Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Ada Aliran Sesat di Antara Kita

Posted by agorsiloku pada Agustus 4, 2010

Pertentangan terjadi kembali di Kuningan, berkisar soal Agama “Islam” – Ahmadiyah dengan warga setempat yang mayoritas bukan penganut aliran Ahmadiyah.

Sebelum dilanjutkan, perlu ditegasi bahwa tulisan ini tidak bermaksud melakukan evaluasi pada sistem nilai Ahmadiyah atau aliran keagamaan apapun,  apalagi memberikan saran untuk bertobat atau sejenisnya.  Namun, hanya bermaksud menerawang apa dan mengapa, semata dari sudut pandang pribadi dan sedikit bumbu keagamaan.

Yang Sesat Di Antara Kita.

Dalam soal kata “sesat” dan “menyesatkan”, selalu hadir dalam lingkungan kita.  Contoh sederhananya, yang melihat keindahan dunia adalah segala-galanya dan mengajak siapapun juga untuk datang pada keindahan dunia dan melupakan atau menghilangkan keyakinan bahwa kampung akhirat lebih baik terjadi setiap saat, setiap hari.  Tidak ada jedanya.

“Mereka” menganggap yang memiliki keyakinan agama  (baca : iman) adalah orang yang tersesat.  Sebaliknya pula, yang beriman akan menilai merekalah yang sesungguhnya tersesat.  Keduanya, dalam kadar tertentu berusaha berebut pengaruh untuk mengingatkan agar tidak saling “tersesat”.  Tentu saja tersesat dalam pengertian golongan masing-masing, dalam ranah berpikir kelompok, dalam ranah berpikir para pemukanya.

Yang susah dipahami adalah merasa benar di jalan sesat.  Namun, sekali lagi, tulisan ini tidak bermaksud menghakimi, hanya evaluasi versi sendiri saja.

Apa yang ditakutkan?

Apa yang kita takutkan jika anak kita, tetangga kita, saudara kita, atau isteri atau sahabat-sahabat terbaik kita memilih untuk memasuki dunia yang berbeda menurut kita.  Atau memasuki pilihan untuk sesat dan menyesatkan?.  Jelas dong, khawatir.  Kalau dari segi keimanan dan pertanggung jawaban kita, bagaimana pertanggungjawaban kita di depan Sang Maha Kuasa? dan sejumlah bla..bla…lainnya.

Saya ingin katakan, sebaiknya jauh-jauh saja dah…, agar hati menjadi tentram.  Persis seperti orang sakit jantung menyambut datangnya lebaran atau ramadhan dengan petasan !.

Pendek cerita, kekhawatiran ini mengkristal, mengelompok, dan berakhir dengan pengusiran kelompok besar kepada kelompok yang kebetulan menjadi minoritas.  Kalau minoritas ini cukup besar untuk melawan, maka sudah dipastikan pula akan terjadi adu kekuatan yang berujung pada berdarah-darah.

Peran Negara.

Meski secara teologi, saya tidak  sepaham dengan Ahmadiyah dalam semua versinya, namun juga saya juga tahu mereka adalah warga negara Indonesia yang hak-haknya sebagai warga negara dilindungi oleh hukum negara.  Artinya, tidak boleh ada maling yang dipukuli massa karena mencuri, tidak boleh ada yang dianggap sesat kemudian dihakimi oleh mereka yang menganggap dirinya benar.  Kalau negara membenarkan (artinya membiarkan kekerasan) terjadi antara sesama warga negara atau kelompok dengan kelompok lainnya, maka harus ada solusi yang arif agar tidak terjadi adu kekuatan tanpa payung hukum.

Solusi yang harus dibangun untuk ummat Islam yang kebetulan menjadi mayoritas terjaga dari kekhawatirannya atas infiltrasi yang jelas menganggu konsepsinya keagamaannya, sebaliknya pula dari pihak minoritas.  Kalau dinyatakan, sebenarnya tidak ada perbedaan, itu juga bukanlah fakta sesungguhnya.

Singkat kata, negara harus ambil peranan positip untuk mengambil keputusan yang disepakati atas nama hukum.  Mau demokrasi?, ambil suara saja !. Tapi, yang jelas, jangan biarkan konflik berkepanjangan dan berdarah-darah.  Karena, bagaimanapun, hanya negaralah yang seharusnya bertindak untuk dan atas nama kekerasan.  Kekerasan yang dipayungi aturan-aturan hukum.  Negaralah yang disepakati untuk melakukan tindakan kekerasan kepada warga negara lain.  Namun, tentu saja negara tidak boleh menutup mata terhadap kekhawatiran mayoritas atas infiltrasi atau yang dirasakan sebagai infiltrasi.

Tentu negara tidak berdiri sendiri, ada pemuka masyarakat, ada pemuka agama yang berkontribusi positif terhadap konflik yang bermuara pada ancaman keyakinan.

Peran pemuka agama.

Karena jelas konflik ini berhubungan dengan internal agama, dalam hal ini Islam, maka peranan pemuka agama, pemuka organisasi keagamaan, bersama negara harus memberikan kontribusi yang jelas bagaimana agar kejadian yang menimbulkan bibit-bibit pertentangan tak berkeputusan ini bisa dihentikan atau diminimalkan.  Tentu bersama Pemerintah.

Dialog boleh jadi menemui jalan buntu.  Kalau begitu harus jelas ada keputusan hukum untuk memastikan, bolehkan ada agama Ahmadiyah di bumi Indonesia sebagaimana agama-agama lain yang jelas perbedaannya sehingga sebagai warga negara bisa duduk bersama tanpa membahas lagi perbedaan antara keduanya atau konflik hanya dibahas bahwa mayoritas mengancam minoritas dan minoritas mengancam mayoritas!

Di sisi lain, mayoritas juga tentu mempertimbangkan hadirnya perbedaan-perbedaan (bahkan menjadi sangat berbeda) dengan keseluruhan kearifannya.

Selebihnya, tentulah di kampung akhirat nanti, Allah SWT memutuskan pilihan hambaNya.

22 Tanggapan to “Ada Aliran Sesat di Antara Kita”

  1. Sayah setuju @kang dengan “Namun, tentu saja negara tidak boleh menutup mata terhadap kekhawatiran mayoritas atas infiltrasi atau yang dirasakan sebagai infiltrasi.” sehingga sudah selayaknya pemerintah lebih proaktif menjembatani agar pendekatan dialogis lebih diutamakan sebelum “fihak ketiga” mencari kesempatan dalam kesempitan.

    Suka

    • agorsiloku said

      Saya merasa mayoritas yang mengancam adalah ancaman, minoritas yang menganggu keimanan mayoritas juga ancaman yang harus diwaspadai. Kepada anak saya, ketika dia akan kost di luar kota, saya diskusikan beberapa masalah yang berhubungan dengan “kaum yang ekstrim”, yang secara umum dinilai sesat dan mendiskusikan seksama bagaimana mereka mencari pengikutnya. Apalagi kalau ada pihak ketiga yang mencari kesempatan dalam kesempitan… lebih mengerikan lagi….

      Suka

      • Betul @Kang, tapi sayangnya ancaman itulah yang senantiasa kita waspada… justru kalau tidak ada acaman dikhawatirkan menjadi lalai, dan memang mengerikan kalau pihak ketiga tiba-tiba muncul dihadapan kita padahal kita dalam keadaan kurang waspada.😦

        Suka

  2. Kasus kekerasan dan tiadanya dialog seperti inilah yang seringkali saya khawatirkan.
    Menurut saya, salah satu cara untuk meredamnya ialah mendorong umat untuk terbiasa berdialog (bukan monolog) secara makruf dengan orang-orang yang kita pandang sesat. Malah, mungkin kita perlu lebih banyak mendengar daripada mengkhotbahi orang yang kita anggap sesat. Sebab, keberagamaan manusia pada umumnya bersifat emosional, bukan rasional. Contohnya, dari kasus-kasus murtad yang sudah saya amati, hampir semuanya disebabkan oleh karena mereka merasa kurang dihargai di dalam Islam. Hanya sedikit sekali yang murtad lantaran meyakini sesatnya ajaran Nabi Muhammad.

    Suka

    • @Mas Muhsodiq
      Murtad bukan tidak dihargai oleh ajaran Islam, melainkan manusia emosional yang rasional (atau rasional yang emosional :D) dimana tingkat rasionalismenya rendah sehingga pada dirinya mengabaikan nilai-nilai luhur dalam keberagamaan, lebih tepatnya kurang mensyukuri atas ni’mat Allah yang telah diberikan kepada manusia yang murtad tersebut.

      Suka

      • @ haniifa
        Ada perbedaan antara “merasa kurang dihargai” dan “kurang dihargai”.
        Yang saya kemukakan ini merupakan masalah psikologi dakwah, bukan teologi.

        Suka

      • @Mas M Shodiq Mustika
        “merasa kurang dihargai” pastinya khususnya bersifat seputar personality, amaluna wa amalukum dong , sayah kok hampir jarang menemukan kasus wts (maaf) atau seorang pemabuk jadi murtad hanya gara-gara tingkah laku mereka.
        “kurang dihargai” yup… mungkin kita merasa lebih “suci” atau lebih hebat dari mereka… duh…😦

        Suka

      • @ haniifa🙂 Terima kasih atas masukannya. Saya jadi teringat bahwa kalangan yang “merasa kurang dihargai” yang lebih mudah murtad itu (dalam pengamatan saya) adalah yang dalam konteks agama dan berpengharapan tinggi untuk dihargai. Walau merasa kurang dihargai, wts pada umumnya tidak terlalu berharap untuk dihargai, terutama dalam konteks agama.

        Suka

      • @Mas M Shodiq Mustika
        Kembali kasih @mas…
        Menurut sayah lho yang “Islam ala Islam”😀
        1. Al Qur’an mewajibkan kita menghormati kedua orang tua kita, apapun jenis pekerjaanya kecuali mengajak murtad dari Islam, maka jauhila mereka dengan cara yang baik dan benar.
        2. Islam mengajarkan supaya mendahulukan IBUMU, IBUMU, IBUMU… (maaf) walaupun dia seorang ibu yang berprofesi WTS.
        3. Saya kira tidak ada satupun wanita didunia ini seorang ibu yang berprofesi wts (maaf) mengaharapkan anaknya berprofesi sama, kecuali ibu edan kali yah…:mrgreen:

        Silahken @Mas baca “Islam ala Kristen”, bagaimana tanggapan mereka terhadap janda-janda yang berprofesi seperti itu… duh…😦

        http://jelasnggak.wordpress.com/2010/07/13/dimana-pria-pria-muslim-itu/

        Suka

    • agorsiloku said

      Kita memang khawatir dan dialog adalah salah satu jalan untuk memutuskan bahwa kita memahami perbedaan. Namun tentu juga kita berhadapan pada fakta, bahwa perbedaan bukan untuk dijembatani, bukan untuk disatukan, bukan untuk dan lain sebagainya, tapi bagaimana agar kehidupan bernegara tidak berdarah-darah. Ini harus jadi komitmen yang seharusnya melibatkan banyak pihak, khususnya pemuka agama, pemuka birokrasi, dan aturan-aturan yang ditegakkan di wilayah-wilayah konflik.

      Kalau mengenai murtad dan sebaliknya… wah.. rasanya kita akan panjang ya sebab akibatnya. Di sini ada pilihan manusia dalam prosesi keberimanan dan mencari (dan menemukan) siapa Sang Pencipta. Kisah yang dikisahkan AQ tentang orang yang mengingkari bertebaran untuk menjadi pelajaran untuk kita, termasuk ketidakberdayaan kita sebagai ummat.

      Suka

      • 😀
        Nggih @Mas, sayah seh hanya mengingatkan @Mas Shodiq bahwa murtad itu bukan tidak dihargai oleh agama dan sayah setuju kita tidak membahas perihal ini, yang jelas murtad itu berlaku bagi orang yang pernah mengikuti ajaran Agama Islam.

        Mengenai perbedaan dan dialog, apa pendapat @Mas Agor

        Abdul Masih said 57 minutes ago:

        @Wedul Sherenian
        Ingat mas, membunuh orang tanpa alasan yang benar itu diharamkan oleh Allah.
        ===========================
        Saya setuju 100% dengan pendapat anda ini !!!

        Harusnya disampaikan khalifah Alqadir,
        sayang beliau sudah wafat,
        tapi mungkin nafas “asal beda harus ditumpas” masih ada😦

        Anda tahu kan Allah pernah menurunkan Taurat,Zabur dan Injil===>apakah ke3 Kitab itu qadim?. Apakah AQ meniru ke3 Kitab sebelumnya 100%

        ================
        Konsep pewahyuan menurut iman kristen dan Islam mengenai kitab Taurat, Zabur dan Injil
        walaupun namanya sama tapi
        sangat berbeda !

        Soal percaya atau tidak , pilihan masing2
        “Tidak ada paksaan dalam beragama”

        @Cekix
        Baca kamus !! Gitu aja koq repot …..

        Males nanggapi Anda, orang yang suka maki2, kelihatan banget mutunya !
        ———————————-

        You (Haniifa) said 43 minutes ago:

        @Mas Abdul Masih
        Wahh… sepertinya sampean sendiri tuhh yang harus belajar banyak kembali soal sejarah dan Agama Islam.

        Harusnya disampaikan khalifah Alqadir,
        sayang beliau sudah wafat,
        tapi mungkin nafas “asal beda harus ditumpas” masih ada😦


        Astaghfirullah, saya sungguh tidak yakin kalau seorang Khalifah Islam tidak tau bunyi makna yang tersirat dan tersurat dalam ayat berikut:

        إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّى
        Inna sa’yakum lasysyata
        sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.

        Sampean beragama Islam toch ?!:mrgreen:

        Sayah tidak mengatakan perbedaan itu harus disatukan, tapi setidaknya pemerintah bisa “menjembatani”, terserah apapun bentuknya setidaknya ketegasan.

        Suka

      • agorsiloku said

        Mengenai perbedaan dan dialog, apa pendapat @Mas Agor.
        Agak kurang paham Mas Haniifa, khususnya yang dikopi pais, saya tidak tahu awalnya dari postingan mana. Sy cari di blog Mas belum ketemu lho.
        Namun, sy coba tanggapi diskusi Sherenian, Abdul Masih. Kalau soal usaha manusia berbeda-beda (QS 92:4), tentu saja. Kalau sama, ya siapa jadi kuli dan majikan, siapa pula yang swasta dan pns, yang da’i dan yang ustad….

        Kalau soal kitab, khususnya Zabur, Taurat, dan Injil disebutkan berkali-kali dalam Al Qur’an. Konsepsinya awalnya tentu sama, namun perbedaan adalah menyikapi, mengingkari, mengubah-ubah, dan yang esensinya disebutkan oleh Al Qur’an dengan kata “melampaui batas”. Perbedaan yang jelas cukup banyak referensinya untuk dilacak, khususnya jika mempelajari sejarah Nasrani dan Kristen. Sejumlah perbedaan itu diisyaratkan oleh Allah untuk ditegasi pada waktunya. Waktu yang dinanti itu, dipahami di akhirat. Perselisihan pandangan ini, bisa jadi kita (manusia) menanggapnya kecil, tapi besar di sisi Allah (QS 24:15). AQ adalah kitab yang secara khas menegasi perbedaan-perbedaan ini dan menjelaskan, yang menurut saya tegas dan terbuka. Sesuatu yang jelas tidak ada tempat sama sekali untuk dipersatukan. Karena itu, menjadi tepat kata :bagimu agamamu….

        Kalau sejarah Khalifah Islam, Al Qadir Billah, sy tidak tahu maksudnya dalam konteks apa. Tapi yang jelas, sy nggak hafal soal sejarah.

        Mengenai … perbedaan.. setidaknya ketegasan. Ya, ketegasan, khususnya dalam konteks ketika perbedaan dalam memahami agama menimbulkan peristiwa berdarah-darah.

        Lalu kembali lagi kepada diskusi kita : Mengenai perbedaan dan dialog, apa pendapat @Mas Agor.
        Dialog diperlukan untuk “mengamankan” posisi masing-masing sebagai warga negara, dialog soal perbedaan adalah untuk saling memahami. Tapi, memahami dalam Islam, bukan untuk tawar menawar dalam soal akidah.

        Toleransi juga bukan untuk menjual dengan harga sedikit.

        Wah… jadi kepanjangan ya Kang…

        Suka

      • @Mas Agor
        Duhh… mohon maaf @Mas, sayah lupa kopi pais dari my dashboard, sumber artikelnya ini.

        Insya Allah, secara keseluruhan sayah sependapat dengan @mas Agor, namun yang ingin saya garis bawahi adalah mengenai:
        Karena itu, menjadi tepat kata :bagimu agamamu….
        Mengenai … perbedaan.. setidaknya ketegasan. Ya, ketegasan, khususnya dalam konteks ketika perbedaan dalam memahami agama menimbulkan peristiwa berdarah-darah.

        Inkontek, contoh satu: kasus FPI vs Ahmadiyah ada dalam koridor Agama Islam sehingga sudah kewajiban penguasa untuk “menjembatani” seluruh petingginya, ormas atau individu yang benar-benar faham aqidah Islam dan pemerintah harus jelas juga tegas bahwa diluar ISLAM sama sekali tidak boleh ikut riung rembug baik secara langsung maupun tidak langsung.

        Suka

      • agorsiloku said

        Ketegasan yang umumnya dikehendaki mengenai Ahmadiyah adalah, lepaskan label Islam, jadi AGAMA AHMADIYAH, sehingga tidak dirasakan oleh ummat Islam sebagai kelompok yang membangun rumah (mendirikan jemaat Ahmadiyah) di atas rumah yang sudah dibangun (Agama Islam).
        Ini telah dibahas dalam berbagai varian diskusi, logis dan wajar, karena dalam Islam, memang tidak pernah ada baiat kepada : “Imam Mahdi dan Al-Masih Al-Mau’ud”

        Paling tidak, mengakhiri peristiwa berdarah-darah yang telah di mulai sejak berakhirnya Perang Dunia ke I di negeri ini….

        Suka

      • Demikian juga ketegasan kepada fihak “FBI” masak melakukan sweeping warung dibulan ramadhan,… duh kesian mbok warteg yang sudah janda dan ngurus anak banyak, mereka kerepotan dah…😦
        Sayah kadang-kadang suka berpihkir, memangnya kanek-nenek, anak kecil dan non islam atau orang yang sedang dalam perjalanan semua dipaksa wajib puasa gituh ?!😀

        Suka

      • kasus Ahmadiyah tidak lepas dari konsep Islam Mesiah:mrgreen:.

        Umat Islam dininabobokkan oleh konsep ini, sehingga mereka tidur diatas AQ, sambil mimpi.

        Suka

      • agorsiloku said

        dan tidak lepas dari Mr. Sir….😀

        Suka

      • Umat Islam tidak pede dengan AQ mereka, dan lebih suka menunggu Mesiah mereka:mrgreen:.

        Suka

      • @Mas Wedul Sherenian
        Keberhasila infilterasi dari rekan sejawat semacam ini, kaleee.. hehehe

        Suka

      • Sayangnyah <a href="http://muhshodiq.wordpress.com/2010/08/05/kisah-nyata-pemurtadan-yang-gagal-senjata-makan-tuan/comment-page-1/#comment-46084"ufilterasinyah tidak tidak datang..:mrgreen:

        Suka

      • Sayangnyah ufilterasinyah tidak tidak datang..:mrgreen:

        Suka

  3. […] Sesat di Antara…حَنِيفًا on Ada Aliran Sesat di Antara…حَنِيفًا on Ada Aliran Sesat di Antara…حَنِيفًا on Ada Aliran Sesat di Antara…Wedul Sherenian on Ada Aliran Sesat di […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: