Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Seperti apa ya Ikhlas itu?

Posted by agorsiloku pada Januari 31, 2012

Ada yang mengatakan, itu tuh, seperti (maaf), seperti pergi ke kamar mandi lalu, flush lalu membuang dan melupakannya.  Tidak ada tuntutan apa-apa.  Nyengir deh mendengarnya.

Ada yang mengatakan, seperti cinta yang tak harus memiliki.  Yang penting yang dicintai berbahagia bersama orang lain yang boleh jadi lebih tepat.  Biarpun tak memiliki, tapi tak menjadi benci, tetap sayang (biar mengelus dada dan memasrahkan hati yang terluka).

Ada yang mengatakan, seperti sebuah kerelaan tanpa menuntut imbalan, tidak mengharapkan balasan, baik pujian maupun gemerincing uang.

Ada yang lebih serius lagi, ikhlas tentang kesadaran jati diri dan potensinya untuk semaksimal mungkin menggarap karunia yang diberikanNya.  Memahami bahwa hasil akhir, bukanlah miliknya, tapi milik yang empunya jagad raya.  Menghayati bahwa segala usaha yang dilakukannya dengan segala pengetahuan yang dimilikinya, bukanlah miliknya. Ikhlas kepada potensi yang dimilikinya dan berusaha memaksimalkan dirinya, namun menyadari pada saat yang sama, ketentuanNyalah yang akan berlaku pada dirinya.  Ukuran-ukuran kemampuan dirinya adalah anugrah Illahiyah yang diberikan kepadanya, keberuntungannya terletak pada ketentuanNya, kerugiannya adalah kekurangannya dalam memahami anugrahNya.

Akalnya dan kemampuan kemanusiaannya digunakan untuk mengatasi hambatan dan sepanjang akalnya memahami, sepanjang usaha dapat dilakukan, ia memperjuangkan untuk yang ‘flush’, untuk cintanya kepada sesama, maupun kepada takdir yang tak dapat dipungkirinya.    Ketika yang diperjuangkan, tidak mencapai apa yang diimpikannya, ia ikhlas menerima sebagai ketentuanNya.  Bersyukur telah menerima yang terbaik baginya, bahkan ketika dirinyapun tidak bisa memahami apa dan mengapa hasil usahanya bercahaya gemilang atau harus beralih karena sebab yang tak bisa dipahaminya.

Ketergantungannya kepada takdir, tidak membuat terpaku, tidak juga membuatnya berburuk sangka atau merasa tak berdaya.

Kok soal ikhlas nyampur dengan “la haula wala quwwata illa billah”, ucapan yang menjadi santapan sehari-hari di setiap waktu bagi sejumlah ummat.  Bahwa daya dan upaya segalanya, tergantung dari kekuatan dan kehendakNya.  Kiranya, tidak keliru, karena pemahaman yang datang dari QS Al Ikhlas, ayat ke dua menegasi kebergantungan segala sesuatu kepadaNya.

Musibah dan Ikhlas.

Subhanallah, misalkan ada rekan atau kerabat terkena musibah.  Ia, lalai menyebrang jalan tanpa tengok kiri kanan.  Karena kelalaiannya, berakibat fatal.  Yang terkena musibah, mengatakan.  Saya ikhlas dengan musibah ini, kalau memang takdir, mau apa lagi.

Takdir sih takdir, tapi mbo ya kalau nyebrang liat kiri kanan dunk, aman baru nyebrang.

Namun, bila semua perangkat akal digunakan dengan baik, lalu menyebrang atau sedang berjalan di trotoar, tiba-tiba diseruduk mobil yang supirnya tidak punya sim dan lagi sakau?.  Ketika kematian menghampiri, tak akan tertunda sedikitpun.  Suka atau terpaksa, pelaku dipanggil kembali pada empuNya. Yang ditinggalkan ikhlas menerima kerabatnya dipanggil kembali.  Ketika kita menyadari, bahwa ketentuanNya tiba, tidak akan diundurkan barang sesaat, maka dimanapun dan dengan cara apa pun yang tidak kita pahami, maka hanya kesadaran untuk ikhlas saja yang membuat kesunyian hatinya terobati.

17 Tanggapan to “Seperti apa ya Ikhlas itu?”

  1. Rubon said

    Takdir sih takdir, tapi mbo ya kalau nyebrang liat kiri kanan dunk, aman baru nyebrang.

    Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum jika kaum itu tidak mau berusaha.merubahnya.
    Insya Allah, kalaupun sudah ditakdirkan diserempet sepeda jika si penyebrang liat kiri-kanan sampai aman, tentu takdirnya akan berubah sesuai kehendakNya.

    Subhanallah,

    Suka

  2. Ikhlas itu beda sama ridha bro.

    Ikhlas itu demi Allah

    Ridha itu merasa ringan terhadap ketentuan Allah

    Suka

  3. Lita Zein said

    Diskusi qodo dan qodar selalu esensial, Mas. Bahkan kadang terkait ketauhidan…

    Suka

  4. betty said

    Takdir itu adalah ketentuan Allah.. Seperti kita dilahirkan dr rahim ibu kita itu adalah takdir krn kita tidak bisa memilih untuk keluar dr rahim siapa, Tapi nasib baik dan buruk bukanlah takdir.. Krn nasib baik dan buruk itu terjadi krn hasil dr ikhtiar kita…. Insya Allah

    Suka

  5. Perbuatan yang membutuhkan keihklasan adalah perbuatan yang sangaaaaaaaaat beraaaaaaaaaaaaat untuk dilakukan. Tetapi dengan sekuat tenaga kita melakukannya. Itulah yang disebut ikhlas.

    Suka

  6. subhanallah……

    Suka

  7. pekerjaan apapun harus dibarengi dgn keikhlasan,.. Insya Alloh akan mnemukan kbahagiaan apabila sdh ikhlas dgn pkerjaan’y.. .

    Suka

  8. andika said

    iklas itu suatu kondisi, dimana mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, iklas atau tidak iklas, ya kita harus tetap iklas, pemaksaan?

    Suka

  9. akiadnani said

    Contoh ikhlash adalah BAB. Tega dan ngeres banget. Nilai tertinggi dalam agama, diibaratkan begitu rendah. Yang namanya praktek ikhlas itu adalah kita memberikan sesuatu kepada siapa saja tanpa menuntut secuil imbalanpun, padahal sesuatu yang kita berikan itu bagi kita atau si pemberi masih sangat berguna bahkan membutuhkannya pula. Kalau BAB, memang “si dia” itu mau tetap tinggal di perut gak boleh dikeluarkan?! Sayang mau dikeluarkan, lantaran hidangan yang dimakanan itu hadiah ulang tahun misalnya. Orang yang sekadar ingin membuang gas, yang tidak banyak volumenya saja, terkadang harus sekarat atau pergi ke dokter. Salah satu karakter ikhlas tercantum dalam QS92:18-21 atau QS3:92. Silakan renungkan……..

    Suka

  10. akiadnani said

    Istilah takdir dan pengartiannya sangat ditentukan oleh faham teologi, yakni Jabariah dan Qadariah. Secara singkat kita faham bahwa faham Jabariah menyatakan bahwa apa yang terjadi kepada manusia sudah kehendak Allah, sehingga manusia ibarat wayang yang diperlakukan semau sang dalang. Apapun usaha wayang atau manusianya, tak akan berhasil. Demikianlah takdir menurut Jabariah. Sedangkan faham qadariah adalah, apapun yang terjadi atau menimpa manusia, memiliki sebab-akibat atau berlaku hukum kausalitas.Oleh karena itu, manusialah yang menentukan arah nasibnya. Namun karena keterbatasannya, seringkali apa yang direncanakan belum tentu berhasil. Ya bagaimana akan berhasil, kalau perlengkapan dan syaratnya tidak terpenuhi. Wal hasil faham Jabariah ambil keputusan atau jalan singkat, ketimbang mikir dalam-dalam, katakan saja: Itu semua sudah takdir atau nasibnya sudah begitu, gak usah dianalisa.Sedangkan Qadariah terus berfikir mengapa sampai terjadi satu bus muatan manusia di jalan tol terbakar total hingga merenggut banyak nyawa? Kata orang Jabariah: “Itu kehendak Allah”. Komentar kita: “Oh my God, Allah tega-tegaNya, seperti laku-lampah Geng Motor”. Sedangkan orang Qadariah berkomentar: “Makanya, supir bus jangan mabuk-mabuk miras atau seperti halnya seorang briptu brimob keamanan sebuah bank yang main tembak”

    Suka

  11. Takdir itu adalah ketentuan Allah.. Seperti kita dilahirkan dr rahim ibu kita itu adalah takdir krn kita tidak bisa memilih untuk keluar dr rahim siapa, Tapi nasib baik dan buruk bukanlah takdir

    Suka

  12. ikhlas itu…. saya tidak tahu. ada yang bilang itu adalah masalah rasa, rahsa. ketika tidak lagi terikat akan sesuatu kebendaan atau apapun itu, ketika sesuatu itu hilang tak ada rasa kecewa, sedih dll.

    Suka

  13. Ayruel said

    Assalaamu alaykum … Seperti apa ya Ikhlas itu? ..klasik ..tapi menegangkan…tapi kok masih disangkut pautkan dengan takdir? …Kalau ikhlas akan takdir tujuannya artikel…mungkin bolehlah…

    Sebagai renungan …..—-> bacalah surat Al Ikhlash ……kok surat ini bernama Al Ikhlash?

    Wassalam

    Suka

  14. woww bagus sekali artikelnya

    Suka

  15. […] Seperti apa ya Ikhlas itu? […]

    Suka

  16. ajidimas said

    Ikhlas dan Ridha diambil dari bahasa arab, ikhlas adalah RELA dan ridha adalah RESTU, dengan kata lain ikhlas itu menerima dengan tulus dan ridha itu memberi dengan tulus

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: