Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

10 Ribu Sapi Dan 50 Ribu Kambing Kurban.

Posted by agorsiloku pada Desember 20, 2007

Usai Sholat Ied di kampungku yang terlalu luas, tak nyangka juga berdesakan juga jamaah memenuhi mesjid lantai 1 dan 2.  Sholat tidak di lapangan, boleh jadi karena semalaman diguyur air hujan.  Pengurus masjid mengabarkan ada 2 (atau 3 ya) ekor sapi dengan 30 ekor kambing yang insya Allah akan dipotong mulai siang nanti.  Yah itulah kurban yang diikhlaskan penghuni kampung kami tahun ini.  Sedikit sih !. Memang sedikit.  Kita kan tak tahu, kemana saja mereka menyembelih hewan kurban tahun ini.

Sholat sunat Ied memang ramai, tak seramai sholat shubuh berjamaah yang hanya sebaris saja.  Namun, terucap kata syukur, bagaimanapun cukup banyak yang memelihara agamanya untuk berkurban, mengikuti perintah Allah.

Pulang sholat Ied, ngantuk tertidur di depan teve.  Terbangun sebentar, mendengar siaran Metro TV Tanggal 20 Desember pagi ini.   Penyiar menjelaskan tentang kurban di jalur Gaza.  Daerah konflik.  Mereka bersholat Ied di luar Mesjid Aqsa.  Penduduk Jalur Gaza, katanya sekitar 1,5 juta manusia.  Mereka berkurban 10 ribu sapi dan 50 ribu kambing.  Sekali lagi : 10 RIBU SAPI dan 50 RIBU KAMBING untuk penduduk yang hanya 1,5 juta orang.  Apakah saya salah mendengarnya?.  Penyiarnya tidak mengulangi lagi ucapannya, tapi masih terngiang.  Sepuluh ribu sapi berarti kurban untuk 70 ribu orang dan 50 ribu kambing untuk 50 ribu manusia beriman.  Berarti ada 120 ribu manusia yang memberikan kurbannya.  Artinya sekitar 8%.  Kalau penduduk muslim Indonesia ada 150 juta (yang 37 juta tergolong miskin, jadi jangan dihitung).  Kalau mereka berkurban sebanyak 2% saja artinya ada 3 juta yang berkurban.  Artinya ada 3 juta kambing yang dipotong, atau kombinasinya : 2 juta kambing dan 143 ribu ekor sapi?

Nah, berapa hewan kurban yang dipotong di Indonesia. Negeri cintaku yang mayoritas muslim ini.  Masihkah kita angkuh sebagai ummat yang taat pada perintahNya?

Tulisan di bawah ini dikirimkan Saudaraku, Ganedio, dalam komentarnya, dan saya postingkan kembali karena keindahan kisah ini.

QURBAN TERBAIK
Oleh Jojo Wahyudi

Kuhentikan mobil tepat di ujung kandang tempat berjualan hewan Qurban. Saat pintu mobil kubuka, bau tak sedap memenuhi rongga hidungku, dengan spontan aku menutupnya dengan saputangan.

Suasana di tempat itu sangat ramai, dari para penjual yang hanya bersarung hingga ibu-ibu berkerudung Majelis Taklim, tidak terkecuali anak-anak yang ikut menemani orang tuanya melihat hewan yang akan di-Qurban-kan pada Idul Adha nanti, sebuah pembelajaran yang cukup baik bagi anak-anak sejak dinitentang pengorbanan NabiAllah Ibrahim & Nabi Ismail.

Aku masuk dalam kerumunan orang-orang yang sedang bertransaksi memilih hewan yang akan di sembelih saat Qurban nanti. Mataku tertuju pada seekor kambing coklat bertanduk panjang, ukuran badannya besar melebihi kambing-kambing di sekitarnya.

” Berapa harga kambing yang itu pak ?” ujarku menunjuk kambing coklat tersebut.

” Yang coklat itu yang terbesar pak. Kambing Mega Super dua juta rupiah tidak kurang” kata si pedagang berpromosi, matanya berkeliling sambil tetap melayani calon pembeli lainnya.

” Tidak bisa turun pak?” kataku mencoba bernegosiasi.

” Tidak kurang tidak lebih, sekarang harga-harga serba mahal” si pedagang bertahan.

“Satu juta lima ratus ribu ya?” aku melakukan penawaran pertama” Maaf pak, masih jauh.” ujarnya cuek.

Aku menimbang-nimbang, apakah akan terus melakukan penawaran terendah berharap si pedagang berubah pendirian dengan menurunkan harganya.

” Oke pak bagaimana kalau satu juta tujuh ratus lima puluh ribu?” kataku

“Masih belum nutup pak ” ujarnya tetap cuek.

” Yang sedang mahal kan harga minyak pak. Kenapa kambing ikut naik?” ujarku berdalih mencoba melakukan penawaran termurah.

” Yah bapak, meskipun kambing gak minum minyak. Tapi dia gak bisa datang kesini sendiri. Tetap saja harus di angkut mobil pak, dan mobil bahan bakarnya bukan rumput” kata si pedagang meledek.

Dalam hati aku berkata, alot juga pedagang satu ini. Tidak menawarkan harga selain yang sudah di kemukakannya di awal tadi. Pandangan aku alihkan ke kambing lainnya yang lebih kecil dari si coklat. Lumayan bila ada perbedaan harga lima ratus ribu.

Kebetulan dari tempat penjual kambing ini, aku berencana ke toko ban mobil. Mengganti ban belakang yang sudah mulai terlihat halus tusirannya. Kelebihan tersebut bisa untuk menambah budget ban yang harganya kini selangit.

” Kalau yang belang hitam putih itu berapa bang?” kataku kemudian

” Nah yang itu Super biasa. Satu juta tujuh ratus lima puluh ribu rupiah” katanya.

Belum sempat aku menawar, di sebelahku berdiri seorang kakek menanyakan harga kambing coklat Mega Super tadi. Meskipun pakaian “korpri” yang ia kenakan lusuh, tetapi wajahnya masih terlihat segar.

” Gagah banget kambing itu. Berapa harganya mas?” katanya kagum ” Dua juta tidak kurang tidak lebih kek.” kata si pedagang setengah malas menjawab setelah melihat penampilan si kakek.

” Weleh larang men regane (mahal benar harganya) ?” kata si kakek dalam bahasa Purwokertoan.

” bisa di tawar-kan ya mas ?” lanjutnya mencoba negosiasi juga.

” Cari kambing yang lain aja kek. ” si pedagang terlihat semakin malas meladeni.

” Ora usah (tidak) mas. Aku arep sing apik lan gagah Qurban taun iki (Aku mau yang terbaik dan gagah untuk Qurban tahun ini). Duit-e (uangnya) cukup kanggo (untuk) mbayar koq mas.” katanya tetap bersemangat seraya mengeluarkan bungkusan dari saku celananya.

Bungkusan dari kain perca yang juga sudah lusuh itu di bukanya, enam belas lembar uang seratus ribuan dan sembilan lembar uang lima puluh ribuan dikeluarkan dari dalamnya.

” Iki (ini) dua juta rupiah mas. Weduse (kambingnya) dianter ke rumah ya mas?” lanjutnya mantap tetapi tetap bersahaja.

Si pedagang kambing kaget, tidak terkecuali aku yang memperhatikannya sejak tadi. Dengan wajah masih ragu tidak percaya si pedagang menerima uang yang disodorkan si kakek, kemudian di hitungnya perlahan lembar demi lembar uang itu.

” Kek, ini ada lebih lima puluh ribu rupiah” si pedagang mengeluarkan selembar lima puluh ribuan.

” Ora ono ongkos kirime tho…?” (Enggak ada ongkos kirimnya ya?) si kakek seakan tahu uang yang diberikannya berlebih.

” Dua juta sudah termasuk ongkos kirim” si pedagang yg cukup jujur memberikan lima puluh ribu ke kakek.

” Mau di antar ke mana mbah?” (tiba-tiba panggilan kakek berubah menjadi mbah).

” Alhamdulillah, lewih (lebih) lima puluh ribu iso di tabung neh (bisa ditabung lagi)” kata si kakek sambil menerimanya

” tulung anterke ning deso cedak kono yo (tolong antar ke desa dekat itu ya), sak sampene ning mburine (sesampainya di belakang) Masjid Baiturrohman, takon ae umahe (tanya saja rumahnya) mbah Sutrimo pensiunan pegawe Pemda Pasir Mukti, InsyaAllah bocah-bocah podo ngerti (InsyaAllah anak-anak sudah tahu).”

Setelah selesai bertransaksi dan membayar apa yang telah di sepakatinya, si kakek berjalan ke arah sebuah sepeda tua yang di sandarkan pada sebatang pohon pisang, tidak jauh dari X-Trail milikku.

Perlahan di angkat dari sandaran, kemudian dengan sigap di kayuhnya tetap dengan semangat. Entah perasaan apa lagi yang dapat kurasakan saat itu, semuanya berbalik ke arah berlawanan dalam pandanganku. Kakek tua pensiunan pegawai Pemda yang hanya berkendara sepeda engkol, sanggup membeli hewan Qurban yang terbaik untuk dirinya. Aku tidak tahu persis berapa uang pensiunan PNS yang diterima setiap bulan oleh si kakek. Yang aku tahu, di sekitar masjid Baiturrohman tidak ada rumah yang berdiri dengan mewah, rata-rata penduduk sekitar desa Pasir Mukti hanya petani dan para pensiunan pegawai rendahan.

Yang pasti secara materi, sangatlah jauh di banding penghasilanku sebagai Manajer perusahaan swasta asing. Yang sanggup membeli rumah di kawasan cukup bergengsi. Yang sanggup membeli kendaraan roda empat yang harga ban-nya saja cukup membeli seekor kambing Mega Super. Yang sanggup mempunyai hobby berkendara moge (motor gede) dan memilikinya. Yang sanggup mengkoleksi “raket” hanya untuk olah-raga seminggu sekali. Yang sanggup juga membeli hewan Qurban dua ekor sapi sekaligus.

Tapi apa yang aku pikirkan? Aku hanya hendak membeli hewan Qurban yang jauh di bawah kemampuanku yang harganya tidak lebih dari service rutin mobil X-Trail, kendaraanku didunia fana. Sementara untuk kendaraanku di akhirat kelak, aku berpikir seribu kali saat membelinya.

Ya Allah, Engkau yang Maha Membolak-balikan hati manusia balikkan hati hambaMu yang tak pernah berSyukur ini ke arah orang yang pandai menSyukuri nikmatMu

—————————————————————————————————————–

Sebuah Qurban Besar dari Kambing Kecil

Seorang Tukang Becak ingin berqurban karena rasa syukurnya kepada Alloh yang telah memberinya kaki untuk mencari makan. Sudah lima tahun ia mengumpulkan uang untuk dapat membeli seekor kambing untuk qurban. Maklum harganya naik juga.

Pada saatnyalah hari raya qurban yang dinantikan tiba. Uangnya sudah cukup untuk membeli seekor kambing.

Tukang Becak itu menuntun kambing kecil ke tempat penyembelihan hewan qurban. Diantara hewan qurban lain, kambing qurban Tukang Becak itulah yang paling kecil.

Banyak orang melihat Tukang Becak itu menuntun kambing kurus. Ada yang mentertawakan, ada yang menyindir, ada yang suit-suit. “udah bawa pulang aja, potong sendiri, makan sendiri”.

Tukang becak menangis sambil berkata, “Ya Alloh, hanya seekor kambing kecil yang bisa kubawa, aku berharap Engkau senang, terimalah qurbanku ini Ya Alloh, aku telah berjuang mengumpulkannya selama lima tahun. Aku yakin bahwa Engkau tidak berpihak kepada orang-orang yang mengharap pujian manusia dalam berqurban”.

Kemudian Alloh membalas qurbannya yang demikian besar dan tulus dengan rizki yang melimpah kepada tukang becak itu karena qurbannya hanya khusus ditujukan kepada Nya.

Karena darah dan daging qurban tidak sampai kepada Alloh, tapi ketaqwaannyalah yang sampai kepada Alloh.

Iklan

7 Tanggapan to “10 Ribu Sapi Dan 50 Ribu Kambing Kurban.”

  1. Wah, saya benar-benar jadi malu…

    Suka

  2. 😥

    semoga Allah selalu menjaga dan mengingatkan kita dari segala kealpaan…

    @
    Semoga kurban yang diberikan dari cucuran keringat mendapatkan ridhaNya dan menjadikan kita orang yang bertakwa, yang tak mudah merendahkan, sulit juga meninggikan. Ah… mudahnya berkata-kata….

    Suka

  3. Amed said

    Dan di Ngawi atau di mana itu, masyarakat miskin dipaksa antri sampai kehabisan daging 2,5 ons…

    Sungguh, saya tertohok dan malu Mas..

    @
    Rasanya teriris, berita AN TV, pembagian daging kurban di Mesjid At Tin, TMII Jakarta juga rusuh. Warga berebut daging dan tulang, mereka mengharapkan daging kurban. Mereka tinggal di ibukota. Mereka miskin (kah?), tak pernah (atau jarang) makan daging kah?. Betapa di antara belantara perumahan mewah, mobil milyaran bersliweran, juga mewakili kemiskinan manusia. Kurban esensinya kepada Allah, horizontalnya kepada manusia, berbagi. Terlalu sedikitkah di ibukota negeri ini yang punya kemampuan (dan keinginan) untuk berbagi.

    Geleng-geleng kepala juga ketika di perumahan lainnya, daging kurban dibagikan kepada mereka yang punya mobil sendiri, berbagi sesama tetangga tentang daging kurban itu……

    Suka

  4. di daerah sekitaran kost saya, menurut informasi yang saya dapat, jumlah kurban berlebih, sampai sampai mereka yang berkurban juga dapat ‘jatah’…

    jadi, sekampung dapat semua, termasuk anak anak kost ikut kebagian rejeki, kecuali yang vegetarian seperti saya
    😀

    @
    Kalau berlebih, berarti kampung sebelahnya bagaimana !?, di kampung saya, alhamdulillah juga tidak dibagi-bagi sama warga, tapi diperuntukkan semuanya ke warga yang dianggap miskin. Masak sih, dibagi-bagi sendiri kan masih buannyaaak tuh yang betul-betul tidak mampu dan tidak vegetarian… 😀

    Suka

  5. haniifa said

    Seandainya mobil yang “miliaran” di kurbani mau nggak yach !!

    @
    Yang punya mobil milyaran, merasa — boleh jadi — (suudzon), hasil kerja kerasnya dan keberuntungan atas rahmatNya. Jadi, bermegah-megahan tentu tidak mengenal kurban. Lagi-lagi suudzon, berprasangka buruk !. Wah repot ya… begitu mudah kita berprasangka. Namun, jika ada yang bersedia berkurban dengan mobil milyaran itu, pengentasan kemiskinan akan mudah lenyap… Semoga saja ya….

    Suka

  6. kurtubi said

    “Berarti ada 120 ribu manusia yang memberikan kurbannya. ”

    Membatin sendiri pak…
    terus cerita mendahulukan nilai uluhiyah tidaklain adalah karunia… duuh semoga dibanyakin di Indonesia oranag2 seperti ini…

    saya jadi merinding membacanya Pak.. ada aura apa gerangan di postingan ini … mungkin lahir dari hati postingan ini.. 🙂
    terima kasih pak..

    @
    Saya juga membatin pak, di negeri ini begitu banyak pusaka-pusaka bumi seperti kakek pensiunan itu dan juga menteri sosial yang bertambah kekayaannya satu milyar dollar. Duh negeriku….
    Saya juga iri pada saudara-saudara di jalur Gaza, yang begitu banyak memotong hewan kurban.
    Rasanya, kita masih jauh ya…

    Suka

  7. Allah berfirman Aku tidak menerima daging dan darah yang kalian qurbankan yang aku terima adalah ketaqwaan dari kalian. Binatang adalah simbol dari keserakahan, simbol dari pengumbar nafsu, simbol dari keangkuhan, simbol dari ketidak teraturan. yang sesungguhnya itu adalah sifat dari nafsu yang ada pada manusia.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: