Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Hadits Populer Yang Palsu?

Posted by agorsiloku pada Januari 31, 2007

Kalau ada hadis bunyinya seperti ini :

ALLAH DAN MALAIKAT BERSELAWAT KE ATAS
ORANG YANG MEMAKAI SERBAN.

Maka sambil senyum, kita bisa memperkirakan, kemungkinan besar ini palsu. Allah akan jadi seperti kades yang kalah perang kalau logika ini dipakai. Kagak match man…
Kalau bunyi hadisnya begini :

As – Silafi meriwayatkan bahawa Rasulullah s.a.w. berabda :
Ertinya: Kelebihan Rejab atas segala bulan bagaikan kelebihan Al-Quran atas segala zikir; kelebihan Sya’ban atas segala bulan adalah seperti kelebihan Muhammad atas segala para Nabi dan kelebihan Ramadhan atas segala bulan bagaikan kelebihan Allah atas segala hambanya.

Wah, abangan seperti saya, yang nggak pernah mondok di pondok, mana ngerti. Kalau Oom Ust bilang begitu, yo wis kutelan saja.

Kalau bunyi hadisnya begini bagaimana :

Awal Ramadhan adalah rahmat, pertengahan keampunan dan
akhir pembebasan dari neraka

Wah, ini populer sekali euy. Inikan kan penting untuk membuat kartu lebaran, untuk mertua atau pacar, atau isteri tercinta, atau teman. Bunyinya puitis, enak dibaca dan sepertinya kita jadi “lebih” alim deh dengan kata-kata ini.

Kalau ini bagaimana :

Tidur orang yang berpuasa itu adalah satu ibadat

Ini sih semua ulama pasti bilang ini. Tidurnya (apalagi) sampai ngiler, ibadah. Kok ibadah tidur sih?. Ya dari pada bangun terus makan, piye toh. Ya, iyalah… masak karena kita lagi nggak puasa, maka nggak boleh tidur sih.

Lepas dari itu, tapi memilah dan memilih hadis mana yang shahih, hasan, dhaif, maudhu, atau istilah apalagi deh… adalah kerumitan tersendiri. Ada yang bilang, jumlah hadis ada 50 ribu dan hanya 2000 saja yang shahih. Tapi, bagaimanapun, adalah penting mengetahui dan mendapatkan/mengetahui mana yang shahih mana yang neko-neko. Pembaca blog di sini, telah mengingatkan jangan ingkar sunnah. Yes, saya setuju buanget. Kita harus hati-hati, ini salah satu yang saya temukan di forum.cari.com setidaknya salah satu acuan dan saya masih akan mencari lagi (kalau masih diberi kesempatan), yang saya ambil untuk dimasukkan ke blog ini. Hadits palsu memang membahayakan dan menyesatkan.

“Taatilah Allah dan Rasulullah, serta ulil amri (kalau ulil amrinya nggak korup) di antara kamu. “

Jadi, nggak maulah saya tergolong orang yang tidak taat, aku ingin masuk surga, takut neraka, biarpun bergunung kemaksiatan telah kulakukan.

25 April 2007

Belum selesai, ketika sedang berjalan-jalan, sempatkan datang ke Rossen saya baca sampai tamat pendekatan fasih meskipun terlalu berkepanjangan, tapi memang asyik untuk dipahami : Penyimpangan dan Kesesuaian.  Paling tidak, ini menjelaskan juga, mengapa blog butut ini sangat kurang atau boleh dibilang “enggan” mengutip hadis kalau tidak benar-benar perlu.  Tentu saja tidak semua hadis seperti yang diurai, ada juga yang memang benar-benar : “enak dan perlu”.

 

Iklan

62 Tanggapan to “Hadits Populer Yang Palsu?”

  1. Kok yah tega-teganya menipu/memalsu sih kasihankan menjerumuskan orang.

    —-
    Kalau tingkat kesahihannya saya ragu, terpaksa deh baca-baca lagi lebih teliti. Tapi kalau lagi males, mulai saja dari kata, “kalau nggak salah ada hadits yang bilang” … (nggak tahu tapi shahih apa nggak). Soal menjerumuskan orang, sangat boleh jadi, pelakunya justru sedang menjerumuskan dirinya sendiri, agor

    Suka

  2. mrtajib said

    jangan-jangan mereka yang tidak tahu sama sekali tentang hadits malah yang masuk surga……walau melakukan banyak kemaksiatan.

    daripada yang tahu banyak hadits, malah untuk menyalahkan orang lain……

    —-
    Nggeh… O: -)

    Suka

  3. Dee said

    Kalau berpegang pada Mutaffaq ‘alaih, kira-kira aman dari hadits palsu nggak ya?

    @Mrtajib
    Paling enak memang jadi orang yang serba nggak tahu, nggak bisa disalahkan. Cuma, apakah selamanya kita cukup puas hanya menjadi orang yang nggak tahu?


    Mas Dee, aman atau tidak, palsu atau tidak, menurut saya tercermin dari Al Qur’an, karena saya lebih percaya main streamnya ada di Al Qur’an. Walau beliau : Mutaffaq ‘alaih, dikenal dengan kesahihannya, apakah di saat kini dan di masa depan nama beliaulah yang dipalsukan. Pada beberapa kasus, saya jumpai perbedaan pertimbangan ulama atau siapa kek, ini shahih, ini nggak, dan pandangan ini bisa berbeda. Apalagi di jaman internet yang begitu mudah kopi pais.
    Betul, paling enak jadi orang yang tidak tahu, tidak punya akses untuk tahu. Yang tahu bahwa dirinya tidak tahu, jadinya mencari tahu… ini repotnya (ini baiknya)…., agor

    Suka

    • surya mario said

      Ass DEE…..saran saya, agar hadis palsu tidak mudah mampir ke diri kita…aku sarankan yang utama Tegakkan Sholat 5 waktu setegak-tegaknya dan berjamaah..ke 2 bangunlah 1/3 malam terakhir dan tegakkan lah qiyamullail…lalu memohon kepada yang memciptakan kita…agar di jauhi diri kita dari kepalsuan dunia…insyaallah..

      Suka

  4. dhany said

    yang bikin hadist palsu biasanya. :
    – penguasa yg ingin melanggenggkan kekuasaannya
    – politisi yang ingin naik daun
    – kaum zionis


    Bisa begitu, bisa juga karena ketuaan usia perawinya. Ketika mudah, ingatannya kuat, ketika sudah mulai tua dan ubanan masih ditanya, yang disampaikan jadi terpotong-potong sehingga tersalahpahami. Bisa juga karena perawi yang mencatatnya sedikit sehingga terputus maksud dari hadits itu, bisa juga karena dengki, bisa juga karena salah pemahaman, maklum komunikasi dari satu waktu ke waktu lain bisa tergerus, bisa juga karena yang Mas Dhany sebutkan. Yang saya ingin tegasi, perjalanan hadits memang sangat membutuhkan ke hati-hatian. Shahih Bukhari saja selama 16 tahun melakukan berbagai upaya meneliti. Apakah yang sekarang sudah afdol semua?, apakah juga tidak ada yang mengatasnamakan beliau? Tapi, sebenarnya, jangan pula kita terlalu ragu, atau ragu. Jaminan pengertian Al Qur’an dan As Sunnah, Allah yang memberikan jaminan pengertiannya. Kita disuruh mempelajari saja, menaatinya. Tentunya, berusahan untuk ikhlas….., agor

    Suka

    • Sahr bin Auk said

      betul…. banyak kepentingan sehingga hadits palsu mencuat…..
      =====
      ………………. apakah juga tidak ada yang mengatasnamakan beliau? Tapi, sebenarnya, jangan pula kita terlalu ragu, atau ragu. Jaminan pengertian Al Qur’an dan As Sunnah, Allah yang memberikan jaminan pengertiannya. Kita disuruh mempelajari saja, menaatinya. Tentunya, berusahan untuk ikhlas….., agor
      ==========
      kita pertebal keyakinan bahwa ” yahdiy man yasyaa’ wa yudillu man yasyaa’ “….
      yang perlu kita waspadai ketika kita brhadapan dengan hadts….. apakah NAFSU kita ,,, ikut serta dalam menentukan pilihan ?????
      Sesungguhnya iman adalah filter

      Suka

  5. Dono said

    Ass,wr.wb,
    Ini cukup jelas dan benar pak Agor.
    Allah s.w.t memberikan jaminan kepada mereka yg beriman kepada Alqura’n dan mengikuti RasulNYA.

    Wassalam.

    Suka

  6. Delapan malaikat pendukung arasy ada dalam Al Haaqah (69) ayat 17, yaitu rasul-rasul sesuai Ali Imran (3) ayat 31-34 (Adam-Nuh sesuai Maryam (19) ayat 58, keluarga Ibrahim (Ibrahim Luth) Al Anbiyaa (21) ayat 71,74, Musa-Isa sesuai Al Baqarah (2) ayat 87, dan Muhammad-Ahmad, sesuai Al Fath (48) ayat 29, Ash Shaff (61) ayat 6,7,8,14. Wasalam, -Soegana Gandakoesoema- Pembaharu persepsi tunggal agama millennium ke-3 masehi.
    Malaikat-malaikat menurut kitab suci Nabi besar mempunyai maksud rasul-rasul sesuai Al An Aam (6) ayat 9 dan yang dimaksud adalah 8 rasul yang mendukung arash (yaitu Risalah Allah sesuai Al A’raaf (7) ayat 144,145 dan Al Ahzab (33) ayat 39,40). Wasalam, Soegana Gandakoesoema- Pembaharu persepsi tunggal agama millennium ke-3 masehi.

    Suka

  7. Nah, posing kali ini bukan mencerahkan pak, malah bikin bingung, plus takut..

    Jangan-jangan apa yang selama ini menurut saya sesuai anjuran Rasul, malah salah…

    —-
    Betul Mas Manusiasuper, bikin bingung. Ide di atas bermula dari rekan Passa yang memberi komentar :
    salah satu yang cukup mengkhawatirkan umat muslim terutama di indo adalah penyampaian hadis-hadis ahad yang tidak populer, namun tidak diberikan penjelasan status hadis tersebut.”
    Saya sendiri, jujur saja, kalau mau mengutip hadis, agak lebih mewaspadai. Satu kali, saya minta ke teman untuk tolong carikan hadis yang shahih untuk dibuatkan “Hadits Digital”, yang mudah diperiksa. Yah, seperti Al Qur’an digital gitu. Terus teman saya yang belajar hadis luar dalam itu bilang, saya takut bahwa nanti ada hadis palsu sehingga saya -berdosa- menjadi penyebar hadis palsu. Jadi, singkatnya emang kita harus hati-hati saja. Kalau nggak yakin itu hadisnya, apa statusnya, ya jangan bilang itu hadis. Itu, juga salah satu sebab, mengapa saya prioritaskan merujuk pada Al Qur’an dulu, apalagi posting saya memang lebih ke arah itu. Jadi kita sama, bingung dan takut. Kecuali mereka yang benar-benar paham luar dalam. Saya sendiri, cenderung menganggap suatu hadis akan oke, bila dia sejalan dengan Al Qur’an. Tapi juga, tidak semua hadis ada pada masalah yang berkesinambungan dengan Al Qur’an. Menurut saya, takutlah kita menjadi penyebar hadis palsu, tapi jangan takut kita menjadi penyebar informasi yang memang sudah ditegasi keshahihan hadisnya. Kan lebih baik meyakini yang sudah yakin, biar sedikit, dari pada obral, tapi tak tahu/meragukan. salam

    Suka

  8. passya said

    koreksi:
    hadis ini : Tidur orang yang berpuasa itu adalah satu ibadat : hanya populer di Indonesia… 😀


    Ya, Mas Passya. Trims infonya. Sepertinya, site yang saya kutip dari Malaysia ya?. Memang “hadis” ini sangat populer di Indonesia, apalagi untuk orang seperti saya yang doyan tidur….

    Suka

  9. Mr. Geddoe said

    Wah, kekhawatiran bapak sama dengan saya… 🙂

    Buat saya, yang mengkhawatirkan itu hadith imitasi yang membuat beragama menjadi terkesan sangat sulit, sebab bisa jadi aturan aslinya tidak separah. Bagi saya ilusi abadi dalam beragama itu adalah apabila satu argumen terlihat lebih sukar dan terjal, itu akan dianggap lebih suci. Padahal bisa jadi sentimen ini malah mendiskreditkan dan menyepelekan sifat maha penyayang Tuhan…

    @
    yap, memang karenanya sy lebih suka mengutip al Qur’an dalam pikiran-pikiran saya di blog ini (kalau memang pembahasannya ke arah itu) dari pada mengutip pikiran sendiri, pikiran orang lain, ulama, dan juga hadis. Alasannya sederhana saja : Yang utama ini saja, masih belum bisa dipahami dengan baik sebagai kalam ilahi, bagaimana saya bisa “bersombong” dengan pikiran sendiri. Iya kalau pikiran sendiri itu benar, kalau keliru?. Paling tidak juga, bisa belajar agama sewaktu nulis 🙂 . Beragama, menjadi sulit karena memang dengan dipersulit akan terbentuk loyalitas dan ketakberdayaan. Terbentuk juga peluang penggolongan yang bisa “memperturutkan” hawa nafsu.
    Namun, tentu hadis juga memiliki kesandingan istimewa dengan al Qur’an pada sisi-sisi yang Allah jelaskan untuk ber”guru” pada teladan utusanNya dan juga pada pewaris Nabi (ummat Muhammad).
    Salam, agor.

    Suka

  10. […] hal dalam hidup ini yang (katanya) tidak untuk dimengerti. Dan saya tidak perlu mengerti akan kepalsuan petuah bijak. Yang saya perlu ketahui adalah petuah bijak adalah paling selalu benar. Dan saya dilarang […]

    Suka

  11. sikabayan said

    euh.. Allah menilai kita berdasarkan niatnyah…
    prasangka baik sama Allah teh mungkin bisa menjaga kita dari kepleset… terlalu yakin bisa salah… terlalu takut juga bisa kehilangan… kalau asli Alhamdulillah… kalau palsu anggap sajah kata mutiara…
    niat tidur 1-2 jam ramadhan siang untuk stamina ibadah malam, bulan ramadhan teh bulan panen ibadah… jadinyah seakan2 hidup 1000 tahunnyah bisa rada2 dikorting gituh… ngurangin sedikit ibadah dalam mencari nafkah ditukar ibadah ramadhan malam…siapah tahu dapat seribu bulan euheuheuheu..
    kalau kepala mah memang disarankan ditutup baik pakai kopiah serban atau bisa juga karung… siapah tahu kalau mengikuti saran Rasulullah SAW. teh Allah sama malaikat ridho kepada kita untuk mendapatkan syafaat di hari kebangkitan… siapah tahu shalawat teh do’a untuk mendapatkan syafaat…
    tapi kalau hadist yang bertentangan dengan Al Qur’an mah kabayan pikir teh pasti palsu sekali alias bermaksud sangat buruk…

    @
    Amin Kang….

    Suka

  12. Ayruel chana said

    Ya….kalau nggak salah..nabi melarang perkatannya dibukukan (kalau nggak salah sih,yang tahu hadisnya tolong kasih tahu)kalau dibukukan juga …….ya seperti inilah kejadiannya.
    Tapi Alqur’an sih diperintahkan Nabi untuk dibukukan.

    Alqur’an kan udah Qomplexxxxxxxs.tinggal memahaminya saja..!!!
    Butuh bantuan hadist..Otak kita goblok sih…nggak kayak nabi…

    @
    Namun, saya bersyukur dengan segala kebodohan, berharap Allah selalu membimbing di jalan yang diridhaiNya, diingatkan ketika lupa, diluruskan ketika tersesat, dan diampuni kesalahan ketika berbuat nista…. Semoga….

    Suka

  13. Haniifa said

    Salam,
    Allah berfirman di Surah Al Muddatsir 31:
    “…Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri…
    Di ayat tersebut jelas dengan konstata 19, ada orang yang semakin beriman namun banyak pula yang semakin kufur akan ayat-ayat Al Qur’an.
    Nah…
    Apa lagi hadist-hadist yang kebenarnya masih relatif…pada dasarnya kembali pada kepandaian kita memilih dan memilahnya, selanjutnya mengambil himahnya.
    Wasalam.

    @
    😀 di sinilah kadang daya tariknya, pada setiap petunjuk juga bisa menjadi alat penyesatan. Sangat tergantung dari kemampuan (tepatnya : hidayahNya) untuk diijinkan memahami petunjukNya juga.
    Namun,
    catatan Mas juga bisa dipolemikkan ketika pertanyaan menyangkut sumber hukum agama. Dan ini kerap pula menjadi perdebatan, bahkan saling ingkar mengingkari…. 😦

    Suka

  14. engkus said

    Salam,
    Yang namanya hadist palsu kita mengetahuinya karena sudah diidentifikasi oleh para ahli hadist. Kita tinggal memilahnya untuk ditinggalkan. Tapi walaupun hadist itu sahih,bila aplikasinya dalam prikehidupan sehari hari bertolak belakang dengan hadist yang diriwayatkannya itu sama saja palsu (dusta dalam akhlaknya dan ucapannya), lebih sesat karena telah bersumpah atas nama Muhammad.

    Suka

  15. aji said

    makanya mesti tegak kholifah yang menjadi pengatur dan pemutus perkara .

    @
    imamah?…

    Suka

  16. moel said

    q ga tau klo hadist tuh ada yg palsu . q taunya malah dari buku dialog islam nasrani tahun 1957 wah beneran q ga nyangka klo hadis pun ada yg palsu

    Suka

  17. aburahat said

    Hadits dan tingkah laku/perbuatan Rasulullah oleh para ulama merupakan ijma disebut sunah (dikelompokkan menjadi SUNAH) Kalau sampai ada hadits yang palsu dan memang benar ADA karena Rekayasa mereka2 terdahulu demi kepentingan PENGUASA dan POLITIK maka bagaimana para umat yang berpegang pada Alqur’an dan Sunah Rasul agar tidak sesat? Sedangkan hadits2 yang merupakan bagian dari SUNAH sudah menyesatkan. Apakah kita tinggalkan Hadits dan Sunah (perbuatan) Rasul? Wasalam

    Suka

    • agorsiloku said

      Tak mudah bagi agor untuk memahami totalitas hadis sebagai bagian penuh dari panutan logis dan pikiran; khususnya jika penjelasan atau uraian pada hadis itu menyangkut hal-hal yang terasa berbeda dengan garis pemahaman yang agor pahami dari AQ. Karena itu, jika tidak terasa perlu benar, dalam menulis di blog, agor lebih mendahulukan apa yang dijelaskan AQ, namun jika sejalan atau segaris dengan penjelasan AQ tidak ada keraguan dari hadis. Ada ketakutan atau lebih tepat kekhawatiran kualitas keshahihannya tidak terjamin (dan tidak punya cukup pengetahuan/ilmu untuk mendalaminya, karena berbagai sebab). Pabrik hadis pada dasarnya adalah masyarakat, sedangkan pabrik AQ adalah kalam Illahi yang gramatikalnya tidak ada keraguan di dalamnya.
      Kalau begitu hadis diingkari?. Tentu tidak sesederhana itu, ada kompromi sejarah, ada kompromi dari beberapa hadis yang tampak berbeda untuk disatukan, ada upaya melihat mana kualitas yang lebih baik, ada usaha untuk memahami dalam pemaknaan bukan leterlijk (apa adanya) atau dalam bahasa lain di-hermenetik-kan, atau bahkan tertolak sama sekali karena unsur-unsur periwayatan yang dinilai tidak memenuhi syarat. Semua upaya yang dilakukan para pendahulu kita, pada dasarnya usaha untuk membaca perfomance Nabi dalam sikap, laku, dan perbuatan yang bisa dijadikan rujukan untuk melihat problematika kekinian. Suri tauladan itulah yang pada dasarnya ingin dipahami oleh pengikut Nabi Muhammad kemudian. Sehingga dan sedemikian rupa, dapat membantu memberikan “saran” arahan terhadap problematika kekinian yang sederhana maupun rumit atau terkadang tidak jelas apa yang harus kita lakukan. Singkatnya, tidak hitam putih. Bertanya kepada yang lebih mengerti untuk melihat lebih jelas, kadang diperlukan. Ketika yang diungkapkan itu nyata berbeda dengan apa yang dijelaskan dalam AQ, maka AQ jadi pegangan dan hadis itu ditinggalkan saja. lagi ngapain repot-repot dipahami, kan sudah begitu jelas dijelaskan di AQ.
      Wassalam, agor

      Suka

  18. aburahat said

    @agor
    Mas benar. Sungguh tenang hidup agama kita kalau semua berpikiran seperti mas tidak ada saling mengkafirkan.
    Hanya bagaimana apabila tidak ada penjelasan dalam Alqur’an kemana kita ambil rujukan?
    Sebagaimana kita semua pahami bahwa Rasul diutus dengan salah satu tugas beliau adalah menjelaskan firman2 Allah.
    Lalu bagaimana penjelasan beliau ini yang kita terima sekarang sudah berubah.
    Contoh: Perceraian.
    Menurut satu pihak talak tiga cukup diucapkan satu kali. Yakni aku talak tiga padamu.
    Pihak lain mengatakan bertahap. Tidak sah hanya sekali ucap langsung jatuh talak tiga.
    Yang mana harus dipegang. Dalam Alqur’an tidak ada penjelasan menditail. Wasalam

    Suka

    • agorsiloku said

      Duh, agor tidak paham fikih jadi tak tahu harus menjustifikasi bagaimana. Kalau kita menengok AQ, talak dua kali dan yang ketiga itu final kecuali isteri menikah dulu dengan yang lain, baru boleh menikah lagi QS Al Baqarah 227-230. Kalau kita menengok surat ke 65 (At Thalaq) menjelaskan waktu rujuk, waktu iddah. Jelas di sini kepada Nabi dinasehatkan “apabila” Nabi hendak menceraikan isteri-isterinya maka dilakukan pada saat mereka (isteri Nabi) dapat menghadapi waktu iddahnya. Penjelasan ini menegasi bahwa talak dan iddah adalah satu kesatuan peristiwa dalam hukum yang ditetapkan Allah. Tidak bisa didefinisikan 2 talak satu iddah, karena jelas satu talak akan berlanjut dengan waktu iddah. Konsepsi ini rasanya cukup menjelaskan bahwa talak itu satu kali. Dengan begitu, dapat dipahami bahwa seorang suami mengucapkan 3 kali talak dalam satu waktu yang berdekatan tetap berhadapan dengan satu iddah. Maknanya menjadi jelas, diucapkan berapa kalipun, iddah yang dihadapi oleh wanita yang diceraikan adalah waktu iddahnya. Dan rujuk kembali pun tidak dibenarkan sampai waktu iddahnya selesai. Bahkan mengijinkan yang ditalak keluar rumahpun tidak diijinkan oleh hukum Allah. Waktu iddah dijelaskan 3 kali suci setelah haid. Betapa lengkapnya penjelasan yang diberikan Allah untuk keputusan yang harus ditangani dengan hati-hati dan penuh takwa ini. Subhanallah.
      Bagaimana jika wanita tersebut menopause? Ayat ke 4 menjelaskan 3 bulan.

      Mas Abu, ini pemahaman saya terhadap ayat yang menjelaskan mengenai penceraian. Rasanya telah dijelaskan cukup detail, termasuk penyikapan, waktu, dan kondisi yang akan dihadapi manusia kemudian. Mohon koreksi jika keliru.

      Wallahu ‘alam

      Suka

  19. aburahat said

    @Agor
    Mas sama2 kita bukan ahli fikih tetapi kita sering membaca maka saya pernah membaca:
    Ibnu Abbas berkata: Dizaman Nabi dan Abubakar dan ketika 2 thn Umar menjabat khalifah, kalau sesorang menceraikan istrinya tiga kali (dalam satu saat atau satu kalimat) maka tiga perceraian dianggap satu peceraian. Ini berarti tidak perlu idah. Mereka bisa berbaik kembali dan bisa berhubungan seperti semula.( Musnad Ahmad: jil,1 hal.314; Shahih Muslim jil.1 hal.574).
    Yang mana harus kita anut. Cukup sekali saja atau harus 3X baru idah. Wasalam

    Suka

    • agorsiloku said

      @Mas Abu,
      Yang saya pahami dari AQ,masa iddah adalah salah satu komponen dari hukum Allah yang disampaikan kepada ummat beragama Islam. Surat At Thalaq ayat 1 begitu jelas bunyinya : Apabila… maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya. Jadi jelas pesan, bila ummat pengikut Nabi Muhammad berkehendak mengikuti teladan Nabinya, akan mengikuti pesan yang disampaikan pada ayat ini. Allah berpesan jelas antara talak dan iddah tidak dipisahkan. Pada AQ 2:285 juga ditegasi,… jangan kamu berketetapan hati… sebelum habis masa iddahnya. Kiranya begitu jelas bahwa Allah membuat aturan yang seksama dan terinci.
      Kalau ada yang mengatakan tidak perlu “iddah” rasanya jelas yang disampaikan AQ. Kadang memang kita ingin dan biasa mencari argumen lain, boleh jadi situasional, karena itu pula Allah mengingatkan, Allah tahu apa yang ada di dalam hatimu, Allah maha pengampun dan penyantun. Pesan ini ada dalam konteks bahwa “ada sesuatu” pesan di dalamnya.
      Namun, kembali ke diskusi kita, mana yang harus kita anut. Jawabnya sejauh mungkin, tentu kita berpatokan kepada Al Qur’an
      Wassalam

      Suka

  20. aburahat said

    @Agor
    Saya tidak membantah yang mas katakan bahwa setiap perceraian harus diikuti oleh idah. Mungkin mas salah tangkap maksud tulisan saya sebab cara saya menyusun kalimat tidak sistimatis.
    Saya katakan ada dua paham dalam pengertian cerai.
    1.Apabila sisuami pada satu masa mengatakan: Aku jatuhkan talak tiga padamu, maka dalam satu kali mengataka sudah talak dan siperempuan melaksanakan idah dan apabila sisuami ingin kembali maka siperempuan harus menikahi laki2 lain dulu. Dan sesudah ia dicerai baru bisa dinikahi lagi
    2.Apabila sisuami menjatuhkan talak tiga pada satu masa, itu dianggap baru mengucapkan sekali. Dan apabila mereka berbaik kembali mereka bisa langsung berhubungan sebagai suami istri jadi tidak ada idah pada ucapan cerai yang baru pertama kali diucapkan.
    Jadi menurut hadits tsb adalah:
    Hari ini sisuami katakan cerai berarti 1X
    Hari kedua sisuami katakan cerai berarti 2X
    Dan baru terakhir ia katakan aku cerai kamu 3X dan pada waktu ini idah berlaku. Mudah2an penjelasan saya lebih jelas. Wasalam

    Suka

    • haniifa said

      @Mas Aburahat
      Jadi cerai dulu baru iddah ?!
      Rasanya iddah dulu digenapi baru cerai, baik pertama kali, atau kedua kali bahkan yang ke tiga kali.

      Suka

    • agorsiloku said

      @ Mas Abu, kalau tidak keliru memahami ayat yang dirujuk, rasanya pilihan ke dua lebih tepat, pada ayat ke dua At Thalaq, pada akhir masa iddah dijelaskan lepaskanlah mereka dengan cara yang baik… Penjelasan ini mengkonsepsikan keputusan akhirnya justru menjelang akhir masa iddah atau kurang lebih 3 bulan. Sebuah ketetapan hati yang berproses panjang
      Terimakasih catatannya, saya menjadi lebih mengerti pula catatan Mas Abu
      Wassalam, agor

      Suka

  21. aburahat said

    @haniifa
    Masa idah ada 2 macam:
    Pertama, masa idah sebelum masuk talak tiga. Masa idah ini untuk menjaga jangan sampai talak tiga jatuh sedang siperempuan ada mengandung. Ayatnya QS 2:238 berbunyi:
    ” Dan para istri yang diceraikan menahan diri mereka tiga kali guru’ (haid). Tidak boleh menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahim mereka. Jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhir. Dan para suami mereka lebih berhak kembali pada mereka dalam masa itu, jika mereka menghendaki perbaikan dst……
    QS 2:239, ” Talak itu dua kali menahan dengan baik atau melepaskan dengan baik dst…..”

    Kedua, masa idah setelah talak tiga adalah demi akhlak.
    QS 2:232, ” Dan apabila kamu menceraikan istri2 kamu (talak tiga) lalu sampai masa idahnya (juga untuk mereka yang ditinggalkan suami), maka janganlah kamu halang2i mereka menikah lagi dengan calon suaminya dst….”
    QS 2:231, Dan apabila kamu menceraikan istri2 kamu, lalu sampai akhir idahnya, maka tahanlah mereka dengan cara yang baik. Dan jangan kamu tahan mereka dengan maksud mendhalimi mereka dst…..”
    Allah Maha Lembut dan Maha Bijaksana dalam mengatur hamba2Nya.
    Sebenarnya kita telah keluar dari topik yang dibicarakan oleh mas Agor. Tapi saya anggap penting karena sekarang terjadi talak tiga dalam satu kali ucapan dan itu berarti kita mengkufurkan ayat2 Allah. Kita tahu apa akibatnya mengkufurkan ayat2 Allah. Insya Allah kita tidak termasuk dalam golongan tsb diatas. Wasalam

    Suka

    • haniifa said

      @Mas Aburahat
      Betul sekali @mas kita memang harus sangat khawatir jika salah tafsir ayat-ayat Allah….
      Mohon maaf buat saya tidak membedakan permasalah talak, namun apapun itu talak tetap harus setelah masa iddah terpenuhi (min: 3 bulan)
      Mengapa harus masa iddah sebelum jatuh talak:

      Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka (baca: bin adalah nama bapak pendonor sperma/ayah kandung); itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS 33:5)

      Sehingga jika dijatuhkan talak sebelum habis masa iddah maka dikhawatirkan ayah angkatnya kufur pada ayat tersebut.

      Wassalam, Haniifa.

      Suka

    • haniifa said

      @Mas Aburahat
      (QS QS 2:239) “Dan para istri yang diceraikan menahan diri mereka tiga kali guru’ (haid). Tidak boleh menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahim mereka.
      Maksudnya si istri yang akan dicerai tidak boleh pura-pura haid selama 3x… sebagai bukti sang istri tidak melakukan perjinahan dengan orang lain.

      Dan lebih ditegasi oleh 2 ayat berikut(QS 2:231-2) Selesaikan masa iddah selanjutnya terserah jika mau menikah dengan orang lain.

      Wassalam, Haniifa.

      Suka

    • Anonim said

      @ Mas Abu, Mas Haniifa , assww
      Dari keseluruhan komentar, rasanya benang merahnya menjadi semakin jelas Juga kalimat penutup dari Mas Abu : ….saya anggap penting karena sekarang terjadi talak tiga dalam satu kali ucapan dan itu berarti kita mengkufurkan ayat2 Allah…
      dan Mas Haniifa dengan menggenapi satu paket dengan iddah.

      Ada yang menarik dari kalimat ini : .. mengkufurkan ayat-ayat Allah …
      Inilah yang memang begitu mudah terjadi ketika kita memahami AQ dalam kombinasi selera, pengetahuan, dan komparasi lainnya, sehingga petunjukNya ada dalam lingkup “keinginan kita”. Menjadi kufur bukan karena salah pengertian dalam usaha memahami dan menindaklanjuti ayat-ayat Allah, tapi kadang melakukan pemisahan, menurut si A dan B, atau menurut bahasa, sedang menurut AQ sendiri dibelakangkan. Namun, kalau keliru memahami, tentulah bukan kufur.
      Wass, agor

      Suka

  22. aburahat said

    @tanpa nama
    Benar saudaraku yang anda katakan, kalau keliru memahami bukan kufur.
    Tetapi saya yakin bahwa Rasulullah tidak keliru memahami firman2 Allah.
    Mari kita lihat apa yang dikatakan Rasul:
    an-Nasai, al-Qurthubi dan ibnu Katsir meriwayatkan: Sesungguhnya Rasulullah diberitahu bahwa ada sesorang menceraikan istrinya dengan tiga ceraian sekaligus, maka beliau berdiri dalam keadaan marah kemudian bersabda:” Apakah Kitab Allah dipermainkan, sedangkan saya masih di-tengah2 kalian” lalu ada seorang berdiri dan berkata: Wahai Rasulullah, tidakkah kita bunuh saja dia?
    (Sunan An Nasai’ 6/142; tahsir al Wushul 3/160; Tafsir ibnu Katsir 1/277 dan masih bayak lagi)
    Maka saya menganggap mereka mengkufurkan ayat2 Allah .Wasalam

    Suka

    • haniifa said

      @mas Aburahat
      Rasanya saya yang jauh dari perilaku Rasulullah tidak sampai harus menyarankan membunuh orang yang tidak sepaham.
      Aneh dunk jika sahabat mengusulkan pada Nabi Muhammad s.a.w “Wahai Rasulullah, tidakkah kita bunuh saja dia” 😛

      Suka

  23. websitedada said

    Aku yakin bahwasanya Hadits yang palsu ini dibuat oleh orang Belanda dahulu saat mereka menjajah bangsa Indonesia dahulu. Kurang ajar kau orang Belanda yang maha tolol.

    Suka

  24. aburahat said

    @Haniifa
    Mungkin anda merasa aneh seorang sahabat menyarankan baru menyarankan mas blm sampai membunuh tapi ada yang sampai membunuh anaknya. Kalau anda membaca buku2 sejarah para ahli sejarah Islam anda tidak akan heran.
    Apakah anda ragu terhadap para sejarawan Islam? Atau karena anda meyakini bahwa para sahabat selalu benar dan adil? Kalau tidak maka anda tidak perlu heran atas tingkah laku mereka pada jaman Rasul. Banyak Firman2 Allah yang menyebut mengenai sifat2 sahabat. Jadi tidak perlu heran mas. Wasalam

    Suka

    • haniifa said

      @Mas Aburahat
      Justru kita harus melihat sejarah hadits secara komprehensif, bagaimana jika sahabat yang mendengar hadits tersebut kebetulan sedang terjadi proses pelaksanaan hukuman mati terhadap tawanan perang dari pihak Yahudi, silahkan @mas cermati dengan seksama : “lalu ada seorang berdiri dan berkata: Wahai Rasulullah, tidakkah kita bunuh saja dia?”
      Kemungkinan :
      1. Dua hadits dari perawi yang sama dijadikan satu hadits.
      2. Orang yang berdiri bisa saja sedang diskusi tentang pelaksanaan hukuman dan tertunda dengan adanya pertanyaan dari sahabat yang lain.
      3. Ingat @mas, 2x kota Yerusalem diduduki oleh tentara Muslim sekali zaman Kalifah Umar dan kedua kali zaman Salahudin… dari keduanya tidak ada pertumpahan darah yang berarti.
      4. Begitu juga saat kota Mekkah berhasil kembali kepangkuan Islam… sejarah membuktikan tidak ada ceceran darah bukan.
      5. Mohon maaf @mas, Islam bukan drakula yang haus darah.

      Wassalam, Haniifa.

      Suka

      • haniifa said

        Catatan:
        Khalifah Salahudin Al Ayubi beliau hidup ratusan tahun setelah Nabi Muhammad s.a.w wafat, namun nuansa Islami dizamannya masih kental sebagai Agama yang welas asih.

        Suka

  25. aburahat said

    @Haniifa
    Mungkin anda benar. Saya katakan mungkin karena kita tdk berada disitu dan mungkin perawi juga benar, sebab tidak ada bantahan dari sejarahwan lain. Sedangkan anda bersaumsi Soal ini saya tdk mempunyai agrument yang kuat utk didiskusikan apalagi topik yang kita soroti adalah hadits palsu. Saya masukan soal saran membunuh karena merupakan satua kesatuan dalam tanda kutip. Saya memberi contoh cerai karena hadits dhaif menjadi hukum sedangkan Firman Allah dipermainkan/diabaikan. Wasalam

    Suka

  26. Blog haniifa,wedul,filar biru,dan saya….hati2….
    terhadap email berupa iming2…seperti ini :
    Notification!!

    You email address has made you a winner of

    £250,000.00Pounds by

    the microsoft award 2009 fill in below your names,

    address,sex, age, telephone, occupation.

    Regards
    Mr P. Griffin
    pinkettgriffin_pin009@btinternet.com

    ada yang main ama kita yang sering gencar di blog vila putih memerangi si Kafir

    Suka

  27. […] Sebagai muslim yang baik dan cermat maka kita harus mengutamakan Al Qur’an baru kemudian Al Hadits, dalam hal ini tentu yang saya sorot adalah keterangan (QS 4:171). Kekeliruan pertama adalah menambal sulam Hadits dengan cuplikan Surah Al Qur’an An Nisaa ayat 171. Kekeliruan kedua adalah bentuk kesengajaan pergeseran makna dari Isa Al Masih ibnu Maryam menjadi ROHULOH : Isa bin Maryam -> Kalam Allah Isa bin Maryam -> Kalimatuloh dan Roh Allah Isa bin Maryam -> Rohuloh Untuk menguak tabir tipu daya mereka maka harus diawali dengan mereview ulang (QS 4:171) secara komprehensif. […]

    Suka

  28. websitedada said

    Suatu hari aku beranjak pergi dari rumah ku yang menuju ke tempat guru spiritual ku yang bernama Arif Rahman Hakim. Lalu ku beritahu mengenai hadits palsu ini tersebut. Dan dia berkata kepada aku “bahwasanya aku tergolong salah satu murid nya yang sangat pitar karena bisa mengetahui mengenai hadits palsu tersebut.” Maka terima kasih amat kepada siapapun yang membuat situs hadits palsu ini, maka dari itu aku menjadi dipuji sang murid pintar oleh guru spiritual ku. Hore, aku pintar!.

    Suka

  29. Hamba Allah said

    Jangan mudah memvonis suatu hadits “palsu” jika anda bukan seorang muhadditsin . . .

    Suka

  30. benar…banyak hadits palsu (salah satu kriteria dari hadits dhoif) tersebar di negeri kita…populer lagi…diantaranya hadits, yg artinya, ” perbedaan diantara umatku adalah rohmat”…yang lain, yg artinya, ” ad-din adalah akal tidak ada ad-din bagi yg tidak menggunakan akal”…dan banyak ulama hadits telah memilah-milah mana hadits shohih dan mana hadits dhoif berdasarkan sanad dan matan, diantaranya syekh Albani…beliau mengumpulkan hadits dhoif dalam satu kitab, yg terjemahannya, ” Silsilah Hadits Dhoifah “…diantara ciri-ciri ahli sunnah adalah meninggalkan/tidak berdalil dg yg hadits dhoif…dan diantara ciri-ciri ahli bid’ah adalah berdalil dg hadits yg dhoif…dan al-islam itu adalah as-sunnah…dan as-sunnah adalah penerapan, tafsir, penjelas dari al-qur’an berdasarkan pentunjuk langsung dari Alloh, dan kita tahu as-sunnah hanya dari hadits yg shohih dan…tentu al-qur’an

    Suka

  31. AHMAD DZEIBAN BERKATA :Semua yang namanya hadist itu PALSU kecuali HADIST ALLAH yaitu AL-QUR’AN,kenapa semua hadist2 itu palsu?karena orang2 yang meriwayatkan hadist2 itu TIDAK PERNAH MELIHAT SENDIRI RASULULLAH BERKATA.mereka meriwayatkan itu hanya dari katanya fulan…katanya fulan…dan katanya fulan.semua yang meriwayatkan hadist2 itu hanya memakai DZAN[prasangka]padahal yang namanya DZAN itu sedikitpun tidak dapat dipakai untuk suatu landasan kebenaran/Al-haq.justu orang2 yang memakai dasar hukum kepada hadist2, baik itu hadist shahih,mutawatir,ahad,muttafaqun alaihi atau hadist maudhu’,mereka cenderung dan boleh disebut orang2 musyrik/fasik/kafir.kenapa demikian?karena ALLAH telah berfirman dibanyak ayat:”waman lam yahkum bimaa anzalallah fa ulaaika humul faasiquun,…fa ulaaika humud dzoolimun…fa ulaaika humul kaafiruun.artinya;”Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yg telah diturunkan ALLAH[AL-QUR’AN],maka mereka itulah orang2 fasik”….org2 dzalim…org2 kafir.dan msh banyak lagi ayat2 yang spt itu.apakah bagi mereka AL-QUR’AN TIDAK CUKUP?sehingga harus memakai hadist2 segala?.bukankah ALLAH telah berfirman didalam HADISTNYA?:”awalam yakfihim,annaa anzalnaa ilaikal kitaaba yuthlaa ilaihim…..apakah TIDAK CUKUP BUAT MEREKA,bahwa ssgghnya KAMI telah menurunkan kepadamu AL-KITAB yang dibacakan kepada mereka?dst…..dan kalo kalian yakin bahwa AL-QUR’AN itu tidak cukup untuk kalian,silahkan protes kepada ALLAH?sedangkan saya sudah merasa cukup dengan AL-QUR’AN,dan saya tidak mau ikut protes,karena saya takut kepada ALLAH.lantas mana KITAB AL-QUR’AN KALIAN?buka AL-QUR’AN,baca dengan seksama,hayati, fikirkan dan amalkan.firman ALLAH:”katakanlah:apakah ada sekutu-sekutu kalian yang bisa menunjukkan kepada AL-Haq/kebenaran,katakanlah:hanya ALLAH yang bisa menunjukkan pada kebenaran,apakah ALLAH yang menunjukkan pada kebenaran itukah yang LEBIH BERHAQ untuk diikuti atau orang yang tidak pernah tahu kecuali dia diberi tahu,lantas BAGAIMANA KALIAN MENGAMBIL KEPUTUSAN?”Q.S. YUNUS.ALLAH memulai ayat diatas dengan suatu pertanyaan yaitu Qul,HAL MIN SYURAKAA’IKUM MAN YAHDII ILAL HAQQI? dari kata syurakaa’ ini menunjukkan bahwa pelaku2nya adalah orang MUSYRIKIIN.dan orang2 musyrikiin itu hakekatnya tidak mengharap perjumpaan dengan Allah,”dan apabila dibacakan kepada mereka ayat2 KAMI dengan jelas,maka berkatalah orang2 yang tidak mengharapkan PERJUMPAANnya dengan KAMI”datangkan untuk kami QUR’AN yang lain dari yang ini atau GANTILAH yang ini dengan bacaan lain?”….dst Q.S.YUNUS.jadi jelas khan?bahwa orang2 yang memakai pedoman2 lain selain AL-QUR’AN mereka mayoritasnya ingin berjumpa kepada selain ALLAH sa’at dibangkitkan kelak.saya sering mendengar permohonan/doa mereka dimasjid2,bahwa mereka rindu ingin berjumpa dgn Rasulullah,rindu berjumpa dengan ABDULKADIR JAILANI,dll.inilah realita kenyataan buah dari apa yang mereka bilang HADIST.memang benar apa yang difirmankan ALLAH ;”dan tidak beriman kepada ALLAH sebagaian besar dari mereka kecuali dalam keadaan musyrik”Q.S.Yusuf.logikanya sedikit yg tidak musyrik dan mayoritas mereka adalah musyrikiin.mari kita kembali kepada HADIST ALLAH yang tidak ada keraguan didalamnya.dan tinggalkan hadist2 bikinan manusia yang penuh dengan keraguan dan membingungkan.saya ajak kalian kembali kpd ALLAH karena ALLAH telah menurunkan AHSANAL HADIISTI kpd kita semua.HADIST ITU AL-QUR’AN DAN AL-QUR’AN ITU HADIST. WASSALAAMU ALAA MANIT TABA’AL HUDA.DARI :AHMAD BIN JA’FAR DZEIBAN.Email:ptcentralinformasianda@yahoo.co.id

    Suka

  32. Anonim said

    Dgn menyebut nama Alllah yang meha pengasih lagi maha penyayang, tentang hadis lemah :
    contoh tentang tidurnya orang puasa. Tidurnya orang berpuasa bisa dikatakan ibadah jika jika niat istirahat tidur dari kepenatan pekerjaan, atau aktifitas lainnya yg diniatkan ibadah . bilam sejaroam tidur. demikian kang Mudah mudahan kita termasuk orang orang yang diberi petunjuk Allah, tidak mudah menyalahkan orang lain ,, aminn…

    Suka

  33. kang anton said

    kasihan orang2 yg gk brpikir kritis,dia akan gmpang percaya pada kalimat yg disamakan dgn hadist…liat sj orang2 yg jauh media dri informasi?mereka akan mudah di perdaya..

    Suka

  34. DEWA TIDUR said

    Yg tau memberitau yg tdk tau.

    Suka

  35. […] Hadits Populer Yang Palsu? « Sains-Inreligion31 Jan 2007 … Hadits palsu memang membahayakan dan menyesatkan. … Ass DEE…..saran saya, agar hadis palsu tidak mudah mampir ke diri kita…aku … […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: