Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Politik Kaum Munafik

Posted by agorsiloku pada Februari 23, 2010

Membedakan politikus dan bukan, sederhana saja.  Seorang politikus selalu berkata “Ya”.  Kalau  berkata “ya”, artinya mungkin.  Kalau berkata mungkin, artinya tidak.  Kalau berkata “tidak”?,  artinya dia bukan politikus.  Dalam politik, tidak ada persahabatan yang abadi, yang ada adalah kepentingan yang abadi.  Kata kuncinya bukan pada kebenaran, keadilan, misi masyarakat ideal yang bla…bla..bla, tapi pada kepentingan.   Jargon kepentingan ini membenarkan yang dalam sudut pandang moral dan hukum keliru,  mendapatkan pengakuan benar ketika beradu dalam simpul-simpul kekuasaan.  Kira-kira begitulah politik.  Kalau kita mengikuti terminologi atau jargon politik ini, jelas artinya kebohongan (demi kepentingan) atau kepura-puraan.

Setiap hari selama hampir dua bulan, pembongkaran kasus aliran dana Bank Century yang menalangi 6,7 Trilyun dengan alasan resiko perbankan sistemik berhadapan dengan sejumlah fakta bahwa aliran dana tersebut dikeluarkan juga untuk kepentingan (kecurangan yang dilakukan pemilik bank).  Membongkar kepintaran pemilik Bank Century dari kejahatan perbankan ke ranah politik kepentingan dan kekuasaan.  Masyarakat atau publik terpecah untuk melihat kepentingan di atas segala kepentingan, sehingga faktor pembelaan terhadap kepentingan kekuasaan berkibar-kibar.  Di sisi lain, apakah kebenaran dan pengungkapan kasus hukum akan tenggelam dalam kepentingan kekuasaan.  Itulah yang dipertontonkan para tokoh politik, panitia khusus Bank Century.  Informasi yang disajikan kaum pers, khsususnya media masa televisi mengakrabi masyarakat untuk melihat bagaimana pertarungan politik versus kebenaran itu akan segera berakhir, kita akan melihat apakah politik kepentingan akan memenangkan perkara kejahatan perbankan yang disahkan melalui aliran dana talangan Bank Century.

Terminologi Munafik.

Pura beriman adalah ciri kaum munafik.  Jika berkata dusta, jika berjanji mengingkari, dan jika diberi amanat berkhianat.  Kurang lebih, itulah yang dijelaskan hadis.  Al Qur’an panjang lebar menjelaskan kaum munafik.  Pura-pura beriman, padahal pendusta.

Kalau kita bandingkan, jargon politik dan penjelasan tentang orang-orang munafik, terasa bahwa komunikasi munafik adalah komunikasi politik.  Lobi-lobi politik menjadi bahasa lain dari pernyataan agar semakin banyak orang munafik di antara kelompok elit yang mungkin masih memiliki etika kebenaran dan keberanian untuk mengatakan kebenaran yang bersumber dari kemampuan berpikir dan kemampuan menegakkan benang basah kebenaran.  Katakanlah, meskipun pahit !

Menyikapi kaum munafik.

Ketika kita melihat kepura-puraan menjadi jargon penting dalam politik dan kebenaran atau ketidakbenaran menjadi alat menjaga kebenaran, kita melihat masyarakat dan lobi-lobi kepentingan begitu mewarnai.  Ada demo membela kepentingan dan ada demo untuk menegakkan kebenaran.  Sebagian demo juga bukan lagi demo bertujuan untuk menegakkan benang basah kebenaran, tapi juga sebagian sudah seperti menu makanan restoran : sesuai pesanan.

Persepsi masyarakat sedang diadu untuk mampukah melihat dan menujukkan kebenaran yang seharusnya, tentang bagaimana kita menyikapi pemimpin dalam kapasitas politik yang terlibat menjadi sebab terjadinya kejahatan perbankan.  Artinya, kalau tidak ada bail out yang dibuat dengan segala pernak – perniknya, maka kejahatan perbankan tidak akan terjadi.

Benarkah berjuang untuk rakyat? Untuk kemakmuran, keadilan, atau memang berada pada jargon politik : untuk kepentingan yang abadi.  Jika terakhir yang menang, memang kepura-puraan lah yang menang.

Cuma, dimanapun posisinya, kita tidak mau dibilang munafik.  Dalam politik 1 + 1 tidak selalu dua, bisa empat, enam tujuh.  Itu bukan pura-pura dan kebohongan, tapi itulah politik.  Ini mengartikan munafik adalah kepintaran beradu argumentasi.

Astagfirullah !  Betapa semakin beratnya jaman ini.

2 Tanggapan to “Politik Kaum Munafik”

  1. […] Politik Kaum Munafik […]

    Suka

  2. arief juniawan,drh said

    semua politikus adh munafik….kalo semua negarawan tidak munafik….gak percaya??…tanya susno duaji dan bambang hendarso danuri….hayoo semua yg munafik diantara mereka berdua…???

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: