Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Pemerintah Yang Berkubang Lumpur Sidoarjo

Posted by agorsiloku pada April 2, 2007

Meskipun bukan geolog atau bekerja menyuntik-nyuntik bumi, mengeluarkan isinya, tapi setidaknya sebagai orang yang pernah tinggal lima tahun di Sidoarjo, saya menaruh perhatian pada kecerobohan PT Lapindo Brantas yang menimbulkan gejolak sosial, keterpurukan, kemacetan, kesengsaraan tak jua berhenti. Dongeng geologi, telah memberikan banyak pencerahan atas skala musibah di Porong Sidoarjo.  Sudut-sudut pandang keilmuan dan teknologi mewarnai penanganan lusi (lumpur Sidoarjo).  Masyarakat kemudian menjadi lebih mengerti, pada batas-batas tertentu.  Apa yang sudah, sedang, dan tengah terjadi.

Di antara sejumlah berita, yang menurut saya menarik adalah pelajaran  tidak berharga dari Pak Dhe, bahwa kecerobohan yang terjadi disengaja, kemudian menjadikan skala musibah yang tak terperi besarnya.  Namun, kecerobohan dan kebodohan yang terus terjadi, menurut saya luar biasa tingginya.  Yang terlintas dalam ingatan adalah :

  1. Para ahli, geologi dan orang yang terlibat dalam urusan pemboran di Porong serta pembahasan- pembahasan dari segi praktis dan logis, lebih banyak memenuhi halaman blog dan koran.  Namun, tidak cukup kuat untuk ditangani dengan tindakan yang sama.  Misalnya, soal pipa gas pertamina yang meledak itu.  Lho kok, apa ahli pertamina, nggak tahu apa resiko yang terjadi dengan semburan lumpur panas terhadap pipa gas dan jaringan pipa yang tanahnya turun terus?.  Memang kagak bisa diprediksi ?.  Pertanyaan yang sama mengenai jalur kereta api, atau utilitas kota lainnya.  Kan dengan berbagai analisis skala musibah, potret satelit, analisis dalam dan luar negeri, tanggul, pond-pond, relief wel yang gagal total, pipa saluran pembuangn lumpur, dan banyak lagi  itu maka kemungkinan berikutnya akan seperti apa. Berita bahwa pipa gas yang baru ancam warga, yang dimuat di Kompas 15 Maret 2007 atau setelah hampir 4 bulan, menunjukkan sekali bahwa pelaku dalam industri dan pemerintah yang memasang pipa gas yang baru itu TIDAK MAU MEMBACA DONGENG GEOLOGI atau dengan kata lain, mau enaknya sendiri.  Emang, dengan ragam berita dan analisis skala musibah tidak bisa memperkirakan letak pipa yang aman.
  2. Menyedihkan juga bahwa kambing hidup-hidup dijadikan salah satu sarana untuk menutup semburan lumpur, setelah juga sebelumnya paranormal-paranormal dikumpulkan untuk menutup lumpur.  Prosesi ini, seperti mengolok-olok Tuhan.  Saya merasa, betapa sedikitnya usaha seperti yang lebih mengakui keagungan Allah, memohon pertolonganNya atas segala yang sudah terjadi.  Kadang terpikir, Allah sedang mengajarkan kepada manusia untuk meminta kepadaNya, bukan hanya dengan cara-cara teknis belaka, tetapi juga dengan cara-cara yang sesuai dengan kehendakNya.  Bola-bola beton sebagai usaha manusia dengan teknologi dan perhitungan dari jagoan-jagoan ITB dan seperti usaha-usaha lainnya, seperti diuji.  Lusi selalu menunjukkan bahwa kesalahan demi kesalahan akan terus dilakukan manusia, karena skala penanganan yang terjadi untuk mengatasi lumpur, selalu dijawab oleh “aktivitas lumpur” itu dengan tingkatan yang lebih tinggi lagi.  Harapan pada insersi bolton untuk mengurangi skala musibah menjadi skenario terakhir yang muncul.  Energi kesalehan, tampak tidak cukup kuat setelah kambing hidup-hidup diceburkan ke dalam lumpur.  Astagfirullah.
  3. Penanganan korban lumpur  yang seharusnya ditangani arif, kerugian yang terjadi, dan seterusnya-dan seterusnya, tampaknya menimbulkan dampak sosial yang tidak berkeputusan.  Pemerintah sepertinya tidak punya cukup kekuasaan untuk menundukkan lapindo agar cepat menyelesaikan ganti rugi, juga cepat menetapkan skala musibahnya.  Kelihatannya, baru bisa dan pintar berbicara setelah kejadian, demo, dan lain sebagainya terjadi.

Lalu, apa kejadian berikutnya?

Kalau penanganan dan keributan masih seperti ini, saya kira cipratan lumpur akan segera pula sampai ke Bina Graha  Jakarta Pusat.  Tanda-tandanya sudah mulai tampak kok, tentu permulaannya dari Senayan.

Masih cukup waktu, tapi seperti biasa.  Kita jarang mau bertindak arif.  Kalau bersikap arif sih sudah biasa.  Tapi, masyarakat juga akan segera jemu.

Iklan

Satu Tanggapan to “Pemerintah Yang Berkubang Lumpur Sidoarjo”

  1. […] Naiknya harga minyak DUA KALI DENGAN KISARAN KENAIKAN HARGA YANG MENCEKIK. Busung lapar, Tsunami, Lapindo dan pemadaman bergilir di Kalimantan Selatan 2 kali dalam setahun yang berlangsung hampir tiap […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: