Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Keistimewaan Babi (bag.6)

Posted by agorsiloku pada Oktober 6, 2012

Babi memang mahluk istimewa. Terlebih bagi ummat Islam,  mengapa.  Ya, karena Allah melarang hambaNya untuk memakannya.  Alasan tidak penting, yang penting menaati perintahNya.  Bahkan, jauh sebelum masa kenabian Nabi Muhammad, mahluk ini telah dilarang untuk dimakan. Timbul pertanyaan, mengapa?.  Jawabnya, karena sesungguhnya kotor.   Apa yang dimaksud dengan kotor?.  Pengetahuan dan pengenalan atas babilah yang “mungkin menjelaskan” pengertian ini.  Pengertian yang berkembang dari waktu ke waktu.Namun ada pengecualian, kalau terpaksa, tidak menginginkannya dan tidak melampaui batas, maka tidak ada dosa.  Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS 2:173, 5:3, 5:60, 16:115).

No Pork Please

Sudah sangat umum, kita mengatakannya kalau mendapat suguhan dalam perjalanan dengan pesawat terbang.  Beberapa perusahaan penerbangan luar negeri sangat memberikan perhatian terhadap permintaan penumpang ini, bahkan ada yang menanyakannya sewaktu mau naik.  Tentu saja ini bagian dari pelayanan dan kenyamanan penumpang mereka.  Bukan soal keyakinan.

Kalau terpaksa.

Pengertian awal saya kalau terpaksa adalah, kita kelaparan, lalu di depan kita hanya ada khinzir sebagai satu-satunya makanan tidak ada pilihan lainnya, maka dengan terpaksa memakannya.

  • Keterpaksaan lain adalah, kita jadi korban diancam dan terpaksa memakannya.
  • Keterpaksaan lain adalah, kita nggak sengaja memakannya karena tidak tahu dan lain sebagainya.
  • Pengertian ini sedikit berubah bahwa terpaksa di sini boleh jadi memiliki arti yang lebih luas lagi.  Mengapa?

Ya karena ilmu dan teknologi perbabian sudah sedemikian majunya.  Babi juga memiliki banyak aspek yang memberikan keuntungan bagi berbagai industri peternakan, makanan, kue-kue dengan sebutan porcine, gelatin dan sejenisnya yang telah terbukti bahwa unsur yang dikandungnya menguntungkan proses industri peternakan maupun industri. PIG Protein Antibodies untuk kambing, tikus, kelinci, manusia, anjing, kuda, sapi adalah keniscayaan. ( http://www.scbt.com/table-pig_protein.html).  Dengan kata lain, unsur khinzir ini memasuki binatang-binatang lain untuk berbagai sebab atau alasan industri.

Tentu saja hal yang sama juga berlaku bagi dunia pertanian.  Budi daya pertanian yang menggunakan unsur dari babi, baik enzim ataupun pupuk kandang, tentu saja dapat kita telusuri lebih lanjut.

Tidak boleh dilewatkan pula, dunia kedokteran dan farmasi memanfaatkan anasir babi untuk kepentingan medis.

Bahkan sahabat Sun Go Kong si manusia kera juga berteman baik dengan Chu Pat Kai, manusia babi.  Tentu saja tidak bisa dilupakan pula, babi ngepet juga pinter mencari uang.🙂

Singkat kata, varian penggunaan unsur-unsur dari babi memasuki begitu banyak dunia manusia.

Oleh karena berpikir ini, maka saya merasa tepat penjelasan Al Qur’an, sangat boleh jadi,  ummat Islam terpaksa karena luasnya penggunaan unsur dari babi dalam berbagai bidang kehidupan, sehingga disadari atau tidak, terpaksa “menikmati”-nya.

Memaknai Kotor?.

Lha, kalau cacing pita, jorok, dan lain sebagainya seperti banyak diulas boleh jadi benar, namun tentu dengan kecanggihan teknologi kedokteran maka resiko-resiko ini dapat dihilangkan atau diminimalisir.  Jadi memaknai kotor hanya dengan pendekatan ini, rasanya tidak afdol.

Meskipun tidak memastikan, rasa-rasanya saya lebih menyukai pandangan kotor ini dari pengertian PERV ( (Porcine Endogenous Retrovirus), yaitu semacam virus asli yang hanya ada pada babi, yang terkait secara genetika.  Jadi, memang sudah dari “sono”nya.   Tentu saja tidak berbahaya bagi babi, tapi menjadi inang dari setidaknya ada 25 atau boleh jadi lebih virus yang berinangkan babi.  Sampai sekarang, teknologi belum berhasil menghapus gen retrovirus dari babi.

Kesamaan Genetik.

Tingkat kemiripan secara genetik dari babi juga relatif tinggi, sehingga transpalatasi organ babi ke dalam tubuh manusia dimungkin lebih mudah diterima manusia.   Kesamaannya boleh dibilang luar biasa.  Begitu kata seorang ahli genetika hewan.

Hanya, mengapa biar pun memiliki kesamaan yang tinggi, wajah manusia (kecuali Chu Pat Kai) tidak mirip babi.

Bahkan saking istimewanya, ada usaha-usaha untuk melakukan terapi inseminasi buatan sperma manusia ke babi.  Tujuan jangka pendeknya untuk kepentingan Xenotransplation.  Tujuan akhirnya memperpanjang usia manusia dan memperbanyak teman-teman Chu Pat Kai.  Bahkan, ilmuwan katanya sudah berhasil membuat embrio manusia-babi (hibrida babi-embrio manusia).  ( http://www.organicconsumers.org/patent/pighuman.cfm )

Mengapa kelebihan-kelebihan babi relatif banyak?

Yah… sudah dari sononya gitu sih.  Begitu banyak kelebihan mahluk ini yang memberikan kontribusi peran dalam banyak bidang dan pada saat yang sama Allah menyatakan dengan jelas ketidakbolehannya.

Apakah sebagai salah satu alat uji keimanan manusia terhadap Sang Pencipta?

Wallahu a’lam

Sebelumnya (Keisitimewaan Babi Bagian 5.

 

2 Tanggapan to “Keistimewaan Babi (bag.6)”

  1. Samaranji said

    Ingat Babi jadi ingat wahbabi dan syi’ahlan yang selalu memecah belah ummat Islam dengan beribu hadits yang muaranya bermuatan politis.🙂

    Salam Pak Agor…🙂

    Suka

  2. boenks said

    Mas Agor yth : ngeriii …………

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: