Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Sumpah dan Melanggar itu, Gpp Kok, Yang Penting Tobat !

Posted by agorsiloku pada April 17, 2010

Mari berandai-andai.  Andaikan teman atau sahabat kita mencuri, lalu kita ditanya : “Apakah sohibmu mencuri?”.  Tidak dalam hitungan detik, saya akan berpikir hubungan baik yang telah terjadi selama ini, kebaikan dan keakraban yang telah begitu bertumpuk diterima, keramahan orang tuanya, menjadi pertimbangan untuk memberikan jawaban.

Saya harus katakan, kemungkinan besar jawaban saya adalah bohong.  Saya tidak akan memberikan jawaban jujur.  Paling tidak saya akan menjawab tidak tahu.   Dengan kata lain, saya memperhitungkan untung dan ruginya, baik untuk kawan itu maupun dalam hubungannya dengan saya.            Lalu bagaimana kalau pertanyaan ini di bawah sumpah?.  :

Demi Allah Subhana wata’ala yang menguasai seisi dunia.  Maka segala yang jawabanmu adalah janjimu untuk menjawab benar dengan menyebut keagungan namaNya, kesaksianmu disaksikan para utusanNya, para malaikatNya? sehingga jawabanmu pada saat ini adalah jawaban yang diberikan bukan hanya kepada manusia yang bertanya, tetapi jawabanmu kepada Dzat Mahatinggi yang telah menciptakanmu?  Malaikat yang akan mencatatkan jawabanmu untuk pada waktunya engkau harus mempertanggungjawabkan“.

Masihkah kita akan berbohong?.

Jelas, jawabnya :  Saya akan tetap berbohong, karena pertimbangan saya adalah :

  1. Tuhan tentu tahu jawaban saya adalah bohong, tapi bohong saya adalah demi kebaikan teman saya agar tidak kena hal-hal yang merugikannya dan ini secara langsung atau tidak langsung akan merugikan saya juga.
  2. Saya tetap akan berbohong, karena tidak ada resiko apapun yang terjadi pada diri saya kalau saya berbohong.  Termasuk juga dengan Tuhan.  Karena saya adalah orang yang taat beragama, saya juga suka beramal, dan saya tahu persis dari Pak Kyai, bahwa Allah Maha Pengampun, kecuali orang yang bersekutu mempertuhankan selainNya.  Sedangkan saya adalah orang beriman, saya juga melaksanakan sholat dan kewajiban lainnya.  Saya juga membayar zakat, saya juga melakukan sholat-sholat yang diwajibkan dan disunnahkan. Kalau saya bertobat, maka Allah akan mengampuni dosa saya.  Jadi, setelah saya berbohong, saya akan segera memohon ampunanNya yang lebih luas dari langit dan bumi dari segala isinya.
  3. Saya juga punya sejumlah amalan-amalan yang saya hafal di dalam dan di luar kepala yang kalau saya pikir-pikir kebohongan yang saya lakukan akan ditimbang dengan amal ibadah saya, maka masih bisa diharapkan timbangan kelak akan bergerak ke kanan.

Al hasil, dari seluruh pertimbangan rasio dan akal serta modal yang telah saya kumpulkan selama ini, maka kemungkinan impas masih besar.  Jadi, kenapa saya harus jujur?.  Jujur itu dekat pada kerugian dan kecelakaan.  Dekat pada peluang terusir dan terhina.   Apalagi Pak Kyai selalu mengajarkan bahwa Allah SWT akan mengampuni (jika bertobat) semua dosa, kecuali syirik.

So…  kalau begitu, seberapa urgensinya kita menjawab dengan jujur.  Bahkan seandainya saya berteriak sekeras-kerasnya untuk melindungi semua kemungkinan material untuk keuntungan dunia, apa yang saya harus takutkan?, apa yang saya khawatirkan?.

Pada ujung-ujungnya, sumpah bahkan dengan menyebut namaNya sekalipun, adalah nothing.  Tidak perlulah dimaknai berlebih-lebihan.  Kecuali Anda tidak percaya ucapan para kyai, kecuali sampeyan tidak mau bertobat.  Soal tobat, sabarlah, kadang dilakukan, dan mumpung masih sehat dan kuat, kita juga masih punya waktu untuk bertobat.  Nantilah kalau sudah pensiun, sudah naik haji, dan bla…bla…bla…

Referensi (terjemahan Depag) :

  1. QS 5: 89 : Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya).
  2. QS 16:39. Atau apakah kamu memperoleh janji yang diperkuat dengan sumpah dari Kami, yang tetap berlaku sampai hari kiamat; sesungguhnya kamu benar-benar dapat mengambil keputusan (sekehendakmu)?
  3. QS 16: 91. Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.
  4. QS 58: 16. Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka halangi (manusia) dari jalan Allah; karena itu mereka mendapat azab yang menghinakan. (lebih jelas dari QS 58:14-17).
  5. QS 3: 77. Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih.
  6. QS 16:94. Dan janganlah kamu jadikan sumpah-sumpahmu sebagai alat penipu di antaramu, yang menyebabkan tergelincir kaki (mu) sesudah kokoh tegaknya, dan kamu rasakan kemelaratan (di dunia) karena kamu menghalangi (manusia) dari jalan Allah; dan bagimu azab yang besar.
  7. QS 2: 224. Jangahlah kamu jadikan (nama) Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang untuk berbuat kebajikan, bertakwa dan mengadakan ishlah di antara manusia. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
  8. QS 63:2. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan.

Jadi, masihkah kaum beriman yang berada dalam kehidupan sebagai pegawai negara atau sipil, menganggap sumpah jabatan tidak bermakna apa-apa selain sebuah komitmen yang tidak bermakna? yang begitu mudah dilupakan dan diabaikan habis-habisan karena sumpah cukup ditebus dengan amal shaleh dan tobat serta yang terpenting terpenuhinya dapur keluarga, mobil untuk anak cucu, atau apartement di Singapura serta tanah berhektar-hektar…….?

Subhanallah, Astagfirullah…ya Allah yang maha kaya, yang maha mengetahui…. berilah hambaMu kekuatan untuk menolak semua yang kutuliskan ini, bahwa bersumpah dengan namaMu adalah karenaMu, karena takut pada azabMu, karena syukur atas rahmatMu.  Jangan jadikan kami orang yang melalaikan sumpah hanya untuk keuntungan sedikit.  Amin.

Satu Tanggapan to “Sumpah dan Melanggar itu, Gpp Kok, Yang Penting Tobat !”

  1. masalah yg akan timbul dgn berbohong adalah akan ada banyak kebohongan lain yg akan timbul.
    krn kadang kebohongan hanya akan bisa ditutupi dgn kebohongan (krn klo jujur, ga bohong namanya :p)
    kemudian orang tsb akan dengan mudahnya utk berbohong, bahkan utk hal sepele pun.

    memang ada ‘pintu penyelamat’ bagi pelaku dosa seperti berbohong ini, yaitu dgn bertobat.
    tp apakah kita YAKIN bisa sampe ke pintu tersebut??
    apakah kita sedemikian yakinnya bakal bisa bertobat sblm ajal datang, sedangkan kita tidak tahu kapan ajal datang..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: