Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Merokok dan Rokok, Haram, Mubah atau Asyik !?

Posted by agorsiloku pada Maret 23, 2010

Adalah Muhammadiyah yang “mulai” mengfatwakan merokok itu haram.  Lalu, sejumlah ulama NU sebaliknya, menyatakan tidak.   Oleh karena keduanya adalah organisasi yang banyak dipercaya ummat, saya tidak tertarik dan tidak merasa perlu untuk membuat kebenaran dan pembenaran tentang hal ini.   Karena dua-dua ahli pada bidangnya.  Kita saja yang boleh jadi terbengong-bengong.  Apalagi media juga cukup aktif menjelaskan “polemik” ini.   Haram itu, yang telah dijelaskan Al Qur’an dan kita melanggarnya maka jika kita tidak mendapatkan pengampunan, maka konsekuensi logisnya adalah hukuman.  Bentuk hukuman yang diberikan pada akhirnya adalah Neraka.  Begitulah ummat beragama memahami resiko dari dosa.

Pada hari penghakiman, kita akan bertanggung jawab terhadap setiap perilaku dalam kehidupan semasa transit di dunia untuk mencapaiNya.  Pada saat itu, tidak ada pilihan lain, bahwa keadilan dari Yang MahaKuasalah yang menunjukkan neracaNya.

Jika haram diartikan dipahami sebagai dosa dan neraka pilihannya, maka tidak ada lagi perdebatan yang diperlukan untuk memahaminya.  Keduanya (haram dan dosa) berjalan beriringan.  Ampunan adalah harapan, karena tiada manusia yang luput dari dosa.  Di antara yang jelas haram dan berdosa melakukannya, ada yang membimbangkan, ada yang meragukan, dan ada yang menimbulkan mudarat atau apalah lagi.  Namun, Allah SWT tidak mengkategorikannya pada dosa.   Namun, akibatnya bisa saja menimbulkan kerugian bagi pelakunya.   Haram dalam perbuatan (yang harus ditinggalkan) adalah buruk dalam pandangan Allah SWT dan kita bisa memahami atau tidak perlu memahaminya.  Yang dikehendaki adalah menaati larangan.

Karena itu, ketika babi diharamkan.  Mungkin kita bisa mengejar alasan rasionalnya.  Berbahaya, kotor, dan bla…bla…bla….  Kalau kita berijtihad bahwa kotor itu artinya banyak cacing pita, maka jawabannya sederhana saja : rebus sampai matang, pastikan tidak ada lagi sumber penyakit.  Maka menjadi halal !.  Tentu tidak.  Dengan kata lain, sumber sebab akibat dari logika ini tidak berlaku untuk penyebab pengharaman.  Air api atau alkohol juga diharamkan.  Ada sejumlah manfaat dan ada sejumlah mudarat.  Manfaatnya lebih sedikit dari pada mudaratnya, dan dikategorikan diharamkan.  Di sini dijelaskan sebab akibatnya.  Artinya logika akibat menjadi pertimbangan pengharaman.  Di surga, khammar tidak lagi diharamkan, karena sebab akibat yang ditimbulkan tidak seperti di dunia.  Pada air api, titik fokus pemahaman mengapa diharamkan adalah yang menyebabkan timbulnya ketidak sadaran dari sang pelaku sehingga menimbulkan tindakan-tindakan yang tak terkontrol, seperti banyak dikisahkan dan bukti peristiwa.  Esensi peristiwanya adalah menimbulkan ketidaksadaran dari si pelaku sehingga dapat melakukan perbuatan yang berlebih.  Dengan logika ini, maka segala hal yang memiliki sifat-sifat menghilangkan kesadaran perbuatan, diharamkan.

Bagaimana dengan makanan yang menimbulkan resiko bagi pemakainya.  Menimbulkan kerusakan hati, menimbulkan bau, menimbulkan darah tinggi, meningkatkan kolesterol dan menyebabkan penyakit?.  Apakah masuk kategori haram?.   Ini tentu saja tidak haram, dalam arti berdosa jika dilakukan.  Alasannya, sederhana saja.  Allah SWT tidak merumuskan akibat yang ditimbulkan sebagai sumber haram yang menimbulkan dosa.  Namun tentu saja tindakan berlebihan yang dilakukan yang menimbulkan sakit kepada pelakunya yang resikonya dapat dijelaskan oleh melalui ilmu kedokteran.   Dalam alur logika ini, boleh jadi juga mendapatkan pahala karena meninggalkan hal-hal yang berakibat buruk pada diri dan lingkungannya.  Karena Allah maha luas rahmatNya, suka pada kebaikan dan insya Allah memberikan bonus untuk semua perbuatan baik manusia (yang mengakui dan beriman kepadaNya).  Termasuk menjauhi rokok.

Mudahkan memasukkan pada kategori haram !.

Tentulah jawaban yang terbaik tidak !.  Alasan paling logis (menurut saya), karena haram dipahami dalam konteks dosa dan penghukuman atas dosa adalah hak milik perogatif  Sang Pencipta, maka tentu saja anutan yang paling tepat adalah tidak mengambil alih ketentuan pemegang hak perogatif untuk menetapkan kebolehan dan keserbabolehan atas suatu sikap dan tindakan.  Hanya yang jelas disampaikan oleh pemilik yang membenarkan dan menghukum saja, maka pernyataan haram ditetapkan.  Setidaknya, itu yang saya bisa pahami ketika Amin Rais yang menjadi salah satu sesepuh Muhammadiyah menyampaikan.

Walllahu ‘alam.

6 Tanggapan to “Merokok dan Rokok, Haram, Mubah atau Asyik !?”

  1. Bois said

    Hi!
    Assalamu’alaikum… (Ucapan salam khusus untuk saudaraku yang muslim)

    Jika merokok dan rokok haram, maka menanam tembakau untuk rokok adalah ….???, memproduksi rokok adalah …???, menjual rokok adalah … ???, dan pajak dari hasil rokok adalah…???

    Jika fasilitas umum yang dibangun dari hasil pajak yang …??? itu, maka menikmati fasilitas tersebut adalah …???

    Jika pengharaman rokok karena dampaknya, yaitu bisa menimbulkan penyakit. Maka akan banyak makanan dan minuman yang juga akan diharamkan, sebab banyak makanan dan minuman yang juga bisa menimbulkan penyakit.

    Jika perokok dilarang merokok, maka jawabnya.

    “Gue gak bisa kerja kalo gak merokok.”
    “Gue gak bisa mikir kalo gak merokok.”
    “Pokoknya gue bisa stress galo gak merokok.”

    Malah ada orang yang sudah lima tahun berhenti merokok, namun keinginan merokoknya tidak juga hilang, akibatnya dia begitu tersiksa jika kembali mengingat masa lalunya saat asyik merokok, ditambah lagi jika didekatnya ada orang yang sedang asyik merokok. “Duh… apa gue mesti tinggal di gunung?”

    Nah lho, jangan cuma bisa ngasih fatwa, tapi beri juga solusinya buat para pecandu. Misalkan buat “klinik berhenti merokok berjalan” yang bisa masuk hingga ke pelosok kampung, pelayanan ini 100% gratis untuk mereka yang mau berhenti merokok. Persulit cara pembelian rokok, sehingga anak-anak tidak mudah untuk mendapatkannya. Ingat…! Kebanyakan para perokok sekarang adalah
    korban dari kebijakan pemerintah yang lemah dalam melindungi masyarakatnya, terutama anak-anak.

    Beri perlindungan bagi mereka yang tidak merokok dan mereka yang sudah berhenti merokok, caranya dengan menyediakan tempat khusus buat mereka yang mau merokok, tidak jauh dan mudah dijangkau. Sebab jika tidak ada perlindungan seperti ini, yang bukan perokok bisa menjadi perokok, yang sudah berhenti merokok bisa kembali merokok.

    Cara terakhir, paksa para perokok untuk tidak merokok. Caranya tutup pabrik rokok, hukum para pengedar rokok. Sediakan lapangan kerja baru untuk para pekerja pabrik rokok, bina para petani penyuplai pabrik rokok untuk menanam tanaman lainnya. Nah… Jika rokok sulit didapat, otomatis orang akan terpaksa berhenti merokok. Walau dampaknya para perokok akan menderita, namun mereka bisa lebih mudah menghadapinya lantaran punya banyak teman senasib. Jika dalam keadaan demikian masih ada juga yang mau merokok, paling banter mereka akan menanam pohon tembakau sendiri secara diam-diam, atau membeli rokok dipasar gelap. Tidak mengapa, bagi yang mau terus ngotot menyakiti diri, silakan saja… yang penting akan lebih banyak generasi mendatang yang selamat dari kecanduan rokok.

    Siapun yang punya solusi lain silakan menambahkan! Maklumlah, saya hanya manusia bisa yang tentunya mempunyai banyak kekurangan.

    Wassalamu’alaikum… (Ucapan salam khusus untuk saudaraku yang muslim)
    Bye and Peace V ^_^

    Suka

  2. boncu said

    rokok haram…
    klo hasil curian,
    klo berlebihan (sekali hisap 5 rokok habis),
    klo buat nyudut orang lain,
    dll dll…

    karena aq perokok jadi aq lebih setuju makruh

    Suka

  3. Samaranji said

    Numpang promosi blog ajah…
    http://debu-semesta.blogspot.com/2010/12/dilarang-melarangrokok.html
    Makasih kang, agor…

    Wassalamu’alaikum.

    Suka

    • agorsiloku said

      Saya membaca berkali kali dan pelan membaca postingan Akang, mendalam dan berwawasan begitu luas. Sungguh, agor merasa uraian yang disampaikan hati-hati dan bernas. Melihat dari esensi persoalan.

      Suka

  4. Ildaf said

    Memang aneh sebagian Fatwa-2 yg ada, pembuat fatwa seperti tdk mengerti level larangan dlm Islam ( halal, muba, makruh, haram ), babi jelas haram – artinya sejak firman Allah tsb turun sampai kiamat nanti tetap haram –

    rokok yg ratusan tahun sebelum nya tdk pernah di haramkan ( paling tinggi mencapai level Makruh ), eh … eh … tiba-2 diharamkan.

    rokok itu banyak mudarat/ rugi nya ! ya, bahkan seorang pecandu berat akan mengakuinya, tapi kalau di vonis haram ?
    Menurut saya kenapa engga Burger aja yg di bilang haram, karna burger & rokok sama aja, sama-2 mengasikan, dan juga sama-2 mudaratnya, Ahli gzi pasti setuju kenapa junk food saya bilang banyak mudoratnya.

    atau kapan ya keluar fatwa Kopi itu haram, menyirih itu haram, karena keduanya juga menyebabkan kecanduan ….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: