Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Kisah Tentang Robohnya Rumah Pak Rotan !

Posted by agorsiloku pada Maret 4, 2010

Pak Rotan datang mengetuk pintu rumah tetanggaku.

“Salamun ala’ikum !”, tergopoh-gopoh Pak Rotan datang sore hari itu.  Sore hari yang cerah, Pak Rotan datang  ke rumah Kyai Budi yang sudah dikenal di kampungku seorang yang suka menolong.

“Wa’alaikum salam..”, sapa Kakek Budi takzim.

“Begini Pak Kyai”, langsung saja Pak Rotan menyampaikan maksudnya : ” Rumahku hampir roboh, semua tiang-tiang penyangganya sudah habis dimakan rayap, pintunya berderak-derak jika dibuka, jendelanya terkunci mati karena engselnya sudah berkarat, atapnya sebagaian sudah pecah.  Saluran airnya mampet.  Jika hujan datang, basahlah seluruh lantai.  Anak-anakku tidak bisa lagi tidur, padahal besoknya harus bersekolah”

“Kasihanilah kami Pak Kyai”, wajah Pak Rotan makin memelas, wajahnya putih bersih bak pualam digosok, sudah semakin putih pasi.  Sepertinya tak ada darah yang mengalir ke mukanya. Hati Pak Kyai Budi trenyuh.  Sudah biasa memang beliau menolong tanpa pernah bertanya, siapa yang ditolong.  Tangan kanan memberi, tangan kiri  bersembunyi.  Bahkan, walaupun pembantunya Pak Kyai sudah mengingatkan agar tebang pilih, agar menolong itu harus disertai usaha yang ditolong.  Berilah kail, bukan ikannya.  Tapi entah mengapa, Kyai Budi tak begitu hirau.

“Lebih dari itu, saya juga terlilit utang kepada tetangga, kepada saudara, kepada teman-teman di kampung ini.”   Singkat kata, dunia sudah runtuh di mata Pak Rotan.  Tiada daya dan upaya lagi, selain uluran tangan dari Pak Kyai Budi untuk menyelematkan musibah yang menimpanya.

Sebenarnya Pak Kyai tahu persis, sudah sekian kali Pak Rotan ditolong karena berbagai alasan.  Pak Kyai juga tahu pula, Pak Rotan itu pembohong ulung.  Isteri dan anak-anaknya, juga abangnya sendiri sudah mengingatkan agar orang seperti Pak Rotan jangan dibantu lagi.   Isterinya sendiri sudah tak percaya lagi.  Ia masih ingat betul ucapan isterinya : “Sudahlah Pak, menolong seorang pembohong itu bukan beramal dan meraih pahala, tapi memodali maling !”.  Apalagi uang tabungan kita juga tak banyak lagi !.

Sibuk memikirkan apa dibantu atau tidak, tak nyana Pak Erwe datang sore itu juga untuk membenarkan kesulitan yang dihadapi Pak Rotan.  Pak RW datang dengan pesan langsung, agar kesulitan Pak Rotan, sebisanya dibantu. Pendek memang, tapi Pak RW adalah orang yang paling dihormati oleh Pak Kyai.

“Baiklah, Pak Rotan… saya sudah paham maksud kedatangan Sampeyan.  Sekarang, silahkan pulang dulu deh !.  Saya harus memikirkan dulu.  Permintaan Pak Rotan sebesar 6,7 juta itu terlalu besar.  Kemarin kan butuhnya cuma beberapa ratus ribu saja.  Lalu mengapa hanya dalam kejapan hari, semua berubah”.  Pak Kyai menghela nafas panjang.

Pak Rotan mengerutkan wajah.  Kecewa.  Tapi tak sepatah katapun keluar.  Pak Rotan hanya segera pamit pulang saja.

Tak jelang hari menjadi lebih malam, Bu Erte, stafnya Pak RW datang ke rumah Kyai Budi.  Usai suguhan sedikit penganan dan kopi yang disuguhkan ke tamu-tamu malam itu.  Tanpa banyak basa-basi lagi, stafnya Pak RW dan Bu Erte melakukan pembahasan sungguh-sungguh dengan Pak Kyai tentang kerusakan rumah Pak Rotan.  Saya yang sedari sore tadi hanya duduk-duduk dan hanya hilir mudik di rumah Pak Kyai yang luas ini makin tertarik mendengar obrolan serius tentang Pak Rotan.  Tentang rumahnya dan nasibnya yang dililit utang.

“Ini masalahnya gawat !, Kampung sebelah rumahnya dirusak masa karena masalah utang piutang seperti ini.  Nasib Pak Rotan sekarang di tangan kita !.  Apakah kita akan membiarkan kampung kita berdarah-darah karena kejadian di kampung sebelah bisa merembet ke tempat kita!”.

“Tadi, menjelang malam gelap.  Pak Rotan mengabarkan musibah yang dialaminya, dan mengabari ancaman yang dihadapi kampung kita.  Pak Rotan ingin melindungi kampung kita dari ancaman penjarahan atau bahkan kerusuhan yang lebih besar lagi”.

“Menurut hemat saya, Pak Kyai…”, Kata staf Pak RW yang biasanya santun ini, kini bersuara lebih keras dan meninggi.

“Yang disampaikan Pak Rotan itu ada benarnya. Kita harus menyelamatkan kampung kita dari ancaman penjarahan!.”

Diskusi kian hangat dan memanas.  Semua berbicara tentang kepahlawanan menyelamatkan kampung yang akan dijarah.  Betapa kehancuran dan kerusakan akan terjadi sangat besar, jika kampung kita tidak diselamatkan.  Pembicaraan terus berlangsung sampai menjelang tengah malam.  Sy sebenarnya ingin pamit pulang saja.  Tapi, meskipun hanya sekedar mendengar.  Ngeri juga ya kalau kampung kita dijarah !

Saya jadi teringat kisah masa kecil tentang seorang Ibu yang sedang menangis tersedu-sedu di bawah sebuah pohon rindang.

“Bu mengapa menangis?”, sapa seorang anak muda yang kebetulan lewat.  Heran juga anak muda itu, mengapa seorang ibu menangis tersedu-sedu, air matanya berlinangan.

“Aku sedih melihat nasib anakku yang malang anak muda !”.

“Mengapa Bu?”  Bukankah anak ibu tertidur pulas dalam buaian Ibu.  Anak muda itu melirik seorang anak berumur 2-3 tahun yang tertidur pulas dalam gendongan ibu”.

“Tidakkah kau tahu anak muda”, sergah Si Ibu.  “Tidakkah kamu lihat pohon ini?”

“Ya Bu, mengapa?”.  ‘Anak muda itu memandang sejenak pohon rindang.  Tak ada yang aneh.  Pohon besar yang rindang.

“Kamu lihat kapak itu?, Kapak yang menancap di batang pohon ini?.”

“Ya Bu !.  Lalu mengapa dengan kapak itu?”.  Kian heran anak muda ini atas pertanyaan Sang Ibu yang masih juga tampak bersedih.

“Dengarlah anak muda.  Pohon ini akan semakin besar !.  Kapak yang menempel akan tertekan keluar dari pohon.  Mungkin itu terjadi setahun atau dua tahun lagi.  Saat itu anakku sudah bisa berlari-lari.  Suatu kali, dia akan melewati pohon ini”.

“Lalu?”  Si Pemuda semakin tak mengerti apa yang dimaui oleh Ibu ini.

“Begini anak muda bodoh !”.  “Anakku, bisa mati tertimpa kapak yang jatuh dari pohon ini, lalu mati.  Karena itulah aku menangisi nasib anakku ini.

Si Ibu kembali melanjutkan tangisannya.

(bersambung)

5 Tanggapan to “Kisah Tentang Robohnya Rumah Pak Rotan !”

  1. lama tidak ke sini…
    tiba-tiba topik blognya jadi penuh politik dan cerpen🙂

    Suka

  2. assalamualaikum.

    berkunjung sekalian baca2…

    Suka

  3. deedhoet said

    ngomong2 terusannya mana nih pak? dah 2 bulan loh …

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: