Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Sembilan Kunci Sukses Setan

Posted by agorsiloku pada Juni 26, 2006

akmal.multiply.com

Sebelum membahas mengenai inti dari tulisan ini, perlu kiranya dijelaskan mengenai batasan syetan di sini. Penggunaan nama “syetan” untuk bangsa jin adalah tidak adil dan salah kaprah. Bagaimana pun, bangsa jin ada juga yang beriman kepada ajaran yang benar, yaitu kepada ajaran Tauhid yang sama-sama menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan yang selain-Nya. Di sisi lain, kata “syetan” di dalam Al-Qur’an tidak hanya digunakan untuk membicarakan bangsa jin yang sesat dan menyesatkan, namun juga bangsa manusia yang memiliki sifat demikian.

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh dari syetan-syetan manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain dengan kata-kata dusta yang indah-indah untuk memperdaya manusia. Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah mereka tidak melakukannya. Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan itu. Q.S. Al-An’aam [6] : 112

Singkatnya, manusia yang sesat dan menyesatkan pun bisa dikategorikan sebagai syetan. Meski demikian, bukan berarti kita perlu menyebut semua orang yang mengajak pada keburukan dengan sebutan “syetan”, karena Rasulullah saw. pun tidak berbuat demikian kepada musuh-musuh beliau. Dengan demikian, “syetan” adalah evil, bukan devil. Syetan bukanlah suatu jenis makhluk yang berbeda dari yang sudah ada, melainkan hanya sebuah jenis penyifatan terhadap bangsa jin dan manusia.
Iblis adalah oknum syetan yang paling terkenal di seluruh penjuru dunia. Yang satu ini memang benar-benar berasal dari bangsa jin. Ketika Allah mengutuknya karena telah menipu Nabi Adam as., Iblis tidak langsung memohon ampun (padahal Iblis pasti tahu bahwa Allah adalah Maha Penerima Taubat). Kesombongannya justru makin menjadi-jadi dengan peristiwa tersebut, hingga ia memohon kepada Allah agar diberikan tangguh sehingga bisa terus menggoda anak-cucu Nabi Adam as. ke jalan yang sesat. Na’uudzubillaah.
Dalam perkembangannya, Iblis memperoleh banyak sekali pengikut. Ada yang secara tidak sadar mengikutinya, ada pula yang secara sadar. Banyak sekali manusia yang menyangka dirinya mulia, perbuatannya baik, bahkan menganggap dirinya sebagai bagian dari orang-orang shalih, namun secara tidak sadar ia ikut serta menyukseskan program penyesatan Iblis. Lebih parah lagi, ada pula golongan manusia yang secara sadar mengikuti bisikan-bisikan Iblis, misalnya pada sekte-sekte ajaran sesat yang secara terang-terangan menyatakan dirinya sebagai penyembah Iblis.
Untuk menyukseskan program penyesatannya hingga akhir jaman, Iblis senantiasa memutar otak untuk melancarkan serangan pada manusia, menjauhkannya dari jalan yang benar. Seringkali, tipu daya syetan tidak sesederhana yang kita bayangkan. Kalau mereka tidak bisa membelokkan kita kepada jalan kesesatan, maka mereka akan menyesatkan kita secara bertahap, sehingga sedikit demi sedikit kita akan makin menjauh dari jalan Allah.
Para pemuda mempelajari agamanya siang dan malam, menekuni buku-buku tulisan para ulama terkemuka, menelaah kata per kata di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan kegigihan yang amat mencengangkan. Mereka pun tumbuh menjadi para ahli fiqih yang keberadaannya sangat vital bagi umat. Namun syetan datang kepada mereka dan membisikkan ini-itu ke telinga mereka, sehingga sebagian di antara mereka menggunakan ilmu-ilmunya untuk saling mencela saudara seimannya, bahkan saling mengkafirkan tanpa alasan yang benar. Kita menyaksikan banyaknya kaum ‘ahli fiqih’ semacam ini yang memberi cap sesat pada Asy-Syahid Hasan al-Banna, Asy-Syahid Sayyid Quthb, Yusuf Qardhawi, Harun Yahya, atau Aa Gym. Padahal, kekeliruan tidaklah sama dengan kesesatan. Hanya karena mereka berbuat kesalahan, bukan berarti mereka sesat dan menyesatkan. Apalagi, cap sesat ini diberikan tanpa didahului oleh tabayyun sebelumnya. Orang-orang yang gemar mencela ini, sesuai kehendak Allah, akan senantiasa menjadi buih. Umat manusia tidak menganggap mereka ada, kecuali sebagian kecil saja, sementara orang-orang yang mereka cela terus melaju dengan jihadnya masing-masing.
Demikian pula kita saksikan betapa banyaknya orang yang berusaha menjadi shalih dengan meramaikan masjid. Shalat lima waktu ditunaikannya di masjid bersama-sama dengan jamaah. Dikenakannya pakaian yang baik, dibersihkannya dirinya sendiri dengan wudhu, bahkan bersiwak, kemudian pergilah mereka ke masjid. Apa dinyana, justru sajadah merekalah yang membawa mereka pada pelanggaran terhadap perintah Allah. Dibawanya sajadah yang lebar-lebar, lebih dari kebutuhan, sehingga terdapat jarak antara dirinya dan orang lain di sebelahnya. Padahal, Allah memerintahkan kita untuk merapatkan shaf, apalagi dalam shalat.
Begitulah kiprah Iblis dan kroni-kroninya. Perlu pengamatan yang cermat untuk bisa menghindarkan diri dari tipu daya mereka. Tidak ada manusia yang bisa mengklaim dirinya bebas dari godaan syetan, karena bisa jadi mereka sendiri telah menjadi agen-agen syetan, sehingga dirinya pun pantas untuk disebut sebagai syetan.
Paling tidak ada sembilan kunci sukses yang selalu digunakan syetan untuk menyesatkan manusia. Golongan syetan akan menggunakan metode yang paling tepat untuk menggoda manusia sesuai karakternya masing-masing, atau menggunakan kombinasi dari metode-metode ini untuk mencapai keberhasilan misinya.
Pertama, menimbulkan rasa was-was. Rasa was-was ini bisa dimunculkan dengan berbagai cara. Syetan bisa saja membujuk manusia untuk berprasangka buruk pada saudaranya, sehingga menuduh yang tidak-tidak. Syetan juga melancarkan kampanye negatif terhadap Islam dengan memanfaatkan media massa. Umat Islam yang menuntut penegakan syariat dibilang ekstrimis, hukum qishash disebut kejam, dan jilbab dianggap sebagai pengekangan terhadap kaum perempuan. Begitulah gambaran yang hendak diberikan oleh syetan kepada umat Islam, agar mereka takut dan tidak percaya diri dengan ajaran agamanya sendiri.
Kedua, membuat lupa. Dengan berbagai cara, syetan bisa membuat kita melupakan banyak hal. Syetan membuat kita malas sehingga lalai mengerjakan shalat, misalnya. Karena waktu untuk Zhuhur cukup panjang, maka kita menundanya terus, hingga tanpa sadar sudah masuk waktu Ashar. Bahkan seorang rekan Nabi Yusuf as. pun bisa lupa pada beliau, dan kelupaannya ini menyebabkan Nabi Yusuf as. terus mendekam di penjara selama beberapa tahun. Kisah ini dapat dibaca pada surah Yusuf, terutama pada ayat ke-42.
Ketiga, memanjangkan angan-angan. Imajinasi adalah sarana untuk membayangkan apa yang tidak ada di hadapan kita. Cita-cita adalah imajinasi masa depan yang ideal. Akan tetapi, cita-cita berbeda dengan angan-angan. Angan-angan cenderung bertolak pada kegemaran manusia untuk mengkhayalkan yang enak-enak tanpa ada usaha untuk mewujudkannya. Adapun cita-cita lebih bermakna positif, memperhitungkan langkah-langkah yang akan diambil, mengantisipasi resiko sebaik mungkin, dan selalu diikuti dengan usaha-usaha untuk mewujudkan apa yang dicita-citakannya. Syetan membuat manusia menjadi pasif, tunduk pada angan-angan kosong, dan jauh dari realita. Persis seperti sebagian umat Islam yang mengharapkan keadilan di negerinya, namun tidak ada usaha untuk mendukung penegakan syariat.
Keempat, membuat indah. Bahkan kata “indah” pun sudah melenceng jauh artinya. Allah itu indah dan mencintai keindahan. Samakah antara keindahan alam ciptaan Allah dengan tubuh para peragawati yang diobral ke seluruh penjuru dunia? Samakah pemuasan hawa nafsu birahi sesaat dengan kasih sayang antara suami-istri yang sah? Namun dunia kini mengenal gaya hidup gonta-ganti pasangan sebagai bagian dari hak asasi manusia. Anehnya, hak asasi manusia lainnya, yaitu hak untuk tidak dibuat cemburu dan patah hati, tidak pernah disebut-sebut. Begitulah syetan membuat perbuatan-perbuatan yang amat buruk terlihat menjadi indah di mata sebagian manusia.
Kelima, memberi janji-janji. Persis seperti Belanda yang menipu Imam Bonjol dan Pangeran Diponegoro, maka Iblis dan antek-anteknya pun tidak pernah bisa dipercaya. Mereka senantiasa melanggar janji. Janji-janjinya tidak bernilai sama sekali, dan tidak semestinya umat Islam mau ditipu dengan cara yang sama berulang kali. Tidak semestinya kita percaya begitu saja dengan janji-janji Israel. Apa pun yang mereka katakan, kita harus senantiasa waspada, karena sudah puluhan kali mereka melanggar perjanjian yang mereka ikrarkan sendiri. Sebagai seorang Muslim, kelengahan adalah musuh!
Keenam, membuat tipu daya. Bahkan semua cara kerja syetan dilandaskan pada tipu daya. Mereka menyamarkan antara ‘kepentingan’ dan ‘keinginan’. Hal ini tidak jauh beda dengan ucapan sebagian orang yang membela peredaran rokok untuk membela kepentingan sebagian rakyat. Padahal justru untuk kepentingan rakyatlah maka rokok harus diharamkan. Namun makna “kepentingan” kini sudah berubah menjadi “keinginan”, maka sulitlah bagi kita untuk meneruskan diskusi yang membenturkan berbagai keinginan.
Ketujuh, menghalangi dari jalan Allah SWT. Jelaslah bahwa tujuan akhir dari segala misi syetan adalah untuk menghalangi umat Islam dari jalan Allah. Sampai-sampai para pemimpin perguruan tinggi tidak takut lagi pada neraka, sehingga melarang para mahasiswi untuk menutup auratnya, padahal para pemimpin tersebut juga muslim. Bahkan ada orang tua yang tidak begitu suka melihat anaknya mengenakan jilbab dan aktif dalam dakwah. Na’uudzubillaah!
Kedelapan, menimbulkan permusuhan. Bahkan hal-hal kecil pun bisa digunakan oleh syetan untuk mengadu domba manusia. Kurang lebih sama dengan orang-orang yang gemar mencela para ulama dengan berbagai alasan. Jika ulama-ulama itu tidak bersabar – dan bersabar adalah pilihan yang terbaik – maka tentulah umat ini akan terpecah belah lebih parah lagi. Proyek adu domba ini digunakan oleh setiap penjajah di seluruh dunia, karena kaum penjajah memang selalu berada di bawah kendali syetan. Theodore Herzl, moyangnya kaum Zionis, pernah meminta tanah di Palestina untuk kaum Yahudi kepada Sultan Abdul Hamid II sebagai khalifah umat Islam pada waktu itu. Tentu saja, permintaannya itu diiringi dengan berbagai janji-janji yang menyilaukan. Namun, Sultan Abdul Hamid II hingga akhir hayatnya tidak pernah rela memberikan sejengkal tanah pun pada mereka, karena itu bukan hak mereka. Begitulah syetan berusaha mengadu domba manusia, dengan memanjakan satu pihak dan memerangi pihak yang lain.
Kesembilan, berkata dusta. Dusta berbeda dengan tipu daya. Tipu daya adalah strategi-strategi matang yang membuat manusia terkecoh, sedangkan dusta adalah perkataan yang tidak jujur. Telah banyak contoh yang bagus mengenai kedustaan golongan syetan, dan tidak semestinya umat Islam terkecoh dan terkecoh lagi. Umat Islam harus bersikap proaktif, bukan sekedar reaktif. Apa pun yang dikatakan oleh golongan syetan tidak boleh langsung dipercaya begitu saja, sebab dusta adalah tabiatnya.
Demikianlah berbagai jalan yang ditempuh oleh syetan untuk menyesatkan manusia. Umat Islam harus mengenali cara-cara mereka dan memahami tabiat mereka, sehingga tidak dengan mudahnya tertipu oleh gaya mereka yang penuh tipu daya. Sudah saatnya kita menjadikan syetan sebagai musuh, bukan sebagai kawan, apalagi pemimpin.
wassalaamu’alaikum wr. wb.

Sumber : http://akmal.multiply.com/journal/item/55 4 Juli 2005.

Iklan

9 Tanggapan to “Sembilan Kunci Sukses Setan”

  1. Udin said

    Tuhanmu pasti enggak berdaya membinasakan syetan sehingga syetan dibiarkan hidup bergentayangan dan mengoda manusia agar manusia berbuat jahat. ironisnya tatkala manusia berbuat jahat, manusia malah di azab dan dibakar di neraka (katanya), jika Tuhanmu menginginkan manusia berbuat baik kenapa syetan / iblis enggak di bunuh aja semua, konsep syetan dan iblis benar-benar membuatku muak karena itu ajaran yg sangat konyol you now

    @
    sepertinya enakan keep silent

    Suka

  2. El Zach said

    Membaca uraian di atas plus komentar itu terlihat makin jelas betapa hebatnya tipu daya setan itu bagi manusia.
    Saat manusia tertawa terbahak-bahak, kemudian tiba-tiba tubuhnya berkelojotan meregang nyawa, melihat kenyataan azab neraka abadi di depan mata untuk selamanya, baru dia sadar arti pentingnya mencari kebenaran, selama ini logika setan menutupi hatinya dari usaha memahami kebenaran selama waktu hidup yang super singkat bagai mimpi sekejap yang diberikan padanya.

    Sungguh Hidayah Allah ini jauh lebih besar dari nikmat apapun, meski dibanding emas sepenuh bumi sekalipun, krn hanya iman yang akan diterima di akhirat nanti.

    jika anda tukar 2 mata, lengan, kaki, jantung, anda dengan sekian milyar uang atau segunung emas, pasti anda tak ingin melepaskannya, belum lagi otak anda atau kepala anda, padahal itu hanya untuk kehidupan dunia yang sekejap mata ini, dan itu belum seujung kukunya dari kehidupan di akhirat yang abadi.

    pasti anda merasakan, bahwa saat ini seluruh masa lalu anda anda rasakan bagaikan mimpi, begitulah kelak saat kita mati dari kehidupan dunia ini, maka seluruh aktifitas kehidupan dunia kita bagaikan mimpi sekejap.

    Hidup di dunia ini hanya ujian, apapun keadaan kita, tiap saat adalah ujian, dan ujian itu tidak pernah selamanya, karena itu hidup di dunia sangat singkat, dan saat akhir hayat itulah yg menentukan nasib kita di akhirat kelak.
    setiap ujian pasti ada choice/pilihannya, pilih yang benar atau yang salah.
    Bagaimana Tuhan membunuh atau menyiksa setan itu sama sekali bukan urusan kita. Bukan soal kenapa Tuhan nggak mau membunuh setan, tapi intinya adalah kita, status ujian akhir hayat kita nanti itu, ikut setan (naudzubillah) atau ikut petunjuk Tuhan.

    maka jangan sia-siakan waktu hidup di dunia yang sekejap bagai mimpi ini, setidaknya berdoalah dgn sungguh sungguh kepada Tuhan semesta alam ini untuk mendapat petunjuk jalan kebenaran. Semoga kita senantiasa mendapat Hidayah/petunjuk-Nya.

    @
    Amin Mas El Zach, semoga Alalh senantiasa memberikan kita hidayah/petunjukNya.

    Suka

  3. hamba Allah said

    hidup di dunia ini memang banyak cobaan kita sebagai umat manusia harus sabar dengan segala cobaan yang di berikan Allah kepada kita. Memang sering kali kita menganggap cobaan itu terlalu berat buat kita terima. Intinya kita harus berusaha,berdoa dan berserah diri kepada Allah.Dengan cara seperti itu maka hidup kita akan bahagia.

    @

    Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (QS 29:2)

    Disitulah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat. (QS 33:11)

    Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan. (QS 3:186)

    Suka

  4. […] Setan dan Iblis diterangkan dalam bahasa ayat lebih saya tangkap sebagai sikap/perilaku. Karena ditegasi dalam Al Qur’an setan bisa dari golongan Jin dan Manusia, maka menisbahkan kata setan hanya untuk mahluk yang disebut jin atau mahluk tidak kasat mata, menurut saya mengurangi kemampuan kita memaknai keseluruhan pemahaman. […]

    Suka

  5. Dimashusna said

    Terima kasih yang terdalam dari Saya buat pak Agor.
    Semoga saya bisa waspada.
    A’udzubillahi min hamaazaatisysyaithoon wa a’udzubika Robbi ayyahdluruun.

    @
    Sama-sama. Semoga kita terlindung dari godaannya dan menyadari siapa sesungguhnya musuh kita. Musuh yang sebenarnya.

    Suka

  6. Ma'ruf said

    sebaiknya kita tidak usah membicarakan kenapa Tuhan tidak membunuh syetan?kenapa Tuhan menciptakan syetan dan membiarkan menggoda manusia?
    Tuhan tetaplah Tuhan yang seba tahu atas apa-apa yang Tuhan kerjakan. Manusia hanyalah makhluk serba terbatas dalam segala hal. Pasti dalam segala penciptaan tidak ada yang sia-sia.
    Jangan kita sok nggaya. karena itu bukti kesombongan diri.

    @
    Maaf Mas Ma’ruf, tulisan yang saya kutip dari blog Mas Akmal ini, menurut saya bagus. Juga tidak ada kata “membunuh syetan?”, kecuali dari komentar Rekan Elzach, itupun dalam konteks konotasi yang positip. Jadi dimana nggayanya?. Postingan ini menjelaskan secara jernih tentang penyifatan yang disebut “syetan”. Sesuatu yang begitu sering disalahpahami bahwa syetan adalah wujud fisik penganggu. Pemahaman dari postingan ini mencerahkan. Ada komentar-komentar yang jelas berbeda dengan nilai postingan di atas, dan memperlihatkan benar bahwa yang berkomentar belum membaca dengan seksama apa yang dipostingkan tersebut. Saya biarkan saja, dengan harapan ada yang lebih jernih memberikan wacana kematangan (salah satunya dari Rekan ElZach).
    Mohon maaf pula, komentar Mas, saya tidak paham arahnya kemana, apa pada postingan atau pada komentar?. Tentu lebih jelas akan lebih mudah dipahami. Terimakasih.

    (maaf, kok heran juga … biasanya saya nggak “panas” pada komentar apa saja, kali ini kok agak beda ya… apa saya sedang nggak sehat!?). Kalau nggak sesuai (nggak pantas) biasanya, sambil senyum saya delete saja. 😀

    Suka

  7. adam said

    tidak kah anda ingin lihat setan? berdirilah anda di depan kaca maka anda akan lihat setan
    Anda tahu sesungguhnya stan musuh yang nyata dan itu betul yaitu diri kita sendiri, kita adalah manusia yang bisa jadi setan atau malaikat.
    ketika nafsu (segala kekotoran jiwa)lalu berakibat tindakan maksiat (hukum aksi reaksi) maka anda akan menjadi setan dan anda akan berubah menjadi manusia ketika sifat manusiawi anda timbul (ada dalam diri anda).
    kesimpulannya :
    anda adalah setan bagi anda sendiri atau orang lain ketika anda tidak dapat menahan nafsu (nafsu disini saya artikan dengan segala bentuk kemaksiatan baik dalam pikiran, perkataan, apalagi perbuatan)
    marilah kita menjadi manusia sesuai kehendak Pencipta.

    @
    Ha…ha…ha… saat saya marah… saya melihat wajah saya persis setan…. (kayak udah pernah lihat saja), ketika melihat adegan meliuk-liuk dan mmmhm…. saya juga melihat setan…. ketika berkongsi mau korupsi, saya juga dibisiki dan menjadi setan… …

    Suka

  8. diaz said

    Jang kafir udin…(karena kamu bukan orang islam)
    tuhanmu ketahuan kawin lagi dan punya anak ya? trus si mbahnya tuhanmu kapan matinya…:)
    Bang Agor, Alhamdulillah..memang diciptakan oleh Allah manusia setan seperti kafir udin, agar kita semakin yakin akan kebenaran Islam, alhamdulillah..Allah Maha berkehendak maka tidak ada satupun mahlukNya yg mampu merusak KekuasaanNya…
    wassalam,
    Papua

    @
    Betul Mas Diaz, sebagai ujian.

    Suka

  9. Arief juniawan,drh said

    “Yang jelas setan sangat dilaknat Allah…krn setan sangat sombong…padahal setan telah ribuan tahun mengabdi pada Allah,sekali ia sombong maka keluarlah dari sorga…bagaimana dgn manusia yg blm ribuan tahun mengabdi pd Allah aja kadang-kadang udah sombong,nasib qta bs melebihi setan…maka dari itu jangan sekali-kali SOMBONG.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: