Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Asap Putih Semburan Lumpur Itu Masih Juga Tinggi

Posted by agorsiloku pada September 16, 2007

“Asap itu masih tinggi Pak, masih mengepul sampai 25 meter atau lebih. Kalau sore atau air laut pasang, asapnya mengepul hitam”.

“Oh ya…”, sahutku mengiyakan.

“Iya Pak, memang begitu. Belum juga berhenti tuh!”, ujar Pak Nur, salah seorang pengojek yang mengantar kami mendekati tempat semburan lumpur itu.

Bau menyengat belerang dan asap dari pusat semburan lumpur tampak jelas di tengah hari yang terik ini.

Berbeda dengan tahun lalu, ketika saya datang pertama kali melihat awal bencana ini. Penduduk di sana masih penuh kenestapaan dan gelisah. Waktu itu, air dari sumur-sumur penduduk didesak oleh semburan lumpur yang volume hariannya mencapai 100 ribuan meter kubik. Ribuan hektar sawah, perumahan, dan pabrik di desak oleh lumpur cair panas membuat kegelisahan dan kepanikan yang secara teknis harus diatur oleh Lapindo untuk sesedikit mungkin memberikan kerugian bagi usahanya.

Dan sebagian terbukti memang, biar presiden sudah berkunjung dan istana negara juga sudah digedor, tetap saja masalah derita rakyat adalah derita. Pemerintah tetap belum cukup arif membantu korban lumpur Lapindo dengan segala alasan dan pertimbangannya.

 Wisata Derita 

Pada kedatangan kedua, 15 September 2007 ke WISATA DERITA ini, aliran lumpur selebar 20 meteran yang mengalir semakin pekat masih diaduk-aduk oleh alat berat dari tepi bantalan aliran lumpur. Kalau tidak, semburan lumpur tak bisa mengalir ke sungai Porong. Dilihat dari kepekatannya, bisa jadi juga dalam hitungan minggu, jika terik musim kemarau semburan lumpur juga akan kian pekat dan tak akan lagi mengalir. Yang terjadi adalah gunungan lumpur saja. Terpikir oleh saya, setelah sebagaian penduduk di seputar semburan lumpur terusir, barangkali dibiarkan tumbuh gunung baru di situ juga menjadi lebih bagus. Jadi tidak usah repot-repot mengisi sungai Porong. Toh, bisa juga kita duga, membiarkan lumpur pekat dan kental ke Sungai Porong akan menghasilkan endapan baru di sungai tersebut dan jika salah penanganan (dan biasanya juga salah), akan menambah musibah banjir akibat endapan di sungai Porong.

“Sudah dapat pergantian?”

“Belum Pak, baru dua desa yang mendapat pergantian!”.

“Rumah saya itu Pak, yang dua tingkat itu. Tuh, Bapak kan lihat itu atap rumahnya!”. Yang tampak memang dua buah bangunan di lapangan lumpur kering itu. Satu di antaranya adalah rumah pengojek itu, yang rumahnya hanya tinggal atap bagian atas bangunan tingkat dua”. Ada nada getir dari ucapannya.

“Kalau rumah saya, hanya dalam hitungan menit ditelan lumpur Pak!”. Rekannya yang bernama Sukamto menimpali, “Saya bahkan tak sempat menyelamatkan apapun isi rumah Pak. Semua tenggelam dalam lumpur !”

“Sekarang ini masih ada 8000-an pengungsi di Pasar Porong yang hidupnya sangat susah Pak ! Belum lagi kemungkinan tanggul jebol. Itu tuh Pak, Mesjid yang ada kubahnya itu belum tenggelam Pak, tapi tinggal tunggu waktu saja. ”

Saya layangkan pandangan dari tepi aliran lumpur ke bagian tengah yang ada kubah mesjid. Itu belum tenggelam, tapi tunggu tanggulnya jebol saja. Pak Kamto yakin, ini cuma soal waktu saja. Apalagi kalau musim hujan tiba.

Untuk mempertegas wilayah derita itu, Pak Ojek ini menawari kami video tragedi tenggelamnya 4 Desa. Buah karya taruna karya korban Lapindo. Saya membeli 2 buah yang harganya 20 ribuan. Dibeli tanpa ditawar.

Karena waktu kunjung yang pendek, saya tak sempat merenungi terlalu banyak peristiwa ini. Seperti jalan masuk, kembali pulang juga melewati beberapa pabrik yang hanya tinggal atapnya saja. Genangan lumpur yang luasnya hampir 9000-an hektar menyimpan begitu banyak kenangan dan kepedihan buat korbannya, buat manusianya, juga kerugian yang tak terukur. Juga tentu saja korban jiwa juga telah terjadi. Ada kelu di hati dan pedih mengingat musibah ini dan penanganan Pemerintah yang cenderung kurang memanusiakan korban. Sulit saya bayangkan jika rumah tinggal milik satu-satunya, tempat kerja, diterjang lumpur yang begitu pelan dan nyata merampas segalanya. Memang segalanya hanyalah milik Allah dan hanya kepadanya kita berserah diri. Namun, manusia, dengan segala kelemahan dan kepasrahannya, tetap saja diterjang segala nafsu dan harapan dunia.

Terasa kepedihan pengojek itu menelisik relung hati, di tengah bau belerang dan lapangan lumpur yang telah menenggelamkan desa mereka.

Saya juga, merasa tidak memiliki apa-apa lagi yang pantas dibanggakan.

Kalau memang waktunya hilang, termasuk kehidupan ini. Namun membiarkan derita berkepanjangan juga adalah kezaliman kekuasaan. Berdesir rasanya hati ini mengingatnya. Kalaulah kemudian setelah semburan lumpur itu berakhir (entah kapan), lalu pengeboran dilanjutkan dan minyak tercurah, akankah anak cucu korban lumpur lapindo itu menikmati buahnya?.

Saya lihat juga beberapa pengunjung lain yang berdatangan dan melihat lebih dekat wisata derita ini.  Saya pikir kalau dikelola lebih profesional, bisa jadi tempat pembelajaran dan wisata  yang benar-benar menjadi tempat wisata.  Mungkin juga bisa dikelola sambil meningkatkan daya dukung masyarakat terhadap penderitaan dan pemahaman bagaimana mengelola lingkungan.

Kejadian dan korban yang terjadi bukan hanya dinestapai, juga skala musibah yang terjadi serta pemanfaatannya, mungkin bisa jadi pula memberikan warna yang lain.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: