Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Katakanlah Kebenaran, Kemana Aliran Dana Bank Century.

Posted by agorsiloku pada Februari 17, 2010

Luar biasa.  Rekomendasi dan pandangan yang disampaikan Fraksi Hanura pada hari ini di ruang Sidang DPR.  Jelas menyebutkan kemana sebagian kecil yang berhasil dikejar, kemana larinya aliran dana talangan Bank Century.    Butuh keberanian dan kejujuran untuk menyampaikan komitmen ini.  Butuh bersiap menghadapi sebuah resiko, partai kecil ini,  yang pemimpinnya juga masih tokoh Orba untuk digilas roda jaman.  Tegas, fraksi ini menyampaikan kejadian di Makassar bahwa yang berinitial AR menjadi sarana terjadinya tindakan pencucian uang dan dananya mengalir ke partai peserta pemilu.  Tidak disebutkan siapa, tapi sudah begitu gamblang terbuka.

Keberanian dan cara pandang yang sama, disampaikan pula oleh fraksi dari Partai Demokrat.  Yang satu dengan jujur dan berani (dari Hanura) menyampaikan terjadinya penyimpangan; yang lain, dengan tingkat kejujuran yang sama, membuka diri dengan cara yang sebaliknya.

Yang mengamati, yang mengikuti perjalanan pansus dana Bank Century kemudian melihat mana kebenaran yang sesungguhnya.  Mana yang tersembunyi, mana yang harus dibaca sebaliknya.  Bertahun-tahun, kita diajari para politisi, kalau ada berita dari penguasa tidak keretakan dalam koalisi artinya ada keretakan.  Kalau semua aman dan terkendali, artinya ada unsur yang menganggu jalannya ketentraman.  Begitu seterusnya.  Pemahaman masyarakat yang terbalik ini adalah kewajaran dari sikap ketika berhadapan dengan  kaum munafik terhadap kebenaran.  Kecenderungan untuk mengada-adakan yang tahu dan tidak diketahui, bertujuan untuk menyesatkan.  Berpura-pura menjadi keahlian yang terpelihara.  Karena fakta yang dipahami kemudian kerap berbeda dengan yang diungkapkan lisan, maka masyarakat juga membacanya tidak dalam area yang diharapkan kaum munafik juga.  Namun, tentulah sebagian dari tahu dan ketidaktahuan, melahirkan pilihan-pilihan apa yang paling menguntungkan bagi keberadaannya.

Karena saya nggak ngerti politik, maka saya jadi kagum juga sama Hanura.  Pohon cengek ini ternyata punya keberanian untuk berbicara hal-hal yang ditabukan fraksi partai lain yang menjadi anggota Pansus.

Ini sebenarnya bukan hal yang baru, bukankah Gurita Cikeas, dan berbagai bantahan dan informasi sejenis sudah disampaikan berulang-ulang.  Memang ada aliran dana dari Bank Century ke tim sukses SBY.

Sumpah Presiden.

Yang kemudian terasa berdesir di hati,  adalah apa yang diucapan oleh satria lalaning jagat.  Puncak kekuasaan yang di masa lalu, dalam kisah persejarahan adalah menjadi wakil Tuhan di dunia.  Titisan para dewa untuk mengurus manusia.  Itulah pemimpin.  Karena itu, ucapannya menjadi sakral dan menjadi perhatian yang tinggi dari para punggawa dan hamba sahaya.

Di hadapan Allah SWT dalam kesempatan yang baik, forum yang mulia, forum pendidikan yang memiliki perasaan, nurani. dan akal budi saya ingin menyampaikan bahwa berita itu 100 persen tidak benar.” ujar Presiden dengan suara bergetar.

Ketika taburan sumpah, salam dan selamat disampaikan atas namaNya, maka bagaimana ketika satria lalaning jagat berhadapan ketika dengan ijinNya, masyarakat dibukakan untuk melihat fakta berikutnya yang diduga menjadi lebih terbuka.  Selangkah demi selangkah, yang tersembunyi terkuakkan.

Pertanyaan kecil saya, akankah ujaran Presiden untuk menarik kembali sumpahnya.  Wajarkah kita mengingatkan kepada Beliau untuk menjaga komitmen dari sumpah beliau kepada Penguasa Tertinggi alam semesta.?.  Wajarkah kemenangan politik hanya berkiblat pada kekuasaan, bukan untuk menjaga hakikat kebenaran?.  Wajarkah demi kekuasaan politik, kita berkiblat pada kelanggengan kekuasaan.

Masih ada sejumlah pertanyaan lain.  Memang tanpa kecukupan untuk meyakini kuasaNya.  Apa artinya pemaknaan di bawah sumpah kepada Sang Pencipta, kalau sumpah hanya sekedar upacara seremonial belaka?.  Ada puluhan atau ratusan ribu sumpah-sumpah jabatan berlalu sebagai janji manusia kepada Penciptanya.  Dialah yang menjadi institusi etika, moral, dan keagungan manusia sebagai hamba tak berdaya di hadapan Sang Pencipta.  Karenanya sumpah adalah sebuah komitmen sakral yang pada waktunya akan dipertanggungjawabkan.

Betapa kita kerap merasakan banyak kesalahan terjadi dalam kehidupan.  Kalau bukan karena berharap ampunanNya, tidak ada lagi tempat bagi kita untuk meraih ridhaNya, tak layak kita mendapat fasilitas di tanah milikNya.  Lalu, kalau kita percaya ini,  apakah kita bangga dengan semua kemenangan yang ada di keniscayaan dunia?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: