Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Deklarasi Cahaya

Posted by agorsiloku pada Mei 29, 2007

Kadang saya merasa dan sering berpikir : Benarkah saya takut neraka?, benarkah saya mengharapkan surga?. Benarkah saya berislam?.

Setiap kali dalam kehidupan, maksiat juga yang berlalu dalam pikiran, kemudian kesombongan terhadap semua rahmat dan rizki yang dikaruniakan kepadaku?. Astagfirullah.

Mendeklarasikan cahaya, seperti keindahan kata yang dijalin penyair ini :

……..

Hanya para Nabi dan pencintadengan hati bunga dan
kerinduan serba cahaya
yang bisa hidup merdeka
menerbangkan diri dari
gaya tarik dunia

Seperti dirubungi kabut kenistaan dan keniscayaan. Teringat kembali bahwa yang sesungguhnya takut kepada Allah adalah para ulama :

QS 35. Faathir 28. Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

Saya betul-betul biasa, bukan habib, bukan muhsin, yang tak pernah lepas dari gaya tarik dunia.

Yang terpesona oleh dunia seperti hidup selama-lamanya.

Yang telena oleh dunia yang membelengu segala hati.

Yang karenanya menggetarkan hati ketika sadar cahaya di atas cahaya

adalah perkasa

dengan harapan dan malu disertai takut.

semoga Dia mengampuni kami…..

Iklan

8 Tanggapan to “Deklarasi Cahaya”

  1. Suluh said

    Hmm… gitu ya… ? ? ?

    @
    hmmm 😀

    Suka

  2. kangguru said

    hmmm deklarasi cahaya,
    perlu lompatan kuantumkah?
    lompatan hati bagi mereka yang mendekati cahaya
    @
    lompatan hati… zuhud, sufi, tasawuf….terus gunakan juga pemahaman ma’rifat?

    Suka

  3. amiepoenya said

    mas boleh tanya?!???
    Kita bukan ulama jadi wajar tak bisa lepas dari gaya tarik Dunia. Tinggal kita menyesuaikan pantas atau tidak.
    Tapi Kalau Ulama mas??!!??

    @
    QS 35 Faatir 28
    Depag Indonesia :
    Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama[1258]. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.
    [1258] = Yang dimaksud dengan ulama dalam ayat ini ialah orang-orang yang mengetahui kebesaran dan kekuasaan Allah.

    Malaysia :
    Dan demikian pula di antara manusia dan binatang-binatang yang melata serta binatang-binatang ternak, ada yang berlainan jenis dan warnanya? Sebenarnya yang menaruh bimbang dan takut (melanggar perintah) Allah dari kalangan hamba-hambaNya hanyalah orang-orang yang berilmu. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa, lagi Maha Pengampun.
    Inggris :
    And so amongst men and crawling creatures and cattle, are they of various colours. Those truly fear Allah, among His Servants, who have knowledge: for Allah is Exalted in Might, Oft-Forgiving.

    Postingan di atas mungkin kurang jelas, setelah saya lihat terjemahan lainnya : arahnya adalah orang berilmu (dari hamba-hambaNya).

    Suka

  4. aricloud said

    Dan adalah perubahan kebenaran itu yang hak
    Semestinya di jalan ini kita dapat menang
    Bukan terhina dan terpinggirkan
    Bukankah kita punya pegangan
    Dimana berduyun-duyun manusia mencari dan mengintainya,
    Untuk menjadi tombak
    Untuk menjadi peluru
    Bodohnya kita adalah kepintaran mereka
    Kenapa mesti takut,
    Takut adalah sarang penyakir fakir dan kafir
    Mestikah kita malu maju dan bangga untuk mundur
    Kemenangan adalah kebenaran
    Bukan kata-kata idealogistik
    Bukan pula Khayalan fatamorgana
    Bukan pula kata sandi penawar sakit
    Kemenangan adalah keharusan dan kenyataan
    Yang Lama tidur di hati kita
    Yang lama berpisah dengan kita
    Dan Yang mesti kita raih

    @
    Amin….

    Suka

  5. MaIDeN said

    Anak-anak kalau di iming-imingi sesuatu yang endah dan ditakut-takuti sama sesuatu yang jelek pasti nurut … bener nggak ?
    Kalau ada ustadz yang meng-iming-imingi surga dan menakut-nakuti dengan neraka berarti si audience-nya masih dianggap anak-anak ?

    @
    Ha…ha…ha… para ustad itu… tidak menakuti-nakuti… saya kira.
    Mereka menyampaikan kebenaran yang datang dari Allah. Allah memberikan tawaran pilihan untuk kampung akhirat : Neraka atau Surga ?. Mana yang diambil adalah pilihan kesempatan yang diberikan.

    Suka

  6. haniifa said

    As Salammu ‘Alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.
    Cahaya adalah sesuatu yang dapat menerangi di kegelapan, tetapi dapat juga merusak jika intensitasnya berlebihan (mis seorang tukan las argon dsb.) Sering kita membaca dalam tafsir soal “takaran”, “seimbang”, “ukuran” dsb…dsb.
    Islam jelas mengajarkan kita bersahaja, yaitu segala sesuatu harus sesuai dengan takaran dan ukurannya, tidak mungkin kita mengajarkan ilmu perguruan tinggi ke siswa SD. Dengan mengetahui ukuran atau takaran mau tidak mau kita harus dalam keadaan sadar apa, siapa, kepada siapa dsb.. kita mengukur. Alhamdulillah saya sebagai umat muslim yang selalu (”Insya Allah”) dalam keadaan sadar. Bukankah kita dilarang shalat kecuali sedang sadar (atau tidak gila… maaf).
    An Nissa (4:43):
    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.”
    Al Qur’an adalah cahaya bagi kehidupan manusia, kita tahu bahan dasar penciptaan malaikat adalah cahaya, jadi siapapun membaca, mengamalkan kandungan Al Qur’an sesuai dengan takarannya dan penuh kesadaran “Insya Allah” malaikat tidak jauh – jauh darinya “Bukankah Allah itu Qarib” ?
    Seperti cahaya dalam keseharian kita, kita harus sadar dan tahu benar takaran dan cahayaNYA (Al Qur’an maksudnya), kepada siapa, bagaimana, dan untuk apa ?
    Seperti kita ketahui bahwa penerjemaahan Al Qur’an di Indonesia sekitar 1928 (A. Hasan) dan sekitar tahun 1965 (dep. Agama RI). Seandainya si “Fulan” hidup dibawah tahun 1900 dan si Fulan ini mengerti arti terjemaah Al Qur’an sedangkan murid muridnya tidak (kecuali beberapa patah kata saja ). Coba bayangkan seandainya si fulan hanya menterjemahkan sepotong ayat diatas ? An Nissa (4:43)
    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat.”
    Tuh kan kalau kamu mau disebut beriman maka jangalah kamu shalat ???, dalam hal ini si fulan mengurangi intensitas cahaya Al Qur’an.
    Atau si Fulan menterjemaahkan seluruh ayat tsb. tetapi dengan keterangan tabahan mengenai “…sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan…”.
    Tuh kan kalau belum mengerti artinya sama saja jangan shalat ???, dalam hal ini si Fulan menambah intensitas cahaya Al Qur’an.
    Baik dikurangi atau ditambahi keterangan tambahan tampa mempertimbangkan akibatnya (sadar atau tidak sadar) tentu akan merusak.
    Atau si Fulan mengajarkan bahwa setelah nabi Muhammad s.a.w akan adalagi nabi yang bernama “AHMAD” seperti pada surat Ass Shaff ayat 6 (61:6) kalau kebetulan murid muridnya hanya baru bisa membaca sedikit-sedikit (mungkin seperti di India) sehingga muncul cerita tentang imam mahdi dan djazal (maaf saya tidak percaya keduanya. sebab kontradiksi dengan Al Qur’an, bahwa kiamat datang tiba-tiba bisa detik ini, hari ini, besok, tahun ini… Hanya Allah yang tahu, Apakah kita harus santai karena djazalnya belum muncul, imam mahdi atau nabi Isa a.s belum tampil ??? “Kalau para syuhada saja kita tahu mereka masih hidup di sisi Allah apalagi para Rosul ?? ngapain nabi Isa a.s diturunkan, Al Maidah (5:3)” )
    ” Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
    Kenyataan:
    Ribuan tahun yang lalu kekairsan Romawi dan Persia dikalahkan oleh Panji Islam, buat apa ada dzajal lagi sehingga diperlukan turunnya Nabi Isa a.s.
    Ribuan tahun yang lalu bunyi adzan ya begitu “Hayo kita shalat, hayo menuju kemenangan”
    Ribuan tahun yang lalu gerakan shalat ya begitu. Berdiri, Rukuk, Sujud, Duduk, coba teliti lagi Al Qur’an Ibrahim a.s, Musa a.s, Isa a.s, Muhammad s.a.w mereka shalat dan saya yakin seperti sekarang ini mereka shalat.
    Saya teringat waktu kecil sebelum hafal Al Fatihah, doa ruku dsb.dsb. saya hanya mengikuti gerakan dan ber “was wus wes wos…saja”, dan jujur saja saya menghafal al fatihah dan digunakan sampai saat ini mungkin hasil mengikuti pelajaran do’a akhir sekolah dasar !!!.
    Beberapa waktu lalu (maaf bukan riya) ada bacaan Al Qur’an dalam mp3. Saya bayangkan dijaman rosul manakala kebanyakan orang tidak dapat menulis dan membaca apalagi pakai komputer, tetapi banyak penghapal Al Qur’an bahkan sampai tingkat hafiz. Saya mencoba menghafal 1 Juz A’ma hanya dengan mendengar saja ternyata bisa dilakukan. Bukan kah Al Qur’an itu mudah dan Cahaya Hati ?
    Buktinya untuk diluar muslim, dalam 1 menit dapat menghafal ratusan ayat, coba saja hafalkan “Bismilllahir rohman niir rohim” = 144 ayat kecuali surat At Taubah atau coba hafalkan “Alif Lam Mim”, “Yaa Syin”. dll yang pendek pendek.
    Kalau benar datangnya dari Allah kalau salah saya mohon maaf, mudah mudahan Allah melimpahkan hikmah kepada kita semua. Amin

    @
    Wass. Wr. Wb. Mas, Meskipun agak rumit saya memahami, tapi pesan terakhirnya mengesankan. Terimakasih. Semoga hidayahNya berlimpah untuk kita semua.

    Suka

  7. Dan saya percaya, salah satu Asma-Nya adalah Maha Pemberi Maaf dan Ampunan…
    Melegakan..

    @
    Amin… amin…

    Suka

  8. Abu Afkar said

    Ah, indah sekali deklarasi cahaya…
    Mengingatkan saya akan tulisan saya ayat-ayat cahaya,
    meski isi tulisan saya masih dangkal…
    Cahaya meski menerangi justru diabaikan eksistensinya,
    kita lebih tertarik dengan batu-batu yg hanya memantulkan cahaya sesaat.
    Saya teringat kisah dalam buku Syeikh Nazim, “the path to Spiritual Excelent”.
    Ketika seorang desa datang memberi hadiah kepada Raja yang membuat raja sangat senang. Dia ditanya, “Kamu minta apa?”. Jawabnya, “sekarung jerami untuk kerbau saya”. Kemudian dipenuhi
    Kalau dia datang ke kampung kemudian meminta jerami adalah wajar. Namun ketika ketemu, mengapa hanya meminta jerami?
    Kita sering berdoa, atau minta didoakan, agar dikabulkan Allah. Namun sayang yang sering kita mintakan adalah jerami…
    Mengapa kita tidak berdoa atau dimintakan doa, agar dekat dengan Sang Raja, atau dekat dengan Utusan Sang Raja?

    @
    deklarasi cahaya itu menggetarkan kalbu… dekat sang Raja…. dekat utusan Sang Raja…. kenapa hanya meminta dunia ya…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: