Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Perbedaan Hari Idul Fitri di Negeri Jahiliyah

Posted by agorsiloku pada September 2, 2011

Premis mayornya begini : Di tempat yang sama, untuk bulan yang sama, dengan standar perhitungan kalender Hijriah yang sama, maka pada saat yang tidak ada dua tanggal yang berbeda.  Tidak ada itu, hari ini Tanggal Satu Syawal 1432 H dan besoknya juga Tanggal Satu  Syawal 1432 H.  Kalau itu terjadi, tidak lain dan tidak bukan, itu perbuatan jahil.

Untuk kebodohan ini, tidak perlu dihibur dengan argumen-argumen keberagaman dan saling menghargai atau toleransi.  Lebih pantas dikatakan ada dua versi kalender Hijriah, Sebutlah versi A yang lain versi B. Kemudian keduanya konsisten dengan kedua versi tersebut, terus setiap hari setiap minggu, setiap bulan, setiap tahun.  Jangan hanya pada hari-hari tertentu saja dibikin perbedaan itu.  Jangan ummat dipusingi oleh perilaku para ulama dan cendikiawan serta Pemerintah yang mencuri kebahagiaan kami merayakan hari berlebaran yang menjadi tradisi bangsa ini.  Mengertikah kalian hai para ulama, hai para pengambil keputusan, hai para pemimpin ormas Islam.  Janganlah kesombongan dan kebodohan kalian membuat sebagian dari kami tidak merasa nyaman untuk merayakan kejadian sekali setahun itu.  Jangan kami ditipu oleh ucapan toleransi, keberagaman, keunikan, dan segala penghiburan lainnya yang harus kami telan karena diharuskan untuk memahami perbedaan ini.  Pada hari yang sama, jangan membuat dua tanggal yang berbeda pada hari (waktu) yang sama!.  

Semoga pesan ini dipahami.  Kalian para ulama tentulah memiliki ilmu dan kesabaran yang tinggi.  Kami tidak memiliki semua itu, yang kami rasakan saat ini adalah, kami sebal dan benci dengan keputusan yang membuat kami tidak bisa bertemu dengan anggota keluarga yang berlebaran di hari berbeda, yang membuat kami bingung, ada yang sholat Id tanpa didahului malam takbiran, ada yang sebaliknya.  Sholat Id, tapi pulang tinggal sisa-sisa ketupat lebaran.  Dan sungguh, kalian lah para ulama dan pengambil keputusan yang membuat suasana kebahagiaan yang diimpikan setahun sekali ini dicuri di depan mata kami, tanpa kami bisa berbuat apa-apa.

Semoga Allah melimpahkan rahmat dan hidayahNya kepada para pemimpin kami ini, agar mereka tidak jahil untuk membaca petunjukMu, semoga Allah mengampuni dosa mereka mencuri kebahagiaan kami di hari nan fitri, yang Engkau berikan setahun sekali ini.  Ampuni pula ya Allah atas kelancangan kami memaki-maki hamba-hambaMu yang lain atas keputusan yang telah dibuatnya.

Alhamdulillah, Subhanallah.  Mahabesar Engkau ya Rabb, yang menyediakan bumi sebagai hamparan tempat tinggal kami, matahari yang bersinar dan bulan bercahaya, serta langit dengan tebaran bintang yang menjadi penunjuk arah dan waktu.  Ampunilah kesalahan hambaMu dalam menaati perintahMu.

—-

Agak sedikit lega rasanya setelah melalui postingan ini saya bisa koneksi ke internet dan menyampaikan pesan kekecewaan kepada para pengambil keputusan di negeri ini tentang satu Syawal 1432 yang baru saja berlalu.  Kini, sedikit mengulas keyakinan logis yang dimiliki, sebagai anugrah Allah kepada insan.

Hisab dan Rukyat.

Seperti ditulis di awal postingan, di tempat yang sama, pada waktu yang sama, pada sistem perhitungan kalender yang sama.  Tidak dibenarkan ada dua tanggal yang berbeda, mau metode apapun yang dipakai. Keduanya harus tumpah pada muara yang sama.  Kalau kita bersepakat rukun iman ada dua, tiga, lima atau enam, maka ketika disepakati rukun iman ada enam perkara.  Begitu kata para ustad, maka kita mengamininya.   Jadi, kalau mau ada kalender Hijriah Sistem A, lalu ada Kalender Hijriah Sistem B yang berbeda, ya mari kita bertoleransi.  Tapi di Sistem A ya konsistenlah ke A, yang menganut sistem B ya konsistenlah dengan B.   Tapi kalau A dan B harus menjadi persoalan  setiap tahun dan karenanya ummat disusahi, maka ini tidak wajar, tidak logis, dan tidak pantas.  Argumen-argumen yang muncul demi toleransi, kerukunan ummat, menghargai perbedaan, persatuan ummat yang disisirkan para pembeda itu untuk mencegah keresahan ummat dapatlah dipahami. Pada hisab dan rukyat itu, jelas terkandung kepastian dan komposisi yang indah dalam penetapan sistem kalender.  Janganlah kepastian matematis dan kelogisan pengamatan itu dikaburkan oleh pendekatan toleransi, keberagaman, keunikan dan berbagai ungkapan lainnya untuk membenarkan untuk keduanya (hisab dan rukyat) membuat dua tanggal yang berbeda pada hari yang sama.

Logika bodohnya sederhana saja sih.  Semua hasil perhitungan, faktanya harus dilihat di lapangan.  Hasil perhitungan hanya menghasilkan pengamatan di atas kertas, semua fakta terjadi di lapangan.  Jadi keduanya harus disepakati.  Hitungan mudah untuk benar, di lapangan bisa terjadi perubahan yang tidak terdeteksi atau karena sebab yang tidak diketahui.  Karena itu, sudah tentu ‘melihat’ harus pula menjadi dasar yang sahih untuk dipercaya.  Pengamatan dan perhitungan adalah dasar bagi  ilmu dan pengetahuan.  Kesepakatan adalah komitmen keduanya.

Argumen melihat.

Melihat dengan mata telanjang, melihat pakai kaca mata, melihat pakai lensa, melihat pakai teropong.  Juga melihat dengan sinar laser, melihat dengan menggunakan sinar infra merah, dan berbagai-bagai kemungkinan yang dihasilkan oleh teknologi untuk melihat lebih akurat fakta yang sesungguhnya. Semua adalah pengajaran Allah kepada manusia sehingga menghasilkan apa yang kemudian dikenali sebagai budaya.  Gunakanlah semua keberkahan yang diberikan kepada manusia ini untuk melihat.

Argumen Perhitungan.

Keteraturan pergerakan benda-benda langit, menghitung sudut, menghitung waktu sampai kehitungan detik, menghitung lingkaran, elips dan pengetahuan matematika memungkinkan manusia menghitung pergerakan benda-benda langit dengan sebaik-baiknya.  Gunakanlah semua keberkahan ilmu pengetahuan ini untuk kemaslahatan ummat.

Argumen Melihat dan Perhitungan.

Keduanya tidak bisa dipisahkan, perhitungan tidak menghasilkan fakta.   Untuk mengetahui faktanya, kita perlu melihat buktinya di lapangan.  Perhitungan tepat, tapi faktor perubah di lapangan bisa terjadi.  Fakta lapangan adalah kejadian yang sebenarnya.  Karena itu, perhitungan harus melihat buktinya di lapangan, di alam nyata.  Melihat juga membutuhkan keterampilan untuk mengetahui distorsi-distorsi pengelihatan. Kita mengenali distorsi, refraksi, dan berbagai istilah pengetahuan tentang ‘melihat’.  Singkatnya keduanya hal yang baik bagi kemaslahatan ummat.

Argumen Kesepakatan.

Sudah begitu jelas, pada akhirnya kesepakatan jualah yang menetapkan segala pengelihatan dan segala perhitungan.  Jadi kalau kedua argumen itu, berkehendak untuk membuat perbedaan, maka yang terjadi adalah perbedaan.  Kalau kesepakatan itu dilandasi semangat ukhuwah, semangat kebersamaan, semangat persatuan, dan yang lebih penting lagi :

Semangat untuk tidak menggelisahkan ummat, untuk tidak membuat ummat kesal karena berbagai sebab dari para pelaku pengambil keputusan, maka, insya Allah, kita bisa merayakan hari berlebaran seusai berpuasa sebulan penuh dengan keberkahan yang lebih sempurna, lebih membahagiakan

Akhir kata, semoga Allah melimpahkan rahmatNya untuk di tahun-tahun mendatang, jika masih ada umur, insya Allah, para pemimpin ummat itu bisa lagi mengambil keputusan untuk tidak menzalimi ummatnya dengan percekcokan yang terjadi setiap tahun.

Semoga.

Selamat merayakan hari raya Fitri 1432 H, mohon maaf lahir dan batin untuk semua saudara-saudaraku seagama dan sahabat-sahabat yang kerap bertegur sapa melalui fasilitas wordpress.

8 Tanggapan to “Perbedaan Hari Idul Fitri di Negeri Jahiliyah”

  1. Tidak ada itu, hari ini Tanggal Satu Syawal 1432 H dan besoknya juga Tanggal Satu Syawal 1432 H
    Semua ini hanya muncul di bulan ramadhan dan syawal.

    Suka

  2. @Mas Agor

    Assalamu’alaikum wr wb.

    Sebenarnya kita sekeluarga bisa mengatur hari lebaran sesuai dengan hadits nabi. Baginda Nabi berpesan kepada umat tersayangnya ini bahwa apabila hilal telah tampak maka kita berpuasa dan berhari raya. Dan kita tidak perlu bersepakat dengan orang lain, apabila orang tersebut telah menyalahi aturan yang di tetapkan Nabi.

    Apabila ada di antara kaum muslimin/muslimat yang melihat hilal (bulan sabit) itu sudah cukup untuk saya pribadi untuk berbuka dan saya akan memberi kabar kepada keluarga. bahwa esok harinya kita berhari raya.

    Saya dan keluarga berhari raya pada tanggal 30 Agustus 2011 tepatnya hari selasa. Sebab saya mendengar bahwa ada kaum muslimin yang bersumpah melihat bulan sabit pada tanggal 29 pada pukul 17.15 di Cakung. Dan itu sudah cukup bagi kami sekeluarga untuk berhari raya pada keesokan harinya.

    SALAM

    Suka

  3. Capek Deh said

    Itulah democrazy…😀

    Seperti yang mas Filar katakan
    “Saya dan keluarga berhari raya pada tanggal 30 Agustus 2011 tepatnya hari selasa. Sebab saya mendengar bahwa ada kaum muslimin yang bersumpah melihat bulan sabit pada tanggal 29 pada pukul 17.15 di Cakung. Dan itu sudah cukup bagi kami sekeluarga untuk berhari raya pada keesokan harinya.”

    Kalau tidak salah ada dua orang yang melihat, namun akibat dari penentuan suara terbanyak yang …..??? akibatnya begitulah kejadiannya😀

    Smoga gak terulang lagi😀

    Suka

  4. diablo said

    ada ulasan yg cukup menarik untuk masalah ini di http://orgawam.wordpress.com/2011/09/12/hari-raya-idul-fitri-1-syawal-1432-h-itu-31-agust-2011/ mungkin bisa menjadi renungan buat kita

    Suka

  5. yudisidji said

    mestinya kalender qomariyah yang notabene merupakan keilmuan dari Allah bisa menjangkau semua dimensi hidup……kalau yang dipake dasar2 diatas….dgn hilal misalnya……bayangkan bila orang Islam ngotot pake kalender qomariyah sebagai rujukan nasional/internasional……susah menentukan suatu flight penerbangan atau jatuh tempo deposito yg mengandung penalty……..”Ini mbak , saya mau ke medan tanggal 1 syawal yg tertera di tiket pesawat saya….” kata petugas : ” sebentar pak….setelah kita melihat hilal….bapak bisa terbang…….

    Suka

  6. qarrobin said

    jika suatu umat memakai hisab (perhitungan), maka 1 syawal adalah 30 Agustus (New Moon)
    jika suatu umat memakai rukyat (penglihatan), maka 1 syawal adalah 31 Agustus (Crescent)

    yang perlu kita tahu adalah arti hhilal itu apakah New Moon ataukah Crescent

    002,189 : akan ditanyakan (kepada) engkau tentang hhillal, katakan ia (hhillal) memiliki tempat-tempat waqtu nya, bagi manusia dan pertemuan (synodic), dan tiada kecantikan dengan supaya memberikan rumah-rumah (hhillal) dari punggung nya, tetapi kecantikan sesiapa yang bertaqwa, dan berikanlah rumah-rumah (hhillal) dari pintu-pintu nya, dan bertaqwa lah (kepada) Allahh, agar kamu beruntung

    menurut ayat ini, kita harus memberikan mawaaqiytu hhillal (buyuwt) dari pintunya, yakni tanggal 30 agustus, meski baru 2 derajat, meski mata tidak melihat, tapi kita kan punya perhitungan, diatas 0 derajat berarti bulan sudah bergeser dari kesejajaran (synodic) antara bumi dan matahari

    bukankah sariy’u lhisab adalah salah satu nama Allahh, yang segera dalam perhitungan

    janganlah kita memberikan waktu hhillal dari punggungnya

    Suka

  7. Bois said

    Tampaknya kita harus lebih memahami mengenai ilmu prioritas.

    http://bangbois.blogspot.com/2011/11/sayap-bidadari-bagian-1-benih-cinta_11.html

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: