Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Pembelaan Masyarakat Untuk Makam Mbah Priok !.

Posted by agorsiloku pada April 15, 2010

Alhamdulillah, Astagfirullah;  Pemerintah negeri ini, khususnya yang mengurusi pelabuhan peti kemas Tanjung Priuk dimana di situ ada tanah yang diklaim milik ahli waris seluas 5,4 Ha berdasarkan hak eigendom jaman kolonial Belanda dan di situ pula ada makam seorang yang masa hidupnya menjadi wali Allah menyebarkan agama yang terbanyak penganutnya di negeri ini.  Di situ pula ada klaim yang diklaim oleh PT Pelindo, BUMN.  Negosiasi yang terjadi Rabu, 14 April 2010 adalah negosiasi yang menulis dengan kepalan tangan dan batu, bersalaman dengan pedang dan pentungan.  Karena itu, tinta merah yang keluar dari tubuh korban datang dari kedua belah pihak, yang membela dan yang menyerbu.  Yang membela adalah yang tidak rela dan yang menyerbu adalah yang melaksanakan perintah.

Miris hati ini melihat hasil dari negosiasi yang terjadi.  Pukulan bertubi-tubi dari Satpol PP menaikkan darah yang melihatnya, meski hanya dari Metro TV dan TV One yang aktif menyiarkan peristiwa berdarah ini.  Miris pula melihat kemarahan yang terjadi ketika petugas pemerintahan yang awalnya berjumlah 4000 an berlarian dan ada yang sudah kondisi tergeletak tak berdaya digebuk, dan dianiaya habis-habisan oleh para pembela.  Pada satu titik kemarahan, keberingasan, maka kemanusiaan sudah tidak ada lagi dalam ingatan.  Sungguh, kita prihatin melihat hal ini.  Namun, ketika mobil-mobil satpol pp disamakan dengan tungku pembakaran, dibakar masa; tiba-tiba hati yang turut panas itu malah tidak berduka.  Saya berpikir malah masyarakat akan lebih damai untuk sesaat karena fasilitas negara yang dimiliki oleh Satpol berkurang.  Paling tidak, tayangan-tayangan televisi bagaimana aparat Pemda ini mengobrak-abrik pedagang kaki lima, memburu pedagang kecil atau rumah-rumah yang melanggar aturan akan berkurang.  Tanpa disadari, sudah ada rasa tidak suka kepada petugas-petugas itu.  Singkat kata, memang masyarakat tidak selamanya harus berada pada tindasan kekuasaan.  Sudah lebih dari separoh abad bangsa ini merdeka dari penjajahan, tapi orang mati karena tertimbun sampah, tinggal di kolong jembatan, peminta-minta sepanjang jalan TIDAK PERNAH menjadi bagian dari program pengentasan kemiskinan.  Kalaupun ada, tidak lebih dan kurang hanya sekedarnya saja (silahkan cek biaya pemerintahan dari hasil bumi dan pajak yang diberikan kepada kaum terpinggirkan).  Artinya, pembangunan selama ini gagal (dibanding dengan bangsa lain) untuk menyejahterakan bangsanya.

Saya tidak ingin bilang bahwa pedagang kaki lima itu tidak merusak keindahan kota, seperti juga penduduk yang tinggal di bantaran sungai dan menimbulkan resiko, baik buat penghuni maupun resiko sekitarnya.  Namun, menggusur setelah menjadi klimaks permasalahan atas nama hukum, atas nama pembangunan, menunjukkan buruknya penanganan untuk kaum terpinggirkan.  Kalau pemerintah mengusir penghuni bantaran sungai, maka pemerintah juga pada saat yang sama harus mengusir dan mempidanakan yang meratakan gunung dan membangun villa mewah di daerah resapan air.

Hadirnya pasar-pasar dadakan yang muncul pada minggu pagi di beberapa kota besar, bersamaan dengan munculnya kemegahan mall yang diseruduk pengunjung menunjukkan upaya kaum terpinggirkan untuk bertahan hidup.  Dengan kata lain, banyak sudah kita melihat.  Dan kita melihat, yang terpinggirkan selalu di pihak yang kalah.

Tulisan ini tidak membahas siapa yang benar dan yang salah, siapa yang baik dan siapa yang buruk dari kejadian mengenaskan tanggal 14 April 2010 di Koja – Priok Jakarta Utara.  Dari peristiwa ini yang kemudian dilakukan mediasi oleh berbagai pihak, ustad dan Pemerintah, beberapa hal yang menarik perhatian :

  1. Betapa rendahnya tingkat kepercayaan masyarakat di TKP (tempat kejadian perkara)  atas segala tingkah polah PT Pelindo dan Pemda DKI atas permasalahan mengenai yang dipersengketakan.  Apalagi usaha mediasi yang dilakukan menjelang saat musibah terjadi menemui jalan buntu karena bernegosiasi atas dasar aturan dan kekuasaan.
  2. Masyarakat mencapai batas yang mengusik harga diri, keyakinan dan mencapai titik batas yang menimbulkan pilihan : “Tidak lagi pilihan”.  Dengan kata lain, pilihan yang diambil adalah bertahan sampai titik apapun.  Adalah kebetulan, ada satu prosesi yang memungkin kondisi ini tercipta, yaitu adanya makam dari seorang yang dihormati di masa hidupnya.  Yang dikenang karena perbuatannya, yang dikeramatkan karena “kesuciannya”.  Yang kemudian di”yakini” sebagai pasaknya Jakarta Utara.
  3. Pilihan untuk sampai batas keteraniayaan inilah yang kerap muncul dalam demokrasi Indonesia dalam beberapa bulan terakhir ini.  Kita masih ingatkan, perlawanan serupa yang melibatkan RS OMNI International yang mengedepankan kekayaan dan kekuasaan dilawan masyarakat dengan dukungan pada Prita Mulyasari.  Kita juga tidak lupa mendukung kasus-kasus hukum dari seorang yang mencuri satu atau beberapa biji kakao kemudian dihukum.  Kita juga melihat peradilan anak yang tidak memiliki hati nurani dalam pengambilan keputusan.
  4. Titik-titik itu diwadahi pula oleh besarnya kualitas korupsi yang melibatkan pejabat negara, kasus Century yang tak berujung apa-apa, makelar kasus bermilyar-milyar, dan perilaku para pengayom yang mengayomi kekuasaan dan kekayaan.

Pada sisi ini, masih “untung” masih bisa muncul kesadaran dari Pemerintah untuk mau menyadari kekeliruannya.  Menarik satpol dari pertumpahan darah yang tidak terbayangkan jika dibiarkan.  Ribuan tenaga untuk menundukkan masyarakat yang marah bahkan dalam sejarah manapun berabad-abad, ketika kaum yang tertindas sudah mendekati batas-batas yang tidak dimengertinya, maka hanya ada satu titik saja yang akan dilihat massa.  Kematian itu bukan apa-apa !.  Pistol dan pentungan atau meriampun tidak bermakna. Kita juga beruntung ada ustad yang segera terjun ke depan untuk menjadi mediator dari masyarakat yang putus asa melihat tingkah polah kekuasaan.

Apakah kesadaran ini hanya demi kerusuhan yang lebih besar, kesadaran bahwa tingkat keputusasaan masyarakat berhadapan dengan kekuasaan semakin menjelang titik nadir.  Semoga saja kepemimpinan yang baik dengan kesadaran tinggi, bukan sekedar untuk menghibur sesaat yang dimunculkan.   Kita lelah menunggu perubahan di masa yang diakui zaman reformasi ini.  Demo setiap hari yang disampaikan oleh beragam anggota masyarakat menunjukkan bahwa resultante arah ketidakpuasan masih berkelanjutan dan tak henti-hentinya.  Jika arah itu kemudian sinergis menjadi sebuah gelombang besar… maka kita tahu, tidak ada halangan apapun yang akan menjadi penghalang dari gelombang besar itu.

Satu Tanggapan to “Pembelaan Masyarakat Untuk Makam Mbah Priok !.”

  1. amburadul said

    alangkah lucunya negeri ini….????

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: