Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Azab Dulu Lalu Dihisab? atau Hisab Dulu Baru diazab?

Posted by agorsiloku pada Juni 12, 2012

Pertanyaan yang boleh jadi aneh tapi tidak aneh, wajar tapi boleh juga dikatakan tidak wajar.  Ini memang perkara gaib yang sejumlah mahluk hidup berakal bertanya-tanya.  Bagi yang beriman dalam iman agama Islam, pertanyaan ini kerap menjadi bahan diskusi atau perenungan mendalam.  QS 79:6 menegasi :  (Sesungguhnya kamu akan ) pada hari ketika tiupan pertama menggoncang alam, 7 : tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua.   Tentu saja tebaran diberbagai kitab petunjuknya perihal Hari Kebangkitan, Hari Pembalasan bertebaran dalam banyak ayat.   Dari pemahaman ini, maka kesimpulannya ya jelas saja.  Dihisab dulu dunk, baru diampuni atau diazab.  Tidak ada tempat tengah-tengah.  Pilihannya hanya ada dua, neraka atau surga.

Lalu bagaimana dengan azab kubur?.  Ya, semestinya ya beda dunk.  Azab kubur bukan neraka, nikmat kubur bukan surga.  Begitu juga nikmat dunia bukan surga, azab dunia bukan pula neraka.  Konsep logikanya tentu hisab dulu baru diazab. Jadi, pertanyaan ini lebih tepat sebagai tema menggelitik saja. Alam kubur, adalah alam yang dipahami sebagai alam “menunggu” hari kebangkitan.  Alam transisi yang didalamnya, seperti dijelaskan pada sejumlah ayat, ada nikmat kubur dan ada siksa kubur (seperti yang dijelaskan keputusan Allah terhadap Firaun yang kafir).  Barzakh adalah media transisi antara dunia dan akhirat.  Isinya apa dan bagaimana, ya yang kita ketahui adalah seperti ilmu-Nya yang diturunkan kepada manusia untuk diketahui.  Tentunya pula, kita tidak menyamakan antara azab dunia dengan azab kubur, azab kubur dengan azab neraka.  Kedua azab (dunia dan kubur) terjadi sebelum hari pembalasan, sedangkan pembalasan setelah sangsakala pertama ditiup (dibangkitkan) lalu diteruskan dengan sangsakala kedua (hari pembalasan) (QS 18 Al Kahfi: 99).

Tapi mengapa ada siksa kubur?, ada juga nikmat kubur?.  Pertanyaan ini bisa mundur satu langkah, mengapa ada siksa dunia, ada nikmat dunia?.  Tentu saja lengkap dengan segala narasi dan prolognya.  Saya pernah dijelaskan oleh ustad saya, ya alam kubur itu “seperti” atau “kurang lebih “seperti sudah jadi tersangka, ditangkap polisi, tapi belum diadili ?.

Boleh jadi, Kang Haniifa menulis untuk mengingatkan kita dikomen postingan mengenai tema Azab Kubur, QS Al An’am 6:93, yang isinya menjelaskan betapa dahsyatnya orang kafir yang berada pada tekanan sakratul mau’t….  Surat ini begitu menjelaskan tentang perilaku keimanan dan perilaku orang musyrik dan kedustaannya dan ketidakpercayaan mereka kepada ayat-ayat Allah.  Allah mengetahui apa yang disembunyikan hati manusia.  Jadi, resiko dari sikap yang tidak beriman jelas sudah dimulai.  Seperti juga pahala dari iman dan yang syahid di jalanNya, mendapatkan nikmat kubur.  (Subhanallah, semoga kita diampuni dosa dan keselahan kita, semoga Allah melapangkan kita di alam kubur dan di dunia ini kita diberikan kekuatan untuk tetap dalam iman Islam kita.).

Firaun, begitu jelas pada ayat QS 40:46 Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras. (terj. depag).

Pada hari terjadinya kiamat, masuklah Firaun dan kaumnya ke dalam azab yang keras.  Sebelum kiamat (sebelum hari berbangkit, di alam kubur dinampakkan neraka pagi dan petang).  Jelas siksa kubur sudah dimulai !.  Bahkan sejak sakratul maut tiba, azab sudah mulai datang.

Lalu, masihkah kita bertanya, dihisab dulu baru diazab, atau sebaliknya?

Kalaupun kita mau mundur satu langkah yaitu ke alam dunia ini, di dunia pun, yaitu tempat yang kita derita nikmati saat ini.  Allah telah menyikapi, bagaimana keputusannya terhadap mereka yang mendustakan ayat-ayatNya.  Tiadalah mereka mendapatkan petunjuk. Yang menjadi sebab akibat ketika memasuki langkah kehidupan berikutnya.

Yang kemudian terpahami adalah, azab kubur bukanlah azab neraka.  Pembalasan atas pahala dan dosa, di hari pembalasan adalah hari yang dijanjikan, hari dimana perhitungan dilaksanakan dengan seksama dan seadil-adilnya.  Hari  ketika semua dikumpulkan, hari yang orang beriman menampakkan keceriaan dan orang kafir lagi mendustakan menyesalinya.

Wallahu a’lam

Semoga kita mendapatkan ampunanNya dan menjadi bagian dari orang-orang yang bersukacita.  Amien ya Rabbal ‘alamin.

16 Tanggapan to “Azab Dulu Lalu Dihisab? atau Hisab Dulu Baru diazab?”

  1. Memang sulit memahami ayat-ayat metafisik,😦

    Suka

  2. semoga kita semua menjadi penghuni2 surga………. Amin
    makasih yah, bacaannya sangat bermanfaat

    Suka

  3. […] saya ucapkan mohon maaf sebesar-besarnya bagi rekan-rekan baik pembaca blog ini atau setidak-tidaknya menanti respon/tanggapan dari sayah… : Bagi rekan-rekan, silahken baca […]

    Suka

  4. Samaranji said

    Assalamu’alaikum…
    Ijin nyimak dulu…

    Suka

  5. semoga kita menjadi penghuni surga.. amin .. salam kenal…

    Suka

  6. assalamu’alaikum….
    ijinkan aku menyimak sebentar..?

    Suka

  7. […] Berikut ini saya berikan sebuah kutipan berupa kiasan dari buku diatas dan perumpamaan dari @Kang Rubon mengenai Ahlul Kitab yang saya ambil dari artikel @Kang Agorsiloku. […]

    Suka

  8. Hendra said

    Assalalu’alikum, salam kenal.

    Alhamdulillah artikel yang bermanfaat.
    Pendapat saya : Bukankah dengan dibekukan hati dari berbuat baik, dihilangkan nikmat ibadah (shalat, dzikir, puasa dsb) juga merupakan azab Allah. Na ‘udzubillah … semoga kita tidak termasuk di dalamnya.

    Suka

    • agorsiloku said

      Wa’alaikumussalam Mas Hendra, terimakasih sudi memberikan catatan.
      Kalau boleh sedikit catatan : dalam konsepsi positif dan asertif ummat beriman dan berislam. Jika mendapatkan musibah, maka sebagian lainnya adalah ampunan yang ‘kini’ atau ‘kelak’ (di akhirat) diterimanya. Jika dihilangkan nikmat ibadah, artinya diperingatkan untuk melakukan perbaikan dalam sisi kehidupan dan perilakunya. Ajakan untuk memiliki cara pandang ini adalah bagian dari sikap positif dan berprasangka baik kepada Sang Pencipta, sekaligus mengajarkankan kita untuk tidak berburuk sangka, terutama kepada saudara-saudara kita seiman. Sesungguhnya, kita memang tidak mengetahui, bahwa ketika saudara seiman kita mendapatkan musibah karena perilakunya, pada saat yang sama berapa banyak ampunan yang diraihnya. Ketika beramal shalih, kita juga tak tahu berapa pahala yang diraihnya. Sebaliknya pula, ketika mendapatkan rejeki berlimpah ruah atau diangkat menjadi pemimpin sekelompok manusia atau menjadi penguasa, sesungguhnya bisa berarti musibah atau ujian besarlah yang diterimanya. Karenanya, sahabat Nabi, ketika diangkat sebagai khalifah, Beliau melihat dalam keseluruhan rangkaian kehidupan sebagai ‘musibah besar’. Beliau teringat sabda Sang Junjunan, Nabi Muhammad : “Sesungguhnya kekuasaan itu amanah. Pada Hari Kiamat nanti ia akan berubah menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan haq dan menunaikan apa yang diamanahkan di dalamnya.” (HR Muslim).
      Peringatan yang diterima ketika ‘kehilangan nikmat beribadah’ adalah bagian dari kasih sayangNya.
      Subhanallah, Alhamdulillah, tidak ada yang luput dari kasih sayangNya kepada hamba-hambaNya…..
      Wassalam, agor

      Suka

  9. Eagle said

    Qaum ;Ad (qaum Nabi Hud a.s), Qaum Tsamud (qaum Nabi Shalih a.s), Qaum Nabi Luth a.s semua di azab,

    Lalu, masihkah kita bertanya, dihisab dulu baru diazab, atau sebaliknya?

    Suka

    • Eagle said

      أُولَـئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِّمَّا كَسَبُواْ وَاللّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ

      “Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian dari apa yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat hisab-Nya.” (QS 2:202)

      Ada yang terkubur dilaut.
      Ada yang terkubur dipasir.
      Ada yang terkubur lahar panas.

      Lalu, masihkan kita ragu akan azab “kubur” ?!

      Suka

    • agorsiloku said

      Subhanallah, terimakasih Kang Eagle. Berarti pemahaman Allah sangat cepat perhitungannya memiliki pengertian yang lebih luas dari pada pertanyaan hisab dulu baru di berikan pahala atau azab !. Azab juga bisa terjadi di dunia. Setidaknya diinformasikan oleh Al Qur’an pada kaum-kaum pembangkang. Jadi kelirulah yang beranggapan bahwa hisab adalah perkara yang hanya akan ada setelah hari perhitungan (Yaumul Hisab)?.
      Namun, tentulah mudah dipahami bahwa kepada kaum kafir yang ansich kepastian dan ukurannya, finalisasi seperti menghapuskan satu ummat karena faktor pengalinya sudah jelas -1. Maka sia-sialah amalnya di dunia, dan tauhidpun didustakannya pula, sehingga azab ukurannya menjadi lebih jelas. Jadi teringat kembali QS 65:8 yang menjelaskan hisab yang keras karena mendurhakai utusannya dan diazab dengan azab yang mengerikan. Jadi, kesimpulannya tetap. Hisab selalu dilakukan terlebih dahulu, sebelum azab.
      Terimakasih Kang pencerahannya…. atau ada pendangan lain.
      Wassalam, agor

      Suka

  10. harus belajar pelan2..

    Suka

  11. bani ilyas said

    Manusia mati ruh nya ada dalam genggaman Alloh.Dan Alloh memberitahu kita bahwa ruh tsb dimasukkan kealam barzah.Cukuplah itu yg bisa kita ketahui.Tentang azab ,yg pasti Alloh telah menetapkan neraka diakhirat nanti.Itu artinya setelah kiamat nanti.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: