Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Takdir Mbah Marijan

Posted by agorsiloku pada Oktober 28, 2010

Raden Ngabehi Surakso Hargo meninggal dalam “tugas”, sebagai kuncen Gunung Merapi.  Sri Sultan, menyampaikan, seperti yang diberitakan (dikutip dari yaho) :

“Pada tahun 2006 juga yang bersangkutan tidak mau turun. Padahal, sudah harus dievakuasi. Dan kemarin kita sudah minta dia turun tapi dia tetap tidak mau. Setelah dibujuk dia mau, namun dia minta mau salat maghrib dulu bersamaan dengan itulah awan panas turun. Jadi, ya, seperti itulah apa adanya,”tukas Sri Sultan.

Lebih lanjut Sri Sultan mengungkapkan, memang Mbah Maridjan lebih baik mati dalam tugas dibandingkan harus meninggalkan tugas. Itulah bukti konsistensi yang selalu dijunjung tinggi oleh Mbah Maridjan. Sebelumnya, Sri Sultan juga sempat meminta Mbah Maridjan untuk turun.

Beliau ditemukan dalam keadaan sujud, di ruang dapur (atau di kamar ?).   Saya tidak tahu kemana arah sujud almarhum, dan tidak tahu pula apakah posisi sujud itu karena sedang menjalankan posisi ritual ibadah ataukah berlindung dari musibah awan panas yang menerpa.  Mari kita berprasangka baik saja, Mbah Marijan meninggal dalam posisi seperti dijelaskan oleh Sultan : dalam posisi shalat.

Kehendak Tuhan !

Agak sedikit terpana dengan dari beberapa komentar dan pembahasan mengenai manusia linuwih Mbah Marijan, bahwa kematian Beliau adalah kehendak Tuhan.  Tentu kita semua sepakat bahwa semua kejadian di alam ciptaanNya hanya bisa terjadi dalam kehendakNya.  Namun, apakah di dalam rahmat dan ridhaNya.  Ini persoalan yang tentunya sedikit berbeda.  Semua dalam kehendakNya, tapi bukan semua dalam ridhaNya.

Kalau kita tidak bisa berenang, lalu loncat dari ketinggian ke dalam air, lalu mati lemas.  Apakah kita katakan bunuh diri (yang dimurkaiNya) ataukah kita memberikan penilaian sebagai kehendakNya?.  Baik mati lemas maupun menghindari loncat ke air, kedua-duanya adalah pilihan dari takdir kita.  Kedua-duanya adalah pilihan dan sekaligus kedua-duanya adalah takdir.

Dalam sebuah hadis diceritakan pertanyaan sahabat Nabi, berpindah dari satu takdir ke takdir yang lain.  Berpindah dari satu bahaya ke pilihan untuk selamat.  Bahkan sebuah bangsapun, nasibnya tidak akan diubah, tanpa usaha dari bangsa itu sendiri untuk mengubah nasibnya.

Takdir Mbah Marijan !

Yang saya sedikit gelo dari erupsi yang menelan puluhan korban jiwa, termasuk Mbah Marijan adalah beberapa kondisi yang seharusnya, bisa dilakukan untuk pilihan takdir yang menurut saya (subjektif pribadi) adalah kondisi-kondisi berikut ini :

Kondisi Bahaya Wedhus Gembel (awan panas Gunung Merapi) :

  • Peringatan mitigasi bencana sudah pada Awas Merapi.
  • Penduduk harus diungsikan pada radius yang disepakati.

Artinya resiko yang mungkin timbul berdasarkan analisis pengetahuan dan pengalaman berdasarkan ilmu dan pengetahuan sudah mengharuskan adanya penyelamatan.

Pilihan Mbah Marijan :

  • Jabatan sebagai Kuncen Merapi yang turun temurun diangkat oleh Sultan (diangkat oleh Sultan HB IX)
  • Menolak untuk mengungsi.  Pada kejadian 2004 lalu, prediksinya tepat sehingga mengantarkan Beliau menjadi selebriti dan  kerap tampil di layar televisi (iklan).
  • Termasuk menolak perintah Sultan HB X agar turun.   Akhirnya, bersedia turun seusai shalat, tapi kemudian maut menjemputnya. (Lho kok, nggak nurut ya sama Sultan HB X).

Mbah Marijan juga sudah sangat sepuh, ini fakta lain yang mungkin berpengaruh dalam menjalankan instruksi “atasan” atau sebab lainnya.

Pilihan Kekuasaan (yaitu Pemerintah yang berhak mengambil keputusan yang bersifat memaksa).

  • Pemberitahuan dan memfasilitasi pengungsian.
  • Membujuk Mbah Marijan turun, untuk mengungsi.
  • Memberikan penyadaran terhadap bahaya wedus gembel.
  • Punya hak (yang tidak digunakan secara penuh), untuk memaksa warga yang berada dalam bahaya awan panas Merapi untuk turun.  Mbah Marijan memiliki peran (paling tidak pengaruh) terhadap lingkungan bahwa jika Beliau masih di sana, artinya “aman”.  Ada ragam pendekatan sosiologis terhadap kondisi ini.

Pilihan Masyarakat :

  • Mengikuti instruksi Pemerintah untuk mengungsi, namun sebagian tetap mengambil resiko karena pertimbangan lahan, ternak yang ditinggalkan membutuhkan pemeliharaan.  Pengungsian, memang disediakan untuk manusia.  Ternak belum termasuk dalam perhitungan.
  • Masyarakat sudah terbiasa dengan “kondisi” erupsi  Merapi yang memang terbiasa terbatuk-batuk.
  • Mbah Marijan juga belum turun (apakah ini kondisi yang dipertimbangkan masyarakat ?).  — Saya tidak tahu, mungkin rekan yang tinggal di sekitar Merapi mengetahui.

Pilihan Takdir.

Jika dengan berbagai pertimbangan pilihan dan jika memang Mbah Marijan adalah salah satu pertimbangan yang mendorong keberanian penduduk untuk tidak segera mengungsi (paling tidak pada sebagian kecil penduduk).  Maka, keharusanlah bagi pemegang kekuasaan untuk memaksa meminimalkan korban jiwa dari resiko awan panas Gn Merapi.

Korban sekitar 30 orang adalah jumlah yang sangat besar yang indikatornya sudah begitu tampak dan peringatan bahaya juga sudah diumumkan.  Pengalaman periode sebelumnya juga telah memakan korban.

Pertanyaan kemudian :  Mengapa takdir ini yang dipilih?, Takdir dari korban wedus gembel dan kekuasaan yang tidak mau memaksa untuk meminimalkan resiko?.  Ataukah kekuasaan akan membela diri, kan sudah ribuan yang diselamatkan, maka yang tidak menurut, adalah resiko sendiri.  Ataukah kita mengatakan, ya sudah, memang sudah takdirnya.  Semoga amal ibadahnya diterima di sisiNya.  Kita ucapkan pula, semua kembali padaNya, dan kita memuji yang meninggal sebagai korban sebagai pahlawan yang teguh pendiriannya.  Itu semua memang sudah kehendakNya, termasuk kehendak untuk melakukan pilihan untuk mengabaikan atau menunda-nunda resiko terburuk yang mungkin terjadi.

Toh, seperti kisah kecil di atas : bukankah, kalaupun memang bukan takdirnya, maka orang yang tidak bisa berenangpun, tetap tidak akan meloncat ke air untuk menjemput kematiannya.

Takdir memang misteri, namun akal dan kebijakan juga adalah sebuah misteri.  Bencana adalah takdir, dan menangani dengan meminimumkan resiko dari bencana,  seharusnya menjadi takdir pilihan manusia juga, termasuk para pengurus negara dalam menangani penduduk dan kebencanaan……

(teriring duka untuk musibah Mentawai, juga dengan segenap persoalan berita tsunami yang simpang siur, dan gelombang tsunami tiba — katanya setelah bahaya tsunami dicabut, kemudian muncul tsunami berikutnya).

22 Tanggapan to “Takdir Mbah Marijan”

  1. AbuRazziq said

    takdir = pilihan…

    nais post bro…

    Suka

  2. @Kang Agorsiloku
    Subhanallah,…
    To the point ajah !!
    Sungguh sulit saya membayangkan tingkah laku elit politik kita mulai dari esekutif, legislatif, konsumtif dan isolatif😀 , coba deh bayangken musibah di negara ini bertubi-tubi dari yang paling memaluken bencana longsor timbunan sampah s/d bencana yang memankan korban terbanyak tsunami para “beliau-beliau” malah memikirken renovasi gedung 1,koma triliyun yang pastinya diikuti oleh bebek-bebek ditiyap daerah ujungnya menjadi 100,titik Triliyun … hehehe…. (kalau ada sisa tolong sisaken buwat cicilan motor sayah:mrgreen: )

    Apa nggak lebih baik duwit rakyat sebesar itu digunaken untuk penangulangan bencana.

    Suka

    • Rubon said

      Insya Allah, saya sependapat dengan post diatas ini.

      Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (At Taghaabun 11)

      Sebagai rakyat jelata, mungkin hanya bisa berandai-andai tentang rencana dana tsb untuk penanggulangan bencana di Indonesia :
      1. Mendanai PT Dirgantara… membuat pesawat helikopter penyelamat.
      2. Mendanai PT PAL… membuat perahu penyelamat
      3. Mendanai PMI
      4. Mendanai Sekolah khusus tim penyelamatan
      5. Mendanai Akademisi yang secara khusus meriset hal tsb.
      5. Mendanai Pengusaha kecil yang terkait dengan barang-barang P3K, seperti : Tenda, Slimut, Kantung, dll.

      Subhanallah,… disamping keuntungan dimasa depan bagi korban bencana tetapi ada juga keuntungan yang lain seperti penyerapan tenaga kerja, membantu usaha-usaha yang mulai lesu.

      Mudah-mudahan bangsa ini mendapatkan rahmat Allah dari segala musibah yang diperbuat sendiri. Amiin.

      Suka

    • Roy Rey said

      Jangan lupa para “beliau2” ini jalan mulu ke luar negeri(baca studi bandrol)…😆

      Suka

  3. lovepassword said

    Ya mestinya semua lembaga2 agama termasuk MUI barang tidak cuma bisa bilang Golput itu Haram, lalu malah diam saja melihat kelakukan produk pemilu kita.

    Kalo anggota DPR gak tau malu statusnya apa ?

    Suka

  4. arief juniawan,drh said

    ALLAH SANGAT konsisten dgn hukum2nya…dan tak pernah mengingkari…misal pada suhu 600 derajat…suhu awan panas tentu manusia tidak kuat menahan…jaringan2 tubuhnya.akan hancur…..walau Mbah marijan nglobi ke pencipta dgn sesajen,klenik,doa yang gak masuk akal…maka semua akan gagal….memang ALLAH bisa melakukan apa saja…spt Nabi IBrahim yg tdk mempan di bakar…tapi hal itu punya tujuan yg lbh besar…utk mengalahkan anti ketauhid-an…ALLAH sangat menghargai pikiran logis…karena ALLAH juga MAHA ROSYID/pandai dan benci dgn kebodohan yg gak masuk akal…ALLAH MAHA LOGIS

    Suka

  5. Budhe dati said

    Tetapi mengapa tidak ada yang menyalahkan mbah marijan? Malahan memuji-muinya, padahal banyak korban jatuh hanya karena membujuknya untuk mau mengungsi?

    Suka

    • agorsiloku said

      Tulisan ini juga tidak menyalahkan Mbah Marijan, hanya terus terang : menyalahkan pengambilan keputusan untuk seharusnya memaksa dan menghindarkan korban dari wedhus gembel, apapun alasan sosiologis yang melatarbelakanginya…

      Suka

  6. Dono. said

    salam,
    lucu sekali,gunung kok diurusin.
    nanti apalagi yg musti diurusin iya.gempa bumi kali.
    makin tua bumi ini, makin tua pikiran manusia.

    salam.

    Suka

    • agorsiloku said

      Kuncen Merapi dan sejarah kearifan berhadapan dengan alam kerap dibahasakan dengan caranya sendiri… kearifan Jawa memelihara alam dan juga berbagai suku bangsa di dunia memiliki caranya sendiri untuk menyampaikan pesan alam kepada manusia. Di sisi lain, pikiran manusia terhadap alam dan isinya juga dimaknai dalam berbagai varian yang tidak jarang mengesankan hal-hal yang kemudian bertentangan dengan tauhid…

      Suka

  7. Anonim said

    Tidaklah manusia mati karena suatu hal malainkan telah datang ajalnya. Yang jelas Allah akan membuat suatu urusan (keperluan) bagi manusia ketika ajalnya telah tiba. Bagaimana menurut Mas Agor?

    Suka

    • ARIEF JUNIAWAN,drh said

      takdir berlaku stelah kejadian…..ajal termasuk takdir terjadi stlh kejadian….kalo belum terjadi…mungkinkah mash bisa di usahakan…???…

      Suka

      • agorsiloku said

        Takdir dipahami setelah kejadian dan pilihan kejadian yang kemungkinannya sampai saat ini belum berhasil dirumuskan manusia. Hanya langkah catur sederhana yang bisa diperhitungkan, tapi merumuskan siapa yang akan kita temui esok hari, adalah perkara yang rumusan kejadiannya ghaib untuk kita.
        Beberapa petunjuk peristiwa masa depan dijelaskan AQ kepada kita, antara lain kejadian yang dikisahkan mengenai Nabi Khidir dan Nabi Musa, kejadian kiamat, kejadian di neraka dan surga, serta pemberitaan lainnya.
        Pengecualian dari Allah : Kecuali Allah menghendaki….

        Mungkinkah bisa diusahakan : Ya.
        Do’a adalah adalah permohonan yang membangun resultante kejadian yang bisa “mengubah arah”, sedekah, dan petunjukNya yang diamini membawa kita kepada jalan keselamatan.

        Namun, ini belum terjadi.

        Kalau kita melempar bola ke atas, jatuhnya ke bawah. Kita menghitungnya.
        Kita bisa hentikan bola yang “belum dilempar” kalau kita mempersiapkan untuk menangkap setelah tiba pada ketinggian tertentu. Namun, rumus perhitungannya tetap sama, hanya takdir bola bergeser dari jatuh ke tanah, menjadi ditangkap tangan.

        Mohon maaf, kurang lebih hanya itu logika yang agor pahami, Mas mungkin punya jawaban lebih tepat, silahkan berbagi.
        Wass, agor.

        Suka

  8. Jelasnggak said

    Yang menjadi pertanyuaan adalah, apakah ada kaitan antara tahta sultan ngayogyakarta dengan wafatnya kuncen merapi ?

    Seedhhapp.. analis ngga nyambung

    Suka

  9. Jelasnggak said

    Mas posting yg terakhir mengenai juru kuncen… tolong dihapus saja ya,.. takut menyinggung sultan, warga yogya dan almarhum. Mohon maaf, Saya agak keterlaluan. terima kasih…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: