Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Agama Limbah dan Limbah Agama !

Posted by agorsiloku pada Oktober 9, 2012

Seperti pernah ditulis seorang rekan maya, ada dua mazhab pupuk, aerob dan anareob.  Bikin pupuk saja ada mazhabnya🙂. Ya tidak apa-apa.   Lha namanya pendapat sah-sah saja. Bidang kedokteran juga begitu, ada mazhab a, b, c, d, dan e. Bidang ekonomi juga begitu, ada mazhab imf ada mazhab kerakyatan atau yang sejenisnyalah.
Kembali ke pupuk  agama., kita menjumpai ragam mazhab. Semuanya, oke-oke saja. Toh penganut mazhab meyakini kebenaran berdasarkan mazhabnya, dan belum tentu menolak atau menyetujui mazhab lainnya. Ulama yang melahirkan mazhab, kalau tak salah ingat tidak awalnya tidak bermazhab lho. Namun, mereka adalah diakui kesalehan dan keahliannya di bidang agama sehingga menjadi panutan. Yang kemudian bermazhab adalah pengikut atau mereka yang sepaham dengan kemazhabannya atau turunannya yang kemudian mengikuti mazhab orang tuanya.
Bahkan organisasi keagamaan juga meskipun tidak mengakui sebagai mazhab, tapi antara organisasi besar satu dengan lainnya di negeri ini, menjadi “seperti” mazhab juga. Apalagi kalau di dalam proses keberagamaan ada, kalau ini begini, kalau itu begitu.  Ada alat bantunya pula, berupa kitab atau anggaran dasar dan anggaran rumah tangga organisasi. Yang tidak ikut bermazhab adalah orang yang bebas, bebas berinteraksi dengan lingkungannya, dengan kitab yang dibelinya, dan argumen-argumen lainnya.  Namun, karena bebas, tentu saja mereka kurang komunikatif dan mencari dan menemukannya dalam komunal-komunal yang tidak terorganisir.

Limbah Agama.

Hadis palsu, diragukan perawinya adalah limbah.  Limbah yang mengotori kemurnian beragama.  Sejarah kemudiaan membuktikan keberadaan limbah ini memiliki motif-motif tertentu dengan tujuan tertentu.  Umumnya, motif kekuasaan (baca : politik  – untuk kekuasaan atau kemuliaan dunia), tujuan untuk menyimpangkan, memperkuat posisi, dan lain-lain.    Dia bisa datang dari dalam, maupun dari unsur luar agama itu sendiri.  Pintar-pintarlah mengolah dan memerhatikan limbah itu, karena sebarannya sangat variatif.

Agama Limbah.

Agama limbah juga tidak kalah serunya.  Biasanya lho, datang dari serpihan-serpihan yang diyakini oleh yang meyakininya sebagai bagian dari keyakinannya.  Mereka biasanya mengaku-ngaku menjadi Nabi, mengaku mendapatkan wahyu dari malaikat atau melengkapi dirinya dengan atribut-atribut keagamaan dengan segala keterampilan dan kefasihannya dalam agamanya.  Karena agama limbah ini tidak memiliki dasar yang kuat baik dalam narasi ataupun logika, biasanya mudah tertelan jaman.   Namun, tidak tertutup kemungkinan pula, agama limbah ini mampu bertahan untuk diyakini, menembus perjalanan waktu, menuju akhir waktu.

Limbah Organik.

Limbah ini ya limbah yang murni kotoran yang datang dari organisme organik, seperti saya, kita,  hewan atau tanaman.  Kalau hewan, kotorannya berupa urin dan tinja.  Kalau tanaman, berarti datangnya dari sisa akar yang layu, daun yang berguguran, atau dari buah yang membusuk, dan lain-lain.  Semua limbah itu tampak kotor dan bisa berbau kalau diproses oleh mahluk-mahluk renik menjadi bahan lain.  Jadi, jasad-jasad renik itu dengan caranya sendiri memakan yang disebutkan oleh manusia sebagai najis atau kotoran.  Tanpa kehadiran mahluk-mahluk yang hanya bisa kelihatan kalau dilakukan perbesaran, mulai dari ukuran 1 um sampai mm.  Terlalu kecil untuk dilihat mata bugil, jadi perlu mikroskop untuk mengamati.   Saya tidak begitu tahu keseluruhan perbedaannya, apakah ini disebut bakteria, protozoa, fitoplanton, zooplankton, atau apa lagi istilahnya.  Namun yang jelas mereka makan apa yang disebut limbah….

Kotor dan Najis.

Al Qur’an, yang saya pahami membicarakan pula soal kotor, kotoran dan najis.  Namun, berbeda dengan yang kita lazimi sebagai hasil buangan mahluk hidup. Kotor dan kotoran atau najis dalam agama Islam yang dijelaskan dalam Al Qur’an merujuk pada aspek-aspek non fisis.  Hanya pada haid yang disebut sebagai kotoran yang secara fisis memang hasil buangan dari proses fisiologis pula.   Tentu juga babi, darah dan darah yang mengalir, bangkai, yang disembelih tidak dengan menyebut nama Allah adalah kotor (QS 6:145). Orang musyrik, sesungguhnya najis (QS 9:29), berhala-berhala juga najis (QS 22:30).

Hewan yang disebutkan kotor selain yang jelas diharamkan adalah yang tidak menyebut namaNya ketika disembelih.

Namun, terasa bahwa logika dan spirit tauhid kental sekali dalam memahami alasan kotor dan najis.

Jual Beli Kotoran.

Ada ummat bertanya pada ustad, bagaimana jual beli kotoran, hukumnya.  Kotoran sapi, kambing, ayam atau sejenisnya lho.  Bukan be a be  i.

Jawabnya,

karena menurut mazhab a termasuk najis,  maka hukum jual belinya menjadi haram.

karena menurut mazhab b termasuk najis, maka hukum jual belinya tidak menjadi haram karena tidak dimakan.

karena menurut logika ustadnya, maka termasuk mubah.

Oleh karena kebutuhan dan kepentingannya, maka bagi peserta mazhab yang menetapkan jual belinya haram, maka sifatnya harus diubah, bukan jual beli.  Tapi digugurkan jual belinya tapi “tukar guling saja” pakai uang juga.  (kalau berminat mencarinya permasalahannya, silahkan cari saja di google dengan kata kunci : hukum jual beli kotoran).

Akal-akalan.

Ketika membaca uraian mengenai sistem tukar guling saja untuk jual beli kotoran sebagai barang yang diharamkan, saya langsung teringat pada apa yang dikisahkan oleh Al Qur’an tentang larangan hari Sabtu bagi ummat Yahudi.

Ummat Yahudi taat untuk tidak berusaha mengambil ikan pada hari Sabtu.  Namun mereka punya akal untuk untuk memasang jaring-jaring dan lain sebagainya,  pada hari sebelumnya sehingga dan sedemikian rupa ikan-ikan terjaring juga.  Allah murka dengan akal-akalan ini.  Mengapa?.  Dalam pemahaman saya, ini karena esensinya sama.  Melanggar larangan.  Sejumput kisah ini diterangkan cukup jelas di Al Qur’an.

Contoh ini sekedar pembanding logika yang mengharamkan jual beli kotoran, lalu membuat pembenaran dengan sistem yang berbeda, namun outputnya sama.  Esensinya tetap sama.  Ya jual beli.

Tergantung Niat.

Entah karena limbah dari otak atau otaknya berlimbah, maka berbagai-bagai khasanah pikiran untuk mengakali kerap muncul sebagai solusi cepat.  Namun, apapun kejadiannya.  Sudut pandang motif adalah ukuran faktual terhadap kejadian atau perilaku.  Motif atau niat adalah landasan mengapa sesuatu kita laksanakan atau tidak.

9 Tanggapan to “Agama Limbah dan Limbah Agama !”

  1. Samaranji said

    Wekekek…. Otak atik istilahnya itu loh, WOW gitu😉

    Dan pernah juga saya berfikir,,, apakah hukum merokok makruh itu juga termasuk akal akalan. Atau justru yang mengharamkan itu yang akal akalan.

    Suka

    • agorsiloku said

      Budaya merokok, menurut kabar bermula dari India, yang dinamai hookah sekitar tahun 1542. Kemudian menyebar ke berbagai belahan dunia lain. Jadi, memang pada jaman Nabi Muhammad, belum ada yang namanya shisha (rokok arab). Kalau begitu, dan mungkin juga seeh para penyebar agama juga “banyak” yang merokok… jadi tidak ada fatwa-fatwaan.
      Pertimbangan rokok, lebih karena pertimbangan menganggu orang yang tidak merokok. Memang seeh, biar perokok sekalipun, bau asap rokok dari hisapan orang lain, nggak enak…. Kurangnya budaya untuk tidak menganggu dengan asap rokok, dan bukan perokok tidak tahu “nkmatnya” merokok, apalagi kalau sehabis makan dan nyruput kopi…he..he..he…

      Bagaimana hukumnya makruh, mubah, halal, atau haram. Kalau Mazhab eh, organisasi Muhammadiyah, katanya seeh sudah mengharamkan rokok. Di Mekkah kemarin dulu pun, para ahli hisab (perokok) , saya baca ada papan pengumuman haram.

      Yang menyedihkan di bangsa kita, yang merokok sambil lapar dan mengais sampah, masih banyak. Yang tidak mampu membayar uang sekolah anaknya, dan mengeluh tidak ada biaya, sambil mengisap dalam rokok juga buanyak.

      Tapi, apakah itu haram?. Setahu agor sih hanya kesepakatan hukum saja…. Kalau menetapkan ini haram itu halal, kalau agor sih nggak berani berspekulasi. QS 16:114, 115 menegasi mengenai konsepsi halal dan haram (pada makanan).

      Kalau ada pertimbangan kesehatan, dan itu jadi dasar pertimbangan, maka bisa-bisa sapi jadi haram karena udah gemuk, kolesterol tinggi, apa saja dimakan.

      Jadi pusing juga memikirkannya, terpaksa deh, sebatang rokok lagi….😀

      Suka

      • Ayruel said

        hhh…pak agor ini ada2 aja…pak agor pasti sudah tahu hukumnya merokok..saya rasa hukum yang tepat adalah makhruh …ditinggalkan lebih baik…fakta perokok meyebabkan kematian harusnya berimbang juga dgn banyak juga perokok yang sehat sampai berumur panjang…Kuncinya ..bagaimana sich merokok secara sehat? …duh pertanyaan yag aneh 2 aja …sebatang lagi pak agor…😀

        Suka

      • agorsiloku said

        bagaimana merokok secara sehat…. Ji Sam Soe…. katanya melegakan pernafasan sambil menguras kantong…😀

        Suka

  2. Misbah said

    Setahu saya beda antara najis dan haram, yang najis adalah limbah berasal dari
    sesuatu yang haram atau halal. Sedangkan haram sesuatu memang dasarnya memang haram.
    Kita diharamkan menjual barang haram, karena kita termasuk orang yang sebabkan
    orang lain makan atau sebarkan barang haram.
    Bila kita jual kotoran khewan dan kita tahu, bahwa kotoran tersebut digunakan untuk
    pupuk, sifatnya tidak haram. Kita dapat imbalan dari upaya mengumpulkan najis agar
    tidak mencemari lingkungan, berikutnya kotoran tersebut digunakan orang lain untu
    menyuburkan tanamannya, yang pada akhirnya pun mendapat keuntungan.

    Ini anggapan saya pak, belum tentu benar.

    Suka

    • agorsiloku said

      Terimakasih Kang Misbah untuk catatannya. Suatu kali, saya tanyakan hal ini pada yang saya anggap lebih tahu. Beliau menjawab, kotoran itu “tidak boleh” dilakukan jual beli. Jadi harus diniati bukan jual beli, tapi “sekedar uang pengganti lelah”. Begitu kira-kira. Saya tidak bisa berkomentar atau berpendapat banyak (benar atau tidaknya). Hanya ketika hal ini dijelaskan, saya teringat ulah Yahudi yang dilarang mengambil ikan di hari Sabtu, kemudian mereka memasang jaring agar ikan yang justru banyak pada hari Sabtu itu terjaring, lalu keesokan harinya (setelah hari larangan) diambil. Usaha yang dilakukan ini sepertinya benar, tapi esensinya tetap melanggar larangan hari Sabtu. Jadi kalau jual beli kotoran itu dianggap haram, maka logika cara pengganti uang lelah. Dalam pemikiran saya, ini hanya akal-akalan…..

      Suka

      • Misbah said

        Sumuhun Kang. Kita ini belum tentu benar, meskipun berupaya berbuat
        benar. Dan di forum ini bila kita bengkok, semoga ada teman yang luruskan.

        Yang dilakukan orang yahudi yang kakang sampaikan, menurut saya sih salah.
        Betul mereka pasang jaring hari Jum’at dan ambil jaring hari minggu, tapi
        penangkapan ikannya tetap hari sabtu(saat ikan terjebak di jaring) dan perilaku
        ini menunjukan tidak ikhlas.
        1.

        Suka

  3. fake said

    Untuk penulis, tolong dikoreksi tulisan soal dua mazhab PUPUK nya ya, tidak ada itu pupuk aerob dan anaerob, yang ada organik dan anorganik. Carilah referensi sebelu menulis (walau itu bukan inti tulisan), karena kesalahan konsep mendasar seperti itu fatal juga akibatnya. Terima kasih.

    Suka

  4. Marinki said

    Pupuk kompos aerob dibuat melalui proses biokimia yang melibatkan oksigen. Bahan baku utama pembuatan pupuk kompos aerob adalah sisa tanaman, kotoran hewan atau campuran keduanya. Kalau ini masih ditolak sebagai nama pupuk aerob?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: