Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Di Balik Dongeng Mina

Posted by agorsiloku pada November 12, 2011

“Gubrak !”

“Sebuah postingan pendek masuk ke email dari groups email yang saya berlangganan.  Tidak ada yang aneh dari isinya, hanya sedikit komentar dari sebuah email yang ‘marah’ karena dongeng tersebut menyitir pesan dari Al Qur’an.  Pembukanya memang ditulis dengan kalimat : “Kisah Nabi Ibrahim AS menyembelih anak kesayangannya memang bukanlah dongeng biasa.  Oleh karena itu, bersamaan dengan penyelenggaraan Shalat Idul Adha, peristiwa itu diperingati dengan menyembelih binatang kurban, …..  Itulah hebatnya sebuah dongeng suci.  Seolah… bla..bla..bla” Tulisan itu dimuat di Harian Umum Kompas, edisi Sabtu, 5 November 2011, dengan judul seperti postingan ini.  Kalau kata “dongeng” itu dibuang, dan kita melihat isinya, merupakan bahan renungan yang baik, mengingatkan agar ummat, khususnya ummat Islam, tidak memaknai berkurban sebagai upacara seremonial.  Kesalehan spiritual, hendaknya bersatu dengan spirit kesalehan sosial.

Dongeng dalam pengertian umum kita adalah “cerita yang bukan yang sebenarnya”, dimitoskan. Jadi memposisikan kisah Nabi Ibrahim dengan putranya, Nabi Ismail sebagai dongeng suci, tentu saja membuat kening berkerut !.  Tidak sedikit memang interpretasi dalam memahami pesan Al Qur’an yang seolah-olah menempatkan sebagai  dongengan atau dengan bahasa halus sebagai ‘permisalan’ bukan kejadian yang sebenarnya, terlebih jika yang diungkapkan oleh Al Qur’an adalah peristiwa yang bersifat gaib, mukjizat atau yang serupa.  Ambilah contoh, misalnya tentang ‘bulan terbelah’ (QS Al Qamar 1), “…Jadilah kera yang hina…” (QS Al Araf 7).

Ironi, jika kita menempatkan kisah dari Al Qur’an, dipahami ummat sebagai kisah tanpa kejadian sebenarnya.  Jika Allah membuat perumpamaan dalam komparasi indah, seperti yang kerap kita baca, maka disebutkan pula itu adalah perumpamaan yang datang dari Allah.  Dengan begitu, yang membaca kalam tertulis Illahi, dapat menyimak mana yang perumpamaan dan mana yang kisah gaib yang diberitakan kepada hamba-hambaNya.

Mudah-mudahan ini hanya sekedar kekhilafan judul, dan bukan secara konsisten memahami sebagai dongengan.  Sebuah nasihat yang baik dibungkus tidak pada tempatnya membuat kita bertanya, mana isi dan mana bungkusnya !.

5 Tanggapan to “Di Balik Dongeng Mina”

  1. Filar Biru said

    Yup

    mikir dulu

    Suka

  2. tambunan said

    ambil aja makna dari kronologis kisahnya: sepertinya ada sesuatu proses penggantian…untuk sesuatu yg……. dpt tergantikan. atau untuk tujuan sesuatu ini………????

    Suka

  3. begitulah kalau kita melakukan intepretasi berdasarkan agama, selalu ada pro dan kontra karena beragamnya tingkat fundamental setiap orang…

    Suka

  4. mungkin kebiasaan orang nyebutnya dongeng padahal itu kisah nyata

    Suka

  5. Anonim said

    itu cuma gaya bahasa seoang penulis..jangan dimaknai secara leksikal..memang butuh pemahaman gaya bahasa tingkat tinggi..bagi mereka yg tidak kenal gaya bahasa,selalu jadi masalah..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: