Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Budaya Tetapi dan Walaupun

Posted by agorsiloku pada September 1, 2006

Ini budaya bangsa kita yang sudah terbiasa melakukan “handling objection” yang cenderung bernilai negatif. Coba perhatikan kalimat-kalimat berikut ini :1). Dia kaya, tetapi pelit. 2) Ini semua bisa saya laksanakan, tetapi… gaji saya bagaimana Pak?… 3)Baik Pak, saya laksanakan… tetapi, bagaimana nanti orang menilai saya…
Singkatnya, kita punya sejuta tetapi. Mengembangkan budaya walaupun tampaknya lebih perlu. Pasrah adalah budaya ”walaupun” sedangkan ”tetapi” adalah budaya menyerah, lebih menunjukkan penolakan dari pada usaha. Misalnya contoh berikut ini : 1) Jadi, walaupun sulit untuk maju, kami tetap berusaha. 2) Walaupun hujan deras menerjang, kami tetap berusaha menyebrang. 3)Segala kesulitan kami hadapi, walaupun begitu, kami pantang berputus asa.

Bisa juga sih kalimatnya menjadi : ”Walaupun” semua kesulitan berhasil dilewati, ”tetapi” dia tidak pernah mengeluh. Ini bermakna positip juga. Hanya catatan ini sekedar mengingatkan diri sendiri, jangan pernah menyerah. Harus mau berubah bersama waktu. Tidak mudah memang, tapi tidak pernah menyerah, walau halangan terus menghadang…

Budaya walaupun lebih memberikan warna pada kehidupan…..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: