Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Sidang Isbath dan Lebaran di Keluarga Kami

Posted by agorsiloku pada September 2, 2011

Setelah cukup bosan mendengarkan berita di Metro TV mengenai penentuan Tanggal 1 Syawal 1432 pada sekitar jam 20.30-an, akhirnya melalui fasilitasi Pemerintah, Menteri mengumumkan bahwa Tanggal 1 Syawal 1432 jatuh pada tanggal hari Rabu atau tanggal 31 Agustus 2011.  Jadi, digenapkan puasa 30 hari.  Terjawab sudah pertanyaan, kapan lebaran berlangsung.

Bertahun-tahun, kami sudah terbiasa untuk mengikuti ketetapan Pemerintah tanpa banyak berhitung dan berpikir lagi.  Jadi oke-okelah.  Kami percaya dan sepenuhnya mengamini saja, tanpa pernah memikirkan benar atau salahnya.  Bahwa Ormas Islam Muhamadiyah sudah menetapkan jauh-jauh hari tanggal 1 Syawal bertepatan dengan tanggal 30 Agustus 2011 tidaklah penting.  Meski jauh di lubuk hati, alangkah indahnya jika kita tinggal sedusun berada pada tanggal yang sama di hari yang sama, jika kita menggunakan kalender yang sama.

Keputusan Pak Menteri yang terlambat (melewati waktu awal sholat Isya) ini kelamaan, dan keputusannya (atau fasilitasi) yang menghasilkan keputusan ini membuat momen kebahagiaan kami dirampas.  Bahkan rasanya, lebih menyesakkan dari tahun-tahun sebelumnya, ketika wacana ini diputuskan berbeda.   Mengapa?.  Karena tarawih menjadi tiada, takbiran juga tertunda.

Sidang Isbath di keluarga kami memutuskan bahwa besok adalah hari lebaran.

“Ma, jadi gimana nih, kapan kita berlebaran?”

“Ya, mo gimana ya, gulai sepanci sudah matang, kupat sudah matang, keluarga menyepakati seperti kalender masehi yang kita punya, besok lebaran !.   Masak gulai jadi basi !”.

“Ya… emak saja deh yang memutuskan, lebaran besok atau lusa !”

“Besok !”, begitu keputusan emak.

“Oke, kalau begitu.”

Maka lebaran kita putuskan besok, acuannya, lebih maslahat melakukan lebaran besok dari pada menunda gulai menjadi basi.  Kami tidak berani menambahkan formalin atau bahan pengawet lainnya yang kerap menjadi bahan dasar untuk perdagangan industri makanan yang merusakkan kesehatan.  Maka demi kemaslahatan ummat kecil di keluarga besar kami, maka keputusan ketua sidang penetapan hari lebaran dilaksanakan sesuai amar keputusan lisan.

Anggota keluarga yang meng-kring atau sms dikabari keputusan sidang isbath ini.

Kamipun pulang ke rumah masing-masing untuk membawa berita ini.

Sesampai di rumah, mesjid kampung kami sepi.  Tidak ada suara takbiran yang dilantunkan.  Hati ini rasanya sepi, ada sesuatu yang hilang yang biasa kami dengar pada malam ini.  Rasanya, hati ini sulit menerima bahwa pada malam lebaran, takbir tak terdengar dari mesjid kampung kami.  Sebuah mutiara pemaknaan kebahagiaan telah direnggut paksa oleh keputusan sidang isbath keluarga kami.  Di dusun yang sama, di hari malam lebaran esoknya, gema takbir berkumandang adalah santapan rohani yang keindahannyaseharusnya menyelimuti hati kami.

Keputusan berikutnya di keluarga kecil kami, anak dan isteri, esok hari kita berlebaran, namun sholat Id, kami lakukan sesuai dengan keputusan Pemerintah.  Sebagian saudara-saudara kami dan tetangga, berlebaran dan sholat Id sesuai dengan keputusan Ormas Muhamadiyah.

Kami makan ketupat dan gulai dan bermaaf-maafan, sungkem pada orang tua, dan segala percikan kecil lainnya dengan lahap karena enaknya masakan yang dihidangkan.  Namun, tetap ada keberkahan yang berkurang yang bisa dirasakan oleh keputusan yang kami buat.  Besoknya kami sholat Id, pulangnya kami mendapat masih ada sisa-sisa dari opor dan gulai dari Idul Fitri kemarin. Kami makan, hari ini kami kenyang, namun hati rasanya, tanpa mengurangi rasa syukur atas nikmatNya, kami tak bisa pungkiri ada “sesuatu” yang hilang pada hari ini.

Yang melaksanakan sholat Id di hari sebelumnya, ternyata pula merasakan hal yang sama pula.  Mereka mencari tempat yang jauh dan berdesak-desakan untuk melaksanakan sholat Id.  Karena lingkungan tempat tinggalnya jauh dari lokasi lingkungan yang memutuskan sholat Id tanggal 30 Agustus 2011, maka mereka pun merasakan hal yang sama pula.  Pulangnya mereka cerita tentang kehambaran ini.  Mereka melakukan sholat Id, tapi sebelumnya tidak mendengar alunan gema takbir bertalu-talu.  Mereka berangkat dengan rasa sepi yang sama pula seperti yang kami rasakan.

Kami bersepakat tanpa kata-kata lagi, bahwa keputusan yang dihasilkan untuk melahirkan perbedaan dan ngotot-ngototan para petinggi atau yang mengaku yang merasa berhak mewakili keputusan itu adalah keputusan yang mencuri sebuah hari di mana jutaan orang pulang kampung untuk menyempatkan diri meraih kebersamaan kebahagiaan.  Setiap kali kami mendiskusikan sebagai penyegar obrolan di hari raya ini, untuk kali ini, lebih dari tahun-tahun yang lampau keputusan jahil yang disampaikan dan tambahan agar ummat menyadari adanya perbedaan, keragaman, toleransi, dan lain-lain terasa benar-benar kering tak bermakna.

Mengapa, kebahagiaan kebersamaan yang ditetapkan setahun sekali ini, masih juga dirampas dari haribaan kami.  Mengapa?.  Apakah para pemimpin ummat, yang mengajarkan kesantunan berkata-kata dan berperilaku ini begitu angkuhnya untuk bersepakat.

Kami ini hanya secuil kecil tak bermakna dan tak memiliki banyak hak dalam penghidupan kami di tengah ummat yang kebetulan berada pada dua keputusan berbeda yang harus dijalani.  Jadi, kami harus mengamini keduanya dengan sesal di hati.

Kami pulang kembali ke rumah, untuk berjuang kembali meniti dan mencari sesuap nasi penghidupan.  Sedikit sekali yang dapat kami sisihkan, kemudian berjuta saudara kami kembali datang ke desanya untuk sungkem di kampung halamannya.  Adakah di tahun yang akan datang, jika masih ada umur, kebahagiaan sejenak itu akan dirampas kembali?.

 

3 Tanggapan to “Sidang Isbath dan Lebaran di Keluarga Kami”

  1. iah yah pas sidang isbath sangat heboh ………….

    Suka

  2. […] Sidang Isbath dan Lebaran di Keluarga Kami […]

    Suka

  3. 😀 ..hehehe… sayah dah buat artikel tentang Mekkah sebagai pusat bumi,maksudnyah … yaitu tadi, di arab jum’atan pasti di indonesia jum’atan, di arab puasa hari “x” ya kita juga puasa atuh… reyieut ahhh…

    Nilai toleransi 1 hari penuh adalah 12 JAM lho… bapak-bapak !!!!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: