Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

MINTA TOLONG

Posted by agorsiloku pada Juli 7, 2010

Minta tolong dalam dunia yang penuh kompetisi tidaklah mudah.  Untuk meminta tolong, kita butuh jaringan pertemanan atau apapun istilahnya.  Jaringan yang betul-betul memberi tanpa mengharap imbalan boleh jadi hanya sisa impian saja.  Singkat kata, membuka diri untuk memberi dengan ikhlas adalah kata yang tidak mudah diraih.

Seorang anak perempuan sedih karena baju seragam sekolah satu-satunya robek. Ia lalu mencoba meminta pada ibunya agar dibelikan seragam yang baru, namun ibu tak bisa membelikan karena keadaan mereka sebagai pengumpul barang bekas yang kekurangan. Akhirnya karena tak ingin menambah beba ibunya, anak perempuan itu lalu berusaha mengumpulkan botol-botol bekas dan mencoba menjualnya agar bisa membeli seragam yang dibutuhkannya. Apakah ada orang yang akan menolong anak perempuan itu?

Penyajian reality show yang disajikan oleh RCTI ini mengajarkan kita untuk berempati pada kaum terpinggirkan, yang jadi pemandangan sehari-hari ketika mobil berharga ratusan juta berkontribusi memacetkan jalan tol dan jalan-jalan di ibukota serta kota-kota besar lainnya di negeri ini atau para pekerja yang berdesak-desakan di gerbong kereta api atau naik angkutan yang berjalan terbatuk-batuk.  Kaum yang kalah ini hanya pada dua peristiwa saja yang secara nasional mendapatkan perhatian : Waktu suaranya diminta untuk pemilu dan sepuluh tahun sekali di buat untuk kepentingan statistik. Sisa kehidupannya, mendapatkan perhatian lebih banyak dari organisasi-organisasi nirlaba, baik yang berafiliasi dengan keagamaan maupun dengan kemanusiaan.  Namun, Pemerintah mendukung selalu setengah hati, lebih cocok sebagai bahan perdebatan, diskusi, keinginan membantu, namun masih terlalu jauh untuk bisa dan mau ditangani dengan hati dan anggaran yang memadai.  Tidak ada anggota DPR yang berteriak keras mempermasalahkan peraturan dan undang-undang bahwa orang miskin dan terlantar dipelihara negara.  Kita berada pada kemiskinan struktural untuk sanggup mengentaskan dan memberdayakan kemiskinan agar keluar dari kemiskinan itu sendiri.   Demikian juga peraturan-peraturan penegakan aturan dibuat untuk mengusir orang miskin dari pada mengusir kemiskinan.

Roni adalah orang yang kemudian anak perempuan yang menjual botol bekas seharga 20 ribu ini.  Roni adalah seorang cacat yang menjual buku gambar anak-anak yang dijajakannya dengan cara berkeliling.  Seorang yang lebih pantas dikasihani dari pada memberi.  Lebih layak dibantu dari pada membantu. Namun, Roni yang masa kecilnya mengalami musibah, kakinya tergilas roda kereta api itu memiliki hati welas asih yang mendorongnya untuk berbagi.  Kru RCTI yang mencarinya sempat kehilangan objek kisah ketika Roni yang pulang menyusuri pulang ke rumahnya sedikit mengalami kesulitan.  Rumah yang begitu sederhana, sebuah gubug !.  Roni sempat menolak pemberian uang Rp 2 Juta :”Jangan… jangan”.  Roni takut terjadi apa-apa !.  Memang menerima uang yang “tidak jelas” asal-usulnya untuk yang sekelas Roni perlu dipertimbangkan seksama.

Sudah sejumlah orang di tepi jalan yang dimintai tolong oleh si anak perempuan tadi.  Beberapa ada yang menaruh perhatian dan ingin membantu tapi tidak memiliki uang, dan lebih banyak yang tidak perduli.  Dorongan untuk berempati di tengah ketatnya persaingan untuk hidup membuat orang semakin sulit berbagi, semakin sulit untuk melihat kesulitan orang lain.  Sedang dirinya sendiri dalam kesulitan untuk menempuh kehidupan sehari-hari, memberikan perhatian menjadi barang yang langka.  Ini yang ditunjukkan oleh Reality Show RCTI.

Apakah Reality Show seperti ini menggugah?.

Ya, tentu saja !.  Setelah itu kita lupa, setelah itu kita sibuk kembali dengan urusan kehidupan lain.  Yang miskin dan sengsara sudah terlalu banyak, sedikit tetesan hanya sesaat menyambung kehidupan.  Setelah itu, tak banyak berubah.  Makna besar selalu akan terjadi jika kafilah bangsa menggerakkan segenap kekuatan bangsa untuk melakukan pembagian sesuai dengan sila kemanusiaan yang tidak adil dan beradab.  Tentu ini bukan berarti mengenyampingkan peran organisasi-organisasi kemanusiaan yang berdiri di garda depan yang mengumpulkan uang dari para penderma atau dengan rejeki dan kekuatan yang diberikan Allah Swt kepada mereka, menyemaikan ladang amalnya untuk berbagi.

Memberi itu adalah kesempatan yang diberikan Allah Subhanahu wa ta’ala.

Saya jadi teringat kembali peristiwa yang mengingatkan bahwa menyemai ladang amal itu adalah kesempatan yang diberikan Allah SWT kepada hambaNya, kepada manusia untuk memberi.  Jika, pintu untuk beramal ditutup, jangan berharap bisa memberi.  Memberi dari rejekiNya adalah investasi di ladang dunia dan akhirat.  Nilainya berlipat jauh lebih banyak dari yang kita investasikan. Investasi tentu bukan hanya untuk masa tua kita di dunia saja, namun untuk keseluruhan aspek kehidupan.  Ketika saya bersombong di tanah suci mengenai pemberian kepada pengemis, kemudian berhari-hari kemudian, saya tidak bisa memberi sama sekali.  Baru saya menyadari hal ini setelah hampir seminggu dan kembali dari Madinah ke Mekkah, baru menyadari bahwa memberi itu bisa terjadi karena pintu ladang amal kita dibukakan oleh Sang Pencipta.  Kalau itu ditutup, kesempatan yang dibukakan semakin jarang, yang di depan mata kitapun, kita tak akan sanggup memberikan.  Bahkan bisa jadi, ketika pintu hati terkunci, kita tidak bisa lagi melihat kemiskinan dengan hati.  Kemiskinan menjadi angka statistik, dan bantuan kepada mereka dipotong-potong untuk kemudian pada waktunya akan diminta pertanggungjawabannya.

Beruntunglah Roni, dalam segala keterbatasannya, hatinya luas seluas lautan.  Keterbatasannya tidak menyurutkan niatnya untuk berbagi.

QS Al Balad (20 ayat)  :
….
5. Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorangpun yang berkuasa atasnya?
6. Dan mengatakan: “Aku telah menghabiskan harta yang banyak.”
7. Apakah dia menyangka bahwa tiada seorangpun yang melihatnya?
8. Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata,
9. lidah dan dua buah bibir.
10. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan,
11. Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar.
12. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?
13. (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan,
14. atau memberi makan pada hari kelaparan,
15. (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat,
16. atau kepada orang miskin yang sangat fakir.
17. Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.

….

(Terj. Depag RI)

Usai menonton Reality Show, saya tertunduk malu.

3 Tanggapan to “MINTA TOLONG”

  1. mantap,,,makasih banyak ilmunya…salam hangat…

    Suka

  2. alrisblog said

    Kadang ending dari minta tolong itu bikin saya meneteskan airmata. Semoga makin banyak orang berpunya yang ikut meringankan beban simiskin.
    http://pakosu.wordpress.com/

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: