Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Yuk Kita Ubah Takdir ?.

Posted by agorsiloku pada September 12, 2007

Nabi Khidir dikisahkan membunuh seorang anak yang apabila kelak si anak itu sudah besar akan dapat mendorong orang tuanya menjadi sesat. Peristiwa ini diceritakan kembali dalam Al Qur’an (Al Kahfi 66-82). Allah mengganti dengan anak yang shaleh.

Pelajaran apa yang bisa kita tarik dari kisah kejadian ini, setidaknya saya memahaminya begini :

  1. Hidup dan mati, jelaslah ketentuan Allah –> Anak itu kalau besar bakal mendorong orang tuanya sesat.
  2. Kejadian itu anak itu mendorong orang tuanya sesat tidak terjadi, karena dalam perjalanan anak itu, Allah telah memberi petunjuk kepada Nabi Khidir untuk memutuskan perjalanan si anak itu–>si anak masih suci kan?, menjadi masuk surga kan?. Insya Allah. Orang tua anak itu tidak sesat kan?, karena perjalanan hidupnya di potong karena dibunuhnya si anak. Artinya : pilihan takdir orang tua sesat berubah menjadi orang tua yang tidak tersesat. Jadi jelas kan, takdir adalah sebuah pilihan dari sejumlah pilihan yang mungkin terjadi.

“Enak saja menyimpulkan begitu. Situ emang baca dari tafsir apa seeh?.”

“Hmmmm, apa nggak ingat bahwa :

QS 48. Al Fath 23. Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu.

Tiada akan menemukan perubahan bagi sunatullah itu dalam pemahaman saya bukan berarti tidak berubah. Hanya kemampuan kita dengan qadla dan qadar kita, akal kita tidak mampu melihat perubahan yang terjadi. Apakah Allah akan mengubah atau tidak, itu adalah ilmuNya. Membatasi pikiran kita dengan menyatakan tidak ada perubahan bisa juga berarti membatasi pengertian maha berkehendak.

Kembali ke topik, anak yang dimatikan oleh Nabi Khidir itu menjelaskan bahwa “masa depan” adalah tertentu dan juga bisa berubah. Kalau kita bermain catur, mungkin pengetahuan dan ilmu kita akan mendeteksi 3 – 10 langkah ke depan, selebihnya rumus menjadi terlalu rumit dan sangat kompleks karena terlalu banyak kemungkinan untuk mendapatkan komposisi yang paling mungkin. Tapi tentu ini tidak bagi Allah. Kita tidak bisa merumuskan apa yang akan kita lakukan esok hari dan pada jam berapa kita akan makan siang atau minum seteguk air. Namun, seluruh kombinasi yang akan terjadi di masa depan dari seluruh rancangan gerak manusia tentu akan mudah dideteksi oleh Allah bukan hanya untuk hari esok, tetapi jua ketika waktunya mati. Bukan hanya satu manusia, tapi juga seluruh alam semesta dan segala isinya. Karena itu, sudah jelaslah siapa yang akan masuk surga dan neraka. Termasuk juga kehendakNya ketika melakukan perubahan.

“Lho, kok jadi rumit begitu. Kematian anak itu juga kehendakNya kan, takdir juga kan?”

“Ya .. iya lah… Namun, jangan kita membatasi juga bahwa itu hanya pada kisah itu. Apakah hal serupa sebenarnya terjadi setiap saat, tidak hanya satu-satunya. Tidakkah kita diberi tahu bahwa Allah senantiasa dalam kesibukan. Dia tidak tidur dan berkuasa atas segala sesuatu?”.

“Oke.. kalau takdir itu adalah sebuah pilihan, bisa kah kita mengubah takdir”.

“Maksudnya kita bisa berubah jadi cahaya atau berubah jadi jin 😀 ?”

“Nggak lah, kita ditakdirkan dalam satu pilihan sesuai dengan ukurannya. Kita kagak mampu mengubahnya. Yang bisa kita lakukan adalah membuat pilihan-pilihan atas sebagian dari takdir-takdir yang sedang kita jalani. Jadi ingat sebuah kisah kenabian ketika ada yang bertanya, mengapa Nabi yang saat itu berdiri di sebuah dinding yang akan runtuh, lalu nabi berpindah tempat. Kepada sahabat yang bertanya, nabi jelaskan bahwa beliau berpindah dari satu takdir ke takdir yang lain. Artinya beliau tidak mau dikenai takdir tertimpa batu yang jatuh karena gravitasi, dan berpindah ke takdir selamat dari marabahaya.”

“Jadi, gimana dong dengan bilang. Ya.. itu memang sudah takdirNya?”

“Ya begitulah… kalau itu sebagai ungkapan kepasrahan, tentu sebaiknya dipahami begitu. Tapi kalau itu sebagai keinginan untuk tidak mau memilih takdir (takdir yang lebih sesuai baginya), maka sebenarnya orang ini lagi malas saja berusaha. Berusaha artinya mengambil pilihan takdir. Gitu maksud saya.”.

“Kan Allah juga yang berpesan, tidak akan Allah mengubah satu kaum, sebelum mereka mengubah nasibnya sendiri”.

“Jadi harus usaha?”

“Ya iyalah”.

“Lalu, bisakah takdir berubah?”

“Ya bisalah… buktinya, Nabi Ibrahim tahan terhadap panasnya api. Api menjadi dingin !. Namun, soal prosesnya, kita tidak diijinkan untuk melihat/mengamati perubahannya. Ini mujizat namanya. Ini pun ketika kita mendefinisikan takdir sebagai perubahan hukum dan diganti ke hukum yang lain”.

Paling nggak, itu yang saya pahami ketika Mas Spitod mempertanyakan di blognya mas Ari.

“Kalau dalam sunatullah, tentu saja yang ada adalah kita melakukan pilihan-pilihan atas takdir yang kita terima. Seperti kisah kenabian tentang berpindahnya nabi dari satu takdir ke takdir yang lain”.

“Lalu bagaimana dengan qadla dan qadar. Ketentuan dan ukuran?”

“He eh… 😦 , positioning ini dalam pikiran agor seeh itu ukuran dari jumlah rejeki, jumlah umur, jumlah lain-lain adalah ketentuan yang diberikan pada kita, tentu tanpa kita kehilangan hak untuk memilah dan memilih takdir yang diberikan pada kita”.

Dengan kata lain, tentunya pilihan ini adalah rahmat dan petunjuk untuk mengambil peran sesuai dengan ukuran yang diberikan pada kita.

Jadi, sebenarnya ada berapa pilihan yang mungkin terjadi ketika memilih kehidupan. Apakah gambaran orang tua yang anaknya dimatikan oleh Nabi Khidir itu sebuah kejadian atau kemungkinan kejadian (belum terjadi) sehingga Allah memutuskan untuk memotong jalur kejadian itu menjadi kejadian yang lain?.

Sepertinya kejadian itu adalah kejadian yang akan terjadi. Allah kan tidak menggunakan ilmu statistik, tapi definitif bahwa kejadian dari setiap langkah manusia itu akan berakhir begini dan begitu. Definitif, sehingga gambaran totalitas kejadian akan terbentuk. Tidak pakai probabilitas. Itu ilmuNya. Kejadian itu, diubah oleh Allah karena kehendakNya untuk menggantikan dengan anak yang lain, yang lebih sholeh. Dan kehadiran anak sholeh itu akan membuat kejadian orang tua sianak menjadi begitu.

“Wah.. bingung.. Jadi sewaktu Nabi melihat neraka dan orang-orang yang disiksa di neraka, itu sebuah kejadian (sudah terjadi) atau akan terjadi atau akan begitu kejadiannya. Apakah itu sebuah kejadian masa depan yang dilihat oleh Nabi atau kah sebuah kejadian yang sudah terjadi dan dilihat Nabi ketika Nabi bergerak ke masa depan?”.

Seperti teori relativitas dan segala embel-embelnya?

“Tapi itu juga semua sunnatullah kan, taqdirullah?”

“Iya… iya… cuma tetap kita musti bedakan juga kan..” Sunnatullah dunia dan sunatullah akherat kan beda. Hukum-hukum semesta yang berlaku di dunia ini ya berbeda dunk dengan sunnatullah di alam kubur dan akherat. Hukum fisika di sana berbeda dengan hukum fisika di Surga atau Neraka. 😀

Jadi taqdirullah itu apa dong?.

Ya itulah… hukum semesta, hukum alam (dalam bahasa sekulernya gitu).

“Oke deh… Terus kalau orang mati bunuh diri?, apakah dia berdosa karena itu sudah takdirnya?”

“Lho … piye toh Mas… Mati bunuh diri itu, kematiannya adalah takdir sudah tentu. Cara matinya adalah pilihan untuk memenuhi takdir kematian.”

“Jadi, kalau ia tidak bunuh diri piye?… Bakal tetap hidup?”

“Ya… enggak lah. Dia mati juga, cuma alasan matinya yang berbeda”

“Lalu, mengapa manusia dihukum (berdosa) karena pilihan yang disediakan olehNya?”

Lho, manusia itu diilhamkan jalan kebaikan dan kefasikan untuk diuji.?

Kalau dia memilih pilihan takdir yang berdampak buruk, ya itu karena pilihannya. Jika pilihan takdirnya berdampak baik, ya itu karena pilihannya juga. Jadi wajar dong, manusia dikenai pahala dan dosa karena pilihan takdirNya.

Kalau begitu, saya ingin dong masuk pilihan yang baik?

“Hmm… pertanyaan yang menunjukkan hidayah sedang turun kepada Anda 😀 “

Iklan

30 Tanggapan to “Yuk Kita Ubah Takdir ?.”

  1. Quantum said

    Nabi khidir mengetahui masa depan ada beberapa kemungkinan.
    1. Diberi petunjuk Allah tentang masa depan.
    2. Beliau hidup di segala zaman ( makhluk yang bisa berjalan melintasi waktu ), karena saya pernah membaca , Nabi khidir tetep ada sampai sekarang, agak mengandung unsur mitos sih, barangkali ada rekan yang pernah tahu hal tsb. (Ada 2 kemungkinan, A. umur panjang, B. Melintasi perjalanan waktu ).

    Saya sepakat dengan pak Agor, takdir adalah kompleksitas yang rumit segala kemungkinan yang sudah diprogram sebelum penciptaan, baik unsur jasad, ruh, ghaib dan semua makhluknya, dan ilmu kita dibatasi tidak tau perubahan tadi. Akan tetapi karena Allah Maha berkehendak, maka ditengah perjalanan program tadi, Turunnya campur tangan dalam merubah takdir sangat besar terbuka kemungkinannya. “Idem, sepakat 🙂 “.

    hal ini juga tidak bertentangan dengan Allah tidak merubah nasib suatu kaum jika kaum itu sendiri tidak merubahnya.

    Tetapi perlu diingat Allah juga Yang membolak balikkan hati,alias permainan switch kemungkinan tadi untuk makhluk2nya. Jadi usaha kita juga berhadapan dengan variable kemungkinan disekitar kita. Jadi tidak bisa kita sombong mengatakan berhasil karena usaha kita, ataupun sesat karena disesatkan Allah.

    @
    Yap… saya belum dapat penjelasan Nabi Khidir itu manusia berumur super panjang ataukah nabi pada suatu massa. Switching Allah pada hati manusia juga … kali disikapi karena kepasrahan dan keakuan kita yang karena do’a dan salamnya ‘membukakan’ pintu rahmatNya. Melintasi perjalanan waktu mengikuti teori kuantum… 😀

    Suka

  2. aricloud said

    Assalamu’alaikum

    Mas agor, kelihatannya ada sedikit perbedaan nih dengan mas…

    Setiap manusia dan seluruh kehidupan ini, sudah memiliki alur yang sempurna. Alur tersebut akan berjalan dengan sempurna hingga hari akhir nanti. Namun manusia itu sendiri tidak mengetahui bagaimana alur itu akan terjadi. Alur tersebut terbentuk karena Kehendak Allah SWT dan dengan Kehendak-Nya pula lah Allah berhak untuk memutuskan apakah kehendak manusia akan dijadikan pertimbangan dalam alur tersebut.
    Allah SWT memberikan akal kepada manusia dan membakukan sunnatullah pada alam semesta agar manusia mampu berpikir. Oleh karena itu agar sunnatullah berjalan dengan sempurna, maka proses sebab akibat senantiasa diikutkan dalam setiap kehendak-Nya.
    Sehingga kehendak Allah SWT terhadap manusia sebenarnya cerminan dari kehendak manusia itu sendiri. Hal ini adalah agar sunnatullah senantiasa terpelihara. Akan tetapi kehendak manusia hanyalah bersifat semu. Allah SWT hanya memperlihatkan kehendak mutlak-Nya pada mukzizat-mukzizat yang diberikan pada manusia.
    Jika seseorang berkehendak untuk minum, maka seluruh anggota tubuhnya bergerak untuk melakukan “minum”. Allah mentakdirkan seluruh anggota tubuh orang itu untuk mengikuti kehendak orang tersebut. Jika seseorang berkehendak mengangkat tangan, maka dengan ijin Allah tangannya terangkat mengikuti kehendak orang itu, itulah sunnatullah. Kalaupun tiba-tiba tangan orang tersebut tidak bias digerakkan, maka proses tidak bisa bergerak itupun memiliki kaidah sebab akibat yang sangat detail yang juga sunnatullah.
    Seseorang menuang air, maka air jatuh karena gravitasi bumi. Gravitasi bumi pun ada karena hukum sebab akibat lainnya, dst…
    Tidak mungkin seseorang menuang air tiba-tiba airnya jatuh ke atas tanpa sebab akibat yang jelas, kecuali mukzizat yang dikaruniakan Allah pada sedikit hamba2-Nya. Semua hukum sebab akibat tersebut memiliki alur yang sangat kompleks namun jelas dan detail.
    Demikian juga Takdir Allah.
    Allah Maha Berkehendak pada hamba-Nya, namun Allah SWT juga Maha Adil atas kehendak hamba2-Nya. Kehendak Allah SWT tidak serta merta mematikan kehendak manusia.
    Artinya, segala kehendak manusia yang telah terjadi, maka itu jugalah Kehendak Allah SWT. Namun kehendak manusia yang belum terjadi, maka belum tentu Allah SWT juga berkehendak demikian.
    Sehingga jika seseorang berkehendak berjalan ke depan dalam kondisi normal, maka seluruh tubuhnya akan melakukan proses bergerak ke depan. Proses bergerak ke depan hanya berlangsung karena kehendak Allah SWT. Namun seseorang tidak bisa berdalih ”Saya bergerak ke depan karena disuruh Allah”. Kalaupun dia berkehendak bergerak ke depan, namun Allah berkehendak tubuhnya bergerak ke belakang, maka pasti Allah juga menciptakan sebab akibatnya, misalnya karena tidak normal, syaraf-syaraf orang itu sudah rusak.
    Seluruh kehendak manusia hingga hari akhir, sudah diketahui oleh Allah SWT. Dan seluruh kejadian hingga hari akhir sudah diketahui dan diputuskan oleh Allah SWT.
    Mengapa saya membedakan antara : 1. kehendak dan 2. kejadian ?
    Hal inilah yang mendasari pengertian saya tentang kisah Nabi Khidir.

    Mari kita coba simak :

    QS Al Kahfi : 79-81 :

    79. Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan Aku bertujuan merusakkan bahtera itu, Karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.

    80. Dan adapun anak muda itu, Maka kedua orangtuanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran.

    81. Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).

    Dalam surat Al Kahfi tersebut, sama sekali tidak diceritakan tentang ”Masa Depan”
    Akan tetapi Cuma ”potensi kehendak”.
    ”.. Karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera..”
    Ayat ini tidak memberitakan masa depan, namun justru memberitakan kondisi saat itu, dan tindakan preventif nabi Khidir. Artinya, Allah SWT memang tidak pernah mentakdirkan bahtera itu akan dirampok. Tindakan nabi Khidir semata-mata untuk melengkapi sunnatullah dari alur takdir yang sudah direncanakan hingga hari kiamat.

    Bagaimana jika nabi Khidir tidak membolongi perahu? Apakah bahtera itu akan dirampok? Nah, seperti yang sudah saya tulis dalam blog saya, pertanyaan ini juga tidak perlu ditanyakan, karena kasus pembolongan perahu oleh Nabi Khidir pun sudah menjadi Takdir dan bagian dari alur skenario Takdir Allah SWT. Jadi tidak mungkin nabi Khidir tidak membolongi perahu.

    Demikian juga anak muda yang dibunuh nabi Khidir. Ayat tersebut tidak menjelaskan bahwa anak tersebut akan membuat orang tuanya sesat, namun hanya ”khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya kepada kesesatan”

    Jadi hanya menjelaskan adanya ”potensi kehendak” dari anak kecil tersebut, bukan kejadian alternatif lain di masa depan yang diberitakan pada nabi Khidir.

    Jika seseorang bunuh diri, maka memang demikianlah takdir orang itu. Dan orang itu memperoleh dosa akibat kehendak bunuh dirinya itu. Allah SWT berkehendak mutlak akan terjadinya bunuh diri tersebut karena Allah SWT juga sudah mengetahui bahwa orang tersebut akan bunuh diri.

    Adapun orang yang tidak jadi bunuh diri, memang takdir orang itu tidak jadi bunuh diri.
    Akan tetapi fakta yang sudah terjadi bahwa seseorang telah mati karena bunuh diri tidak bisa dipertanyakan lagi apakah jika dia tidak bunuh diri maka ia juga tetap akan mati dengan cara lain? Karena Takdir menjadi satu paket dengan sebab-akibatnya. Seseorang ditakdirkan mati pada suatu waktu juga disertai takdir sebab-akibatnya.

    Allah SWT menciptakan takdir kematian, rezeki, dan sebab akibatnya karena didahului ke-Mahapengetahuan Allah akan kehendak manusia dan pilihan-pilihan yang akan dipilih manusia bahkan sebelum manusia itu diciptakan.
    Artinya, Allah SWT lebih tahu terhadap kehendak kita besok (dimasa depan) dibandingkan kita sendiri.

    Jadi, Takdir itu tidak bercabang, melainkan alur yang sudah memiliki kepastian. Tetapi adalah hak Allah SWT bahwa Alur takdir tesebut sudah dirancang dengan mempertimbangkan kehendak manusia yang sudah diketahui-Nya, sehingga manusia tetap bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya.

    Wallahu’alam bish showab.

    Pembahasan takdir merupakan hal yang sangat rumit dan beresiko, akan tetapi menurut saya yang terpenting bagi kita adalah bagaimana kita mencoba memahami iman kepada Takdir tanpa beresiko melanggar aqidah yang substantif. Selama pemahaman tersebut mengajak kita pada keimanan yang lebih tinggi. Mudah-mudahan Allah SWT ”dulu” telah menciptakan alur Takdir yang baik untuk kita karena keinginan dan kehendak kita ”saat ini” untuk berfastabiqul khairat. Amin

    (komen saya ini juga saya jadikan postingan di blog saya mas…)
    http://aricloud.wordpress.com/2007/09/12/mengubah-takdir-jilid-2-2/

    @
    Sip deh… saya senang komentar panjang yang memang cocok menjadi sebuah postingan. Potensi kehendak adalah ukuran-ukuran dari qadla dan kadar. Kejadian adalah terlaksananya suatu potensi kehendak. Terputusnya potensi kehendak menjadi kehendak yang lain (anak itu dibunuh) adalah pilihan atas takdir yang ditentukan oleh Allah Swt.
    Secara prinsipil, saya tidak menemukan perbedaan pemahaman, termasuk juga alur takdir. Saya membahasakan dalam postingan : Ilmu Allah nggak pakai statistik. Namun, saya menegasi, potensi kehendak yang terjadi adalah sebuah pilihan atas takdir yang dijalani manusia (diputuskan pelakunya) sesuai dengan potensi kehendak (kadar) dari manusia itu sendiri yang telah ditetapkan Allah…

    Alur takdir tidak bercabang, dan kita tahu bola yang dilempar tergantung sudut lemparan dan tenaga yang tercurah pada bola itu untuk menentang gravitasi. Berapa banyak lintasan bola yang mungkin terjadi?. Secara matematis potensi (energi) yang tercurah pada bola dan sudut lemparannya menentukan dimana bola akan jatuh dari titik sasaran. Nah.. pilihan takdir, saya jelaskan dalam konsep ini. Namun, saat kejadian, tentu hanya satu lintasan yang dipilih bola itu.

    Kira-kira begitu. Dari sini, rasanya kesamaan akan lebih tampak. Dan kalaupun berbeda, tentulah kita sedang mengasah rahmat ciptaan Allah yang luar biasa : “kemampuan akal” 😀

    Suka

  3. aricloud said

    Sedikit tambahan dasar pemikiran:
    Apakah kamu tidak mengetahui bahwa Sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah Kitab (Lauh mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.
    QS. Al Hajj : 70

    Kata “apa saja” (dalam terjemahan lain “segala sesuatu”) di langit dan bumi adalah bukti bahwa semua detail kejadian telah terangkum dalam Kitab takdir, sehingga takdir tidak bercabang. Allahu’alam

    @
    Saya komentari dulu ini ya…
    Takdir tidak bercabang… –> iya dalam komen dan postingan, saya cenderung memahami bahwa tidak pakai statistik. Mode statistik adalah kemungkinan dari kejadian yang mungkin. Namun pilihan atas takdir adalah pemahaman ketika satu pilihan diambil (seperti contoh nabi berpindah tempat itu) menunjukkan adanya pilihan atas takdir. Ketika berjalan, maka pilihan itu adalah satu yang dijalani… 😀

    Suka

  4. danalingga said

    Waduh setelah baca tulisan ini, ada sebuah pertanyaan yang terlintas:

    Ketika kita memilih untuk hidup dengan cara sehat di bandingkan dengan hidup dengan cara tidak sehat, bukankah saat itu berarti kita telah melakukan perubahan takdir?

    Perubahan takdir di sini adalah takdir sebagai orang yang memilih cara hidup sehat dibandingkan dengan takdir orang yang memilih cara hidup tidak sehat.

    @
    Kita sedang melakukan pilihan atas takdir sehat dan tidak sehat. Takdirnya sendiri tidak berubah, yang berubah pilihannya. Begitu tujuan postingan ini 😀

    Suka

  5. alex said

    Takdir…

    Tiada akan menemukan perubahan bagi sunatullah itu dalam pemahaman saya bukan berarti tidak berubah. Hanya kemampuan kita dengan qadla dan qadar kita, akal kita tidak mampu melihat perubahan yang terjadi. Apakah Allah akan mengubah atau tidak, itu adalah ilmuNya.

    Dan… kita cuma berusaha… bukan? 😉

    *angguk-angguk tanda sepakat*

    @
    😀

    Suka

  6. Quantum said

    @Aricloud
    Mencermati pendapat bapak Aricloud, kalau sudah ditentukan seperti efek bola menggelinding tadi,menjadikan Allah seperti hanya Mencipta dengan sempurna dengan ukuran presisi segala sesuatunya, dengan prediksi penggelindingan takdir menuju jalur yang terprogram, kemudian Allah hanya memonitor saja.Mukjijat dsb murni menjadikan bukan campur tangan program awal tadi, karena sudah include dalam penyusunan takdir di Laufil Mahfudz. Selebihnya Allah hanya diam (nganggur) tidak mengubah program program takdirnya karena ukuran takdir tadi sudah sempurna final dan tidak akan pernah error (kalaupun manusia dengan keterbatasan ilmu tidak memahami ujung akhir takdir bola gelinding tadi).

    Menjadikan semua sifat Allah mandeg tercurahkan semua waktu penyusunan Laufil Mahfudz, (Maha memberi petunjuk,Maha Rahmat,Maha Berkehendak,Maha pemberi rejeki dst).

    menurut pendapat saya,tidak demikian semestinya. Laufil Mahfudz adalah ketetapan algoritma semua jagad semesta lengkap dengan efek super multithread(meminjam istilah pemrograman).Sehingga tetap terbuka kesibukan Allah dalam memeliharanya,tanpa lelah,tetap Adil dalam membagi hidayahNya,dan tidak sekali kali menzalimi makhlukNya ,dan tidak pernah diakhirat nanti seseorang memprotes saya durhaka kepada Allah karena ditakdirkan Allah sendiri (Allah menzalimi).

    Untuk benda mati spt waktu,quark,atom,planet,galaxy dll akan patuh dengan terpaksa dan sukarela mengikuti alur program Laufil Mahfudz, sehingga posisi bumi,matahari,bulan sangat presisi sekali dalam penyiapan hadirnya mahluk manusia,sedangkan makhluk yang ber ruh/berkehendak (hewan,tumbuhan,manusia,malaikat,iblis dll) mengikuti alur yang sedikit lebih kompleks(ada kebebasan),tetapi tetap dalam kendali penuh sifat Maha Mengetahui sehingga result akhir algoritma takdir bola gelinding tadi sudah menjadi pasti dipandangan Allah.

    @
    Mas Quantum, Mas Ari, ass.wr.wb
    Wilayah ini memang pembahasan agak rumit, bahkan Ghazali dan Ibn Rusyd juga bisa saling bersilang, Ibn Arabi juga, dan banyak ulama berada pada wilayah yang gamang. Apalagi pada masa itu, belum ada pelajaran Fisika kuantum 😀

    Saya juga merasa belum tahu apa-apa, ada sedikit perbedaan pandangan memang.. tapi saya merasa ini bagian dari pembentukan pencerahan…

    Pandangan Mas Quantum, pilihan takdir sepertinya searah juga dgn pikiran agor 😀

    Suka

  7. aricloud said

    @quantum
    Memang benar mas, dahulu saya juga berpikiran demikian, sebelum saya mempersepsi konsep “waktu” bagi manusia dan Allah.

    Jika kita mempersepsi waktu bagi manusia adalah sama dengan waktu bagi Allah, serta kalau masa depan bagi kita adalah masa depan juga bagi Allah, maka memang memahami Takdir yang paling logis dan pas adalah seperti yang sudah mas quantum jelaskan.

    Seperti film “Twelve Monkeys”. Otak Brad Pitt di teliti dan di klon oleh ilmuan. kemudian para ilmuan tersebut membuat konstruksi masa depan dari otak brad pitt tersebut. Dari konstruksi tersebut para ilmuan itu menjadi lebih tahu apa yang akan dilakukan Brad Pitt di masa depan dibandingkan Brad Pitt sendiri.

    AKan tetapi saya sedikit mengubah persepsi itu manakala membaca buku Harun Yahya bahwa ‘waktu’ adalah sebagaimana materi alam semesta, juga ciptaan Allah.

    lebih jelasnya saya pernah memaparkan persepsi saya ini pada postingan di blog saya :
    http://aricloud.wordpress.com/2007/09/08/bisakah-takdir-diubah/

    Persepsi saya bertambah kuat manakala membaca salah satu buku Agus Mustopha tentang Takdir.
    Menurut Agus Mustopha, waktu bagi Allah berbeda dengan manusia. Waktu bagi manusia adalah adanya sela di antara dulu, sekarang, dan yang akan datang.
    Namun bagi Allah, waktu itu bersifat mampat. Artinya, tidak ada batas atau sela antara dulu, sekarang dan masa yang akan datang.

    @
    Menarik uraiannya… waktu mampan, dilasi waktu, perubahan.
    Waktu itu sendiri wujud atau tidak ya?.

    Suka

  8. El Za said

    Assalamualaikum Wr Wb

    Selama belum terjadi, takdir adalah sebuah pilihan.

    Kita tidak akan dihukum atas kesalahan yang tidak kita lakukan, kita hanya dihukum atas kesalahan yang ‘telah’ kita lakukan.

    hukuman adalah sebuah result / hasil yang sudah ditentukan, sedang melakukan atau tidak itu adalah pilihan kita dan kita sendiri yang harus memikul tanggung jawabnya.

    selama kita masih berkenan mengikuti kebenaran yang sudah diperingatkan dan menghindar dari perbuatan yang dilarang yang sudah diancamkan hukumannya, maka kita telah memilih keselamatan.

    Selamat dan tidak selamat merupakan pilihan yang disajikan kepada kita, dan kita pula yang harus menerima konsekuensi pilihan itu.

    Jika kita selamat karena memilih jalan keselamatan, maka itu adalah rahmat yang ditawarkan Allah kepada kita. tetapi jika kita celaka, maka sungguh itu adalah konsekuensi pilihan kita sendiri, padahal kita telah diperingatkan, itu murni kesalahan kita sendiri.

    Allah Maha Kasih Sayang, lagi Maha Suci dari aniaya kepada mahluk_Nya.

    Wassalamu’alaikum Wr Wb.

    @
    Wass. Wr.Wb.
    Saya maksudkan juga begitu, sebelum terjadi takdir adalah pilihan. Dan juga sejumlah pilihan kejadian yang mungkin. Tergantung daya dan kehendak yang mempengaruhinya.
    Namun, ini tidak menjawab mengenai kejadian tentang surga dan neraka. Apakah sudah terjadi atau akan terjadi ataukah kepastian akan terjadi berdasarkan simulasi setiap gerak dan tindakan manusia dan alam semesta. Seperti kita menggambar, kalau kita lempar bola, maka dia akan menggelinding dan berhenti di titik sekian-sekian. Bola nya belum menggelinding, tapi hitungannya sudah…

    Suka

  9. Quantum said

    Saya memang telah berpendapat demikian tentang waktu, tanpa membaca Agus Musthafapun, dari dulu saya sudah berfikir demikian bahwa Allah diluar sistem makhluknya. Waktu adalah makhluk, makanya Allah bersifat kekal,

    beda dengan kekalnya Surga/Neraga ( makhluk yang kekal relatif dalam ruang lingkup waktu yang juga sesama makhluk ), Jadi saya tidak sependapat dengan buku agus musthafa bahwa surga tidak kekal (karena ini bertentangan dengan Al quran yang berkali kali disebut khalidina fiiha abada ).
    Kekalnya makhluk surga/neraka ini tetap dalam makhluk ruang dan makhluk waktu.

    Berbeda dengan Kekal nya Allah yang tidak dalam ruang dan waktu, jadi sifat surga/ akhirat nanti tetap berbeda sifat dengan kekekalan Allah.

    Allah tidak dilingkupi waktu (sehingga Awal dan Akhir adalah sifatNya),mampat atau kah tidak.Juga halnya ukuran ruang(size),Besar dan kecil tidak melingkupi Allah, karena ruang adalah Makhluk. Jadi seberapapun Besar Semesta, tidaklah menjadi besar dihadapan Allah,begitupun seberapapun kecilnya tidak menjadikan kesulitan Allah dalam memelihara yang super zarah.

    Pengertian tsb tidak merubah pemahaman saya terhadap takdir spt sebelumnya.

    @
    Dalam pemahaman saya, memang sependapat dengan yang disampaikan oleh Agus Mustapha. Surga dan Neraka tidak kekal.
    Alasannya ada dua : 1. Yang kekal, tak berawal dan tak berakhir adalah Maha pencipta. 2. Penjelasan … mereka kekal di dalamnya; memberikan pengertian kekal di dalam neraka (atau surga). Tidak menegasi bahwa surga dan nerakanya yang kekal.
    Namun, pada bagian lain dijelaskan pula berkenaan dengan lamanya dibanding waktu dunia jauh lebih lama.
    Inipun ada sedikit kebimbangan pengertian karena ada ayat juga yang menjelaskan mereka kekal di sisi Allah (yang berjihad)

    Namun, mendefinisikan perbedaan makna kekal adalah kompromistis yang masuk akal, seperti yang disampaikan oleh Mas Quantum.

    Suka

  10. Quantum said

    Saya jadi berfikir lebih jauh, bahwa alam semesta sekarang adalah hanyalah sebuah ruang dan waktu, dan Allah telah menciptakan dan memelihara super sibuk milliaran alam semesta lain yang mempunyai sistem ruang waktu yang benar benar berbeda dengan semesta kita, atau bahkan dengan sistem yang entahlah namanya dan berbeda sama sekali dengan ruang dan waktu tadi.. sangat mungkin sekali (Allah Maha berkehendak ). Jadi kiamat di semesta kita belum tentu kiamat di semesta lain.

    @
    Pada awal penciptaan, saintis mendefinisikan singularitas awal kejadian, merupakan satu lintasan peristiwa (big bang) yang kemudian membentuk satu alam semesta yang kita huni ini. Ada berapa lintasan peristiwa yang mungkin?. Bisa tak berhingga. Sebuah titik bisa dilalui oleh tak terhingga lintasan peristiwa. Boleh jadi juga setiap singularitas memiliki hukumnya sendiri-sendiri. Jadi, dalam konteks pemikiran ini, bisa terjadi banyak sekali lintasan peristiwa, atau miliaran alam semesta lain yang berbeda. Wallahu’alam.

    Suka

  11. Assalamu’alaikum

    Kita harus beriman kepada takdir. Segala kejadian di alam semesta ini telah tercantum dalam catatan/Kitab Alloh. Alloh sudah mengetahui sebelum mewujudkannya.
    Segala intervensi (campur tangan) Alloh, misalnya membunuh anak kecil melalui Nabi Khidir, sudah tercantum dalam Kitab Alloh. Orang-orang yang membicarakan takdir, seperti kita di sini, sudah tercantum dalam Kitab Alloh. Orang-orang yang tidak begitu bersedih (karena mengetahui bahwa musibah telah tercatat dalam Kitab Alloh) juga sudah tercantum dalam Kitab Alloh. Segala pilihan manusia juga sudah tercantum dalam Kitab Alloh.

    Menurut saya Kitab Alloh ini ibarat simulasi dari suatu perencanaan. Misalnya, simulasi penerbangan pesawat ulang alik ke bulan yang menggunakan video dan catatan tambahan, yang didalamnya juga telah ditetapkan tindakan tertentu jika terjadi suatu kejadian tertentu, yang semua prosesnya sudah diketahui oleh para ilmuwan. Kemudian para ilmuwan ingin lebih mengetahui secara nyata dan fakta dengan cara mewujudkan simulasi tersebut dengan menerbangkan pesawat ulang-alik dan astronot sungguhan.

    Demikian juga Alloh ingin mengetahui mana yang benar-benar beriman dengan mewujudkan rancangan simulasi dalam Kitab Alloh “Lauful Mahfuz”.

    Namun, Alloh juga lah yang lebih mengetahuinya.

    Assalamu’alaikum

    @
    Wass. Kira-kira saya pahami juga begitu Mas Dedi, tercatat pula pada Lauful Mahfuz bahwa jika anak itu besar, mendorong orang tuanya dalam situasi sulit. Dan Allah menggantikannya dengan anak yang sholeh…..

    Dalam catatan Yang mendapat musibah jangan bersedih

    Suka

  12. sikabayan said

    euh.. mungkin sajah takdir berubah tanpa mengubah alur takdir teh… sebab mungkin ilmu bekal kita teh akan menjadikan banyak perbedaan di dalam menghadapi takdir..
    euh.. kita bisa bersyukur mendapatkan uang seribu rupiah.. bisa juga marah2 sebab orang lain mendapatkan dua ribu rupiah.. ituh teh dua cara berbeda menghadapi takdir yang sama.. mendapatkan seribu rupiah… :mrgreen:
    euh.. kita juga bisa bersyukur karena kehilangan seribu rupiah.. bisa juga menertawakan orang lain yang kehilangan sepuluh ribu rupiah… sebab.. sembilan ribu rupiah lebih banyak dari kita hilangnyah..

    @
    Yang ditampakkan… ada pilihan atas alur takdir.

    Suka

  13. bocah said

    wah yang comment dah profesional semua nih agamanya jadi malu deh 😦

    klo menurut aq kita hanya bisa berusaha Allah lah yang menentukan 🙂

    @
    Jawaban akhir dan kepasrahan tanpa menghilangkan unsur usaha manusia.

    Suka

  14. Quantum said

    Sebaiknya dibuka topik baru tentang waktu,kekalnya surga,kekalnya akhirat,mati dan hidup,tiada,tercipta dan musnah, atau tiada, tercipta, gak dimusnahkan.apakah surga dan neraka musnah juga waktu kiamat. dan seribu pertanyaan penting mendasar alam akhirat.

    @
    Ya. Mas Quantum, di kejap lain. Saya butuh mencari referensi dulu nih. Atau Mas mau langsung berkontribusi?, saya jadikan postingan. Bgmn?. 😉

    Suka

  15. El Za said

    Assalamualaikum wr. wb.

    Menanggapi koment no 8.

    Saya sendiri tidak terlalu tertarik utk mencari apakah Neraka dan Syurga itu telah diciptakan, karena Allah Maha Kuasa Atas Segala Sesuatu, artinya ke 2 nya boleh jadi telah diciptakan, boleh jadi juga belum, semua hal itu dapt dilakukan oleh_Nya. Yang esensi bagi manusia/kita adalah kewajiban kita untuk bertakwa, dengan memahami Janji Syurga dan Neraka itu.

    tetapi kalau sekedar info bila diinginkan, sebaiknya tetap merujuk kepada Al Qur’an dan Hadits Rasulullah (Hadist yang valid)
    misal sebagai berikut :
    ” …dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) dibuka.
    Dan apabila langit itu dilenyapkan.
    Dan apabila neraka dinyalakan.
    Dan apabila surga didekatkan
    Maka tahulah tiap-tiap diri
    Apa yang telah dia lakukan…”

    (QS At Takwiir 81:1-14)

    dalam ayat diatas disebutkan bahwa boleh jadi Neraka baru dinyalakan di hari pengadilan nanti, dan syurga ‘didekatkan’ , artinya sudah diciptakan jauh sebelumnya bahkan mungkin jauh sebelum Nabi Adam As diciptakan.

    Di ayat lain dinyatakan bahwa Alam semesta ini ibarat gulungan kertas, yang dibuka saat diciptakan kehidupan dan akan digulung kembali saat kiamat, itu artinya Syurga dan Neraka di ‘zaman kehidupan kita’ pun boleh jadi adalah ‘copy’ dari peristiwa yang sama sebelumnya, sebagaimana kita pun berulang kali membuka tutup buku/kertas/ gulungan (jadi merinding nih…)

    Az Zumar 67:
    “Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. ”

    Wassalamualaikum wr. wb.

    @
    Wass.
    Betul Mas, esensinya kira-kira begitu. Pembahasan tidak mengubah apa-apa, namun menjadi bagian dari keimanan kita; karena kita mempercayai dengan sepenuh hati kita…. Amin.

    Suka

  16. Yang menganggap bahwa takdir bisa dirubah ada benarnya, tetapi dengan catatan. Perhatikan ayat-ayat berikut ini sebagai contoh dari banyak ayat yang menjelaskan serupa yang harus kita imani semuanya.

    Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sehingga mereka berusaha untuk mengubah keadaan mereka sendiri. (Ar-Ra’du: 11)

    Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun”. (Al Kahfi:49)

    “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” (QS Al-An’am: 59).

    Tidak ada satupun proses di alam semesta ini lolos dari pengetahuan Alloh. Jarum jam dari detik kedetik bahkan sampai ukuran waktu sekecil tak terhingga Alloh mengetahuinya. Semuanya tercatat dalam Kitab yang nyata. Jadi apa yang telah, sedang, dan akan terjadi di alam sesmesta ini persis sama dengan yang tertulis dalam Kitab yang nyata (lauful mahfuz), tidk ada satupun yang lolos. Dengan demikian, Kitab yang nyata itu adalah simulasi dari seluruh kejadian di alam semesta ini atau seluruh kejadian di alam semesta ini adalah perwujudan sempurna dari Kitab yang nyata tersebut. Dan seperti tertulis dalam Alqur’an, bagi Alloh itu adalah sangat mudah.

    Mahluk diberi kesempatan untuk mengubah nasibnya atau memilih takdirnya adalah benar karena sesuai dengan proses simulasi atau proses ketika penulisan Kitab yang nyata (lauful mahfuz) sedang berlangsung. Disitulah banyak cabang pilihan tersedia bagi setiap calon mahluk. Ibarat permainan catur, banyak langkah bisa ditempuh. Alloh dapat menganalisa lebih jauh setiap langkah yang diambil oleh setiap calon mahluknya. Ibarat program catur yang sangat canggih yang tidak terkalahkan yang mampu menganalisa walaupun milyaran langkah sampai akhir permainan.

    Dalam proses simulasi itu ada intervensi Alloh yang memberitahukan kepada manusia melalui Kita Suci bahwa Alloh telah menetapkan takdir yang harus diimani. Sampai kemudian dalam simulasi itu ada orang-orang yang membicarakan takdir seperti kita sekarang ini. Apakah informasi ini membohongi manusia, karena ketika simulasi berlangsung takdir belum ditetapkan? Tidak, karena dalam peroses simulasi wujud manusia belum ada manusia masih bersifat maya dan ini juga untuk kepentingan orang beriman apabila proses simulasi ini telah diwujudkan. Perhatikan ayat berikut ini,

    “Tiada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada diri kamu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lawh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira dengan apa yang telah diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. Al-Hadid : 22)

    Ayat tersebut tentu saja disertakan juga dalam dalam proses simulasi.

    Dari segi outputnya, saya merasakan dan memikirkan, sungguh betapa hebatnya perencanaan ini. Saya dapat menggambarkannya dalam bentuk diagram. Penciptaan ini tidak sekedar geladi resik, tidak sekedar simulasi tercanggih yang biasa dibuat manusia. Mudah-mudahan ada pembaca yang memahami maksudnya. Hal ini benar-benar maha cerdas, tetapi Alloh menyebutkan bahwa hal ini bagi Alloh sangat mudah.

    Namun, Alloh jugalah yang lebih mengetahui.

    @
    Segala puji bagiMu ya Allah.

    Suka

  17. biru said

    Takdir adalah perkara rumit, logika manusia tidak akan pernah mampu secara sempurna mendefinisakan takdir. Itu diluar jangkauan pengetahuan manusia, setitik dari satu rahmat tuhan yang diturunkan ke bumi. Saya mencoba memahami takdir dengan menganalogikan pilihan hidup setiap anak manusia katakanlah si A seperti lima jari yang bercabang yang mempunyai panjang yang sama (yang berarti bahwa umur dan perkara2 pokok lainnya ditentukan). Setiap jari terhubung oleh selaput – selaput tipis yang saling bertautan satu sama lainnya. Setiap ujung jari adalah ketentuanNya. Seperti yang ditetapkan di kitab induk. TakdirNya. Itu artinya takdir si A ada lima ( jangan kaget ). ketika sewaktu muda karena ketidaktahuannya si A memilih jari kelingking , maka sesungguhnya dia telah menuju takdir yang akan membinasakannya, membawanya ke neraka. Seiring dengan waktu si A pun berubah pikiran dan melalui selaput tipis dia menyebrang ke jari jempol yang akan membawanya ke ujung takdir selanjutnya, Keselamatan. Surganya. Well ini hanya hipotesis tanpa bukti. Konsep ini pun masih mempunyai kelemahan, dia tidak mampu menjelaskan pertanyaan ” oke katakanlah si A di sediakan mempunyai lima takdir, dan pada akhirnya dia akan memilih salah satu takdir pilihannya, misal kebinasaan yang akan membawanya ke neraka. Dan apapun pilihannya bukankah Tuhan telah mengetahuinya ? ”
    KepadaNya saya mohon ampun, Astagfirullah

    @
    Setuju, ini perkara rumit dan nyaris (baca : dan memang) menimbulkan banyak perbedaan pendapat dan perselisihan dari abad ke abad. Pertanyaan yang juga adalah khas dari manusia yang bertanya dan mempertanyakan asal muasal dan mengapa ada di dunia dengan segala akal pikirannya. Konsep-konsep bermunculan dalam beragam titik pandang.

    Suka

  18. […] terbang menembusi langit atau berlayar dengan membangun kekuatan sendiri.  Kita sepertinya tidak memanfaatkan “takdir”, sunnah Allah untuk menjadikan ummat terpilih di muka bumi ini.  Memasuki pilihan yang berbeda.  […]

    Suka

  19. […] Terbaru Soegana Gandakoesoem… on Apakah Waktu Pelaksanaan Haji …“Mu” Yan… on Yuk Kita Ubah Takdir ?.manusiasuper on Dunia dan Syariat Tidak Butuh …El Za on Perjalanan Atom Memahami Tuhan…El Za on […]

    Suka

  20. Donny said

    Sekalian mau ngasih link, mumpung nyambung…:D
    http://psychoavatar.blogspot.com/search/label/Seri%20Takdir

    @
    Saya sudah berkunjung ke blog Mas Donny… asyik lho… saya suka keterbukaan dan kesederhanaan bahasanya untuk sesuatu yang relatif cukup rumit…. Trims dikunjungi dan diinfo link-nya…. 😀

    Suka

  21. ganedio said

    Kitab induk berisi catatan seluruh proses yang akan terjadi sebelum penciptaan alam semesta. Didalamnya juga berisi apa yang akan dipilih oleh mahlukNya, apa yang akan diusahakan oleh mahlukNya, dan apa yang akan menimpa mahlukNya. Dan didalamya berisi tindakan apa yang akan dilakukan Sang Pencipta sehubungan dengan perbuatan mahlukNya.

    Lailatul qadar adalah himpunan bagian dari Kitab Induk. Merubah nasib adalah himpunan bagian dari Kitab induk. Catatan amal perbuatan seseorang adalah himpunan bagian dari Kitab Induk. Memilih takdir yang satu ke takdir yang lain adalah himpunan bagian dari Kitab Induk.

    Pilihan, usaha, dan nasib manusia sudah tercatat dalam Kitab Induk. Segala do’a, ibadah, dan usaha lahir dan batin untuk merubah nasib adalah sudah diketahui dan dicatat dalam Kitab Induk.

    Takdir manusia tidak dapat melenceng dari apa yang sudah tercatat dalam Kitab Induk. Karena Alloh maha cerdas maha mengetahui untuk menganalisa apa yang akan dipilih dan diusahakan manusia, dan apa yang akan menimpa manusia.

    Kitab Induk ditulis tidak semena-mena tetapi berdasarkan apa yang akan diusahakan oleh manusia atau mahlukNya.

    Kitab Induk bukan sekedar ramalan yang mungkin bisa salah. Kitab Induk adalah kitab yang nyata berisi yang akan terjadi di alam semesta ini.

    Kitab Induk adalah rahasia. Keberadaannya hanya untuk diketahui dan dimanfaatkan oleh orang yang beriman.

    Alloh Maha Besar, Engkau jualah yang lebih mengetahui. Semoga Alloh memberikan pemahaman kepada orang yang belum mengerti.

    @

    Banyak dan terlalu banyak yang tidak dapat saya ketahui, pahami, dan terlebih yang datang dari sisiNya, dari ilmuNya. Karenanya, betapa sulit saya dapat memahami, termasuk juga yang disampaikan Mas Ganedio…
    Apalagi kalimat ini : “Pilihan, usaha, dan nasib manusia sudah tercatat dalam Kitab Induk. Segala do’a, ibadah, dan usaha lahir dan batin untuk merubah nasib adalah sudah diketahui dan dicatat dalam Kitab Induk. ” Karena pemaknaannya begitu luas dan dalam.

    Jadi ingat seorang rekan berkata, siapa yang datang ke Mesjidil Haram… semua sudah tercatat….
    Terimakasih untuk segala do’anya. Semoga pula untuk kita semuanya…
    Postingan ini lebih diarahkan untuk melihat kebebasan manusia dalam melakukan pilihan takdir, tidak menyerah pada satu posisi seolah “sudah ditakdirkan”. Begitu mudahnya kita mengatakan ini tanpa spirit untuk berusaha. Pesan ini yang ingin disampaikan untuk khususnya pemilik blog ini… 😀

    Suka

  22. ganedio said

    Sebagai tambahan.

    Memahami takdir memang sulit tergantung juga dari prasangka awal. Ibarat memahami rumus Einstein E=mC2. Jika prasangka awal bahwa rumus tersebut adalah sangat sederhana dan dibuat oleh orang yang dungu, maka ia tidak akan pernah memahami dan tidak akan memperoleh manfaatnya. Jika prasangka awal bahwa rumus tersebut adalah sangat rumit dibuat oleh orang jenius maka lambat laun akan memahami dan mengambil manfaatnya dengan membuat energi nuklir.

    Masalah takdir adalah diciptakan oleh Alloh yang Maha Besar, Maha Mengetahui, Maha Bijaksana. Jangan ada yang mengganggap ini adalah konsep yang sederhana. Kita berusaha memahaminya melalui Alqur’an dan Sunnah agar tidak tersesat.

    Untuk memudahkan pemahaman bahwa Kitab Induk adalah sebagian berisi catatan apa yang direncanakan manusia, barangkali kita perlu melibatkan dimensi waktu. Ketika waktu belum diciptakan, atau ketika Alloh tidak dipengaruhi oleh dimensi waktu akan menjadi tidak berpengaruh mana yang lebih dulu Kitab Induk ataukah penciptaan alam semesta? Ketika dimensi waktu dilibatkan maka kemudian menempatkan bahwa Kitab Induk yang terlebih dahulu. Wallohu A’lam.

    ——————–
    Bagaimanakah seseorang bisa menyerah kepada takdir yang belum ia ketahuinya. Takdir diketahui setelah terjadi. Ataukah ia akan berdiam sepeti batu. Jika faktanya ia berdiam seperti batu atau pun ia bunuh diri karena pemahaman takdir yang keliru, itu memanglah sudah tercatat bahwa takdirnya seperti itu.

    Walaupun takdir diketahui setelah terjadi, tetapi dalam Alqur’an banyak ayat yang menerangkan beberapa takdir yang sudah diberitahukan kepada manusia. Antara lain, percakapan penghuni neraka, percakapan penghuni surga, kejadian kiamat, kalah menang kerajaan Rum, mimpi nabi Yusuf, mimpi nabi Muhammad, tabir mimpi nabi Yusuf untuk dua penghuni penjara dan raja Mesir, beberapa ucapan Nabi Muhammad tentang masa depan seseorang atau umat manusia secara keseluruhan, dll.

    Selain itu, mimpi pada manusia juga memberikan simbol pengetahuan yang akan terjadi pada masa depan.

    Juga pengetahuan manusia dalam sains dan teknologi tinggi, sudah dapat mengetahui apa yang akan terjadi dalam masa depan walaupun memang belum bisa disebut sebagai takdir yang pasti akan terjadi. Misalnya, gerhana matahari, peredaran komet, kondisi cuaca, pendaratan pesawat tanpa awak di planet Mars, dll.

    Yang pasti manusia sudah DITAKDIRKAN UNTUK MEMILIH NASIBNYA SENDIRI dan memperoleh takdirnya. Semuanya itu sudah tercatat dalam Kitab Induk. Jadi sebagian yang tertulis dalam Kitab Induk adalah merupakan rencana, usaha, dan pilihan yang akan dilakukan manusia yang sudah mendapat approved Pencipta untuk diwujudkan. Alloh tidak merubah nasib suatu kaum melainkan mereka merubah nasibnya sendiri.

    Sesuai Alqur’an, apa saja yang telah terjadi (baik proses maupun hasil) adalah sesuai dengan apa yang tercatat dalam Kitab Induk. Agar orang beriman tidak terlalu gembira dengan keberuntungannya dan tidak terlalu sedih dengan musibahnya.

    Untuk mengetahui takdir kita esok hari atau masa depan, tunggulah dan bekerjalah dengan disertai mengingat-ngingat Kitab Induk atau tidak mengingatnya, semuanya sudah tercatat dalam Kitab Induk.

    Alloh tidak menganiaya mereka melainkan mereka menganiaya diri mereka sendiri. Selamat menjalankan takdir.

    @
    Trims berat lho uraiannya. Saya belum cukup memahami uraian ini meskipun sudah dibaca ketiga kalinya lho… mungkin butuh waktu untuk merenungkannya kembali. Hanya sedikit catatan saja, ada sedikit perbedaan pemahaman terhadap apa yang disebut waktu dan juga sedikit berbeda pemahaman dengan uraian pada postingan mengenai pendefinisian takdir. Rasanya, ada nuansa yang berbeda. Tapi sekali lagi, agor masih butuh waktu untuk mencerapinya…. 🙂

    Suka

  23. ganedio said

    Dari kisah perjalanan Miraj Nabi Muhammad SAW, yang berkunjung ke masa depan melihat neraka, dan berkunjung ke masa lampau bertemu dengan para nabi, saya mungkin agak berpikiran sama dengan film fiksi ilmiah tentang perjalanan menembus dimensi waktu.

    Seluruh kejadian di alam semesta ini dari awal sampai akhir sudah ada terbentang.

    Kejadian yang sudah lalu masih tetap ada tidak hilang. Dan kejadian masa depan akan kita songsong dengan kecepatan dimensi waktu kita.

    @
    Kajian ini, terus terang saya sendiri belum dan mungkin tidak akan pernah memahaminya. Allah menyampaikan bahwa kepada utusanNya ini telah ditunjukkan sebagaian kekuasaanNya yang luas dan besar….
    Namun, menegasi bahwa kejadian alam semesta dari awal sampai akhir itu sudah terbentang (final) juga merupakan tanda tanya dalam pemahaman. Kisah Nabi Khidir membunuh anak, menginformasikan bahwa masa depan adalah alternatif pilihan yang bisa berubah. Allah senantiasa dalam kesibukan, menginformasikan bahwa masa depan bisa terbentuk dalam alternatif kejadian. Tentu pula, Allah dapat menetapkan grand disain dan mengubah kejadian.
    Masa depan dan masa lalu, bukankah juga adalah dimensi yang kita pahami (dan coba pahami?)

    Suka

  24. ganedio said

    Contoh manusia yang rela dengan takdir Alloh adalah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Nabi Ibrahim berserah diri kepada kehendak Alloh untuk melaksanakan perintah penyembelihan putera yang sangat disayanginya. Nabi Ismail berserahdiri kepada kehendak Alloh sebagai Pemiliknya untuk rela disembelih.

    Ayam, kambing, kijang, sapi, unta harus rela dengan takdir Alloh sebagai hewan yang akan disembelih sebagai makanan manusia atau menjadi buruan binatang buas. Manusia harus rela akan mengalami kematian.

    Wanita harus rela dengan takdir Alloh atas segala aturan, tugas, dan kemampuan yang diberikan kepada mereka.

    Orang miskin harus rela dengan kemiskinannya. Orang sakit harus rela dengan sakitnya.

    Contoh mahluk yang tidak rela untuk melaksanakan perintah Alloh adalah Iblis.

    Adanya orang-orang cacat, manusia ingat bersyukur dengan fasilitas yang diberikan Alloh. Bersyukur tidak cacat seperti orang yang ditakdirkan cacat.

    @
    Betul memang begitu juga, seperti juga air mengalir ke sela-sela, benda berat jatuh ke bawah karena gravitasi, angin berhembus, dan air itu H2O dengan segala ukurannya. Itu juga takdir Allah…. 😀

    Suka

  25. ganedio said

    Ya, ia sadar sedang berbicara di lapangan menghadapi ribuan orang. Ya, ia juga sadar sebenarnya hanya berbicara kepada satu orang saja satu persatu tetapi karena berbicara kepada mereka dalam waktu yang bersamaan nampaknya ia juga seperti menghadapi banyak orang.

    Ya, reporter siaran langsung sadar hanya berbicara menghadap kamera. Ya, reporter siarang langsung juga sadar sedang berbicara menghadapi jutaan orang.

    Ya, ia sadar sedang bersujud di depan kabah. Ya, ia juga menyadari sedang bersujud di hadapan Alloh.

    Ya, ia ingat beribadah seolah-olah mati esok hari. Ya, ia juga ingat bekerja seolah-olah akan berumur panjang.

    Ya, ia beriman bahwa dosa adalah karena perbuatan manusia sendiri. Ya, ia juga beriman bahwa segala sesuatu telah tercatat dalam Lauful Mahfuz.

    @
    catatan yang membutuhkan perenungan kembali. 😀 terimakasih. Mas Ganedio begitu sering memberikan catatan yang menarik… Oh ya.. tiap kali berkunjung ke blog Mas… kok jarang update …. 😦

    Suka

  26. ganedio said

    @Agor
    Terima kasih, atas pemberitahuannya. Saya merasa blog saya jarang pengunjungnya, jadi kurang mendapat perhatian. Juga membutuhkan waktu yang cukup banyak untuk memperbaiki peta situs banjir Nuh. Terima kasih.

    @
    🙂

    Suka

  27. […] apa yang menjadi kehendak Allah akan terjadi dalam perjalananan semua pilihan kemungkinan. Ketika Nabi Khidir membunuh seorang anak yang “bila kelak” menjadi besar akan membuat orang tuanya susah maka kita dapat […]

    Suka

  28. Dhilan Djalani Kusumaputra said

    Alhamdulillah.. Saya sangat beruntung mendapatkan alamat ini. Tetapi pertanyaannya, mengapa yang merusak informasi tentang kedamaian Iman dan Islam adalah sebagian besar kelompok yang atas nama “Pembela Islam”,dan anehnya para orang-orang yang paham ilmu fiqih juga semua diam..!? Jadi siapa yang menjadi yahudi, kafir, murtad dst..!??

    @
    Pertanyaan yang sama juga bergeliat dari relung hati. Mungkin kita lebih butuh lagi kearifan dalam menanggapi lingkungan di sekitar kita, dalam keseharian, dalam pemahaman, dan dalam mendudukkan perkara…
    Terimakasih juga Mas Dhilan untuk apresiasinya.
    Salam, agor.

    Suka

  29. burhan said

    Assalamualaikum,
    saya pernah dengar/baca, lebih kurang begini (intinya):
    bahwa takdir yang telah tertulis di kitab lauhulmahfudz, masih bisa berubah. dan Allah punya satu buku lagi………(saya lupa persisnya).
    Tlg ini ditanggapi, apakah benar atau salah. maklum saya sangat awam.

    wassalam

    Suka

  30. Anonim said

    masalahnya tidak ada bukti yang menyatakan takdir kita telah berubah,,,,,,,,,bagaimana kita bisa bicara takdir telah berubah? kalau
    kita tidak tahu takdir kita….ini jawaban logis…..terus bagaimana cara mengetahui takdir kita ?….jadi semua msh fifty~fifty

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: