b)); 2 gen rRNA (12S dan 16S); dan 22 gen tRNA (Melnick dan Hoelzer, 1993).

Daerah penyandi (coding) meliputi 90% dari seluruh genom mitokondria, dan sisanya 10% merupakan daerah bukan penyandi (non coding). Pada Mammalia, daerah bukan penyandi meliputi daerah bukan penyandi utama yang merupakan tempat awal replikasi H strand (OH) dan transkripsi awal dari kedua unting. Daerah bukan penyandi utama terletak pada wilayah displacement-loop (D-loop). Bagian lainnya adalah daerah bukan penyandi segmen minor yaitu tempat awal replikasi L strand (OL) yang terletak pada gugus gen tRNA antara gen CO I dan ND 2 (Hoelzel dan Dover, 1991; Horai et al., 1991; Ghivizzani et al., 1993).
Sifat yang berbeda dari mitokondria DNA hewan adalah masih dipertahankannya rantai primer pada daerah replikasi awal unting berat (H strand). Ini menimbulkan pergeseran unting berat induk (H strand) dan terjadilah struktur baru berlapis tiga yang diistilahkan sebagai displacement loop (D-loop). Dalam mtDNA manusia ditemukan tiga rantai D-loop dengan ujung 5’ terpetakan pada tempat yang berbeda-beda dan ujung 3’ terpetakan pada deretan yang sama. Sedangkan pada mtDNA mencit terdapat lima rantai D-loop dengan ujung 5’ dari empat rantai terpetakan pada deretan yang sama sedangkan ujung 5’ rantai kelima terpetakan lebih panjang sekitar 80 nukletida. Ujung 3’ rantai D-loop mtDNA mencit panjangnya bervariasi (Doda et al., 1981).
Pada hewan vertebrata, daerah kontrol bukan penyandi mtDNA terletak antara gen tRNAPro (tRNAGlu pada Avian) dan tRNAPhe serta merupakan awal dari replikasi rantai berat dan transkripsi mtDNA. Daerah ini dibagi tiga bagian. Daerah bagian tengah sangat konservatif (central conservative Region (CCR)) dan merupakan tempat pengaturan replikasi. Daerah bagian kanan dari CCR sampai gen tRNAPhe atau sekuen yang dekat dengan ujung 5’ d-loop mtDNA mengandung promotor rantai berat (HSP: Heavy Sequence Promoter) dan promotor rantai ringan (LSP: Light Sequence Promoter) yang berfungsi untuk inisiasi transkripsi rantai berat dan ringan. Selain itu, di daerah ini juga ditemukan daerah Conservative Sequence Blocks (CSB 1-3) dan daerah repeat tandem. CSB diduga sebagai inisiasi replikasi rantai berat. Daerah bagian kiri dari CCR sampai gen tRNAPro atau sekuen yang dekat dengan ujung 3’ D-loop mtDNA ditemukan daerah Termination Associated Sequence dan daerah repeat tandem (Mignotte et al., 1990; Clayton, 1991; Hoelzel, 1993; Douzery dan Randi, 1997).

Hubungan Inti dan Mitokondria
Tanda utama inti sel mengontrol mitokondria adalah adanya transportasi protein yang dikode oleh inti ke dalam mitokondria. Penetrasi protein melewati membran dalam mitokondria membutuhkan potensial elektrokimia dan memerlukan pemecahan ATP di luar membran dalam. Sebagian besar protein yang dimasukkan ke dalam mitokondria melalui urutan signal pendek. Jika sekuen signal ini dihilangkan maka transportasi proten terhenti. Demikian pula, pemasukan protein ke dalam mitokondria diatur oleh reseptor transportasi mitokondria. Telah dilaporkan pula bahwa terjadi transportasi tRNA yang dikode oleh inti ke dalam mitokondria karena kurangnya tRNA genom mitokondria untuk memenuhi kebutuhannya. Namun, mekanisme transportasi ini belum diketahui (Verma, 1990).

Karakter mtDNA
Pada mammalia, mitokondria DNA diturunkan hanya oleh induk betina melalui sitoplasma sel telur. Selain itu, mtDNA tidak mengalami rekombinasi serta berkembang sepuluh kali lebih cepat dari DNA inti. Hal ini membawa mtDNA sebagai alat studi yang sangat penting dalam Ilmu Genetika Populasi Molekul dan Sistematika terutama hubungan filogeni. Walaupun demikian, mtDNA bukanlah representasi untuk studi nuclear family (Bennett et al., 1995). Dalam studi rekonstruksi filogeni dan biogeografi suatu populasi, pohon filogeni yang diturunkan dari data mtDNA lebih merupakan sebuah gene tree yang mungkin tidak selalu mencerminkan species tree (Melnick dan Hoelzer, 1993). Sifat lain yang membedakan mtDNA dengan DNA inti adalah mtDNA memiliki kode genetik sedikit berbeda seperti: kodon UGA yang merupakan kodon universal berhenti diterjemahkan triptofan pada mitokondria; AUA (kodon universal isoleusin) diterjemahkan metionin pada mitokondria; AGR (R= basa purin, kodon universal arginin) diterjemahkan berhenti pada mitokondria; dan UGA (kodon universal berhenti) diterjemahkan selenocystein pada mitokondria (Page dan Holmes, 1998).
Perubahan sekuen mtDNA hewan meliputi 4 hal pokok yaitu pengaturan ulang sekuen, penyisipan, pelesapan, dan substitusi nukleotida. Evolusi cepat mtDNA menimbulkan keragaman yang tinggi pada sekuen mtDNA intraspesies. Substitusi nukleotida pada mtDNA hewan yang lima sampai sepuluh kali lebih cepat dari DNA inti kopi tunggal merupakan penyebab polimorfisme baik antar spesies (interspesies) atau antar individu dalam satu spesies (intraspesies). Mutasi titik juga sering ditemukan di antara gen yang homolog pada mtDNA mammalia. Sebagian besar mutasi ini merupakan mutasi sinonim atau mutasi bisu yaitu mutasi pada kodon tanpa mengubah struktur protein yang diekspresinya. Laju substitusi sinonim diduga sebesar 4,7 x 10-8 per lokus per tahun dan nilai ini sepuluh kali lebih tinggi dari yang terjadi pada pseudogen inti. Substitusi sinonim kodon mtDNA berkembang 3-4 kali dari laju substitusi bukan sinonim. Di antara substitusi sinonim ini, substitusi transisi lebih banyak dari transversi. Gen tRNA dan rRNA mtDNA mengalami perubahan agak lambat tetapi tetap lebih cepat dari pasangannya di inti sel. (Verma, 1990; Hoelzel dan Dover, 1991).
Daerah bukan penyandi mtDNA mengalami frekuensi substitusi hampir sama dengan frekuensi substitusi sinonim pada kodon gen penyandi protein. Daerah mtDNA yang paling variabel untuk pelesapan dan penyisipan adalah di daerah kontrol (D-loop). Panjang daerah ini bervariasi pada hewan antara 200-4100 pasangan basa. Telah terbukti bahwa proses slippage terjadi pada daerah kontrol hewan primata dan sejenis ikan paus. Pada manusia, laju subsitusi daerah D-loop diduga 2,8-5 kali dari laju substitusi daerah lain mtDNA (Hoelzel dan Dover, 1991).

KESIMPULAN
Mitokondria merupakan organel sel semiotonom dalam kerjanya dan sangat esensial sebagai penopang kebutuhan energi untuk berbagai aktivitas sel.
Molekul DNA mitokondria (mtDNA) metazoa berunting rangkap, berbentuk sirkuler, dan organisasi gennya sangat kompak yang tersusun atas 13 gen penyandi protein (tiga subunit sitokrom oksidase (CO I-III), tujuh subunit NADH-dehidrogenase (ND 1-6 dan ND 4L), dua subunit ATPase (6 dan 6L), dan sitokrom b (Cyt b)); dua gen rRNA (12S dan 16S); dan 22 gen tRNA.
Genom mitokondria terdapat dalam jumlah yang banyak di setiap sel terutama sel telur, diturunkan hanya oleh induk betina ke anak, tidak mengalami rekombinasi, dan laju mutasinya yang relatif lebih cepat dari genom inti (DNA inti).

DAFTAR PUSTAKA
Bennett, B.T., C.R.Abee, and R.Henrickson. 1995. Nonhuman Primates in Biomedical Research. Biology and Management. Academic Press. San Diego. New York.

Clayton, D.A. 1991. Nuclear godgets in mitochondrial DNA replication and transcription. Foends. Biol. Sci. 16: 107-111.

Doda, J.N., C.T.Wright, and D.A.Clayton. 1981. Elongation of displacement loop strand in human and mouse mitochondrial DNA is arrested near specific template sequences. Proc. Natl. Acad. Sci. USA. Vol. 78, Number 10:6116-6120.

Douzery, E.E. and E. Randi. 1997. The mitochondrial control region of Cervidae. Evolutionary patterns and phylogenetic content. Mol. Biol. Evol. 14 (11): 1154-1166.

Farajallah, A., B. Suryobroto, R. Herlina, D. Perwitasari-Farajallah, and O. Takenaka (1999). The complete nucleotide sequence of malayan soft-shell turtle, Dogania subplana, mirochondrial genome. Asian Science Seminar on Biodeversity: Message from Primatology. July 26-August 6. Primate Research Institute, Kyoto University, Inuyama, Aichi, Japan. : 185-186.

Ghivizzani, S.C., S.L.D.Mackay, C.S.Madsen, P.J.Laipis, and W.W.Hauswirth. 1993. Transcribed heteroplasmic repeated sequences in the porcine mitochondrial DNA D-loop region. J. Mol. Evol. 37: 36-47.

Guyton, A.C. 1996. Textbook of Medical Physiology. Buku Ajar. Fisiologi Kedokteran. Edisi 7. Bagian 1. Diterjemahkan oleh dr. Ken Ariata Tengadi dan kawan-kawan. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Hillis, D.M., C.Moritz, and B.K.Mabble. 1996. Molecular Systematics. Second Ed. Sinauer Associates, Inc. Publishers. Sunderland, Massachusetts USA.

Hoelzel, A.R. 1993. Evolution by DNA turnover in the control region of vertebrate Mitochondrial DNA. Current Opinion Genetics and Development (3): 891-895.

Hoelzel, A.R. and G.A.Dover 1991. Molecular Genetic Ecology. Oxford University Press. New York.

Harihara, S., Y. Kawamoto, B. Suryobroto, K. Omoto, and O. Takenaka 1996. Differentiation of mitochondrial types in Sulawesi macaques. In Variations in the Asian Macaques. T Shotake and K. Wada (eds). Tokai University Press. Tokyo.: 67-88.

Hayashi, S., K. Hayasaka, O. Takenaka, and S. Horai 1995. Molecular phylogeny of gibbons inferred from mitochondrial DNA sequences: Preliminery report. J. Mol. Evol. 41: 359-365.

Horai, S. 1991. Mitochondrial DNA and human evolution. Progress in Neuropathology. Vol. 7:9-17.

Melnick, D.J. and G.A.Hoelzer 1993. What is mtDNA good for in the study of primate evolution? Evolutionary Anthropology. Issues, News, and Reviews. A devision of John Wiley dan Sons, Inc. Vol. 2, Number 1: 1-10.

Mignotte, F., M.Gueride, A.M.Champagne, and J.c.Mounnolou 1990. Direct repeat in the non-coding region of rabbit mitochondrial DNA. Involvement in the generation of intra-and inter-individual heterogeneity. Eur. J. Biochem. 194: 561-571.

Ming, LI 1999. MtDNA cytochrome B sequences and intra-specific divergence among populations of sichuan snub-nosed monkeys (Rhinopithecus roxellanae). In AISIAN SCIENCE SEMINAR on Biodiversity: Messages from Primatology. July 26- August 6, 1999. Primate Research Institute, Kyoto University, Inuyama, Aichi 484-8506, Japan.: 235.

Murray, R.K., D.K. Granner, P.A.Mayes, and V.W.Rodwell (1997). Biokimia Harper.Edisi 24. Alih bahasa oleh dr Andry Hartono, editor dr Alexander H. Santoso. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta :128-139.

Page, R.D.M. dan E.C.Holmes 1998. Molecular Evolution. A Phylogenetic Approach. Blackwell Science. USA.

Perwitasari-Parajallah, D., Y. Kawamoto, and B. Suryobroto 1999. Variation in blood protein and mitochondral DNA within and between local population of long tailed macaques, Macaca fascicularis, on the island of Java, Indonesia. Primates. 40(4): 581-595.

Verma, R.S. 1990. The Genome. VCH Publishers, Inc. New York.

Wallace, D.C. 1999. Mitochondrial diseases in man and mouse. Science. 283: 1482-1487. WWW. Sciencemag.org.

——-

Kamis, 17 April 2003

Rahasia dalam Sepotong Genom

Banyak orang mengatakan, upaya untuk memetakan genom manusia sebagai salah satu ambisi ilmiah paling besar dalam sejarah peradaban manusia. Bahkan, kebesarannya melampaui ambisi umat manusia untuk membelah atom atau menginjakkan kaki di bulan.

Tak kurang dari 18 negara, 16 lembaga penelitian genetika, di bawah koordinasi Amerika Serikat, pada Oktober 1990 berhimpun dan memotori upaya itu dengan membentuk konsorsium internasional bernama: Human Genome Project.

Semangat itu juga didukung tersedianya anggaran yang menurut hitungan Kongres Amerika Serikat pada tahun fiskal 1991 mencapai angka US$ 3 miliar untuk 15 tahun bekerja.

Dalam perjalanannya, proyek akbar ini sempat limbung ketika Celera Genomics–sebuah perusahaan bioteknologi Amerika Serikat yang dipimpin Doktor J. Craig Venter–pada 26 Juni 2000 mengumumkan telah selesainya perangkaian matematika pertama dari pengurutan genom manusia.

Pemerintah Amerika Serikat berpikir, perusahaan itu menyalib di tikungan dalam upayanya untuk menguasai pengetahuan yang menjadi hajat hidup umat manusia itu. Ini sebuah ancaman besar.

Lupakan polemik itu, karena Senin (14/4) lalu, Human Genome Project akhirnya memenangkan persaingan dengan mengumumkan bahwa peta genom manusia buatan mereka dapat dikatakan telah rampung. Dari 3,12 miliar pasangan basa nukleotida yang dimiliki genom manusia, sebanyak 98,8 persen dari wilayah yang mengandung gen telah dapat diurutkan. Tingkat akurasi pengurutan yang menggunakan teknologi robot dan komputer canggih itu mencapai 99,99 persen.

Peta genom manusia ini oleh para ilmuwan Human Genome Project diistilahkan sebagai ‘buku kehidupan.’ Setiap kromosom manusia yang berjumlah 23 pasang itu menjadi bab dari buku tersebut.

Terbitnya buku ini membuka jalan untuk mengidentifikasi setiap gen di tubuh manusia yang jumlahnya 30-40 ribu buah. Setiap gen kita itu membawa resep bagaimana menghasilkan semua protein yang dibutuhkan tubuh. Protein-protein inilah yang menentukan bentuk fisik kita, cara tubuh memetabolisme makanan atau memerangi infeksi benda asing, dan terkadang menentukan bagaimana kita bertingkah laku.

Bagi dunia kedokteran, ‘buku kehidupan’ ini bakal mengubah wajah dan cara pendekatannya. Kedokteran masa depan tak lagi berlandas pada diagnosis dan penanganan masalah kesehatan melainkan menjadi memperkirakan dan mencegah masalah kesehatan sebelum muncul gejala klinisnya.

Para dokter dapat melakukan pencegahan terjadinya mutasi atau variasi dalam genetika. Kalaupun tidak, dengan panduan buku petunjuk itu kita pun dapat melakukan pencegahan dengan tidak melakukan perkawinan antar gen pembawa sifat yang berpotensi melahirkan keturunan dengan cacat genetik.

‘Buku kehidupan’ memberikan pemahaman para dokter terhadap beragam penyakit yang memudahkan cara penanganannya. Penyakit autis ternyata terkait dengan kelainan kromosom nomor tujuh, sindrom down berkait dengan ketidaknormalan kromosom nomor 21, katarak dan glaukoma berhubungan dengan kromosom nomor 1, dan lain sebagainya.

Dalam bidang anthropologi, peta genom dapat bermanfaat dalam mengungkap nenek moyang manusia, evolusi dan mutasinya serta bagaimana mereka melakukan migrasi.

Sedangkan dalam ilmu forensik DNA, peta genom dapat berguna dalam mengidentifikasi orang yang dicurigai dalam tindak kriminal, mengidentifikasi korban dalam bencana massal, dan mencocokkan antara organ yang hendak didonorkan dengan pasien penerimanya.

Di sisi lainnya, bisa jadi ‘buku kehidupan’ ini akan menelanjangi manusia. Banyak rahasia seorang manusia bakal terungkap. Contohnya, sifat dan tabiat manusia yang ditentukan oleh gennya pun dapat terbaca. Yang lebih maju lagi, pengetahuan mengenai gen dapat mengarahkan orang untuk merancang individu yang tak memilki gen jelek, gen bodoh, dan gen jahat. Tapi, apakah ini dapat diterima secara etika?

Human Genome Project sejak dini telah memperhitungkan dampak tersebut. Oleh karenanya mereka juga melakukan riset berkaitan dengan isu etika, hukum, dan sosial (ELSI).

Benar kata Profesor Allan Bradley, Direktur Wellcome Trust Sanger Institute di Inggris yang menjadi anggota konsorsium, lengkapnya genom manusia ini bukanlah akhir pekerjaan melainkan hanya satu langkah vital dari sebuah long and winding road. Dan pada akhirnya, manfaatnya bagi kesehatan akan menjadi fenomena. dody hidayat

——-

ASAL USUL SPESIES YANG SEBENARNYA

Ketika buku The Origin of Species Darwin terbit pada tahun 1859, dipercayai bahwa ia telah mengajukan sebuah teori yang dapat menjelaskan keanekaragaman luar biasa pada makhluk hidup. ia telah mengamati bahwa terdapat berbagai keragaman dalam satu spesies. Sebagai contoh, ketika berkeliling pasar ternak di Inggris, ia memperhatikan bahwa terdapat banyak ras sapi yang berbeda-beda, dan bahwa para peternak sapi tersebut memilih dan mengawinkan mereka sehingga menghasilkan ras baru. Mengambil contoh ini sebagai dasar, ia meneruskannya dengan penalaran bahwa “makhluk hidup secara alamiah dapat bervariasi dengan sendirinya,” yang berarti bahwa dalam jangka waktu yang lama semua makhluk hidup bisa jadi berasal dari satu nenek moyang yang sama.

Namun, anggapan Darwin tentang “asal usul spesies” ini pada kenyataanya tidak mampu menjelaskan asal usul mereka sama sekali. Berkat perkembangan ilmu genetika, sekarang telah dipahami bahwa peningkatan keanekaragaman dalam satu spesies tidak akan pernah menuntun kepada kemunculan spesies baru. Apa yang diyakini Darwin sebagai “evolusi”, sebenarnya adalah “variasi (keragaman)”.

Makna Variasi

Variasi, sebuah istilah yang digunakan dalam genetika, berarti sebuah peristiwa genetik yang menyebabkan individu atau kelompok dari satu jenis atau spesies memiliki ciri yang berbeda satu sama lain. Misalnya, semua manusia di bumi pada dasarnya membawa informasi genetik yang sama, namun sebagian bermata sipit, sebagian berambut merah, sebagian berhidung mancung, dan sebagian lain bertubuh pendek, semua tergantung dari seberapa besar potensi keragaman dari informasi genetik ini.

Variasi bukan merupakan bukti bagi evolusi karena variasi tidak lain hanyalah perwujudan dari berbagai kombinasi dari informasi genetik yang telah ada, dan variasi tidak menambahkan ciri baru apapun pada informasi genetik tersebut. Kemudian, pertanyaan penting bagi teori evolusi adalah bagaimana informasi yang benar-benar baru dapat muncul untuk menghasilkan spesies yang baru pula.

Variasi selalu terjadi dalam batas informasi genetik [yang ada]. Dalam ilmu genetika, batasan ini disebut “koleksi gen.” Semua sifat yang ada dalam koleksi gen suatu spesies mungkin akan muncul dalam berbagai bentuk karena variasi. Sebagai contoh, sebagai akibat dari variasi, jenis dengan ekor yang lebih panjang atau kaki lebih pendek mungkin akan muncul pada suatu spesies reptilia, karena informasi bagi kedua bentuk kaki-panjang dan kaki-pendek ada dalam kumpulan gen spesies tersebut. Akan tetapi, variasi tidak merubah reptilia menjadi burung dengan menambahkan sayap atau bulu pada mereka, atau dengan merubah metabolisme mereka. Perubahan seperti itu memerlukan penambahan pada informasi genetik makhluk hdup, yang tentunya tidak mungkin terjadi melalui variasi.

Darwin tidak menyadari kenyataan ini ketika ia merumuskan teorinya. Dia berpikir bahwa tidak ada batasan dalam variasi. Dalam sebuah makalah yang ditulisnya pada tahun 1844, ia menyatakan: “Adanya batasan dalam variasi di alam adalah anggapan dari sebagian besar penulis, namun saya tidak bisa menemukan satu kenyataan pun yang mendasari keyakinan ini.”28 Dalam The Origin of Species ia menyebutkan berbagai contoh variasi sebagai bukti paling penting bagi teorinya.

Misalnya, menurut Darwin, para peternak yang mengawinkan berbagai ras sapi untuk menghasilkan ras baru yang menghasilkan susu lebih banyak, pada akhirnya akan mengubah mereka menjadi spesies yang berbeda. Gagasan Darwin tentang “variasi tak terbatas” sangat jelas terlihat pada kalimat dari The Origin of Species berikut ini:

Saya tidak melihat adanya masalah pada [gagasan tentang] suatu ras beruang yang berubah, oleh seleksi alam, menjadi lebih [cocok hidup di] laut dalam bentuk dan perilaku mereka, dengan mulut yang semakin melebar, sampai dihasilkan suatu makhluk sebesar paus.29

Alasan mengapa Darwin mengambil contoh yang tidak masuk akal ini adalah karena pemahaman ilmu pengetahuan yang masih kuno pada masanya. Setelah itu, pada abad ke-20, ilmu pengetahuan telah mengajukan prinsip “kestabilan genetik” (homeostasis genetik), berdasarkan hasil percobaan terhadap makhluk hidup. Prinsip ini menyatakan bahwa, karena semua usaha pengawinan untuk mengubah suatu spesies menjadi spesies lain tidak berhasil, terdapat batas tegas antar berbagai spesies makhluk hidup. Ini berarti mustahil bagi peternak untuk mengubah sapi menjadi spesies lain dengan mengawinkan ras-ras yang berbeda di antara mereka, sebagaimana dirumuskan Darwin.

Norman Macbeth, yang menyanggah Darwinisme dalam bukunya Darwin Retried, menyatakan:

Inti permasalahannya adalah apakah makhluk hidup sungguh [mampu] berubah hingga tingkat tak terbatas… Spesies terlihat tetap. Kita semua telah mendengar kekecewaan pemulia yang telah bekerja keras hanya untuk mendapatkan hewan atau tumbuhannya kembali ke bentuk seperti di awal kerja mereka. Meskipun ada usaha keras selama dua atau tiga abad, tetap belum mungkin menghasilkan mawar berwarna biru atau tulip berwarna hitam.30

Luther Burbank, salah seorang pemulia paling ahli, menggambarkan kenyataan ini ketika ia berkata, “terdapat batasan untuk kemungkinan pengembangan, dan batasan ini mengikuti hukum tertentu.”31 Dalam artikelnya berjudul “Some Biological Problems with the Natural Selection Theory (Beberapa Masalah Biologis atas Teori Seleksi Alam),” Jerry Bergman berkomentar dengan mengutip ahli biologi Edward Deevey yang menjelaskan bahwa variasi selalu terjadi dalam batas genetik yang tegas:

Deevey menyimpulkan, “Hal-hal luar biasa telah dihasilkan melalui “kawin silang”… tetapi gandum tetaplah gandum, dan bukan anggur, misalnya. Kita tidak mungkin menumbuhkan sayap pada babi sebagaimana juga membuat telur ayam seperti pipa.” Contoh yang lebih baru adalah pertambahan rata-rata pada tinggi badan laki-laki yang telah terjadi sejak abad yang lalu. Melalui perawatan kesehatan yang lebih baik (dan mungkin juga seleksi seksual, karena beberapa wanita lebih menyukai pria tinggi sebagai pasangannya) laki-laki telah mencapai catatan tinggi badan dewasa tertinggi selama satu abad terakhir, tetapi pertambahan ini dengan cepat menghilang, menunjukkan bahwa kita telah mencapai batasan kita.32

Singkatnya, variasi hanya membawa perubahan yang tetap dalam batasan informasi genetik suatu spesies; mereka tidak pernah bisa menambahkan suatu data genetik baru kedalamnya. Untuk alasan ini, tidak ada variasi yang bisa dianggap sebagai contoh evolusi. Tidak peduli berapa sering Anda mengawinkan ras anjing atau kuda yang berbeda, hasil akhinya akan tetap anjing atau kuda, tanpa kemunculan spesies baru. Ilmuwan Denmark, W.L. Johansen, menyimpulkan permasalahan ini sebagai berikut:

Variasi yang ditekankan oleh Darwin dan Wallace tidak bisa secara selektif dipaksakan melampaui titik tertentu, dan variasi semacam ini tidak mengandung rahasia dari ‘keberangkatan [menjadi spesies] mana saja.33

Pengakuan tentang “Evolusi mikro”

Seperti yang telah kita lihat, ilmu genetika telah menemukan bahwa variasi, yang pikir Darwin bisa menjelaskan “asal usul spesies”, sebenarnya tidak seperti itu. Untuk alasan ini, ahli biologi evolusi dipaksa untuk memisahkan antara variasi dalam spesies dan pembentukan spesies baru, dan untuk mengajukan dua gagasan berbeda untuk hal yang berbeda ini. Keanekaragaman dalam satu spesies—yaitu, variasi—mereka sebut “evolusi mikro” dan hipotesis untuk perkembangan spesies baru disebut “evolusi makro.”

Dua gagasan ini telah ada dalam buku biologi sejak lama. Tetapi, sebenarnya terdapat pengelabuan di sini, karena contoh variasi yang disebut sebagai “evolusi mikro” oleh ahli biologi evolusi sebenarnya tidak ada hubungannya dengan teori evolusi. Teori evolusi mengutarakan bahwa makhluk hidup bisa berkembang dan memperoleh data genetik baru melalui mekanisme mutasi dan seleksi alam. Namun, seperti yang baru saja kita lihat, variasi tidak pernah menciptkan informasi genetik baru, dan jadinya tidak bisa menyebabkan terjadinya “evolusi”. Memberi nama variasi sebagai “evolusi mikro” sebenarnya hanyalah kecenderungan ideologis dari sebagian penganut biologi evolusi.

Kesan yang diberikan kaum biologi evolusi dengan menggunakan istilah “evolusi mikro” adalah penalaran salah: bahwa sejalan dengan waktu variasi dapat membentuk kelompok makhluk hidup baru. Dan banyak orang yang belum tercerahkan tentang hal tersebut berpikir dangkal bahwa “sejalan dengan perkembangannya, evolusi mikro bisa berubah menjadi evolusi makro.” Kita seringkali melihat contoh pemikiran seperti itu. Beberapa evolusionis “amatir” mengajukan contoh penalaran semacam itu sebagai berikut: karena tinggi rata-rata manusia bertambah sekitar 2 sentimeter hanya dalam satu abad, ini berarti bahwa selama jutaan tahun bentuk evolusi apa saja bisa terjadi. Akan tetapi, seperti yang telah ditunjukkan di atas, semua variasi semacam perubahan tinggi rata-rata terjadi pada batasan genetik tertentu, dan merupakan kecenderungan yang tak berhubungan sama sekali dengan evolusi.

Kenyataannya, saat ini bahkan para pakar evolusionis pun menerima bahwa variasi yang mereka sebut “evolusi mikro” tidak bisa membawa kepada terbentuknya kelompok baru makhluk hidup—dengan kata lain, kepada “evolusi makro”. Pada artikel tahun 1996 dalam Jurnal terkemuka Developmental Biology, ahli biologi evolusi S.F. Gilbert, J.M. Optiz, dan R.A. Raff menjelaskan permasalahan ini sebagai berikut:


Paruh-paruh kutilang (finch) yang diamati Darwin di Kepulauan Galapagos dan disangkanya sebagai petunjuk bagi teorinya, sebenarnya sebuah contoh keanekaragaman genetis, bukan petunjuk evolusi makro.

[Teori] Sintesa Modern adalah pencapaian yang mengagumkan. Akan tetapi, dimulai sejak tahun 1970-an, banyak ahli biologi mulai mempertanyakan kelengkapan informasi ini dalam menjelaskan evolusi. Genetika mungkin memadai untuk menjelaskan evolusi mikro, tetapi perubahan melalui evolusi mikro pada frekuensi gen tidak terlihat mampu merubah reptilia menjadi mamalia atau untuk merubah ikan menjadi amfibia. Evolusi mikro melihat pada penyesuaian diri yang berhubungan dengan kelangsungan hidup [spesies] yang paling cocok, bukan kemunculan yang paling cocok. Seperti yang dikatakan Goodwin, “asal usul spesies—permasalahan Darwin—tetap tidak terpecahkan.”34

Kenyataan bahwa “evolusi mikro” tidak bisa menghantarkan kita ke “evolusi makro”, atau dengan kata lain bahwa variasi tidak memberikan penjelasan bagi asal usul spesies, telah diterima juga oleh ahli biologi evolusi lainnya. Seorang penulis terkenal sekaligus pakar ilmu pengetahuan, Roger Lewin, menggambarkan hasil dari simposium empat hari di Chicago Museum of Natural History pada November 1980, yang dihadiri oleh 150 evolusionis:

Pertanyaan utama dalam konferensi di Chicago itu adalah apakah mekanisme yang menyebabkan evolusi mikro dapat dipakai untuk menjelaskan fenomena evolusi makro.. Jawabannya dapat diberikan dengan sangat jelas, Tidak.35

Kita dapat meringkas permasalahan ini sebagai berikut: Variasi, yang dilihat Darwin sebagai “bukti evolusi” selama beberapa ratus tahun, sebenarnya tidak memiliki hubungan sama sekali dengan “asal usul spesies.” Sapi bisa dikawinkan satu sama lain selama jutaan tahun, dan ras sapi yang berbeda mungkin muncul. Tetapi sapi tidak akan pernah berubah menjadi spesies yang berbeda—misalnya jerapah atau gajah. Dengan cara yang sama, perbedaan yang terdapat pada burung pipit yang dilihat Darwin di kepulauan Galapagos adalah contoh lain dari variasi yang bukan merupakan bukti bagi “evolusi.” Penelitian terbaru telah mengungkapkan bahwa burung pipit ini tidak mengalami variasi tanpa batas seperti yang diajukan teori Darwin. Lebih jauh lagi, kebanyakan dari berbagai burung finch yang menurut Darwin mewakili 14 spesies yang berbeda sebenarnya [mampu] kawin satu sama lain, yang berarti bahwa mereka hanyalah variasi dari satu spesies yang sama. Pengamatan ilmiah menunjukkan bahwa paruh burung pipit, yang telah melegenda dalam hampir semua sumber evolusionis, pada kenyataannya adalah satu contoh dari “variasi”; karenanya hal ini bukanlah merupakan bukti bagi teori evolusi. Sebagai contoh, Peter dan Rosemary Grant, yang menghabiskan waktu bertahun-tahun mengamati keanekaragaman burung pipit di kepulauan Galapagos untuk mencari bukti bagi evolusi Darwin, terpaksa menyimpulkan bahwa “populasi ini, dihadapkan pada seleksi alam, berayun maju mundur,” sebuah kenyataan yang secara tidak langsung menunjukkan tidak ada “evolusi” yang membawa pada kemunculan sifat-sifat baru yang pernah terjadi.36

Jadi untuk alasan ini, evolusionis masih belum bisa memecahkan permasalahan Darwin tentang “asal usul spesies”.

Asal-usul Spesies dalam Rekaman Fosil

Pernyataan evolusionis adalah bahwa setiap spesies di bumi berasal dari satu nenek moyang yang sama melalui perubahan sedikit demi sedikit. Dengan kata lain, teori ini menganggap kehidupan sebagai sebuah peristiwa yang berkelanjutan, tanpa ada pengelompokan tetap atau yang telah ditentukan sebelumnya. Akan tetapi, pengamatan di alam dengan jelas tidak mengungkap gambaran berkelanjutan semacam itu. Apa yang muncul dari dunia kehidupan adalah bahwa bentuk kehidupan benar-benar terpisah dalam kelompok-kelompok yang benar-benar berbeda. Robert Carrol, seorang evolusionis yang berpengaruh, mengakui kenyataan ini dalam bukunya Patterns and Processes of Vertebrate Evolution (Pola dan Proses Evolusi Vertebrata):

Walaupun jumlah spesies yang hidup di bumi saat ini hampir tidak bisa dibayangkan, mereka tidak membentuk sebuah rantai dengan sambungan yang hampir tidak bisa dibedakan. Malahan, hampir semua spesies bisa dikenali sebagai anggota kelompok-kelompok besar yang sangat berbeda dan terbatas jumlahnya, sangat sedikit yang menggambarkan bentuk atau cara hidup peralihan.37

Oleh karena itu, evolusionis beranggapan bahwa bentuk kehidupan “peralihan” yang menjadi penghubung antar makhluk hidup pernah hidup di masa lalu. Inilah sebabnya mengapa disadari bahwa ilmu pengetahuan dasar yang bisa memecahkan persoalan ini adalah paleontologi, ilmu yang mempelajari fosil-fosil. Evolusi dikatakan sebagai sebuah proses yang terjadi di masa lalu, dan satu-satunya sumber ilmiah yang bisa memberi kita informasi tentang sejarah kehidupan hanyalah penemuan fosil. Berkenaan dengan hal ini, ahli paleontologi Perancis, Pierre-Paul Grasse, berkata:

Para Naturalis harus ingat bahwa proses evolusi hanya terungkap melalui bentukan fosil… hanya paleontologi yang bisa menyediakan bukti evolusi bagi mereka dan mengungkap tata cara atau jalannya.38

Cabang ilmu pengetahuan terpenting untuk menerangkan asal usul kehidupan di bumi adalah paleontologi atau ilmu fosil. Lapisan-lapisan fosil, yang telah dipelajari dengan ketekunan tinggi selama sekurang-kurang 200 tahun terakhir, menyingkapkan gambaran yang berbeda sama sekali dengan teori Darwin. Spesies muncul tidak melalui himpunan perubahan-perubahan kecil, melakukan tiba-tiba dan terbentuk sempurna.

Supaya rekaman fosil bisa memperjelas persoalan ini, kita hendaknya membandingkan hipotesis teori evolusi dengan temuan-temuan fosil.

Menurut teori evolusi, setiap spesies muncul dari satu pendahulu. Satu spesies yang telah ada sebelumnya berubah menjadi spesies lain sejalan dengan waktu, dan semua spesies telah mewujud dengan cara ini. Menurut teori ini, perubahan bentuk ini berlangsung secara bertahap selama jutaan tahun.

Jika demikian kejadiannya, maka seharusnya telah hidup spesies peralihan yang tak terhitung jumlahnya selama masa panjang ketika perubahan bentuk ini dianggap sedang berlangsung. Sebagai contoh, seharusnya telah hidup di masa lalu makhluk setengah ikan-setengah reptilia yang yang telah memperoleh beberapa ciri reptilia sebagai tambahan atas ciri ikan yang telah mereka miliki. Atau seharusnya telah hidup makhluk reptilia-burung, yang telah memperoleh ciri burung sebagai tambahan atas ciri reptilia yang telah mereka miliki. Evolusionis menyebut makhluk khayalan ini, yang mereka percaya pernah hidup di masa lampau, sebagai “bentuk-bentuk peralihan.”

Jika hewan semacam itu benar-benar ada, seharusnya terdapat jutaan, bahkan milyaran, dari mereka. Lebih penting lagi, sisa-sisa dari makhluk khayalan ini seharusnya ada dalam rekaman fosil. Jumlah bentuk peralihan ini seharusnya lebih besar daripada spesies yang ada, dan sisa-sisa mereka seharusnya ditemukan di seluruh penjuru dunia. Dalam The Origin of Species, Darwin menerima kenyataan ini dan menjelaskan:

Jika teori saya benar, pasti pernah terdapat jenis-jenis peralihan yang tak terhitung jumlahnya, yang mengaitkan semua spesies dari kelompok yang sama… Sudah tentu bukti keberadaan mereka di masa lalu hanya dapat ditemukan pada peninggalan fosil.”39

Bahkan Darwin sendiri menyadari ketiadaan bentuk-bentuk peralihan tersebut. Ia berharap mereka akan ditemukan di masa mendatang. Di balik harapan besarnya, ia sadar bahwa ketiadaan bentuk peralihan ini adalah rintangan utama bagi teorinya. Itulah mengapa dalam buku The Origin of Species, pada bab “Difficulties of The Theory” ia menulis:

… Mengapa, jika suatu spesies memang berasal dari spesies lain melalui perubahan sedikit demi sedikit, kita tidak melihat sejumlah besar bentuk peralihan di manapun? Mengapa semua makhluk tidak dalam keadaan [pengelompokan yang] membingungkan, tetapi justru seperti yang kita lihat, spesies berada dalam bentuk-bentuk tertentu yang jelas?…Tetapi menurut teori ini bentuk peralihan yang tak terhitung jumlahnya seharusnya ada, mengapa kita tak menemukan mereka dalam jumlah yang tak terhitung terkubur dalam kerak bumi?… Dan pada daerah peralihan, yang memiliki lingkungan hidup peralihan, mengapa sekarang tidak kita temukan jenis-jenis peralihan yang saling berhubungan erat? Permasalahan ini, telah lama, sangat membingungkan saya.40

Satu-satunya penjelasan yang dapat diajukan Darwin untuk menghadapi keberatan ini adalah bahwa rekaman fosil saat ini belum lengkap. Ia menyatakan bahwa ketika rekaman fosil telah dipelajari secara teliti, mata rantai yang hilang akan ditemukan.

Pertanyaan tentang Bentuk peralihan dan Stasis

Mempercayai ramalan Darwin, para ahli paleontologi evolusi telah menggali fosil-fosil dan mencari mata rantai yang hilang ini diseluruh dunia sejak pertengahan abad ke-19. Meskipun dengan upaya terbaik mereka, belum ada bentuk peralihan yang ditemukan. Bertentangan dengan kepercayaan evolusionis, semua fosil yang ditemukan dalam penggalian menunjukkan bahwa kehidupan muncul di bumi secara tiba-tiba dan dalam bentuk lengkap.

Robert Carrol, seorang pakar paleontologi vertebrata yang juga seorang evolusionis, memberikan pengakuan bahwa harapan Darwinis tidak terpuaskan dengan penemuan fosil:

Meski ada upaya keras mengumpulkan [fosil] lebih dari seratus tahun sejak masa kematian Darwin, rekaman fosil masih belum menghasilkan gambaran adanya bentuk-bentuk peralihan tak terkira jumlahnya yang ia harapkan.41

Ahli paleontologi yang lain, K. S. Thomson, menyatakan bahwa kelompok baru organisme muncul dengan sangat tiba-tiba dalam rekaman fosil:

Ketika sebuah kelompok besar organisme muncul dan muncul pertama kali dalam rekaman fosil, ia terlihat muncul lengkap dengan sejumlah sifat-sifat baru yang tidak terlihat pada kelompok terkait, yang diduga sebagai pendahulunya. Perubahan besar dan cepat dalam bentuk dan fungsi ini sepertinya muncul dengan sangat cepat…42

Ahli biologi Francis Hitching, dalam bukunya The Neck of the Giraffe: Where Darwin Went Wrong (Leher Jerapah: Tempat Darwin Melakukan Kesalahan), menyatakan:

Jika kita menemukan fosil, dan jika teori Darwin benar, kita bisa memperkirakan apa yang seharusnya terkandung di bebatuan; fosil-fosil yang menunjukkan perubahan bertahap dari satu kelompok makhluk hidup ke yang lain dengan tingkat kerumitan lebih tinggi. “Perubahan kecil” dari generasi ke generasi seharusnya dapat terfosilkan juga sebagaimana spesies itu sendiri. Akan tetapi, sepertinya bukan ini yang terjadi. Kenyataannya, kebalikannyalah yang benar, sebagaimana dikeluhkan Darwin; “Bentuk peralihan yang tak terhitung jumlahnya seharusnya ada, mengapa kita tak menemukan mereka dalam jumlah yang tak terhitung terkubur dalam kerak bumi?” Darwin merasa bahwa “ketidaksempurnaan nyata” rekaman fosil hanyalah masalah penggalian lebih banyak fosil. Tetapi setelah semakin banyak fosil tergali, terlihatlah bahwa hampir semuanya, tanpa pengecualian, sangat mirip dengan binatang yang hidup sekarang.43


Tiada perkembangan bertahap pada catatan fosil seperti yang diperkirakan Darwin. Spesies-spesies muncul seketika, dengan struktur khas tubuh masing-masing.

Rekaman fosil mengungkap bahwa spesies muncul secara tiba-tiba, dan dengan bentukan yang sama sekali berbeda, dan tetap tak berubah dalam masa geologis terpanjang. Stephen Jay Gould, seorang ahli paleontologi di Harvard University dan evolusionis terkemuka, mengakui kenyataan ini pada akhir 70-an:

Sejarah dari hampir semua fosil spesies mempunyai dua ciri yang tidak bersesuaian dengan perubahan bertahap: 1) Stasis – sebagian besar spesies menunjukkan tidak adanya perubahan terarah selama masa hidup mereka di bumi. Mereka muncul dalam rekaman fosil dengan penampakan sangat mirip dengan ketika mereka menghilang; perubahan bentuk biasanya terbatas dan tidak terarah; 2) Kemunculan tiba-tiba – dalam setiap daerah kecil, suatu spesies tidak muncul secara bertahap melalui perubahan kecil terus-menerus dari pendahulunya; mereka muncul begitu saja dan dengan “bentuk yang sempurna.”44

Penelitan lebih jauh hanya memperkuat kenyataan stasis dan kemunculan tiba-tiba ini. Stephen Jay Gould dan Niles Eldredge pada tahun 1993 menulis bahwa “sebagian besar spesies, selama sejarah geologis mereka, tidak mengalami perubahan yang berarti, atau jika tidak, mereka mengalami sedikit perubahan dalam bentuk, tanpa arah yang jelas.”45 Robert Carrol pada tahun 1997 terpaksa menyetujui bahwa “sebagian besar kelompok utama sepertinya muncul dan menjadi beragam dalam masa geologis yang sangat pendek, dan tetap ada selama masa yang jauh lebih lama tanpa perubahan bentuk atau kelompok yang berarti.”46

Pada titik ini, perlu diperjelas apa sebenarnya makna dari gagasan “bentuk peralihan” ini. Bentuk antara yang diharapkan oleh teori evolusi adalah makhluk hidup yang berada di antara dua spesies, tetapi memiliki organ yang kurang sempurna atau setengah berkembang. Namun kadang kala gagasan bentuk antara ini salah dipahami, dan makhluk hidup yang tidak memiliki ciri dari bentuk peralihan malah diperlihatkan memiliki ciri seperti itu. Sebagai contoh, jika satu kelompok makhluk hidup memiliki ciri-ciri yang dimiliki oleh yang lain, ini bukanlah ciri bentuk antara. Platipus, mamalia yang hidup di Australia, berkembang biak dengan bertelur seperti reptilia. Sebagai tambahan, ia memiliki paruh seperti bebek. Para ilmuwan menggambarkan makhluk seperti platipus ini sebagai “makhluk mosaik.” Bahwa makhluk mosaik bukanlah bentuk antara juga diterima oleh ahli paleontologi terkemuka seperti Stephen Jay Gould dan Niles Eldredge.47

Kecukupan Bukti dari Rekaman Fosil

Sekitar 140 tahun yang lalu Darwin mengajukan alasan berikut ini: “Saat ini tidak ada bentuk peralihan, tetapi penelitian lebih lanjut akan mengungkap keberadaannya.” Apakah alasan ini masih berlaku sekarang? Dengan kata lain, mengingat kesimpulan dari semua rekaman fosil, haruskah kita menerima bahwa bentuk peralihan tidak pernah ada, atau kita harus menunggu hasil-hasil penelitian baru?

Banyaknya rekaman fosil yang ada tentunya akan bisa menjawab pertanyaan ini. Ketika kita melihat penemuan-penemuan kepurbakalaan, kita dapati fosil-fosil yang berlimpah. Milyaran fosil telah ditemukan di seluruh dunia.48 Berdasarkan fosil-fosil ini, 250,000 spesies berbeda telah dikenali, dan mereka memiliki kesamaan dengan 1,5 juta spesies yang telah dikenal yang hidup di muka bumi.49 (Dari 1,5 juta spesies ini, 1 juta-nya adalah serangga.) Meskipun sumber fosil melimpah, tidak satu pun bentuk peralihan yang telah ditemukan, dan sepertinya tidak akan ditemukan bentuk peralihan sebagai hasil dari penggalian baru.

Seorang professor paleontologi dari Glasgow University, T. Neville George, mengakui kenyataan ini beberapa tahun yang lalu:

Kita tidak perlu beralasan lebih lama lagi atas miskinnya rekaman fosil. Dalam beberapa hal ia telah sedemikian banyak sehingga sukar diatasi dan penemuannya pun melebihi pemahamannya… Meskipun demikian rekaman fosil utamanya terus terdiri atas celah-celah.50

Dan Niles Eldredge, seorang paleontologi terkemuka yang juga pekerja pada American Museum of Natural History, menggambarkan ketidakabsahan pernyataan Darwin bahwa ketidaklengkapan rekaman fosil menjadi alasan mengapa tidak ada bentuk peralihan yang telah ditemukan sebagai berikut:

Rekaman fosil berloncatan [tidak bersambungan], dan semua bukti menunjukkan bahwa rekaman fosil adalah nyata: celah yang kita lihat mencerminkan kejadian nyata dalam sejarah kehidupan – bukan jejak dari miskinnya rekaman fosil.51

Sarjana Amerika yang lain, Robert Wesson, menyatakan dalam bukunya Beyond Natural Selection pada tahun 1991, bahwa “celah dalam rekaman fosil adalah nyata dan bermakna.” Ia menguraikan pernyataannya ini sebagai berikut:

KEMACETAN DALAM CATATAN FOSIL

Jika evolusi benar-benar terjadi, maka semua makhluk hidup seharusnya muncul lewat perubahan-perubahan bertahap dan terus berubah sepanjang waktu, padahal catatan fosil menunjukkan kenyataan yang sebaliknya. Kelompok-kelompok berbeda makhluk hidup tiba-tiba muncul tanpa moyang yang mirip sebelumnya, dan tetap demikian selama jutaan tahun, tidak mengalami perubahan apa pun.

Fosil “kepiting tapal kuda” dari masa Ordovisium. Fosil yang berumur 450 juta tahun ini tak berbeda dengan spesimen yang hidup sekarang.
Fosil bintang laut yang berumur 100-150 juta tahun
Fosil tiram dari Zaman Ordovisium, tak berbeda dengan tiram masa kini.
Amonit muncul sekitar 350 juta tahun lalu dan punah 65 juta tahun lalu. Struktur yang tampak pada fosil di atas tak berubah selama 300 juta tahun.
Fosil bakteri berumur 1,9 juta tahun dari West Ontario, Amerika Serikat. Fosil ini berstruktur sama dengan bakteri yang hidup sekarang.
Fosil kalajengking tertua yang diketahui, ditemukan di East Kirkton, Skotlandia. Spesies ini, dinamai Pulmonoscorpius kirktoniensis, berumur 320 juta tahun, dan tak berbeda dengan kalajengking masa kini.
Fosil serangga dalam ambar, berumur sekitar 170 juta tahun, ditemukan di pesisir Laut Baltik. Fosil ini tak berbeda dengan mitra masa kininya.
Fosil capung yang berumur 140 juta tahun di Bavaria, Jerman. Sama dengan capung hidup.
Lalat yang berumur 35 juta tahun. Berstruktur tubuh sama dengan lalat masa kini.
Fosil udang yang berumur 170 juta tahun dari masa Jura. Tak berbeda dengan udang hidup.

Namun, celah dalam rekaman fosil adalah nyata. Tak adanya rekaman dari percabangan penting sungguh luar biasa. Spesies biasanya tetap, atau hampir-hampir demikian, dalam waktu lama, spesies jarang dan genus tidak pernah menunjukkan evolusi menjadi spesies atau genus baru melainkan penggantian satu dengan yang lainnya, dan perubahan lebih kurang adalah tiba-tiba.52

Keadaan seperti ini menyanggah alasan di atas, yang telah dinyatakan oleh Darwinisme selama 140 tahun. Rekaman fosil sudah cukup lengkap bagi kita untuk memahami asal usul kehidupan, dan secara nyata mengungkap bahwa berbagai spesies muncul di bumi secara tiba-tiba, dengan segala bentuk khas mereka.

Kebenaran yang Terungkap oleh Rekaman Fosil

Tetapi dari manakah hubungan antara “evolusi-paleontologi”, yang tanpa disadari telah mengakar dalam masyarakat selama beberapa dasawarsa, sebenarnya berasal? Mengapa kebanyakan orang memiliki kesan bahwa terdapat hubungan positif antara teori Darwin dengan rekaman fosil kapan saja yang terakhir ini disebutkan? Jawaban dari pertanyaan ini tersedia dalam sebuah artikel pada jurnal terkemuka Science:

Sejumlah besar ilmuwan berpengalaman di luar biologi evolusi dan paleontologi sayangnya mempunyai bayangan bahwa rekaman fosil jauh lebih [menunjukkan] Darwinisme daripada yang sebenarnya. Hal ini mungkin datang dari penyederhanaan berlebihan yang tak terhindarkan dalam sumber-sumber kedua: buku acuan tingkat-dasar, artikel semipopuler, dan semacamnya. Juga, kemungkinan terdapat beberapa khayalan yang dimasukkan di dalamnya. Dalam tahun-tahun setelah Darwin, pendukungnya berharap menemukan kemajuan [perubahan spesies] yang teramalkan. Secara umum hal ini masih belum ditemukan namun harapan ini belumlah mati, dan akhirnya beberapa khayalan murni telah menyusup ke dalam buku-buku acuan.53


Fosil rayap di dalam ambar yang berumur 25 juta tahun. Mirip dengan rayap hidup masa kini.

N. Eldredge dan I. Tattersall juga membuat komentar penting:

Bahwa fosil setiap jenis menampakkan kesamaan yang bisa dikenal selama kemunculan mereka dalam rekaman fosil, telah diketahui ahli paleontolgi sejak lama sebelum Darwin menerbitkan buku Origin-nya. Darwin sendiri,.. meramalkan bahwa generasi ahli paleontologi masa depan akan mengisi celah ini melalui pencarian yang tekun …Seratus dua puluh tahun penelitian paleontologis kemudian, telah sangat jelas bahwa rekaman fosil tidak akan membenarkan ramalan Darwin ini. Tidak pula masalahnya pada miskinnya rekaman fosil. Hanya saja rekaman fosil menunjukkan bahwa ramalan ini salah.

Pengamatan bahwa spesies adalah sesuatu yang tidak berubah dan tetap selama masa yang lama sesungguhnya seperti dongeng baju baru raja: setiap orang mengetahuinya tetapi memilih untuk mengabaikannya. Ahli paleontologi dihadapkan pada rekaman [fosil] yang dengan keras kepala menolak apa yang diramalkan Darwin, malah berpaling darinya.54

Demikian juga, ahli paleontologi Amerika Steven M. Stanley menggambarkan bagaimana dogma Darwinis, yang telah merajai dunia ilmu pengetahuan, telah mengabaikan kenyataan yang ditunjukkan oleh rekaman fosil ini:

Rekaman fosil yang telah diketahui tidak, dan tidak akan pernah, cocok dengan gagasan perubahan bertahap. Yang luar biasa adalah bahwa, melalui berbagai peristiwa sejarah, bahkan sejarah pertentangan ini telah dikaburkan. … ‘Sebagian besar ahli paleontologi merasa bahwa bukti yang mereka temukan jelas bertentangan dengan penitikberatan Darwin pada perubahan kecil, lambat dan bertahap yang membawa pada perubahan spesies.’ …cerita mereka telah ditutupi.55

Sekarang mari kita kaji sedikit lebih rinci, kenyataan-kenyataan rekaman fosil yang telah dibungkam sekian lama. Untuk melakukan hal ini, kita akan memikirkan sejarah alam dari masa lampau hingga sekarang, setahap demi setahap.

Iklan

8 Tanggapan to “Seberapa Dekat Kita Dengan Simpanse?”

  1. haniifa said

    Wahh…luar biasa menarik, mas.
    Trim’s yach, insya Allah kalau mas agor nggak keberatan saya komen dilain waktu.

    @
    Ditunggu… 😀

    Suka

  2. Ayruel chana said

    Agor…..bukannya.. monyet,babi(sebagian) berasal dari manusia?.
    Coba…agor cari dalilnya..

    Dan Ingat Binatang tak punya akal…sekalipun dia berevolusi milyaran juta tahun..tetap aja yang namanya akal tidak punya.
    Akal bukan berarti Otak.Otak hanya alat(sarana) yang menyampaikan
    Sinyal2 ke Akal.jd kalau otak rusak..sinyalnya pun rusak.Akhirnya gila.apa beda orang gila dengan Binatang?tetap saja masih berbeda(agak rada2 sama sih)karena binatang tetap tak punya akal sedangkan orang gila masih punya akal walaupun sinyalnya udah nggak nyambung.berarti orang gila bisa disembuhkan.

    Nanti tolong di bahas Antara akal dan Otak di Blog ini ya ..Agor

    @
    Ada ayat berkenaan dengan hal ini… apakah pada wujud fisik atau sifat !.
    Ini adalah wacana lama yang mungkin kita sulit mendapatkan rujukannya yang memuaskan.

    Yap… antara akal dan otak… boleh juga… nanti ya…

    Suka

  3. Assalamu alaikum Wr Wb

    eh …nggak taunya hanifa udah membahas…http://haniifa.wordpress.com/2008/01/16/kera-berasal-dari-bangsa-yahudi/

    Ah… kayaknya udah ada dalil tuh
    Wassalam

    @
    Wass.wr.wb.
    Sudah.. namun memang tak banyak rujukan bisa kita pahami…
    Salam, agor.

    Suka

  4. marinki said

    Biar lambat tapi tamat bacanya. Yang jelas biar pun manusia itu berdekatan dengan simpanse karena dilihat dari jumlah kromosomnya selisih 1 angka saja, namun kalau dirujuk kpd keberadaan makhluk2 di bumi, ilmuwan melihatnya dari sisi evolusi, pada hal logika agamis menyatakan bahwa Tuhan YME (Allah Swt) menciptakan makhluk berbeda-beda, kalau muncul makhluk lain/makhluk baru itu karena makhluk yg lama dimusnahkan dulu. Begitu ya mas Agor urun pendapat hasil kajian campur aduk permasalahan makhluk di jagat raya ini. Kapan2 nulis lagi deh.

    @
    Bahkan kesamaan mahluk manusia saja, hanya pada keluarga terdekat. Kalau gagal ginjal dan ginjal diganti oleh ginjal saudara, maka hanya orang terdekat dalam artian keluarga/silsilah terdekat yang bisa.
    Jadi di balik kesamaan bentuk genetis… masih banyak lagi peta genom dan rahasianya yang kita belum mengerti, bahkan tak terbayangkan…..

    Suka

  5. Begini mas agor…
    Dalam firmannya…sering begini…
    Afala ta’qiluun….Apakah kau tak berakal…bukan : apakah kau tak berotak
    Otak bahasa arabnya apa yach…lupa nich..
    oh ya : دماغ dimaaghun atau مخ : mukhkhun

    @
    Memang kata akal dan pikir dalam AQ dan juga dalam bahasa masyarakat kita bisa bedakan. Akal dalam AQ berhubungan dengan pengetahuan dan kesadaran akan adanya Allah dan ketakwaan. Berada di hati. Sedang pikir, memikirkan, lebih pada konsepsi dan konstelasi yang diproses oleh ‘otak’.
    Yang agor pahami, berpikir dan berkesimpulan ada pada konteks pengamatan, ketepatan, akurat, tepat atau menyimpang, eksperimen sains, sedangkan berakal pada tanda-tanda kekuasaanNya, kesadaran, etika, penghormatan, baik dan buruk. Tentu saja jangan dipisah ekstrim, akal juga akan melihat formulasi pikiran.

    Sama dengan di sekolah juga sih.. kita bedakan mana yang mengajar dan mana yang mendidik…

    Karena itu Ulil eh Ulul albab sebagai orang berakal bukan hanya berpikir.

    Manusia bisa dan banyak kehilangan akalnya, meskipun tetap pandai berpikir… 😀

    Suka

  6. Kalo menurut saya begini pak agor
    Akal mengendalikan nafsu (muthmainnah,lawwamah dan amaroh)
    atau nafsu mengendalikan akal.

    Saya posting ini nich pak agor:
    http://ayruel.wordpress.com/2009/02/26/zikirkunci-ketenangan-hati/
    Mohon koreksinya…ngarap nich

    Suka

  7. syahrul said

    kesabaran kunci sukses

    Suka

  8. […] atau gajah.  Yang kedua, semua mahluk hidup berasal dari nenek moyang yang sama.  Karena premis semua mahluk hidup berasal dari nenek moyang yang sama, maka tidak salah kalau burung berparuh pendek atau panjang, atau bisa sampai pada kesimpulan bahwa […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: