Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Menentukan Harga Diri Bangsa Berdaulat

Posted by agorsiloku pada September 7, 2010

Sebelum kita berbicara tentang Malaysia, mari kita bicara ke dalam diri kita sendiri.  Kepada jati diri bangsa di negera kepulauan yang bernama Indonesia.    Sedari dulu, kita tahu urbanisasi atau perpindahan penduduk dari desa ke kota didorong oleh kemiskinan desa dan gemerlapnya kota.  Penduduk kota atau kelas menengah adalah penduduk yang beruntung.  Beruntung untuk mendapatkan fasilitas perkotaan yang gemerlap, yang kemudian diserbu laron-laron desa dengan datang sebagai pembantu rumah tangga, kuli kasar, dan lain sebagainya dengan meninggalkan kehijauan desa.  Kampung halamannya.Eksploitasi manusia miskin yang tersedot oleh kekayaan kota menjadi lumrah dalam keseharian.  Sebagian penduduk kota yang “sukses” pulang ke kampung halamannya dengan segenap atributnya.  Sebagian warga desa yang berjuang di kota, kembali ke desa di setiap hari raya dengan membawa “gempita” kota.  Sebagian dari penduduk desa datang ke kota tanpa cukup keahlian dan keterampilan untuk menjadi pelayan-pelayan kehidupan perkotaan.  Begitulah waktu bergulir berpuluh tahun sejak lampau sampai kini.  Orang-orang kota sudah kenal, dimana bisa mendapatkan para pembantu rumah tangganya.  Untuk mereka tinggal, mengabdi pada majikannya berganti-ganti tahun, berganti-ganti rupa dan perilaku.  Kita sudah begitu terbiasa.    Singkat kata, orang kota yang memiliki rumah tidaklah afdol tanpa disertai pembantu rumah tangga yang bisa disuruh dan diperlakukan “setengah budak”.

Tapi ini masih di negara sendiri. Ketika jutaan penduduk desa itu mendapat ajakan untuk menjadi pembantu rumah tangga atau menjadi pekerja-pekerja kasar di negeri orang, maka disadari atau tidak jumlah mereka itu menjadi komunitas yang kemudian dinilai bangsa lain sama seperti orang kota memandang orang desa.  Cocok untuk pekerjaan dalam tingkatan kasar atau rendah.  Karena mereka berasal dari Indonesia, maka tidaklah salah pula, akhirnya Malaysia memandang Indonesia sebagai bangsa pembantu !.  Dulu namanya TKW alias Pembantu, sekarang TKI, namun esensi aslinya tidak berubah. Sebagian dari mereka adalah murni pembantu, sebagian kecil adalah tenaga kerja dengan keterampilan mekanik tertentu.  Namun, jumlahnya boleh jadi tidak cukup untuk mengangkat derajat bangsa Indonesia di mata bangsa lain sebagai bangsa bermartabat.

Mengapa mereka pergi mencari dari desa mereka?.  Tentulah cukup banyak alasan dan sebab akibatnya yang bisa diuraikan ilmiah dan sosial panjang lebar.  Singkatnya, jelas saja : miskin dan berada pada kemiskinan absolut.  Kemiskinan absolut, artinya tenaga dan daya yang mereka miliki tidak cukup kuat untuk keluar dari kemiskinan yang melandanya (kemiskinan pengetahuan, daya, dan materi) dan Pemerintah negeri ini tak cukup memiliki daya dan kemauan untuk melepaskan mereka dari tirai kemiskinan.

Seperti kita memadang desa miskin sebagai sumber pembantu, maka begitu pulalah bangsa lain menilai bangsa Indonesia sebagai bangsa terbelakang dan layak menjadi sumber pembantu.

Pahlawan Devisa !.

Desa-desa Indonesia yang penduduknya menjadi pembantu bangsa lain relatif bisa membangun desanya atau sanak kadangnya menjadi lebih gemerlap.  Untuk sekedar puja-puji kepada mereka, maka kita menyebutnya pahlawan devisa.  Namun, setiap titik dari kesempatan yang terjadi karena kegagalan Pemerintah untuk meningkatkan mutu sumberdaya manusia bangsanya sendiri, perlahan tapi pasti menjadi bangsa pembantu bagi bangsa lain.

Harga itulah yang harus dibayar bangsa ini ketika berhadapan dengan negeri kecil seperti Singapura atau yang sepersepuluh lebih kecil, seperti Malaysia.  Maka bisa dibayangkan kesal dan marahnya warga Malaysia yang kedutaan besarnya dilempari kotoran !.

Kebijakan pengiriman tenaga kerja kasar dan papan bawah keluar negeri tentu bukan keputusan Pemerintah saat ini, tapi sudah jauh sebelumnya ketika sumber daya negara dan kekayaan 70% potensi ekonomi berputar di ibukota negara.  Tanyakan saja kepada para kapitalis itu, tentu mereka jauh lebih mengerti bagaimana pemerataan pembangunan menjadi sangat tidak merata.

Kita juga tahu, berpuluh tahun pula bagaimana bandara memperlakukan para pahlawan devisa itu.  Tak ada satu presiden dan menteri tenaga kerjapun yang berhasil memanusiakan dan  mampu menghargai seharusnya pahlawan devisa yang meninggalkan desanya untuk mencari kemakmuran di negeri lain.

Padahal !?

Kalau bicara kemajuan bangsa-bangsa lain dan sumber daya alamnya.  Mereka, konon kabarnya amat memuji negara kepulauan ini.  Kekayaan yang dilimpahkan Allah Swt kepada bangsa Indonesia berlimpah.  Dikaruniai sawah dan ladang yang mampu hijau sepanjang tahun, menguning untuk dipetik hasilnya.  Singkat kata, ribuan padahal-padahal yang semestinya cukup untuk memakmurkan anak bangsa tersedia.  Tapi, kok kita jadi bangsa pembantu ya !.

Ekonomi Kerakyatan

Duh… saya jadi rindu kembali pemikiran-pemikiran dari Bung Hatta !, ingat kembali konsepsi dari pakar UGM Prof. Mubyarto.

Negeri yang besar dan berdaulat itu tentulah yang mampu memenuhi pesan untuk menyejahterakan rakyatnya dan bukan menjadikan jutaan rakyatnya menjadi pembantu bangsa lain.

Kita akui saja ini, dan karenanya harus dibarengi usaha untuk lebih serius dan berkesinambungan.

Tapi… rasanya seperti mimpi saja… berita dari Indonesian Corruption Watch kemarin, benar-benar menyesakkan dada : lebih banyak koruptor dibebaskan di pengadilan umum.  Remisi sampai grasi pun bertaburan… Berbagai ketidakadilan itu berkontribusi di setiap bagian untuk mengirimkan pekerja-pekerja tataran bawah untuk berlari keluar negeri mencari kemakmuran.

Tentu pula kita bisa mengusut lebih banyak lagi sumber kekeliruan dalam pengelolaan negara  yang saking terbiasanya pada kekeliruan, kita sudah tidak anggap lagi sebagai kebusukan…..

Harga Diri Bangsa.

Harga diri bangsa tentu bukan tumbuh karenan banyaknya pekerja kelas kasar di berbagai negara, apalagi jika banyak berbuat ulah, tetapi akan tumbuh dengan banyaknya tenaga kerja berkualitas yang mengisi posisi di berbagai negeri.  Kita tahu itu.  Kita juga tahu, bahwa bangsa yang besar itu harus bisa melepaskan diri dari tradisi kemiskinan materi di dalam negerinya sendiri.  Kita tahu pula itu.  Banyak anak bangsa yang cerdas di negeri ini, berkualitas dan kompeten.  Tapi, masih lebih banyak lagi yang miskin dan tanpa lapangan kerja memadai untuk menghidupi keluarganya.

Banyak pula karya-karya anak bangsa Indonesia yang gemerlap di tangan bangsa lain bahkan diakui pula hak ciptanya.  Kita bisa optimis melihat begitu banyak karya seni, karya musik, dan karya lainnya bertebaran.  Namun, diolah tak sebaik bangsa lain mengolahnya.

Yang jelas, jangan jadikan warganegara Indonesia menjadi pembantu rumah tangga untuk mencari penghidupan yang layak untuk keluarganya.  Karena itu jelas menjadi bagian dari yang mulai muncul nyata ke permukaan, harga diri dan martabat bangsa dipertaruhkan dalam persaingan antar bangsa.

Semoga ada kebijakan yang dilaksanakan lebih baik di masa depan Indonesia.  Mungkin satu dekade mendatang kita punya harga lebih baik, kalau kita memulainya lebih cepat…….

17 Tanggapan to “Menentukan Harga Diri Bangsa Berdaulat”

  1. lovepassword said

    Mohon Maaf Lahir Batin, Mas AGOR… Emang kesel Mas, kalo mikir negeri tercinta.😦

    Suka

  2. Dono. said

    Salam,
    mas Agor,
    Allah tidak mencintai indonesia.

    Tetapi Allah mencintai mongolia.
    carilah sebabnya mengapa.

    Salam,
    Dono.

    Suka

    • 😀 hua.ha.ha…
      Kalau menurut sampean tidak cinta Indonesia,lalu buwat apa sampean pakai bahasa Indonesia, dan hidup di Indonesia. ?!

      (@OOm Dono adalah Warga negara Indonesia yang paling idiot.. hehehehe…)

      Suka

    • eagle said

      @Saudarai Dono
      Mengapa saudara menyalahkan Allah ?!
      Apakah saudarai tidak takut adzab Allah yang sangat pedih ???

      Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih”. (QS 14:7)

      Suka

      • Dono. said

        Salam,
        mas Eagle,
        siapa yg menyalahkan Allah ?
        Bukankah kaum muslim banyak yg munafik?

        Justru Allah berada dekat dengan orang-orang yg bertakwa?
        Anda menuduh saya menyalahkan Allah,ini dosa yg sangat berat.mohonlah ampun.Anda jauh dari kenyataan.

        Salam.

        Suka

      • eagle said

        @Saudarai Dono
        Darimana saudarai dapat kesimpulan yang aneh tersebut ?!
        Bukankah berarti saudarai tidak mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan kepada saudara.

        Suka

      • @Oom Dono
        Justru Allah berada dekat dengan orang-orang yg bertakwa?

        Dono. berkata
        September 8, 2010 pada 8:00 pm

        Salam,
        mas Agor,
        Allah tidak mencintai indonesia.

        Tetapi Allah mencintai mongolia.
        carilah sebabnya mengapa.

        Salam,
        Dono.

        Ciri orang yang bertakwa itu menurut @Oom Dono adalah orang-orang yang mengetahui bahwa Allah lebih mencintai Mongolia daripada Indonesia….😀 hehehe….

        Suka

      • eagle said

        @Saudarai Dono
        Kaum muslim yang munafik itu bukan lagi muslimin atau muslimah tapi menjadi munafikun, seperti saudara yang mengikari ni’mat Allah bukan muslimin lagi tapi Dono Kafirun.:mrgreen:

        Suka

    • arief juniawan,drh said

      yang jelas kalo mas dono mengatakan bhw ALLAH tidak mencintai INdonesia dasar anda apa??
      Jangan merasa anda sendiri yg memiliki kedekatan dgn ALLAH….justru orang yg udah merasa dekat ALLAH…adalah sangat berbahaya….kaum pejuang kita berpekik ALLAHU AKBAR…dlm mendirikan INDONESIA….di tebus darah dan jiwa…adalah lbh mulia drpd anda….dan INDONESIA yg kini berdiri sekarang anda katakan di benci ALLAH…sangat tidak bijak perkataan anda….mas dono saya tiap hari tahajud akan mendoakan anda spy anda sadar…dan kembali ke jalan lurus bukan jalan iblis ato anda sendiri ibliiiis.

      Suka

  3. lovepassword said

    Anak SBY yang duduk di Komisi Pertahanan kita malah lebih inferior lagi ketimbang bapaknya ^_^
    http://news.okezone.com/read/2010/09/05/337/370289/ibas-alat-tempur-tak-mendukung-ri-belum-siap-perang
    Kalo Malaysia membaca ini apa nggak bisa mringis terharu.
    Bahkan pelayanan umum semacam pesawat bisa ditunda gara2 anak presiden telat.🙂

    Suka

  4. haji malaysia said

    aku heran…bangsa indon yg punya ramai org soleh..org bijak..mengapa yg dipilih utk memimpin..utk mengurus sekalian kementerian..masih membiarkan korupsi..korupsi diindon dibilang terlalu parah..negara yg kaya sumber..tp rakyat msh miskin..bukan kah itu pelik..lihatla jepang yg tanpa sumber…
    malaysia kini menuju korups utk ikut saudara tua nya indon..huhu

    Suka

  5. pada nyatanya masyarakat di indonesia itu masih banyak yang miskin, mungkin masyarakatnya yang tidak menggali potensi akan dirinya serta alam sekitar ini..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: