Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Hidup Di Negeri Maling

Posted by agorsiloku pada April 22, 2010

Tentulah kita pernah, paling tidak mendengar atau membaca Mencari Markus Anak Perawan Di Negeri Maling Sarang Penyamun Karya fenomenal dari Pemerintah Sutan Takdir Alisyabana.  Masyarakat Indonesia adalah Nona Sayu (anak perawan)  yang malang yang dirampok oleh Medesing.  Medesing adalah penyamun dalam novel ini, bukan mantan Kabareskrim Polri.  Jadi jangan dihubung-hubungkan.   Medesing akhirnya sadar bahwa kehidupan markus di lingkungan penegak hukum Indonesia bahwa masa lalunya yang buruk dan berbagai derita telah menderitakan keluarga Sayu yang disayanginya.  Singkat kata Medesing sadar, dia bertobat.  Dalam kisah ini, ada Markus Sanip yang membantu proses penyadaran Medesing yang sebagai intelejen pengintai, kerap membocorkan rahasia Medesing, sehingga Medesing sebagai kepala penyamun berkali-kali gagal melaksanakan tujuannya.  

Sebagai nagari dengan tingkat korupsi paling top sadunia, di Asean kita berperingkat nomor 1, dilihat dari peringkat kejujuran berbangsa dan bernegara kita berada diperingkat 111 dari 126 negara di dunia.  Jadi, kalau kita percaya kita hidup di negeri berpenduduk muslim terbesar, kita hidup di negeri gemah ripah loh jinawi, maka kita juga harus percaya bahwa semua itu kita sia-siakan karena hidup yang berbudi pekerti dan adiluhung hanyalah tersurat dalam cita-cita.  Jauh panggang dari api.

Ada tokoh-tokoh fenomenal yang muncul belakangan ini sebagai pahlawan kebenaran.  Susnoduadji, Bibit dan Chandra (pemimpin KPK), ada Antasari Azhar dan ada sejumlah hakim yang menerima uang sogok.  Kita juga punya TVOne dan Metro TV yang rajin ikut mengawal bangsa ini sebagai media yang cukup rajin membuka kebrobrokan korupsi sebagai the extra ordinary crime.  Hanya yang jelas, semua pahlawan pelaku untuk memberantas korupsi di negeri ini — entah bagaimana dilibatkan dalam beragam kasus yang membuatnya melangkah dengan penuh keragu-raguan.  Mengapa?, karena yang melaporkan juga diupayakan sedemikian rupa sehingga menjadi bagian dari Sistem Informasi Permalingan.  Boleh jadi karena jumlah yang jujur terlalu sedikit dibanding dengan kaum yang membela markus korupsi.  Semua menjadi berjubah hitam dan bertopeng.  Kalau ini berhasil dicapai, maka tentulah permalingan akan semakin langgeng hidupnya.  Tidak lain, semua itu demi keadilan negeri maling.

Penegak hukum yang diharapkan membongkar kasus dan membersihkan negeri ini dengan ketegasan dan kesungguhan, dengan keberanian dan resiko, berhadapan dengan teman sejawat yang berusaha dengan segala senyum, kejujuran, dan komunikasi publik untuk menyampaikan bahwa ada maling teriak maling.  Dan yang berteriak untuk membongkar harus diusut dan diporakporandakan sedemikian rupa, karena dia tidak jujur, dia juga maling, dia juga jahat, dia juga harus masuk penjara.  Ada sejumlah “cukup bukti” untuk menjerumuskan atas nama hukum, atas nama keadilan, atas nama kebenaran, atas nama azas praduga tidak bersalah, atas nama istilah apapun yang diperlukan.  Yang penting, yang berteriak harus diteriaki kembali.

Maka, ketika seorang petugas “cleaning service” saja bisa melakukan pencurian uang negara sebesar Rp 300 Milyar, masyarakat tidak perlu merasa kaget lagi.  Bisa kita bayangkan, bagaimana pada saat yang sama Metro TV yang rajin dipasangi iklan juga menyampaikan : “Hari ini tidak bayar pajak, apa kata dunia.”  Kita disuguhi dialektika absurd tentang keadilan, tentang etika, dan tanpa rasa malu sedikitpun kita mengucap syukur dan puja puji atas nama Sang Mahakuasa..

Di negeri maling, kita tidak perlu shock atau step lagi jika pelapor untuk membongkar ketidakberesan diteriaki maling, melanggar etika dan berbagai hal.  Sama juga dengan Bank Century dengan trilyunan rupiah, supir taksi bisa mengambil uang ratusan milyar tanpa pertanyaan yang cukup dari bank.  Tanpa kejelasan apapun yang memadai.  Tidak bisa dibuktikan karena memang tidak boleh dibuktikan !.

Jadi, kita memang seperti bangsa yang bertekad untuk memelihara korupsi untuk mencapai cita-cita bangsa ini sesuai dengan amanat UUD 45. Sangat wajar jika usaha untuk membongkar keborokan semua yang ingin menjadikan bangsa ini bersih adalah prioritas utama penegakan hukum.

7 Tanggapan to “Hidup Di Negeri Maling”

  1. faisol muhammad said

    “hidup di negeri maling”

    Wah bagus sekali artikelnya, terima kasih saya telah ikut membacanya. Semoga menjadi inspirasi pembaca yang lain untuk segera memperbaiki kesalahan yang ada menurut Maqomnya masing-masing. Kalau boleh memberi masukan, saya usulkan,
    Pertama: judulnya diganti “hidup di negeri yang ada malingnya”…toh pelakunya tidak lebih banyak dari yang tidak melakukan.
    Kedua: Urusan yang besar-besar setingkat nasional, biarlah diurusi DPR pusat atawa Presiden atawa pejabat setingkat nasional lainnya.
    Ketiga: Mari segera usahakan kebersihan akhlak dan perilaku mulai dari diri, keluarga, lingkungan kerabat terdekat, RT, RW, dan seterusnya sesuai posisi masing-masing.

    Jika kita lakukan tawā ṡaubil haqqi watawā ṡaubishshabr, dalam rangkaian ta’murūna bil ma’rūfi watan hauna ‘anil munkar secara sungguh-sungguh kemudian ibda’ binafsih…insya Allah lingkungan kita akan menjadi terus berkembang menuju ke kebaikan (kebenaran). Benar menurut siapa? tentu benar menurut standar Pemilik Segala Standar.

    Suka

  2. Ambo cinna said

    Tgl 10 may 2010 adalah sejarah RI ada seorang komjen pol yg di tangkap ironisnya dia membongkar jamaah koruptor sehingga dia pun di jadikan trsgka.maka sy berani berkata tidak ada lagi susno bibit dan candra berikutnya sebab jika anda teriak maling maka anda akan dijadikan maling.

    Suka

    • agorsiloku said

      sedih ya Mas Ambo lihat perilaku pemimpin kita ini, bagaimana kasus yang seharusnya harus dibersihkan malah sebaliknya. Namun, semua selalu disampaikan atas nama hukum, nama Tuhan, dan segala ucapan yang sebenarnya garing…. tapi kita juga tidak berdaya selain berdo’a : Semoga Allah SWT segera mengirimkan pemimpin untuk bangsa ini, pemimpin yang mampu menegakkan kebenaran dengan keadilan.

      Suka

  3. […] Hidup Di Negeri Maling […]

    Suka

  4. gp said

    inilah Indonesia…kalau membahas mengenai semua hal tentang negeri ini ga pernah akan ada habisnya memang…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: