Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dunia Doraemon Yang Sesat Dan Anakku.

Posted by agorsiloku pada Desember 21, 2007

Sejak anak saya balita, saya menemani setiap kali jam 8 pagi di hari Minggu; menonton RCTI dengan Doraemonnya. Itu berlangsung sampai belasan tahun kemudian. Satu hari, ketika dia pulang dari sekolah, sekitar kelas 3 SD, anakku yang tergolong pendiam itu, pulang dari sekolah dengan berduka. Si anak dimarahi gurunya.

“Ayah, mulai sekarang aku nggak mau bertanya lagi sama guru !?”

“Lho, mengapa ?”.

Si kecil menjelaskan bahwa ia dimarahi gurunya karena bertanya. Pertanyaannya :”Apakah blekhol itu?” Lalu, karena pertanyaan itu, anakku dimarahi sebagai sok tahu dan bertanya yang tidak-tidak oleh gurunya. Jadi, memang benarlah, Doraemon telah menyesatkan anak saya. Anak saya bertanya tentang hal-hal yang semestinya tidak ditanyakan oleh anak kelas 3 SD yang berkenaan dengan dunia yang kini sangat digemarinya : “ilmu pengetahuan dan sains”. Anak saya secara tidak disadari telah mempelajari dasar-dasar pengetahuan sains yang baru sebagian kecil masyarakat saja mengenalnya.

Masih tentang buku yang menyesatkan ini. Anak saya, waktu itu masih kelas 1 SD, belum belajar perkalian. Namun, di sekolahnya, suatu kali dia pulang dengan bangga. Ia bisa menjelaskan peraturan perkalian, jauh meninggalkan teman-temannya yang masih berlepotan dengan pengurangan dan pertambahan. Lho kok bisa. Ya, anak saya ternyata belajar sendiri dari komik Doraemon tentang perkalian. Dengan caranya sendiri, dengan sajian menggelitik dan menyesatkan, maka anak saya yang berumur 7 tahun waktu itu. Ketika gurunya belum mengajarkan bagaimana aturan perkalian (baru diajarkan, berdasarkan kurikulum di kelas 2), anak saya sudah bisa hanya dengan membaca komik. Anak saya kembali tersesat karena sebuah komik saja telah membuat anak mengerti tanpa guru !?. Buat saya, ini “amazing story“. Tidak banyak model-model buku di negeri ini yang mampu menyesatkan seperti itu. Masak sih anak bisa belajar matematika (lebih tepat berhitung) tanpa bimbingan guru, tapi malah dibimbing Doraemon!.

Jadi nasehat penting : kalau anak tidak ingin dimarahi gurunya karena pertanyaannya bagaimana melakukan penelitian yang baik, bagaimana memahami dasar-dasar sains, bagaimana mengerti artinya kekuasaan dan kesewenang-wenangan dari Jayen (Giant), kesombongan Suneo si anak orang kaya, atau kerajinan dan empati dari Shizuka pada teman-temannya atau bisa berhitung hanya belajar dari buku komik, maka hindarilah membaca petualangan Doraemon. Mereka semua adalah tokoh-tokoh yang tidak islami dan menyesatkan. Jadi, biasakanlah selalu menonton dengan bimbingan orang tua.

Yah, inilah sedikit pengalaman anakku bersama Doraemon. Alhamdulillah, anakku kadang terbangun malam dan menyediakan waktunya untuk memuji namaNya. Bagaimanapun, rasa syukur anakku tidak pernah lupa ketika bersama dengan doraemon, ketika usianya 7-8 tahun buku tebal sejarah Nabi Muhammad (Haikal) telah dibacanya, juga beberapa buku di lemari buku keluarga yang jauh melampaui usianya. Semua itu, tentu bekal yang kita sesungguhnya tidak pernah tahu dan mengerti, apa yang dipersiapkan Allah kepada anak-anak di masa depannya. Anakmu bukanlah anak-anakmu, dia adalah putra putri kehidupan… bagai anak panah yang akan melesat menuju masa depannya. Kita hanyalah busur yang akan mengantarnya ke tempat dia akan berada yang kita tak bisa menjangkaunya. Walau hanya dalam mimpi… (terjemahan bebas dari Kahlil Gibran).

Meskipun kami sama-sama menggemari kenakalan Shincan, atau kehebatan Dragon Ball, kebiasaan anakku ini bahkan ketika pulang dari kostnya di hari libur masih saja sama. Jika ayahnya pulang dari mencari sesuap nasi, selalu buru-buru membukakan pintu rumah dan menyambut dengan hangat, sama ketika dia masih kecil dulu. Alhamdulillah, Allah memberikan rahmat dan hidayahNya di setiap perjalanan kami dan semoga kami menjadi keluarga yang dapat selalu mensyukuri nikmat dan karuniaNya……

Iklan

56 Tanggapan to “Dunia Doraemon Yang Sesat Dan Anakku.”

  1. Bukannya bagus anak anda berkembang?

    Menurut saya salahkan gurunya, karena tidak memuaskan pertanyaan anak(atau salahkan pikiran gurunya yang kemungkinan melayang ke hal yang kurang etis disebut)

    Saya bisa perkalian sejak TK

    @
    Gurunya tentu juga tidak salah, yang keliru adalah proses pendidikan yang dijalani. Guru juga bukan mahluk serba bisa. Banyak pengetahuan guru meningkat justru karena pengetahuan dan pengalaman murid-muridnya yang lebih siap menerima masukan dari mana saja. Waktu itu, saya butuh waktu cukup lama untuk menjelaskan ke anak saya, guru bukanlah mahluk serba super. Ia juga seperti manusia lainnya, pengetahuan dan pengalamannya juga yang terbatas pula. Yang memang jadi kelemahan guru itu, ketidakmampuannya menjawab pertanyaan dengan marah. Kiranya para guru bisa lebih arif menghadapi semangat anak pada ilmu pengetahuan…..

    Suka

  2. Zelgadien said

    Assalamualaikum Wr Wb

    saya setuju sama Lockon Stratos.manusia pada dasarnya punya kemampuan untuk belajar dari mana saja.kalo bisa dari komik, kenapa nggak.

    apakah kita bisa menyalahkan orang apabila orang itu lebih pintar dari orang-orang seumurannya.

    kalo memang anak anda suka membaca dan mendapat sesuatu yang positif ( Kemampuan berhitung itu positif kan??? )kenapa anda harus menyesatkan buku yang dibaca anak anda,padahal anak anda dan buku tsb tidak bersalah ( Kenapa anda tidak menyalahkan guru yang tidak mampu menjawab atau memberi penjelasan(black hole yang dimaksud itu yang ada di angkasa kan? Bukan ‘Black Hole’ yang mengandung pemikiran/arti vulgar.})

    maaf kalo comment saya rada-rada ngelantur ke mana-mana.

    Btw, saya sendiri belajar bilangan imajiner waktu kelas satu SMP dan itupun dari komik.

    @
    Ha…ha…ha mungkin karena anak saya pembaca setia Doraemon dan di kamar buku kami, komik-komik dimilikinya tidak kurang, saya kira lebih dari 1000 jilid… dan saya juga mengikuti perkembangan anak saya dan Doraemon setiap minggu pagi (nonton bersama)… tentu saja saya memahami. Ketika anak saya, smp, sering malah kami mendiskusikan mengenai perjalanan antar dimensi, pintu waktu, blekhole, katai putih, sampai materi-materi gelap. Sekarang sih… saya yang diajari anak saya. Kadang, memang kita terjebak dengan titik-titik parsial dari keseluruhan isi. Ini kondisi wajar dari manusia yang menilai dari ukuran persepsi…. 😀
    ketika di postingan ini saya tulis blekhol… ya black hole itu…bukan yang lain…. murni sains… 😀

    Suka

  3. Gurunya tentu juga tidak salah, yang keliru adalah proses pendidikan yang dijalani. Guru juga bukan mahluk serba bisa. Banyak pengetahuan guru meningkat justru karena pengetahuan dan pengalaman murid-muridnya yang lebih siap menerima masukan dari mana saja. Waktu itu, saya butuh waktu cukup lama untuk menjelaskan ke anak saya, guru bukanlah mahluk serba super. Ia juga seperti manusia lainnya, pengetahuan dan pengalamannya juga yang terbatas pula. Yang memang jadi kelemahan guru itu, ketidakmampuannya menjawab pertanyaan dengan marah. Kiranya para guru bisa lebih arif menghadapi semangat anak pada ilmu pengetahuan…..

    Tapi seorang guru(apalagi SD) tidak sepantasnya menjawab seperti itu. Itu melanggar kode etik guru. Lagipula kenapa anda malah menyesatkan doraemon? bukankah dengan kasus perkembangan anak anda, buku tersebut malah memberi manfaat?

    Bukankah anak anda menyerap nilai moral dari buku itu( Giant selalu kalah/ kebathilan selalu kalah oleh kebaikan ) (atau Nobita yang mendapat batunya saat menyalahgunakan alat si Doraemon)

    Sebaiknya anda mencoba membaca buku itu sebelum berkomentar :mrgreen:

    @
    Mas Lockon… saya punya 3 almari penuh untuk anak saya dan beberapa almari tabungan buku saya sejak muda, Dora emon lebih dari 150 jilid, Dragon Ball, Naruto, Sinchan, dan lain-lain… Anak saya dulu, akan selalu mencari komik baru atau bekas. Sebulan dua kali pergi ke toko buku favorit… Anak saya penggemar berat komik. Saya juga nonton bersama anak saya sejak kecil Doraemon….. Tentu saja saya membaca buku Dora emon…. 😀

    Suka

  4. Saya sadar, sepertinya ini satir.

    @
    😀

    Suka

  5. sitijenang said

    he he he… kalo saya dulu blajar bahasa inggris dari film-film kafir buatan hollywood. 😀

    @
    ha….ha…ha… bahasa inggris kan bukan bahasa kafir… Bahasa manusia adalah bahasa yang dengannya manusia saling mengenal. Itu adalah karunia Allah kepada manusia …. 😀

    Suka

  6. El Za said

    Assalamualaikum wr wb.

    saya jadi ingat dengan Percakapan diantara teman2 saya, satu teman berkata, ” kenapa ya Islam (Nabi) kok turun di Arab, nggak di Indonesia saja, disini kan penganutnya terbesar? ”
    teman saya yang lain berkomentar, ” ah itu nggak perlu, orang Indonesia adem-ayem kok, cukup dikirim wali saja.”, saya jadi senyum-senyum,
    ini memang komentar, tapi cukup membuat hati ‘nges’

    Wassalamualaikum wr wb.

    @
    Wass.Wr.Wb Mas El Za, bukankah kepada kita juga dikirimkan Nabi, dari tanah Arab dan sampai ke Indonesia juga….wass, agor 😀

    Suka

  7. Amed said

    Waduh, baru balik cuti udah dapat bahasan se-lucu ini. Yang bikin saya ngakak itu saya baru pekan lalu ganti avatar jadi Doraemon… Apakah berarti saya sudah sesat seperti anaknya Mas Agor nih?

    *Nerusin ketawa ngakak*

    @
    ha..ha…ha… anak saya juga avatarnya Oom Dora tuh…. Suer deh, hari ini benar-benar mendapatkan kegembiraani ini gara-gara Dora dan Nobita, saya jadi full ac… eh full senyum. Ada-ada saja blog sphere kita ini….

    Namun, indikasi kesesatan itu juga bukan hanya anak saya, juga di Mas Amed… 😀
    Namun, semoga Allah melapangkan jalan untuk selalu dekat kepadaNya, dari segala sisi. Juga untuk semua saudara-saudara kita lainnya, tak perduli perbedaan pandangannya kepada oom Dora….

    Suka

  8. RETORIKA said

    @ nyang nulis

    Jadi malu, … mahasiswa magister dan beristri masih baca doraemon xixixi :mrgreen:

    @
    Ha..ha..ha… mahasiswa magister dan beristeri masih kangen baca doraemon….ha..ha..ha…
    kalau begitu sama. Sama-sama suka doraemon, magister termagis dora emon…. Untung ada alasan, nemenin anak… cuma sekarang masih juga baca, padahal anaknya nggak ada.

    Lalu, mengapa ada pintu ke segala waktu, pintu kemana saja. Wah… ini kan falsafah fisika kwantum… yang sedang dicari para ilmuwan di akhir masa….. 🙂

    Suka

  9. waduh Kang…
    kalo begitu, saya juga sudah terlampau jauh ke dalam kesesatan yang nyata (baca :Doraemon)

    😀

    Dan betapa saya baru menyadarinya sekarang!
    terimakasih pada antosalafy dan kawan kawan yang telah menyadarkan saya akan hal ini.

    *menunggu hari minggu, nonton Doraemon*

    btw, putra Kang Agor mengingatkan saya pada masa kecil seorang gadis imudz 😳 yang dimarahin Guru SDnya gara gara menanyakan sesuatu yang dianggap ‘kurang pantas’ ditanyakan anak SD berumur 5 tahun…

    😀

    salam buat Putra Kang Agor…masa lalu kita mirip…
    😀

    @
    Begitu banyak yang tersesat, dari yang imudz sampai ke pertanyaan kurang pantas… Kacian deh…. Semoga lekas bertobat ya. Salah satu ciri orang beriman adalah memohon ampunanNya.

    Suka

  10. alief said

    bikin Kaleidoskop-Blog™ yuk… Liat contohnya di
    http://alief.wordpress.com/ 🙂

    @
    Ini ajakan menyesatkan atau mengharubirukan… 😀
    Asyik memang, sebuah catatan perjalanan dihadirkan oleh Mat. Terimakasih Mat…., terimakasih juga Alief. Cantik tenan Kaleidoskopnya.

    Suka

  11. danalingga said

    Wah, itu mungkin yang di sebut menyesatkan ke jalan yang benar. 😆

    Suka

  12. *melirik tumpukan komik dragon ball dan doraemon plus shinchan edisi lengkap di samping Al-Qur’an di meja kamar*

    Aduh, saya dalam kesesatan yang nyata…

    Gimana neh pak? Tolong saya pak?

    NB: Nitip pesan buat anaknya Pak Agor, tuker-tukeran buku & komik yuk? :mrgreen:

    @
    Duh … benar-benar dalam “kesesatan”. Mengapa hanya Dragon Ball dan Doraemon dan plus Shinchan edisi lengkap?. Mana Pokemonnya?, One Piece?, Kungfu Boy?, Detective Conan?, Kobo Chan?, Dorabase?, Yu Gi Oh?, Paman Gober?, Ninja Hatori?, Kariagekun?, Apakah kesesatan Asterix juga tidak punya?.
    Semoga semua itu segera deh… dibaca…. 😀

    Suka

  13. @ Agor
    Kan yang diharamkan cuma DORAEMON sama SHINCHAN pak? Makanya saya cuma bilang itu, sisanya masih ada seh, ada Kariage, Detektif Conan sama kobochan dan Walt Disney Cs.

    Yang lainnya saya ga punya, tapi sering minjem… :mrgreen:

    @
    Kalau begitu, sudah termasuk tersesat juga… Nanti kalau saya ke Banjarmasin, bolehkan lihat-lihat kualitas kesesatannya… 😀

    Suka

  14. Amed said

    @ Mansup
    Wahai manusia sesat, kembalikan kitab-kitab sesat yang engkau pinjam dariku :mrgreen:

    @
    :mrgreen:

    Suka

  15. andrieis said

    wah2 baru tau saya klo doraemon udh dicap menyesatkan.
    padahal dulu saya penggemar beratnya, sampe saat acara pengkaderan kuliah pun, saya datang setelah nontn doraemon dulu 😀
    tp itu dulu, skrng saya udh bosan dengan ceritanya. skrng ganti ama shinchan..hehe…

    kok kelihatannya kita jadi ketakutan sendiri ya… paranoid gtu…

    @
    Dari sumbernya, fokus penilaian ini datang dari pengharaman gambar. Esensi dari etika Doraemon sendiri tidak terlalu dipersoalkan.
    Memang kita jadi paranoid juga ketika kita takut kapak itu dipakai kejahatan, maka semua kapak adalah berbahaya. Dalam manajemen, ini dikenal sebagai “manajemen palu”. Yaitu, ketika kita melihat sesuatu sebagai palu, maka semua di mata kita menjadi paku. 😀

    Suka

  16. Yang bikin komik itu memang jenius. Bayangkan dari jaman tahun 70-an sampe sekarang sudah bisa memikirkan sesuatu yang luar biasa.

    @
    Seniman, karena kepekaannya melihat “masa depan” dunia, kerap menulis kisah yang jauh melewati batas-batas masanya. Jules Verne mengarang 80 hari mengelilingi bumi (1864). Banyak juga cerita pengelihatan spiritual dan “terminator” versi modern yang mengilhami munculnya cerita-cerita sejenis. Begitu juga kisah doraemon. Masa lalu memang penuh dengan pandangan spiritual yang tak terjelaskan, kemudian manusia modern lebih memahaminya ketika teori-teori ilmiah lebih berkembang. Manusia yang ditidurkan 300 tahun (kalau tak salah) dan bangun kembali ketika peradaban sudah berubah dijelaskan oleh Al Qur’an. Sebuah fakta tentang adanya dilasi waktu.

    Suka

  17. […] Dunia Doraemon yang Sesat dan Anakku […]

    Suka

  18. tulisan bagus sindiran terhadap orang-orang yang terlalu kritis (mungkin)
    saya seneng dengan teori manajemen palu itu.. dah jelas dah…
    kadang kita lupa yang paling harus diwaspadai itu yah diri kita sendiri. bukan karena ketidak mampuan kita mengendalikan hawa nafsu, malah menyalahkan yang lain.

    @
    Kadang, tak terasa kita juga menjadi “Palu” juga. Hanya kita dan kelompok kita yang berkuasa dan benar, lalu semua di mata kita adalah paku. Betul Mas 4speedlab, yang harus diwaspadai … yah diri kita sendiri….

    Suka

  19. […] Dunia Doraemon Yang Sesat Dan Anakku., Ditulis oleh agorsiloku di/pada Desember 21, […]

    @
    Postingan saya melink kata sesat dari yang menyatakan sesat. Lebih banyak menceritakan pengalaman berhadapan dengan dunia komik doraemon yang mengkomikkan pintu segala waktu. Anak kecil mengenal prinsip-prinsip teori fisika, mengenal berhitung dari buku itu. Surat Al Kahfi menjelaskan terinci orang yang ditidurkan oleh Allah, sedangkan yang lainnya bergerak (mengalami perubahan). Dilasi waktu terjadi. Dasar-dasar sains tentang black hole, biarpun itu cuma cerita-cerita fiksi, namun menjelaskan pengetahuan (bedakan dengan ilmu dan ilmu pengetahuan) secara praktis. Apakah ini juga salah?. Karena itu buatan kaum kuffar?. Apakah mereka membuat karena kebenciannya kepada Islam, ataukah mereka membuat karena proses budaya mereka. Apakah budaya mereka tidak bisa kita lihat sisi positifnya?.

    Suka

  20. Rizma said

    Ma baru aja inget tuh masalah buku Doraemon pelajaran, dulu kita koleksi itu juga,, Ma dan adek adek sering belajar dari sana,, 😀

    @
    Apa yang kemudian Ma dapatkan?, kemalasan Nobita, pintar bernyanyi seperti Jayen, pelit dan sombong seperti Suneo, atau empati seperti Shizuka, atau pinter seperti Dekisugi?…. 😀

    Suka

  21. iNyoNk said

    http://wonggendeng.wordpress.com/2007/12/23/fatwa-wonggendeng-tentang-doraemon/

    Suka

  22. Bagaimana dengan koleksi Kung Fu Komang saya Kang?
    bukankah terlalu banyak kesesatan disitu?

    Bagaimana pula dengan koleksi Si Botak Hagemaru saya? bukankah terlalu mengajarkan kita untuk jadi pelit?
    :mrgreen:

    @
    Yah… mau gimana lagi…. mengajarkan pelit sama dengan mengajarkan bersedekah…. semua punya resikonya kan !?. Tapi, si Botak Hagemaru… duh… ketinggalan kereta nih… agor nggak tahu… 😀

    Suka

  23. Dekisugi said

    Chiw:::

    Dan bagaimana juga dengan koleksi Impeccable Twins, tentang si pendekar berandal, Siau-hi-ji, milik saya?

    Bagaimana juga dengan si “waria” Ranma Saotome?

    Gyahahahahahahahaha!

    Kesimpulannya: Semua produk Jepang itu menyesatkan!!!

    @
    Tapi mobil Jepang, komputer Jepang kan nggak menyesatkan… 😀

    Suka

  24. #Dekisugi Palsu
    iya, dan kamu adalah sesat karena memakai nama tokoh kartun itu!
    :mrgreen:

    @
    😀 karena dekisugi palsu pastilah bersaing dengan Nobita… jadi sesat !.
    😦 karena kita merasa lucu, namun apa kita sedang berghibah ya?. Tapi, ghibah yang baik, karena menyangka dekisugi palsu sama pintarnya dengan yang asli 😀

    Suka

  25. haniifa said

    Salam,
    Kenapa mesti dora emon sesat ?
    Sebab lebih baik menayangkan “SEPAK BOLA” ketimbang menayangkan “SHALAT TARAWIH 1427H” di Mekah ??
    Wassalam.

    @
    😀

    Suka

  26. Dimashusna said

    @Haniifa

    Lha ya itu aneh, Orang Sholat Koq dijadikan tontonan? Udah gitu kan ga bisa kita bermakmum dengan acara TV. kalau acaranya menerangkan tentang TATA CARA SHOLAT sesuai hukum Syara’ yang diberi penjelasan baru COCOK.

    Lagian juga kenapa mesti yang dari Mekkah, emang di Masjid Istiqlal ga ada?

    @
    Iya, mengapa hanya di Mekkah, di Istiqlal juga bisa. Hanya bedanya, di sana ada Ka’bah… 😀

    Suka

  27. Lama tidak berkomentar disini karena keterbatasan koneksi.

    Berarti saya sejak kecil sudah sesat. karena bela belain numpang nonton doraemon di rumah tetanggga. kalau begitu anak saya nanti tidak usah nonton TV saja. 😛

    @
    Ha…ha…ha… betul sudah sesat… apalagi sampai belain nonton di rumah tetangga. Tapi nggak juga sih sepanjang hanya nonton di rumah tetangga saja yang ikhlas nonton bersama, tidak ikut makan, tidur, makan lagi, nonton lagi sampai ninggalkan rumah ortu. Akan lebih tersesat lagi kalau tivi tetangga dibawa untuk mengajak anak nonton di rumah sendiri…. 😀

    Suka

  28. kurtubi said

    Saya malah ketinggalan kereta tentang cerita dibalik DORAEMON itu.. yang tenar itu adalah DORA sang EXplorer… ini kenapa pula tidak dijadikan isu blogsphere… dan masih banyak lah..

    Ini hipotesa kang Agor mohon koreksi:
    Kalau anak2 dilarang main hujan, jangan dikotor2 dan segala macam protection.. si anak tidak sekebal kesehatannya anak-anakyang suka mandi air kotor, yang bebas bermain di alam..

    Nah dalam masalah agama ini bagaimana adakah kesaamaannya itu kang?
    Koment kok malah tanya hehehe abis doyan sih… sama argumen kang Agor..

    @
    Wah bingung juga Kang Santri… ketika anak saya suka bermain internet dengan segala jenisnya, saya tidak melakukan proteksi sama sekali (parent guide). Suatu kali anak saya bertanya :”kok ada itu, ada ini?”. Saya merenungkan lama sambil mengajaknya ke yahooligans dan mengadd blog atau hal-hal yang kira-kira bakal disukai anak-anak. Semakin besar, dia tentu semakin mengerti. Saya pikir dunia baik dan dunia buruk itu ada bersamaan, membekali yang paling baik, seperti kata orang bijak, memberikan teladan. Saya tak mampu memberikan teladan semua itu. Dunia terlalu membuat terlena, saya hanya bisa katakan :”Kelak anakku akan memilih jalannya sendiri. Pilihlah yang baik dalam kehidupan. Sekarang masih bisa ditegur dan diingatkan atau dimarahi. Nanti, tidak ada jalan lain kecuali mengambil keputusan sendiri terhadap apa yang dilihat dan dikenalnya”. Seperti ayat yang Akang sitir, jalan kefasikan dan ketakwaan ada di setiap perjalanan langkah kita. Termasuk juga ketika melangkahkan kaki ke kamar mandi….

    Agama itu, mungkin juga begitu Kang, di setiap ayunan langkah dan pikiran.. diberikan pilihan jalan itu. Karena lurus dan menyimpang sudah jelas, tidak butuh argumen lagi… mungkin ya Kang…. mengenali kebaikan, karena ada kefasikan….

    Suka

  29. sufehmi said

    Anak saya tidak menonton film yang sesat ini karena di rumah memang sengaja saya tidak pasang TV.

    Tapi, komik Doraemon ada di rumah 🙂
    Dan ini saya manfaatkan semaksimal mungkin; kalau ada kelakuan mereka yang tidak baik dan mirip karakter di komik tersebut, maka saya tidak perlu marah-marah, cukup diketawai saja “lha kok mirip Nobita” 🙂

    Inti nasihat jadi diterima dengan baik, mereka tidak tersinggung, dan mudah-mudahan selanjutnya bisa jadi lebih seperti Shizuka saja.

    Semua input ke anak-anak itu bisa menjadi baik jika kita membimbing mereka di sepanjang jalannya.

    Selalu buat agar anak kita mudah mengakses pengalaman & wawasan kita. Saya sendiri walaupun ketika sedang sibuk, tapi kalau anak yang menelpon, saya selalu usahakan melayani mereka dengan sebaik-baiknya.

    Satu hal yang menarik – paman saya, dekan di salah satu universitas negeri, bercerita bahwa ada kawannya seorang profesor yang sangat menyukai film Doraemon ini. Jika jadwal film Doraemon sudah muncul di TV, maka tidak boleh ada yang mengganggu dia.
    Kekanak-kanakan ? Tebakan awal saya tadinya begitu, tapi paman saya tersenyum dan mengatakan bahwa kawannya tadi itu mengatakan bahwa ada filosofi menarik di setiap episode Doraemon tersebut. Tapi tidak ada disebutkan contohnya – wah, saya jadi penasaran juga.

    btw; nice blog !

    @
    Trims Mas Sufehmi mau berkunjung. Saya sering berkunjung ke blog Mas yang menurut saya salah satu blog yang layak dijadikan acuan.
    Kalau saya penggemar berat film doraemon, kalau komiknya banyak anak saya yang lebih suka baca. Bapaknya seeh nonton bersama sejak dia kecil sampai sma. Banyak yang menarik dan penuh kewajaran dari episode Doraemon. Meski saya bukan professor, tapi ikut-ikutan nonton juga 😀

    Suka

  30. Donny Reza said

    Ternyata, masih banyak ya guru yang tidak siap dengan ‘kemajuan’ anak-anak didiknya sendiri? :))

    @
    Yap… sebuah fakta ketika murid SD atau lainnya memiliki akses ke sumber ilmu dan pengetahuan yang banyak. Jaman tidak seperti dahulu guru dan murid berada pada kesatuan tempat dan waktu. Jadi, tentunya guru juga harus dapat menyesuaikan : Bukan hanya dengan ilmunya, tetapi juga menyerap teknik menjawab dan bertanya untuk menarik manfaat dari pengetahuan muridnya…. 😀

    Suka

  31. haniifa said

    @Dimashusna
    Salam,
    Ngapain ke “Mekah” ?!, puter-puter 7x tawaf di “monas” apa syah “Hajinya” gitu ???
    he.he.he.
    Makanya yang pinter lihat hilal, ya lihatnya di “MEKAH” dunk biar abdol.
    Wassalam.

    @
    😀

    Suka

  32. Satria. said

    Menurut saya artikel ini hanya berfungsi sebagai penyeimbang, bahwa ada hal-hal yang bermanfaat dalam film Doremon dan sejenisnya. Tetapi artikel ini sama sekali tidak membantah bahwa benar ada hal-hal yang menyesatkan, sebagaimana yang dibahas tulisan mas Anto.

    Tinggal dihitung, lebih banyak manfaat atau mudharat? Analogi khamar, haramnya karena lebih banyak mudharat.

    @
    Kalau saya tidak salah tangkap mengenai anggapan “sesat”-nya doraemon dikarenakan dua sebab : prasangkaan dan adanya gambar mahluk hidup dalam bentuk komik/kartun. Namun, memang saya lebih berfokus dari pengalaman bahwa komik doraemon itu komik belajar dan menarik sajiannya….

    Suka

  33. Kurt said

    Terima kasih Kang, soalnya saya masih risih dengan kata “kebebasan”. Kata ini justru membelenggu sendiri akan sebuah keberanian memacu diri. Di balik itu pula, kata ini justru memberi ruang bagi seseorang untuk menikmati di saat lain.

    Tapi ternyata kebebasan dalam quran sepertinya memberikan ruang putih dan memberikan penghargaan kepada pembacanya. Ruang putih itu sepertinya pula bebas untuk ditulisi atau digambar apa.

    Dibelakang Kebebasan itu menurut saya, sebenarya telah dialiri energi baik dan energi ini sepertinya tidak akan putus2nya. Seperti lampu mau nyala hijau kuning, dan merah itu kebebasan si lampu juga arah dan sebagainya. Tetapi unsur baik sebagai energi itu yaitu Voltase dan daya terus menerus disuplay. Singkatnya, barangkali itu yang disebut bule print “fitrah” yang siap diasembling bagaimanapun caranya.

    Tapi di lain hal, quran juga sepertinya memberikan aba-aba dan prosedural baku, siapa yang sudah menggambar dan menulis akan dinilai sebarapapun coretannya… yang “menulis” benar akan dibalas dan “menulis” salah akan dibalas, manakala “proyek”nya sudah selesai.

    Akhirnya, saya belum mengerti apa yang dimaksud jalan kesesatan itu jika pemahaman energi baik (fitrah) itu sebagaimana aliran energi listrik pada tiap2 lampu penerang.

    Fa alhamahaa fujuroha wataqwaahaa… Di sini pula fujur didahulukan dari pada taqwahaa… tapi pemahaman sementara adalah pada kebebasan manusia untuk menentukan kecenderungan “nafsunya”. Jika dituruti terus tentu ia memlilih jalan fujur dan jika nafsunya dialirkan untuk proyek yang bermanfaat niscaya aliran “listrik” itu berarti menapaki jalan taqwaha…

    Maaf Kang jadi ngerepotin atas curhat2 di sini..

    @
    he…he…he.. terimakasih penjelasannya… diilhamkan jalan kedurhakaan dan ketakwaan adalah pilihan dari kecenderungan nafsu… “jadi memang beruntunglah yang mensucikan jiwanya”. Begitu kata ayatnya.. duh betapa inginnya menapak ke arah sana, namun tergoda, jatuh lagi, jatuh lagi 😦 Semoga dapat ampunanNya…

    saya juga belum mengerti Kang, ketika AQ menyebutkan dengan AQ diberikan petunjuk, dan dengan AQ pula disesatkan… Melihat AQ juga membutuhkan keikhlasan rupanya…

    Namun, saya melihat bahwa wajar juga pertanggungjawaban itu bersifat independen pada setiap manusia, ya karena itu juga pilihan bebas… 🙂

    Suka

  34. Kurt said

    curhat ini maksudnya pemahaman saya dari jawaban Kang Agor untuk dicoba simpuli dan diendapkan dalam kerangka fikir saya… matur suwun… 🙂

    @
    Cucuran hati dari Mas Kurt membuat saya jadi lebih mengerti… matur nuwun sanget… 😀

    Suka

  35. aLia said

    wah hebat ya si kecil. tp kalo baca buku agama yg melampaui usianya, justru mesti dibimbing/cek ricek. jangan2 nanti malah membuat tafsir sendiri dan meramal tanggal kedatangan Dajal dari Al Qur’an ;D

    @
    Betul sekali… bimbingan kepada anak justru sangat penting ketika ia ingin meniru atau membaca bacaan yang melampaui umurnya. Pengalaman ketika anakku usia kelas 1-2 SD, dia membaca “Dialog Dgn Jin Muslim”, Muh Isa Dawud. Saya tidak tahu dia kok bisa tertarik dengan buku ini. Akibatnya di luar dugaan. Sangat ketakutan, melarang segala hal yang berbau patung, gambar, dlsb. Padahal waktu itu saya juga belum membaca buku pinjaman dari teman itu. Butuh waktu untuk menjelaskan, perlahan-lahan mengenai dunia yang belum dikenalnya…. Alhamdulillah, yang dikhawatirkan tidak terjadi.

    Suka

  36. haniifa said

    Salam,
    @ALia
    Justru baik buat “si kecil”, belajar membaca & menulis AQ, saya rasa tidak perlu merasa hawatir membuat tafsir sendiri kalau masih berpegang pada “Mushaf Aslinya”.
    Soal meramal tanggal kedatangan Dajal, saya sendiri tidak permah mengimani (percaya) adanya Dajal !!!.

    Seandainya:
    Percaya adanya Dajal, maka percaya adanya “imam mahdi”, lalu…
    Bagaimana dengan firman Allah Ta’ala !!:
    ” Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu “IMAM BAGI SELURUH MANUSIA”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang dzalim”. (QS 2:124)
    Ke”IMAM”an Mahdi (jika ada)…”Lebih besar dari” ke”IMAM”an Nabi Ibrahim a.s kah ??…(Sementara Muhammad s.a.w tidak nyatakan sebagai imam !!)

    Seandainya:
    Percaya adanya Dajal, maka percaya adanya “Nabi Isa a.s” turun lagi ke “DUNIA”, lalu…
    Bagaimana dengan firman Allah Ta’ala !!:
    “…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu. …” (QS 5:3)
    Tidak cukupkah risalah yang dibawa “Nabi Muhammad s.a.w”, hingga begitu perlunya diturunkan lagi Nabi Isa a.s kedunia ??
    ——————
    Kenabian (/Kerasulan) tidak dapat dicapai dengan usaha (mis. dengan menuntut ilmu), akan tetapi dengan ilmu dan kebijaksanaan Allah semata.
    Nabi Muhammad s.a.w sudah dipersiapkan membawa misi keseluruh dunia, bagi sihitam dan siputih, bagi yang lemah dan kuat. Beliau telah dipersiapkan membawa risalah yang lurus (Dien yang SEMPURNA) dan dengan itu menjadi penutup para “NABI” dan para “RASUL”.
    Saya percaya 100% ritual ibadah beliau mengikuti tata cara sunahnya Nabi Ibrahim a.s. yang disampaikan oleh Malaikat Jibril.

    Wassalam.

    @
    Salam,…
    Mas Haniifa…agak sedikit (atau banyak malah 🙂 ) yang Mas Haniif sampaikan : “Saya percaya 100% ritual ibadah beliau mengikuti tata cara sunahnya Nabi Ibrahim a.s. yang disampaikan oleh Malaikat Jibril.” -> “nya” di sini merujuk pada Nabi Ibrahim dan beliau 100% ritualnya… ; kata “beliau” merujuk pada Nabi Muhammad? Bukankah perintah sholat Nabi Muhammad disampaikan sepulang beliau diperjalankan malam ke Sidratul Muntaha?… Apa yang dimaksud 100% ritual… agor agak bimbang memahaminya… Wassalam, agor…

    Suka

  37. haniifa said

    Salam,
    Pelaksanaan Shalat Rasullullah, rasanya pada saat Khadijah masih hidup. Alasanya saat Ali (masih belum baligh) bertanya pada Rasullullah “Kepada siapa kalian ruku’ dan sujud ?!”
    “Kami sujud kepada Allah, yang mengutusku menjadi Nabi dan Rasul, dan yang memerintahkan aku mengajak manusia menyembah Allah semata”. (saat itu Abu Bakr belum memeluk islam).
    Bukti lain bahwa perintah shalat di “Mekkah” adalah kisah Islamnya Umar bin Khatab. Hanya arah kiblat masih menuju Yerusalem “Al Masjidil Aksa”, dan menurut hemat saya jumlah rakaat shalat wajib semuanya sama 4 rakaat saat itu.

    ” Adapun Nabi Muhammad disampaikan sepulang beliau diperjalankan malam ke Sidratul Muntaha? ”
    Saya tidak mempunyai alasan yang kuat, perintah shalat dari 50x sehari menjadi lima waktu saja. Tapi esensinya “pengurangan shalat” memang ada yaitu Shalat Magrib dari 4 rakaat menjadi 3 rakaat, dan Salat Fajr dari 4 rakaat menjadi 2 rakaat, (sebagai tanda perpindahan siang dan malam setelah turun surat Al Israa’).
    Begitu jua setelah turun surat Al Jum’uah shalat Dzuhur dikurangi 2 rakaat, bukankah shalat Jum’at 2 rakaat ?! (Bukti sejarah Masjid Dual Qiblatain)

    “Apa yang dimaksud 100% ritual ??”
    Maksudnya segala tatacara peribadatan mengikuti sunah Rasul sebelumnya. Hanya penyempurnaan diperintahkan lewat Nabi Muhammad s.a.w
    Maaf kalau saya keliru, kebanyakan orang menganggap sunah Rasul adalah sunah Nabi Muhammad s.a.w saja, padahal Muhammad s.a.w juga mengikuti sunah rasul sebelumnya. Hal ini salah presepsi dikarenakan definisi sunah diartikan hadist Nabi Muhammad s.a.w
    Saya andaikan…
    Kalaupun tidak ada hadist yang ditulis, ya bunyi adzan, ya pelaksanaan shalat dsb…sdb ya tetap begitu itu.
    —————-
    Contoh real dangkalnya perumpamaan, jika nonton film “The Noah” (maaf buat saya film pelecehan).
    Seandainya Allah memberikan saya umur 950 tahun.
    Anggap 50 tahun belajar hal-hal dasar, jika 1 gelar kesarjanaan memerlukan 5 tahun, berapa gelar yang saya peroleh ?!
    he.he.he.
    Nabi Nuh a.s ?? 900/5=180 bidang kesarjanaan (Super Prof. mungkin 😀 )
    Kita mungkin tidak berpikir lagi Nabi Nuh a.s “ngumpulin hewan” tapi cukup DNA saja, atau Nabi Nuh a.s membuat perahu dari “KAYU” ?!! 😦

    Wassalam.

    @
    Betul penyempurnaan memang sesuai dengan AQ, telah disempurnakan agama…
    Mengenai penyempurnaan ini, mungkinkah hadits ini sesuai, saya hanya kutipkan dari buku Juz Amma, hlm 139 Penerbit Aula Pustaka, Cet. 1, Agustus 2007 :
    Watsilah ibn al-Asqa’ berkata bahwa Rasulullah bersabda,”Aku diberi as-sab’ ath thiwal (tujuh yang panjang, yakni surat-surah dari al-Baqarah sampai at-Taubah) sebagai ganti Taurat, al-ma’in (surat-surah yang panjangnya lebihdari seratus ayat, yakni Yunus, Hud, Yusuf, al-Isra’, al-Kahfi, Thaha, al-Anbiya, al-Mu’minun, asy-Syu’ara’, dan as-Saffat) sebagai ganti injil, dan aku diutamakan dengan al-mufashshal (surah-surah yang terbentang dari surah Qaf hingga akhir al-Qur;an) yang menjadi keutamaan Nabi saw dibanding dengan nabi-nabi Allah lainnya. (HR.Abu Dawud ath-Thayalisi, Ahmad, Abu Ubaid, al-BAihaqi, ath-Thabrani, dan ath-Thabari). Wallahu’alam.

    Suka

  38. haniifa said

    @mas Agor
    Trim’s catatannya

    @
    Sama-sama Mas… 😀

    Suka

  39. haniifa said

    Salam,
    @mas Kurt
    ” Fa alhamahaa fujuroha wataqwaahaa… Di sini pula fujur didahulukan dari pada taqwahaa… ”
    Jika:
    fujur = arus negatif (-)
    taqwahaa = arus positif (+)
    Rupanya memang demikian, dalam hal ini Allah menerangkan juga pada kita bahwa adanya arus positif (+) karena adanya loncatan elektron (-), pada suatu atom yang netral.
    Demikian pula dalam kehidupan keseharian, rasanya kita akan menja kondisional suatu “object”.
    Wassalam.

    Suka

  40. […] by asukowe under Agama Islam   Lama enggak nge blog,  sekali buka WP langsung nemu bacaan kambing hitam soal kartun Doraemon, mulai bingung jugah kenapa boneka kartun Doraemon (warnanya merah biru putih […]

    Suka

  41. […] ummat yang pandai dan cerdas, yang tidak mudah goyah imannya hanya karena hal-hal seperti supermi, doraemon, sinetron My Hope, dsb. Dengan kepercayaan dari alim ulama, tak ayal akan mendorong percaya diri […]

    Suka

  42. ardianzzz said

    hihihi…
    yah itulah guru Indonesia.. (gak semuanya lho)
    mereka mengajar (matematika, IPA ,IPS)
    tetapi tidak Mendidik…

    kalau emang mau aman ya konservatif saja
    matikan TV.
    selain boros listrik, TV tuh emang bikin bodoh

    @
    jangan… atau jual saja tevenya … dari pada matikan…kan uangnya bisa dipakai yang lain…. 😀

    Suka

  43. kalo menurut saya begini, pak…

    doraemon kadang membuat kita (bahkan saya, saya dulu suka banget sama doraemon) lupa waktu. sibuk nongkrongin TV. bahkan saya punya beberapa komiknya, juga sampai tahu endingnya gimana, sampe browsing ke situs penerbit doraemon di jepang 😛
    Saya juga suka banget sama dragon Ball, kalo Sinchan nggak seberapa suka karena mengedepankan kenakalan meskipun lucu 👿
    *jadi malu* 😳

    memang sebenernya dalam film doraemon banyak manfaat… tentang ilmu pengetahuan.
    yang dapat saya pahami dari ikhwan salafy tersebut adalah dia mengingatkan aja bahwa kita (anak-anak) jangan terlalu berkhayal dan mengikuti arus dari doraemon, sinchan, dan dragon Ball tersebut. dan itu yang dikatakan mereka yang salafy “sesat”, karena mudharat tadi bagi anak yang nggak didampingi sama orang tuanya saat menonton.

    begitu pendapat saya…
    ini bukan suatu bantahan, tapi sebuah pendapat yang saya cermati dari kajian salafy yang saya ikuti sebulan ini.
    mungkin kata-kata (hujjah) mereka agak ekstrim, tapi perlu diresapi dulu maknanya.
    saya saja meskipun ikut kajian mereka masih majang gambar makhluk hidup.
    karena saya mengambil jalan moderat dari manhaj mereka.
    yang banyak mudharat saya buang, yang saya rasa banyak manfaat… tetep saya pakai tapi dengan hati-hati.
    saya belum bisa 100% nggak majang gambar makhluk hidup karena saya jurnalis di kampus… nggak bisa hidup tanpa mendokumentasikan sesuatu 🙂

    @
    Postingan di atas adalah sekelumit pengalaman anak saya denga doramon. Memang ada hubungan dengan kajian yang mengharamkan gambar. Tapi postingan ini tidak menjustifikasi kecuali sebuah proses berpikir dari sebuah pengalaman.

    Suka

  44. dan untuk film kartun…
    saya masih tetep nonton.
    sekali lagi, karena ada unsur manfaat.

    Jadi, jangan jadikan suatu hujjah dari salafy untuk menyerang mereka… menghujat mereka… memusuhi mereka.
    Karena mereka mengingatkan kita…
    seperti mereka mengingatkan saya, mengentas saya dari keterpurukan hidup.
    kembali lagi ke jalan Allah, mencintai Allah.
    salafy adalah manhaj (metode) pengajaran Ahlussunnah…

    Barakallahu fiikum.

    (afwan, kepajangan :mrgreen: )

    @
    Wah… saya mohon maaf kalau Mas Ghani melihat tulisan pengalaman anak saya ini sebagai usaha menghujat mereka. Saya akan segera hapus postingan ini karena tidak ada tujuan atau pemikiran ingin menghujat.
    Kalau boleh, Mas tunjukkan dari postingan ini, mana yang menghujat Salafy?. Rasanya, saya lebih membangun situasi berpikir dan dialogis ketimbang tulisan yang saya link. 😀

    Suka

  45. haniifa said

    @mas Ghaniarasyid
    Salafy adalah manhaj (metode) pengajaran Ahlussunnah
    Subhanallah…

    Begitu juga dengan…
    Syiah adalah manhaj (metode) pengajaran Ahlussunnah
    Alhamdulillah….
    Saya jadi teringat Hadits Nabi Muhammad s.a.w :
    Dari Bahaz bin Hakim dari bapaknya dari kakeknya mudah-mudahan Allah meridainya, ia berkata, “Aku berkata, “Ya Rasulullah. kepada siapa aku berbakti?”. Rasulullah menjawab, “Kepada ibumu”, Aku berkata. “Kemudian kepada siapa?” Jawab Rasulullah, “kepada ibumu”. Aku berkata, “Kemudian kepada siapa?” Jawab Rasulullah, “Kepada ibumu”. Aku berkata, “Kemudian kepada siapa?” Rasulullah berkata, ′Kepada ayahmu. kemudian kepada karibmu yang paling dekat, lalu yang paling terdekat”. (H.R. Abu Daud dan Tirmizi)
    Dalam hal ini :
    1. Kepada ibumu = Simbol “lautan” kasih sayang didunia
    2. Kepada ibumu = Simbol “lautan” kasih sayang didunia
    3. Kepada ibumu = Simbol “lautan” kasih sayang didunia
    4. Kepada ayahmu = Simbol kerasnya “daratan” dalam mencari rizki didunia.

    Khulafaur Rasyidin ( empat (4) khalifah pertama dalam tradisi Islam )
    1 Abu Bakar r.a = Simbol “lautan” ke-khalifah didunia Islam.
    2 Umar bin Khattab r.a = Simbol “lautan” ke-khalifah didunia Islam.
    3 Utsman bin Affan r.a = Simbol “lautan” ke-khalifah didunia Islam.
    4 Ali bin Abi Thalib r.a = Simbol kerasnya “daratan” dalam perjuangan ke-khalifah didunia Islam.

    Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula)… [QS 46:15]

    Astaghfirullah al’adzim…
    Ampunilah hambaMu yang lemah ini … Yaa Allah,
    Bukan kepada Rasul…
    Bukan pula kepada Nabi…
    Begitu juga, bukan kepada para Khulafaur Rasyidin…
    Kami memajang photo kedua orang tuaku
    Semata-mata untuk mengingat pesanMu … Yaa Allah, Amin.

    Wassalam, Haniifa.

    Suka

  46. […] golongan ?? 1. Islam …:Syiah, Suni, Salafus Saleh, NU, Muhammadiyah, Persis… …:Da’i, Kyai, Haji, Ustad… 2. Nashrani …:Katolik, Protestan, Advent… 3. Hindu 4. Budha 5. Ilmuwan […]

    Suka

  47. Kang Agor, blogmu ternyata bener-bener lengkap ya? Semua deh ada di sini. Bahkan ada Doraemon barang. Bayangkan doraemon men.

    Salut…saluuuuuut.

    Doraemon membuat murid mengerti tanpa guru ???

    Kasihan gurunya apa kasihan muridnya yah ???
    Biarlah kukasihi keduanya saja.

    @
    😀 , maksudnya saya masih harus nambahkan dengan Naruto juga !?.
    Terimakasih dikasihi semuanya. Ini passwordnya kan !.

    Suka

  48. edi said

    tau gak anak tanpa dunia imajinasi itu, akan membuatnya tumbuh terlalu dewasa, daripada baca komik porno mending anak dapet bacaan doraemon toh,,,

    kalo emang anaknya jadi seperti itu berarti orang tuanya yang kurang baik memberi pengertian, mana yang harus ditiru mana yang tidak,,,,

    gampang toh,,, di dunia ini jangan semuanya hanya dipandang dalam satu sisi, terutama agama, itu tidak baik,,,bagi anda juga masa depan anak anda nantinya,,,

    Suka

  49. edi said

    jangan suka mengintimidasi karya orang,,,,
    itu termasuk di dalamnya,,,

    seandainya,,,
    nasib membawa anak anda jadi penulis komik seperti doraemon dan terkenal karena dia dapat berprestasi memiliki kreatifitas di dalam menulis sebuah komik nantinya hingga bisa mencukupi kehidupannya,

    apakah anda juga mengecam anak anda sebagai penulis yang membawa kesesatan?

    berfikirlah dan hiduplah secara realitis dan positif.

    @
    Rasanya, kalau Mas membaca sedikit lebih teliti postingan ini atau mengklik yang dilink, mas akan lebih memahami maksud tulisan yang “rada” nakal ini.
    Ada banyak model penulisan, namun esensinya seperti beberapa komentar lainnya yang ngelink, tetap mudah dipahami juga.
    Salam dan terimakasih sudi berkunjung ke sini.
    agor

    Suka

  50. Anonim said

    terlalu berlebihan menurut sy.
    dampingin donk anaknya waktu sdg membaca.
    jgn salahkan komik atau doraemon.
    bercerminlah terlebih dahulu.
    jgn mengkambinghitamkan org lain.
    itulah knp bgs ini ga maju krn kebykn menyalahkan org lain tanpa menyadari kesalahannya sendiri

    @
    tentu saja banyak didampingi di awal bisa membaca….
    Tulisan saya sama sekali tidak mengkambinghitamkan kok, hanya sekedar menceritakan pengalaman (tentu harapan saya Mas telah tuntas membaca postingan kecil ini 🙂 )

    Suka

  51. Julli said

    hi guys

    Suka

  52. Vanestian!!! said

    Harusnya anda bangga dong! bukannya malah mencela mengeluh dan bersikap demikian!! bukannya dengan begini anak anda bisa lebih maju daripada anak2 yang lainnya!, Doraemon bukan mengajarkan yang menyesatkan! tetapi membantu anak-anak untuk lebih memahami soal mata pelajaran di sekolahnya! seperti perkalian itu! kalau anda tidak mendukung anak anda, mau dianggap orang tua macam apa anda! menyia-nyiakan masa kecil dan impian anak-anak!!! dasar orang tua penghancur!!!!!!!!!!!

    @
    Catatan yang menarik Mas Vanestian, terimakasih. Saya malah bacakan komentar ini agar anak saya membacanya. Dia juga tersenyum. 😀

    Suka

  53. Vandy said

    Hebat itu, kelas 1 udah bisa perkalian….
    Kalo menurutku itu sih bukan sesat namanya, itu membimbing…
    Kayaknya gurunya yang sedikit keterlaluan. masa nanya gitu aja dibilang sok tahu?
    sebenernya anaknya yg sok tahu apa gurunya yang gak seberapa tahu ? :mrgreen:

    @
    Yang hebat bukunya. Bagaimana seorang anak yang buta perkalian bisa mengerti hanya karena membaca buku. Metode dan cara penyajian yang menarik yang membuat anak jadi mengerti.
    .. Lalu kapan ya komik kita bisa sperti ini?….
    Trimakasih Mas Vandi sudi berkunjung ke sini.

    Suka

  54. Elia said

    Lho?
    ibu ini ga pernah bersyukur?
    kan malah bagus kalau anak ibu tambah pintar., mungkin di masa depan, anak ibu malah bisa jadi professor muda? sapa yang tau kan?. baru kelas satu aja udah pintar perkalian. itu kan karunia yang luar biasa yang kaga di miliki ama anak laen.
    jadi ibu harusnya lebih mensyukuri apa yang udah di kasih ama Tuhan…

    Suka

  55. Regena regeta said

    ah lebay dah elu, anak jd pinter sendiri malah bilang yang bikin pinter menyesatkan.
    yah kalau soal agama elu mulai kasih tahu pelan2 dong jangan apa aja yang bukan islami dibilang sesat.

    kalau anak elu dari kelas satu udah bisa kali2-an itu tandanya bagus, anak elu pintar, cermat, dan mempunyai rasa keingintahuan yangtinggi, tinggal dibimbing.

    maaf kalau comment saya kasar, soalnya saya bener2 muak sama cara berfikir orang2 lebay seperti anda, sempit dan gak mau melihat lebih dalam sesuatu.

    Suka

  56. gara gara doraemon jadi ceramah islam ??

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: