Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Siapa Beriman Kepada Allah : Selamat

Posted by agorsiloku pada April 2, 2007

Tiga ayat ini, menurut pemahaman saya jelas bukan sebuah reposisi bahwa agama Islam bukanlah agama pilihan Allah bagi hambaNya di akhir zaman, namun ketiga ayat berikut yang memiliki komponen yang sama isinya merujuk pada satu pengertian mengenai jalan keselamatan adalah beriman kepada Allah, siapapun dia, berasal dari manapun, pada masa manapun, dalam status dan lingkungan apapun. Menunjukkan satu prasyarat mutlak sebuah posisi beriman :

Terjemahan Depag Indonesia :

2. Al Baqarah 62. Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin [56], siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah[ 57], hari kemudian dan beramal saleh[58], mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

56]. Shabiin ialah orang-orang yang mengikuti syari’at Nabi-nabi zaman dahulu atau orang-orang yang menyembah bintang atau dewa-dewa.

[57]. Orang-orang mukmin begitu pula orang Yahudi, Nasrani dan Shabiin yang beriman kepada Allah termasuk iman kepada Muhammad s.a.w., percaya kepada hari akhirat dan mengerjakan amalan yang saleh, mereka mendapat pahala dari Allah.

[58]. Ialah perbuatan yang baik yang diperintahkan oleh agama Islam, baik yang berhubungan dengan agama atau tidak.

22. Al Hajj 17. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shaabiin orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu.

Bangsa Persia adalah beragama Majusi, menyembah api dan berhala.

5. Al Maa’idah 69. Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (di antara mereka) yang benar-benar saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

Ada ragam reposisi untuk memahami ketiga ayat di atas, ada yang mengaitkan dengan kematian Imam Ali yang meninggal syahid saat sholat shubuh. Ada juga yang mencoba memahami dalam batasan ayat itu kan untuk sebelum kedatangan agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad. (Kata kan ini…. adalah juga menunjukkan penolakan atau sangkalan, atau kadang mengarahkan agar ayat di atas sesuai dengan apa yang dimaui penafsir). Menurut saya, baca saja apa adanya. Pahami apa adanya.

Ayat ini menunjukkan keadilan Allah Swt kepada seluruh mahluk ciptaanNya. Bayangkan jika seorang anak manusia lahir dari sebuah lingkungan yang tak pernah mengenal kebenaran sama sekali, apakah ia akan jadi calon neraka?. Namun, Allah memberikan informasi jalan kebaikan dan keburukan (maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. QS 91:8).

Ketiga ayat di atas juga mengajarkan kepada kita :”mbo ya hati-hati memberikan penilaian, mencap, mengkafirkan orang lain, atau siapa saja bahkan bukan hanya yang tidak segaris dengan pemahaman yang kita miliki, tetapi juga bahkan kepada yang disebutkan oleh ayat-ayat di atas”

 

Iklan

33 Tanggapan to “Siapa Beriman Kepada Allah : Selamat”

  1. deKing said

    Alloh-lah pemilik segala keputusan karena Alloh Maha Mengetahui lagi Maha Melihat.
    Sangat tidak pantas manusia menjelekkan mengkafirkan orang agama lain.
    Untukmu agamamu, untukku agamaku…

    @
    Tepat… setiap ummat diberikan petunjuk oleh Allah, bahkan yang berada dalam lingkaran, yang boleh jadi “dinilai” oleh manusia lain atau golongan lain sebagai “sesat”. Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu… (Al Hajj 17). Jadi, “sebaiknya”, jangan mendahului keputusan Allah begitu, kan kita sama-sama ciptaanNya….. Salam Mas De King.

    Suka

  2. alief said

    Sekedar mengingatkan, rukun iman itu ada 6 lho ya… 🙂

    @
    Trims Cak, barusan lupa malah enam-enamnya apa. Lalu kaitan rukun imam (percaya kepada Allah, malaikat, kitab-kitab Allah, Nabi & Rasul, Hari Kiamat, dan Qadha & Qadar) dengan konteks tiga ayat tadi bagaimana ya?.

    Suka

  3. Odoy said

    Masalahnya, Yahudi & Nasrani itu beda jauh akidahnya dengan Islam, yaitu ttg konsep Ketuhanan.

    Menurut saya, maksud ayat di atas ;
    Bila Nasrani & Yahudi MENJADI BERIMAN kepada Allah SESUAI dengan yg Allah kehendaki, kemudian mereka beramal Saleh…dst
    (karena Saya Islam dan Ayat tsb ada di AlQuran, saya yakin konsep ketuhanan Islamlah yg sesuai dengan keinginan Allah).

    Akan menjadi aneh bila dua konsep ketuhanan dianut seseorang sekaligus (misalnya Tauhid dan Trinitas), karena jatuhnya menjadi musyrik, bukan mukmin lagi.

    Mengenai Keadilan Allah dalam hal ini , semua manusia akan dimintai pertanggungjawabannya sesuai hidayah yg telah sampai kepadanya (maaf saya lupa dalilnya). Maksudnya, manusia ada kecenderungan kepada ‘Fitrah’ ( sesuai dengan keinginan penciptanya), dan manusia akan dimintai pertanggunjawabannya dalam menjaga kefitrahan diri mereka.

    Misalnya, bila ada non muslim setelah didakwahi kemudian menolak Islam, bukan karena dia bebal, tapi karena si da’i tdk bisa meyakinkan dia atau malah si da’i berprilaku tdk sesuai dgn apa yg dia dakwahkan. Kira2 pantas tidak orang tsb dicap kafir? (Hanya Allah yg berhak memutuskan)

    Wallahu alam bi showab

    @
    Trims Mas Odoy mau berkunjung ke sini ya. Begitu banyak Al Qur’an memberikan kritik atas “pikiran” dan “prasangkaan” kaum yang kemudian menolak ayat-ayatNya. Tiga ayat yang saya kutip tadi, bagi saya merupakan satu catatan bahwa generalisasi, stereotype, stigma haruslah dilakukan dengan hati-hati. Kita tidak tahu hati-hati manusia dan hidayahNya diberikan kepada ciptaanNya. Pada Surat Al Maidah 69 tertulis : “… siapa saja yang benar-benar sholeh… “. Lalu apakah kita akan mengatakan :”tidak ada orang yang beriman di antara mereka, so pastilah mereka akan masuk neraka”. Sedang ayat Al Maidah 69 tidak bilang begitu. Jadi saat kita mereview totalitas, maka kita sedang mengingkari ayat no. 69. Astagfirullah.

    Paling tidak, ayat itu, buat agor, mudah-mudahan bisa menjadi lebih hati-hati menyikapi. Karena jelas itu adalah peringatan. Kita juga diberitahukan Allah, apa konsep-konsep “mereka” dan apa sikap yang seharusnya. Rasanya itu juga jernih.

    tapi karena si da’i tdk bisa meyakinkan dia atau malah si da’i berprilaku tdk sesuai dgn apa yg dia dakwahkan.

    QS 13. Ar Ra’d 40. Dan jika Kami perlihatkan kepadamu sebahagian (siksa) yang Kami ancamkan kepada mereka atau Kami wafatkan kamu (hal itu tidak penting bagimu) karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedang Kami-lah yang menghisab amalan mereka.

    Suka

  4. Raffaell said

    Huehuehue….
    Hanya allah yang tahu, apa yang dilakukan manusia….

    @
    Ah massa, hanya Allah yang tahu. 🙂

    QS 100. Al ´Aadiyaat 7. dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya,

    Suka

  5. Odoy said

    Ya, tugas seorang da’i hanya menyampaikan.

    Tapi yg saya maksud dengan “tapi karena si da’i tdk bisa meyakinkan dia atau malah si da’i berprilaku tdk sesuai dgn apa yg dia dakwahkan” adalah sbb.: si mad’u (yg didakwahi) samasekali tidak melihat kebenaran & kemuliaan Islam hanya karena yg mendakwahi/da’i nya sendiri (misalnya) jauh dari nilai2 Islam atau kurang ilmu sehingga Islam terlihat dangkal di mata mereka. Atau di mata mereka Islam identik degan kekerasan, perang dsb.

    Saya kadang khawatir, jangan2 selama ini (mungkin) sya ikut andil merusak citra Islam , sehingga di mata mereka citra Islam buruk sekali.

    Soal ayat 69 itu sya ga bisa komen.
    Tidak cukup bila kita memahami ayat Alquran hanya dari terjemahan saja. Bagusnya kita pahami dari bhs aslinya, dan tahu azbabun nuzulnya kenapa bisa turun ayat tsb. Sama halnya dengan hadits memotong kumis dan memanjangkan jenggot atau memakai celana di atas mata kaki.

    @
    Soal ayat 69 itu sya ga bisa komen. –> ya gpp

    Tidak cukup bila kita memahami ayat Alquran hanya dari terjemahan saja. Bagusnya kita pahami dari bhs aslinya, dan tahu azbabun nuzulnya kenapa bisa turun ayat tsb.–> Tentu, asal usul kenapa ayat turun adalah salah satu pengetahuan kita terhadap mengapa suatu ayat turun, kejadian ayat itu turun memperjelas ayat-ayat yang relevan dengan kondisi saat itu sehingga tentu saja kita bisa lebih mengerti. Namun, tentu juga kita pahami bahwa tidak semua ayat-ayat itu turun karena kejadian yang melatar belakangi. Misalnya 3 ayat yang jadi bahan diskusi ini. Apakah asal usulnya mengapa turunnya sama?.

    Bagusnya kita pahami dari bhs aslinya –> Betul, tentu dengan memahami bahasa aslinya, akan lebih mudah memahaminya. Apalagi jika bahasa asli yang betul-betul sama dengan bahasa suku-nya Nabi.

    Namun, jangan pula kita persempit, karena Al Qur’an adalah petunjuk untuk seluruh manusia. Saya bukan ahli bahasa arab dan tak bisa menjelaskan asal-usul berdasarkan pengertian bahasa Arab. Jadi saya percaya saja dari beberapa sumber terjemahan atau komparasi dari beberapa ayat dari para ulama dan hafiz atau karya-karya terjemahan yang sudah diakui (meskipun boleh jadi belum sempurna – dan tidak akan sempurna – seperti kehendakNya). Saya juga bukan ahli bahasa Indonesia, dan kurang paham juga struktur bahasa Indonesia (meskipun puluhan tahun berbahasa Indonesia). Tapi, jelas ini adalah satu-satunya saya bisa berkomunikasi dengan pihak lain dan memberikan pendapat. Kalau saya, karena tidak menguasai struktur bahasa Indonesia, “dilarang” (tanda kutip, tidak ada lho yang melarang) untuk menilai suatu karya berbahasa Indonesia, karena saya tidak tahu taksonomi bahasa. Lalu saya harus gunakan apa?.(ini hanya komparasi)

    Namun, meski ada hadis :”sampaikan lah… meski hanya satu ayat…” jelas bahwa menafsirkan tanpa ilmu akan mengacaukan pengertian. Karena itu, saya cenderung melakukan dengan mengutip ayatnya saja dan pembaca yang menyimpulkan dari beberapa rangkaian ayat. Menafsirkan kadang saya juga takut. Takut salah, apalagi jika menafsirkan menurut apa yang saya kehendaki, termasuk juga membatasi pengertian ayat dengan diadukan dengan ayat lain, atau mengatakan pendapat A, B, C salah karena ayat ini artinya begini, begitu. Padahal, saya lebih percaya berlapis dan luasnya ayat itu untuk dipahami.

    Juga, karena saya juga menyadari, begitu banyak sebenarnya yang tidak kenal Islam dan ribet karena kehidupan sehari-hari, bahkan juga enggan membaca berpanjang-panjang kalimat bahasa Arabnya, ya.. saya mendedikasikan tulisan, tidak dengan mengutip atau menuliskan bahasa Arabnya atau dan lain sebagainya. Kalau sangat perlu, baru saya link saja rujukannya.

    Dan, saya lebih mendedikasikan sesuai tema blog ini. Kemudian, lebih pendekatannya pada “ayat ini ” menyampaikan begitu. Kalau terjemahannya salah (dari Depag itu), atau dari terjemahan Ibnu Katsir atau dari Ulama lainnya. Jangan ragu-ragu, bantai saja. Saya percaya, pedang yang terasah oleh berbagai wacana, memberikan makna lebih baik, dan akhirnya tentu (semoga) semakin taat kepadaNya.

    Oh ya, satu lagi. Meskipun kerap saya baca tafsirnya juga. Tapi, karena tafsir adalah pandangan dari si A, si B terhadap peristiwa atau jalinan komunikasi. Pada blog ini, saya lebih suka (baca cenderung), menyampaikan saja apa yang disampaikan oleh ayat itu. Jadi, biar saya (dan tentu saja yang sudi membacanya), menyimpulkan. Kalau saya memahami berbeda, ya silahkan kritik, tegur. Agor mau menerima kritik. Namun, jujur juga, kalau dibilang murtad, atau kafir, atau musyrik. Ya… siapa sih yang mau diputuskan begitu. Bahkan pencuripun, tak mau disebut pencuri. Penjahat juga bisa sayang sama anaknya dan lain sebagainya. Manusia tidak hitam putih.
    Salam, eh maaf… kepanjangan. Namun, trims berat atas komentar dan seluruh catatannya.

    Suka

  6. Odoy said

    Heheh, siapa yg ngebantai? 🙂
    Cuma ikut diskusi kok, n bukan sok tau.
    Senang sekali diskusi spt ini, ga main vonis.

    Saya juga sama seperti Kang Agor. Mempelajari Islam dengan membandingkan pendapat2 ulama, tidak fanatik pada satu mazhab, mengambil kesimpulan tidak berdasarkan hawa nafsu & fanatisme golongan, dan tidak memaksakan pendapat kpd orang lain spt “Ceuk Aing bemo – bemo!!”

    Pokona mah, jawaban Kang Agor yang ini gue banget 😉

    @
    he…he… maksudnya bantai isinya kalau salah. Jangan biarkan salah tapi tidak dikoreksi. Semua pemahaman itu proses. Nalar religius adalah perubahan terhadap pengertian-pengertian. Hari ini pahamnya begini, besok lusa, pemahaman baru masuk. Dan ini bisa sangat signifikan perbedaannya. Jadi, agor sih nggak mau mengabsolutkan sebuah pengertian sebagai satu-satunya pengertian. Batu mengasah pedang, batunya lumat, dan pedangnya makin tajam kan. Kalau manusia ketika salah dalam proses itu malah dihakimi, dicaci, maka setan mendapatkan kemenangannya. Jadi hakimi pemikirannya, tapi bukan subjeknya… gitu loh maksud agor. setuju kan 🙂

    Dan memang kita harus berusaha lembut. Allah juga menyuruh utusannya Nabi Musa dan Nabi Harun berlaku lemah lembut pada Fir’aun. QS 20. Thaahaa 44. maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.”

    Masa kita sudah menjadi begitu sok dengan apa yang sudah kita tahu dan tidak tahu (banyak tidak tahunya).

    Ingin dapat pahala, “malah dapat pahili ya Kang”.

    Dan agor betul-betul bersyukur dapat komen dari Odoy. Sama nikmatnya dengan baso tahu yang disukai robin dan batman jua..

    Suka

  7. Odoy said

    Tuh kan enak kalo saling tabayun/ Klarifikasi mah ya Kang Agor?
    Jadi nambah sodara & Ilmu (elmuna semakin masagi – masagi elmuna , heheh)

    @
    alhamdulillah..

    Suka

  8. deking said

    di mata mereka Islam identik dengan kekerasan, perang dsb

    Jadi ingat beberapa bulan yang lalu ketika saya diajak teman bule jalan2 dan ketemu orang bule lainnya. Waktu itu dia omong kalau Islam adalah agama miskin, kasar dan bodoh.
    Waktu itu saya sedikit berusaha bahwa dia salah men-generalisasi keadaan
    yang salah bukan agamanya. Tetapi percuma juga berdebat dengan orang bule itu karena sepertinya tidak bermanfaat, lagian kalau debat dalam bahasa mereka saya jelas angkat tangan lha bahasa moyang saya adalah bahasa Indonesia.
    Oh iya, saya pernah sedikit kecewa dengan oknumumat Islam yang membuat citra Islam semakin buruk umat Islam yang membuat citra Islam menjadi buruk.

    @
    Mas Deking, trims berat dirujuk. Saya selalu teringgal kalau membaca ping back. Ternyata yang dirujuk, menarik untuk disimak.
    Saya malah dapat ide lagi untuk menulis.
    Ini tantangan memang untuk kita yang bukan “native speaker” trhdp bhs asing.

    Suka

  9. Fourtynine said

    Waktu baru belajar agama, waktu saya masih kecil sekali. saya pernah mikir gimana nasib orang Hindu, Buddha, Kristen dan agama agama lainnya saat masuk surga nanti, apakah mereka masuk surga? Kalau masuk surga apakah surganya sama dengan orang Muslim? Ataukah surganya khusus buat orang non Muslim? Kemudian saya dapat tentang “selain Muslim ga bakalan masuk surga?” Jadi gimana Mas? tolong bantu saya ya?

    @
    Sama mas… terus ketiga ayat sebagai pesan Allah kepada manusia yang jadi topik artikel, bagaimana kita memahaminya?.

    Percaya sama teman, atau percaya ayat di atas, atau ayat artinya hanya berlaku jaman dahulu saja (sebelum jaman Nabi terakhir). Lalu kemudian, bagaimana kita mengkombinasikan dengan pemahaman : Bagimu agamamu, bagiku agamaku…, rahmat bagi seluruh alam, Nabi terakhir, berserah diri, beriman.

    Menurut saya, hati yang ikhlas dapat menjawabnya. Tidak perlu siapapun lagi…. Salam

    Suka

  10. joerig said

    @mas farid …

    mas farid tahu tentang surga kan waktu mas farid belajar ttg agama Islam, karena mas farid seorang Muslim… kalo mas farid beragama Kristen, pasti mas farid juga akan belajar surga, tapi tentu saja dari sudut pandang Kristen..begitu juga kalo mas farid beragama Hindu, Buddha, atau agama lainnya…

    jadi kalo menurut saya –lagi-lagi sok tahu– , surga itu buat orang-orang yg beramal baik sesuai tuntunan agamanya.. semua agama kan benar menurut penganutnya…

    gimana menurut pa Agor ttg pendapatku ?..

    eh iya .. mas Farid, bukan maksudku sok keminter lho … 😀 .. peace…

    @@

    semua agama kan benar menurut penganutnya… –> saya juga tidak tahu persis, kalau pernyataan ini benar, maka tidak ada terjadi pindah dari satu agama ke agama lain. Dari Hindu ke Islam, dari Islam ke Kristen atau sebaliknya, atau dari lain ke yang lain lagi. Jelas di sini ada pengaruh-pengaruh eksternal dan internal ketika orang melakukan pilihan keberagamaannya dan banyak sekali (mungkin) yang menjadi pertimbangannya.

    Beramal baik kepada sesama, kepada keluarga belum tentu masuk surga (menurut agor). Semua amal tidak sedikit pula dinisbahkan (direlasikan/dikaitkan) hanya pada keluarga, lingkungan, dunia. Tapi tidak kepada untuk mendapatkan ridha dan sesuai petunjukNya. Tidak sedikit pula yang beramal untuk mendapatkan pujian dunia, shooting televisi, atau untuk mendapatkan tambahan proyek. Nah pada niat yang terakhir itu, apakah itu berarti pahala?. Allah lebih tahu. Tak layak kita menentukan atau mengarahkan apa yang telah Allah sampaikan menurut selera (baca :hawa nafsu) kita.

    Namun, beramal baik sesuai dengan tuntunan agama (artinya beramal adalah bermanfaat bagi orang lain), kalau dia bukan Islam, tapi yang lain bagaimana?

    Saya percaya arah dari 3 ayat itu karena memang Allah memberikan jalan (mengilhamkan) jalan kebaikan dan kefasikan bagi setiap jiwa. Begitu kata ayatnya.

    Namun, Allah juga menegaskah pula sesungguhnya agama yang diridhai adalah Islam (Al Imran : 19)… Dimulai dengan kalimat Inna (sesungguhnya). Perhatikan kata “sesungguhnya”, menyatakan penegasan di bagian kedalaman persoalan.

    Apakah ada proses pengingkaran, saya kira selalu terjadi… namanya godaan, dan orang mudah tergoda.

    Mba Joerig Cantik, agor ingin tegasi satu hal : agor komparasi dari ayat tapi tidak menyimpulkan atau menafsirkan. Hanya berusaha memahami apa yang disampaikan ayat. Jadi, agor nggak menambah hadis yang memperkuat atau memperlemah atau asbabun nuzul atau kata ulama. Kalau tafsir, tentu afdolnya dari orang yang seluruh hidup dan kredibilitasnya telah diakui ya. Soal berikutnya, terpulang pada masing-masing. Semoga Allah memberikan hidayah untuk kita. Amin.

    Oh ya, saya tambahkan ini, karena menurut saya, pertanyaan mba sangat membumi dan sulit

    Suka

  11. Fourtynine said

    Mungkin saya akan mengambil kesimpulan yaitu:
    Lebih baik saya memperbaiki kualitas dan kuantitas wudhu, sholat dan puasa saya. ketimbang mikirin nasib orang masuk surga atau neraka. Biarlah surga menjadi urusan masing masing manusia dengan yang Mahabenar. Gimana menurut mas Agor? Apa kesimpulan saya sudah cukup?. Terima kasih atas pencerahannya mas.

    @
    Segala do’a dan amal ibadah yang kita lakukan, termasuk sedekah, zakat kepada pihak ketiga dinisbahkan karena Allah Swt. Begitu jua segala niat baik, memikirkan dan menindaklanjutinya agar orang lain masuk surga adalah bagian dari ibadah. Kalau soal, menurut atau tidak orang lain, seperti ayat yang mengatakan, tugas nabi adalah menyampaikan.

    Jadi, memperbaiki kualitas wudlu, sholat, dan puasa berkait erat dengan urusan kita dengan Allah. Sedangkan Allah mengingatkan benar bahwa segala hal yang berkenaan dengan ridha Allah, justru berkait dengan bagaimana kita berhubungan dengan manusia.

    Agor kira, manusia yang sholat, wudlu dan puasa, tapi nggak pernah nggak sedekah, nggak membayar zakat, enggan berkurban, dan lain sebagainya, termasuk manusia yang sia-sia ibadahnya (ayat tentang ini banyak sekali). Bahkan dalam Al Maun, siapa pendusta Agama… yaitu orang yang antara lain … tidak menganjurkan memberi orang miskin….

    Sedangkan soal surga dan neraka, kita akan dengan sangat berdebar-debar dan takut jika waktunya tiba….. salam, agor

    Suka

  12. Dono said

    Ass,wr.wb, pak Agor,
    Seluruh rasul-rasul dan nabi-nabi yg Allah s.w.t utuskan di dunia ini hanya membawa satu pedoman yaitu Sembahlah Allah karena tiada tuhan melainkan Dia, ini adalah jalan yg lurus.

    Menurut firman-firman Allah s.w.t diatas, jelaslah bahwa,
    Seluruh rasul2 dan nabi2 tidak dimintai tanggung jawab atas perbuatan pengikut-pengikut mereka masing2 itu.

    sesat atau tidak sesat hanya sipengikut dan Allah s.w.t saja yg mengetahuinya.
    Kalau menurut saya, agama yg lurus hanya agama islam saja.
    Mengapa demikian? Hanya ALLAH S.W.T YG KITA SEMBAH.
    Amin.
    Wassalam,Dono.

    @
    Wass wr.wb Mas Dono….
    Amin. Amin.

    sesat atau tidak sesat hanya sipengikut dan Allah s.w.t saja yg mengetahuinya.–>
    Tentu kita juga kan…, kan kita diberi tahu ciri-cirinya dan pelakunya juga tahu.
    QS 100. Al ´Aadiyaat 7. dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya,

    Suka

  13. Fourtynine said

    Iya ya, ketinggalan zakat dan amal baik lainnya. Soalnya saya belum berpenghasilan mas, makanya zakatnya ga ditulis. Makasih pencerahannya mas, semoga kita dapat menjalani hidup dengan lebih baik dan Islami. Amiin
    Maafin kalau ada salah dan khilaf ya mas.

    @
    Sama-sama, saling memaafkan adalah karakter yang saat ini paling sulit kita jumpai. Ketulusan Mas 49 sudah agor rasakan sejak awal mau berkunjung ke blog ini. Oh ya, yang namanya sedekah tidak selalu berarti gemerincingnya rupiah. Senyum adalah sedekah, mendoakan orang tua, saudara, dan teman adalah sedekah, mengamalkan kebaikan dan ditiru orang lain sedekah, ilmu yang bermanfaat adalah sedekah, mengunjungi orang sakit adalah sedekah, membersihkan piring kotor di rumah orang tua adalah sedekah, memandikan kucing adalah sedekah. Al Qur’an sampaikan setiap kebaikan diganjar 10 kali lipat. Tentu saja, bila semua yang kita lakukan dengan niat (merelasikan) tindakan sebagai bagian dari harapan memperoleh ridhaNya. Karena itu, kalau tak salah, ada hadisnya : mulailah dari ucapan basmallah. Maafkan juga agor yang sok menggurui.

    Suka

  14. Fourtynine said

    Walah, padahal saya memang mau berguru sama Mas Agor ko, theme saya diwordpress aja dibikin ikut ikutan Mas Agor, boleh ya Mas? Artikel artikel di blognya Mas agor juga benar benar mantab. Sains In Religion bener dech pokoknya.he he

    @
    walah… saya lagi belajar, berbagi ketidaktahuan. Theme agor diganti suka-suka. Yang sekarang yang ketiga kalinya. Maklumlah selera. Kebetulan selera kita sama. Salam. Avatarnya ganti lagi?.

    Suka

  15. Dimas said

    Salam’alaikum

    Alhamdulillah bisa ketemu mas Agor, banyak ilmu yang didapat. Subhanallah.
    Ingin konsultasi nih mas…hehehe. Ketika kita mengatakan “aku beriman kepada Allah”, darimana kita mengetahui bahwa Iman tersebut berasal dari hati atau berasal dari akal?

    @

    Wass, wah Mas Dimas pertanyaannya begitu rumit.

    QS 5. Al Maa’idah 7. Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjian-Nya yang telah diikat-Nya dengan kamu, ketika kamu mengatakan: “Kami dengar dan kami taati.” Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Mengetahui isi hati(mu).

    QS 7. Al A’raaf 172. Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,

    QS 8. Al Anfaal 2. Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.

    Yang saya pahami dari ayat di atas, ketika juga manusia menyanggupi menjadi khalifah di muka bumi maka telah terjadi “perjanjian” antara Allah dengan ciptaanNya. Bahwa kemudian manusia ingkar dan melupakannya adalah persoalan lain.

    Jadi kalau saya baca 3 contoh ayat di atas, maka saya memahaminya dari hati, bukan dari pikiran.
    Sedangkan akal, baru menampakkan dalam raga setelah manusia mencapai tahap kedewasaannya. Kemunculan manusia ketika kecil, bayi, yang tampak seluruh hatinya. pikirannya belum berfungsi sempurna.

    Maaf kalau keliru. Saya juga tidak bisa mengingat kejadian ketika ruh mengambil perjanjian dengan Allah. Subhanallah.

    Suka

  16. Dimas said

    Alhamdulillah, terima kasih mas agor untuk ilmunya.Tetap saling berbagi.
    Semoga mas agor selalu dalam naungan CintaNya.amin 🙂

    @
    Subhanallah, terimakasih kembali pula, terutama di blog Mas, ditemui kearifan yang dalam. Semoga kita selalu berada dalam rahmatNya, diberikan hidayahNya untuk dapat memahami dan mengerti petunjukNya dalam menjalani kehidupan sesaat ini.

    Suka

  17. Dimas said

    Amin Sahabatku

    @
    Amin Mas Dimas….

    Suka

  18. Fourtynine said

    Iya mas, avatarnya ganti. biar ga jadi masalah dan lebih enak dipandang.

    Suka

  19. haniif said

    As Salammu ‘Alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.
    Sekedar gambaran jika ada syair yang bunyinya sbb:
    1. Bila orang datang membawa meja-meja.
    2. Meja putih dan biru.
    3. Potong kaki meja putih dan bakar.
    4. Pasang meja biru di tenda.
    Seandainya kita menafsirkan hanya point 3 saja, apa yang terjadi ?!
    tentu semua meja di potong kakinya dan dibakar, sebaliknya jika kita menafsirkan point 4 saja maka semua meja akan di pasang ditenda. PADAHAL semuanya tidak sesuai dengan yang dimaksud.
    Lebih parah jika kita hanya menafsirkan sepotong point 3 saja… POTONG KAKI….
    atau sebagian point 4 saja… PASANG MEJA …???
    Alhamdulillah saya juga awam terhadap al-quran, tapi sedikit banyak mencoba mengingat batasan pembacaan al-quran dengan satu ain (biasanya kalau tadarusan). Dengan sedikit pengetahuan tsb. maka akan sangat lebih bijaksana jika kita mencoba mencari kontek dari penafsiran ayat-ayat sebelumnya. Menurut pemahaman saya untuk ayat Al Baqarah 62 dan Al Maa’idah 69 adalah untuk mereka yang hidup di jaman Rasullulah dan untuk kedua ayat tsb jelas Allah akan menempatkan mereka di syurga insya Allah, sedangkan untuk Al Hajj ayat 17 jelas ada kaum musyrikin padahal dosa musyrik tidak di ampuni oleh Allah jadi mereka akan tinggal di neraka jahanam. Dengan demikian jelas tidak bisa digolongkan ketiga ayat untuk kaum yang sama yaitu ahli syurga.
    Coba tolong periksa lagi surat Al Baqarah ayat 1 s/d 25 (satu ain) terutama ayat 8. Surat Al Maa’idah ayat 41 s/d 50 (satu ain).
    Bagaimana tentang keaslian kitab-kitab suci selain al-qur’an. Apakah terjaga keasliannya ???.
    Jika benar datangnya dari Allah jika salah saya mohon maaf bagi yang membaca komentar saya mudah-mudahan Allah memberi hikmah untuk kita semua. Amin.

    @
    Wass. Wr. Wb…
    Mas Hanif, terimakasih sudi berkunjung ke sini, terimakasih juga untuk komentarnya. Pemahaman Mas mengenai hal ini membantu saya ikut lebih memahami. Namun, memang ada sedikit perbedaan (dan boleh jadi prinsipil). Di postingan di atas, memang saya sebutkan pula : “Ada juga yang mencoba memahami dalam batasan ayat itu kan untuk sebelum kedatangan agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad.” Sedangkan saya memahami rangkaian ayat tersebut bukan pengkhususan berlaku hanya pada zaman sebelum kedatangan Islam, kecuali tentunya jika Mas temukan penjelasan di Al Qur’an bahwa itu berlaku khusus, berlaku di jaman sebelum agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad. Dari Al Baqarah 1-25 dan Al Maidah 41-50, juga tidak saya temukan. Dengan begitu saya tidak mau (sampai saat ini) menafsirkan sebagai berlaku di masa sebelum Nabi.

    Bagaimana tentang keaslian kitab-kitab suci selain al-qur’an. Apakah terjaga keasliannya ???.

    Al Qur’an, tentu saja menjelaskan tentang Kitab Taurat dan Injil serta catatan (firman, ayat) Allah mengenai ini. Saya kira ini sudah sangat jelas. Namun, saya melihatnya berbeda antara kitab dan manusianya. Seperti juga berbeda antara Al Qur’an dan orang yang mengaku Islam.

    Perihal contoh syair tentang meja. Terus terang, kadang saya berpikir begitu, terutama ketika ayat yang tersaji “sepertinya” belum selesai (ayatnya pendek) dan bersambung ke ayat berikutnya. Di kejap lain, saya lebih banyak menemui sebaran pada banyak surat dan berdiri bersama, juga berdiri tunggal memiliki arti yang jelas. Saya senang dengan hadis :”… sampaikanlah meski satu ayat..” Ini menegasi kekuatan kalam Illahi yang keunggulannya tentu tidak bisa dibandingkan dengan syair manusia.

    Pada lontaran-lontaran di blog ini, saya berusaha (baca : belajar) memahami Al Qur’an seperti apa yang tertulis saja. Jadi, saya memang tidak mau terpaku pada satu pemahaman apalagi penafsiran yang bersifat mengelompokkan pada wilayah-wilayah seperti waktu (sebelum kedatangan nabi), dikaitkan dengan kejadian ayat ini turun (pada sebagian besarnya), atau kesepakatan ulama. Meskipun saya juga berusaha memahami tafsir (sesempat-sempatnya) atau bertanya pada yang lebih mengerti kalau tausyiah atau dari sumber lainnya (jika sempat)

    Kalau ditanya mengapa begitu?. Agak susah jawabnya. Tapi sederhananya, saya ingin memahami seperti apa adanya saja. Semoga Allah melimpahkan rahmatNya bagi kita semua dan memberikan ampunan, memberikan hidayah pengertian untuk pilihan belajar ini. Amin.

    Suka

  20. […] TERBUKA BUAT SEMUA BLOGGER YANG KENA KOMENTAR SAMPAH (SPAM) BELIAU: Mohon komentar beliau di-mark as spam saja, berhubung saya […]

    Suka

  21. sejati said

    Banyak umat Hindu di Bali yang menjadi korban dari bom-bom teroris muslim.

    Pertanyaan saja, apakah benar menurut Al-Qur’an bahwa teroris-teroris muslim itu akan masuk surga?

    Terima kasih atas penjelasannya.

    @
    Saya tentu saja bukan pemilik Surga, jadi tidak bisa memberikan rekomendasi atau memastikan. Yang saya pahami, bunuh diri atau membunuh tanpa hak dimurkai Allah :

    QS 5. Al Maa’idah 32. Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.
    QS 4. An Nisaa’ 29. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.
    Namun, bila diperangi, maka membunuh adalah hak dan pembelaan diri. Namun, saya tidak menemukan ayat yang mendukung pembunuhan tanpa alasan yang benar, bahkan juga pada binatang buruan.

    Teroris Hindu, Islam, Kristen atau apapun yang melabeli menjadi pembenaran dalam pemahaman saya, Allah akan memurkainya.

    Dalam konteks sosial, kultural, atau perbedaan-perbedaan lainnya, tentu bisa dielaborasi lebih dalam. Namun, itu tidak menjadi bagian dari tujuan blog ini. Hati kecil saya, prihatin terhadap yang tanpa alasan yang hak membunuh sekumpulan semut. Apakah karena berkuasa terhadap sekumpulan semut, maka kita bunuhi semau-mau kita. Semut juga adalah batu ujian bagi manusia. Dengan kata lain : Apalagi manusia.

    Suka

  22. Raja Ahmad Ismail said

    Assalamu’alaikum,
    Al-Baqarah 62, Al-Hajj 17 dan Al-Maidah 69.
    Tiga ayat yang selalu menjadi acuan pendapat yang mengatakan bahwa semua agama adalah sama (kaum pluralis/liberalis/selularis).
    Kalau kita hanya mengacu pada zahir ayat, maka tertariklah satu kesimpulan bahwa, siapa saja, Mukminkah, Yahudikah, Nasranikah, Shabiinkah, Majusikah atau apa saja anutannya, bahkan Musyrikin sekalipun ( karena Musyrikinpun percaya kepada Allah ), selama mereka percaya/beriman kepada Tuhan, apakah itu Allah, Yahweh, Elohim, Bapa Disorga, Sang Hyang Widi Wase, Sang Hyang Wenang, Budha, Batara Namula Jadi, Syiwa, Brahma, Wisnu, Datu-datu, dan sebagainya, dan bagaimanapun cara beribadahnya dengan tujuannya mengagungkan Tuhan, bahkan tidak beribadah sekalipun, serta beramal baik, maka akan selamat. Kalau selamat maka akan masuk sorga,. Logikanya begitu.
    Menurut pendapat ini juga, semua agama mempunyai tujuan yang sama, semua agama bertujuan baik, semua agama benar. Tidak ada agama yang tidak benar menurut penganutnya. Tidak ada agama dan anutan yang tidak baik menurut pengikutnya. Semuanya benar semaunya baik. Bahkan atheis sekalipun menganggap keatheisan mereka baik.
    Kalau menurut pendapat ini, semua orang berhak dan tidak boleh dilarang kalau, hari ini kebaktian digereja, besok dimesjid, lusa disynagog, seterusnya divihara, kemudian kepura, selanjutnya dicandi. Toh tujuannya sama. Berbakti kepada Tuhan, percaya kepada Tuhan. Soal caranya suka-suka saya. Karena saya percaya kepada Tuhan dan selalu beramal shaleh, Tuhan Allah nggak bisa marah, Dia sendiri yang mengatakannya. Kalau Tuhan marah maka Tuhan tidak tepat janji, dong. Ini kalau penafsiran ayat menurut pendapat kaum seperti yang saya sebutkan diatas.
    Tapi, apa memang semudah itu kita memahami sebuah ayat?.
    Jadi apa gunanya Allah mengutus para RasulNya?. Toh dari Adam sampai sekarangpun manusia masih percaya dengan adanya Tuhan, entah itu disebut Allah, dan lain sebagainya. Dan juga manusia selalu berbuat “baik” sesuai dengan “pemahamannya” sendiri, minimal baik buat diri sendiri. Tidak ada gunanya Allah mengutus Muhammad dengan syariat baru, toh semua syariat yang ada sama saja, sama-sama menuju kepadaNya dan sama-sama benar.
    Apa begitu?. Faktabiru ya ulilabshar la’allakum turhamun.
    Wassalam,

    @

    Wass. Wr. Wb.
    Kalau kita beranggapan bahwa semua orang yakin pada agamanya masing-masing, saya rasa tidak. Bahkan yang beragama Islam tidak sedikit (saya kira) yang tidak yakin dengan agamanya sendiri karena berbagai sebab dan alasan. Saya kira, demikian juga (apalagi) yang menyembah bukan yang Mahaesa atau apalagi yang memutuskan tidak beragama.
    Yang mencari kebenaran dan sungguh-sungguh menetapi pencariannya, saya percaya pada ayat yang menyatakan : sesungguhnya kepada setiap jiwa ditunjukkan jalan kebaikan dan kefasikan.
    Orang-orang Islam dan beragama Islam, proses pencariannya jauh lebih mudah (ini sudah keberuntungan besar), dibandingkan orang Islam yang tidak beragama Islam.
    Namun, memperdebatkan pada mereka yang memang berniat mengingkarinya… untuk saya seeh… capek. Cukuplah kita menyampaikan, soal lainnya serahkan saja keputusannya pada Allah. Allah menyampaikannya begitu kok. 😀 .
    Keberimanan adalah logika dan berserah diri. Saya sendiri berusaha dan belajar untuk bisa sampai ketitik itu. Paling tidak mendekati jalan itu. Sedang yang menganggap sama, yah.. saya kira mereka juga dalam kerisauan.

    QS 38. Shaad 8. mengapa Al Quran itu diturunkan kepadanya di antara kita?” Sebenarnya mereka ragu-ragu terhadap Al Quran-Ku, dan sebenarnya mereka belum merasakan azab-Ku.

    Saya tidak mau menjadi salah satu ciptaanNya yang meragukan dengan berbagai alasan kemampuan logika dan pikiran. Karena akal jualah, saya ingin semakin bertambah keimanan yang masih tipis ini….

    Suka

  23. Raja Ahmad Ismail said

    Assalamu’alaikum,
    Nyambung dikit lagi.
    Iblis dan Syaiton pun percaya/beriman kepada Allah dan juga berbuat baik walaupun terbatas pada “kaumnya” saja.
    Apa iya si Lucifer ini juga akan selamat dan dihadiahi sorga?.
    Wassalam,

    @
    Iblis karena kesombongannya mendurhakai Tuhannya, termasuk orang kafir. Dari beberapa ayat, pemahaman saya, iblis malah makin menantang dan Allah menangguhkan sampai hari kiamat. Artinya termasuk sesat.
    Syaiton dari golongan jin dan manusia apakah akan bertobat?. “Jika” bertobat, akankah diampuni. Itu hak perogatif Sang Pencipta.
    Apa iya Lucifer juga akan selamat dan dihadiahi sorga?. Rasanya saya “lebih suka” menjawabnya tidak. 😀 Tapi kita tidak tahu kan. Allah Maha Pengampun (tentunya kalau memohon ampunanNya), kalau tidak… piye?…. Jadi faktor pribadi pelaku (minta ampun atau tidak) adalah sebuah pilhan juga. Kalau tidak mau,… yah resiko sendirilah. Sedang yang membayar asuransi saja untuk dapat tempat di akhirat, akan dipertimbangkan amal dan kesalahannya. Jadi syafaat dan permohonan ampun, menurut saya bagian penting dalam proses keberimanan…. 😀

    Suka

  24. hatinurani21 said

    Dogma-dogma yang ada di Al-Qur’an sudah tidak berlaku lagi. Kita, orang Nusantara, tidak bisa menuruti perlakuan-perlakuan orang Arab waktu jaman Jahiliyah. Apalagi menuruti perlakuan-perlakuan yang tidak manusiawi dengan kedok Islam.

    Contoh dogma-dogma keliru di Al-Qur’an:

    Soal poligami:

    Umat muslim bilang wanita lebih banyak dari pada laki-laki. Hal ini sangat keliru. Di Cina, dengan politik anak tunggal, orang Cina memilih anak laki-laki, hamilan anak perempuan biasanya digugurkan. Akibatnya, saat ini cowok lebih banyak daripada cewek. Jadi Al-Qur’an tidak berlaku di Cina. Jadi “wahyu” Tuhan yang di Al-Qur’an itu hanya berlaku di Arab saja. Dinisi kebenaran wahyu bisa dipertanyakan.

    Soal halal-haram makanan:

    Umat muslim mengharamkan daging babi. Hal ini sangat keliru. Baru-baru ini telah ditemukan bahwa jantung dan paru-paru babi lebih mendekati jantung dan paru-paru manusia. Jantung atau paru-paru manusia yang sakit bisa diganti/dicangkok dengan jantung atau paru-paru babi. Ini adalah solusi yang ideal karena kelangkaan donor. Berarti Al-Qur’an tidak berlaku lagi disini. Terus bagaimana dengan “wahyu” Tuhan. Disini kebenaran wahyu lagi bisa dipertanyakan.

    Soal ke-najis-an binatang anjing:

    Anjing adalah najis buat umat muslim. Hal ini sangat keliru karena anjing saat ini sangat membantu manusia, seperti: pelacakan narkoba dipakai oleh polisi duana, membantu menyelamatkan orang-orang yang masih hidup yang tertimbun oleh runtuhan bangunan akibat gempa bumi, menyelamatkan pendaki gunung yang ditimbun oleh longsoran salju, teman hidup dan pengantar orang buta, membantu peternak domba untuk mengembala ratusan domba di gunung-gunung, membantu menemukan pelaku kejahatan kriminal, menyelamatkan pemilik anjing yang sendirian yang korban kecelakan di rumahnya sendiri (anjing terus-terusan menggonggong sehingga tetangga datang untuk menyelamatkan pemilik anjing tersebut), dan banyak lagi. Disini, Al-Qur’an sama sekali tidak berlaku. Terus bagaimana dengan “wahyu” Tuhan yang ada di Al-Qur’an. Disini kebenaran wahyu lagi bisa dipertanyakan.

    Dan banyak lagi dogma-dogma lainnya yang keliru yang kita dapatkan di Al-Qur’an.

    Sebagai kesimpulan, kita harus menjawab pertanyaan-pertanyaan ini:
    – Apakah Islam agama universal?
    – Melihat dogma-dogma yang ada di Al-Qur’an sudah tidak berlaku lagi, haruskan kita, orang Nusantara, meniru perlakuan-perlakuan orang Arab waktu jaman Jahiliyah?
    – Haruskan kita, orang Nusantara, menuruti perlakuan-perlakuan yang tidak manusiawi sekarang dengan kedok Islam?

    @
    Agama apapun dianut oleh siapapun, karena alasan apapun, adalah keyakinan dan percaya. Ranah kepercayaan pada wahyu atau penolakan adalah sebuah pilihan. Tiap orang memiliki hak dan kebebasan pada pilihan yang memungkinkan dilakukan pilihan itu. Jadi kalau Mas memiliki persepsi demikian dan banyak yang berpersepsi demikian, tentu juga ada yang tidak berpersepsi begitu. Kalau ada orang Islam memaksa semua orang harus beragama Islam ini melanggar hukum negara. Tangkap saja dan adili. Kalau meniru-niru jahiliyah (macam-macam jenisnya), ya hukum negara akan bertindak. Kalau soal keberlakuan agama, pada masanya akan berakhir, seperti dunia ini juga. Tapi kalau mau percaya dunia tidak akan pernah berakhir, sepanjang itu tidak melanggar hukum, ya… bisa bisa saja kok. 😀

    Suka

  25. Raja Ahmad Ismail said

    Assalamu’alaikum,
    Mas Agor, betul kata anda.
    Kalau ada orang Islam yang maksa orang lain supaya masuk Islam. Panggilkan polisi suruh tangkap, atau kalau malas panggil polisi, gebukin saya langsung ditempat. Begitu juga kalau ada agama lain (yang sering sih Nashrani, kalau Yahudi sih, jarang) yang berbuat sama, perlakukan juga sama, panggil polisi atau gebukin.
    Jadi kalau ada yang menghujat suatu agama karena hanya ingin menghujat tanpa didasarkan dengan hujjah yang kuat, maka menurut pendapat saya, ya berlakukan hukum negara atau gebukin saja.
    Dalam postingan ini kita tidak akan pernah menghujat, kalau mereka yang mulai kita hanya menyodorkan bukti dan pendapat oleh orang-orang atau ahli yang bisa dipertanggung jawabkan.
    Contohnya sdr. B. Ali tersebut. Hukum halal – haram, tidak ada urusan dengan sebab-akibat kenapa barang diharamkan. Ini adalah ketetapan dalam hukum Islam, pihak lain tidak setuju, silahkan. Tidak ada urusannya dengan umat Islam. Hukum Islam (khusus masalaah ibadah) berlaku khusus untuk orang Islam atau orang yang mengaku beragama Islam syahdan yang sekedar Islam KTP saja. Sedangkan hukum pidana, berhubung Indonesia bukan negara berdasarkan hukum Islam, maka hukumnya menurut hukum yang berlaku. Lain di Arab, karena hukum Islam yang diberlakukan, maka hukumnya juga sesuai dengan Alquran dan Sunnah Rasul. Negara lain mau protes, silahkan saja.
    Wassalam,

    @
    Wass. Wr. Wb.
    Ha…ha…ha… saya juga seeh sebenarnya ingin ngeggebuki saja. Apalagi main prasangkaan saja. Namun, ini berarti kita masuk pada jebakan. Tapi, sebenarnya juga, kalau saya tidak keliru. Nabi bahkan tidak pernah marah sama “kaum yang tidak tahu”. Jadi, ya.. ketika B.Ali melemparkan isu-isu begitu, lucu kan kalau kita harus marah!. Menurut saya, di era komunikasi intens seperti saat ini, melontarkan kearifan dan tetap teguh pada prinsip lebih baik dari hakim menghakimi persepsi.

    QS 16. An Nahl 125. Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

    Suka

  26. Raja Ahmad Ismail said

    Assalamu’alaikum,
    Betul Mas. Cuma kadang-kadang jadi kesal juga sih.
    Mudah-mudahan nggak sampe gitu lah. Sekadar ngelepasin uneg-uneg saja.
    Selama ini dan sampai sekarang umat Islam masih cukup sabar.
    Kalau terjadi pengeboman dan peledakan yang dilakukan oleh oknum yang mengaku Islam (sering digelar “Terrorist Islam”), saya yakin bahwa oknum tersebut bukan umat Islam, atau mungkin juga orang Islam tapi belum faham Islam.
    Wassalam,

    @
    Wass, Wr.Wb.
    Memang begitu… saya juga kesal dan sekaligus juga prihatin. Namun, itulah ujian bagi ummat Muhammad di jaman akhir ini. Ketika semakin sedikit yang mengesakan Allah.

    Suka

  27. ans said

    Mereka YAHUDI yang benar-benar beriman di MASA – nya akan diberi pahala oleh Allah Swt
    Mereka NASRONI yang benar-benar beriman di MASA-nya akan diberi pahala oleh Allah swt
    Mereka SHABIIN yang benar-benar baik pada masa belum masuk ISLAM akan diberi pahala oleh Allah Swt.

    @
    Trims Mas ans atas tambahan informasinya : di MASA -nya.
    Kalau boleh, bantu saya mencarikan petunjuk di MASA itu pada ayat AQ, kok saya nggak dapat informasi bahwa ayat ini hanya sebagai pelajaran sejarah, atau apa yang dimaksud dengan MASA di sini?.

    Tapi kalau dari uraian sebagian ulama, memang saya dapatkan pandangan bahwa itu hanya berlaku seperti Mas sebutkan, tapi sekali lagi, bagaimana penjelasan di AQ.
    Saya hanya khawatir bahwa saya memotong/mengurangi pesah Ilahiah hanya ke bagian dari masa lalu, padahal petunjuk Allah tidak ke sana.

    Suka

  28. Abudaniel said

    Assalamu’alaikum,
    @ Mas ANS & Mas Agor,
    Ayat inilah (AQ 2 : 62 ) yang selalu dipakai oleh Kaum Liberalis (JIL and its gangs ) sebagai dalil bahwa “semua agama sama”.

    Tak perduli Yahudi, Nasrani, Shabiin, Majusi dan lain sebagainya, selama beriman kepada Allah dan beramal shaleh akan diberi pahala (yang ujung-ujungnya masuk surga).

    Masaalahnya, berimannya bagaimana?. Arab Jahiliyah sebelum Rasulullah juga beriman kepada Allah. Percaya mereka kepada Allah. Allah yang Maha Kuasa, Allah yang menjadikan alam jagat raya ini. Mereka percaya. 100% bahkan 1000% mereka percaya. Dalam hal amal shaleh (versi mereka), saya rasa mereka juga termasuk “shaleh”. Tetapi dalam beribadat kepada Allah mereka menggunakan patung dan berhala sebagai sarana. Makanya ALlah menggolongkan mereka sebagai “Al-musyrikuun” kemudian setelah diutusnya Rasulullah mereka tetap ingkar atas ajaran Rasul, maka mereka dinamakan “Al-Kafiruun”.
    Jadi bukan sekedar beriman dan beramal shaleh. Tetapi iman yang bagaimana dan amal shaleh yang bagaimana.
    Sejauh mereka beriman dan beramal shaleh sesuai dengan apa yang dituntun Allah, maka berlakulah ayat tersebut.
    Sebagaimana dinukil didalam sejarah, bahwa sebelum diutusnya Muhammad SAW, ditanah Arab ada beberapa orang yang tidak pernah menyekutukan Allah dan juga tidak tahu bagaimana cara beribadat kepada Allah, sehingga salah seorang dari pada mereka pernah berdo’a : “Ya Allah, aku percaya akan keEsaanMu tetapi aku tidak tahu bagaimana cara mengibadatiMU”. Orang-orang inilah yang juga termasuk (menurut saya) dalam AQ 2:62. Begitu juga didalam agama Nasrani kita kenal pengikut Arian yang tidak mengakui Isa AS sebagai Tuhan maupun anak Tuhan, sehingga mereka dibakar didalam parit (kejadiannya di Najran) sebagaimana dikisahkan Allah didalam Surat Al-Buruuj(AQ 85 : 4-11).

    Jadi, biak Yahudi, Nasrani, Shabbin maupun Majusi, sebelum kedatangan Muhammad SAW, sejauh mereka beriman dan sebenar-benar beriman kepada Allah tanpa menyekutukan sedikitpun dengan yang lain dan beramal shaleh sesuai dengan kemampuan mereka, maka mereka inilah (menurut saya) yang dimaksud dengan AQ 2:62.

    Tetapi setelah diutusnya Rasulullah, maka mereka diwajibkan untuk mengikuti ajaran Rasul Terakhir ini. Kalau mereka tetap bertahan dengan keyakinan mereka yang awal, maka mereka terkeluar (menurut saya) dari apa yang dimaksud dengan AQ 2:62 tersebut.
    Jadi sebelum Rasulullah diutus, mereka termasuk dalam apa yang dimaksud AQ 2:62 sejauh iman dan amal shaleh mereka sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah. Setelah Rasulullah diutus, mereka akan terkeluar dari AQ 2:62, kecuali mereka juga beriman dan kepada Rasulullah dan kembali kepada Islam dan beramal shaleh sesuai tuntunan Islam.
    Wallahua’lam.
    Wassalam,

    @
    Ass.ww. Mas Abu
    Pembahasan di ayat ini memang sensitif dan menurut saya memiliki interpretasi yang serius. Agor sama sekali tidak menganggap bahwa semua agama adalah sama. Pendekatan berpikir ini sangat jelas mengingkari pernyataan Allah di QS Al Kafirun. Jelas tidak sama, dan tidak perlu argumen lagi untuk semua model berpikir ini.
    Di sisi lain, meskipun banyak sekali tafsir atau pandangan bahwa keberlakuan ayat 2:62 ini dibatasi sampai turunnya AQ juga adalah hal juga masih tanda tanya bagi agor. AQ jelas juga mengakui keberadaan “instruksi-instruksi” Allah dari masa ke masa, bahkan jauh sebelum risalah terakhir yang disampaikan oleh Rasul Muhammad SAW. Saya juga percaya, semua pengikut Taurat, Injil atau agama apa saja yang berada pada jalur yang sama akan mendapatkan ridha Allah SWT jika kemudian mengikuti Risalah terakhir yang disampaikan Allah. Bahkan sangat boleh jadi pula, mereka yang betul-betul beriman akan ikhlas mengikuti risalah terakhir. Mereka tidak akan memandang asal usul siapa yang membawa, tapi mengikuti sebagai bagian dari keyakinan dan ketakwaan.
    Namun, kita juga, menurut agor, lebih bijaksana untuk tidak menyimpulkan pada tatanan bahwa QS 2:62 hanya berlaku untuk masa sebelum kedatangan Nabi Muhammad SAW. Mengapa?. Karena tidak ada penjelasannya. Ini hanya penarikan kesimpulan saja. Ayatnya sendiri tidak menjelaskan batasan sampai risalah Nabi Muhammad yang dibawa. Ketertutupan bangsa, jarak, waktu dan keterpisahan dalam masa 14 abad dan sampai ke abad 21 inipun masih terjadi. Kalau kita membaca 5:82-86, mereka beriman kepada apa yang diturunkan kepada mereka tapi jelas juga tidak mengikuti risalah Nabi Muhammad, tapi jelas juga tidak mengingkarinya, dan Allah memberikan pahala bagi mereka. Jadi, asumsi bahwa sampai batas kedatangan Nabi Muhammad dalam pemahaman agor dasarnya kurang kuat. Yang dikritisi sekaligus diancam oleh Allah adalah pengingkaran terhadap apa yang diturunkan Allah kepada mereka (kebanyakan). Dengan kata lain, sebagian (kecil) dari mereka tidak ingkar terhadap apa yang diturunkan Allah kepada mereka.
    Masih ada ayat-ayat lain yang menjelaskan hal ini, pada kesempatan lain agor ingin juga membahasnya. Sampai kini, ummat Nasrani yang mengharamkan makan ikan, babi, dan mengangungkan Sabath masih ada, apakah mereka yang disitir oleh QS Al Maidah 5:47, walahu’alam.

    Suka

  29. yureka said

    kadang saya juga berpikir…..
    untuk ukuran hidup manusia yang berbuat salah seumur hidupnya-sekalipun (yg rata2 80 tahun-lah)…bila masuk neraka nanti nya….

    harus menanggung siksa selamanya….tidak satu milyar tahun atau satu trilyun tahun…! selamanya. adilkah ?

    @
    Wah… kalau di wilayah berpikir ini, saya berusaha untuk meyakini, Allah maha pengampun, MahaAdil, maha sesuai dengan nama-namanya. Karena itu, saya tidak ingin mengolah akal saya untuk melakukan komparasi….

    Suka

  30. yureka said

    mas abu, mas agor……sedikit menambahkan :

    surat 3 :110

    ” kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, DIANTARA MEREKA ADA YANG BERIMAN, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.

    surat 3:113

    mereka itu tidak sama; di antara ahli kitab itu ada golongan yang Berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang).

    surat 3:199

    dan Sesungguhnya DI ANTARA AHLI KITAB ADA ORANG YANG BERIMAN kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka sedang mereka berendah hati kepada Allah dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. mereka memperoleh pahala di sisi Tuhannya. Sesungguhnya Allah Amat cepat perhitungan-Nya.

    WASSALAM.

    @
    Mas Yureka terimakasih catatannya. Ini betul-betul bermakna untuk meningkatkan pemahaman terhadap petunjuk Allah mengenai apa-apa yang diturunkan Allah kepada manusia. Termasuk juga ayat ini, agor pernah membacanya, tapi lupa terletak di ayat mana. Saya sedikit mempelajari perjanjian baru dan perjanjian lama, in konteks sama-sama petunjuk Allah dengan bench mark AQ. Karena memang begitu petunjuk AQ. Namun, memang banyak tafsir atau penjelasan depag yang dengan tanda kurung ata penjelasan membuat batasan yang membatasi sampai ke masa kenabian terakhir. Di sisi lain, cukup jelas pula bahwa Nabi Isa diutus untuk kaum Bani Israil. Kalau tak salah, ini juga jelas tertulis di Kitab Injil dan Al Qur’an.
    Namun, agor sendiri terus terang tidak tertarik membahas Kitab Injil dari sudut manapun, termasuk tentunya dalam blog ini. Agama mereka adalah untuk mereka, dan agama Islam untuk ummat Islam.

    Suka

  31. Anonim said

    MAT SIANG MUNGKIN BAPA SALA MENGERTI

    AWIBI

    Suka

  32. […] TERBUKA BUAT SEMUA BLOGGER YANG KENA KOMENTAR SAMPAH (SPAM) BELIAU: Mohon komentar beliau di-mark as spam saja, berhubung saya […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: