Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

“Mu” Yang Tidak Memanfaatkan PemberianNya.

Posted by agorsiloku pada November 9, 2007

Hampir, tapi boleh jadi ini salah kaprah pengertian, saya terpesona dengan ayat ini :

QS 14. Ibrahim 32. Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.

Lalu hati ini merasa malu, meski rumah dikunci rapat, kadang saya tinggalkan rumah dan ku”titip”kan pada Allah. “Engkaulah pemilik segalanya, dan aku akan pergi sementara. Mohon kiranya Engkau berkenan ya Allah menjaga milikMu yang kutinggalkan…!” Kadang hati ini begitu yakin, kadang juga ada keraguan. Saya ingat kembali kisah mengikat kuda unta agar tidak hilang.

Waktu dulu, agak lupa, dosenku cerita :”Allah boleh jadi akan membiarkan menara sebuah mesjid yang tidak dipasangi penangkal petir terkena sambarannya, dari pada rumah bordil yang dilindungi anti petir”. 😦

Siapa yang menghasilkan industri perkapalan, padahal kita punya jurusan perkapalan?. Padahal untuk negeri ini, disediakan laut yang luas untuk memakmurkannya. Berapa banyak dihasilkan emas dari Pulau Kepala Burung. Dia telah menundukkan bahtera bagimu. Lalu “mu” itu siapa yang memanfaatkan dan menghasilkan kesejahteraan bagi “mereka”. Mengapa malah “mu” itu tidak menjadikan apa-apa dan malah kita menjadi pembeli dari mereka.

Mengapa pula kita lebih sering “agak” meninggalkan akal, tidak kurang mau memicu pada pemanfaatan buah-buahan, bahtera untuk terbang menembusi langit atau berlayar dengan membangun kekuatan sendiri. Kita sepertinya tidak memanfaatkan “takdir”, sunnah Allah untuk menjadikan ummat terpilih di muka bumi ini. Memasuki pilihan yang berbeda. Malah kita begitu ribut dengan akal kita, tentang pengetahuan yang diterima tanpa aspek rasional atau kita ribut dengan hal-hal yang didalamnya kita sebenarnya tidak sedang berbuat apa-apa. Seolah memanfaatkan akal akan menjauhkan diri dari padaNya.

Ah.. tentu tidak. Tapi, mengapa kemalasan berpikir malah menjadi kebanggaan. Mengapa kita begitu cepat bereaksi bidah atau sesat menyesatkan, tapi kita sebagai bangsa, sebagai ummat tidak memiliki semangat atau spirit cukup untuk mengambil dan memanfaatkan dengan daya sendiri terhadap apa yang telah Dia berikan, seperti kata ayat di atas….

Iklan

2 Tanggapan to ““Mu” Yang Tidak Memanfaatkan PemberianNya.”

  1. Anonim said

    Setuju banget dengan kesimpulan kang Agor… semoga bisa merekahi hatiku.. 🙂

    @
    Dari perasaan yang aneh Kang… mengapa “mu” itu menjadi bangsa yang terbelakang, padahal yang dipegang dan diimani “mu” itu adalah kitab yang diakui mereka sebagai mujizat sepanjang masa…..

    Suka

  2. […] Tajib 4. Yth. Kopral Geddoe 5. Yth. Sdri Neng Tika 6. Yth. Bapak M Sodiq 7. Yth. Kang Tutur 8. Yth. Mas Agorsiloku 9. Yth. Mas Herianto 10. Yth. Sdr Danalingga 11. Yth. Sdr Death Berry 12. Yth. Sdr Gitu Banget 13. […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: