Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Menguak Tabir Prana dengan Fisika

Posted by agorsiloku pada Agustus 29, 2006

KOMPAS Jumat, 27 Juni 2003
SEBAGIAN masyarakat umumnya masih memandang perguruan yang memfokuskan diri pada tenaga dalam seperti Nampon, Satria Nusantara, Prana Sakti, Sinlamba, dan banyak perguruan sejenis lainnya yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia, sebagai ilmu yang sarat hal mistik dan di luar nalar manusia. Karena itu, keberanian Nampon menyeminarkan fenomena tenaga prana dari sudut pandang ilmu fisika dan menghadirkan guru besar fisika teoretis ITB Prof Pantur Silaban, merupakan hal yang amat positif.
NAMPON dan sejenisnya adalah salah satu kekayaan asli budaya Indonesia yang perlu dilestarikan dan digali eksistensinya.

Ilmu Nampon sendiri berkembang sejak 1932. Tercatat nama besar seperti Bung Karno pernah belajar ilmu ini, saat menjadi mahasiswa THS (sekarang ITB) di Bandung.
Fenomena tenaga prana pada beberapa perguruan sering dikaitkan dengan terpentalnya si penyerang ketika berusaha menyerang seseorang yang memiliki tenaga tersebut.
Guru besar Satria Nusantara (SN) Maryanto (1990), menjelaskan gejala tenaga prana dengan pendekatan teori medan Elektromagnetik (EM). Si penyerang memberikan frekuensinya yang berbanding lurus dengan energi kepada yang diserang. Akibatnya, terjadi penguatan amplitudo yang akan memperbesar energi balik ke penyerang dan menyebabkan gangguan kepada yang bersangkutan, sesuai intensitas energi yang diaktifkan.
PENJELASAN tenaga prana dari sudut pandang ilmiah pada beberapa perguruan sejenis di Indonesia umumnya mengikuti teori gelombang EM di atas, di mana mekanisme penjalaran tenaga prana dijelaskan melalui interaksi berdasarkan jarak (action at distance) yang memerlukan pengertian medan (besaran fisis yang mempunyai nilai di setiap titik dalam ruang) dan gelombang sebagai perantaranya.
Untuk membuktikan kebenaran teori EM, medan energi pada pelaku tenaga prana harus dapat diukur dan dinyatakan secara kuantitatif.
Faktanya, sampai saat ini belum ada hasil ilmiah yang dapat menunjukkan kebenaran ide tersebut, walaupun pendekatan dengan model EM adalah yang tertua dipikirkan manusia sejak dahulu (Cazzamalli, 1925).
Kelemahan penjelasan dengan mekanisme ini terletak pada proses rambatan gelombang EM yang memerlukan jeda waktu, sedangkan fenomena tenaga prana sendiri pada praktiknya tidak terbatas oleh adanya ruang dan waktu.Dengan demikian, perlu dicari mekanisme yang lebih representatif untuk menjelaskan fenomena tenaga prana. Beberapa ahli fisika dan psikologi mengajukan beberapa konsep seperti Model Entropi dan Proses Acak (Gatlin, 1972), dan Model Perwakilan Ruang Hiper (Feinberg, 1967, 1975).
Bahkan ada yang lebih jauh lagi dengan model yang dinamakan Kecerdikan Jagat Raya (Universal Intelligence). Model ini mengatakan bahwa eksistensi pikiran manusia melingkupi semua ruang dan waktu. Apa yang ingin diwujudkan dalam ruang dan waktu dapat diprogram pikiran manusia.
DARI semua model di atas, penulis tertarik dengan Model Holografik yang dikembangkan pakar fisika David Bohm dan pakar psikologi Karl Pribram (1971,1975,1976). Mereka menyimpulkan bahwa informasi di alam ini bukan merupakan fungsi ruang dan waktu, tetapi dalam bentuk “getaran” yang dalam ilmu Fisika diwakili dengan persamaan gelombang dengan amplitudo dan frekuensi masing-masing.

Kesadaran manusialah yang melakukan “Transformasi Fourier” (sebuah konsep matematika yang dapat memetakan semua proses fisik di alam dalam bentuk frekuensi dan amplituda serta kelipatannya) agar dapat mewujudkan informasi tersebut ke dalam ruang dan waktu.
Penjabaran lebih lanjut model ini adalah kesadaran manusia (pikiran) dapat mengambil semua getaran yang ada di alam. Kemudian melalui proses transformasi tenaga prana, abstraksi dapat diwujudkan ke dalam ruang dan waktu.
Dengan mengikuti perkembangan model fisika di atas, pemahaman pada mekanisme tenaga prana tidak lagi terbatas pada dimensi yang sempit, hanya sebatas ruang dan waktu, melainkan juga pada dimensi yang lebih luas yang menyangkut wilayah esoterik dan dimensi kesadaran yang hanya dimiliki manusia.
Oleh karena itu, diperlukan pengertian ilmu fisika dan cabang disiplin ilmu lainnya yang lebih komprehensif. Dengan kata lain diperlukan sebuah konsep yang dapat menjelaskan segala sesuatu di alam semesta berdasarkan teori tunggal. Teori tersebut dalam ilmu fisika dikenal sebagai A Theory of Everything.
ALBERT Einstein menghabiskan waktu lebih dari 30 tahun sisa hidupnya untuk membangun teori yang dapat menggabungkan empat gaya dasar yang berlaku di alam semesta: gravitasi, elektromagnetik, dan dua buah gaya nuklir, kuat dan lemah.
Sebuah teori yang diharapkan dapat menjelaskan proses terjadinya “dentuman besar” (big bang) pada awal evolusi, fisika dalam partikel atom dan semua hal-hal mikroskopik. Namun demikian, misi itu sampai akhir hayat hidupnya bahkan sampai saat ini belum juga tercapai.
Kompatriot Einstein berusaha menciptakan teori tersebut dengan menggabungkan teori relativitas (untuk menjelaskan gravitasi) dan fisika kuantum (untuk gelombang elektromagnetik dan 2 gaya nuklir, kuat dan lemah).
Dua hal yang saling berlawanan, yang satu berkisar pada hal besar seperti galaksi, quasar, dan yang satunya lagi hal kecil di dunia sub-atomik, hal yang diskrit seperti paket energi disebut kuanta, ternyata gagal setelah 50 tahun berusaha mewujudkan A Theory of Everything.
DEWASA ini para pakar fisika berusaha mendekatinya dengan pendekatan lain. Ada Stephen Wolfram dengan teori Automata Selular dan Michio Kaku dengan pendekatan perwakilan ruang Hyperspace.
Dalam kaitannya dengan pemahaman pada beberapa model yang telah dipaparkan sebelumnya, mungkin buku Michio Kaku (1994) yang berjudul Hyperspace: A Scientific Odyssey Through Parallel Universes, Time Warps and the Tenth Dimension, dapat menjelaskan mekanisme tenaga prana lebih baik lagi dalam usaha perumusan teori di atas.
Kaku mendapatkan idenya dari penemuan Einstein tahun 1915 yang mengatakan bahwa alam semesta terdiri dari empat dimensi: ruang dan waktu yang berkembang. Kelengkungannya menyebabkan “gaya” yang disebut “gravitasi”.
Kemudian Theodore Kaluza pada tahun 1921 meneruskan riset Einstein tersebut dan mengatakan bahwa riak pada dimensi ke “lima” dapat dilihat sebagai “cahaya”.
Bagaimana dengan dimensi yang lebih besar dari lima?
Kaku memperkenalkan teori yang disebut “superstring”. Jadi kelengkungan yang terjadi pada ruang dan menyebabkan gravitasi merupakan paket kecil dari “string yang “bergetar” dan “beresonansi”.
Demikian juga cahaya yang merupakan riak dari dimensi ke-5 adalah komponen “string” lainnya. Dengan begitu, empat gaya dasar tadi dapat digabungkan dan peristiwa di dalamnya menjadi dimensi yang lebih besar: 10 dimensi.
Dengan 10 dimensi itu Kaku berhipotesis bahwa semua proses yang terjadi sehari-hari-termasuk fenomena tenaga prana-dapat dijelaskan.
PERKEMBANGAN ilmu fisika belakangan ini bahkan tidak berhenti hanya pada 10 dimensi, masih ada dimensi yang lebih besar lainnya. Banyak konsep bermunculan, seperti pendekatan dengan teori membran dan sebagainya yang semakin menuju pada hasil unifikasi gaya-gaya yang mengatur seluruh alam semesta.
Semua penjelasan ilmiah yang dibentangkan dalam artikel ini pada intinya adalah meyakinkan bahwa di luar panca indera yang terbatas, masih ada dimensi yang lebih tinggi dan belum dieksplorasi dan dirasakan.
Cara berpikir dan bekerja sensor manusia, terbiasa dalam lingkup ruang dan waktu (empat dimensi). Pada kenyataannya, pikiran manusia tidak terbatas hanya pada ruang dan waktu tersebut.
Sudah saatnya ilmu pengetahuan dan teknologi mengarahkan risetnya pada hal-hal yang “esoterik” yang dulu dikatakan sebagai “meta-rasional”, seperti adanya konsep aura, orbs, dan tenaga prana. Dengan demikian, tenaga prana dan metoda penyembuhan yang menggunakan media ini serta segala aspek aplikasinya bisa dikuantifikasi secara ilmiah bila A Theori of Everything telah ditemukan.
Pada saat itu, tenaga prana akan terbuka tabirnya dan bukan lagi merupakan hal mistik, seperti anggapan sebagian masyarakat saat ini.
Fadli Syamsudin Praktisi dan pengamat perkembangan tenaga prana, staf peneliti TISDA-BPPT

Iklan

11 Tanggapan to “Menguak Tabir Prana dengan Fisika”

  1. Anonim said

    fisika dan prana ndak ada hubungannya,
    org terpental krn ada roh yg punya kuasa mementalkannya,
    tdk ada energi yg terdefinisi dlm fisika terlibat

    @
    Dalam fisika memang harus bisa dibuktikan (dan dinalar) termasuk pembuktian sebaliknya. Artinya gugur satu teori karena ada teori yang menyempurnakannya dan diakui tentunya oleh kalangan yang sama 😀

    Suka

  2. Agungk said

    info lawas, tapi gpp khan ditanggapi?
    aniwei, menurut saya kalau mau men-science-kan prana, tenaga dalam, tenaga ghaib, atau apapun itu namanya, hendaklah dengan mengikuti kaidah ilmiah baku. yakni dimulai pengamatan terhadap fenomena tanpa adanya syakwasangka/preconception bahwa itu adalah fenomena ghaib/prana dan sebagainya. harus diidentifikasi bentuk dan parameter linkungan di mana fenomena terjadi, apa batasanyya, apa variable yang mengotrolnya. kalau katanya prana mampu membuat orang terpental, sebenarnya secara straight forward bisa dianalisis gaya-gaya yang berkerja terhadap subjek ketika fenomena berlangsung. bila ternyata ditemukan adanya force yang tidak diketahui asalnya, maka dapatlah kita berasumsi kalau memang ada gaya ‘ghoib’ yang ikut berperan. kalau ternyata tidak ditemukan adanya force aneh tsb., kita bisa berasumsi kalau efek terpental itu bisa jadi suatu reaksi psikologis atau neurologis subjek. bila kita selami, kita akan terkagum/terheran betapa amazing/ajaib/aneh/rumitnya dunia psikis manusia(bukan psikis ghaib, tapi psikis yang terlahir dari proses fisiologis/fisika/kimiawi sistem saraf). untuk mengetes asumsi ini gampang saja. inisiator prana kita tempatkan dlm. ruang kaca riben yang hanya tembus pandang dari dalam. sementara itu subjek/korban berada diluar. kalau sang ‘suhu’ musti bersuara pada saat mengeluarkan prananya, maka ruangan tersebut harus dibikin kedap suara. bila ternyata subjec dapat dipengaruhi, maka kita bisa simpulkan kalau efek itu bukan atas ‘isiatif’ subjek.
    ya..gitulah kira-kira gambaran awalnya. tentu saja masih banyak langkah-langkah yang musti dilakukan sebelum kita mengambil kesimpulan kalau prana/tenaga ghoib adalah fenomena alam yang nyata.

    @
    Ini nggak lawas kok…. always new (itu Coca Cola – diproduksi lebih dari 100 tahun lalu, tapi dalam persepsi… selalu baru).

    Ini fenomena yang memang belum banyak dipahami, bahkan oleh analisis gelombang (seperti kata artikel itu)…. Namun, sebagai fenomena alam nyata kita “bisa mengakui”, meskipun belum tentu kita mengetahui sebabnya. Misalnya, sederhananya, perasaan ada yang mengikuti, diamati orang… secara fisika susah dijelaskan, tapi getaran terhalus bisa ditangkap panca indera, tapi tidak oleh peralatan mesin. Ada percobaan telepati ketika dua orang kembar identik bisa berhubungan. Bahkan ketika salah satu berada di tempat yang jauh di kedalaman air dan satu lagi di kota yang berbeda. Tidak ada satupun gelombang yang terdeteksi bisa berhubungan. Toh, kedua anak manusia itu bisa saling membaca pikiran…… Subhanallah.

    Suka

  3. sikabayan said

    beuh… kang agor mah ada2 sajah topik yang diangkanyah teh… euheuhu 🙂
    tapinyah kabayan setuju sekali sama topik yang ini mah… soalnya kebanyakan orang suka nyari2 ilmu yang samar, bahkan beli ilmu klenik dengan bayaran yang konyol, ngasih minum kopi sama makhluk yang tentunya minuman sebenarnya bukanlah kopi, kopi mah minumannyah kabayan atuh, bukan minumanyah jurig…
    kabayan pikirmah tenaga listrik yang dibangkitkan generator teh kan tidak terlihat, tetapi terasa nyetrum… kalau diingat ingat soal susunan molekul yang selalu berputar, baik yang kekanan maupun yang kekiri, serta susunan molekul apah, juga kecepatan berputarnyah bisa bertambah bila mendapat tambahan pemanasan, euh… di badan kita teh yang paling banyak mah kelihatannyah susunan molekul air, olah raga yang mana yah kira2 yang pergerakannyah bisa mempercepat putaran molekur air paling cepat dan paling banyak?…
    euh.. kalo kabayan andai2kan setiap satu susunan molekul air yang berputar ituh sebagai generator, yang tersusun menjadi matrix gabungan dari paralel dan serial sel generator batre, euh berapa yah listrik yang bisa dihasilkan teh?… berapah resonan medan magnet yang dihasilkan listrik itu teh?…berapah rata2 frekuensinyah?…
    euh.. itu baru hasil dari molekul air, belum lagih dari yang lain2nyah…
    di ++++ di xxxx hasilnyah jadi lieur….
    ada listrik statik sekian.. listrik halus sekian… listrik kasar sekian, medan magnet kasar dan halus sekian, radiasi sekian, kalor sekian +++ lieur2 sekian..
    yah.. mungkin kita sebagai makhluk yang ceroboh harus lebih tertib merenunginyah… soalnyah masalah sederhana juga masih banyak sekali yang terlewat…
    kabayan kalau ingat puncak pass, yang paling persis diingatnyah yah jagung bakar sama dingin nyah… padahal otaknyah kabayan yang belet inih ngerekam suasana bukannyah ngerekam dingin sama jagung bakar ajah… mata melihat suasana yang kompleks terekam, telinga mendengar suara yang komples terekam, rambut merasakan pergerakan yang kompleks terekam, lidah merasakan rasa yang kompleks terekam, hidung mencium bau yang kompleks terekam, kulit yang paling luas penampangnyah merasakan banyak rasa yang kompleks terekam juga…
    euh… setiap mili detiknyah berapa banyak yang direkam otak kabayan teh???
    sampai hari ini teh sudah berapa X milidetik umur kabayan teh yah?? euh… Subhanallah… pantes ajah otak teh punya tempat yang spesial di badan kita teh yah??
    kalau kabayan ingat dulu, waktu main2 penggaris plastik yang digosok rambut bisa nempel kertas, euh kabayan pikir kalau bisa nempel pasti bisa dorong juga yah?…

    @
    Pengalaman spiritual, dalam keniscayaan hati… masih jauh ya dipahami oleh fisika….

    Suka

  4. hebiryu said

    gila.. yg ngomong keliatannya tau fisika banget. jadi malu…
    tapi apakah selama ini hubungan antara fisika dan tenaga dalam hanya sebatas wacana singkat seperti wikipedia ? atokah udah terbukti dengan persamaan2 ?
    http://hebiryu.wordpress.com/2007/05/28/asal-usul-tenaga-dalam/

    @
    memang ya… saya juga nggak tahu apakah sudah ada persamaan tenaga dalam…. tapi yang jelas… datangnya dari dalam :))

    Suka

  5. sikabayan said

    duh.. ada kang hebir…
    euh… jadi malu kabayan mau andai2 nyah…
    jalan2 lihat blog nyah kang hebir… euleuh… spesialis TD…. geuning..
    tapi ah… ngga apah2 yah.. namanyah juga andai2an eheheh.. kalau ngeliat cara ngebankit td teh kebanyakan mah dengan bergerak tanpa nafas terkendali yah… biasanyamah kalau kita bergerak tanpa nafas teh jadi kraam… alias kaku yang nyeri sekali…euh… gara2 kebanyakan asam urat yang kebakar jadi asam laktat… sakiiit… teh… tapi kalau terkendali mah, mungkin sajah bisa merata kejutan ototnyah.. yah… mungkin sajah power yang besar seperti itu teh kalau di pembangkit listrikmah sama dengan pembangkit listrik tenaga atom…cuma kalau salah yah jadi bom atom gituh…
    tapi kalau soal nembak jin serta semodelnyah mah… kabayan jadi takut atuh… sebab jin mah dibawah manusia tingkatnyah… jadi kalau kita mau kontak teh kita yang harus turun tingkatnyah ketingkat mereka…euh…masuk ke daerah yang tidak dikenali… bukan lapangannyah manusia… duh.. padahal jin2 jendral mah suka nyamar jadi makhluk ahli penyembuh… yang membujuk kita jadi akhli penyembuh juga… ngga tahu punya maksud apah dibelakakng eta teh…
    kalau lagi jalan2 kabayan suka lihat ahli2 td tingkat2 tertentu teh suka kontak2 ke tengah samudera… ngontak nyai roro kidul kelihatannyamah… aduh saha atuh eta si nyai teh… pan bukan orang… duh… jadi paur.. alias khawatir… kalau main2 sama jendral mah…
    euh… memang untuk meraih sesuatu teh harus tekun serta sabar juga pasti di uji… kalau ingin buru2 teh bisa jadi bahaya… sudah sifat manusia tidak pernah puas teh… ingin lebih2 dan lebih dan cepat… cepat inih yang repot mah… cepat2 akhirnyah jalannyah jadi pintas… minta bantuan hal yang tidak diketahui…
    kabayan jadi ingat tatangga kabayan yang marah sama kera yang lepas yang ngambilin makanan, sebab tatangga teh abri, eta kera teh di tembakan di atap rumah teh… euh ternyata tidak satu juga yang kena… bukannyah kera lebih cepat dari peluru rupanyah… tapi kera jeli ngeliat telunjuk yang narik picu, tiap jeder keranyah mental kaya yang kena…. tapi ngga lama teh balik lagih disituh… peluru abis keranyah masih disituh… euh…
    apalagih jin kita ngga bisa lihat bangkainyah… duh… jangan2 seperti lihat kera gituh…

    @
    apakah prana ada hubungan dengan tenaga dalam (td), apakah ada hubungan dengan jin?….

    Suka

  6. sikabayan said

    euh… waktu kabayan jalan2 teh… kabayan banyak lihat cara guru besar mengukur tingkat tenaga murid2 nyah teh dengan mengukur ketebalan aura atau prana atau getaran atau yang serupa… yang kurang lebih teh ituh2 juga…
    ada guru besar yang mempergunakan tenaga prana tangannyah untuk mengukur tingkat getaran murid2 nyah dari mulai getaran listrik halus hingga getaran hawa panas yang mirip mini microwave, soalnyah kalau microwave oven mah bisa hangus…
    ada juga guru besar yang cukup dengan melihat sajah… aura atau prana muridnyah warnanyah apah? bisa di golong2 kan menjadi sekian spektrum warna, atau getaran yang terlihat sebagai warna…
    kabayan pikir teh kalau getarannyah ditembakan ke arah tertentu bisa jadi seperti radar… menerima pantulan getaran entah dari jin atau dari apah sajah… mungkin juga dari temannyah yang sama2 sedang memancarkan getaran gelombang juga… bahkan ada juga yang melatih dengan menembakan getarannyah ke speker toa masjid sampai ngedenging bahkan jebol… euh…
    kalau kabayan andai2kan mah… cara mengukur spektrum zat kimia bisa pakai spektro foto meter… mungkin sajah untuk mengukur prana dan teman2 nya teh bisa dibikinkan spektro radio meter yang gelombangnyah relatif cocok dengan gelombang tenaga tersebut gituh… soalnyah kalo panas mah mirip microwave… kalo yang rendahnyah bisa nge-jam toa masjid…
    seharusnyamah sudah bisa diperkirakan range nya teh…
    duh… ngimpi lagih… ngimpi lagih…

    @
    yang kemudian ditanyakan… seberapa mampu peralatan elektronik dapat menangkap getaran gelombang yang terjadi?.
    Kalau foto prana manusia… kalau nggak salah sudah bisa sih….

    Suka

  7. asbun said

    wa…. rame ya ngomongin tenaga dalam, ngomong2 asbun mo nanya, kt orang + konco2 asbun py tenaga prana, memang pernah ada yang bisa mendeteksi adanya energi di tubuh asbun tp asbun ga krasa apa2 cuma tangan dan kaki sering kesemutan itu jg kerasa kecil sekali….
    1 gimana caranya membuktikan adanya tenaga prana….
    2. kt orang tnaga prana bisa untuk kesaktian, pengobatan, tarawangan dan dll
    3. plsssssss jelasin dong ttg tenaga prana, siapa tau asbun bs terbang ky superman he..he..he.. 🙂

    @
    Saya terus terang tidak mengerti sama sekali apa itu sebenarnya prana, aura, tenaga penyembuh (atau istilah chakra – di India). Ada beberapa variasi dan kekhususan untuk membangkitkan energi yang tersebar dan tidak teratur dalam tubuh (atau pada banyak mahluk hidup) untuk menjadi sesuatu yang memiliki “arah bersama” atau resultante arah yang bertumbuh menjadi sesuatu kekuatan yang menjadi lebih nyata dan bermafaat.
    Membayangkan hal ini, boleh jadi seperti kita membedakan : apa sih bedanya magnet dan bukan magnet. Bedanya terletak pada gaya-gaya yang memiliki arah yang tidak sama dengan arah yang sama. Medan listrik/magnet yang terbentuk memiliki kekuatan setelah arah-arah gaya terbentuk searah (menjadi magnet). Setiap sel tubuh memiliki “medan-medan” gaya ini. Membangkitkannya menjadi energi berarti dilakukan dengan peningkatan kemampuan melalui meditasi atau latihan sejenisnya.

    Tenaga prana menjadi bio energi kehidupan yang membuat sel tubuh yang sehat menampakkan “aura”nya bila dipotret dengan filter khusus (entah apa), mungkin seperti infra red dan bahan film peka cahaya.

    Konsentrasi (meditasi) dan latihan pernafasan, kalau tak salah nih, menjadi salah satu usaha membangunkan arah resultante positip dari 7 lokasi yang memungkinkan dibangkitkannya kekuatan prana. Ada hampir 72 ribuan titik energi (katanya lho) yang harus diselaraskan untuk mencapai sasaran yang dikehendaki. Kalau ke 72 ribuan titik ini bisa dikendalikan dalam arah gaya yang sama, boleh jadi (bercanda),superman bertekuk lutut sama Kang Asbun….. 😀

    Suka

  8. quantum said

    tenaga dalam, tenaga prana, ujung ujungnya ilmu kanuragan, meskipun alih alih untuk pembelaan diri,penyembuhan dan lain lain.
    seberapapun tingginya dan waskitha nya biasa nya ego keakuan menjadi tinggi
    mengganggap diri besar, yang lain kecil.. kemudian ujub. Apalagi kalau sampai kontak kontak ke alam ghaib. 99% hanyut terkena tipu muslihat makhluk2 halus selain malaikat meskipun ada 2 kategori makluk ghaib, jelek dan jahat. tapi keduanya berunsur api, dan Api dekat dengan keegoan tadi.

    Tidak akan bisa masuk surga bila masih ada sifat khibir meskipun kecil.

    Hal ini juga tidak saja untuk ilmu kanuragan saja, tetapi juga semua ilmu bisa saja membuat kita sombong. Musa pernah ditegur Allah, karena merasa paling berilmu.
    tetapi ilmu kanuragan itu biasanya senang show of force, jadi secara nalar dan kebiasaan akan mudah mempengaruhi si pemiliknya.

    Bukanlah ilmu harusnya untuk mencari kebenaran absolut, jalan menuju kembalinya kita kepada Allah.

    Secara fisika, sangat benar sekali akan menimbulkan getaran elektromagnetik, yang secara mudah dikonversikan ke beberapa bentuk energi, panas, cahaya, power, medan perisai dll, tetapi tentunya getaran ini ada kemungkinan berinterferensi (sangat besar kemungkinan ini) dengan getaran dari makhluk ghaib tadi. sehingga spt saya kuatirkan di atas, mudah terpengaruhi/digelincirkan oleh mereka. Karena sesungguhnya musuh yang nyata adalah iblis baik menggoda jin dan manusia.

    @
    Energi dan kelebihan dimiliki, menjadi ladang amal atau ladang neraka !!… memang begitu, berapa besar mempengaruhi pemiliknya. Layak direnungkan. Namun juga, bila kesempatan dan talenta memang ada, dapatkah keduanya dicapai? Untuk kemashalatan manusia tentunya.

    Suka

  9. ki wito panunggal djati said

    ilmu terbagi atas :
    1.manusia
    Cipta,Rasa, Karsa
    2. Ulama
    Wirid,kekuatan doa, tareqat/Tiraqat,tasawuf, Lil Ulama al alimin
    3. Wali
    Qadigdayaan, bathiniyah, Hiqmah,
    4. Nabi
    Mu’jizat, Ass-Sunnah
    5. Allah SWT
    Kun Fayakun, Asmaul Husna

    @
    Terimakasih Ki Wito penjelasannya… Satu proses tingkatan/klasifikasi….

    Suka

  10. hafid said

    wah.. tenaga prana ya…,
    semua mahir mengolah tenaga prana, pasti BBM ngak laku ya… saya jadi pingin belajar tenaga prana, siapa tau bisa saya transformasikan untuk penerangan rumah dan kebutuhan energi lainnya. hehehe

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: