Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Hukum Waris dan Variasinya (Mengapa Tidak Ikuti Al Qur’an “Saja”)

Posted by agorsiloku pada Juli 16, 2012

Pusing… tapi menarik.  Hukum pewarisan, ketika yang empunya harta titipan Allah diambil ruhnya, maka ummat tentunya akan berpegang pada ayat yang “sudah jelas”, yaitu QS An Nissa  11, 12, 176 yang menjelaskan secara cukup detail komposisi atau pembagian dari waris ini.  Namun, begitu search di Um Gugel, variannya ternyata banyak.

Sejumlah artikel, tulisan yang ‘melecehkan’ ayat ini pun tersedia.  Mulai dari ayat yang salah hitung berikut contoh-contohnya dan sejumlah bantahan yang beralasan dan mengindikasikan kebenaran yang layak diperhitungkan.

Terdapat beberapa kondisi dari ayat dan variannya yang buat saya tidak begitu jelas ketika diimplementasikan ke dalam praktek nyata.

Sebagai contoh 1 :

Seorang meninggal dan hanya punya anak perempuan sebagai ahli waris.  Asumsikan tidak ada lagi saudara manapun yang ditinggalkan almarhum.

Jawab :

Ketetapan Allah QS An Nissa ayat 11 : …jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta. …

Maka jika nilai yang diwariskan Rp 1 Juta, maka si anak perempuan itu mendapatkan setengah kali 1 Juta rp = Rp 0,5 Juta.

Lalu, yang setengahnya lagi diberikan ke baitul mal atau kemana?.  Lalu saya pikir, yang setengah juta lagi, ya karena statusnya masih harta waris dan yang berhak menerima warisan itu hanya si anak perempuan itu saja, maka yang setengahnya diberikan lagi ke anak perempuan itu, sisanya dari yang setengah itu lalu kemana?.  Ya diberikan lagi setengahnya.  Pokoknya sampai habis nilai warisnya.  Jadi yang menjadi hak bagi si anak semata wayang dan satu-satunya itu adalah 0,5 juta + 0,250 Juta + 0,125 Juta  + 0,0625 Juta + 0,03123 Juta….. limit = 1 Juta.

Jadi kesimpulan dari ayat ini adalah si anak perempuan itu mendapatkan 100% dari harta yang diwariskan.  Lho kok jadi 100%.  Kan AQ menyatakan 50%.  Sisanya “terserah”?.  Iya, tetapi juga lho, yang setengah itu, kalau menurut ketentuan AQ, diberikan kepada ahli waris semata wayang itu, sehingga menjadi satu bagian itu adalah keniscayaan dari hukum Allah.  Ini adalah kesimpulan dari pemahaman terhadap ayat itu tanpa mencari jalan untuk menyerahkan hak anak perempuan itu kepada pihak lainnya.

Sebagai contoh 2:

Seorang meninggal dan hanya punya anak perempuan sebagai ahli waris.  Asumsikan hanya ada ibu kandungnya saja dan tidak ada lagi saudara manapun yang ditinggalkan almarhum.

Jawab :

Anak perempuan = 1/2 bagian

Ibu dari anak perempuan itu =1/8 bagian

Jadi Harta waris = 1/2 bagian : 1/8 bagian

= 8/16 bagian + 2/16 bagian = 8 banding 2 –>Total pembagian 8 + 2 =10.

Jadi bagian anak = 8/10 dan Bagian Ibunya 2/10.

Jadi si anak perempuan itu mendapatkan 8/10 kali Rp 1 Juta = Rp 800.000,-

dan si ibu dari anak perempuan itu medapatkan 2/10 kali Rp 1 Juta = Rp 200.000,-

Lha, kalau begitu ketentuan kan seharusnya 1/2 bagian itu Rp 500 ribu dan 1/8 bagian itu = Rp 125 ribu

Lha iyalah… sisanya itu sebesar Rp 375 ribu kan harta waris juga, ya bagikan lagi kepada yang berhak sesuai dengan ketetapan Allah itu.  Artinya bagikan 1/2 nya untuk si anak perempuan, dan 1/8 untuk ibu dari anak perempuan itu sampai habis.  Coba sendiri deh, hasilnya nanti sama lho, si anak perempuan Rp 800 ribu dan si ibu mendapatkan Rp 200 ribu.

Logika Pembobotan secara Statistik.

Orang yang berkecimpung di dunia statistik, tentulah mengenal bobot nilai. Ayat yang menegasi bahwa bagian anak laki-laki sama dengan 2 bagian anak perempuan adalah peryataan bobot nilai dari bilangan waris yang menjadi ketetapannya.  (jadi ingat lagi rumus menghitung rata-rata terbobot, secara statistik).

Yang penting dari model ini adalah : hitung dulu rata-rata tertimbang/terbobotnya, bukan menghitung berapa sisa warisan dari almarhum untuk dibagikan ke siapa-siapa yang tidak disebutkan di dalam Al Qur’an.  Seperti pada contoh komentar saya di sini dan penjelasan di Media Isnet.

Logika pembobotan ini sangat memudahkan kita dalam menyusun rumus pembagian hak waris yang sesuai dengan ketentuan Al Qur’an.

Rumus Umumnya :

Total Waris = Bagian anak laki + Bagian anak Perempuan + Bagian Ayah alm + Bagian Ibu Alm + Isteri Alm Tanpa Anak + Isteri Alm Dgn Anak + Bagian Paman + Bagian Bibi + Bagian Suami Alm.

Untuk disederhanakan, asumsikan alm adalah seorang ayah (laki-laki), maka rumus umumnya adalah :

Total Waris = Bagian anak laki + Bagian anak Perempuan + Bagian Ayah alm + Bagian Ibu Alm + Isteri Alm Tanpa Anak + Isteri Alm Dgn Anak + Bagian Paman + Bagian Bibi+Bagian Kas Negara (Baitul Mal).

Ketentuan Umum :

  • Pembagian umum : anak laki 1 bagian, anak perempuan 1/2 bagian, Bagian Ayah 1/6, Bagian Ibu 1/6, Bagian Isteri Tanpa Anak 1/4 Bagian, Bagian Isteri dengan Anak 1/8 Bagian, Bagian Paman 1/6 Bagian (Jika Tidak ada ayah dan anak dari alm), Bagian Bibi 1/6 Bagian (Jika tidak ada ayah dan anak dari alm), Bagian Kas Negara (jika tidak ada ahli waris).
  • Perubahan terjadi jika :
    • Anak perempuan seorang saja, maka 1 bagian menjadi 1/2 bagian.
    • Anak perempuan saja dua orang atau lebih maka menjadi 2/3 bagian.
    • Jika alm tidak punya anak dan diwarisi oleh ibu bapaknya saja, maka kedua ibu Bapaknya masing-masing mendapatkan 1/6 bagian.  Jika alm tidak mempunyai anak  maka ibu mendapat 1/3 bagian, jika alm mempunyai saudara, maka ibunya mendapatkan 1/6 bagian.  Sampai posisi ini, Paman dan Bibi tidak mendapatkan harta waris, kecuali jika ayah dari alm sudah tidak ada dan alm tidak punya anak, maka QS An Nissa 176 berlaku (Kalakah), yaitu jika alm tidak punya anak dan ayah, maka Paman dan Bibi (atau saudara dari alm) baru mendapatkan bagian.
    • Nilai Warisan setelah seluruh wasiat dan utang piutang dikeluarkan.

Dengan demikian aturan umumnya menjadi :

Total Waris = Satu Bagian anak laki +Setengah  Bagian anak Perempuan +Seperenam  Bagian Ayah alm (jika alm mempunyai anak) + Seperenam Bagian Ibu Alm (jika alm mempunyai anak, jika tidak maka mendapat 1/3 Bagian) + Seperempat  Bagian Isteri Alm Tanpa Anak +Seperempat Bagian  Isteri Alm Dgn Anak + Seperenam Bagian Paman (jika ayah alm dan tidak punya anak) + Seperenam Bagian Bibi (jika ayah alm dan tidak punya anak)+Sisa Pembagian untuk Bagian Kas Negara (Jika ada sisa pembagian –  Namun, jika kita mengikuti penuh logika ayat pembagian waris dan sama sekali tidak menghiraukan model yang lain, maka boleh dikatakan, pada kondisi manapun, semua waris akan habis dibagikan ke ahli waris saja.  Ada ahli waris seorang saja, sudah cukup untuk menghilangkan bagian untuk baitul mal.).

Catatan :

  • Penulisan rumus Satu Bagian anak laki dan setengah bagian anak perempuan (atau laki-laki = dua bagian perempuan), bukan dua bagian anak laki-laki dan satu bagian anak perempuan.  Kalau penulisan mengikuti pengertian dua bagian anak laki-laki dan satu bagian anak perempuan, maka perumusannya menjadi berbeda hasil hitungannya terhadap komponen anggota keluarga lain dari almarhum.  Jadi, kita ikuti saja kaidah penulisan yang ada di ayat QS 4:11.
  • Terdapat kondisi, misal alm hanya meninggalkan isteri saja, dan tidak ada pewaris yang lain, maka akan bersisa, karena itu sisanya masuk ke baitul mal.  Kalau tidak ada baitul mal, maka logis juga sih diberikan kepada ahli waris yang lain, seperti di ijma’ oleh para ulama.    Kondisi ini hanya terjadi jika total pembagian dari nilai yang diwariskan hanya mencapai angka 1/3 atau 1/4 saja.  Jika 1/3 itu diberikan seperti logika limit integral yang diuraikan diatas.   Sebesar-besarnya hanya akan mencapai dua kali dari bilangan yang 1/3 (atau 2/3).  Yang satu pertiganya tetap saja tidak akan bisa dibagikan.
  • Pada Model ini, tidak menggunakan cara bersisa.  Misalnya yang mendapat waris anak laki (Ashobah binafsih), anak perempuan (Ashobah bil ghoiri), ibu, isteri, dst.  Maka yang anak laki dan anak perempuan mendapatkan bagian dari sisa setelah diberikan ke ibu, anak, isteri.  Mengapa?.  Jawabnya ada pada link rujukan yang model pemahamannya, buat agor lebih terasa komprensif dan tepat.  Sama seperti model, kalau anak perempuan semata wayang dan tidak ada ahli waris lain, maka yang berlaku 1/2 itu makna dan hitungan matematisnya, bisa diikuti sama dengan 1 bagian.  Kurang logis jika anak perempuan semata wayang, lalu hanya mendapatkan 1/2 lalu sisanya ke kerabat yang tidak tercantum dalam daftar waris menurut AQ.  Jadi fokus model ini, ini hanya semata berdasarkan rujukan AQ saja.

Untuk memudahkan kalkulasi, saya coba cek dengan format Excell. Belum bagus sih tampilannya dan mungkin hitungannya masih perlu diuji lebih seksama. Namun ini hanya “sekedar” untuk memudahkan kombinasi perhitungan berdasarkan ayat saja (mohon koreksi jika salah, attachment terlampir) tabel-waris Upate4,  biar lebih mudah diotak atik. Tentu saja, cek melalui excell ini bukan sebagai program bantu hitung.  Tapi, sebagai upaya belajar, mempelajari varian kondisi yang terjadi.  Apakah sudah benar atau belum.  Kalau ada pembaca yang mencoba, dan salah, mohon dikoreksi. Hanya pada excell ini tidak menggunakan prinsip perluasan yang di ijma’kan ulama.

Kalau dengan ilmu statistik sederhana ini, tidak ada masalah dengan logika jumlah pembagian kurang dari satu atau lebih dari satu, seperti yang diuraikan oleh ‘mereka-mereka itu’  (siapa mereka silahkan lihat saja di gugel, saya tidak link kan)

Beberapa Hal Yang Membuat Bingung.

  • Ada beberapa penjelasan, yang varian.  Misal, ada anak perempuan mendapatkan setengah bagian, lalu sisanya dibagikan ke kerabat.  Mengapa ke kerabat, bukankah sisa itu harus diberikan ke anak perempuan itu lagi (jika memang hanya anak perempuan itu satu-satunya ahli waris).
  • Cucu perempuan dari jalur laki-laki.  Lho kok, kalau cucu laki-laki dari jalur laki-laki ke piye?.  Apakah AQ memang memberikan pesan ini (Waris untuk cucu atau bahkan ada yang sampai cicit).  Kalau yang meninggal adalah suami, bagaimana dengan isteri, atau seorang wanita.  Tidak mendapat?.  Kan ini juga (pada level cucu, jika memang AQ mengatur begitu, mestinya pembagian 1 bagian laki-laki dan dua bagian perempuan berlaku pula dunk?.  Rasanya ada yang tanda tanya di sini.
  • Sudah jelas Alm meninggalkan anak, maka saudara perempuan dan atau saudara laki-lakinya (paman dan bibi) baru mendapat waris.  Tapi di beberapa rujukan, sy lihat malah kalau anaknya perempuan, maka ketentuan yang ada di AQ malah diabaikan.

Tentu kita merujuk pula pada berbagai istilah pembagian waris seperti Dzawil l Arham, Aul, Ashobah, dan banyak lagi.  Namun, apapun perubahannya, dalam akal berpikir saya, tidak boleh menyelesihi Al Qur’an, khususnya karena Al Qur’an telah memberikan pesan-pesan angka yang cukup jelas.

Al Qur’an dan Ijma’  Ulama.

Ada perbedaan (baca : pengembangan) antara yang disampaikan dalam wahyu Allah perihal waris dengan ijma’  para ulama yang memperluas pengertian sampai ke nenek (nenek dari almarhum) dan cucu dari anak laki-laki.  Jadi memang pembagiannya menjadi lebih rumit dan panjang.  Ini saya lihat ada di software Faraidh Web yang dirujuk oleh link portal Islam.

Kalau saya mengikuti tabel waris Update4  itu, sisa pembagian yang mungkin terjadi hanya pada sedikit kemungkinan, yaitu jika  jumlah komposisinya tidak mencapai setengah dari yang ditetapkan.  Ini antara lain terjadi, jika almarhum hanya meninggalkan ahli waris ibunya saja (sebesar-besarnya 1/3), atau isterinya tanpa anak saja(sebesar-besarnya 1/4).  Jika sisa waris terus diberikan lagi kepadanya, maksimum ada : Untuk Ibu saja 2/3 dan kalau untuk isteri saja 0.5 bagian.  Pada kondisi ini, maka kerabat lain yang tidak terdaftar dalam ayat masih dapat menerima,  jika ada, misalnya nenek atau cucu, masih mungkin mendapatkan warisan.  Satu saja dari unsur penerima waris masih ada,  maka tidak ada sisa waris yang dapat diberikan.

Ini adalah pemahaman yang saya peroleh dari ayat-ayat tentang pewarisan.  Jadi, hadis :

Hadis Sahih Bukhari 8.80.724

Dikisahkan oleh Ibn ‘Abbas: Sang Nabi berkata, “Berikan Fara’id (bagian warisan yang ditetapkan di Qur’an) kepada mereka yang berhak menerimanya. Lalu sisanya harus diberikan kepada anggota keluarga pria terdekat dari orang yang mati.”

Berlaku untuk kondisi di atas.

Kalau begitu pilih yang mana dunk?

Khus…hati-hati… ini pertanyaan atau apa neeh?.  Kalau kita berIslam, tentu saja patokan kita adalah Al Qur’an.  Jangan kita ubah-ubah hanya demi uang sedikit… Rijeki, mati -urip itu, sudah ada yang mengurusnya……

Tapi kan ada hadis yang bla…bla perihal ini.

Oke deh, tulisan ini tidak bermaksud untuk mempertentangkan perbedaannya.  Hanya, kita ingat saja, Allah mengingatkan kita, pembagian waris itu, adalah ketetapanNya.  Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.

Adilkah Isteri Hanya Mendapatkan 1/4 atau 1/8 saja?.

Misalnya saja ya, Isteri 1, anak 2 laki-laki, tidak ada ahli waris yang lain.  Yang bisa diwariskan 100 juta.  Maka Isteri hanya akan mendapatkan 12,5 juta.

Buatlah skenario sedih dan memilukan. : Yang disebut harta itu, hanyalah sebuah rumah saja yang saat ini ditinggali berdua dengan suaminya sebelum meninggal.  Anak-anaknya bandel-bandel dan si Ibu hanya dipastikan mendapatkan waris sebesar Rp 12,5 juta saja.  Si Ibu merasa bahwa, dia “pasti” akan terusir dan karena kebandelan anak-anaknya dipastikanlah si Ibu tidak akan mungkin ikut anak-anaknya yang buandeelll itu.  Terbayanglah dalam pikiran si Ibu, hidupnya akan terlunta-lunta….. Kalau kedua-duanya anak baik sih… nggak masalah…. Apalagi jika kedua anaknya sudah baik, kaya raya lagi.

So, Adilkah?.

Saya diam sejenak terhadap materi diskusi internal yang tajam ini.  Namun, logis sekali kondisi ini.

Oke deh… misalkan kondisinya memang demikian.  Pertanyaan berikutnya : Apakah Ibu dan Bapak itu sudah tahu kebandelan kedua anaknya itu atau nggak?.  Kalau tidak tahu?.  Wah repot ya, masa sih jadi Ibu atau jadi Bapak (ketika masih on), tidak tahu perilaku anaknya.  Bukankah Bapak yang baik juga harus mempertimbangkan semua kondisi yang dihadapi, termasuk jika ia dipanggil Yang Maha Kuasa?.

Jika Ya, sudah mengetahui kemungkinan dari kondisi ini.  Maka, buatlah surat wasiat untuk isterinya, melalui Notaris atau simpan di Pak RT berikut salinannya, sehingga waktu si Suami meninggal, harta waris yang tersisa tinggal Rp 1,- (tapi umunya ditetapkan tidak boleh lebih dari Rp 1/3).

“Oh begitu…,” , Sergah isteriku :”Alhamdulillah kita ya, anak-anak kita pinter dan baik-baik…” (muji sendiri)😀

Teriring salam dan terimakasih,  tulisan ini diperuntukkan untuk Kang Haniifa yang memberikan inspirasi cerdas tentang bagaimana memahami hukum waris yang sebelumnya tidak diminati untuk dipahami.

11 Tanggapan to “Hukum Waris dan Variasinya (Mengapa Tidak Ikuti Al Qur’an “Saja”)”

  1. eksak said

    Assalaamu ‘alaikum, Kang Agor!

    Daripada nerangin di blognya hanifa, mending ane tulis disini. Maap bila gak berkenan! Ane malah lebih pro ama artikel ente yang ini. Dasar pijakan faroidh gak berbatas di Qur’an, kan? Hadits dan ijma’ slayaknya juga bisa kita jadiin pedoman.

    Biarlah ane dibilang pemain ketoprak kitab gundul ama hanifa! Bhahah, egp! Yg penting ane punya guru dan punya dasar. Dan sdikit ane jabarin para penerima waris yg ane tau dari kitab ane, pastinya ente juga udah tau dari literatur laennya!

    Ahli Waris Laki-Laki Ada
    15, kan?
    1. anak laki-laki
    2. cucu laki-laki dari anak laki-laki
    3. ayah
    4. kakek dari ayah
    5. saudara sekandung
    6. saudara seayah
    7. saudara seibu
    8. anak saudara sekandung
    9. anak saudara seayah
    10. paman dari ayah sekandung
    11. paman dari ayah seayah
    12. anak paman dari ayah sekandung
    13. anak paman dari ayah seayah
    14. suami
    15. mu’tiq

    Trus Ahli Waris dari Perempuan Ada 10:
    1. anak perempuan
    2. cucu perempuan dari anak laki-laki
    3. ibu
    4. nenek dari ibu
    5. nenek dari ayah
    6. saudari sekandung
    7. saudari seayah
    8. saudari seibu
    9. istri
    10. mu’tiqoh

    KESIMPULAN
    >kalo ahli waris laki-laki semuanya ngumpul maka yang dapet warisan cuma 3 orang, yang lainnya mahjub (terhalang) yaitu ayah, anak laki-laki dan suami.

    Kemudian kalo semua ahli waris perempuan ngumpul maka yang dapet cuma 5 orang yaitu anak perempuan, cucu perempuan dari anak laki-laki [di hadits disebutin dari jalur laki-laki], ibu, istri, dan saudari sekandung.

    Nah, kalo semuanya ngumpul (masih hidup semua: ahli waris dari laki-laki dan perempuan) maka yang dapet warisan cuma 5 orang, lainya mahjub yaitu anak laki-laki, anak perempuan ayah, ibu,
    dan salah satu suami atau istri.

    Sebenernya hadits dari Abu Musa itu gak lain adalah contoh salah satu kasus, dimana yg tersisa dari ahli waris adalah anak perempuan dan cucu perempuan dari jalur laki-laki. Setelah dilaporin ke Ibnu Mas’ud, beliau bersandar pada Allah dan Rasul-Nya. Dengan rincian 1/2+1/6=4/6=2/3 [total]. Bukan Allah yang matematikanya jeblok kayak kata kaum liberal, tapi ane yg paling ampun kalo itung2an. Insya Allah, ente lebih paham.

    Ulama muta’akhirin mutusin bagian 1/6 buat nenek, apakah itu ada di Qur’an? Gak, kan! So, kita ambil dasar dari manapun! Entah itu dari Qur’an, hadist maupun ijma’.

    Makasih dan wassalaam…

    Eksak,

    Suka

    • agorsiloku said

      Wa’alaikum salam Kang Eksak…
      Emang Kang Haniifa sih, komentarnya suka “nakal” dan memusingkan. Namun, selama bertahun-tahun saya memelihara blog butut ini, tidak begitu banyak orang yang konsisten terhadap pemahaman Al Qur’an sebagai kitab yang diturunkan Allah kepada manusia, yang Allah menyampaikan, sudah dirincikan dan tidak ada yang disisakan. Kejeliannya dalam melihat benang merah persoalan, membuat saya juga terpesona untuk memahami. Tapi, kritiknya juga, membuat sy bisa menelisik lebih ke dalam untuk membuat komparasi-komparasi logis dalam memahami keusilannya sekaligus kecerdasannya dalam berkonsistensi terhadap kalam Allah.

      Dalam kasus waris, misalnya, tentu saja buat logika saya pribadi, pakai Hadis, Ijma’ adalah sangat sah dan sangat membantu. Namun, syarat dalam akal berpikir saya adalah : TIDAK BOLEH MENYELISIHI Al Qur’an. Sebagai contoh, jika AQ menyatakan Jika seorang meninggal tidak meninggalkan anak, dan mempuyai saudara perempuan maka …. Ini artinya, jika seorang meninggal dan punya anak, maka saudara perempuan tidak memenuhi kriteria sebagai ahli waris.
      Pada hadis yang dijadikan rujukan, ada anak perempuan dan cucu perempuan.. Dalam pemahaman saya, hak sepenuhnya berdasarkan Al Qur’an adalah 0,5 bagian dan jika ada sisanya, ya berikan lagi pada ahli waris yang berhak. Ya, anak perempuan itu. Terus sampai harta warisnya habis diberikan pada yang berhak menurut AQ.
      Kalau memang tidak habis diberikan, misal pada kasus ahli waris hanya seorang saja, misalnya ibun dari alm/almh saja, maka hadis atau ijma’ diberlakukan.
      Begitu juga 1/6 untuk nenek alm, sebagai jumhur ulama. Tentu saja tidak masalah, kalau memang penugasan pembagian berdasarkan AQ sudah dijalankan 100%. Kalau belum, ya pertanyaannya, mengapa “nekad” mengubah ketetapanNya.

      Itulah mengapa ketika Kang Eksak melemparkan contoh kasus ini, sy gereget mengikuti diskusi yang terjadi.

      Hal berikutnya, sy mencoba membuat rumusan waris, hanya berdasarkan AQ, saya “merasa” melihat keindahan komposisinya. Misalkan kalau ahli waris itu hanya anak atau tidak punya anak, dan ibu alm saja. Komposisi yang terjadi pada “kewajiban” saudara perempuan atau saudara laki-laki tampak lebih jelas. Kalau ada anak, maka jelas terlihat bahwa anak-anak alm bertanggung jawab terhadap neneknya.
      Berikutnya, model awl itu, terasa ngejlimet perumusannya dan tidak membentuk model matematik yang “enak”. Muncul pertanyaan bodoh, masa siih. Komposisi keajaiban matematika AQ yang sudah banyak dibahas oleh para pakar, ternyta hanya untuk urusan pembagian waris saja, harus “disesuaikan secara awl”. Hati kecil saya, ada “sesuatu” yang tidak terpahami di sini.
      Masalah jalur cucu dari jalur laki-laki, tapi tidak ada cucu dari jalur perempuan. Terasa “aneh” buat Agor. “Kenapa tebang pilih”. Kalau memang ada jalur, biar lebih afdol, kan mustinya pesannya : satu bagian dari jalur laki-laki = dua bagian jalur perempuan.(ini proses berpikir lho).

      Kira-kira begitu Kang Eksak. Saya hanya ingin fokus ke topik ini dulu, kalau soal walad atau budak, ini sih subtopik tersendiri. Begitu juga alasan, murtad, kafir terhadap waris adalah sub topik yang menarik, tapi tidak pada postingan ini, biar nggak terlalu panjang.
      Salam hangat, mohon maaf bila ada keliru kata.

      Suka

  2. @Mas EKsak
    Ulama muta’akhirin mutusin bagian 1/6 buat nenek, apakah itu ada di Qur’an? Gak, kan! So, kita ambil dasar dari manapun! Entah itu dari Qur’an, hadist maupun ijma’.
    ____________________________
    Buah Durian itu Halal ?! apakah ada di Al Qur’an ?!

    Jawab : Ya ada dunk… hehehe…
    Bukti:
    Lawan (negasi) dari Positif adalah Negatif
    Negasi yang haram pasti Halal😀

    Apakah pasti Halal 100%?!
    Jawab : bisa “Ya” bisa “Tidak”
    Ya halal 100% : bagi orang yang sehat
    Tidak halal 100% : bagi orang yang sakit darah tinggi akut, kolesterol dan kumplikasi dengan rorombehen… hahaha…😀 l;ucu tenan sampean

    Suka

  3. @Kang Agorsiloku
    Sejarah Keluarga Nabi Muhammad s.a.w. dan Anak-anak beliau dari hanya dari Istri Pertama (Khadijah) sedangkan Istri ke-2 s/d ke -5 (hati-hati : jumlah istri =4, sebab beliau menikah setelah Khadijah wafat )

    Fakta sejarah, tipe istri-istri Nabi Muhammad s.a.w :
    Yang dimaksud Istri punya anak => *** Rasululloh menikah dengan janda yang punya anak dan tidak memberikan keturunan dari fihak laki-laki (Nabi) ***
    Yang dimaksud Istri tidak punya anak => *** Rasululloh menikan dengan wanita lajang dan tidak memberikan keturunan dari fihak laki-laki (Nabi) ***

    Kesimpulan:
    Mari Ozawa kalau mau sama @Oom Haniifa, di tunggu dibelakang panggung buwat istri ke dua tapi tidak punya anak …. hehehe… 😀

    Suka

    • agorsiloku said

      Iya Kang, kalau ada alm ada dua isteri, satu anak (tapi isterinya udah meninggal), isteri yang satunya tidak punya anak, ini sudah diperhitungkan. Tapi, memang belum dibatasi angka jumlah isteri tidak boleh lebih dari 4.
      Kalau anak dari jalur laki-laki = anak dari jalur perempuan (karena mengikuti nasab). Hanya, untuk kondisi, yang dibuat hanya label peringatan saja. Soalnya kalau dirumuskan, masih bingung bikin rumusnya.
      Tapi kalau Saudara dari Jalur laki-laki dan Saudara dari Jalur Perempuan, tergantung dari almnya (laki/peremp). Tapi pusing juga ya kalau ada dua jalur, apalagi satu jalur Hongkong, satu lagi jalur Cicadas… muacet….

      Terimakasih Kang koreksinya.
      Agor

      Suka

      • 😀
        biyar mudah:
        Jumlah anak laki-laki ?
        Jumlah anak perempuan ?
        Jumlah anak dari istri:
        ke-1? isian (1:ada; 0:tidak ada)
        ke-2?
        ke-3?
        ke-4?
        (catatan kalau semuanya =0, artinya beliau nikah lagi saat duda, jumlah anak kandung laki-laki dan anak kandung perempuan disatukan walaupun kawin cerai …hehehe… tapi jangan dijumlahkan anak dari istri ke-n? .. ini hanya untuk tanda (flag) sajah. n>0 artinya anak kandung)

        Suka

      • tambahan:
        tapi jangan dijumlahkan anak dari istri ke-n? .. ini hanya untuk tanda (flag) sajah. n>0 artinya anak kandung)
        _______________
        Maksudnya porsi istri ini berbeda karena mempunyai harta warisan lewat anak kandung alm )

        Suka

      • agorsiloku said

        Sip😀

        Suka

  4. @Kang Eksak
    Tolong perhatike yang sayah bold (cetak tebal) dari post ulami… hehehe…

    eksak berkata
    Juli 18, 2012 pada 6:51 pm

    Assalaamu ‘alaikum, Kang Agor!

    Daripada nerangin di blognya hanifa, mending ane tulis disini. Maap bila gak berkenan! Ane malah lebih pro ama artikel ente yang ini. Dasar pijakan faroidh gak berbatas di Qur’an, kan? Hadits dan ijma’ slayaknya juga bisa kita jadiin pedoman.

    Biarlah ane dibilang pemain ketoprak kitab gundul ama hanifa! Bhahah, egp! Yg penting ane punya guru dan punya dasar. Dan sdikit ane jabarin para penerima waris yg ane tau dari kitab ane, pastinya ente juga udah tau dari literatur laennya!

    Ahli Waris Laki-Laki Ada
    15, kan?
    1. anak laki-laki
    2. cucu laki-laki dari anak laki-laki
    3. ayah
    4. kakek dari ayah
    5. saudara sekandung
    6. saudara seayah
    7. saudara seibu
    8. anak saudara sekandung
    9. anak saudara seayah
    10. paman dari ayah sekandung
    11. paman dari ayah seayah
    12. anak paman dari ayah sekandung
    13. anak paman dari ayah seayah
    14. suami
    15. mu’tiq

    Trus Ahli Waris dari Perempuan Ada 10:
    1. anak perempuan
    2. cucu perempuan dari anak laki-laki
    3. ibu
    4. nenek dari ibu
    5. nenek dari ayah
    6. saudari sekandung
    7. saudari seayah
    8. saudari seibu
    9. istri
    10. mu’tiqoh

    Ilustrasi kasus-sah😀 :
    Si Duleh seorang KAKEK hidup bersama 2 Anak dan 2 Cucu, semua biaya hidup ditanggungnya.
    Anak Perempuan bernama Icih sudah menjanda dan mempunyai balita LAKI-LAKI bernama Ducih.
    Anak Laki-laki bernama Tole sudah menduda dan mempunyai anak gadis (PEREMPUAN) bernama Titi.
    Suatu ketika Tole dan Titi mendapat musibah hingga mereka wafat bersamaan, hingga tinggalah sang kakek bersama 2 cucunya menjadi YATIM-PIATU.

    Karena usia sudah lanjut maka Duleh wafat dengan meninggalkan harta Warisan.

    Bagi waris menurut para ahlul sempoa :
    Ducih cucu laki-laki dari anak Perempuan. === 0
    (Dzalim pada anak Yatim-piatu)

    Titi cucu perempuan dari anak laki-laki. = 1 bagian perempuan
    (Dzalim pada anak Yatim-piatu, karena seharusnya mendapat 2 bagian laki-laki)

    Apa pendapat sampean ?!

    Suka

  5. […] contohkan nama-nama yang dihalalkan maupun diharamkan menurut Al Qur’an, sebagai ilustrasi buah durian pasti halal karena tidak termasuk yang diharamkan jadi sangat masuk diakal kalau buah durian tidak ada dalam Al Qur’an demikian hal nya dengan […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: